KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK


KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK

 

Hari sudah semakin sore, jum’at (29/4) itu rekonsiliasi dengan Pemohon Banding di gedung Pengadilan Pajak belumlah usai seluruhnya. Kami hanya dapat menyelesaikan untuk satu sengketa pajak saja mengenai objek-objek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23.

Kami sepakat untuk melanjutkannya di pekan yang akan datang. Tentunya bagi tim kami, yang penting ada panggilan dari Pengadilan Pajak, kalau tidak ada itu kami tidak akan datang. Jangan dilupakan, kami tidak akan datang juga walau sudah ada panggilan kalau tidak ada surat tugas dari direktur kami. Ini semata-mata agar kami tidak dianggap sebagai petugas banding liar dan tetap dalam kerangka melaksanakan tugas negara—bukan tugas pribadi.

Saya bergegas menuju Jalan Senen Raya untuk menghadang Bus Jurusan Senen Cimone yang melewati Stasiun Gambir—karena dari sana saya akan pulang naik kereta rel listrik (KRL). Untuk menghentikan bus itu saya harus menunggu lama di seberang Hotel Oasis Amir. Bisa saja saya naik bajaj atau ojek motor atau juga naik taksi. Tapi pilihan itu akan saya ambil jika waktunya mepet dengan jadwal KRL yang saya naiki. Dan untuk hari itu waktu yang saya miliki masih banyak.

Kemudian tak sengaja mata saya melihat gedung tinggi di ujung sana. Tempat Pengadilan Pajak berada. Saya sempatkan untuk mengambil gambarnya dengan menggunakan kamera hp.

Gedung bercat putih itu adalah Gedung Dhanaphala. Di sana selain Pengadilan Pajak adalah tempat berkantornya para pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.

Bus itu tiba dan tak sampai 10 menit sampai di depan Stasiun Gambir. Sesampainya di stasiun itu segera saya beli tiket dan naik ke lantai 1. Saya mencari tempat duduk di sana. Tak biasanya saya demikian. Di hari-hari sebelumnya kalau sudah beli tiket saya langsung naik ke lantai dua dan menunggu KRL datang di peron 3-4.

Saya pikir waktunya masih lama dan pasti akan ada pemberitahuan kalau KRL Pakuan Ekspress itu tiba di Stasiun Gambir dari Stasiun Kota. Makanya saya santai saja duduk-duduk di bangku lantai 1. Ada sekitar 20 menit saya di sana. Untuk sekadar menelepon, sms-an, dan tentunya melihat Monas dari kejauhan. Sepertinya emas yang ada dipuncaknya itu tak berkurang satu gram pun.

Ketika ada pengumuman bahwa KRL Pakuan datang, saya segera naik ke lantai 2 dengan santainya. Eh, pas betul, setibanya di atas, KRL Pakuan itu sudah nongkrong di jalur 3 dengan pintu yang sudah tertutup dan kemudian berangkat lagi. Saya gigit jari. Saya ketinggalan kereta. Tega nian KRL itu untuk tidak membuka pintunya barang sejenak agar saya bisa ikut dengannya.

Aneh, seharusnya pengumuman kedatangan KRL diberitahukan sebelum KRLnya datang di Stasiun Gambir bukan? Atau pada saat KRL sudah berangkat dari stasiun terdekat. Nah, ini benar-benar tidak ada. Tiba-tiba diumumkan kalau KRLnya sudah tiba di jalur 3. Atau sebenarnya ini salah saya? Seharusnya pula kalau sudah tahu jadwalnya jam segitu ya segera naik ke atas. Tak perlu tunggu pengumuman. Nanti akan alasan begini: “Memangnya jadwal KRL selama ini tepat waktu?” Ya sudahlah akan banyak argumentasi yang muncul.

KRL ini memang tidak berhenti di Stasiun Citayam tetapi ia berhenti di Stasiun Bojonggede. Dari sana saya harus menunggu KRL arah baliknya yang menuju ke Jakarta untuk nantinya turun di Stasiun Citayam.

Keterlambatan ini harus ditebus dengan 20 menit menunggu kereta berikutnya. Apalagi sore itu Stasiun Gambir sudah mulai penuh karena banyaknya pemakai jasa kereta api yang ingin pulang kampung. Maklum akhir pekan. Jadi suasananya tambah semrawut.

Eh, kekecewaan ini terobati juga. Dari pengumuman yang ada, KRL berikutnya itu bisa berhenti di Stasiun Citayam. Jadi tak perlu harus ke Stasiun Bojonggede dan balik lagi. Dan betul ketika sampai di Stasiun Citayam waktu tibanya tidak berbeda jauh bila naik KRL yang meninggalkan saya itu. Hmm…

Saya kembali memikirkan sesuatu. Hingga pada sebuah ujung bahwa seringkali kita menyesali dan merutuki nasib karena sesuatu yang diharapkan lepas dari tangan kita. Padahal Allah sudah menggariskan kalau memang yang diharapkan itu bukan untuk kita, bisa jadi karena tidak baik untuk kehidupan kita di dunia atau setelahnya. Pun, karena Allah sudah mempersiapkan yang lain lagi sebagai penggantinya, bahkan lebih baik.

Sore itu saya mendapatkan yang terakhir.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

bahagia ditemani sepanjang perjalanan

10.40 01 Mei 2011

 

Tags: pengadilan pajak, senen raya, hotel oasis amir, Cimone, kereta rel listrik, gambir, citayam, bojonggede, pajak penghasilan pasal 23, pakuan, jakarta, gedung dhanapala, direktorat jenderal anggaran, departemen keuangan,

 

SIGAP TERHADAP AIB, GAGAP TERHADAP KELEBIHAN


SIGAP TERHADAP AIB, GAGAP TERHADAP KELEBIHAN

By: Riza Almanfaluthi

        

IslamediaKetika saya ditanya seorang teman tentang tiga kelemahan dirinya, saya dengan cepat dan sigap menyebutnya satu persatu. Tetapi ketika kemudian saya ditanya lagi tentang tiga kelebihan dirinya, maka mulut saya seperti Aziz Gagap. Ehhhh…ehhhh…Lola. Loading Lambat. Berpikirnya lama. Sambil bertanya-tanya, “apa ya?”

    Jelas sudah, ini tabiat manusia. Kalau dengan kelemahan, keburukan atau aib seseorang pikiran kita dengan cepat mengumpulkan informasi itu. Atau sebenarnya memori terdalam kita sudah lama menjumput semua kelemahan-kelemahan orang lain seperti kita mengukir di atas batu. Tetapi jika dengan kebaikan seseorang kita mudah untuk melupakannya seperti menulis di atas air.

