SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH


SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH

    Ada waktu senggang yang kami manfaatkan setelah ritual wajib haji telah tertunaikan yaitu rihlah ke berbagai tempat di Makkah dan sekitarnya. Yang akan sedikit saya ceritakan kali ini adalah Masjid Terapung di Jeddah. Sebenarnya bukan terapung begitu saja, tetapi masjid ini didirikan dengan tiang pancang pondasinya yang tertancap persis di pinggir Laut Merah. Sehingga ketika Laut Merah sedang pasang airnya maka masjid ini dikelilingi air dan seakan-akan mengapung di atas air laut.

    Kami berangkat dari pondokan di Makkah jam dua siang melalui jalan lama Mekkah Jeddah. Karena katanya kalau melalui jalan baru nanti akan melewati pos pemeriksaan dan urusan akan ribet. Jarak Mekkah Jeddah melalui jalan lama sekitar 85-an kilometer.

Dalam perjalanan kami mampir dulu ke peternakan unta. Foto-foto bersama unta dan seumur hidup baru kali itu bisa mencium unta yang baunya “prengus” karena sejak lahirnya ia tak pernah mandi. Lalu beli satu botol susu unta murni yang nantinya akan saya sesali. Hu…hu…hu…

Ketua Rombongan sudah bilang untuk tidak langsung meminum susu itu. Dan itu sudah saya turuti. Karena bagi yang tidak cocok dengan susu murni seperti itu walaupun terasa gurih dan enak, isi perut bisa keluar semua.

    Sampai di Masjid Terapung, kalau tidak salah sudah hampir jam 4. Shalat ashar di sana lalu menikmati pemandangan yang ada sambil menunggu maghrib tiba. Benar-benar tepat singgah di sana sewaktu sore. Tersajikan sebuah pesona alam yang sungguh indah dipandang mata.

    Lengkungan kubah dan tiangnya, menara tinggi menjulang, angin yang menderu kencang, Laut Merah dengan ombak kecilnya, langit hitam, dan matahari senja yang hendak turun ke peraduan membuat hati saya tergetar. Subhanallah indahnya.

*Suasana senja di Masjid Terapung

*Pemandangan lain di sekitar Masjid Terapung

    Saya tak dapat menggambarkan lagi apa yang saya rasakan di sana. Ada kebahagiaan dan ketenangan yang didapat saat menikmati semuanya itu. Hasrat untuk memainkan kata-kata mulai timbul. Tapi sungguh hanya cuma terlintas dalam hati. Dan tak dapat tertuliskan sampai kemarin. Jika boleh, inilah huruf-huruf yang bisa terangkai hari ini.

    selalu saja ada senja di setiap sudut

    pun di laut merah

    jika angin yang menerpa dan cahayanya melukis di wajahmu

    akankah ada ufuk hanya untukku

    langit hitam takkan menjadikanku hitam

    tapi serinai siluetmu

menerobos kelalimanku

aku menjadi putih di merah hatimu.

**

Aduh biyunggg…tobaat…Cuma kata-kata itu yang bisa tertangkap. Banyak foto indah yang bisa dibuat. Tapi tak bisa saya unduh di sini. Paling di facebook. Insya Allah. Lihat saja di sana. Hanya sedikit ini.

  • Selalu ada senja di setiap sudut

    

    *Salah satu sudut Masjid Terapung

    

  • Di mana-mana ada senja. Bolehkah aku gunting dan kulipat engkau di sakuku?

Setelah foto-foto, kami menikmati jagung bakar yang dijaja di sana. Penjualnya bisa memikat hati para pengunjung yang mayoritas orang Indonesia dengan sedikit kepintarannya berbahasa Indonesia. “Lima real…! Lima Real…!” Satu biji setara Rp12.500,00.

Setelah makan jagung bakar yang dibeli dan nasi kotak yang disediakan oleh Ketua Rombongan, adzan maghrib berkumandang. Saya mengambil air wudhu di toilet Masjid. Jangan bayangkan seperti di Masjidil Haram yang berlimpah air dan banyak WC serta krannya, di Masjid Terapung sarananya minim, kami harus antri panjang untuk sekadar mengambil air wudhu.

Ada yang membuat hati saya bergetar kembali. Bacaan imamnya itu indah sekali. Walaupun di saat maghrib itu penuh dengan jamaah namun saya membayangkan jika tidak di musim haji. Imam yang sudah sepuh itu memimpin segelintir jamaah di suatu maghrib, di tepi laut merah. Syahdu. Berasa seperti shalat maghrib atau shubuh di sebuah desa di pegunungan atau di puncak Bogor. Tiba-tiba saya membayangkan saya punya pesawat jet, maka sabtu atau minggu pergi dari tanah air untuk sekadar shalat maghrib di sana. Mustahil? Insya Allah tidak.

