DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN


DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN

 

Lama waktu berjalan tanpa sanggup mengingatkan saya untuk melakukan obrolan santai bersama kucing jantan yang satu ini. Bulunya didominasi warna putih, ada warna hitam di telinga kiri, punggung, dan ujung ekornya.

Baru kali ini di rumah saya ada kucing pejantan yang manja, mau dielus-elus, dan tak jiperan sama manusia. Kalau disapa push push, ketika lagi jalan santai, dia berhenti lalu menengok ke arah suara, melihat sebentar yang menyapanya itu bawa daging atau enggak, kalau enggak dia jalan saja terus. Cool.

Sering masuk rumah dan hobi banget menggosok-gosokkan
badannya di kaki saya. Tapi memang satu yang kurang ajar dari binatang ini adalah menyemprotkan air seninya sembarangan. Biasalah tabiat pejantan untuk menandai daerah kekuasaannya dengan cara itu. Pun, untuk memberitahu kepada kucing betinanya kalau dia itu available, jomblo, sendiri, siap untuk kawin. Yang jenis kelamin sama, “awas loh, gue siap bertarung dengan elo,” itu yang dipikirkan oleh kucing jantan ini.

Punya nama? Ah, enggak. Saya enggak pernah menamainya. Sempat berniat untuk memberi namanya dengan kucing garong. Kelakuannya memang begitu kok. Dia itu malu-malu kucing sama kita, di depan penurut banget. Tapi kalau kita enggak ada di depan matanya. Dia siap untuk menggarong apa saja. Lauk di atas meja atau kelinci yang di kandang di depan rumah habis disikat.

Ibu-ibu tetangga saya pun komplain, “Bi… hati-hati loh Bi sama kucing itu, digebukin sama sapu juga enggak mau keluar dari rumah, tukang nyolong pula.” Kucing jantan itu kalau dengar omongan sinis dari ibu-ibu itu dengan santainya cuma bilang: “ngeong…ngeong.” Bukankah sudah dibilang, rumah saya pernah dijejali dengan semprotan air seninya, maka karena ia merasa bahwa rumah ini sudah jadi daerah kekuasaannya, bahkan istananya yang terindah, digebukin juga kagak mau keluar dia.

Herannya dia tahu betul tempat yang enak buat melingkarkan tubuhnya dan tidur pulas. Di sofa, di bawah televisi, atau di kursi belakang dekat meja dapur. Kalau sudah begitu, suara mercon juga enggak bisa membangunkannya. Lebay sih pengungkapan demikian.

Mana mungkinlah, soalnya anjing saja yang pendengarannya lima kali lebih tajam daripada manusia kalah dua kali dibandingkan kucing. Artinya manusia kalah 10 kali pendengarannya. Jadi kalau manusia jika tidur cuma bisa mendengkur dan mimpi, kucing tambah satu lagi, telinganya bisa jadi radar untuk mengetahui yang datang menghampiri dirinya itu kecoa, tikus, tokek, atau manusia yang bawa penggebuk.

Nah, hari ini dia datang lagi ke rumah saya. Enggak mengucapkan “Assalaamu’alaikum” atau “sampurasun duluur” dia masuk dan langsung ke belakang, mengorek-ngorek tong sampah. Walau kita tak mau dianggap saudara sama dia, bukanlah lebih baik mengucapkan salam jika masuk rumah, nah apabila manusia enggak salam kalau masuk rumah seperti siapa tuh?

Sebelum dia pergi karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan di tong sampah, saya ajak dulu ngobrol atau bahasa kerennya saya ingin berdialog dengannya, dialog imajiner.

Riza    : Push, jangan pergi dulu, saya mau bicara sama kamu. (Seperti biasa dia cool nengoknya)

Pejantan: Ada apa pak Tua?

Riza    : Hussss…kan sudah pernah saya bilang dulu, jangan memanggil saya seperti itu dong!

Pejantan: Emang sudah tua, tuh ubannya tambah banyak lagi. Depan dan samping kanan. Mau memungkiri? Kalau enggak mau, gue pergi. (enak banget dia ngomong gue-gue)

Riza    : Oke-oke, saya tak akan memaksa.

Pejantan: Satu lagi gue tak mau bicara politik dulu, Pak Tua. Bosaaaaan!

Riza    : Iya, iya. Lagian siapa yang mau ngajak kamu ngomong politik? Sore ini saya mau bicara tentang …

Pejantan: Tunggu, tunggu dulu! Emangnya gue dapat apa nih sore ini?

Riza    : Halah, transaksional banget sih kamu Cing, kayak politikus di istana itu. Tenang, kita makan bareng sore ini. Buka puasa bersama. Deal or no deal? No Deal? Kamu pergi saja. (Sedikit mengancam, memangnya manusia saja yang bisa ditekan?)

Pejantan    : Ngeong… (Ini pertanda dia menyerah, saya tahu betul kok, kalau bersoal tentang makanan dia keok)

Riza    : Saya mau cerita dulu tentang suatu hal Cing. Ternyata umur seseorang itu bukan penanda dari kedewasaan berpikir atau tepatnya bertambahnya wawasan kita. Jadi semakin tua kita belum tentu wawasan berpikir kita jadi banyak dan luas gitu loh.

Pejantan: Ya…sederhananya sajalah Pak Tua.

Riza    : Contohnya saya ini Cing, hampir 35 tahun saya tuh baru tahu kalau aishiteru itu artinya aku padamu.

Pejantan : Halah ada yang kurang tuh, 5 huruf lagi.

Riza    : Iya saya tahu, tapi tak perlu disebut di sini ah, malu saya. Tapi kok kamu tahu sih Cing?

Pejantan: Dari zaman jebot gue juga sudah tahu.

Riza    : Saya tahunya tuh kalau aku padamu dalam bahasa Inggrisnya ya I love you, bahasa jermannya ich liebe dich, sunda: abdi bogoh ka anjeun, jawa: aku tresno karo kowe, arab: ana uhibbuk, cinanya: wo ai ni, bahasa dermayunya: kita demen ning sira. Itu saja. Tahulah pokoknya dari SMP.

Pejantan: Terus…

Riza    : Waktu baca, saya nemu kata itu. Lalu saya tanya sama orang aishiteru itu apa? Kayaknya heboh banget gitu. Orang yang ditanya malah bilang: “di googling saja.”

Pejantan : Terus…

Riza    : Saya kira awalnya itu nama band Korea yang nyanyiin lagu nobody-nobody. Eh tahunya, itu ternyata aku padamu. Tepuk jidat saya, plak…!!! Oh itu…

Pejantan: Ha…ha…ha…katro. Pak Tua memang bukan lagi zamannya. Terus apa lagi Pak Tua. Di kita mah, di dunia kucing, enggak butuh-butuh itu. Yang penting muka badak dan kuat begadang. Semalaman mengikuti betina, tak bisa langsung diterima gitu.

Riza    : Oh gitu Cing…memangnya enggak ada tuh perasaan berdesir-desir, perasaan jatuh cinta, perasaan bergetar kalau disebut namanya, atau perasaan apapun yang mendominasi orang yang sedang jatuh cinta?

