EKSPRESI MANA YANG AKAN IA PILIH?


EKSPRESI MANA YANG AKAN IA PILIH?

 

Tengah malam ini saya kembali terbangun. Setelah rehat sejenak seperti kucing yang sedang menyembuhkan dirinya karena terlindas motor, saya keluar kamar dan seperti biasa memandang buku-buku di lemari. Tanpa berpikir panjang bukunya ‘Aidh Al-Qarni sudah berada di tangan. Don’t be Sad.

Sudah berulang kali saya baca buku ini. Sudah banyak pula lipatan yang membekas pada lembaran-lembarannya untuk menandai kalimat-kalimat bermutu yang bertaburan di sana. Salah satu lipatannya adalah menunjuk pada bab tersenyumlah yang membicarakan bagaimana tertawa itu adalah kenikmatan surga. Ya betul, bagaimana mungkin penghuni neraka akan tertawa selagi tubuh-tubuh mereka disiksa dengan siksaan yang teramat pedih. Tertawa adalah hanya milik penghuni surga.

Mengingat tertawa saya jadi teringat dengan cara-cara tertawa yang digunakan teman-teman untuk mengungkapkan ekspresi kegembiraannya di dunia maya. Di dunia itu yang ada simbol-simbol belaka– bisa juga disebut dengan smiley emoticon—atau gabungan dari beberapa karakter.

Ekspresi ini adalah tanda agar orang tahu perasaan apa yang kita alami pada saat kita ngobrol dengannya. Pun supaya tidak terjadi salah persepsi. Tak ada suara tawa yang terdengar seperti di dunia sesungguhnya. Terkecuali kalau memang webcam sudah terpasang di computer, masing-masing simbol-simbol itu tak diperlukan lagi.

Maka bagi saya macam-macam ekspresi tertawa itu punya sentuhannya sendiri-sendiri. Saya menggunakannya pun sesuai dengan perasaan saya. Berikut rasa yang saya tangkap dari simbol-simbol atau karakter-karakter itu:

Lol = Laugh out Loud = Tertawa terbahak-bahak. Bagi saya walaupun terbahak-bahak seperti itu tetapi tetap tidak seekspresif Ha ha ha ha. Orang barat biasa memakai ini.

Ha ha ha ha. Yang tertawa demikian orangnya terbuka, tak punya malu-malu, ekspresif, dan jujur, tidak jaim. Turunan dari tertawa seperti ini adalah wakakakak atau wkwkwkwkwk. Woteperlah.

He he he he, ini cengengesan namanya. Tapi tepat kalau mengungkapkannya di saat malu. Tidak seterbuka ha ha ha ha di atas. Turunannya adalah ke ke ke ke.

Hi hi hi hi, kayaknya aneh aja kalau cowok pakai tertawa yang seperti ini. Feminin banget. Ketiadaan maskulinitas. Saya jarang memakainya. Rasanya gimana gitu.

Qi qi qi qi, tertawa cekikikan. Cewek dan cowok sering tertawa seperti itu. Saya juga memakainya. Model ini seperti tertawanya tokoh kartun Jepang. Tertawanya sampai tidak terlihat bola mata dengan kedua tangan tertangkup di dagu. Lucu.

Xi xi xi xi, saya tak mengerti tertawa macam mana pula ini? Kayaknya mirip orang Cina yang lagi mengucapkan terima kasih.

^_^ membuat saya nyaman.

🙂 ini jaim. Tapi berpahala karena ini adalah sedekah.

Itu saja setahu saya. Ada lagi yang mau menambahkan?

Saya baca lagi kalimat di buku itu: “Orang yang tertawa adalah orang yang memiliki karakter baik, watak mulia, serta pemikiran yang jernih. Sebaliknya memiliki air muka yang muram dan bermuka masam adalah ciri-ciri karakter yang rendah, terganggu jiwa, dan berwatak keras.” Dan Islam mengajarkan semuanya pada titik pertengahan. Tidak berlebihan.

Malam ini saya berterima kasih kepada buku itu karena telah memberikan saya arti tertawa dan menjadi sahabat baik saya. Buku memang tepat menjadi teman. Pantas Al-Jahizh—penulis Arab abad silam—yang dikutip ‘Aidh AlQarni sampai berkata: “Buku adalah teman yang tidak suka memujimu dan tidak menyeretmu kepada kejahatan. Ia adalah sahabat yang tidak membuatmu bosan, dan ia adalah tetangga yang tidak mengancam keselamatanmu. Ia adalah sahabat yang tidak berniat untuk memeras kebaikan darimu dengan rayuan, dan ia tidak akan menipumu dengan kepalsuan dan dusta.”

Dan malam ini—di waktu tersisa—saya ingin bermimpi menjadi buku buat sahabat saya yang esoknya akan bilang: “biarkan waktu yang menjawabnya.” Saya ingin melihat dia tertawa. Entah ekspresi apa yang akan ia pilih.

 

***

 

 

 

Riza Almanfaluthi

masih mencoba untuk menata hati

dedaunan di ranting cemara

02.24 08 Februari 2011

SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG


SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG

Suatu hari tautan yang ada di sebelah kanan blog saya satu persatu dicek. Sudah lama soalnya saya tak mengunjungi “beranda” mereka. Ah, sedih. Nelangsanya menjumpai blog-blog teman banyak yang mati dan tidak aktif lagi. Ada yang tulisan terakhirnya di tahun 2008 setelah itu tiada. Hanya komentar pengunjung di shoutbox yang berteriak-teriak kemana dikau adanya?

***

Aduhai, alangkah sayangnya ketika seseorang menghentikan aktifitasnya untuk ngeblog hanya karena alasan: “saya tak mau jadi orang munafik.” Munafik macam mana pula? Ya itu tadi, menulis seolah-olah kita paling hebat, paling top, paling harmonis rumah tangganya, paling cintanya pada pasangan, paling bijak, dan paling-paling lainnya. Berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

    Akhirnya memang naluri tidak bisa dibohongi. Suatu saat kelelahan itu akan muncul. Bukan kelelahan fisik tetapi kelelahan mental. Sampai pada suatu titik ia menyalahkan aktifitas ngeblognya itu. Dia tidak mau berbohong lagi. Dia berhenti berpura-pura. Berhentilah ia menulis. Sayang…

    Ya itulah saat ngeblog cuma jadi topeng. Plis deh, menulis pun butuh kejujuran—yang kata orang pajaknya sih butuh integritas. Kalau jujur itu sesuai dengan hati. Maka menulis dengan hati akan menemukan sisi keindahannya bagi yang lain. Akan ada sentuhan yang berbeza—mengutip kata teman saya di forum sebelah.

    Menulis dengan jujur maksudnya apa sih? Tentunya sesuai dengan kenyataanlah. A bilang A. B ya bilang saja B. Jika kita alami sesuatu, uraikan apa adanya tanpa diberi bumbu-bumbu penyedap dan pemanis yang akan menghilangkan cita rasa sejatinya. Kalau kita belum melakukan sesuatu yang ingin kita tulis maka tak perlulah untuk ditulis. Tunggu sejenak atau dua jenak dan baru diungkap ketika kita telah melakukan yang ingin kita bagi kepada yang lain itu.

    Lalu apakah dengan banyak matinya para blogger yang sekarang terjadi itu dikarenakan alasan tidak mau jadi orang munafik itu? Oh tidak bisa…Tidak hanya itu. Satu lagi adalah pada masalah konsistensi. Ya betul konsistensi. Menulis juga butuh konsistensi.

    Maka saya pun kagum luar biasa terhadap para blogger yang sampai hari ini aktif dengan tulisan-tulisan dan curhat-curhat mereka. Ada yang dua hari update dengan tulisannya sendiri. Bermutu lagi. Ndak sekadar curcol biasa. Tak peduli dengan jejaring sosial yang lagi ngetrend-ngetrendnya saat ini dia tetap eksis dengan blognya itu.

