Seperti Membeli Buah Sekilo, Ditimbang di Rumah Jadi 8 Ons


Tukang bangunan yang sedang mengganti konblok lama di depan rumah saya membutuhkan empat meter persegi konblok baru. Kemudian saya pergi ke toko bangunan untuk membeli konblok.

Di toko bangunan itu ada beberapa macam jenis konblok. Ada yang berbentuk heksagonal ada yang berbentuk persegi semacam batu bata. Saya memilih bentuk yang terakhir.

Beberapa jam kemudian konblok itu datang. Tukang bangunan langsung memasang konblok itu. Setelah seluruh konblok itu terpasang ternyata masih ada bidang yang kosong. Saya kaget. Kok bisa?

Saya bertanya kepada Tukang, ”Bapak salah hitung atau bagaimana?” Saya berpikir ada dua kemungkinan. Tukang bangunan salah hitung atau toko bangunan kurang mengirim konbloknya.

Tukang Bangunan kemudian menghitung ulang dan mengatakan kebenaran hitungannya. Kemudian saya menghitung berapa biji konblok yang dikirim oleh toko bangunan. Ternyata total 160 biji konblok. Ini berarti setiap satu meter persegi  berisi 40 konblok.

Saya menghitung ulang berapa konblok dalam setiap satu meter persegi dalam kenyataannya.

Satu konblok persegi berukuran 21 cm x 10,5 cm.  Berarti setiap konblok berukuran 220,5 cm persegi. Maka untuk memenuhi bidang satu meter persegi tinggal membagi 10.000 cm persegi (konversi satu meter persegi) dengan 220,5 cm. Hasilnya adalah 45,35 konblok. Untuk memudahkan hitungan kita bulatkan saja menjadi 45 konblok.

Dengan ini berarti toko bangunan kurang mengirim lima biji konblok dalam setiap satu meter perseginya. Lalu saya meneleponnya.

“Pak, ini kurang kirim konbloknya atau bagaimana, Pak? Tanya saya. “Ini setiap meter persegi harusnya 45, Bapak cuma kirim 40.”

“Bukan gitu ngitungnya, Pak. Semeter cuma 40. Itu dari pabriknya segitu,” kata dia. Singkat kata, menurut bapak itu, hitungan toko bangunan tetap dianggap benar. Saya merasa ini seperti membeli satu kilogram buah di toko buah, ditimbang di sana pas, eh ketika ditimbang di rumah hanya berisi 0,8 kg saja.

Wah, akhirnya saya kemudian membeli kekurangan konblok itu. Masih di toko bangunan yang sama. Namun, semoga ini menjadi yang terakhir membeli segala sesuatu keperluan bangunan di tempatnya karena saya telah kehilangan waktu dan tenaga untuk membeli kembali konblok sisa.

Ada beberapa hal penyebab lainnya. Seharusnya toko bangunan yang setiap hari berkutat dengan bahan bangunan memberikan informasi yang jelas kepada pembeli. Tidak semua pembeli adalah orang yang mengetahui persis spesifikasi, ukuran, atau satuan pas dari bahan bangunan.

Toko bangunan tinggal memberikan informasi yang pas kepada konsumen kalau satu meter konblok yang dijualnya itu isinya 40, seharusnya 45. Jadi konsumen membeli konblok sesuai dengan ukuran yang sebenarnya.

Atau bilang kepada konsumen bahwa satuan konblok di sini bukan meter persegi tetapi apalah. Misal satuan “paket” yang berisi 40 konblok. Tinggal penjual atau pembeli mengonversi ke dalam satuan meter persegi karena ukuran meter persegi adalah ukuran yang sudah jamak dalam luas bidang.

Atau kalau tidak mau repot menjelaskan, jual konblok dengan ukuran yang sebenarnya: 45 biji setiap meter persegi dengan harga yang sudah disesuaikan (baca: naik). Konsumen juga tidak akan rewel karena memang butuh dan supaya tidak bolak-balik membeli kekurangan. Itu saja.

Duh, saya jadi ingat ayat pertama sebuah surat dalam Al-Qur’an. Ampuni salahku, ya Allah.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
26 September 2021

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.