    Padahal di saat kita menimbang-nimbang kelemahan orang lain, sudah menunggu begitu banyak kelemahan diri yang perlu untuk dihitung-hitung. Inilah yang sering diungkap dalam sebuah pepatah yang mengatakan, “semut di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Maka sebenarnya jika diri kita mampu untuk mengevaluasi diri, tidaklah akan sempat kita untuk menghitung-hitung dan mencari-cari kelemahan atau aib orang lain. Pun karena takut, kalau-kalau Allah akan mengungkap aib kita kelak. Tidak hanya itu, Al Qarni dalam sebuah ungkapan menyebutkan bahwa evaluasi diri mampu menjadikan harapan kita kepada orang lain lebih seimbang (tak berlebihan) dan membuat kita menjadi simpatik kepada orang yang berbuat kesalahan.

    Setiap orang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Itu sudah pasti. Dan untuk menjadi timbangan penilaian adalah sebanyak apapun kelebihan seseorang tetaplah ia bukan malaikat yang tak pernah berbuat kesalahan. Saat melihat kelemahannya maka kita memaklumi bahwa Ia hanya manusia yang tak sempurna, tempatnya lalai dan dosa.

Atau dengan kata lain, dengan ukuran apa seseorang itu sudah dapat disebut sebagai orang yang baik atau orang yang buruk. Tentu ukurannya adalah sejauh mana banyaknya kebaikan itu dapat menutupi keburukannya atau sebaliknya. Contohnya Kita lihat pada sosok yang satu ini.

Sosok Hajjaj bin Yusuf. Ia yang telah mengalungkan kepada Anas bin Malik—ahli hadits dan sahabat nabi terkemuka—dengan sebutan yang sangat menghina. Lebih sadis lagi adalah apa yang pernah ia lakukan beberapa tahun sebelumnya dengan mengirim kepala Abdullah bin Zubair di atas nampan kepada junjungannya, Abdul Malik bin Marwan, yang berada di Damaskus.

Tangan yang berlumuran darah dan membersitkan amisnya itu tak mampu menahan mantan kepala sekolah di Thaif ini untuk mengambil peran dalam kejayaan tamadun Bani Umayyah. Reformasi ortografinya berupa pengembangan tanda baca untuk menghindari kesalahan dalam membaca Alqur’an menjadikannya monumental. Apakah kebaikannya lebih dikenal daripada keburukannya? Sudah barang tentu kekejian dan kesadisannya lebih dikenal daripada peran pentingnya itu.

Seseorang ulama yang sudah dikenal dengan pengabdiannya kepada umat, buku-bukunya yang sudah tersebar ke seantoro dunia, kelurusan akidah serta moderatnya dalam fikih yang sudah diakui pula, ketika melakukan satu kesalahan—bisa jadi berawal dari perbedaan pendapat dalam ijtihad yang diambil—apakah itu akan menghancurkan dan menutupi seluruh kebaikannya untuk umat itu? Tidak, sungguh tidak adil jika kita mengabaikannya. Kesalahan—jika masih disebut seperti itu—yang dilakukannya malah membuktikan bahwa dia adalah manusia yang tak sempurna.

Tinggal bagaimana saudara seakidahnya ini dapat menutupi aib yang ada atau memberikan pemakluman kepada ulama itu. Karena masih ada 999 alasan lainnya untuk kita berlapang dada dengan kelemahan yang dimilikinya.

Saya teringat perkataan salah satu orang besar dunia, “Lupakan kesalahan orang lain seperti kita melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan dan jangan pernah untuk melupakan kebaikan orang lain.”

“Ayo cepat, sebutkan segera tiga kelebihan saya untuk diisi dalam formulir ini,” tanya teman saya lagi.

“Ee…eh,” saya masih saja tergagap-gagap.

Dasar.

 

***

Riza Almanfaluthi

ditulis untuk Islamedia

dedaunan di ranting cemara

Lantai 9 Pengadilan Pajak

10.42 21 April 2011

 

http://www.islamedia.web.id/2011/04/sigap-terhadap-aib-gagap-terhadap.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

METAFORA DAN SIMILE


METAFORA DAN SIMILE

 

Saat ini, hujan menangis di bahuku, aku basah dengan cinta…

“Metafora yang ciamik…”

“Salah itu bukan metafora, tapi personifikasi”.

“Oh kalimat di atas bukan metafora yah…lalu?”

“Metafora seperti yang akan saya uraikan di bawah.”

*

Ketika kita membaca ungkapan berteman bagaikan sumur atau berteman bagaikan laut atau wajahmu secantik bulan purnama
apakah
ini juga
metafora? Bukan, ini pun bukan metafora, hampir mirip memang dengan metafora. Lalu seperti apa metafora?

***

Waktu belajar bahasa Indonesia di sekolah dulu sering kali kita diajarkan tentang apa itu metafora yakni pemakaian kata bukan dalam bentuk sebenarnya. Mengutip dalam bukunya Robert A Harris yang berjudul A Handbook of Rhetorical Devices, Harry Surjadi—mantan wartawan Kompas—mengemukakan bahwa metafora adalah salah satu bentuk retorika berbahasa.

Saya menyukai metafora. Dengan sangat. Apalagi Aristoteles sampai mengatakan: “hal yang paling luar biasa sejauh ini adalah menjadi penguasa metafora.” Maka benarlah apa yang disebutkan dalam makalah Harry bahwa manfaat penggunaan metafora adalah antara lain membuat lebih hidup bahasa yang sering kita pakai dalam keseharian, mendorong banyak interpretasi, lebih efisien dan ekonomis, menciptakan arti baru, serta menunjukkan kecerdasan.

Saya akan tunjukkan contoh metafora yang ada dalam beberapa paragraf berikut ini.

Kau berjalan di pematang sawah pada pagi yang berkabut  tipis. Dan aku menunggumu di saung yang meraung kesepian  di ujungnya. Lalu kita sama-sama mematut-matut diri pada nasib yang membuat kita berjarak pada nyatanya. Kita membunuh waktu dengan celotehan tentang apa saja yang membahagiakan masing-masing.

Sampai kita lupa pada burung-burung yang tiba-tiba saja hadir menemani tapi untuk urusannya mereka sendiri. Hanya mengambil satu dua bulir padi yang siap untuk dipanen. Kita pun tidak rela, hingga kau mengayunkan tali untuk menggerakan orang-orangan sawah untuk menakut-nakuti mereka. Aku melihatmu. Aku memperhatikanmu.

Dan setiap  gerak itu, yang hanya terlihat di mataku adalah sebuah simfoni. Karena tawamu adalah bunyi biola yang mengindahkan semuanya. Senyummu adalah dentingan gitar yang terpetik mengiringinya. Matamu adalah piano orkestra yang menjadi instrumentalia pembuka. Sungguh, saat itu yang aku inginkan adalah waktu menjadi beku. Menjadi tawananku untuk tak lari menghindar. Aku hanya ingin  melihatmu melakukan apa saja di saung itu. Dan aku cukup dengan melihatmu saja. Aku sudah bahagia. *1)

Lihat pada kalimat: “Karena tawamu adalah bunyi biola yang mengindahkan semuanya. Senyummu adalah dentingan gitar yang terpetik mengiringinya. Matamu adalah piano orkestra yang menjadi instrumentalia pembuka.” Akan kering tanpa rasa bila hanya menyebut tawamu renyah, senyummu menawan, dan matamu indah. Seperti keringnya kita saat mendengar cabang Partai A atau ranting Partai B. Kata-kata itu telah kehilangan rasanya karena klise.