Jejaring sosial yang sebenarnya banyak manfaatnya itu bisa mematikan daya kreatifitas menulis karena pelakunya cukup dipuaskan dengan 150 karakter atau lebih yang bisa dikomentari oleh banyak orang. Sedangkan ngeblog? Dikomentari satu orang pun sudah syukur. Tetapi apa iya ngeblog itu Cuma untuk dikomentarin? Enggaklah. Yang pasti blogger ataupun penulis sejati tak peduli semua itu yang penting ia bisa berkarya dan terus berkarya. Waduh saya angkat tabik dah buat mereka.

Jadi tips menulis kali ini buat kita semua adalah: jujurlah dalam menulis. Menulis juga perlu konsistensi. Dan tetaplah menulis biarpun hanya sepi menghadang di depan. Kerja senyap ini adalah untuk—sekali lagi—mewariskan peradaban.

Selamat menulis.

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

salam jingga

dedaunan di ranting cemara

03 Februari 2011

SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU


SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU

Jum’at sore, forum facebook (fb) kami dikejutkan dengan perubahan profil anggota forum yang fotonya berpose tak senonoh. Saat didalami, betul, gambar-gambar dan link-link yang tak karuan sudah ada di dalamnya. Akun fb teman telah di hack. Kayaknya cracking akun fb  sudah mewabah. Teman dan saudara dekat banyak yang telah menjadi korban.

Segera saya ubah passwod fb, mengombinasikannya dengan huruf, angka, dan karakter lain, dan tidak menyamakannya dengan password email. Ini langkah-langkah yang seringkali diremehkan oleh pengguna internet, termasuk saya.

Penghuni rumah juga sudah saya ingatkan untuk segera mengubah passwordnya agar terhindar dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini. Ini untuk kesekian kalinya fb tidak bisa melindungi penggunanya. Fb menjadi sesuatu yang rentan untuk disusupi oleh virus ataupun cracking.

Ahad sore, selagi saya chat fb dengan saudara saya di Tasikmalaya, tiba-tiba masuk sapaan dari teman satu kantor, satu ruangan, satu tim dengan saya. Terjadilah dialog seperti ini:

***

Teman: sore

17:13

Riza:

sore mbak

assalaamu’alaikum

17:13

Teman:

walAikumsaLaM

lagi dmaNa?

17:14

Riza

dirumah mbak. online always. hehehehhe

17:14

Teman: ohh

17:14

Riza:

lagi jjs mbak?

17:17

Teman:

oh

mbak mau cari pulsa

17:18

Riza:

i see… i see…

17:19

Teman:

hehehe

ada gAk

17:19

Riza:

ada2

di tetangga sebelah.

nomornya berapa mbak?

saya pesenin dan kirim segera.

dan yang berapa?

17:20

Teman:

085276897993

yg 100rbu

sekarang ya

ntr uaNg nya dikirim

17:20

Riza:

oke ditunggu mbak….

gampang

17:21

Teman:

ok

17:25

Riza:

mbak pakai internet bankking saya saja yah

17:25

Teman:

udAh isi pulsa nya

17:25

Riza:

belumm…

lagi masuk. tetangga gak ada yang cepean

ke internet banking mandiri saya

tunggu bentar

17:26

Teman:

iya

17:28

Riza:

sudah saya kirim…

17:28

Teman:

udah isi yA

17:28

Riza: iya

udh masuk?

17:29

Teman:

biasa klw bisa isi berApA sihh

?

dari internet bAking

17:29

Riza: 25 ada

gocap ada

cepe ada

ini pas lagi ada duit di rekening mandiri saya mbak

sekarang di kapus kan pake bri

jadi susah

17:30

Teman: bisa isi berapa lagi

17:30

Riza: bri gak secanih mandiri ib-nya

17:30

Teman:

biasA mbaK isi bANyak lo

berapa aja

17:31

Riza:

cuma seitu doan mbak

Jenis Transaksi : Pembelian Voucher Isi Ulang
No. Referensi : 085276897993
No. Voucher : 0011000033699392
Jumlah : Rp. 100.000,00
Tanggal – Jam : 16 01 2011 – 05:26 PM WIB
No. Transaksi : 1101160059374
Status : Berhasil

17:32

Teman:

ohhhhhh

Riza: 17:33

udah masuk?

****

Setelah itu lenyap.

Saya baru “ngeh” ada yang tidak beres dengan ini. Sebenarnya sedari awal sih. Tetapi saya abaikan karena kepolosan husnudzan (berbaik sangka) saya. Keanehan itu adalah pertama teman Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu tidak mengucapkan “assalaamu’alaikum” terlebih dahulu. Bagi saya itu aneh.

Kedua, Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu memosisikan kata ganti orang pertama dengan menyebut dirinya “mbak” setelah saya menyapanya dengan sapaan itu. Selama ini Beliau yang Sebenarnya memosisikannya tetap dengan kata ‘aku” atau “saya”.

Ketiga, ketika Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu bilang “bisa isi berapa lagi” dan “biasa mbak isi banyak lo”. Kalau yang biasa bertransaksi dengan internet banking memang pilihan angkanya cuma itu saja. Tidak ada yang lain.

Husnudzan saya juga karena selama ini dulu, sebelum pindah, atasan saya yang lama kalau beli pulsa terkadang meminta bantuan saya via internet banking. Jadi tak ada kecurigaan selama ini. Dan saya juga beranggapan, meminta tolong untuk dibelikan pulsa bisa jadi dialami oleh banyak orang, seberapapun kondisinya orang tersebut, kaya ataupun miskin, sibuk ataupun menganggur. Kalau lagi darurat bisa juga bukan? Atau lagi malas keluar rumah begitu?

Namun kesadaran saya itu baru ada setelah beberapa saat, setelah transfer itu terjadi. Apalagi kemudian setelah saya bertanya kepada akang Google tentang penipuan meminta pulsa via chat fb. Sudah ada ternyata korbannya.

Segera saya telepon nomor itu. Tidak diangkat. Kebetulan pula saya belum punya nomor  Beliau yang Sebenarnya. Setelah saya mendapatkan nomor Beliau yang Sebenarnya dari teman, saya telepon Beliau yang Sebenarnya. Tidak diangkat. Konfirmasi tetap penting bukan? Apalagi kalau benar bahwa bukan Beliau yang Sebenarnya yang sedang chat dengan saya. Ini untuk menghindari agar tidak ada lagi korban selain saya.

Ba’da maghrib,  Beliau yang Sebenarnya menelepon saya. Tepat dugaan saya. Beliau yang Sebenarnya tidak pernah chat dengan saya. Seratus ribu melayang.

Well, saya berpikir kita memang harus berhati-hati, tetap menjaga kewaspadaan. Kewaspadaan saya saat ada sms masuk minta pulsa juga harus diterapkan di dunia maya. Pun, keteledoran saya banyak membawa pelajaran. Berikut yang di bawah ini bisa disimak:

Harga seratus ribu tidaklah mahal untuk sebuah ide sehingga bisa menghasilkan tulisan ini.

Tidaklah mahal pula hingga artikel ini bisa bermanfaat buat yang lain untuk meningkatkan kewaspadaan sehingga tidak turut menjadi korban. Kewaspadaan beda loh yah dengan su’udzon (buruk sangka).

Cara waspada adalah dengan mengajukan pertanyaan jebakan. Misal: “Kita jadi kan pergi hari minggu besok ke pernikahan teman kita?” Kalau dia jawab iya. Berarti teman chat itu tukang tipu. Karena acara pernikahan sebenarnya hari Sabtu. Banyak sekali sih pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Misal juga: siapa nama cleaning service yang biasa menyiapkan air minum kita setiap paginya? Atau telepon langsung nomor itu dan dengarkan suaranya. Sama dengan yang biasa kita dengar setiap harinya.