Pejantan: Itu cuma ada di manusia, kita cuma punya insting alami saja. Kalau pun ada itu cuma di walt disney pictures…

Riza    : Oh gitu yah…

Pejantan: Pak Tua, sayangnya manusia kebanyakan lupa.

Riza    : Lupa pegimane Cing?

Pejantan: Berdesir-desir, berbunga-bunga, bergetar-getar, berkebun-kebun itu saat manusia jatuh cinta pada sejenisnya. Berdesir saat disebut namanya, melihat orangnya, melihat gambarnya, saat menerima pesan-pesan darinya, panjang ataupun pendek, saat berbicara dengannya. Ada yang hilang ketika sapaan dan keberadaannya tak kunjung datang. Ada sebuah persatuan yang dicita pada orang yang dicintai. Ini sebuah kelaziman.

Riza    : Wah wise banget Cing.

Pejantan: Belum selesai gue.    

Riza    : Oke teruskan.

Pejantan: Empati menjadi sebuah keharusan. Turut merasakan apa yang dirasakan yang dicintainya. Jika sedih, ia sedih. Jika bahagia, ia pun bahagia. Semua perasaan yang pernah ada di muka bumi yang dimiliki kekasih pun menjadi sebuah perasaan yang turut ia rasakan semuanya. Muncullah tanda-tanda cinta di sana seperti banyak mengingat, banyak memimpikannya, banyak menyebut, kagum, rela, berkorban , cemas, berharap dan ta’at. Masalahnya ketika Yang Nyiptain kita menuntut begitu, manusia sebaliknya.

Riza    : Waduh nyindir Cing.

Pejantan: Ngerasa Pak Tua?

Riza    : Kalau begini saya diam sajalah, dengerin.

Pejantan: Coba kalau ada nama Allah—yang wajib dicinta itu—disebut, gemetar enggak Lo?

Riza     : Saya tertohok.

Pejantan: Atau kalau pesan-pesan dari langit dibacakan bertambah Iman kagak Lo?

Riza    : Saya tertusuk Cing, hiks.

Pejantan: Nah, gitulah manusia. Bersyukurlah gue jadi binatang. Tidak dimintakan pertanggungjawabannya. Elo? Jangan salah ya Umar bin Khaththab saja kalau bisa memilih ingin hidup jadi binatang supaya jangan dituntut di sana.

Riza    : Cing…

Pejantan: Yup.

Riza    : Stop dulu deh sampai di sini. Saya kelu Cing.

Pejantan: Padahal ini baru awal Pak Tua. Masih banyak yang ingin gue sampaikan sama elo.

Riza     : Iya…ya, saya tahu. Tapi nanti saja dulu deh. Tuh daging ayamnya sudah siap. Lagian azan maghrib sudah mau berkumandang. Tapi terus terang Cing dialog kita, dialog kau aku, sore hari ini, menyentuh saya. Kok bisa Cing kamu tahu banyak gitu?

Pejantan: Dengerin ceramahnya ustadz di masjid dan majelis taklim gitu Pak Tua. Gue kesana bukan cuma nyari Cicak yang lagi sial doang.

Riza    : Yah sudah makan dulu aja. (Tumben nih gue baik banget sama kucing pejantan ini). Ohya Cing, sebelum kita mengakhiri ini, walau saya senang kamu, saya tak mau bilang padamu: aishiteru yah.

Pejantan: Halah, najis. Ogah gue juga.

Riza    : Wadaw….

    Akhirnya selesai sudah dialog singkat saya dan dia. Yang pada akhirnya juga dia tetap kucing yang cuma bisa mengeong-ngeong. Saya juga terbengong-bengong. Terdiam dan terlongong-longong. Seperti tersedak oleh biji kedondong. Masak saya ngomong sendiri sama kucing. Untung belum ada yang bilang: Edan!.

    Senyatanya aku gila. Cuma padamu.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Cuma fiksi

08.13 21 Maret 2011

 

Tags: kucing pejantan, aishiteru, dialog imajiner, googling, google, deal or no deal, jepang, jerman, sunda, indramayu, jawa, inggris, korea, nobody nobody

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATANYA ABADI


MATANYA ABADI

 

Tahun 2006, saya sempatkan diri untuk memfoto kucing betina ini. Ini adalah kucing yang sering mampir di rumah saya. “Ngeong…ngeong,” serunya kalau saya lagi makan.

    “Tunggu sebentar, ya Cing, kamu tulangnya aja,” kata saya, “tapi enggak apa-apa ding, nih dikit dagingnya.” Saya sepertinya tidak pernah berbohong padanya dengan cara bilang pus-pus sambil bawa sesuatu yang mirip daging terus ke luar rumah dan ketika si kucing sudah di luar pintu, tangan saya ternyata kosong dan langsung , “Braakk!” tutup pintu. Si Kucing gondok dalam hati berkata, “Awas Lu ye…Bohong.” Sama binatang saja tak tega bohong apalagi sama manusia.

 

    Sampai sekarang betina ini masih hidup. Tapi tak lagi mangkal kayak angkot cari penumpang di rumah saya lagi. Di rumah tetangga kali, atau dia sudah punya rumah sendiri. Tak tahu saya. Soalnya dua anaknya sekarang gantian yang jadi preman di rumah saya. Ini betina hebat juga, sudah punya anak banyak dan cucu banyak tetap hidup sampai sekarang. Nih fotonya saya ambil beberapa pekan lampau tepatnya di bulan Februari 2011.

 

    Kelihatan sih kalau sudah tua, wajahnya tak sesegar dulu. Sudah mulai tirus. Mungkin kalau ibarat manusianya sudah mulai ada keriputnya. Tapi swer ketika saya memfoto itu kucing, gak ada tuh namanya keriput sama uban. Dan yang pasti matanya yang dicelak hitam itu, abadi bo…

 

Sendu (bukan senang duit atawa senang ndusel-bersempit-sempitan) matanya seperti ada duka lestari. Duka, kenapa gue jadi binatang harusnya jadi foto model difoto mulu soalnya.

 

Sayu matanya seperti menyiratkan sebuah keharuan. Haru lalu jadi biru. Eh ternyata ada juga yah cowok yang foto gue. Terima kasih…terima kasih.

 

Jelita? Tidaklah yau. Dia tak punya mata jelita. Manusia yang hanya punya mata jelita. Bukan binatang ini. Walau ada yang tak mau disebut jelita pada matanya, soalnya ditengarai saya “ngegombal“. Jiaaa…

    

Tahukah kamu, brother…sekarang dia—kucing ini—lagi hamil, hamil tua. Saya tak tahu siapa yang menghamilinya. Yang jelas bukan saya. Sebentar lagi melahirkan. Mungkin waktu saya menulis ini—di tengah malam—kucing itu sudah menjilat-jilati anak-anaknya.

 

Tapi yang pasti saya tidak pernah seranjang dengannya. Paling jauh hubungan kami cuma mengelus-ngelus kuduknya pakai tangan atau lehernya dengan kaki. Kalau malam saya tak pernah menyuruhnya masuk, harus di luar.