Sapardi Djoko Damono seringkali menggunakan metafora dalam karya indahnya. Coba lihat ini:

Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. (Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo).

Lalu kalau simile itu apa? Hampir sama dengan metafora tinggal tambahkan saja kata seperti, atau bagaikan. Pada dasarnya simile merupakan perbandingan dua benda yang mempunyai kemiripan dan kesamaan dengan menambahkan kata seperti atau sebagai. Kalau metafora menyatakan bahwa “sesuatu” itu benda lain, sedangkan pada simile sebaliknya, “sesuatu” tidak menyatakan sama dengan benda itu tapi mempunyai kemiripan.

Contoh:

Metafora: Tawamu biola (tawamu adalah biola)

Simile:

– Tawamu seperti biola (tawamu bukan biola)

– berteman bagaikan sumur atau berteman bagaikan laut atau wajahmu secantik bulan purnama.

Dan inilah simile yang saya buat itu:

Sehari saja enggak nyentuh gtalk, seperti ikan yang dikeluarkan dari air, seperti ular yang digaremin, seperti burung yang dipatahin satu sayapnya, seperti kecoa yang diputusin sungutnya, seperti ekor cicak yang tanggal dari tubuhnya, seperti bisul yang mau pecah cenat-cenut, seperti sepeda yang satu bannya meletus tak karuan.*2)

Sapardi Djoko Damono dalam Penyair:

Aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku

…aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu…

Sangat imajinatif, penuh pemaknaan, begitulah adanya metafora dan simile. Anda mudah untuk membuatnya jika mau. Dan demikianlah perbedaan metafora dan simile. Semoga bisa dipahami.

***

*1) Dibuat di atas bus yang pulang dari Pengadilan Pajak pada Rabu 6 April 2011

*2) Dibuat 02 Maret 2011

Maraji’: Metafora , Harry Surjadi, Bahan Diklat Menulis Ilmiah, Pusdiklat Keuangan Umum, Departemen Keuangan

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

*mohon kritik jika salah dan ada yang kurang

09.56 am 10 April 2011

Tags: metafora, simile, personifikasi, harry surjadi, kompas, pusdiklat keuangan umum, Robert A Harris, Handbook of Rhetorical Devices, pengadilan pajak

PNS, CPNS, DAN MALINDA DEE


PNS, CPNS, DAN MALINDA DEE

 

Dua kali mengetes kejujuran para kondektur Metromini 640 Jurusan Tanah Abang Pasar Minggu, hasilnya kurang memuaskan. Caranya? Diam-diam saya membayari ongkos Metromini teman satu instansi saya, walau tidak kenal. Saya memberi uang 4000 perak kepada kondektur untuk ongkos angkut saya dan teman yang ada di depan. Saya tunjuk dari belakang seorang perempuan berjilbab. Saya yakini betul kondektur itu untuk tidak menagih lagi ongkos padanya.

    Kondektur melewati teman saya walau ia sudah menyodorkan uangnya. Dan ketika sudah sampai ke tujuan dan ia hendak turun, teman saya itu kembali menyerahkan uang dua ribuannya kepada kondektur. Kondektur itu melihat dulu ke arah saya, karena dia tahu saya mengawasinya, ia cuma bilang “sudah dibayari sama yang di belakang.” Teman saya bingung siapa lagi yang bayari dia. Saya pura-pura melihat ke arah lain. Apa coba yang terjadi kalau saya tidak memelototi kondektur itu?

    Hari yang lain juga sama. Untuk ini saya serahkan uang enam ribu rupiah kepada kondektur buat dua orang teman saya yang ada di depan, tentu tanpa sepengetahuan mereka. Kondektur melewati mereka. Namun karena dua teman saya itu tak tahu ada yang membayari mereka maka pada saat turun mereka tetap menyerahkan uangnya kepada kondektur. Kondektur itu menerimanya walau tahu mereka sudah dibayari saya. Seharusnya kondektur itu bilang, “ada yang bayarin.” Apa susahnya?

    Dua orang kondektur itu bagi saya masih diragukan kejujurannya. Tapi eksperimen saya masih sumir karena mengambil sampel yang cuma sedikit. Yang membanggakan adalah teman-teman saya dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini, integritas mereka teruji sudah. Merasa belum bayar, mereka tidak langsung menyimpan uangnya kembali ke saku, memanfaatkan kesempatan lupanya kondektur untuk mengirit dua ribu perak, tetapi membiarkan uang itu tetap dipegang di tangannya dan akan diserahkannya pada saat turun nanti.

    Akan ada yang berpikir begini bahwa mereka—teman-teman saya ini—belum teruji karena cuma disodorkan kesempatan “menilap” uang recehan yang tidak bernilai itu. Kalau uang milyaran di depan mata, siapa tak akan mau? Sebenarnya jawabannya mudah. Kalau yang kecil saja tidak bisa ditolak bagaimana mungkin akan menolak yang bernilai besar? Semua itu dimulai dari hal-hal yang kecil. Hari itu saya bangga mempunyai teman seperti mereka.

Di kesempatan lain, ada teman yang pernah menjadi calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah Kalimantan namun meninggalkan kesempatan besar untuk menjadi PNS itu hanya karena banyak hal yang bertentangan dengan idealismenya. Saya ingin menceritakannya sepintas.

Seperti kita ketahui bersama, begitu banyak orang terpikat untuk menjadi PNS, oleh karenanya saat lowongan penerimaan PNS dibuka, ribuan orang turut serta berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri. Bagi yang tak mau capek dan ingin hasil yang instan, segala cara bisa dipakai. Mulai dari menggunakan jalur koneksi, dukun, sampai sogok menyogok. Seringkali pada akhirnya mereka hanya menjadi korban penipuan saja.

    Tak masalah jika dari hasil seleksi itu yang diterima adalah mereka yang benar-benar berkualitas. Masalahnya adalah jika mereka yang tak mau capek dan memakai segala cara itu ternyata ikut diterima juga. Lalu akan jadi birokrat seperti apa mereka? Pun, apakah mereka yang diterima dengan cara yang benar dijamin akan menjadi seorang birokrat yang mampu memegang idealismenya? Tentu ini tergantung antara lain dari budaya yang ada di tempat kerjanya, keteladanan para seniornya, dan komitmen para pemangku kepentingan utama untuk menjalankan good corporate governance.

    Ceritanya, teman saya ini diterima sebagai CPNS dengan cara yang jujur dan langsung ditempatkan di salah satu dinas di sana ketika lulus. Hanya empat bulan dia bertahan dengan suasana yang penuh ujian terhadap integritasnya. Mulai dari disuruh me-markup laporan pertanggungjawaban, lembur dan rapat fiktif, menerima uang tidak jelas sebesar 50 ribu sampai 100 ribu rupiah sehari, atau sekadar dicatut namanya pada kegiatan tertentu lalu ia tinggal menikmati hasilnya. Ia protes atas semua itu.

