Nunut Nonton Film di Bioskop Dewi


“Mang, melu Mang. Pak ikut, Pak,” kata saya bila ada orang yang beli tiket. Kalau orangnya mau, saya diajak untuk ikut. Digandeng tangannya.

*

Saya menemukan buku ini di antara jejeran buku di sebuah lemari kantor yang jarang dibuka. Sebuah buku lama yang terbit pada Agustus 2015. Judulnya: Sebuah Biografi Andy F Noya Kisah Hidupku.

Saya mengambil buku itu dan mulai membaca buku pembawa acara populer Kick Andy ini. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya karena memang bukunya bagus. Salah satu ciri buku bagus itu adalah mampu membuat pembaca tidak menunda membaca.

Buat saya buku ini relate banget dengan kehidupan masa kecil saya. Banyak kesamaan dengan saya mulai dari soal kenakalan masa kecil, penindasan, sampai “nunut”.

Soal yang terakhir ini yang mau saya ceritakan. Jadi begini, Andy kecil adalah penyuka ludruk. Sewaktu tinggal di Surabaya, Andy sering nonton ludruk bersama teman-temannya tanpa membeli tiket. Caranya bagaimana?

Pertama dengan cara menyerobot. Sore sebelum malam perdana, anak-anak di sekitar Darmo Satelit menggergaji pagar gedek di belakang gedung pertunjukan. Secukupnya saja untuk menciptakan lubang seukuran anak-anak. Cara masuknya juga bergiliran. Tidak semua anak-anak masuk sekaligus.

Mereka masuk lewat gedek kemudian merangkak di bawah kolong panggung lalu menyelinap di antara bangku penonton. Cara ini efektif selama satu minggu. Selebihnya penjagaan akan ketat karena petugas sudah mengetahui modus ini.

Cara lainnya lebih beradab: nunut (ikut) orang. Andy berdiri di depan loket ludruk itu dan kepada setiap orang yang membeli tiket, Andy memohon agar bisa diajak masuk gedung pertunjukan. Satu tiket biasanya buat satu laki-laki dewasa dan satu anak-anak. Jika orangnya baik hati orang itu akan menggandeng tangan Andy ikut masuk ke gedung pertunjukan.

Saya jadi teringat masa kecil saya sewaktu masih di sekolah dasar pada akhir 80-an. Di Jatibarang, salah satu kota kecamatan di Indramayu, ada gedung bioskop terkenal namanya Bioskop Dewi dan Bioskop Angkasa. Yang saya ceritakan di sini adalah Bioskop Dewi.  Rumah saya dan bioskop itu hanya berjarak 150 meter.

Bioskopnya tradisional. Enggak ada AC. Adanya kipas angin. Kalau yang diputar film India penonton bawa kipas sendiri saking ramainya. Kalau ada adegan seru semua penonton langsung bertepuk tangan menyemangati tokoh protagonisnya.

Posternya masih pakai kain kanvas tebal yang digambar secara manual. Setiap sore akan ada mobil sejenis pick-up yang berkeliling kota untuk memberitahukan kepada khalayak ramai film yang akan diputar pada malam harinya.

Mobil dipasang pelantang suara yang kencang dan ada pamflet (flyer) yang disebar ke jalanan. Sosok yang mengumumkannya saya masih ingat. Orangnya tinggi besar dengan rambut khas penyanyi orkes dangdut zaman dulu. Namanya Mang Idi. Suaranya khas dan ia sudah hafal templat narasi pengumumannya.

Sekolah-sekolah di Kecamatan Jatibarang dalam periode tertentu menyewa Bioskop Dewi untuk memutar film Pengkhianatan G30SPKI.  Satu sekolah datang ke bioskop menonton film itu ramai-ramai. Setiap siswa membayar buat nonton film itu. Uangnya dikumpulkan oleh pihak sekolah.

Setiap lebaran, orang-orang dari segala penjuru Indramayu datang ke Bioskop Dewi buat menonton film unggulan. Biasanya film Dono Kasino Indro atau Bang Raden Haji Oma Irama.

 

Tiga Kelas

Bioskop Dewi terbagi tiga kelas. Kelas balkon yang berada di ketinggian. Harga tiketnya paling mahal.  Pintu masuknya pun berbeda dengan kelas lainnya, naik tangga berkarpet merah. Bangkunya empuk.

Lalu ada kelas satu yang pintu masuknya berada di bagian depan dan kelas dua yang pintu masuknya berada di bagian yang tersembunyi, di bagian belakang. Masing-masing pintu dijaga oleh petugas bioskop. Kelas satu dan kelas dua hanya dibatasi tembok setinggi pinggang orang dewasa. Bangkunya sama-sama kursi kayu panjang.

Ketika film akan dimulai ada film ekstra berupa slot iklan film yang akan tayang berikutnya. Ketika penonton terfokus pada tayangan di depannya, di tengah kegelapan itu, beberapa orang mengambil kesempatan untuk pindah kelas dengan mengendap-endap meloncati tembok. Termasuk saya.