Setelah shalat maghrib, perjalanan rihlah dilanjutkan ke Masjid Qishosh, melewati air mancur setinggi 100 meter lebih, melewati pula makam Siti Hawa, dan berakhir di pusat perbelanjaan Corniche Commercial Centre, Balad. Beli apa di sana? Beli unta-untaan made in China buat Kinan dan keponakan. Unta-untaan itu kalau ditepuk langsung nyanyi: “Ya Thoybah…ya Thoybah…”. Di Jeddah, di Makkah, dan di Madinah harganya sama, 15 Real.

Tidak lama setelah itu kami pulang. Sampai di pondokan jam 11 malam. Dan berakhir sudah rihlah di hari itu.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

mana senjamu?

17.51 11 Desember 2011

Tags: hajj 2011, mekkah, madinah, jeddah, corniche commercial centre, siti hawa, masjid terapung,

MUSTAJAB BANGEEET…


MUSTAJAB BANGEEET…

    Bagaimana cara bertemu dengan teman yang kita tidak tahu nomor kloternya berapa, tinggal di sektor mana, rumah pondokannya berapa? Suatu hal yang mustahil saya mencari satu orang di antara ratusan ribu jama’ah Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru mata angin kota Makkah.

    Tapi di sana tidak ada yang mustahil. Tinggal berdoa saja di depan Kakbah, di sebuah tempat yang paling mustajab, di waktu yang mustajab, dengan 100% keyakinan pada Allah, maka tunggu dan biarkan mekanisme doa itu berjalan sendirinya untuk kita. Dan saya hanya terlongong-longong ketika teman saya itu muncul di hadapan saya begitu saja. Terpana. Tak dinyana. Tak terduga. Allah Akbar.

Mustajab banget doa di sana. Banyak sekali doa yang dikabulkan. Oleh karenanya tak pandang sepele semua keinginan saya panjatkan. Dengan bahasa Arab ataupun pakai bahasa orang Bojong. Doa kecil ataupun doa besar. Maksudnya? Doa kecil itu semisal minta supaya saya tak ada masalah pada saat mengantri toilet di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMINA). Doa besar semisal agar saya bisa dikumpulkan dengan orang-orang yang saya cintai di Firdaus A’laa bersama Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Saran saya buat yang mau berangkat haji di tahun-tahun mendatang adalah siapkan stok doa sebanyak mungkin. Doa berbahasa Arab yang sudah kita hapal, kita pahami betul maknanya sehingga tak sekadar diucapkan di lisan. Bahkan jika kita hanya punya satu doa andalan—doa sapu jagat, Robbana aatina—tak mengapa itu diulang ribuan kali atau menjadi doa pada saat thawaf dan sa’i. Jika sudah selesai dengan doa yang berbahasa Arab berdoalah dengan doa berbahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang kita kuasai. Allah Maha Mendengar.

Jangan malu untuk buka-buka buku pada saat doa di sana. Buku paket doa dan dzikir yang dibagikan pemerintah di tanah air itu juga bisa mencukupi. Atau dengan buku yang dibagikan pada saat kita mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Di buku itu ada tulisan Arabnya dan terjemahannya. Saya pakai buku yang terakhir dan membaca terjemahannya di saat berdoa karena saya anggap isinya bagus banget.

Jangan sepelekan buku dzikir dan doa yang dibagikan oleh pemerintah yang isinya juga bagus-bagus. Mentang-mentang tak ada keterangan doa ini dari hadits (Nabi) atau dibuat oleh siapa jadi enggak dipakai. Padahal buku doa dan dzikir dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS) pun sama bae. Enggak ada keterangan doa itu riwayat dari siapa atau ditakhrij oleh siapanya.

Keuntungan yang dimiliki oleh orang-orang Makkah dan Madinah adalah mereka punya tempat yang mustajab untuk berdoa—di Makkah yakni di Multazam sedangkan di Madinah yakni di Raudhah—yang bisa mereka kunjungi kapan saja. Tak ada kendala jarak dan waktu.


Tampak seorang Pakistan berdoa dengan khusyu’ memandang Kakbah

di lantai paling atas tempat sa’i Masjidil Haram (18/11)

Tapi Allah Mahaadil, Allah memberikan kepada kita—kaum Muslimin secara keseluruhan—saat yang mustajab untuk kita berdoa. Oleh karena betapa susahnya kita doa di tempat yang mustajab itu maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya saat-saat yang tepat itu dan jangan sekali-kali meremehkannya. Saat-saat itu adalah antara lain waktu sahur, sepertiga malam terakhir, turun hujan, antara adzan dan iqamat, berbuka puasa, dan pada saat khatib jumat duduk.

Berdoalah apa saja sesuai hajat kita dengan sepenuh hati. Pun dengan adab-adab doa yang telah kita ketahui bersama antara lain seperti memulai dan mengakhirinya dengan mengucapkan rasa syukur dan shalawat, mengangkat tangan, khusyuk, serta penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan Allah.

Satu hal lagi adalah ada saat berdoa yang mustajab yang tidak bisa dimiliki oleh kaum muslimin hatta penduduk Makkah dan Madinah sekalipun kecuali mereka yang berhaji yaitu pada saat wukuf di Arafah. Jangan sia-siakan waktu yang enam jam itu untuk kita tuntaskan semua hajat kita dengan doa. Waktu itu dimulai saat tergelincirnya sampai terbenamnya matahari.