    Ia yang sudah diajarkan tentang nilai idealisme dan menyampaikan kebenaran walau pahit sejak kecil, merasa menjadi PNS bukan dunianya lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, keluar dari menjadi Calon PNS. Dengan meninggalkan kesempatan untuk menjadi PNS, gaji Rp3,5 juta waktu itu dan akan bertambah besar, serta mendapatkan jaminan pensiun kelak. Dan ia bersedia untuk membayar Rp10 juta untuk pengunduran dirinya. Sekarang ia hanya menjadi seorang guru SDIT saja. Mendengar ceritanya, hari itu saya bangga mempunyai teman sepertinya.

    Dua cerita ini menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan saya sendiri pada saat diskusi di dalam bus yang membawa kami pulang dari Pengadilan Pajak. Masih adakah orang jujur untuk melanjutkan reformasi birokrasi yang dirasa berjalan lambat ini dan karena adanya peristiwa-peristiwa yang mencederai semangat reformasi itu? Faktanya ada. Masih banyak orang jujur. Tidak hanya di DJP, di luar DJP juga tidaklah sedikit.

Begitu pula potensi korupsi dan orang-orang yang tidak jujur tidak hanya ada pada instansi pemerintah, tetapi juga pada instansi swasta yang profesional dan kredibel, seperti Citibank misalnya. Sebagaimana sudah diketahui kalau Citibank ini adalah bank terkenal, mendunia, disebut juga sebagai universitas perbankan, mempunyai kultur kerja yang baku, nilai-nilai yang sudah inheren, sistem perbankan yang canggih dan modern. Tetapi sebutan itu tak berdaya di hadapan seorang Malinda Dee yang disangka telah membobol lebih dari Rp17 milyar selama 3 tahun.

Malinda diuntungkan karena tempatnya bekerja. Dia tidak langsung disebut sebagai seorang koruptor ketika menyelewengkan uang nasabah, cuma penggelap. Beda dengan teman-teman saya di atas jika tidak melakukan perbuatan tidak jujur itu. Stigma koruptor langsung melekat. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring disebutkan pelaku yang menyelewengkan uang Negara atau perusahaan adalah koruptor.

Jarang pengamat yang menyalahkan sistem perbankkannya yang bobrok, semuanya mengarah pada niat dan kesempatan terbuka yang dimanfaatkan oleh Malinda. Tidaklah sama dengan yang diterima institusi pemerintahan seperti DJP yang berusaha untuk menjadikan sistem pelayanannya diterima masyarakat dengan baik. Seberapa bagusnya sistem tersebut, selain orang yang disalahkan maka sistemnya pun menjadi ajang terbuka untuk dihujat. Inilah risiko ketika reformasi birokrasi dimulai dari sebuah awal yang buruk berupa stigma masa lalu: birokrasi korup.

Pada akhirnya teman-teman saya di atas, PNS dan CPNS itu, terbukti lebih bersahajanya daripada Malinda Dee ketika kesempatan itu terbuka di depan mata.

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

4.32 04 april 2011

 

Tags: citibank, kejahatan perbankan, integritas, jujur, kalimantan, kbbi, Malinda dee

Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2011/04/05/pns-cpns-dan-malinda-dee/

 

 

JUM’AT 01 APRIL 2011 SIAP-SIAP *)


JUM’AT 01 APRIL 2011 SIAP-SIAP *)

 

Besok kamis adalah hari terakhir Kereta Rel Listrik (KRL) Ekspress beroperasi di Jabodetabek. Nanti mulai tanggal 1 April 2011 tidak akan ada lagi kereta kasta tertinggi ini. Tidak akan ada lagi susul-susulan. Tidak akan ada lagi KRL yang bisa sampai ke tempat tujuan hanya dalam jangka waktu 30 menit saja. Tidak akan ada lagi kelonggaran-kelonggaran yang bisa dinikmati.

Karena krl penggantinya dengan harga yang diturunkan menjadi Rp7.000,00 akan berhenti di setiap stasiun. Sudah barang tentu ini akan memakan waktu panjang lagi untuk menaikturunkan penumpang. Dan sudah pasti akan banyak penumpang yang memadati krl ini. Kalau demikian adanya, tak akan bisa lagi orang menggelar koran atau membuka kursi lipatnya. Kalau begini pedagang kursi lipat akan alami kebangkrutan, enggak laku soalnya.

Saya jadi berpikir, waktu yang akan saya tempuh untuk perjalanan pergi dan pulang kantor akan bertambah panjang lagi. Yang dulu, sampai di Stasiun Sudirman jam setengah tujuh pagi—dan masih punya waktu panjang untuk tiba di kantor—bisa jadi nantinya jam 7 pagi krl itu baru tiba di sana. Kalau begitu siap-siap untuk naik ojek atau cari partner taksi kalau waktunya mepet.

KRL Ekspress yang biasa saya naiki, Pakuan Ekspress, masih punya rentang waktu cukup atasi keterlambatan kalau ada masalah di persinyalan kereta atau karena ada kereta yang mogok dan menghalangi jalur. Saya tak pernah terlambat ke kantor dengan naik KRL Ekspress paling pagi ke Tanah Abang itu.

Saya membayangkan jika sistem KRL Commuter Line ini mulai dijalankan sedangkan infrastrukturnya juga masih seperti ini, maka kalau ada kereta yang mogok, terlambat sudah menjadi sebuah kepastian dah. Hanya punya waktu toleransi 15 menit untuk hal-hal seperti ini. Kalau sudah lewat waktu itu pasti terlambat ke kantor. Tapi lihat saja nanti, bagaimana pola operasi sistem perkeretaapian baru ini akan berjalan.

Siap-siap untuk tidak bisa lagi bermonolog, baca koran dengan santainya, tidur ayam, dan lain-lainnya. Apa boleh buat, kenyamanan akan berkurang, sebanding dengan harga yang dikeluarkan pula. Namun tetap, bagi saya, KRL adalah satu-satunya—jadi bukan lagi sekadar alternatif—moda angkutan yang paling masuk akal untuk saya naiki di tengah ketidaklogisan kemacetan parah yang terjadi di Jakarta sewaktu pagi atau sore.

So, dinikmati saja apa yang kita dapatkan sekarang. Semoga perubahan itu akan membawa kebaikan buat kita semua—para pengguna jasa perkeretaapian. Optimis sajalah. Yakini betul bahwa hari ini—hari yang kita akan jalani—adalah hari kita satu-satunya. Insya Allah kita akan nyaman di mana pun adanya kita. Semoga.

Ohya jangan lupa, berangkatlah lebih pagi di jum’at besok untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan karena adanya perubahan jadwal.

