LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?


LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?

Dua orang juri—termasuk saya di dalamnya—ternyata punya feeling yang tak jauh berbeda terhadap cita rasa sebuah cerita pendek (cerpen). Setelah masing-masing memilih tiga cerpen terbaik, ternyata terbaik pertama dan kedua pilihan kami sama.

Terbaik pertama, bagi saya punya keindahan bahasa yang jauh di atas peserta lainnya, alur cerita yang mengalir, dan ada hikmah yang bisa diberikan kepada pembaca. Bagi juri yang lain, terbaik pertama tahu betul bagaimana membuat sebuah cerpen yang baik. Terbaik kedua kualitasnya tentunya di bawah yang pertama.

Yang menjadi perdebatan adalah penentuan terbaik ketiga. Kami mempunyai pandangan yang berbeda di sini. Terbaik ketiga dalam penilaian saya ia mempunyai kreatifitas ide yang lain daripada yang lain. Dan saya memberikan skor tertinggi daripada peserta lain dalam masalah ini. Sedangkan terbaik ketiga dari juri yang lain itu menurut saya cerpennya bagus diawal, membuat trenyuh, tetapi ending-nya jelek sekali.

Akhirnya kami memutuskan untuk menjumlahkan skor yang dimiliki masing-masing. Dan terbaik ketiga dari penilaian sayalah yang berhak untuk menjadi juara ketiga Lomba Penulisan Cerpen Education Fair 2009 yang diselenggarakan ahad kemarin (17 Mei 2009) oleh Kelompok Studi Pelajar Muslim (KSPM) dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Perlombaan penulisan cerpen itu adalah satu dari sekian perlombaan yang diselenggarakan LSM (lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak khusus dalam pembinaan remaja dan pelajar se-Bojonggede itu.

Apa yang dilakukan oleh teman-teman muda saya dari KSPM itu patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Karena dalam kerangka pikir saya yang namanya lomba penulisan cerpen itu para peserta lomba diperkenankan untuk mengirim sebanyak mungkin karyanya dengan persyaratan yang telah ditentukan dan dikumpulkan kepada panitia pada waktu yang telah ditentukan. Lalu dengan jumlah juri yang lebih dari dua dan punya kapabilitas tentunya dipersilakan untuk memberikan penilaian kemudian mendiskusikan siapa pemenangnya.

Jadi bukan dengan mengumpulkan para peserta lomba penulisan cerpen itu dalam suatu kelas lalu dalam waktu hanya 90 menit disuruh untuk membuat cerpen, dengan menggunakan tulisan tangan tentunya. Maka bagi saya hasil yang didapat pun akan pas-pasan. Yaitu juri harus berkerut kening untuk membaca tulisan tangan dari para peserta lomba, karena tidak semua peserta tulisan tangannya bagus. Lalu tidak ada pengeditan yang dilakukan oleh peserta lomba. Dan tentunya sangat jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Padahal salah satu esensi dari lomba penulisan cerpen adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau demikian yang terjadi namanya bukan lomba penulisan cerpen tapi ujian mengarang.

Maka dengan segala keterbatasan yang ada itu parameter kebahasaan Indonesia yang baik dan benar tidak saya pakai dalam penilaian saya. Padahal parameter penilaian itu yang menjadi pokok dalam setiap penilaian yang saya gunakan dalam menentukan baik atau tidaknya sebuah cerpen. Dalam lomba itu yang diukur hanya kreatifitas ide, alur cerita, keindahan bahasa, dan hikmah yang ada.

Yang saya tahu alasan dari gaya lomba seperti ini adalah kalau tidak dikumpulkan pesertanya dalam satu ruangan maka takut adanya karya jiplakan atau dalam pembuatan cerpennya dibantu oleh orang lain. Bagi saya tak masalah. Silakan orang membuat cerpen jiplakan itu, karena suatu saat akan ketahuan juga. Dan tentu itu adalah menipu diri sendiri saja. Tidak ada nilai kreatifitas yang nantinya akan memacu semangat untuk lebih maju lagi. Tidak ada yang didapat kecuali kemenangan dan kebahagiaan semu. Untuk menjadi penulis cerpen yang baik modal utama adalah sebuah kejujuran. Tanpa kejujuran maka silakan ke laut saja.

Kalaupun dengan alasan tidak adanya peserta yang datang pada hari puncak perayaan, maka sudah barang tentu pengumuman lombanya dilakukan pada hari itu. Dan saya yakin masih banyak peserta lomba yang akan penasaran untuk mengetahui siapa pemenangnya.

Oleh karena itu ke depan saya mencoba mengusulkan syarat dan ketentuan lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh KSPM. Antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Sesuai tema yang telah ditentukan panitia;
  2. Diketik rapih, (format teknis menyusul);
  3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  4. Melampirkan biodata;
  5. Salinan keras
    paling lambat dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan;
  6. Salinan lunak
    dikirim via email kepada panitia;
  7. Juri lebih dari dua dan diberikan satu minggu untuk memberikan penilaian. Dan ada diskusi penentuan antarjuri;
  8. dan lain-lain.

Saya harapkan ke depan, dengan syarat dan ketentuan tersebut akan di dapat hasil dan penilaian cerpen yang berkualitas.

Terakhir saya ucapkan selamat kepada para pemenangnya, saya yakin 90 menit waktu yang diberikan belumlah cukup untuk mengembangkan potensi kalian, karena penulis-penulis cerpen terkenal pun kiranya belumlah mampu untuk dapat menghasilkan karya masterpiece-nya dalam waktu sesingkat itu.

Berikut nama empat besar lomba penulisan cerpen Education fair 2009 KSPM tersebut:

  1. Shinta Lestari, “Kurindu Guruku”. Ternyata terbaik pertama ini adalah siswi SMU. Salut. Saya melihat ada bakat pada dirinya.
  2. Tegar Adinda B. Putri (SMP), “Pengorbanan Bocah kecil”. Ternyata terbaik kedua ini adalah seorang perempuan.
  3. Kartika Putri (SMPN 2 Bojonggede), “Pingsan Mania Go To Bathroom“. Terbaik ketiga. Tomboy juga nih anak.
  4. Syifa Fauziah, (SMPN 2 Bojonggede). Ceritanya bagus sekali, sayang ending kurang bagus. Jika tidak saya akan pilih kamu.

Semuanya putri. Semoga tahun depan ada juga penulis cerpen laki-lakinya. J

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:02 18 Mei 2009


Advertisements

3 thoughts on “LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?

  1. Terimakasih kepada bapak riza almanfaluthi atas kesediaannya menjadi juri dalam lomba menulis cerpen.

    saran masukan Bapak sangat berarti bagi kami.

    Jadi, pak…menurut bapak, bagaimana minat dan bakat remaja bojong gede di bidang sastra? menggembirakan atau mengharukan?

    Semoga Pak Riza senantiasa diberi keberkahan dan kemudahan untuk senantiasa menulis, mendakwahkan kebaikan, sehingga bisa jadi penerang bagi ummat… amin…

    jazakallah khoiron katsiron..

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s