Di tengah pertunjukan yang lagi seru-serunya, film akan dihentikan sejenak sekitar 10 atau 15 menit untuk istirahat. Di saat itulah, satu-satunya pedagang kuaci, rokok, permen akan berkeliling untuk mengedarkan jualannya. Rasa kuaci asinnya sampai sekarang masih saya ingat. Orang bebas untuk merokok.

Biasanya saya nonton di malam minggu. Berdua sama adik saya. Beli karcis? Enggak. Pakai metode keduanya Andy: nunut orang. Sebenarnya tidak hanya kami berdua yang memakai metode ini. Anak-anak lainnya juga begitu.

Jadi kami berdua menunggu di depan loket menunggu pembeli karcis sambil bergelayutan di deretan besi antrean yang dipasang permanen. “Mang, melu Mang. Pak ikut, Pak,” kata saya bila ada orang yang beli tiket. Kalau orangnya mau, saya diajak untuk ikut. Digandeng tangannya.

Jangan dikira cara itu ampuh. Kalau dalam ceritanya Andy satu karcis bisa buat satu orang dewasa dan satu anak, di dalam pengalaman saya, itu semua tergantung kebaikan penjaga karcis. Itu pun hanya berlaku di kelas satu dan dua. Tidak bisa buat kelas balkon.

Kalau penjaga karcisnya lagi baik satu karcis bisa buat berdua. Biasanya yang sering berhasil adalah dua karcis buat bertiga. Peluangnya sering berhasil. Namun, lagi-lagi ini bergantung juga kepada filmnya. Kalau di hari pertama pemutaran, semua metode itu tidak berhasil. Penjaga karcis hanya mengizinkan satu karcis buat satu orang. Nah, kalau filmnya sudah tidak ramai lagi biasanya dibolehkan.

Dari seringnya saya nunut orang itu, saya jadi sering menandai siapa pembeli karcis yang baik. Saya masih ingat wajah sepasang suami istri yang hobi nonton. Kalau mereka beli karcis saya langsung menyapa mereka dari jauh bahkan sebelum mereka berada di depan loket. Mereka sudah paham, enggak banyak tanya, langsung mereka menggandeng saya seolah-olah saya adalah anak mereka.

Yang paling seru di saat menuju penjaga karcisnya itu. Saya selalu berdoa semoga tidak ada tangan yang melintang. Kalau ada tangan itu, berarti saya tidak diperbolehkan untuk masuk. Ha ha ha malu dah.

Oh ya, kalau saya menontonnya sama adik, maka saya tidak akan mendahuluinya. Saya usahakan dia duluan yang masuk. Saya belakangan atau kalaupun enggak masuk ya tidak apa-apa. Kalaupun saya dapat orang untuk dinunut saya bilang ke orangnya, “Pak, adik saya saja ya Pak.” Biasanya mereka mau.

Nah, ketika pengunjung sudah mulai sepi, loket sudah mau tutup, dan kami tetap tidak bisa masuk karena enggak ada orang yang menonton bioskop, kami bergeser ke bagian belakang. Nongkrong di depan penjaga karcis kelas dua. Kalau lagi sepi, biasanya penjaga karcisnya memperbolehkan kami masuk. Lagi-lagi itu semua kalau hatinya lagi baik dan “babah” pemilik bioskopnya lagi tidak mengontrol. Lumayan, walaupun sudah setengah main.

Metode lain adalah dengan mengintip dari sela-sela lubang pintu masuk bagian belakang kalau penjaga karcis itu sedang tidak berbaik hati. Kami bergantian dengan teman, tetapi seringnya pintunya kena gebrak dari dalam, “Brak!!!” Kalau sudah begitu kami kabur.

 

Senja Kala

Zaman dulu memang hiburan tidak sebanyak sekarang. Saluran televisi hanya ada TVRI. Tidak ada yang punya ponsel. Kalaupun ada ponsel masih setebal buku 600 pagina, internet masih lagi lucu-lucunya di Amerika Serikat.

Seiring dengan berjalannya waktu dan munculnya Studio XXI pada 1987, Bioskop Dewi berbenah. Mereka membangun bioskop modern di sebelah bioskop lama. Bioskop yang tadinya satu layar dibelah jadi tiga layar. Sekarang ada namanya Studio 1, Studio 2, dan Studio 3. Tentu sudah tidak bisa lagi metode nunut orang itu karena kursinya juga bukan kursi kayu panjang, diganti dengan kursi empuk yang hanya bisa diduduki oleh satu orang, dan ber-AC. Penonton sudah dilarang untuk merokok di dalamnya.

Saya sudah tidak bisa nonton lagi dengan metode nunut orang karena sudah gede dan masuk SMP juga. Nontonnya kalau ada uang saja.

Pada akhir 90-an bioskop Dewi sudah tidak ada lagi, menyusul bangkrut setelah Bioskop Angkasa gulung tikar. Salah satu penyebabnya adalah monopoli distribusi film. Sebenarnya ada faktor lain yaitu maraknya stasiun televisi dan internet.

Sampai Januari 2020, Indramayu masih tidak punya bioskop. Orang Jatibarang bahkan Indramayu kalau mau nonton film harus ke Cirebon.

Ada yang pernah nunut orang?

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
11 Juli 2021
Foto diambil dari blog dennysakrie63.wordpress.com

 

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.