Cukup kisah gita cinta saya dengan kucing betina ada di zaman SMA dulu. Memandikannya, membedakinya dengan bedak antikutu sampai menemaninya melahirkan memelihara anak-anaknya. Lagi-lagi—sori yah—bukan karena saya dia hamil. Tidur siang ada itu si kucing di samping saya. Mendengkur, mendengkur barenglah kita. Kalau saya: “Zzzzz…zzzzz”. Dia: “Grttttt…grtttt…grtttt.”

 

Semuanya berakhir ketika Bibi saya marah-marah karena kasurnya jadi jelek. Dan kursi tamu jadi banyak kutunya. Padahal sudah dibedakin dengan bedak antikutu—kucingnya bukan kursinya. Kutunya juga sering menggigit saya ternyata. Pantas saja kenapa kalau duduk di kursi itu badan kok gatal-gatal. Air susu dibalas dengan air tuba. Kucing diusir. Saya sendiri.

 

sendiri…

menggigil,

walau secuil biru

cukup untuk sehari

 

Kucing tak mengerti puisi. Betina di foto atas pun demikian. Tak peduli dengan saya yang membaca sajak-sajak di depannya. Dia hanya peduli dengan daging. Titik. Manusia? Brother? Dia? Jelita? Peduli pada apa…?

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tetap jadi inspirasi karena menumbuhkan

03.55 pagi 16 Maret 2011

 

 

    

 

 

 

TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG


TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG

 

Dalam Islam sastra harus dibatasi. Tak bisa bilang sastra untuk sastra. Atau berpijak pada kebebasannya semata. Bahkan seperti yang Albert Camus katakan bahwa sastra tak boleh memihak siapapun.

Sastra—dalam Islam—harus memegang teguh apa yang diperbolehkan dan tidak dalam nilai-nilai yang terkandungnya. Semua muncul dari ajaran wahyu dan fitrah insani. Ini yang menjadi ukuran. Bacaan yang memancing syahwat dan tulisan yang menggedor nilai-nilai keimanan sudah jelas dilarang untuk diciptakan. Dalam puisi pun demikian.

Siang tadi, saya membuat puisi yang sekarang berjudul agar tak ada namanya. Draf awal berbeda sekali
dengan yang sekarang sudah jadi. Saya tulis di atas kertas draf itu seperti ini:

Rabb, bisukan aku agar tak ada namanya yang tersebut dalam igauanku.

Rabb, tulikan aku agar tak ada suaranya yang terdengar dalam telingaku.

Rabb, butakan aku agar tak ada rupanya yang tergambar dalam ratusan mimpiku.

Rabb, ambil pikiranku agar tak ada ruang yang ada untuk mengenangnya.

Aha…saya tinggal mengetikkannya di layar komputer. Tapi jari-jari tak mampu untuk melakukannya. Apa sebab? Nurani saya menentangnya dan dengan sekuat tenaga menghentikan apa yang akan dilakukan oleh jari-jari saya. Karena? Bait-bait itu adalah bait-bait do’a. Mengapa mendoakan keburukan untuk diri saya?

Akhirnya saya corat-coret kembali kertas putih itu. Dan kembali mengulang dari awal untuk membuatnya namun tetap dalam tema besar yang sama: tak sempat untuk memikirkan yang lain. Loh, itu kan cuma kata-kata yang bisa jadi pembacanya sendiri punya penafsiran lain. Bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa pengarang itu telah mati?

Ya betul, saya tetap konsisten dengan pernyataan itu. Tetapi saya tak ingin penafsiran itu muncul sekalipun dalam benak para pembaca. Bahkan apalagi kalau sudah benar bahwa itu yang dimaksudkan oleh pengarangnya sendiri sebagai sebuah do’a. Maka dalam Islam tak sembarangan untuk membuat nama buat putra dan putri mereka. Karena nama adalah do’a.

Inilah yang membuat saya berpikir, sebebas-bebasnya saya berekspresi tetap ada nilai yang membatasi. Tak bisa tak. Kalau memang mengaku sebagai orang yang beriman. Mungkin ini akan berbenturan dengan proses kreatifitas yang selalu saya pegang dalam menulis, terutama bagi mereka yang berniat untuk bisa menulis yaitu menulis tanpa beban dan seliar mungkin.

Ya tanpa beban dan seliar mungkin. Itu yang selalu katakan. Semua berawal menulis dengan menggunakan otak kanan, tetapi nanti setelah selesai barulah pakai otak kiri. Dan nilai-nilai Islam inilah yang menjadi batasan saat kita menggunakan otak kiri dalam mengedit dan memperbaiki tulisan yang kita buat seliar mungkin itu.

Oleh karenanya sampai sekarang saya belum mampu untuk menyelesaikan cerita pendek “Beranak Dalam Kubur” hasil proses menulis cepat dan seliar mungkin selama 30 menit pada saat workshop menulis yang diselenggarakan oleh BP School of Writing dan DJP. Karena ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Untuk apa dan mau dibawa kemana? Adakah hikmahnya?

Kalau tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu bisa jadi cerpen tersebut hanya sekelas film Arwah Goyang Karawang. Oh…tidak bisa. Saya tak mau.

Jadi Pak..Bu…, semua itu ada batasnya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad malam pendek

11.42 26 Februari 2011

diunggah pertama kali di: http://bahasa.kompasiana.com/2011/02/27/tak-mau-sekelas-arwah-goyang-karawang/

tags: arwah goyang karawang, BP School of Writing, DJP, Beranak Dalam Kubur, albert camus, puisi

KAMIS YANG RINGAN


KAMIS YANG RINGAN

 

Malam ini saya hanya ingin menulis apa-apa yang terjadi di hari kamis kemarin. Hari yang ringan sih sebenarnya. Dimulai dengan bangun dini hari, membuka netbook dan menulis sedikit. Saat yang ternyata lebih efektif daripada pulang kantor langsung menulis sampai tengah malam.

Adzan shubuh berkumandang di masjid sebelah, lalu saya pun shalat shubuh. Setelahnya langsung siap-siap menyiapkan alat ‘perang’ untuk pergi ke kantor. Jas hitam jangan dilupa, soalnya hari itu saya sidang.

Setelah cium sana-cium sini di pipi Haqi, Ayyasy, dan Kinan yang masih terlelap tidur, setengah enam lebih sepuluh saya berangkat ke Stasiun Citayam. Sepuluh menit sampai. Lima menit kemudian KRL Pakuan Ekspress Bogor Tanah Abang datang. Masih ada ruang untuk menggelar kursi lipat.

Baca koran yang tadi dibeli sebelum naik? Tidak, saya buka handphone, “cring…!“suara ringtone desingan samurai yang keluar dari sarungnya terdengar. Dua saja yang saya lakukan: buat monolog atau puisi. Membayangkan tempat atau lokasi tertentu atau wajah seseorang yang menginspirasi, konsentrasi sedikit, lalu segera memencet tombol-tombol di keyboard HP. Lima belas menit selesai.