Untuk teman yang baru dikenal tak perlu untuk diladeni. Apalagi baru ketemu mau berhutang lewat sms ataupun chat. Jadi “ngeh” pula berbulan-bulan sebelumnya ada “teman” mau berhutang kepada saya via sms padahal baru ketemu. Bisa jadi ini modus yang sama. So, tak perlu mencantumkan informasi privat kita di profil fb. Nomor telepon misalnya. Jangan blak-blakan. Berinternetlah dengan sehat.

Pelajaran lainnya adalah untuk selalu berinteraksi dengan mengikuti forum diskusi (fordis) komunitas-komunitas di dunia maya atau milis-milis. Karena biasanya di sana seringkali diungkap kejadian-kejadian kriminal dan tips atau trik untuk menghindarinya. Terkecuali anggota milis atau fordisnya senantiasa bersikap apatis dan tak mau berbagi.

Kejadian ini juga adalah cara Allah untuk menegur saya. Sudah infak belum hari ini? Infak menjaga kita dari bala dan musibah. Kalau pelit, siap-siap saja yang lebih besar diambil oleh-Nya.

Semoga bermanfaat.

***

Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu = tukang tipu.

Beliau yang Sebenarnya = teman saya yang akun fb-nya dihack.

Riza Almanfaluthi

penulis dan blogger

dedaunan di ranting cemara

09.47 17 Januari 2011.

RESEARCH IN [MOSES] MOTION


RESEARCH IN MOSES MOTION

 

Semalam saya bangun. Tepatnya menjelang tengah malam. Tidak tidur hingga dua jam ke depannya. Mengambil komputer. Menuju ke ruang tengah. Menyalakannya dan membiarkan layar putih kosong di depan saya hingga setengah jam lamanya.

Saya ditemani seekor kecoa yang satu kaki belakangnya lemah tak berdaya. Terseret-seret tubuhnya yang tetap mengilap walau tak pernah mandi seumur hidupnya. Sudah beberapa kali dia lagi-lagi memutar di depan saya–menyusuri tembok. Dia tak pernah mau jauh-jauh dari dinding. Mengapa? Jika ia terjungkal dan jatuh terlentang ia masih dengan mudahnya menggapai dinding itu untuk kembali tegak.

Terdengar suara berisik dari arah dapur. Ternyata si belang yang tak tahu diri sedang menjilati remah-remah makanan di atas piring kotor. Sebenarnya tidak ada celah buat dia masuk ke rumah ini. Kecuali satu hal: jendela di kamar atas terbuka. Ya, betul sekali. Dari sana ia masuk.

Saya pernah berbicara baik-baik dengannya untuk tidak masuk ke rumah ini. Kalau mau makanan lezat silakan untuk mempersiapkan kupingnya yang berpendengaran tajam itu bila ada panggilan dari saya. Bolehlah ia masuk. Eh, dasar kucing. Sudah dibilang baik-baik, dengan atau tanpa panggilan, ia tetap masuk. Ndableg… Ini karena ia—seumur hidupnya—tidak pernah makan bangku sekolahan. Kasihan.

Dan malam itu saya cuma bisa menulis beberapa paragraf seperti ini:

Apa yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan anaknya menunggangi keledai seorang diri? Apa pula yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan dirinya seorang diri menunggangi hewan itu? Apa kemudian yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan dirinya dan anaknya menjadi dua beban berat di punggung hewan yang dikenal bodoh itu?

Tak bermuara sampai di situ. Apa yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan hewan yang diciptakan di dunia sebagai tumpangan manusia itu dibiarkan sempurna melangkah dengan tegak tanpa beban berat di atasnya? Dan apa yang diterima oleh sang ayah yang bersama dengan anaknya menggotong keledai sehat wal afiat itu di punggung-punggung mereka bergantian?

Komentar tiada henti yang berujung dengan celaan. Ya, itulah nasib yang diterima mereka. Seperti nasib yang diterima oleh banyak orang yang berusaha untuk mewujudkan sesuatu yang berguna untuk orang lain, minimal untuk diri mereka sendiri.

Semula penduduk dusun itu tak pernah membayangkan mereka mendapatkan kelimpahan air setelah apa yang dilakukan oleh salah satu lelaki dari mereka. Sebelumnya mereka harus berjalan berkilo-kilometer jauhnya untuk mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Lelaki itu dengan penuh ketekunan membuat lubang yang menembus dua bukit hanya untuk mengalirkan air dari mata air ke dusun. Sedikit demi sedikit usaha besar itu dikerjakan dengan diiringi rasa skeptis yang melanda para tetangganya. Cemoohan sudah barang tentu menjadi laku keseharian yang diterima. Setelah bertahun-tahun upaya itu dijalankan, setelah mereka melihat air yang begitu berharga membasahi persawahan mereka maka barulah penduduk dusun mengakui kerja lelaki itu. Syukurnya tidak ada azab yang menimpa mereka para pencemooh itu. Kebahagiaan menjadi milik mereka bersama.

Ini berbeda dengan para pengolok yang mengejek apa yang dilakukan Nuh di saat ia membuat sebuah perahu besar di tengah gurun. Laut jauh darinya. Maka silangan di dahi kepada Nuh menjadi sebuah tingkah dari para lawan ideologinya, pun dengan anaknya yang menjadi bagian mereka. Tak dinyana itulah akhir dari mereka. Bah raksasa menggilas semuanya. Menyisakan perahu yang membawa Nuh dan pengikutnya dari kalangan manusia dan faunanya.

Sejatinya ejekan itu hanyalah perantara turunnya ikab. Ada yang lebih dahsyat lagi: ketika syahwat menduakan Tuhan merajalela. Ini sekadar model dari berlabuhnya sebuah azab. Tanpa ada peringatan.

Namun Tuhan masih pemurah kepada bangsa Yahudi yang sering berbuat kerusakan di muka bumi walau banyak perintah-perintah-Nya didera pengkhianatan. Agar mereka taat dan ingat dengan perjanjian yang mereka buat, maka Tuhan mengangkat Bukit Thursina di atas kepala mereka. Benar-benar di atas kepala yang membuat mereka bergidik tentunya. Taati atau azab ini menimpa. Pun dengan itu, mereka tetap dengan karakter aslinya sebagai pembangkang tulen.

Berpuluh abad kemudian, karakter—mencela, mengejek, membangkang, tak bersyukur—itu seringkali mengemuka. Hatta di tengah banyak musibah yang menimpa bangsa ini. Di suatu saat ketika petinggi negeri ini berkutat menekan perusahaan asing untuk memenuhi keinginan pembagian yang lebih berpihak kepada lokal yang salah satunya adalah dengan memblokir segala konten yang berbau porno, maka bau-bau yahudi itu menjelma dengan salah satu kicauan ejekan seperti ini: “baru aja mencoba akses situs porno via laptop dgn jalur Telkom, lancar abiss!!!! Klo #RIM dtutup diskriminasi tu nmnya.”

*

Malam semakin larut. Komputer sudah saya tutup. Sejenak saya merenung. Dunia sudah renta. Hukuman Tuhan saat ini buat umat Muhammad masih belumlah seberapa dengan yang diterima Bani Israil pada saat itu sebagai bentuk pertaubatan dari penyembahan sapi atas perintah Samiri. “Sebagian dari kalian membunuhi sebagian yang lain.” Hingga Ia memerintahkan Musa untuk menghentikan penebusan dosa mereka itu saat statistik menunjukan angka tujuh puluh ribu jiwa.

Saya bergidik. Dan kecoa di depan saya itu masih terkapar, melonjak-lonjak untuk bangkit.

***

 

Riza Almanfaluthi

penulis dan blogger

dedaunan di ranting cemara

09.11 12 Januari 2011

[CATATAN SENIN KAMIS]: BORJUIS MINANGKABAU


[CATATAN SENIN KAMIS]: MERDEKA…!!!

 

    Pada zaman kemerdekaan dulu uluk salam dengan meneriakan kata merdeka dan mengepalkan tangan adalah sebuah kebanggaan. Ada sebuah rasa nasionalisme yang membuncah di dalam dada. Begitupula dengan memakai kopiah atau peci hitam sebagai simbol dari kaum intelektual dan kaum pergerakan nasional. Bahkan seorang komunis pun tanpa rasa segan untuk memakainya.

