Nametag: Rumusnya Begini


Jumat sore itu, saya tiba di Stasiun Jurangmangu satu setengah jam menjelang berbuka puasa. Langit gelap menyisakan rintik hujan dan gegas orang-orang yang penuh harap agar mereka bisa sampai di rumah sebelum azan Magrib berkumandang.

Sebelum keluar peron stasiun saya memesan ojek daring. Pemesanan tak kunjung mendatangkan hasil. Aplikasi tidak bisa melacak keberadaan pengojek. Biasanya kalau hujan begitu memang susah mendapatkan ojek daring.

Baca Lebih Banyak

Dua Jam Bersama Hasan Tiro


Ini adalah artikel feature yang ditulis oleh wartawan Tempo Arif Zulkifli dan dipublikasikan di Majalah Tempo edisi 29 Mei–4 Juni 2000 yang berjudul:

Dua Jam Bersama Hasan Tiro

LELAKI itu merapatkan mantelnya. Ia berdiri di pintu balkon menghadap ke luar apartemen. Angin dingin musim semi berembus. Lima belas derajat Celsius. Kering, menusuk seperti jarum. Di luar, laut Mälaren yang menggenangi Kota Stockholm berpendar-pendar. Di atasnya, sebuah bukit warna cokelat menyembul dari permukaan air. Udara cerah. Awan meriaki biru langit.

“Lihat pemandangan itu,” katanya. “Mirip sekali dengan Aceh.” Lelaki itu, Hasan Muhammad di Tiro, 75 tahun, kembali merapatkan mantelnya. Rambutnya yang putih tersisir ke samping. Rautnya keras dan giginya kusam termakan usia. Sesekali ia tersenyum.

Baca Lebih Banyak

Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko


Sabtu pagi itu, setelah salat subuh, saya segera check out dari tempat saya bermalam. Saya kemudian memesan taksi daring menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Jalanan lengang sehingga mobil yang saya tumpangi tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.

Saya kemudian mengantre di konter maskapai penerbangan untuk mendapatkan kertas fisik boarding pass. Sesuatu yang mestinya tidak saya lakukan karena ternyata di sudut lain bandara ada mesin untuk mencetak boarding pass secara mandiri.

Continue reading Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko

Nidya Hapsari: Hidup itu Maraton, Bukan Sprint


Di lantai 16 Gedung B Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, INTAX menyambut Nidya Hapsari yang datang berseragam khas Kementerian Keuangan warna biru dipadupadankan dengan sweater biru tua dan kerudung motif coklat tua. Tanda pengenal bertali panjang hitam tergantung di lehernya.

Nidya menampik tawaran INTAX untuk meminum kopi. “Tadi pagi saya sudah minum kopi,” kata perempuan penggemar amerikano dingin ini dari balik maskernya. Kegemaran meminum kopi tumbuh ketika ia kuliah di Australia. “Masyarakat sana tuh embracing the coffee culture. Kopi sudah jadi kebutuhan,” ujarnya. Sampai sekarang Nidya masih menyimpan cangkir kopi andalan yang ia selalu bawa saat di sana.

Baca Lebih Banyak

Jamu Jun Yanti, Pengudar Kahanan Rindu


Semangkuk jamu jun yang mampu menghangatkan malam.

Setelah beranjangsana lama di rumah saudara, kami pun pulang. Di tengah perjalanan sambil mencari warung kopi, di malam yang hampir larut, istri saya mendadak memberhentikan mobil. “Stop, berhenti di sini. Kita minum jamu jun dulu,” katanya.

Saya turun dari mobil dan menemaninya. Kami menghampiri warung seadanya yang berada di atas pembatas jalan di sebuah kompleks perumahan. Pembatas jalan ini memiliki lebar kurang dari dua meter dan banyak pedagang berjualan di atasnya.

Baca Lebih Lanjut

Hiroshima dan Sandal di Teras Masjid


 

Da ist nichts zu machen.”

Itu sebuah kalimat dalam bahasa Jerman yang diungkapkan oleh penduduk Hiroshima kepada Pastur Wilhelm Kleinsorge saat bom atom dijatuhkan dari atas awan dan meledak di udara pada 6 Agustus 1945, pukul 08.15.

Baca Lebih Banyak

Seperti Membeli Buah Sekilo, Ditimbang di Rumah Jadi 8 Ons


Tukang bangunan yang sedang mengganti konblok lama di depan rumah saya membutuhkan empat meter persegi konblok baru. Kemudian saya pergi ke toko bangunan untuk membeli konblok.

Di toko bangunan itu ada beberapa macam jenis konblok. Ada yang berbentuk heksagonal ada yang berbentuk persegi semacam batu bata. Saya memilih bentuk yang terakhir.

Baca Lebih Banyak

Cerita di Balik Pembuatan Buku Reformasi Perpajakan: Untuk Menjadi Monumen Mnemonik


Naskah buku yang belum ditentukan judulnya itu sedang dalam proses layout. Proses menyuntingnya memberikan pemahaman lebih buat saya. Ini luar biasa.

Namun, sebelum bercerita pengalaman tersebut, kiranya saya perlu mengetengahkan pembuatan buku ini dari awal. Sebuah buku yang berjudul: Reformasi Perpajakan adalah Keniscayaan, Perubahan adalah Kebutuhan: Cerita di Balik Reformasi Perpajakan.

Continue reading Cerita di Balik Pembuatan Buku Reformasi Perpajakan: Untuk Menjadi Monumen Mnemonik

Nunut Nonton Film di Bioskop Dewi


“Mang, melu Mang. Pak ikut, Pak,” kata saya bila ada orang yang beli tiket. Kalau orangnya mau, saya diajak untuk ikut. Digandeng tangannya.

*

Saya menemukan buku ini di antara jejeran buku di sebuah lemari kantor yang jarang dibuka. Sebuah buku lama yang terbit pada Agustus 2015. Judulnya: Sebuah Biografi Andy F Noya Kisah Hidupku.

Saya mengambil buku itu dan mulai membaca buku pembawa acara populer Kick Andy ini. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya karena memang bukunya bagus. Salah satu ciri buku bagus itu adalah mampu membuat pembaca tidak menunda membaca.

Baca Lebih Lanjut

Iba Susalit, Bersekutu dengan Dokumen dan Debu


Pagi itu, Iba Susalit terkejut karena ada pesan dari mantan atasannya masuk ke dalam aplikasi percakapan Whatsapp.

Pesan itu berisikan ucapan selamat karena foto Iba muncul di akun resmi jejaring sosial Instagram milik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yaitu @DitjenPajakRI.

Baca Lebih Lanjut