Setelahnya saya buka bukunya Bakdi Soemanto yang judulnya Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya. Tak sampai 15 menit kemudian kereta sudah sampai di Stasiun Sudirman. Eh…pas sampai di sana ketemu teman-teman dari Pontianak dan Samarinda yang mau menuju ke kantor saya juga. Mereka mau ikutan In house training di Gedung Utama DJP Gatot Subroto. Salah satu dari mereka mengajak bareng naik taksi. Tak sampai di situ saja, bahkan sesampainya di kantor saya diajak untuk sarapan bersama. Ya sudah saya ucapkan terima kasih atas semuanya itu. Gratis. ^_^

Tiba di ruangan, saya mempersiapkan berkas sidang hari ini yang hanya satu Pemohon Banding namun dengan 33 berkas. Juga buat laporan sidang hari-hari kemarin. Dan tak lupa untuk mengecek Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Tahun Pajak 2010 yang paling lambat harus dilapor Jum’at. Ternyata banyak yang salah. Saya ketik ulang dan selesai. Lapornya sore saja nanti kalau sudah pulang dari Pengadilan Pajak.

Jam 9 pagi berangkat dengan bus dinas ke Pengadilan Pajak. Pagi ini banyak teman yang ikutan naik bis. Tetapi pulangnya biasanya tak sebanyak berangkatnya karena jadwal akhir sidang tak bisa ditentukan. Bisa lebih awal selesainya atau malah lebih sore.

Setengah jam kemudian sampai di Pengadilan Pajak. Ternyata tim kami mendapat giliran pemeriksaan pertama oleh Majelis Hakim karena Pemohon Bandingnya berada di urutan teratas dalam daftar hadir. Tak sampai 45 menit sidang selesai. Masih ada tiga jam waktu menunggu bus pulang ke basecamp. Eh, saya dipinjamkan atau tepatnya meminjam USB modem. Ya sudah colokin ke netbook yang sengaja saya bawa. Buka email dan lain sebagainya. Kaget juga ada kabar teman yang sakit. Insya Allah sembuh sorenya, doa saya.

Jam 2 siang kami pulang. Cuma bertiga di dalam bus. Jadi berlima dengan supir dan keneknya. Saya memanfaatkan waktu setengah jam ke depan untuk tidur. Terbangun sebentar karena ada dering SMS masuk. Monas, Paspamres Istana Kepresidenan, patung Arjuna Krisna dan kudanya, patung selamat datang di Bunderan HI, Patung Sudirman, dan bapak-bapak Polisi di sepanjang perjalanan benar-benar tidak saya sapa. Saya ngantuk.

Sampai di kantor jam tiga siang. Langsung menuju lantai 24 untuk melapor SPT Orang Pribadi saya. Cuma dua menit dilayani oleh petugas Dropbox Kantor Wilayah DJP Jakarta Selatan. Thanks Bro…

Selanjutnya shalat ashar di masjid bawah. Setelah itu tidak ada lagi yang harus dikerjakan selain mempersiapkan berkas-berkas untuk besok hari. Kami akan kembali ke Pengadilan Pajak untuk melakukan uji bukti kebenaran materi dengan Pemohon Banding.

Tepat jam lima sore saya pulang. Saya dan ketiga teman bersepakat untuk naik taksi ke Stasiun Sudirman. Mengejar KRL pukul 17. 21 atau 17.40. Sampai di sana, KRL yang berangkat 17.21 sudah berada di Stasiun Tanah Abang. Nah, yang pukul 17.40 masih di Citayam. Wadaww…terpaksa deh saya ikutan KRL jadwal 17.21 yang penuh sesak itu.

Tapi tak apalah daripada kemalaman, ternyata memang betul ada masalah persinyalan di antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Cawang yang harus dilayani secara manual sehingga banyak KRL yang alami keterlambatan. Tetapi di KRL yang saya naiki saya masih dapat buka kursi lipat.

KRL 17.21 tidak berhenti di Stasiun Citayam sehingga saya harus turun di Stasiun Bojonggede setelah Stasiun Citayam atau turun di Stasiun Depok Lama sebelum Stasiun Citayam. Saya pilih yang terakhir.

Sampai di Stasiun Depok Lama saya menunggu sekitar 10 menitan. Yang datang terlebih dahulu adalah KRL Ekonomi. Saya naik KRL itu. Tidak di dalam gerbongnya yang sumpek itu. Tidak juga di atas atap kereta yang rawan kena strum tegangan tinggi. Tidak juga di samping kereta seperti Spiderman. Tidak juga di bawah kereta, emang saya baut? Tetapi saya naik di kabin masinis di persambungan gerbong 4 dan 5.

Tumben tuh kabin terang benderang. Biasanya lampunya mati, gelap kayak kuburan. Ini tidak. Dan tidak penuh juga. Saya masuk ke dalamnya. Cuma satu menit berhenti, kereta sudah mulai berangkat lagi.

Saya berada di dekat pintu dan bisa melihat keindahan suasana maghrib yang mulai gelap. Lampu-lampu neon yang berlarian ke belakang. Semburatnya mengular ke depan. Roda-roda kendaraan yang beradu dengan aspal jalanan terlihat jelas di depan mata saya. Rima goyangan kereta. Ini membuat saya merenung tentang apa yang terjadi belakangan ini.

Hmmmf….helaan nafas panjang berkali-kali dilakukan. Sebulan penuh tanpa henti kata-kata itu keluar dari hulunya. Lima menit saya kontemplasi dengan pandangan kosong keluar pintu kereta. Mengesankan sekali. Tapi Stasiun Citayam sudah di depan mata, gerak kereta sudah mulai pelan. Sudah saatnya mengakhiri perenungan sebentar itu. Masih ada hari esok. Jum’at dan hari-hari selanjutnya.

Senin hingga rabu saya dipanggil diklat menulis lagi. Jadi tidak ke kantor selama tiga hari itu. Omong-omong, hari Kamis ini, hari yang ringan, hari yang tenang untuk mengingat, walau ada sahabat dengan sakit yang menderanya. Cepat sembuh yah…

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

rumah tenang

dibuat sampai 04.54 25 Februari 2011

 

 

 

 

 

tags: Pengadilan Pajak, Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Tahun Pajak 2010, SPT, Sapardi Djoko Damono, bakdi soemanto, DJP, dirktorat jenderal pajak, in house training, iht, krl pakuan ekspress, bogor, tanah abang, stasiun bojonggede, stasiun citayam, stasiun depok lama, krl

 

JALAN SUNYI PARA PENYAIR


Jalan Sunyi Para Penyair

Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.

Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.

Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…

Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.

Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.

Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.

Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.

Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”

Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”

Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.

Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.

Untuknya…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.59 18 Februari 2011

Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair

diunggah pertama kali di:

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/

EKSPRESI MANA YANG AKAN IA PILIH?


EKSPRESI MANA YANG AKAN IA PILIH?

 

Tengah malam ini saya kembali terbangun. Setelah rehat sejenak seperti kucing yang sedang menyembuhkan dirinya karena terlindas motor, saya keluar kamar dan seperti biasa memandang buku-buku di lemari. Tanpa berpikir panjang bukunya ‘Aidh Al-Qarni sudah berada di tangan. Don’t be Sad.