Kebanyakan dari jama’ah haji Indonesia hanya memanfaatkannya sebentar yaitu pada saat dimulainya khutbah wukuf sampai selesainya. Atau paling lama sampai waktu ashar tiba. Saran saya adalah berdoalah sampai benar-benar maghrib tiba. Saya merasakan sekali betapa waktu itu terasa pendek dan teramat berharga. Seperti merasa waktu itu hanya akan mampir cuma sekali dalam seumur hidup. Seperti merasa hanya punya waktu sehari saja untuk hidup di dunia atau mau dihukum mati besok harinya. Oleh karenanya di penghujung waktu itu saya ulangi semua hajat dan keinginan terbesar saya dan minta agar saya bisa kembali untuk menjumpainya.

Semoga kita bisa menjumpai saat itu dan memanfaatkan waktu yang terbaik untuk berdoa dengan sebaik-baiknya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lagi, bukan di depan bangunan hitam itu kita dipertemukan

03.15 11 Desember 2011

CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH


CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH

 

Ramadhan, mudik, dan baliknya sudah berlalu. Saatnya menatap hari esok untuk menekuni rutinitas dan pekerjaan kembali. Namun masih ada bagian cerita yang belum sempat untuk dituliskan di sini. Oleh karenanya izinkan saya untuk mengisahkan sedikit perjalanan mudik kami.

    Cuti bersama dimulai dari hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Ditambah satu hari lagi cuti tahunan pada hari Senin pekan depannya sehingga kalau ditotal jenderal jumlah hari libur yang saya ambil –dari tanggal 27 Agustus s.d. 5 September—adalah sebanyak 10 hari.

    Karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan terutama masalah pengumpulan dan pembagian zakat di Masjid Al-Ikhwan maka saya putuskan untuk memulai perjalanan mudik itu pada Sabtu malam Ahad tepatnya pukul 00.00. Karena memang tugas penghitungan ZIS baru selesai jam setengah 12 malam. Pada menit ke-40 selepas tengah malam kami pun berangkat.

    Kilometer sudah dinolkan, tangki bensin sudah dipenuhkan, shalat safar tertunaikan, shalawat sudah dipanjatkan, perbekalan sudah disiapkan, dan fisik sejenak sudah diistirahatkan maka perjalanan dimulai dengan menyusuri terlebih dahulu tol Jagorawi lalu ke Lingkar Luar Cikunir sampai ke tol Cikampek.

    Keberuntungan di tahun lalu tidak berulang di tahun ini. Selepas pintu tol Cikopo mobil kami dialihkan ke jalur kanan untuk melewati Subang karena pertigaan Jomin macet total. Padahal rencana kami adalah untuk singgah dulu di tempat bibi, Lik idah, di Segeran Indramayu. Kalau melalui jalur tengah—Cikopo, Subang, Cikamurang, Kadipaten, Palimanan—sudah pasti kami harus memutar terlalu jauh ke Segeran.

    Sebelum masuk Kalijati Subang saja sudah macet total. Kami pun mematikan mesin mobil. Jam sudah menunjukkan setengah empat pagi ketika kami memulai sahur di atas kendaraan. Kami sudah bertekad untuk tidak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa pada saat menjadi musafir.

Karena saya merasakan betul kenikmatan berbuka di saat orang lain tidak berpuasa dan godaan tawaran pedagang asongan dengan minuman dingin yang berembun di siang terik, apalagi di tengah kemacetan yang luar biasa. Syukurnya Haqi dan Ayyasy juga mau untuk sahur dan berpuasa. Kebetulan pula mobil kami tepat berhenti di depan masjid, sehingga ketika adzan shubuh berkumandang kami dengan mudahnya memarkirkan mobil dan shalat.

Setelah shalat kondisi jalanan ke arah Subang sudah tidak macet lagi. Arah sebaliknya yang menuju Sadang yang macet. Kami melewati Subang menuju Cikamurang dengan kecepatan sedang. Menjelang matahari terbit kami melewati perkebunan pohon-pohon Jati. Indah sekali pemandangan yang terekam dalam mata dan benak menyaksikan matahari yang mengintip di sela-selanya. Dan sempat tertuliskan dalam sebuah puisi yang berjudul Terperangkap. Saya rekam dengan menggunakan kamera telepon genggam dan unggah segera ke blog.

Sebelum Cikamurang kami lewati, lagi-lagi kendaraan kami dialihkan dari jalur biasanya ke arah jalur alternatif. Tentunya ini memperpanjang jarak dan waktu yang kami tempuh sampai Kadipaten. Kemacetan yang kami temui selepas Cikamurang sampai Palimanan hanyalah pasar tumpah. Terutama pasar tumpah di Jatiwangi dan Pasar Minggu Palimanan.