    Sekarang? “Tak laku…!” teriak bapak saya yang hidup di empat zaman ini: Jepang, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Kopiah pun hanya dipakai untuk seremonial belaka. Jika kopiah itu tampak bagus, yang memakainya adalah para pejabat yang baru dilantik atau para lelaki yang habis ijab kabul, entah yang pertama kali atau yang keberapa kalinya. Jika rada-rada kumal, yang pinggirannya terlihat kusam, ini berarti yang memakainya adalah orang yang suka ke masjid.

    Tapi teriakan bapak saya itu tak dapat mengusir pengakuannya bahwa kemerdekaan yang diraih dengan susah payah oleh para pendahulu telah bisa dinikmati oleh banyak kaum di negeri ini. Termasuk dirinya.

Tanpa memungkiri ketidakmerataan pembangunan di sebagian wilayah republik ini, hasil pembangunan benar-benar dirasakan oleh bapak saya dan para pelancong lainnya yang ingin mengisi liburan tahun baruan di tempat-tempat wisata Jawa Barat. Jalanan mulus dan pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan pengunjung.

    Terpikir betapa kenikmatan yang dirasakan saat ini bermula dari perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang dan pendiri negara ini. Dan kebanyakan dari mereka yang berjuang itu tak merasakan hasil-hasil pembangunan. Entah karena dimakan usia atau karena nasib yang tak berpihak kepada mereka.

    Sekarang teriakan itu tak akan menggema lagi terkecuali di film perjuangan atau sinetron situasi komedi. Atau sekadar cerita yang didongengkan setiap malam sebagai pengantar tidur. Bahkan keluar dari mulut bau dan badan yang tak pernah mandi selama beberapa tahun di pinggir jalan karena orang menganggapnya “enggak genap”.

Seperti Mao Tse Tung, yang selama 27 tahun tidak pernah mandi dan sikat gigi hingga giginya menghitam. Bedanya adalah setiap hari ia meminta kepada para pelayannya untuk menggosok seluruh badannya dengan air hangat. Mao Tse Tung pun tidak gila. Cuma seorang megalomania tulen yang sanggup mengorbankan puluhan juta rakyatnya untuk memenuhi ambisinya. Teriakannya pun berbeda, yang ada adalah: ” bunuh! bunuh! bunuh!” kepada rakyat ataupun lawan-lawan politik yang mengkritik, melawan, dan membangkangnya.

Semangat yang bersenyawa dalam jiwa Aidit sebagai salah satu murid ideologi Mao. Padahal Aidit adalah pemuda yang disukai Hatta sebelum dirinya mulai beraliran kiri. Dan waktu membalikkan Aidit untuk menghujat Hatta sebagai Borjuis Minangkabau pada pidatonya di dalam sidang DPR, 11 Februari 1957.

Padahal pula ia adalah salah satu yang menculik Dwi Tunggal ke Rengasdengklok. Dan sempat membuat Soekarno marah pada dua hari sebelumnya. Soekarno berkata, “ini batang leherku”, kepada para pemuda yang mengutarakan keinginan dan mendesak agar dirinya segera mengumumkan proklamasi.

Lalu Soekarno, bertahun-tahun kemudian, tak mampu melepaskan ideologi revolusinya dengan tidak mengikutkan PKI sebagai pilarnya. Maka yang terjadi adalah hilangnya kemerdekaan untuk berbicara, berpendapat, dan berkeadilan. Masyumi dan PSI—dua partai anti-PKI—dibubarkan. Pada saat itu, tak cuma teriakan, “Merdeka…!!!”, tetapi juga dengan teriakan lanjutannya: “Hidup Bung Karno…!!!, Hidup Nasakom…!!!, Ganyang Masyumi…!!!”.

Teriakan merdeka sudah teredusir menjadi jargon untuk membasmi saudara sebangsa dan setanah airnya. Bukan lagi untuk penyemangat melawan Jepang ataupun Belanda.

Dan kini, untuk meneriakkannya pun tak lagi sebagai sebuah kebutuhan untuk melepaskan diri dari belenggu perasaan inferior sebagai bekas bangsa terjajah. Tetapi karena teriakan itu: “tak laku…!” kata bapak saya dengan keras. Meski untuk ditukar dengan sepersepuluh liter beras pun. Bahkan mereka yang sering menengadahkan kopiah buluk di jembatan penyeberangan atau lampu-lampu merah, memasang muka memelas sambil berkata: “Pak tolong pak saya belum makan…” adalah lebih mampu untuk mendapatkan berkilo-kilo beras pulen.

Harga diri dijungkirbalikkan oleh waktu tanpa mampu lagi berteriak: “Merdeka…!!!”

 

***

Salam buat kalian berdua: Hadi Nur dan Masyita Nur Palupi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:47 03 Januari 2010

 

    
 

    Tags: masyumi, Mohammad hatta, soekarno, jepang, belanda, orde lama, orde baru, orde reformasi, aidit, mao tse tung, mao ze dong, psi, pki, dwi tunggal, rengasdengklok.

 

            


 

CATATAN AWAL TAHUN: IZRAILISME


CATATAN AWAL TAHUN:

IZRAILISME

 

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

***

01 Januari 2011

    Tadi malam saya bersyukur sekali bisa tidur nyenyak. Tanpa terganggu sedikit pun suara berisik nyanyian kodok dari orang-orang yang membuang-buang duitnya untuk terompet, petasan, dan kembang api.

    Shubuh berjama’ah di masjid hanya dihadiri oleh 5 orang ditambah Ayyasy yang dari jam tiga pagi tidak bisa tidur. Kebanyakan yang bermalamtahunbaruan tidak shalat shubuh di masjid. Kalaupun tidak tahun baruan juga masjid tetap sama kosongnya.

    Pagi ini, ingin sekali saya berangkat ke Salawu, Tasikmalaya. Berkumpul dengan keluarga besar di sana yang lagi hajatan kawinan. Tapi sayangnya kondisi Bapak lagi tidak fit—pagi ini saat saya tengok di kamarnya, asam uratnya kambuh lagi, kakinya bengkak.

Kinan tadi malam panas banget. Setelah dikasih obat penurun panas dan dipeluk dalam ketelanjangan dada Alhamdulillah sebelum adzan shubuh berkumandang, suhu badannya sudah mulai turun. Tapi kembali ini menyurutkan tekad untuk bisa berbondong-bondong pergi ke Salawu dengan semangat 45.

Saya berharap, keluarga di sana bisa memaklumi atas ketidakdatangan saya. Karena saya pun sebenarnya amat rindu dengan Salawu dan kebersamaannya.

Kemarin saya ditanya oleh teman tentang revolusi resolusi diri. Saya diam saja. Tak tahu akan menjawab apa. Tetapi pagi ini saya jadi tertarik untuk mengungkapkan ini. Yang pasti saya berharap dengan harapan yang sama dengan orang-orang lain: tahun depan adalah lebih baik daripada tahun kemarin.

Lebih khusus lagi saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain dengan lebih baik. Bisa tetap semangat menulis. Setiap hari. Menjadi petugas banding yang profesional dan punya integritas. Dari semuanya: keluarga adalah tetap nomor satu. Lebih cinta lagi pada Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, dan Kinan. Terbukti saya tidak bisa berpisah dengan mereka sehari pun dengan riang gembira.

Masih banyak lagi yang lain untuk diungkapkan. Tetapi biarlah itu menjadi sesuatu yang privat buat saya. Orang lain biarlah dengan urusannya masing-masing.

Tentang Indonesia? Berharap negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang hanya takut kepada Allah. Bukan yang takut kepada Amerika, Rusia, China, Eropa, Australia, Israel, beserta antek-anteknya. Dengan segala isme-isme yang menjadi jargon dan sesembahannya seperti imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, dan ….…… (titik-titik ini buat isme-isme yang berperikebinatangan lain yang tak sempat terpikirkan di pagi ini).

