Bernyanyilah Semaumu, Biarlah Waktu Aku Tipu


 


 

 

Suatu malam yang jarang kita sapa dengan segala nada sontak datang mengukur pintu-pintu nadi pikir kita. Laron yang sepasang berderet mengukur sudut-sudut lantai menaburkan dingin. Gigilnya tak kepalang mengukur mata-mata yang tak mau terpicing. Dengkur halusmu seperti ratusan belati yang sengaja kau tikam dalam telinga-telinga rapuhku. Tersebab itu, waktu aku tipu. Selagi ia sibuk memaki, izinkan kata-kata rapuh melamatkan aku: “Pada siapa elegi akan tiba?”

Puluhan hari kemudian datanglah kembali suatu malam yang jarang kita sapa.

**

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Jejak Kata Tapaktuan

25 Agustus 2014

Gambar berasal dari Kompasiana.

Untuk Para Ayah: 5 Fakta Sosial Bikin Anak Keblangsak


 


Ayah yang mengajarkan anaknya wudhu. (Ilustrasi diambil dari islamicblog.co.in)

Pemuda-pemuda akan tumbuh

sesuai dengan apa yang telah dibiasakan oleh bapaknya.

Pemuda itu tidak hidup dengan akalnya, tetapi dengan agamanya.

Maka dekatkan ia kepada agama.

Pohon yang tumbuh di taman tidak akan sama

dengan pohon yang tumbuh di tanah tandus.


(Syair dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam)

 

Mereka para orang tua yang ditugaskan jauh dari keluarganya akan tahu betapa nikmat terbesar yang mereka miliki adalah kebersamaan dengan keluarga. Maka buat para orang tua yang demikian, janganlah menyia-nyiakan waktu kebersamaan itu.

Walau teknologi sudah mampu mendekatkan orang dalam hal berkomunikasi. Namun tetap saja tak mampu menggantikan hangatnya sebuah pelukan dan tatapan mata secara langsung. Sehebat-hebatnya mendiang Steve Jobs yang memiliki visi menjadi pelopor digitalisasi semua pekerjaan manusia, ia tetap percaya bahwa rapat itu harus bertatap muka. Menurutnya, kolaborasi dan kreativitas tak akan pernah muncul tanpa ada tatap muka. Apatah lagi dalam hal mendidik anak.

Baca lebih lanjut.

Anda Kurang Percaya Diri? Baca yang Satu Ini


Percaya diri seperti singa jantan ini? Cool Man…

Bagi sebagian orang berbicara di depan umum serupa malapetaka. Padahal kegiatan memberikan presentasi , sebagai salah satu bentuk kegiatan berbicara di depan umum, adalah sebuah pekerjaan yang sering dijumpai dan mesti dilakukan di instansi kita. Entah dalam rangka pengarahan, pemarapan rencana kerja atau pelaporan apa yang telah kita lakukan.

Sebab yang menjadikan presentasi sebagai sebuah mimpi buruk hanya ada dua yaitu kurangnya persiapan, selebihnya hanya masalah kepercayaan diri. Yang terakhir ini berkaitan dengan cara berpikir. Kali ini akan disampaikan kiat-kiat membangun rasa percaya diri agar bisa memberikan performa yang terbaik. Kiat-kiat ini—dengan sedikit penyesuaian dari Penulis—diambil dari buku Memukau Audiensi dengan Pengaruh dan Kharisma yang ditulis oleh Steve Cohen dan sudah terbukti efektif terutama bagi penulis. Berikut kiatnya.

Baca Lebih Lanjut.

Menjaring Pajak Para Penyumbang Dana Kampanye Pilpres



    Perhelatan pemilihan presiden 2014 sebagiannya telah usai. Sebagian yang lain masih berujung di Mahkamah Konstitusi. Tim kampanye masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden juga sudah melaporkan penerimaan dan penggunaan dana kampanyenya. Ini kewajiban sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 17 Tahun 2004. Selanjutnya akan dilakukan audit Laporan Dana Kampanye (LDK) melalui audit kepatuhan dan penerapan prosedur yang disepakati oleh kantor akuntan publik yang ditunjuk KPU.