*) Catatan penting: Dengar-dengar malah kebijakan ini sudah dibatalkan oleh pejabat KAI mendadak, saya kurang tahu, tapi lihat saja di FB Solidaritas Jabodetabek Untuk KRL Yang Lebih Baik. Kalau benar, maka tulisan ini tak ada gunanya. 🙂  

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

menggigil

10.44 30 Maret 2011

 

Tags: ptkai, krl, pakuan ekspress, commuter line, pola operasi baru

DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN


DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN

 

Lama waktu berjalan tanpa sanggup mengingatkan saya untuk melakukan obrolan santai bersama kucing jantan yang satu ini. Bulunya didominasi warna putih, ada warna hitam di telinga kiri, punggung, dan ujung ekornya.

Baru kali ini di rumah saya ada kucing pejantan yang manja, mau dielus-elus, dan tak jiperan sama manusia. Kalau disapa push push, ketika lagi jalan santai, dia berhenti lalu menengok ke arah suara, melihat sebentar yang menyapanya itu bawa daging atau enggak, kalau enggak dia jalan saja terus. Cool.

Sering masuk rumah dan hobi banget menggosok-gosokkan
badannya di kaki saya. Tapi memang satu yang kurang ajar dari binatang ini adalah menyemprotkan air seninya sembarangan. Biasalah tabiat pejantan untuk menandai daerah kekuasaannya dengan cara itu. Pun, untuk memberitahu kepada kucing betinanya kalau dia itu available, jomblo, sendiri, siap untuk kawin. Yang jenis kelamin sama, “awas loh, gue siap bertarung dengan elo,” itu yang dipikirkan oleh kucing jantan ini.

Punya nama? Ah, enggak. Saya enggak pernah menamainya. Sempat berniat untuk memberi namanya dengan kucing garong. Kelakuannya memang begitu kok. Dia itu malu-malu kucing sama kita, di depan penurut banget. Tapi kalau kita enggak ada di depan matanya. Dia siap untuk menggarong apa saja. Lauk di atas meja atau kelinci yang di kandang di depan rumah habis disikat.

Ibu-ibu tetangga saya pun komplain, “Bi… hati-hati loh Bi sama kucing itu, digebukin sama sapu juga enggak mau keluar dari rumah, tukang nyolong pula.” Kucing jantan itu kalau dengar omongan sinis dari ibu-ibu itu dengan santainya cuma bilang: “ngeong…ngeong.” Bukankah sudah dibilang, rumah saya pernah dijejali dengan semprotan air seninya, maka karena ia merasa bahwa rumah ini sudah jadi daerah kekuasaannya, bahkan istananya yang terindah, digebukin juga kagak mau keluar dia.

Herannya dia tahu betul tempat yang enak buat melingkarkan tubuhnya dan tidur pulas. Di sofa, di bawah televisi, atau di kursi belakang dekat meja dapur. Kalau sudah begitu, suara mercon juga enggak bisa membangunkannya. Lebay sih pengungkapan demikian.

Mana mungkinlah, soalnya anjing saja yang pendengarannya lima kali lebih tajam daripada manusia kalah dua kali dibandingkan kucing. Artinya manusia kalah 10 kali pendengarannya. Jadi kalau manusia jika tidur cuma bisa mendengkur dan mimpi, kucing tambah satu lagi, telinganya bisa jadi radar untuk mengetahui yang datang menghampiri dirinya itu kecoa, tikus, tokek, atau manusia yang bawa penggebuk.

Nah, hari ini dia datang lagi ke rumah saya. Enggak mengucapkan “Assalaamu’alaikum” atau “sampurasun duluur” dia masuk dan langsung ke belakang, mengorek-ngorek tong sampah. Walau kita tak mau dianggap saudara sama dia, bukanlah lebih baik mengucapkan salam jika masuk rumah, nah apabila manusia enggak salam kalau masuk rumah seperti siapa tuh?

Sebelum dia pergi karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan di tong sampah, saya ajak dulu ngobrol atau bahasa kerennya saya ingin berdialog dengannya, dialog imajiner.

Riza    : Push, jangan pergi dulu, saya mau bicara sama kamu. (Seperti biasa dia cool nengoknya)

Pejantan: Ada apa pak Tua?

Riza    : Hussss…kan sudah pernah saya bilang dulu, jangan memanggil saya seperti itu dong!

Pejantan: Emang sudah tua, tuh ubannya tambah banyak lagi. Depan dan samping kanan. Mau memungkiri? Kalau enggak mau, gue pergi. (enak banget dia ngomong gue-gue)

Riza    : Oke-oke, saya tak akan memaksa.

Pejantan: Satu lagi gue tak mau bicara politik dulu, Pak Tua. Bosaaaaan!

Riza    : Iya, iya. Lagian siapa yang mau ngajak kamu ngomong politik? Sore ini saya mau bicara tentang …

Pejantan: Tunggu, tunggu dulu! Emangnya gue dapat apa nih sore ini?

Riza    : Halah, transaksional banget sih kamu Cing, kayak politikus di istana itu. Tenang, kita makan bareng sore ini. Buka puasa bersama. Deal or no deal? No Deal? Kamu pergi saja. (Sedikit mengancam, memangnya manusia saja yang bisa ditekan?)

Pejantan    : Ngeong… (Ini pertanda dia menyerah, saya tahu betul kok, kalau bersoal tentang makanan dia keok)

Riza    : Saya mau cerita dulu tentang suatu hal Cing. Ternyata umur seseorang itu bukan penanda dari kedewasaan berpikir atau tepatnya bertambahnya wawasan kita. Jadi semakin tua kita belum tentu wawasan berpikir kita jadi banyak dan luas gitu loh.

Pejantan: Ya…sederhananya sajalah Pak Tua.

Riza    : Contohnya saya ini Cing, hampir 35 tahun saya tuh baru tahu kalau aishiteru itu artinya aku padamu.

Pejantan : Halah ada yang kurang tuh, 5 huruf lagi.

Riza    : Iya saya tahu, tapi tak perlu disebut di sini ah, malu saya. Tapi kok kamu tahu sih Cing?

Pejantan: Dari zaman jebot gue juga sudah tahu.

Riza    : Saya tahunya tuh kalau aku padamu dalam bahasa Inggrisnya ya I love you, bahasa jermannya ich liebe dich, sunda: abdi bogoh ka anjeun, jawa: aku tresno karo kowe, arab: ana uhibbuk, cinanya: wo ai ni, bahasa dermayunya: kita demen ning sira. Itu saja. Tahulah pokoknya dari SMP.

Pejantan: Terus…

Riza    : Waktu baca, saya nemu kata itu. Lalu saya tanya sama orang aishiteru itu apa? Kayaknya heboh banget gitu. Orang yang ditanya malah bilang: “di googling saja.”

Pejantan : Terus…

Riza    : Saya kira awalnya itu nama band Korea yang nyanyiin lagu nobody-nobody. Eh tahunya, itu ternyata aku padamu. Tepuk jidat saya, plak…!!! Oh itu…

Pejantan: Ha…ha…ha…katro. Pak Tua memang bukan lagi zamannya. Terus apa lagi Pak Tua. Di kita mah, di dunia kucing, enggak butuh-butuh itu. Yang penting muka badak dan kuat begadang. Semalaman mengikuti betina, tak bisa langsung diterima gitu.