Setelah itu kami melewati jalur tol Kanci Palimanan melalui pintu tol Plumbon. Di tengah perjalanan karena mendapatkan informasi dari teman—yang 15 menit mendahului kami—via gtalk bahwa di pintu tol Pejagan kendaraan dialihkan arusnya menuju Ketanggungan Timur dan tidak boleh ke kiri menuju Brebes maka kami memutuskan untuk keluar tol melalui pintu tol Kanci.

Tapi jalur ini memang padat sekali. Kalau dihitung jarak Kanci hingga Tegal ditempuh dalam jangka waktu lebih dari 3 jam. Jam sudah menunjukkan angka 15.15 saat kami beristirahat di SPBU langganan kami, SPBU Muri, tempat yang terkenal dengan toiletnya yang banyak dan bersih. Shalat dhuhur dan ashar kami lakukan jama’ qashar. Haqi dan Ayyasy sudah protes mau membatalkan puasanya karena melihat banyak orang yang makan eskrim dan minum teh botol. Kami bujuk mereka untuk tetap bertahan. Bedug buka sebentar lagi. Sayang kalau batal. Akhirnya mereka mau.

Setelah cukup beristirahat kami langsung tancap gas. Jalanan lumayan tidak penuh. Pemalang kami lewati segera. Kami memang berniat untuk dapat berbuka di Pekalongan. Di tempat biasa kami makan malam seperti mudik di tahun lalu. Di mana coba? Di alun-alun Pekalongan, sebelah Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan, tepatnya di Rumah Makan Sari Raos Bandung. Yang patut disyukuri adalah kami tepat datang di sana pas maghrib. Beda banget dengan tahun lalu yang maghribnya baru kami dapatkan selepas Pemalang.

Rumah makan ini khusus menjual ayam kampung yang digoreng. Sambalnya enak. Tempatnya juga nyaman. Ada lesehannya juga. Kebetulan pula pada saat kami datang, kondisinya padat banyak pengunjung, dan anehnya kami dapat tempat paling nyaman yang ada lesehannya. Persis di tempat kami duduk setahun yang lalu.

Cukup dengan teh hangat, nasi yang juga hangat, sambal dan lalapan, satu potong ayam goreng, suasana berbuka itu terasa khidmatnya. Yang membuat saya bahagia adalah Haqi dan Ayyasy mampu menyelesaikan puasanya sehari penuh.

Setelah makan dan istirahat kami langsung sholat maghrib dan isya. Walaupun tempat sholat sudah disediakan di rumah makan itu, saya dan Haqi berinisiatif shalat di Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan. Waktu itu suasana masjid ramai karena dekat dengan alun-alun yang sesak dipenuhi pedagang dan pusat perbelanjaan. Kami sempat merekam gambar menara masjid tua ini.

Selepas adzan ‘isya kami segera berangkat kembali untuk menyelesaikan kurang lebih 102 km tersisa perjalanan kami. Batang kami lewati tanpa masalah. Kendal pun demikian. Saya yang tertidur tiba-tiba sudah dibangunkan karena mobil kami ternyata sudah sampai di rumah mertua di daerah Grobogan dekat stasiun Poncol.

Perjalanan kami belum berakhir karena kami memang berniat menginap di rumah kakak. Sekarang gantian saya yang menyetir menuju Tlogosari, Pedurungan. Tidak lama. Cuma 15 menit saja. Akhirnya tepat pada pukul 21.45 kami pun sampai di tujuan.

Wuih… lebih dari 21 jam lamanya perjalanan mudik ini. Saya sempat berpikir lama–kelamaan jarak Bogor Semarang susah untuk ditempuh dalam jangka waktu 12 jam atau lebih sedikit. Tidak seperti di tahun 2007 lalu waktu kami berangkat jam enam pagi sampai di Semarang sekitar pukul tujuh petang dengan suara takbir menggema dan kembang api menghiasi langit.

Tapi apapun yang kami lalui yang terpenting penjalanan itu bisa ditempuh dengan selamat. Saya yakin shalawat yang kami lantunkan menjadi salah satu faktor utama keselamatan kami. Dan berujung pada kebahagiaan kami di lebaran bersama keluarga di kampung. Semoga cerita mudik Anda pun berakhir bahagia.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 WIB

6 September 2011

 

Diupload pertama kali di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/06/cerita-mudik-bogor-semarang-21-jam/

Tags: bogor, semarang, ramadhan, mudik, cuti bersama, masjid al-ikhwan, tol jagorawi, lingkar luar cikunir, tol cikampek, tol cikopo, subang, lik idah, segeran, indramayu, cikamurang, kadipaten, palimanan, kalijati, haqi, ayyasy, cikamurang, palimanan, jatiwangi, pasar minggu palimanan, tol kanci palimanan, plumbon, gtalk, pejagan, ketanggungan timur, brebes, spbu muri, pemalang, pekalongan, alun-alun pekalongan, masjid agung al-jami’ pekalongan, rumah makan sari raos bandung, batang, kendal, grobogan, stasiun poncol, tlogosari, pedurungan

T E R P E R A N G K A P


image

:bayangmu seringkali terperangkap

:pada ranting-ranting dan daun-daun pohon jati cikamurang

:di pagi yang tak sengaja untuk menjadi beku

:di matahari yang hendak mengakhiri agustus

:di kemarau yang salah datang di hatimu

:bayangmu seringkali terperangkap di lingkaran-lingkaran otak yang tak punya sudut

:di bilik jantungku yang kerap tanpa bunyi

:kau, ramaikanlah segera ruang itu.