    Momentum penyampaian LDK ini bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) merupakan saat yang tepat untuk mengumpulkan bahan pengawasan pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Terutama Wajib Pajak yang memberikan sumbangan kepada salah satu pasangan calon. Pengumpulan bahan itu dapat dilakukan dengan mengakses secara langsung laman KPU karena KPU telah mengunggah sebagian LDK.

    Sampai dengan tanggal 6 Juli 2014 berdasarkan informasi di laman KPU pasangan calon nomor urut satu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa memeroleh dana kampanye sebesar Rp 108 milyar sedangkan pasangan calon Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebesar Rp 295,1 milyar. Suatu jumlah yang sangat besar.

Baca Lebih Lanjut.

Buat Para TKI, Tolak Jika Ada Oknum Petugas di Bandara Minta Uang Fiskal



Sampai sekarang nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita tidak kunjung membaik. Perlakuan buruk yang diterima mereka di Bandara Soekarno Hatta masih saja terdengar. Contohnya beberapa waktu yang lalu, di pertengahan Juli 2014.

Para TKI yang baru datang dari luar negeri itu akan dipisahkan dari penumpang biasa dan dikumpulkan dengan TKI lainnya di ruang khusus. Dilakukan penggeledahan, dipaksa menyerahkan sejumlah uang, dan dipaksa untuk naik bis travel ke daerah tujuan masing-masing. Tentunya dengan membayar lagi sejumlah uang. Tidak ada yang gratis.

Baca Lebih Lanjut.

Sekrup-Sekrup Kecil: Empat Modus Perkaya Diri Jadi Masa Lalu


 


Pagi itu telepon berdering. Nomornya tidak dikenal. Kemudian terdengar suara seorang perempuan di ujung sana. Tak lama saya baru ngeh. Ternyata suara itu berasal dari seorang perempuan yang pernah saya kenal sewaktu saya menjadi Account Representative di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat. Perempuan ini dulu pernah menjadi tax manager sebuah perusahaan di Sidoarjo. Perusahaan pembalut buat ibu setelah melahirkan ini termasuk ke dalam kategori Wajib Pajak yang taat pajak.

Walaupun saya sudah bertahun lampau meninggalkan kantor itu dan sekarang berada di ujung negeri, ia masih menyimpan nomor telepon saya. Seperti waktu dulu, ia pun bertanya-tanya kepada saya mengenai kasus perpajakan yang ditanganinya. Bedanya, sekarang ia telah menjadi seorang konsultan manajemen. Penanganan kasus perpajakan hanyalah bonus yang diberikan kepada klien yang menyewa jasa konsultasi manajemennya.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #42: ANTARA TAPAKTUAN DAN GAZA: DI KARNAVAL INI TERSELIP DOA UNTUK MEREKA


ANTARA TAPAKTUAN DAN GAZA:

DI KARNAVAL INI TERSELIP DOA UNTUK MEREKA

Kemarin, ada petugas datang ke rumah dinas, mengecek dan menanyakan kepada para penghuni, “Mengapa bendera merah putih belumlah berkibar?” Esok Paginya merah putih itu telah kami kibarkan. Sensitivitas di daerah bekas konflik.

(Uswan, Ulee Kareng, Banda Aceh)

Karnaval peringatan HUT RI yang ke-69 berlangsung meriah hari ini (16/8). Sebanyak 17 gampong di Kecamatan Tapaktuan menjadi peserta pawai. Selain berbusana daerah dan tampilan khas para pejuang kemerdekaan, para peserta karnaval menampilkan atraksi-atraksi hebat yang dipersembahkan kepada masyarakat.

Titik pusat karnaval berada di Jalan Merdeka, Tapaktuan. Di sana didirikan panggung tempat Bupati dan Wakil Bupati hadir dan melihat jalannya acara. Yang menarik dari panggung tersebut adalah pesan yang ditulis di atas sebuah papan dan berada di depan meja Bupati. Pesan itu berbunyi: “DOA KAMI UNTUK GAZA”. Pesan yang mengingatkan kepada dunia bahwa masyarakat Aceh Selatan yang jaraknya ribuan kilometer dari Palestina ini sungguh peduli terhadap nasib penduduk Gaza yang ditindas dan dibantai Israel.