Riza    : Oh gitu Cing…memangnya enggak ada tuh perasaan berdesir-desir, perasaan jatuh cinta, perasaan bergetar kalau disebut namanya, atau perasaan apapun yang mendominasi orang yang sedang jatuh cinta?

Pejantan: Itu cuma ada di manusia, kita cuma punya insting alami saja. Kalau pun ada itu cuma di walt disney pictures…

Riza    : Oh gitu yah…

Pejantan: Pak Tua, sayangnya manusia kebanyakan lupa.

Riza    : Lupa pegimane Cing?

Pejantan: Berdesir-desir, berbunga-bunga, bergetar-getar, berkebun-kebun itu saat manusia jatuh cinta pada sejenisnya. Berdesir saat disebut namanya, melihat orangnya, melihat gambarnya, saat menerima pesan-pesan darinya, panjang ataupun pendek, saat berbicara dengannya. Ada yang hilang ketika sapaan dan keberadaannya tak kunjung datang. Ada sebuah persatuan yang dicita pada orang yang dicintai. Ini sebuah kelaziman.

Riza    : Wah wise banget Cing.

Pejantan: Belum selesai gue.    

Riza    : Oke teruskan.

Pejantan: Empati menjadi sebuah keharusan. Turut merasakan apa yang dirasakan yang dicintainya. Jika sedih, ia sedih. Jika bahagia, ia pun bahagia. Semua perasaan yang pernah ada di muka bumi yang dimiliki kekasih pun menjadi sebuah perasaan yang turut ia rasakan semuanya. Muncullah tanda-tanda cinta di sana seperti banyak mengingat, banyak memimpikannya, banyak menyebut, kagum, rela, berkorban , cemas, berharap dan ta’at. Masalahnya ketika Yang Nyiptain kita menuntut begitu, manusia sebaliknya.

Riza    : Waduh nyindir Cing.

Pejantan: Ngerasa Pak Tua?

Riza    : Kalau begini saya diam sajalah, dengerin.

Pejantan: Coba kalau ada nama Allah—yang wajib dicinta itu—disebut, gemetar enggak Lo?

Riza     : Saya tertohok.

Pejantan: Atau kalau pesan-pesan dari langit dibacakan bertambah Iman kagak Lo?

Riza    : Saya tertusuk Cing, hiks.

Pejantan: Nah, gitulah manusia. Bersyukurlah gue jadi binatang. Tidak dimintakan pertanggungjawabannya. Elo? Jangan salah ya Umar bin Khaththab saja kalau bisa memilih ingin hidup jadi binatang supaya jangan dituntut di sana.

Riza    : Cing…

Pejantan: Yup.

Riza    : Stop dulu deh sampai di sini. Saya kelu Cing.

Pejantan: Padahal ini baru awal Pak Tua. Masih banyak yang ingin gue sampaikan sama elo.

Riza     : Iya…ya, saya tahu. Tapi nanti saja dulu deh. Tuh daging ayamnya sudah siap. Lagian azan maghrib sudah mau berkumandang. Tapi terus terang Cing dialog kita, dialog kau aku, sore hari ini, menyentuh saya. Kok bisa Cing kamu tahu banyak gitu?

Pejantan: Dengerin ceramahnya ustadz di masjid dan majelis taklim gitu Pak Tua. Gue kesana bukan cuma nyari Cicak yang lagi sial doang.

Riza    : Yah sudah makan dulu aja. (Tumben nih gue baik banget sama kucing pejantan ini). Ohya Cing, sebelum kita mengakhiri ini, walau saya senang kamu, saya tak mau bilang padamu: aishiteru yah.

Pejantan: Halah, najis. Ogah gue juga.

Riza    : Wadaw….

    Akhirnya selesai sudah dialog singkat saya dan dia. Yang pada akhirnya juga dia tetap kucing yang cuma bisa mengeong-ngeong. Saya juga terbengong-bengong. Terdiam dan terlongong-longong. Seperti tersedak oleh biji kedondong. Masak saya ngomong sendiri sama kucing. Untung belum ada yang bilang: Edan!.

    Senyatanya aku gila. Cuma padamu.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Cuma fiksi

08.13 21 Maret 2011

 

Tags: kucing pejantan, aishiteru, dialog imajiner, googling, google, deal or no deal, jepang, jerman, sunda, indramayu, jawa, inggris, korea, nobody nobody

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATANYA ABADI


MATANYA ABADI

 

Tahun 2006, saya sempatkan diri untuk memfoto kucing betina ini. Ini adalah kucing yang sering mampir di rumah saya. “Ngeong…ngeong,” serunya kalau saya lagi makan.

    “Tunggu sebentar, ya Cing, kamu tulangnya aja,” kata saya, “tapi enggak apa-apa ding, nih dikit dagingnya.” Saya sepertinya tidak pernah berbohong padanya dengan cara bilang pus-pus sambil bawa sesuatu yang mirip daging terus ke luar rumah dan ketika si kucing sudah di luar pintu, tangan saya ternyata kosong dan langsung , “Braakk!” tutup pintu. Si Kucing gondok dalam hati berkata, “Awas Lu ye…Bohong.” Sama binatang saja tak tega bohong apalagi sama manusia.

 

    Sampai sekarang betina ini masih hidup. Tapi tak lagi mangkal kayak angkot cari penumpang di rumah saya lagi. Di rumah tetangga kali, atau dia sudah punya rumah sendiri. Tak tahu saya. Soalnya dua anaknya sekarang gantian yang jadi preman di rumah saya. Ini betina hebat juga, sudah punya anak banyak dan cucu banyak tetap hidup sampai sekarang. Nih fotonya saya ambil beberapa pekan lampau tepatnya di bulan Februari 2011.

 

    Kelihatan sih kalau sudah tua, wajahnya tak sesegar dulu. Sudah mulai tirus. Mungkin kalau ibarat manusianya sudah mulai ada keriputnya. Tapi swer ketika saya memfoto itu kucing, gak ada tuh namanya keriput sama uban. Dan yang pasti matanya yang dicelak hitam itu, abadi bo…

 

Sendu (bukan senang duit atawa senang ndusel-bersempit-sempitan) matanya seperti ada duka lestari. Duka, kenapa gue jadi binatang harusnya jadi foto model difoto mulu soalnya.

 

Sayu matanya seperti menyiratkan sebuah keharuan. Haru lalu jadi biru. Eh ternyata ada juga yah cowok yang foto gue. Terima kasih…terima kasih.

 

Jelita? Tidaklah yau. Dia tak punya mata jelita. Manusia yang hanya punya mata jelita. Bukan binatang ini. Walau ada yang tak mau disebut jelita pada matanya, soalnya ditengarai saya “ngegombal“. Jiaaa…

    

Tahukah kamu, brother…sekarang dia—kucing ini—lagi hamil, hamil tua. Saya tak tahu siapa yang menghamilinya. Yang jelas bukan saya. Sebentar lagi melahirkan. Mungkin waktu saya menulis ini—di tengah malam—kucing itu sudah menjilat-jilati anak-anaknya.