Sudah berulang kali saya baca buku ini. Sudah banyak pula lipatan yang membekas pada lembaran-lembarannya untuk menandai kalimat-kalimat bermutu yang bertaburan di sana. Salah satu lipatannya adalah menunjuk pada bab tersenyumlah yang membicarakan bagaimana tertawa itu adalah kenikmatan surga. Ya betul, bagaimana mungkin penghuni neraka akan tertawa selagi tubuh-tubuh mereka disiksa dengan siksaan yang teramat pedih. Tertawa adalah hanya milik penghuni surga.

Mengingat tertawa saya jadi teringat dengan cara-cara tertawa yang digunakan teman-teman untuk mengungkapkan ekspresi kegembiraannya di dunia maya. Di dunia itu yang ada simbol-simbol belaka– bisa juga disebut dengan smiley emoticon—atau gabungan dari beberapa karakter.

Ekspresi ini adalah tanda agar orang tahu perasaan apa yang kita alami pada saat kita ngobrol dengannya. Pun supaya tidak terjadi salah persepsi. Tak ada suara tawa yang terdengar seperti di dunia sesungguhnya. Terkecuali kalau memang webcam sudah terpasang di computer, masing-masing simbol-simbol itu tak diperlukan lagi.

Maka bagi saya macam-macam ekspresi tertawa itu punya sentuhannya sendiri-sendiri. Saya menggunakannya pun sesuai dengan perasaan saya. Berikut rasa yang saya tangkap dari simbol-simbol atau karakter-karakter itu:

Lol = Laugh out Loud = Tertawa terbahak-bahak. Bagi saya walaupun terbahak-bahak seperti itu tetapi tetap tidak seekspresif Ha ha ha ha. Orang barat biasa memakai ini.

Ha ha ha ha. Yang tertawa demikian orangnya terbuka, tak punya malu-malu, ekspresif, dan jujur, tidak jaim. Turunan dari tertawa seperti ini adalah wakakakak atau wkwkwkwkwk. Woteperlah.

He he he he, ini cengengesan namanya. Tapi tepat kalau mengungkapkannya di saat malu. Tidak seterbuka ha ha ha ha di atas. Turunannya adalah ke ke ke ke.

Hi hi hi hi, kayaknya aneh aja kalau cowok pakai tertawa yang seperti ini. Feminin banget. Ketiadaan maskulinitas. Saya jarang memakainya. Rasanya gimana gitu.

Qi qi qi qi, tertawa cekikikan. Cewek dan cowok sering tertawa seperti itu. Saya juga memakainya. Model ini seperti tertawanya tokoh kartun Jepang. Tertawanya sampai tidak terlihat bola mata dengan kedua tangan tertangkup di dagu. Lucu.

Xi xi xi xi, saya tak mengerti tertawa macam mana pula ini? Kayaknya mirip orang Cina yang lagi mengucapkan terima kasih.

^_^ membuat saya nyaman.

🙂 ini jaim. Tapi berpahala karena ini adalah sedekah.

Itu saja setahu saya. Ada lagi yang mau menambahkan?

Saya baca lagi kalimat di buku itu: “Orang yang tertawa adalah orang yang memiliki karakter baik, watak mulia, serta pemikiran yang jernih. Sebaliknya memiliki air muka yang muram dan bermuka masam adalah ciri-ciri karakter yang rendah, terganggu jiwa, dan berwatak keras.” Dan Islam mengajarkan semuanya pada titik pertengahan. Tidak berlebihan.

Malam ini saya berterima kasih kepada buku itu karena telah memberikan saya arti tertawa dan menjadi sahabat baik saya. Buku memang tepat menjadi teman. Pantas Al-Jahizh—penulis Arab abad silam—yang dikutip ‘Aidh AlQarni sampai berkata: “Buku adalah teman yang tidak suka memujimu dan tidak menyeretmu kepada kejahatan. Ia adalah sahabat yang tidak membuatmu bosan, dan ia adalah tetangga yang tidak mengancam keselamatanmu. Ia adalah sahabat yang tidak berniat untuk memeras kebaikan darimu dengan rayuan, dan ia tidak akan menipumu dengan kepalsuan dan dusta.”

Dan malam ini—di waktu tersisa—saya ingin bermimpi menjadi buku buat sahabat saya yang esoknya akan bilang: “biarkan waktu yang menjawabnya.” Saya ingin melihat dia tertawa. Entah ekspresi apa yang akan ia pilih.

 

***

 

 

 

Riza Almanfaluthi

masih mencoba untuk menata hati

dedaunan di ranting cemara

02.24 08 Februari 2011

SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG


SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG

Suatu hari tautan yang ada di sebelah kanan blog saya satu persatu dicek. Sudah lama soalnya saya tak mengunjungi “beranda” mereka. Ah, sedih. Nelangsanya menjumpai blog-blog teman banyak yang mati dan tidak aktif lagi. Ada yang tulisan terakhirnya di tahun 2008 setelah itu tiada. Hanya komentar pengunjung di shoutbox yang berteriak-teriak kemana dikau adanya?

***

Aduhai, alangkah sayangnya ketika seseorang menghentikan aktifitasnya untuk ngeblog hanya karena alasan: “saya tak mau jadi orang munafik.” Munafik macam mana pula? Ya itu tadi, menulis seolah-olah kita paling hebat, paling top, paling harmonis rumah tangganya, paling cintanya pada pasangan, paling bijak, dan paling-paling lainnya. Berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

    Akhirnya memang naluri tidak bisa dibohongi. Suatu saat kelelahan itu akan muncul. Bukan kelelahan fisik tetapi kelelahan mental. Sampai pada suatu titik ia menyalahkan aktifitas ngeblognya itu. Dia tidak mau berbohong lagi. Dia berhenti berpura-pura. Berhentilah ia menulis. Sayang…

    Ya itulah saat ngeblog cuma jadi topeng. Plis deh, menulis pun butuh kejujuran—yang kata orang pajaknya sih butuh integritas. Kalau jujur itu sesuai dengan hati. Maka menulis dengan hati akan menemukan sisi keindahannya bagi yang lain. Akan ada sentuhan yang berbeza—mengutip kata teman saya di forum sebelah.

    Menulis dengan jujur maksudnya apa sih? Tentunya sesuai dengan kenyataanlah. A bilang A. B ya bilang saja B. Jika kita alami sesuatu, uraikan apa adanya tanpa diberi bumbu-bumbu penyedap dan pemanis yang akan menghilangkan cita rasa sejatinya. Kalau kita belum melakukan sesuatu yang ingin kita tulis maka tak perlulah untuk ditulis. Tunggu sejenak atau dua jenak dan baru diungkap ketika kita telah melakukan yang ingin kita bagi kepada yang lain itu.

    Lalu apakah dengan banyak matinya para blogger yang sekarang terjadi itu dikarenakan alasan tidak mau jadi orang munafik itu? Oh tidak bisa…Tidak hanya itu. Satu lagi adalah pada masalah konsistensi. Ya betul konsistensi. Menulis juga butuh konsistensi.