Kalau pemimpin hanya takut pada Yang Diatas, ia tak peduli dengan pencitraan, ia tak peduli dengan topeng, ia tak peduli dengan kroni-kroninya, ia tak peduli mau dipilih lagi atau tidak. Yang dipedulikannya adalah bagaimana negeri ini bisa jadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghoffur. Rakyatnya bisa makan semua. Bisa sehat semua. Bisa sekolah semua. Taqwa semua.

Tentang Indonesia lagi? ya, korupsi enggak ada lagi di muka buminya. Sayangnya para pembenci korupsi selalu berteriak-teriak kepada aparat pemerintah untuk tidak korupsi sedangkan nilai-nilai kejujuran sendiri tidak menjadi sesuatu yang inheren pada diri mereka. Ini sama saja seperti menggarami air lautan. Benahi diri dulu. Introspeksi diri dulu. Sudah jujurkah saya? Kalau sudah dan berkomitmen untuk selalu jujur, bolehlah berteriak. Hancurkan korupsi! Ganyang koruptor!

Pula bagi pengelola negeri ini—pemimpin dan aparaturnya, seberapa keras teriakan para mahasiswa dan rakyat untuk mengingatkan jangan korupsi, ya mbok didengar. Pasang telinga baik-baik. Kalau perlu cek ke dokter THT, untuk memastikan gendang telinganya masih utuh atau sudah bolong. Karena keutuhan gendang telinga menjadi ukuran budek atau tidaknya. Kalau sudah budek, memang dimaklumi untuk tidak mendengar suara-suara itu. Tapi memang enak jadi budek? Apa?! Apa?!

Yang lebih parah lagi adalah kalau nuraninya sudah budek walaupun telinganya tidak budek. Kalau bahasa langitnya adalah buta, tuli, dan bisu. Seberapapun kerasnya peringatan dan teguran untuk tidak korupsi, tetap saja dijabanin untuk hanya dapat memuaskan hawa nafsunya.

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Hanya sedikit harapan, yang kata orang sih resolusi diri. Yang pasti saya berkeinginan kepada Allah agar Izrailisme tak menyapa saya pada hari ini.

Semoga terkabul. Amin.

***

 

Riza Almanfaluthi

abdi negara yang lagi belajar jujur

dedaunan di ranting cemara

06.43 01 Januari 2011

 

 

TAGS: imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, izrailisme, Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, Kinan, salawu, tasikmalaya.

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/01/catatan-awal-tahun-izrailisme/

 

FILANTROPI SANG MUKA MONYET


[CATATAN SENIN KAMIS]:  FILANTROPI

Toyotomi Hideyoshi—yang berwajah seperti monyet – adalah tokoh besar Jepang abad XVI yang mampu menyatukan negeri yang tercabik-cabik dalam perang antarklan selama lebih dari 100 tahun, dan mempunyai konsep diri seperti ini: fokus pada memberi.

…hanya sedikit orang yang menangkap kebenaran ini. Kebanyakan lebih memilih untuk menyimpan sebanyak mungkin untuk diri mereka sendiri dan memberi sedikit mungkin. Itulah sebabnya dompet mereka tidak pernah bertambah tebal.

Maka dalam sebuah kesempatan, ia duduk di tumpukan kepingan emas yang hendak dibagikan senilai 1,17 trilyun rupiah—nilai saat ini, di tengah lapang, di luar gerbang selatan Istana Jurakutei, Kyoto. Orang-orang memalingkan muka saat timbunan itu memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Ia royal kepada pengikutnya.

**

Semakin banyak membaca tidak menjamin seseorang menjadi tahu segalanya. Semakin menulis pun demikian. Kita kembali menjadi bodoh dan bodoh. Betapa banyak ketidaktahuan yang dimiliki yang pada akhirnya memacu kita untuk merenangi samudra ilmu untuk mengikis daki-daki kejahilan.

Begitu pula dengan kata filantropi yang menjadi sesuatu yang baru buat saya beberapa hari belakangan ini. Diawali dengan notes dalam facebook seorang kawan. Pernah mendengar tetapi tak tahu makna dibaliknya. Aih, ternyata filantropi itu adalah sebuah kedermawanan atau cinta kasih kepada sesama.

Kalau demikian, saya bertambah yakin di balik makna kata itu ada sesuatu yang lebih besar lagi bagi para pelakunya. Bukankah ini adalah keadaan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah? Masalahnya sebegitu banyak balasan yang dijanjikan—700 kali lipat ganjaran—tidak menggerakkan hati untuk melakukannya. Mengapa?

Jawabannya adalah karena manusia senantiasa terbelit dengan sikap tamaknya hingga bergunung-gunung emas yang ia dapatkan namun kembali ingin merengkuh gunungan emas yang ada nun jauh di sana. Satu lagi karena ini adalah masalah iman. Dan filantropi adalah pembuktian adanya iman di dalam dada.

Maka berbicara tentang keimanan—karena ia adalah sesuatu yang abstrak, tak kasat mata—ia meyakini bahwa filantropi takkan membuat hartanya berkurang sedikitpun. Bahkan ia menetakkan filantropi adalah solusi atas setiap permasalahannya. Membuat hartanya kian banyak dari hari ke hari.

Ada kisah pembuktian sebuah filantropi seorang kawan. Ia mempunyai anak yang sedang mondok di pesantren. Jauh dari rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar anaknya sakit tipus dan harus dirawat di rumah sakit.

Pada saat yang hampir bersamaan, motornya yang diparkir oleh istrinya di depan rumah untuk ditinggal sebentar sholat Maghrib, hilang. Lenyap dicuri. Dan ia mendengar dari pegawainya kalau STNK (surat tanda nomor kendaraan) mobil yang biasa disewakannya hilang. Sudah jatuh tertimpa tangga tertusuk duri. Tiga cobaan menghentakkannya.

Segeralah ia pergi ke pesantren menjemput anaknya untuk dirawat. Kebetulan uang yang dibawa tidaklah banyak. Sebelumnya ia bertekad untuk menyisihkan sebagian uang yang ada untuk diberikan kepada yang membutuhkannya. Ekspresi kefilantropisannya. Walau dera tak kunjung reda.

Dengan nalar kemanusiawiaannya, sudah barang tentu adalah sesuatu yang wajar jika ekspresi itu ditinggalkan sejenak. Pun ia dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk berbagi. Tapi ia tidak. Bahkan saat yang sempit adalah sebuah bukti keimanan untuk ditunjukkan. Bukan disembunyikan di balik iba. Saat lapang dan mampu adalah saat yang biasa, wajar, dan tak aneh.

Apa yang terjadi setelahnya?

Sepulangnya dari perjalanan yang jauh hingga memakan waktu kerjanya itu, ia mendengar kabar kalau anaknya sudah mulai membaik. Lalu motornya yang hilang akan diganti dengan yang baru oleh dealer, segera. STNK-nya yang lenyap telah ditemukan oleh seseorang. Itu diketahui dari temannya yang kebetulan mendengarkan pengumuman di sebuah radio.

Sebuah kedermawanan menyelesaikan tiga masalahnya sekaligus, tidak pakai lama-lama. Banyak kisah yang mirip seperti ini. Tak bisa dihitung dengan jari. Masih meragukannya?

Hideyoshi tak sereligius Anda, ia tak meragukannya.