 

Tapi yang pasti saya tidak pernah seranjang dengannya. Paling jauh hubungan kami cuma mengelus-ngelus kuduknya pakai tangan atau lehernya dengan kaki. Kalau malam saya tak pernah menyuruhnya masuk, harus di luar.

Cukup kisah gita cinta saya dengan kucing betina ada di zaman SMA dulu. Memandikannya, membedakinya dengan bedak antikutu sampai menemaninya melahirkan memelihara anak-anaknya. Lagi-lagi—sori yah—bukan karena saya dia hamil. Tidur siang ada itu si kucing di samping saya. Mendengkur, mendengkur barenglah kita. Kalau saya: “Zzzzz…zzzzz”. Dia: “Grttttt…grtttt…grtttt.”

 

Semuanya berakhir ketika Bibi saya marah-marah karena kasurnya jadi jelek. Dan kursi tamu jadi banyak kutunya. Padahal sudah dibedakin dengan bedak antikutu—kucingnya bukan kursinya. Kutunya juga sering menggigit saya ternyata. Pantas saja kenapa kalau duduk di kursi itu badan kok gatal-gatal. Air susu dibalas dengan air tuba. Kucing diusir. Saya sendiri.

 

sendiri…

menggigil,

walau secuil biru

cukup untuk sehari

 

Kucing tak mengerti puisi. Betina di foto atas pun demikian. Tak peduli dengan saya yang membaca sajak-sajak di depannya. Dia hanya peduli dengan daging. Titik. Manusia? Brother? Dia? Jelita? Peduli pada apa…?

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tetap jadi inspirasi karena menumbuhkan

03.55 pagi 16 Maret 2011

 

 

    

 

 

 

TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG


TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG

 

Dalam Islam sastra harus dibatasi. Tak bisa bilang sastra untuk sastra. Atau berpijak pada kebebasannya semata. Bahkan seperti yang Albert Camus katakan bahwa sastra tak boleh memihak siapapun.

Sastra—dalam Islam—harus memegang teguh apa yang diperbolehkan dan tidak dalam nilai-nilai yang terkandungnya. Semua muncul dari ajaran wahyu dan fitrah insani. Ini yang menjadi ukuran. Bacaan yang memancing syahwat dan tulisan yang menggedor nilai-nilai keimanan sudah jelas dilarang untuk diciptakan. Dalam puisi pun demikian.

Siang tadi, saya membuat puisi yang sekarang berjudul agar tak ada namanya. Draf awal berbeda sekali
dengan yang sekarang sudah jadi. Saya tulis di atas kertas draf itu seperti ini:

Rabb, bisukan aku agar tak ada namanya yang tersebut dalam igauanku.

Rabb, tulikan aku agar tak ada suaranya yang terdengar dalam telingaku.

Rabb, butakan aku agar tak ada rupanya yang tergambar dalam ratusan mimpiku.

Rabb, ambil pikiranku agar tak ada ruang yang ada untuk mengenangnya.

Aha…saya tinggal mengetikkannya di layar komputer. Tapi jari-jari tak mampu untuk melakukannya. Apa sebab? Nurani saya menentangnya dan dengan sekuat tenaga menghentikan apa yang akan dilakukan oleh jari-jari saya. Karena? Bait-bait itu adalah bait-bait do’a. Mengapa mendoakan keburukan untuk diri saya?

Akhirnya saya corat-coret kembali kertas putih itu. Dan kembali mengulang dari awal untuk membuatnya namun tetap dalam tema besar yang sama: tak sempat untuk memikirkan yang lain. Loh, itu kan cuma kata-kata yang bisa jadi pembacanya sendiri punya penafsiran lain. Bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa pengarang itu telah mati?

Ya betul, saya tetap konsisten dengan pernyataan itu. Tetapi saya tak ingin penafsiran itu muncul sekalipun dalam benak para pembaca. Bahkan apalagi kalau sudah benar bahwa itu yang dimaksudkan oleh pengarangnya sendiri sebagai sebuah do’a. Maka dalam Islam tak sembarangan untuk membuat nama buat putra dan putri mereka. Karena nama adalah do’a.

Inilah yang membuat saya berpikir, sebebas-bebasnya saya berekspresi tetap ada nilai yang membatasi. Tak bisa tak. Kalau memang mengaku sebagai orang yang beriman. Mungkin ini akan berbenturan dengan proses kreatifitas yang selalu saya pegang dalam menulis, terutama bagi mereka yang berniat untuk bisa menulis yaitu menulis tanpa beban dan seliar mungkin.

Ya tanpa beban dan seliar mungkin. Itu yang selalu katakan. Semua berawal menulis dengan menggunakan otak kanan, tetapi nanti setelah selesai barulah pakai otak kiri. Dan nilai-nilai Islam inilah yang menjadi batasan saat kita menggunakan otak kiri dalam mengedit dan memperbaiki tulisan yang kita buat seliar mungkin itu.

Oleh karenanya sampai sekarang saya belum mampu untuk menyelesaikan cerita pendek “Beranak Dalam Kubur” hasil proses menulis cepat dan seliar mungkin selama 30 menit pada saat workshop menulis yang diselenggarakan oleh BP School of Writing dan DJP. Karena ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Untuk apa dan mau dibawa kemana? Adakah hikmahnya?

Kalau tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu bisa jadi cerpen tersebut hanya sekelas film Arwah Goyang Karawang. Oh…tidak bisa. Saya tak mau.

Jadi Pak..Bu…, semua itu ada batasnya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad malam pendek

11.42 26 Februari 2011

diunggah pertama kali di: http://bahasa.kompasiana.com/2011/02/27/tak-mau-sekelas-arwah-goyang-karawang/

tags: arwah goyang karawang, BP School of Writing, DJP, Beranak Dalam Kubur, albert camus, puisi

KAMIS YANG RINGAN


KAMIS YANG RINGAN

 

Malam ini saya hanya ingin menulis apa-apa yang terjadi di hari kamis kemarin. Hari yang ringan sih sebenarnya. Dimulai dengan bangun dini hari, membuka netbook dan menulis sedikit. Saat yang ternyata lebih efektif daripada pulang kantor langsung menulis sampai tengah malam.

Adzan shubuh berkumandang di masjid sebelah, lalu saya pun shalat shubuh. Setelahnya langsung siap-siap menyiapkan alat ‘perang’ untuk pergi ke kantor. Jas hitam jangan dilupa, soalnya hari itu saya sidang.

Setelah cium sana-cium sini di pipi Haqi, Ayyasy, dan Kinan yang masih terlelap tidur, setengah enam lebih sepuluh saya berangkat ke Stasiun Citayam. Sepuluh menit sampai. Lima menit kemudian KRL Pakuan Ekspress Bogor Tanah Abang datang. Masih ada ruang untuk menggelar kursi lipat.