    Maka saya pun kagum luar biasa terhadap para blogger yang sampai hari ini aktif dengan tulisan-tulisan dan curhat-curhat mereka. Ada yang dua hari update dengan tulisannya sendiri. Bermutu lagi. Ndak sekadar curcol biasa. Tak peduli dengan jejaring sosial yang lagi ngetrend-ngetrendnya saat ini dia tetap eksis dengan blognya itu.

Jejaring sosial yang sebenarnya banyak manfaatnya itu bisa mematikan daya kreatifitas menulis karena pelakunya cukup dipuaskan dengan 150 karakter atau lebih yang bisa dikomentari oleh banyak orang. Sedangkan ngeblog? Dikomentari satu orang pun sudah syukur. Tetapi apa iya ngeblog itu Cuma untuk dikomentarin? Enggaklah. Yang pasti blogger ataupun penulis sejati tak peduli semua itu yang penting ia bisa berkarya dan terus berkarya. Waduh saya angkat tabik dah buat mereka.

Jadi tips menulis kali ini buat kita semua adalah: jujurlah dalam menulis. Menulis juga perlu konsistensi. Dan tetaplah menulis biarpun hanya sepi menghadang di depan. Kerja senyap ini adalah untuk—sekali lagi—mewariskan peradaban.

Selamat menulis.

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

salam jingga

dedaunan di ranting cemara

03 Februari 2011

SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU


SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU

Jum’at sore, forum facebook (fb) kami dikejutkan dengan perubahan profil anggota forum yang fotonya berpose tak senonoh. Saat didalami, betul, gambar-gambar dan link-link yang tak karuan sudah ada di dalamnya. Akun fb teman telah di hack. Kayaknya cracking akun fb  sudah mewabah. Teman dan saudara dekat banyak yang telah menjadi korban.

Segera saya ubah passwod fb, mengombinasikannya dengan huruf, angka, dan karakter lain, dan tidak menyamakannya dengan password email. Ini langkah-langkah yang seringkali diremehkan oleh pengguna internet, termasuk saya.

Penghuni rumah juga sudah saya ingatkan untuk segera mengubah passwordnya agar terhindar dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini. Ini untuk kesekian kalinya fb tidak bisa melindungi penggunanya. Fb menjadi sesuatu yang rentan untuk disusupi oleh virus ataupun cracking.

Ahad sore, selagi saya chat fb dengan saudara saya di Tasikmalaya, tiba-tiba masuk sapaan dari teman satu kantor, satu ruangan, satu tim dengan saya. Terjadilah dialog seperti ini:

***

Teman: sore

17:13

Riza:

sore mbak

assalaamu’alaikum

17:13

Teman:

walAikumsaLaM

lagi dmaNa?

17:14

Riza

dirumah mbak. online always. hehehehhe

17:14

Teman: ohh

17:14

Riza:

lagi jjs mbak?

17:17

Teman:

oh

mbak mau cari pulsa

17:18

Riza:

i see… i see…

17:19

Teman:

hehehe

ada gAk

17:19

Riza:

ada2

di tetangga sebelah.

nomornya berapa mbak?

saya pesenin dan kirim segera.

dan yang berapa?

17:20

Teman:

085276897993

yg 100rbu

sekarang ya

ntr uaNg nya dikirim

17:20

Riza:

oke ditunggu mbak….

gampang

17:21

Teman:

ok

17:25

Riza:

mbak pakai internet bankking saya saja yah

17:25

Teman:

udAh isi pulsa nya

17:25

Riza:

belumm…

lagi masuk. tetangga gak ada yang cepean

ke internet banking mandiri saya

tunggu bentar

17:26

Teman:

iya

17:28

Riza:

sudah saya kirim…

17:28

Teman:

udah isi yA

17:28

Riza: iya

udh masuk?

17:29

Teman:

biasa klw bisa isi berApA sihh

?

dari internet bAking

17:29

Riza: 25 ada

gocap ada

cepe ada

ini pas lagi ada duit di rekening mandiri saya mbak

sekarang di kapus kan pake bri

jadi susah

17:30

Teman: bisa isi berapa lagi

17:30

Riza: bri gak secanih mandiri ib-nya

17:30

Teman:

biasA mbaK isi bANyak lo

berapa aja

17:31

Riza:

cuma seitu doan mbak

Jenis Transaksi : Pembelian Voucher Isi Ulang
No. Referensi : 085276897993
No. Voucher : 0011000033699392
Jumlah : Rp. 100.000,00
Tanggal – Jam : 16 01 2011 – 05:26 PM WIB
No. Transaksi : 1101160059374
Status : Berhasil

17:32

Teman:

ohhhhhh

Riza: 17:33

udah masuk?

****

Setelah itu lenyap.

Saya baru “ngeh” ada yang tidak beres dengan ini. Sebenarnya sedari awal sih. Tetapi saya abaikan karena kepolosan husnudzan (berbaik sangka) saya. Keanehan itu adalah pertama teman Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu tidak mengucapkan “assalaamu’alaikum” terlebih dahulu. Bagi saya itu aneh.

Kedua, Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu memosisikan kata ganti orang pertama dengan menyebut dirinya “mbak” setelah saya menyapanya dengan sapaan itu. Selama ini Beliau yang Sebenarnya memosisikannya tetap dengan kata ‘aku” atau “saya”.

Ketiga, ketika Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu bilang “bisa isi berapa lagi” dan “biasa mbak isi banyak lo”. Kalau yang biasa bertransaksi dengan internet banking memang pilihan angkanya cuma itu saja. Tidak ada yang lain.

Husnudzan saya juga karena selama ini dulu, sebelum pindah, atasan saya yang lama kalau beli pulsa terkadang meminta bantuan saya via internet banking. Jadi tak ada kecurigaan selama ini. Dan saya juga beranggapan, meminta tolong untuk dibelikan pulsa bisa jadi dialami oleh banyak orang, seberapapun kondisinya orang tersebut, kaya ataupun miskin, sibuk ataupun menganggur. Kalau lagi darurat bisa juga bukan? Atau lagi malas keluar rumah begitu?

Namun kesadaran saya itu baru ada setelah beberapa saat, setelah transfer itu terjadi. Apalagi kemudian setelah saya bertanya kepada akang Google tentang penipuan meminta pulsa via chat fb. Sudah ada ternyata korbannya.

Segera saya telepon nomor itu. Tidak diangkat. Kebetulan pula saya belum punya nomor  Beliau yang Sebenarnya. Setelah saya mendapatkan nomor Beliau yang Sebenarnya dari teman, saya telepon Beliau yang Sebenarnya. Tidak diangkat. Konfirmasi tetap penting bukan? Apalagi kalau benar bahwa bukan Beliau yang Sebenarnya yang sedang chat dengan saya. Ini untuk menghindari agar tidak ada lagi korban selain saya.

Ba’da maghrib,  Beliau yang Sebenarnya menelepon saya. Tepat dugaan saya. Beliau yang Sebenarnya tidak pernah chat dengan saya. Seratus ribu melayang.

Well, saya berpikir kita memang harus berhati-hati, tetap menjaga kewaspadaan. Kewaspadaan saya saat ada sms masuk minta pulsa juga harus diterapkan di dunia maya. Pun, keteledoran saya banyak membawa pelajaran. Berikut yang di bawah ini bisa disimak:

Harga seratus ribu tidaklah mahal untuk sebuah ide sehingga bisa menghasilkan tulisan ini.