 

***

Bahan Bacaan:

The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad VXI, Kitamo Masao, Edited by: Tim Clark

 

Salam filantropi untuk rekan-rekan penulis buku Berkah DJP: Rosafiati Unik Wahyuni,  Kholid, Tang Dewi Sumawati,  Tommy, Marihot Pahala Siahaan, Irwan Aribowo , Dadi Gunadi, Eko Yudha Sulistijono, Tjandra Prihandono, Rini Raudhah Mastika Sari , Agus Suharsono,  Andy Prijanto, Ani Murtini, Raden Huddy Santiadji Musiawan Murharjanto, Rony Hermawan, Martin Purnama Putra , Teguh Budiono, Sri Sulton, Yunita, Windy Ariestanti Hera Supraba,  Yeni Suriany, Ari Saptono, Yusep Rahmat, Joko Susanto, Jeffry Martino, Eli Nafsiah , Desi Sulistiyawati , Atjep Amri Wahyudi , Muhammad Halik Amin, Sandi Syahrul Winata , Afan Nur Denta , Prasetyo Aji , Ari Pardono, Suwandi, Nufransa Wira Sakti, Agus Dwi Putra, Hendro Kusumo , Abdul Hofir, Sarbono, Yacob Yahya, Abdul Gani, Oji Saeroji , Ninoy Estimaria , Tutik Tri Setiyawati, Windhy Puspitadewi , Himawan Sutanto

 

 

Diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/27/filantropi/

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12:39 27 Desember 2010

[CATATAN SENIN KAMIS]: TELEPON UMUM


[CATATAN SENIN KAMIS]: TELEPON UMUM

Rasanya aneh setelah sekian lama tidak menggenggam gagang telepon umum. Lima hingga delapan tahunan lebih sepertinya. Dan gayanya seperti itu-itu saja. Ada kotak besar. Ada celah sempit untuk memasukkan uang logaman 500-an. Ada celah besar untuk koin yang tak terpakai. Kumpulan tombol angka. Layar untuk menampilkan jumlah uang dan nomor telepon yang dituju. Gagang telepon dengan kabel ulir berwarna perak. Warna biru mendominasi kotak, kubah atas, dan tiangnya.

    Dua uang recehan saya masukkan. Terlihat angka 1000 di layar. Saya mencoba untuk menekan tombol nomor handphone (hp) tujuan. Tapi cuma tiga angka yang muncul. Selanjutnya di layar tidak ada gerakan apa-apa. Saya mencoba bertanya kepada dua anak SMU yang sedang berdiri di kotak sebelah.

    “Teh, telepon umum ini tidak bisa ke handphone yah?”

    “Enggak bisa Bang, kalau warnanya biru tidak bisa,” jawab salah satunya.

    “Maksudnya?”

    “Iya, kalau warna kotaknya oranye baru bisa menelepon ke hp, kalau yang biru enggak bisa.”

    Dan saya melihat tidak ada yang berwarna oranye di jejeran telepon umum Stasiun Citayam ini. Saya baru “ngeh” kalau ada perbedaan-perbedaan seperti itu. Perkiraan saya yang semula bahwa telepon umum sekarang sudah canggih sehingga bisa menelepon kemana saja ternyata salah.

    Tapi ya itu tadi. Sudah lama sekali saya tidak menggenggam gagang telepon umum, karena sejak lama telah tergantikan perannya dengan hp. Saya jadi teringat pada waktu era kejayaan telepon umum di tahun 90-an. Orang antri saat menelepon. Panjang berderet-deret. Apalagi kalau malam minggu, tambah panjang lagi antriannya. Sampai-sampai ada tulisan di atas kotak telepon itu,” Bicara Secukupnya.” Yang tak peduli, biasanya akan mendapat deheman sampai gerutuan dari orang yang dibelakangnya.

    Seiring dengan berjalannya waktu, aksi vandalisme pun menghiasi tempat-tempat di mana telepon umum berada. Mulai coretan nomor telepon “panggil aku”, iklan pijat, cacian jorok, perusakan, sampai mancing pulsa dengan uang logam yang diikat benang. Banyak pula telepon umum yang tak berfungsi.

    Bagi yang tidak mau antri dan pembicaraannya didengar orang lain serta bisa berlama-lama menelepon, Warung Telekomunikasi (Wartel) bisa menjadi solusi. Walaupun masih juga terjadi antrian jika wartel di daerah itu terbatas dan ramai banget. Pada saat itu wartel menjadi alternatif berinvestasi bagi pengusaha kecil. Maka wartel pun tumbuh berkembang bak cendawan di musim hujan.

    Antrian di telepon umum, ramainya wartel, dan kebutuhan untuk selalu berkomunikasi pada masa itu menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi di saat Telkom tidak mampu memenuhi permintaan masyarakat untuk memberikan sambungan tetap. Apalagi regulasi pertelekomunikasian masih memperkenankan Telkom buat memonopoli bisnis menggiurkan itu.

    Masih diingat, bagaimana perlu waktu yang lama untuk bisa mendapatkan nomor sambungan tetap. Dan sepertinya masyarakat rela untuk antri berjam-jam demi mendapatkan nomor itu. Nomor telepon rumah sepertinya menjadi sebuah alat untuk eksistensi diri bagi masyarakat pedesaan yang agraris dan perkotaan yang baru tumbuh. Atau hanya untuk mendapatkan fasilitas kredit.

    Yang mau cepat untuk mendapatkan nomor telepon rumah, ada juga masyarakat yang beralih ke penyedia layanan telekomunikasi lainnya—perusahaan ini pun harus menjadi partner bagi Telkom—tapi sayang kualitasnya buruk. Karena sinyal telekomunikasi tidak melalui jaringan kabel melainkan melalui jaringan wireless dengan antena khusus sebagai penerima sinyal radionya.

    Zaman berubah. Regulasi berubah. Monopoli Telkom pun dicabut. Berbondong-bondong perusahaan telekomunikasi tanpa kabel melalui jaringan GSM (Global System for Mobile Communications) dan CDMA (Code Division Multiple Access) datang ke Indonesia. Produsen hp dunia pun menjadikan Indonesia sebagai salah satu pangsa pasar yang menggiurkan.

    Kemunculan pertama kalinya ditandai dengan masih mahalnya hp dan nomornya. Bagaimana SIM Card masih menjadi barang yang tak terjangkau. Di sekitar tahun 2000 nomor biasa saja dijual dengan harga 500-ribuan apalagi dengan nomor cantiknya.

Di tahun-tahun sebelumnya hp hanya menjadi tontonan yang ada di sinetron-sinetron Indonesia atau film-film hongkong. Itupun bentuknya seperti balok kayu seukuran setengah lengan orang dewasa. Cukup untuk menimpuk anjing sampai terkaing-kaing.

Yang masih hanya bisa bermimpi mendapatkan hp, pelipur laranya adalah pager. Semacam alat untuk menerima pesan tertulis (SMS). Untuk mengirim pesan ke nomor pager yang lain perlu menelepon operatornya terlebih dahulu. Tidak praktis. Terbukti kemunculan penyedia jasa layanan ini tidak bertahan lama.

Sekarang hp murahnya minta ampun. Nomornya apalagi. Noceng (Rp2000,00) juga sudah dapat. Gratis malah kalau kita beli sekalian hp-nya. Dan bagaimana dengan telepon umum, wartel, wireless phone, pager? Ada yang masih bertahan dan juga lenyap sama sekali digilas perkembangan teknologi dan ketatnya persaingan dari para operator telekomunikasi.

Pager hilang ditelan bumi. Telepon umum masih di beberapa tempat. Kebanyakan sudah menjadi rongsokan. Wireless phone mati perkembangannya. Wartel rontok satu demi satu terkecuali di pedesaan yang menara BTS (Base Transceiver Station) operator seluler-nya belum berdiri. Telepon rumah? Sudah jadi onggokan yang jarang dipakai di rumah. Telkom sekarang sudah tak acap menawarkan sambungan tetapnya, yang ada hanya tawaran kepada para pelanggan tetap untuk ikut dalam program sambungan internet dan jaringan CDMA-nya.

Memang sesuatu yang stagnan tidak akan abadi. Ia akan kalah. Itu takdirnya. Untuk memenangkannya adalah pada inovasi yang mendarah daging di setiap karya. Telkom masih tetap eksis hingga kini karena inovasi pada produk layanannya. Sahamnya tetap menjadi blue chip. Ratelindo tak mau untuk mengulangi kegagalannya di masa lalu dengan bertiwikrama menjadi Esia.