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Ramadhan 1432
06.05

Kuliah Dhuha Al Yaum Ma’al Qur’an di Penghujung Ramadhan


image

Hari ke-27, di Masjid Al Ikhwan, setelah sesi melelahkan di malamnya ditambah sahur pakai nasi biryani dengan 66 lebih jama`ah, kini saatnya mendengarkan kuliah dhuha bersama Ustadz Badruddin, Lc.

Temanya: Cara Berinteraksi yang Baik dengan Alqur’an.

AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA


AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA

 

Sabtu malam Ahad sebelum Ramadhan, kami bertiga—saya, Ayyasy, dan Kinan—menjemput Ummu Haqi dari sebuah hotel di Bogor tempat konsinyering sehari penuh itu diselenggarakan. Nama hotel itu adalah Hotel Sahira, tepatnya di jejeran Jalan Paledang. Kalau saya cuma tahu jalan itu identik dengan nama penjara.

Hotel itu dekat ditempuh dari stasiun Bogor. Jalan kaki bisa atau naik ojek juga bisa. Hotelnya terlihat bagus. Tampak depan bangunan bercita rasa zaman keemasan kolonial Belanda. Sepertinya juga hotel ini hotel syariah karena ada larangan untuk membawa minuman keras dan pasangan yang bukan mahrom untuk menginap. Di setiap kamarnya ada Alqur’an dan terjemahnya serta sajadah untuk shalat.

Untuk kami disediakan satu kamar buat bermalam sampai besok tetapi karena ada agenda yang tak bisa ditinggalkan oleh saya maka kami putuskan untuk pulang saja. Nah, sebelum pulang itu saya sempatkan untuk menjepret Ayyasy dan Kinan di samping unta yang sedari tadi mematung di lobi hotel yang interior dan pencahayaannya cukup bagus.

Selamat dinikmati saja fotonya. J Omong-omong tentang Bogor banyak sekali tempat eksotik untuk dikunjungi. Bogor bisa disamakan dengan Bandung. Yang membedakan adalah hujan, pohon, kijang dan rusanya. Satu lagi kata orang sih…perempuannya. Ah, ada-ada saja. Suatu saat kami akan sempatkan untuk jalan-jalan di sana. Eksplorasi lebih dalam dan lama.

Ini yang terakhir. Beneran terakhir. Sumpah. Kalau ke Bogor melewati istana Bogor dan di halaman luasnya menemukan banyak binatang mamalia seperti kijang dan rusa maka yang menjadi pertanyaan adalah apa bedanya kijang dengan rusa? Saya tanya saya jawab sendiri. Kalau kijang itu punya totol-totol sedangkan rusa tidak punya. Membedakan jantan dan betinanya bagaimana? Yang jantan itu punya tanduk sedangkan yang betina tidak.

Jadi kalau ada yang bertotol-totol dan tidak bertanduk itu namanya adalah kijang betina. Jangan salah sebut yah…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

merdekalah kita

11.28 17 Ramadhan 1432 H

 

 

Tags: bogor, paledang, stasiun bogor, kijang, rusa, hotel sahira, kolonial belanda, belanda, istana bogor, bandung, kinan, ayyasy

DI SEBUAH KETINGGIAN


image

Pagi ini setelah kuliah shubuh, sesaat mau pulang ke rumah, hati kok tergerak untuk menangkap pemandangan pagi  yang sejuk ini. Masih banyak kabutnya yang bertengger di pucuk- pucuk pepohonan di kejauhan sana. Suasana masih sepi. Orang mungkin masih bergulung dengan selimutnya sehabis sahur tadi.
Jalan lurus ini adalah jalan depan rumah. Satu yang ada di hati pada pagi ini bersyukur tinggal di Bogor yang hawanya masih sejuk.
Jangan dilupa kicau burung-burung di pagi ini terasa gaduhnya. Seperti menyambut suasana hati saya yang sedang bahagia di Ramadan Mubarak ini.
Ya Rabb jangan kau cabut kebahagiaan kami di pagi ini sampai akhirnya.
Dan….
Ya benar, selalu akan ada banyak yang dilihat di atas ketinggian.
Pagi semua.
***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara.
Perpisahan juga adalah pertemuan yang salah tempat.
14 Ramadhan 1432 H
06.17

EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU


EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU

 

Tak dinyana saya menemukan banyak buku bagus waktu pergi ke toko buku Gramedia di ITC Cibinong, Rabu petang (29/6). Selain bagus sudah barang tentu murahnya itu yang  membuat saya tertarik sekali. Seperti biasa yang saya cari pertama kali di toko itu adalah bukan buku-buku yang terpajang di rak-rak utama di bagian dalam toko. Tetapi pada buku-buku yang tergeletak tak beraturan di lapak-lapak khusus buku murahnya.