Tidaklah mahal pula hingga artikel ini bisa bermanfaat buat yang lain untuk meningkatkan kewaspadaan sehingga tidak turut menjadi korban. Kewaspadaan beda loh yah dengan su’udzon (buruk sangka).

Cara waspada adalah dengan mengajukan pertanyaan jebakan. Misal: “Kita jadi kan pergi hari minggu besok ke pernikahan teman kita?” Kalau dia jawab iya. Berarti teman chat itu tukang tipu. Karena acara pernikahan sebenarnya hari Sabtu. Banyak sekali sih pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Misal juga: siapa nama cleaning service yang biasa menyiapkan air minum kita setiap paginya? Atau telepon langsung nomor itu dan dengarkan suaranya. Sama dengan yang biasa kita dengar setiap harinya.

Untuk teman yang baru dikenal tak perlu untuk diladeni. Apalagi baru ketemu mau berhutang lewat sms ataupun chat. Jadi “ngeh” pula berbulan-bulan sebelumnya ada “teman” mau berhutang kepada saya via sms padahal baru ketemu. Bisa jadi ini modus yang sama. So, tak perlu mencantumkan informasi privat kita di profil fb. Nomor telepon misalnya. Jangan blak-blakan. Berinternetlah dengan sehat.

Pelajaran lainnya adalah untuk selalu berinteraksi dengan mengikuti forum diskusi (fordis) komunitas-komunitas di dunia maya atau milis-milis. Karena biasanya di sana seringkali diungkap kejadian-kejadian kriminal dan tips atau trik untuk menghindarinya. Terkecuali anggota milis atau fordisnya senantiasa bersikap apatis dan tak mau berbagi.

Kejadian ini juga adalah cara Allah untuk menegur saya. Sudah infak belum hari ini? Infak menjaga kita dari bala dan musibah. Kalau pelit, siap-siap saja yang lebih besar diambil oleh-Nya.

Semoga bermanfaat.

***

Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu = tukang tipu.

Beliau yang Sebenarnya = teman saya yang akun fb-nya dihack.

Riza Almanfaluthi

penulis dan blogger

dedaunan di ranting cemara

09.47 17 Januari 2011.

RESEARCH IN [MOSES] MOTION


RESEARCH IN MOSES MOTION

 

Semalam saya bangun. Tepatnya menjelang tengah malam. Tidak tidur hingga dua jam ke depannya. Mengambil komputer. Menuju ke ruang tengah. Menyalakannya dan membiarkan layar putih kosong di depan saya hingga setengah jam lamanya.

Saya ditemani seekor kecoa yang satu kaki belakangnya lemah tak berdaya. Terseret-seret tubuhnya yang tetap mengilap walau tak pernah mandi seumur hidupnya. Sudah beberapa kali dia lagi-lagi memutar di depan saya–menyusuri tembok. Dia tak pernah mau jauh-jauh dari dinding. Mengapa? Jika ia terjungkal dan jatuh terlentang ia masih dengan mudahnya menggapai dinding itu untuk kembali tegak.

Terdengar suara berisik dari arah dapur. Ternyata si belang yang tak tahu diri sedang menjilati remah-remah makanan di atas piring kotor. Sebenarnya tidak ada celah buat dia masuk ke rumah ini. Kecuali satu hal: jendela di kamar atas terbuka. Ya, betul sekali. Dari sana ia masuk.

Saya pernah berbicara baik-baik dengannya untuk tidak masuk ke rumah ini. Kalau mau makanan lezat silakan untuk mempersiapkan kupingnya yang berpendengaran tajam itu bila ada panggilan dari saya. Bolehlah ia masuk. Eh, dasar kucing. Sudah dibilang baik-baik, dengan atau tanpa panggilan, ia tetap masuk. Ndableg… Ini karena ia—seumur hidupnya—tidak pernah makan bangku sekolahan. Kasihan.

Dan malam itu saya cuma bisa menulis beberapa paragraf seperti ini:

Apa yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan anaknya menunggangi keledai seorang diri? Apa pula yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan dirinya seorang diri menunggangi hewan itu? Apa kemudian yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan dirinya dan anaknya menjadi dua beban berat di punggung hewan yang dikenal bodoh itu?

Tak bermuara sampai di situ. Apa yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan hewan yang diciptakan di dunia sebagai tumpangan manusia itu dibiarkan sempurna melangkah dengan tegak tanpa beban berat di atasnya? Dan apa yang diterima oleh sang ayah yang bersama dengan anaknya menggotong keledai sehat wal afiat itu di punggung-punggung mereka bergantian?

Komentar tiada henti yang berujung dengan celaan. Ya, itulah nasib yang diterima mereka. Seperti nasib yang diterima oleh banyak orang yang berusaha untuk mewujudkan sesuatu yang berguna untuk orang lain, minimal untuk diri mereka sendiri.

Semula penduduk dusun itu tak pernah membayangkan mereka mendapatkan kelimpahan air setelah apa yang dilakukan oleh salah satu lelaki dari mereka. Sebelumnya mereka harus berjalan berkilo-kilometer jauhnya untuk mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Lelaki itu dengan penuh ketekunan membuat lubang yang menembus dua bukit hanya untuk mengalirkan air dari mata air ke dusun. Sedikit demi sedikit usaha besar itu dikerjakan dengan diiringi rasa skeptis yang melanda para tetangganya. Cemoohan sudah barang tentu menjadi laku keseharian yang diterima. Setelah bertahun-tahun upaya itu dijalankan, setelah mereka melihat air yang begitu berharga membasahi persawahan mereka maka barulah penduduk dusun mengakui kerja lelaki itu. Syukurnya tidak ada azab yang menimpa mereka para pencemooh itu. Kebahagiaan menjadi milik mereka bersama.

Ini berbeda dengan para pengolok yang mengejek apa yang dilakukan Nuh di saat ia membuat sebuah perahu besar di tengah gurun. Laut jauh darinya. Maka silangan di dahi kepada Nuh menjadi sebuah tingkah dari para lawan ideologinya, pun dengan anaknya yang menjadi bagian mereka. Tak dinyana itulah akhir dari mereka. Bah raksasa menggilas semuanya. Menyisakan perahu yang membawa Nuh dan pengikutnya dari kalangan manusia dan faunanya.

Sejatinya ejekan itu hanyalah perantara turunnya ikab. Ada yang lebih dahsyat lagi: ketika syahwat menduakan Tuhan merajalela. Ini sekadar model dari berlabuhnya sebuah azab. Tanpa ada peringatan.

Namun Tuhan masih pemurah kepada bangsa Yahudi yang sering berbuat kerusakan di muka bumi walau banyak perintah-perintah-Nya didera pengkhianatan. Agar mereka taat dan ingat dengan perjanjian yang mereka buat, maka Tuhan mengangkat Bukit Thursina di atas kepala mereka. Benar-benar di atas kepala yang membuat mereka bergidik tentunya. Taati atau azab ini menimpa. Pun dengan itu, mereka tetap dengan karakter aslinya sebagai pembangkang tulen.