Baca koran yang tadi dibeli sebelum naik? Tidak, saya buka handphone, “cring…!“suara ringtone desingan samurai yang keluar dari sarungnya terdengar. Dua saja yang saya lakukan: buat monolog atau puisi. Membayangkan tempat atau lokasi tertentu atau wajah seseorang yang menginspirasi, konsentrasi sedikit, lalu segera memencet tombol-tombol di keyboard HP. Lima belas menit selesai.

Setelahnya saya buka bukunya Bakdi Soemanto yang judulnya Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya. Tak sampai 15 menit kemudian kereta sudah sampai di Stasiun Sudirman. Eh…pas sampai di sana ketemu teman-teman dari Pontianak dan Samarinda yang mau menuju ke kantor saya juga. Mereka mau ikutan In house training di Gedung Utama DJP Gatot Subroto. Salah satu dari mereka mengajak bareng naik taksi. Tak sampai di situ saja, bahkan sesampainya di kantor saya diajak untuk sarapan bersama. Ya sudah saya ucapkan terima kasih atas semuanya itu. Gratis. ^_^

Tiba di ruangan, saya mempersiapkan berkas sidang hari ini yang hanya satu Pemohon Banding namun dengan 33 berkas. Juga buat laporan sidang hari-hari kemarin. Dan tak lupa untuk mengecek Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Tahun Pajak 2010 yang paling lambat harus dilapor Jum’at. Ternyata banyak yang salah. Saya ketik ulang dan selesai. Lapornya sore saja nanti kalau sudah pulang dari Pengadilan Pajak.

Jam 9 pagi berangkat dengan bus dinas ke Pengadilan Pajak. Pagi ini banyak teman yang ikutan naik bis. Tetapi pulangnya biasanya tak sebanyak berangkatnya karena jadwal akhir sidang tak bisa ditentukan. Bisa lebih awal selesainya atau malah lebih sore.

Setengah jam kemudian sampai di Pengadilan Pajak. Ternyata tim kami mendapat giliran pemeriksaan pertama oleh Majelis Hakim karena Pemohon Bandingnya berada di urutan teratas dalam daftar hadir. Tak sampai 45 menit sidang selesai. Masih ada tiga jam waktu menunggu bus pulang ke basecamp. Eh, saya dipinjamkan atau tepatnya meminjam USB modem. Ya sudah colokin ke netbook yang sengaja saya bawa. Buka email dan lain sebagainya. Kaget juga ada kabar teman yang sakit. Insya Allah sembuh sorenya, doa saya.

Jam 2 siang kami pulang. Cuma bertiga di dalam bus. Jadi berlima dengan supir dan keneknya. Saya memanfaatkan waktu setengah jam ke depan untuk tidur. Terbangun sebentar karena ada dering SMS masuk. Monas, Paspamres Istana Kepresidenan, patung Arjuna Krisna dan kudanya, patung selamat datang di Bunderan HI, Patung Sudirman, dan bapak-bapak Polisi di sepanjang perjalanan benar-benar tidak saya sapa. Saya ngantuk.

Sampai di kantor jam tiga siang. Langsung menuju lantai 24 untuk melapor SPT Orang Pribadi saya. Cuma dua menit dilayani oleh petugas Dropbox Kantor Wilayah DJP Jakarta Selatan. Thanks Bro…

Selanjutnya shalat ashar di masjid bawah. Setelah itu tidak ada lagi yang harus dikerjakan selain mempersiapkan berkas-berkas untuk besok hari. Kami akan kembali ke Pengadilan Pajak untuk melakukan uji bukti kebenaran materi dengan Pemohon Banding.

Tepat jam lima sore saya pulang. Saya dan ketiga teman bersepakat untuk naik taksi ke Stasiun Sudirman. Mengejar KRL pukul 17. 21 atau 17.40. Sampai di sana, KRL yang berangkat 17.21 sudah berada di Stasiun Tanah Abang. Nah, yang pukul 17.40 masih di Citayam. Wadaww…terpaksa deh saya ikutan KRL jadwal 17.21 yang penuh sesak itu.

Tapi tak apalah daripada kemalaman, ternyata memang betul ada masalah persinyalan di antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Cawang yang harus dilayani secara manual sehingga banyak KRL yang alami keterlambatan. Tetapi di KRL yang saya naiki saya masih dapat buka kursi lipat.

KRL 17.21 tidak berhenti di Stasiun Citayam sehingga saya harus turun di Stasiun Bojonggede setelah Stasiun Citayam atau turun di Stasiun Depok Lama sebelum Stasiun Citayam. Saya pilih yang terakhir.

Sampai di Stasiun Depok Lama saya menunggu sekitar 10 menitan. Yang datang terlebih dahulu adalah KRL Ekonomi. Saya naik KRL itu. Tidak di dalam gerbongnya yang sumpek itu. Tidak juga di atas atap kereta yang rawan kena strum tegangan tinggi. Tidak juga di samping kereta seperti Spiderman. Tidak juga di bawah kereta, emang saya baut? Tetapi saya naik di kabin masinis di persambungan gerbong 4 dan 5.

Tumben tuh kabin terang benderang. Biasanya lampunya mati, gelap kayak kuburan. Ini tidak. Dan tidak penuh juga. Saya masuk ke dalamnya. Cuma satu menit berhenti, kereta sudah mulai berangkat lagi.

Saya berada di dekat pintu dan bisa melihat keindahan suasana maghrib yang mulai gelap. Lampu-lampu neon yang berlarian ke belakang. Semburatnya mengular ke depan. Roda-roda kendaraan yang beradu dengan aspal jalanan terlihat jelas di depan mata saya. Rima goyangan kereta. Ini membuat saya merenung tentang apa yang terjadi belakangan ini.

Hmmmf….helaan nafas panjang berkali-kali dilakukan. Sebulan penuh tanpa henti kata-kata itu keluar dari hulunya. Lima menit saya kontemplasi dengan pandangan kosong keluar pintu kereta. Mengesankan sekali. Tapi Stasiun Citayam sudah di depan mata, gerak kereta sudah mulai pelan. Sudah saatnya mengakhiri perenungan sebentar itu. Masih ada hari esok. Jum’at dan hari-hari selanjutnya.

Senin hingga rabu saya dipanggil diklat menulis lagi. Jadi tidak ke kantor selama tiga hari itu. Omong-omong, hari Kamis ini, hari yang ringan, hari yang tenang untuk mengingat, walau ada sahabat dengan sakit yang menderanya. Cepat sembuh yah…

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

rumah tenang

dibuat sampai 04.54 25 Februari 2011

 

 

 

 

 

tags: Pengadilan Pajak, Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Tahun Pajak 2010, SPT, Sapardi Djoko Damono, bakdi soemanto, DJP, dirktorat jenderal pajak, in house training, iht, krl pakuan ekspress, bogor, tanah abang, stasiun bojonggede, stasiun citayam, stasiun depok lama, krl

 

JALAN SUNYI PARA PENYAIR


Jalan Sunyi Para Penyair

Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.

Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.

Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…

Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.

Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.

Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.

Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.

Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”

Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”

Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.

Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.

Untuknya…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.59 18 Februari 2011

Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair

diunggah pertama kali di:

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/