Bayangkan buku Membongkar Kegagalan CIA dijual cuma 35 ribu perak. Namun bukan buku itu yang saya pilih, karena saya sudah baca bukunya di Perpustakaan Kantor Pusat DJP. Selain itu ada buku-buku yang seharga semangkuk bakso atau satu gelas jus buah. Berkisar angka 5 ribu sampai dengan 10 ribu rupiah. Nah yang ini baru saya beli. Murah tapi tidak murahan. Dan perasaan saya saat membelinya seperti membeli satu kilogram emas batangan yang dijual cuma dengan harga 1 gram saja.

Ada lima buku yang saya beli. Bukunya tebal-tebal lagi.

  1. Pahlawan Zaman Kita, sebuah novel yang ditulis oleh Penulis Rusia, Mikhail Lermontov , harganya cuma 10 ribu rupiah. Tebal 200 halaman.  
  2. The Long Tail: Ekonomi Baru dalam Bisnis dan Kultur, Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas, Chris Anderson, harganya sama cuma ceban. Tebal lebih dari 287 halaman.
  3. Bidik, Novel Dengan Dua Sisi. Sisi 1: Lomotions, Sisi 2: Loko Motive. Sebuah novel yang ditulis oleh Nugroho Nurarifin.  Harganya goceng saja, lima ribu rupiah. Tebal 264 halaman.
  4. Orang Batak Berpuasa, buku yang ditulis oleh Baharuddin Aritonang. Harganya cuma 10 ribu rupiah saja.
  5. Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Jilid 3. Merupakan buku yang direkomendasikan oleh Tutor pada waktu workshop menulis untuk dimiliki. Sayangnya yang ada cuma jilid ke-3. Tidak ada jilid ke-1 dan ke-2 nya. Harganya? 10 ribu rupiah. Tebal 224 halaman.

Sampai tulisan ini dibuat buku yang sudah saya baca adalah Novelnya Mikhail Lermontov dan buku yang sedang saya baca adalah The Long Tail. Tiga lainnya belum terbaca sama sekali.

Tidak sampai satu bulan kemudian, Ahad kemarin (24/7) saya balik lagi ke toko buku itu. Dan ternyata, waow, buku-buku murahnya tambah banyak lagi dan baru-baru. Maksud baru di sini adalah buku lama yang di bulan sebelumnya belum ada di lapak buku murah. Dan ternyata lagi, jilid 1 dan jilid 2 dari buku Proses Kreatif sudah ada. Sudah pasti saya angkut dua buku itu dengan harga masing-masing cuma 15 ribu rupiah.

 

Tak disangka pula saya menemukan bukunya Jung Chang, Angsa-angsa Liar. Tahu siapa Jung Chang? Dia yang menulis buku bagus tentang Mao. Buku tebal yang berjudul Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui sudah saya baca habis. Waktu itu saya penasaran sama Jung Chang yang bisa bercerita detil tentang Mao dengan segala kekejamannya itu. Eh, malah ketemu buku lainnya itu yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Wild Swan.

Di toko itu, harganya cuma 20 ribu rupiah. Dulu harga buku barunya 100 ribu rupiah.

Walaupun banyak sekali buku murah yang bagus-bagus, saya memutuskan  hari Ahad itu saya beli buku tiga saja. Ada loh buku tentang India dan Cina, juga tentang Perang Troya. Tetapi  nafsu saya harus ditahan dulu. Insya Allah bulan depan.

Yang mengejutkan saya kira buku Proses Kreatif itu hanya sampai jilid 3, baru saja googling ada juga jilid empatnya.

Semoga saja sudah ada edisi murahnya bulan depan.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16.19 25 Juli 2011

 

 

tags: gramedia, itc cibinong, membongkar kegagalan cia, perpustakaan kantor pusat djp, djp, pahlawan zaman kita, rusia, mikhail lermontov, the long tail, chris anderson, bidik: novel dengan dua sisi, lomotions, loko motive, bidik, nugroho nurarifin, orang batak berpuasa, baharuddin aritonang,  proses kreatif: mengapa dan bagaimana saya mengarang, jung chang, angsa-angsa liar,  mao zedong, mao tse tung,  mao: kisah-kisah yang tak diketahui, mao: untold story, wild swan, india, perang troya.

26 PERMINTAAN


26 PERMINTAAN

 
 

“Mi…saya sudah mengumpulkan doa-doa yang hendak Abi panjatkan di sana. Yang pertama apa coba?”    tanya saya.

    “Paling nikah lagi,” jawabnya.

    “Kok tahu?” tanya pura-pura.

    “Tahulah, tetapi nanti Umi akan balas dengan doa yang lain.”

    “Jangan begitu. Tetapi jawaban Umi salah besar. Bukan itu.”

“Emangnya apa?”