Berpuluh abad kemudian, karakter—mencela, mengejek, membangkang, tak bersyukur—itu seringkali mengemuka. Hatta di tengah banyak musibah yang menimpa bangsa ini. Di suatu saat ketika petinggi negeri ini berkutat menekan perusahaan asing untuk memenuhi keinginan pembagian yang lebih berpihak kepada lokal yang salah satunya adalah dengan memblokir segala konten yang berbau porno, maka bau-bau yahudi itu menjelma dengan salah satu kicauan ejekan seperti ini: “baru aja mencoba akses situs porno via laptop dgn jalur Telkom, lancar abiss!!!! Klo #RIM dtutup diskriminasi tu nmnya.”

*

Malam semakin larut. Komputer sudah saya tutup. Sejenak saya merenung. Dunia sudah renta. Hukuman Tuhan saat ini buat umat Muhammad masih belumlah seberapa dengan yang diterima Bani Israil pada saat itu sebagai bentuk pertaubatan dari penyembahan sapi atas perintah Samiri. “Sebagian dari kalian membunuhi sebagian yang lain.” Hingga Ia memerintahkan Musa untuk menghentikan penebusan dosa mereka itu saat statistik menunjukan angka tujuh puluh ribu jiwa.

Saya bergidik. Dan kecoa di depan saya itu masih terkapar, melonjak-lonjak untuk bangkit.

***

 

Riza Almanfaluthi

penulis dan blogger

dedaunan di ranting cemara

09.11 12 Januari 2011

[CATATAN SENIN KAMIS]: BORJUIS MINANGKABAU


[CATATAN SENIN KAMIS]: MERDEKA…!!!

 

    Pada zaman kemerdekaan dulu uluk salam dengan meneriakan kata merdeka dan mengepalkan tangan adalah sebuah kebanggaan. Ada sebuah rasa nasionalisme yang membuncah di dalam dada. Begitupula dengan memakai kopiah atau peci hitam sebagai simbol dari kaum intelektual dan kaum pergerakan nasional. Bahkan seorang komunis pun tanpa rasa segan untuk memakainya.

    Sekarang? “Tak laku…!” teriak bapak saya yang hidup di empat zaman ini: Jepang, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Kopiah pun hanya dipakai untuk seremonial belaka. Jika kopiah itu tampak bagus, yang memakainya adalah para pejabat yang baru dilantik atau para lelaki yang habis ijab kabul, entah yang pertama kali atau yang keberapa kalinya. Jika rada-rada kumal, yang pinggirannya terlihat kusam, ini berarti yang memakainya adalah orang yang suka ke masjid.

    Tapi teriakan bapak saya itu tak dapat mengusir pengakuannya bahwa kemerdekaan yang diraih dengan susah payah oleh para pendahulu telah bisa dinikmati oleh banyak kaum di negeri ini. Termasuk dirinya.

Tanpa memungkiri ketidakmerataan pembangunan di sebagian wilayah republik ini, hasil pembangunan benar-benar dirasakan oleh bapak saya dan para pelancong lainnya yang ingin mengisi liburan tahun baruan di tempat-tempat wisata Jawa Barat. Jalanan mulus dan pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan pengunjung.

    Terpikir betapa kenikmatan yang dirasakan saat ini bermula dari perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang dan pendiri negara ini. Dan kebanyakan dari mereka yang berjuang itu tak merasakan hasil-hasil pembangunan. Entah karena dimakan usia atau karena nasib yang tak berpihak kepada mereka.

    Sekarang teriakan itu tak akan menggema lagi terkecuali di film perjuangan atau sinetron situasi komedi. Atau sekadar cerita yang didongengkan setiap malam sebagai pengantar tidur. Bahkan keluar dari mulut bau dan badan yang tak pernah mandi selama beberapa tahun di pinggir jalan karena orang menganggapnya “enggak genap”.

Seperti Mao Tse Tung, yang selama 27 tahun tidak pernah mandi dan sikat gigi hingga giginya menghitam. Bedanya adalah setiap hari ia meminta kepada para pelayannya untuk menggosok seluruh badannya dengan air hangat. Mao Tse Tung pun tidak gila. Cuma seorang megalomania tulen yang sanggup mengorbankan puluhan juta rakyatnya untuk memenuhi ambisinya. Teriakannya pun berbeda, yang ada adalah: ” bunuh! bunuh! bunuh!” kepada rakyat ataupun lawan-lawan politik yang mengkritik, melawan, dan membangkangnya.

Semangat yang bersenyawa dalam jiwa Aidit sebagai salah satu murid ideologi Mao. Padahal Aidit adalah pemuda yang disukai Hatta sebelum dirinya mulai beraliran kiri. Dan waktu membalikkan Aidit untuk menghujat Hatta sebagai Borjuis Minangkabau pada pidatonya di dalam sidang DPR, 11 Februari 1957.

Padahal pula ia adalah salah satu yang menculik Dwi Tunggal ke Rengasdengklok. Dan sempat membuat Soekarno marah pada dua hari sebelumnya. Soekarno berkata, “ini batang leherku”, kepada para pemuda yang mengutarakan keinginan dan mendesak agar dirinya segera mengumumkan proklamasi.

Lalu Soekarno, bertahun-tahun kemudian, tak mampu melepaskan ideologi revolusinya dengan tidak mengikutkan PKI sebagai pilarnya. Maka yang terjadi adalah hilangnya kemerdekaan untuk berbicara, berpendapat, dan berkeadilan. Masyumi dan PSI—dua partai anti-PKI—dibubarkan. Pada saat itu, tak cuma teriakan, “Merdeka…!!!”, tetapi juga dengan teriakan lanjutannya: “Hidup Bung Karno…!!!, Hidup Nasakom…!!!, Ganyang Masyumi…!!!”.

Teriakan merdeka sudah teredusir menjadi jargon untuk membasmi saudara sebangsa dan setanah airnya. Bukan lagi untuk penyemangat melawan Jepang ataupun Belanda.

Dan kini, untuk meneriakkannya pun tak lagi sebagai sebuah kebutuhan untuk melepaskan diri dari belenggu perasaan inferior sebagai bekas bangsa terjajah. Tetapi karena teriakan itu: “tak laku…!” kata bapak saya dengan keras. Meski untuk ditukar dengan sepersepuluh liter beras pun. Bahkan mereka yang sering menengadahkan kopiah buluk di jembatan penyeberangan atau lampu-lampu merah, memasang muka memelas sambil berkata: “Pak tolong pak saya belum makan…” adalah lebih mampu untuk mendapatkan berkilo-kilo beras pulen.

Harga diri dijungkirbalikkan oleh waktu tanpa mampu lagi berteriak: “Merdeka…!!!”

 

***

Salam buat kalian berdua: Hadi Nur dan Masyita Nur Palupi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:47 03 Januari 2010

 

    
 

    Tags: masyumi, Mohammad hatta, soekarno, jepang, belanda, orde lama, orde baru, orde reformasi, aidit, mao tse tung, mao ze dong, psi, pki, dwi tunggal, rengasdengklok.