Inovasi berpijak pada kemauan dan kemampuan untuk berkembang diri. Dengan kerja keras tentunya. Ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang tak bisa ditinggalkan. Inovasi dan ilmu pengetahuan adalah kepingan yang berkelindan. Tak bisa dipisahkan.

Seharusnya demikianlah pula saya, hingga tak ketinggalan zaman untuk mengikuti perkembangan dari tidak berkembangnya telepon umum. Maka tak perlu untuk menanyakan itu kepada dua anak SMU kiranya saya mengetahui.

“Bang…nih koinnya ketinggalan,” tegur anak SMU itu dari kejauhan.

“Ambil saja…!”

***

Thanks banget buat teman-teman Banding dan Gugatan 2, Direktorat Keberatan dan Banding: AA Yoga, Arya, Rifun, Ipung, Indra Gunawan, Mas Dibjo, Unesa-ja, Kang Awe, Nona Avrida Rombe, Leyjun, Mbak Ana, Mas Bayu, Uda Zai, 3S (Mas Suroto, Sapto, Safar), Chris, TP (Teguh Pambudi), Mbak Dian Angraeni, Elvina, Bro Ton, mas Adiprasetyo, Daeng Idham Ismail, Mas Faisal, AA Widi, AA Iman, AA Heru.

 

 

CATATAN SENIN KAMIS untuk Forum Diskusi Portal DJP

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:05 20 Desember 2010

    
 

 

 

 

 

    
 

    

Yth. Bro and Sist…


 

Yth. Bro and sist semua

di manapun berada.

 

Bro and Sist…apa kabar pagi ini? Saya harap bro and sist semua baik-baik saja. Sehat semuanya. Jasmani dan ruhaninya. Bangun tidur tadi pagi dengan penuh semangat dan keceriaan. Walaupun pahitnya hidup masih dirasa di pelupuk mata, tapi anggaplah itu sebagai pelangi agar hidup kita terasa lebih berwarna. Yang tak punya problema hidup berat, bersyukurlah ternyata Tuhan masih banyak memberikan kepada kita nikmat yang lebih daripada yang masih tidur di kolong-kolong jembatan itu.

Bro and sist…saya mau cerita nih. Saya harap cerita ini bermanfaat buat kita semua. Cerita ini teramat menggugah saya. Dikisahkan dari teman baru saya yang berasal dari Sidoarjo sana. Kurang lebihnya begini ceritanya bro and sist.

Ada tiga orang terpidana mati. Mereka akan dihukum mati malam ini. Caranya? Mereka akan dimasukkan ke dalam kotak sempit dan gelap. Dari celah sempit yang sengaja dibuat di kotak itu terjulur ke luar selang seukuran jempol manusia.

Sebelum mereka dimasukkan, algojo membisikkan sesuatu kepada mereka, “kamu akan dijebloskan ke dalam kotak itu dan saya akan alirkan gas beracun itu pelan-pelan ke dalamnya, lalu kamu akan mati perlahan-lahan.”

Apa yang terjadi bro and sist dengan ketiga terpidana mati itu? Keesokan paginya, saat kotak itu dibuka, dua orang mati sedangkan satu lainnya sekarat. Padahal, bro and sist, tidak ada sedikitpun gas beracun yang dialirkan ke dalam kotak itu. Lalu mengapa mereka mati? Pikiran mereka yang menyakiti dan membunuh mereka sendiri.

Begitulah bro and sist, di saat pikiran kita telah tertanam sesuatu yang negatif maka pikiran dalam otak yang ada di batok kepala kita itu mengirimkan sinyal-sinyal negatif dan mematikan kepada seluruh anggota tubuh.

Otak dengan sinyal-sinyal elektriknya akan memerintahkan kaki untuk tidak bergerak, darah untuk berhenti mengalir, jantung untuk stop berdenyut, dan seluruh tubuh untuk menjadi pecundang. Mati. Maka matilah ia.

Bro and sist, yang dibutuhkan seorang karateka, petinju, pesepak bola, pegolf, pesilat, pedayung, petenis meja, atau olahragawan lainnya selain dari keahlian teknis yang harus dikuasai untuk memenangkan pertandingan maka kekuatan mental juara harus dimiliki oleh mereka. Pantang menyerah sebelum bertanding. Pantang ada kata “kalah” dalam pikirannya.

Karena jika “kalah” itu sudah menjadi penguasa dalam pikirannya maka otak akan memerintahkan kaki, tangan, siku, lutut, dan organ tubuh lainnya untuk diam, kalah, takluk, ambau, tumbang, dan tunduk. Ia menjadi pecundang.

Bro and sist, itulah yang namanya kekuatan berpikir. Dan betullah apa yang telah dikatakan teladan kita, Muhammad saw, kalau Tuhan itu tergantung dari prasangka hamba-Nya. Kalau hambanya ketika bangun tidur sudah pesimis duluan dalam menghadapi hidup maka ia seharian itu seakan mempunyai dunia yang seolah neraka. Tak memberinya kebahagian. Yang ada hanyalah kesengsaraan dan kepedihan.

Kalau hamba-Nya di saat berdoa tak mempunyai keyakinan untuk dikabulkan doanya, ya sudah Tuhan juga tak perlu untuk mengabulkan doa hamba-Nya itu. Begitupula sebaliknya.

Pun, kalimat yang terlontar dari lidahnya pada saat menjenguk orang yang sakit adalah kalimat-kalimat positif yang mengandung kekuatan luar biasa. Laa ba’tsa, thohurun, Insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.

Bro and sist…membaca cerita itu saya jadi malu kepada diri sendiri. Terlalu banyak nikmat yang diberikan kepada saya tetapi saya begini-begini bae. Maksudnya kalau dilihat dari grafik naik atau turunnya iman, kayaknya degradasinya terlalu tajam. Bro and sist bagaimana? Saya harap tidak lah yah…

Bro and sist… orang yang terbaik di antara kita bukanlah orang yang selalu benar, tetapi yang terbaik adalah orang yang ketika ia salah ia lalu menyadari kesalahannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Itulah yang terbaik di antara kita. Dan tentunya ada sebuah asa dari saya kalau bro and sist lebih baik daripada saya.

Bro and sist…kembali kepada masalah kekuatan berpikir itu, maka kita hendaknya selalu bertekad untuk memenuhi hidup kita dengan sebuah keyakinan yang positif, positif, dan positif. Yah…minimal ketika bangun dari tidur kita berpikir seperti ini:

Kalau ada hutang yang menumpuk, ah…yakin suatu saat pasti terbayar. Insya Allah.

Jika ada sakit yang menyeri tak tertahankan, ah…yakin hari ini juga akan sembuh. Insya Allah.

Andaikata ada beban pekerjaan yang teramat sulit, ah…yakin hari ini dimudahkan. Insya Allah.

Jikalau ada cinta yang tertolak, ah…yakin hari ini cinta itu baru, datang, dan kembali. Insya Allah.

Andaikan ada hati yang tersakiti, ah…yakin pintu maaf itu akan terbuka lebar darinya. Insya Allah.

Kalau-kalau ada rezeki yang tak kunjung datang, seperti IPK (imbalan prestasi kerja) misalnya, ah…yakin rezeki itu tak akan lari ke mana. Insya Allah.

Semampang ada penyejuk mata yang tak kunjung hadir untuk menghibur kita, ah…yakin purnama depan ada bulan yang terlambat datang menjemput kita atau pasangan kita. Insya Allah.

Semisal jabatan tak kunjung naik, ah…yakin ada yang lebih baik daripada sekadar itu. Insya Allah.

Senyampang kita tak kunjung berkumpul dengan keluarga karena bertugas nun jauh di sana, ah…yakin kita bisa berhimpun dengan mereka besok. Insya Allah.

Seumpama ada hasil ujian yang mengecewakan, ah…yakinlah tahun depan kita lulus dan masuk menjadi peserta yang terbaik. Insya Allah.