“Abi dan keluarga bertemu muka dengan Allah,” jawab saya, “Itu yang pertama.”

“Yang kedua?”

“Abi, Umi, dan anak-anak bisa satu kavling dengan kanjeng Nabi Muhammad saw.”

“Mustahil…” jawabnya.

“What…? Enggak boleh ngomong kayak gitu. Kalau doa saja sudah dimulai dengan sebuah ketidakyakinan bagaimana doa akan bisa terkabul?”

“Bukan begitu sih, susah soalnya,” elaknya.

“Namanya juga doa. Ya minta saja yang paling tinggi. Dan bukankah kanjeng nabi juga sudah memberitahu jalannya untuk bisa deket-deketan sama beliau? Sayangi anak yatim salah satunya. Tidak ada yang mustahil jika kita minta kepada Allah.”

*

Dialog itu terjadi setelah mendengarkan ceramah manasik haji yang disampaikan oleh Ustadz Muchtar Ilyas di Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Bogor, Sabtu (23/7). Katanya di Indonesia itu tidak ada tempat mustajab untuk terkabulnya doa, yang ada hanyalah saat-saat mustajab. Saya jadi teringat saat-saat itu antara lain adalah di antara adzan dan iqomat, sujud terakhir, di antara dua khutbah jum’at, antara hujan deras dan hujan gerimis, menjelang berbuka puasa. Sedangkan di tanah suci, lanjutnya lagi, selain saat-saat mustajab juga terdapat tempat-tempat mustajab doa salah satunya di multazam.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, silakan berdoa dan minta apa saja kepada Allah di sana. Pakai bahasa Indonesia jika tidak hafal doa-doa dalam bahasa Arab itu. Karena percuma saja kalau kita berdoa tetapi tak tahu apa arti dan maksud dari doa tersebut. Jadi tak masalah berdoa pakai bahasa Indonesia. Setiap kita bukankah punya masalah masing-masing? Maka kumpulkan setiap permintaan, keinginan, dan doa itu, catat, dan kalau bisa dilaminating,” katanya.

    Akhirnya saya berkeinginan untuk merekapitulasi segala keinginan saya dalam bentuk doa yang akan dipanjatkan di sana. Pun, beberapa hari lagi akan datang Ramadhan Mubarak, maka tidak ada salahnya kalau saya rekap segala harap saya itu untuk kelak saya panjatkan kepadaNya di saat yang paling tepat. Kayak kucing yang tekun mengintai mangsanya dan tahu betul kapan saatnya menerkam.

    Yang terpenting pula adalah doa itu senantiasa dipanjatkan secara kontinyu dan terus menerus. Ibarat kucing yang terus lengket dikaki kita, mengeong terus, tak mau pergi sebelum ia benar-benar diberi kepala ikan oleh kita.

Ini dari hati nurani yang paling dalam, setelah dipikir-pikir sejenak dan lama, lalu sebagiannya ditulis spontan dalam waktu sepeminuman teh. Semoga dikabulkan semuanya oleh Allah.

  1. Saya dan keluarga dapat menatap wajah Allah;
  2. Saya dan keluarga satu kavling surga di Firdaus dengan nabi Muhammad saw dan dekat dengan beliau;
  3. Bapak dan ibu selamat dunia akhirat;
  4. Kami sekeluarga dijauhkan dari neraka;
  5. Menjadi orang yang senantiasa mencintai Allah dan dicintai Allah;
  6. Ditutupinya aib-aib dari pandangan manusia di dunia dan akhirat;
  7. Istri shalihat;
  8. Anak shalih dan shalihat;
  9. Anak seketurunan ke bawah cerdas, kuat fisik, mental, harga dirinya, dan sehat-sehat;
  10. Diberikan rizki yang halal, banyak, baik, berlipat-lipat, dan berkah;
  11. Dijauhkan dari hutang;
  12. Bapak diberikan kesembuhan dan khusnul khotimah;
  13. Umur yang panjang dan berkah;
  14. Diberikan akhir yang baik.
  15. Senantiasa bermanfaat bagi yang lain;
  16. Menjadi orang yang gampang berbagi, dengan dunia dipegang di tangan bukan di hati;
  17. Menjadi orang yang pemaaf;
  18. Menjadi orang yang tidak mudah marah;
  19. Menjadi orang yang punya stok sabar yang berlimpah;
  20. Menjadi teman dan tetangga yang baik serta diberikan teman dan tetangga yang baik;
  21. Senantiasa ditunjukkan yang benar itu benar untuk dapat mengikutinya, dan yang salah itu salah sehingga dapat menjauhinya;
  22. Menjadi orang yang mampu untuk menyuarakan kalau hak itu adalah hak, kalau salah itu adalah salah;
  23. Diberikan hati yang peka terhadap penderitaan saudara sedarah dan seiman;
  24. Menjadi orang yang mudah untuk melakukan amal kebaikan;
  25. Dijauhkannya saya dan keluarga dari bala dan musibah;
  26. Masjid Al-Ikhwan senantiasa menjadi masjid yang penuh keberkahan, begitupula dengan RT.11, RW.17, DJP tempat saya bekerja, dan negeri Indonesia yang tercinta.