Baca lebih lanjut

Anak siapakah ini? Sungguh beruntung Orang Tua yang Memilikinya.


Anak siapakah ini? Sungguh beruntung Orang Tua yang Memilikinya.

Ketaatan terhadap syariat agama yang mulia seringkali ditampilkan oleh orang-orang yang sudah dewasa. Hal yang biasa pula kalau itu ditunjukkan seorang anak kecil yang bersekolah di sekolah-sekolah berlabel agama atau tinggal dekat komunitas santri. Namun tidak untuk kali ini. Seorang anak SD sudah mulai menunjukkan ketaatan yang menyentuh perasaan salah satu pengguna akun Facebook bernama Rifki Ramdan Maulana.

Rifki sempat memotret anak itu dari belakang dan mengunggahnya di linimasa Facebooknya serta menulis demikian:


Anak SD itu. (Sumber foto dari akun Facebook: Rifki Ramdan Maulana)

  Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA


RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA

Apa kabar, Pengelana Muda? Tak kujumpai kamu di setiap langkahku. Atau aku melangkah di jalan yang salah?

( Surat Jesse kepada Roy dalam Balada si Roy 2-Gola Gong)

Hari ini, Ahad, saya harus berangkat kembali ke Tapaktuan setelah liburan dan cuti lebaran selama dua minggu. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang tertinggal. Ada dokumen yang harus saya bawa ke kota tempat kerja saya itu. Maka saya mencari dokumen tersebut dalam kantung plastik tempat saya biasa menyimpan segala sesuatu yang penting.

Sampai suatu ketika tangan saya menyentuh amplop berwarna telur asin. Saya tergerak membukanya. Ada dua lembar kertas warna putih berukuran A4. Kertas ini membawa ingatan saya kepada suatu waktu hampir empat tahun yang lalu. Kertas surat yang saya baca di atas bus Kopaja. Sebuah surat perpisahan.

Ya surat perpisahan. Namun bukan seperti surat perpisahan dari Jesse kepada anak bengal yang bernama Roy. Melainkan surat perpisahan yang bercerita banyak dan menyertai bingkisan dari teman-teman satu seksi saya di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat.

Saat itu saya memang dipindahtugaskan dari kantor tersebut ke kantor saya yang baru di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), tepatnya di Direktorat Keberatan dan Banding. Surat itu kini saya baca ulang. Tetap saja ada rasa haru yang muncul. Saya membacanya perlahan. Sahabat-sahabat saya tersebut terlalu berlebihan menilai saya. Saya belum seberapa dengan mereka sendiri. Membacanya…

Baca Lebih Lanjut.

Kisah Nyata Pegawai DJP: Dituduh Sebagai Calon Tersangka Korupsi dan Cukuplah Allah Sebagai Saksi


KISAH NYATA PEGAWAI DJP:

DITUDUH SEBAGAI CALON TERSANGKA KORUPSI

DAN CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI SAKSI

 

Ini kisah yang dituturkan dari teman satu direktorat Gayus Tambunan pada tahun 2010. Saat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diterpa badai kecaman serta pemberitaan yang begitu telanjang dan tidak seimbang karena salah satu pegawainya melanggar kode etik.

Bagaimana rasanya ketika keluarga besarnya mengejek sinis setelah menyaksikan tayangan televisi yang menyebut-nyebut namanya sebagai atasan Gayus? Bagaimana rasanya diberitakan oleh salah satu televisi nasional sebagai “calon tersangka koruptor”? Bagaimana rasanya saat turun dari pesawat ia disapa oleh penumpang yang lain dengan pertanyaan: “Ibu atasannya Gayus?”

Kisah yang diceritakan dan ditulis sendiri oleh Ibu Dwi Astuti ini bisa dibaca dalam Buku Berbagi Kisah & Harapan 2: Bertahan di Tengah Badai yang diterbitkan oleh DJP di tahun 2011 lalu. Selamat membaca.

berkah2

Buku Berbagi Kisah & Harapan: Berjuang di Tengah Badai

Baca Lebih Lanjut