Sekiranya ada begitu banyak cita yang belum terwujud sedemikian rupa, ah yakinlah semua itu akan terjadi untuk kita semua besok. Insya Allah.

Ihwalnya adalah sudahkah kita meminta semua itu kepada Tuhan? Sudahkah dengan sebuah keyakinan yang teramat positif?

Bila dua pertanyaan itu terjawab dengan satu kata lima huruf “sudah”, yakinlah semua itu tinggal menunggu waktu.

Dengan izin Allah, Bro and Sist…

***

Artikel ini khusus saya persembahkan buat teman-teman milis dedaunan (pajak.go.id). Tidak saya unggah di manapun sebelum bro and sist menikmatinya terlebih dahulu.

Herlin Sulismiyarti ; HARTYASTUTI ; Harsoyo ; GANUNG HARNAWA ; Fee ; Euis Purnama Sari ; Erwinsyah ; Erwan ; Ervan.Budianto ; Erni Nurdiana ; ERIN FADILASARI ; Erfan ; ENI SUSILOWATI ; EMMA KATANINGRUM ; ELDES GINA KENCANAWATI MARBUN SS ; Dina LestariDian Rahmawati ; DEWI DAMAYANTI ; DEWI ANDRIANI ; DESIANA WITIANINGTYAS ; DESI PURBI MULYANI ; CUCU SRI RAHAYU BOTUTIHE ; Binanto Suryono ; Ayu Diah Rahmayati ; Awik Setyaningsih ; Ardiana ; ANTON RUKMANA ; ANIK NOERDIANINGSIH ; ANANG ANGGARJITO ; AMRAN ; ALIYAH ; AL MUKMIN ; Agus Budihardjo ; Agung.Susanto ; Ade Hasan Pahru Roji ; Abdul Manan L. L. M. ; 060089104-MOHAMMAD SUROTO ; BUDI UTOMO

ZAKKI ASYHARI ; UJANG SOBARI ; UHA INDIBA DRS ; TUJANAWATI ; TRI SATYA HADI ; Tosirin ; Tjandra Risnandar ; Titik Minarti ; Tintan Dewiyana ; SULISTIYOWATI ; SITI NURAINI ; Setyo.Harini ; RULI KUSHENDRAYU ; ROOS.YULINAPATRIANINGSIH; RINA FEBRIANA SITEPU ; RIMON DOMIYAN ; Ratna Marlina ; Nugroho Putu Warsito ; NANA DIANA ; NADY SAPUTRA ; LISTYA RINDRAWARDHANI ; LIA YULIANI ; LAYLI SULISTIORINI ; Larisman Gaja ; KHURIAH NUR AZIZAH ; Khadijah ; Ita Dyah Nursanti ; IRMA HANDAYANI ; INDRIA SARI ; IMAMUDDIN HAKIM ; Ikaring Tyas Aseaningrum ; Ibu Leli Listianawati ; Ibu Mona Junita Nasution; HERRI RAKHMAT SE.AK ; HERPRANOTO ; ROSVITA WARDHANI

 

 

Tags: muhammad, ipk, imbalan prestasi kerja, hukuman mati, terpidana mati

 

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

07.59 16 Desember 2010

 

 

 

MANUSIA LENGKAP


MANUSIA LENGKAP

Sore ini saya terperangah dengan banyaknya buku yang teramat menarik di rak-rak itu. Judul-judul yang terpampang di sampulnya menggoda saya untuk membelinya. Sungguh, kalau saja saya tak mengingat betapa banyak yang harus dibeli untuk si Bungsu, saya akan borong itu buku.

    Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di toko buku terkenal ini. Dan sekali datang sungguh langsung menyesakkan dada kalau saya tak sanggup untuk membeli semua buku yang diincar. Saya pikir saya harus punya target untuk dapat memilikinya. Dengan mencicil satu dua buku di setiap bulan misalnya.

    Ah, kalau saja saya tak mengingat waktu yang ada, tentu saja saya akan berlama-lama di sana hingga toko itu tutup. Membaca dan banyak membaca. Hingga dahaga akan ilmu itu terpuaskan. Bukannya sok pintar atau dianggap berilmu, tapi itu memang sudah menjadi kebutuhan. Minimal saat buku itu termiliki, keberadaannya dapat mengusir bosan ketika naik kereta rek listrik. Lebih berguna daripada sekadar menebak-nebak tak karuan berapa lama lagi kereta ini sampai di stasiun terdekat.

    Banyak buku yang ingin saya miliki. Temanya juga banyak. Tentang dunia perwayangan beserta tokoh-tokohnya. Ini gara-gara “racun” Gunawan Mohammad dalam catatan pinggirnya yang banyak mengisahkan jagat para dewa dan ksatria itu.

Tema tentang sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pun menarik minat saya. Terutama berkaitan dengan Mataram Islam dan format mutakhirnya yang terpecah menjadi empat, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Ada lagi buku bagus lagi, tapi harganya tak kira-kira. Atlas Perang Salib, Fikih Jihad Syaikh Yusuf al-Qaradhawy, Antara Mekkah & Madinah harganya di atas rongatus ewuan (dua ratus ribuan). Hanya Kitab Shalat Fikih Empat Mazhab yang harganya di bawah itu.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku yang tidak saya bidik. Tapi membeli buku yang kebetulan sempat tertangkap oleh mata. Bukunya Jonru—pegiat Forum Lingkar Pena pastinya sudah tahu tentang orang yang satu ini. Buku berjudul Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat itu menarik perhatian saya. Kayaknya renyah untuk disantap otak saya. Ringan dan gurih. Enggak perlu mikir banyak. Itu konklusi sementara saya.

Tidak berhenti di situ. Sebelum meninggalkan toko buku itu, saya sempatkan diri ke bagian buku murah. Yang kisaran harganya mulai dari goceng (lima ribu rupiah) sampai ceban-go (15 ribu rupiah). Ternyata…wow. Bagus-bagus banget. Tebal-tebal lagi. Terutama novel-novel terbitan Penerbit Hikmah.

Suer…kalau enggak ingat Kinan, saya ambil semua. Saking bingungnya saya sempat lama mikir. Buku mana yang harus dipilih. Tentu ada kriterianya. Buku yang benar-benar bisa habis dibaca. Selain itu. No way…nanti saja!

Pilihan itu jatuh pada dua buku ini. Laskar Pelangi The Phenomenon, buku yang sempat saya idam-idamkan tapi tidak jadi dibeli karena relatif mahal pada waktu itu. Yang kedua adalah Evo Morales:
Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika. Terus terang saja, buku murah itu kondisinya bagus sekali. Masih dalam plastik. Bukunya Jonru saja masih kalah—tidak dibungkus plastik.

Tiga buku murah lainnya yang bercerita tentang Blackberry, Facebook, dan Google saya abaikan. “Lain kali saya akan beli kalian,” pikir saya dengan tekad membaja dan semangat 45. Maklum duit di dompet cuma tinggal 14 ribu rupiah. Mepet banget untuk sampai ke rumah.

Di sepanjang perjalanan saya gelisah, karena tak sabar untuk segera membaca ketiga buku yang saya beli itu. Lebih gelisah lagi karena saya ingin membagi perasaan saya ini kepada Anda semua Pembaca. Oleh karenanya saya tulis ini untuk Anda.

Teringat dengan ucapan Francois Bacon—membaca menciptakan manusia lengkap—saya menginginkan Anda untuk banyak membaca. Saya juga. Membaca adalah langkah awal untuk menulis. Pun, dengan itu kita akan merasa betapa ilmu yang kita miliki teramatlah sedikit. Sedikit sekali…

Ayo…membaca.

***

 

Tags: facebook, google, blackberry, penerbit hikmah, francois bacon, goenawan mohamad, catatan pinggir, evo morales, jonru, jonriah ukur, laskar pelangi, laskar pelangi the phenomenon, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, Praja Mangkunegaran, forum lingkar pena, flp, yusuf al qaradhawy

diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/11/manusia-lengkap/

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad bukan malam panjang

21.17 11 Desember 2010