Itu yang terpikirkan. Itu saja sudah banyak banget. Dan kalau ditulis semua yang baca pasti bosan. Tetapi tak apa celamitan pada Allah asalkan tidak pada manusia. Allah Al Ghoniy. Allah maha kaya. Allah suka sekali diminta. Kalau tidak minta-minta padanya kita kayak jadi orang sombong. Dan dari ke-26 pinta itu inginnya saya rangkum menjadi doa seperti ini:

“Ya Allah jadikan aku orang yang selalu dikabulkan doanya oleh Allah SWT.”

    Jadi tak perlu doa banyak-banyak di waktu dan tempat yang mustajab itu. Cukup itu saja. Kalau diterima Allah, wah di mana saja dan kapan saja bisa doanya selalu terkabul. Enaknya…dan pengennya… . Dasar manusia, pengen enaknya aja. Kanjeng Nabi enggak seperti itu.

    Detik ini ya Allah, kabulkanlah 26 permintaan saya itu dan kabulkan doa seluruh kawan-kawan saya di mana pun ia berada. Amin.

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Ada 2 dan 1 surat terkungkung dalam besi terkunci rapat,

dan aku tak punya kuncinya

21.58 24 Juli 2011

 
 

    Tags: muchtar ilyas, bpih, Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Bogor, firdaus,

JANGAN PERNAH MENYERAH


JANGAN PERNAH MENYERAH

 

 

Ya Allah Sang Pemilik Keindahan

jika pertemuan dan perpisahan

adalah sebuah kemestian,

maka jadikanlah pertemuan itu indah

dalam pandangan kami

jadikanlah pertemuan itu indah

dalam benak dan hati kami,

sehingga keindahan itu akan tetap

menghiasi hari-hari kami,

pada saat kami berpisah nanti

 
 

Ya Allah, Ya ‘Aziiz

jika pertemuan hanyalah awal

dari sebuah perpisahan,

maka cukuplah kebahagiaan

yang kami bawa pulang,

karuniakanlah kebaikan

yang lebih kepada saudara kami yang akan pergi,

melebihi kebaikan yang ia dapatkan di sini

dan karuniakanlah kebaikan yang sama

kepada saudara kami yang datang kepada kami,

melebihi segala kebaikan

yang ia tinggalkan.

 
 

 
 

            Beberapa harap yang terucap dalam doa di saat acara Pisah Sambut Pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Jum’at (13/5) siang ini. Kami melepaskan lima teman yang akan berpisah.

Dua orang teman kami akan menjadi Account Representative yakni Mbak Nur di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tamansari Satu dan Mas Rio di KPP Duren Sawit. Dua orang lagi tetap menjadi Penelaah Keberatan yakni Mbak Ratna di Kantor Wilayah DJP Banten dan Pak Sudiya di Kantor Wilayah DJP Lampung. Sayangnya dua teman kami yang terakhir ini tidak ikut dalam acara.

Satu lagi adalah Mbak Vivi yang akan cuti di luar tanggungan negara untuk ikut suaminya yang sedang tugas belajar di Adelaide, Australia. Mbak yang satu ini bilang pada sesi  sambutan, “Sudah cukup 13 tahun mengabdi di Direktorat Jenderal Pajak dan kini saatnya saya untuk mengabdi kepada suami.” Tepuk tangan kami menyambut dari akhir kalimatnya itu.

Mas Rio

Mbak Nur

Mbak Vivi

 

Setelah menerima cenderamata mereka didaulat untuk bernyanyi bersama-sama. Saya tak tahu lagu apa itu awalnya, tetapi ketika tiba pada baris reffrain sepertinya itu lagu ada band,

walau badai menghadang
ingatlah ku kan selalu setia menjagamu
berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

Saya juga tak hafal lagunya . Ini pun hanya menyalin dari internet. Mendengar lagu itu teman-teman sampai pada ikutan bernyanyi dan mengangkat kedua tangannya lalu menggoyangkannya ke kanan dan kiri. Sayang tidak ada pohon di sana. Kalau enggak, pasti MC-nya, Kang Awe, akan bilang: “yang dipohooon goyaaanng…!”

Setelah itu diperkenalkan teman-teman yang baru datang. Ada 10 orang. Satu per satu diperkenalkan. Tiba-tiba, sebelum dilanjutkan ke acara berikutnya, aku seperti merasa sendiri. Walau di tengah keramaian. Dan segera saya pun beranjak untuk meninggalkan acara itu. Entahlah, siang itu saya ingin sendiri. Tulisan ini pun sepertinya harus berakhir sampai di sini.

Satu kalimat buat yang meninggalkan kami, jangan pernah menyerah dalam kondisi apapun. Semangat!!! Semoga Allah memberikan keberkahan di setiap waktu yang dimiliki.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ask: what do you feel today? my answer: I am very happy

07.52 am 14 Mei 2011