SHADAQAH YANG TERCEDERAI


SHADAQAH YANG TERCEDERAI


إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا

ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له،

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده

ورسوله


أما بعد

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Rabb semesta ‘alam yang telah mengizinkan kepada kita untuk bermuwajahah, yang telah memperkenankan kita untuk saling mengikatkan tali kasih sayang di antara kita, dan yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Alhamdulillah yang telah memberikan kepada kita nikmat hidayah dan sepercik iman, yang dengan itu pula Allah telah menggerakkan hati dan melangkahkan kaki kita untuk selalu mengerjakan amal kebajikan.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, qudwah hasanah kita, murabbi umat, panglima besar revolusi kemanusiaan, nabi Muhammad saw, yang akhlaknya adalah alqur’an, yang paling dermawan, yang paling berani, yang memberi bagaikan orang yang tidak pernah takut akan kefakiran, yang rumahnya senantiasa terbuka bagi siapapun yang singgah, yang senantiasa memberi makan orang yang lapar dari makanannya, yang pernah mengatakan kepada kita semua: “aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” 1)

Rahmat Allah inilah, ya ayyuhal Ikhwah, yang sedang kita rasakan di bulan ramadhan ini, bulan pelipatgandaan amal. Dan dirasakan oleh umat beriman lainnya. Betapa tidak dengan datangnya bulan ramadhan ini, kita yang tidak pernah baca Al-qur’an di luar bulan ramadhan, di bulan suci ini kita kembali kepada al-qur’an untuk membacanya. Kita yang tidak pernah shalat malam di luar bulan ramadhan, di bulan penuh keberkahan ini kita mendirikan malam-malamnya setidaknya melaksanakan shalat tarawih dan witirnya. Kita yang tidak pernah datang ke masjid, berbondong-bondong kita ke masjid di bulan penuh rahmat ini. Dan kita yang dikuasai dengan kebakhilan di luar ramadhan, dengan datangnya ramadhan mubarok ini kebakhilan gantian menjadi budak kita dengan tanda berupa entengnya kita dalam mengeluarkan shadaqah.

Shadaqah yang kita keluarkan di luar bulan ramadhan, Allah sudah janjikan dengan balasan 10 kali lipat hingga seratus kali lipat, apatah lagi di bulan ramadhan. Oleh karena itu betapa banyak dari kita mengeluarkan shadaqah, infak dan zakat itu di bulan ramadhan.

Ada yang bertanya apa bedanya antara zakat, infak dan shodaqah. Kalau diibaratkan sebuah lingkaran maka shadaqah adalah lingkaran besar yang di dalamnya terdapat lingkaran kecil yang bernama infak, dan di dalam lingkaran kecil infak itu terdapat lingkaran lagi bernama zakat. Cakupan shadaqah amatlah luas. Shadaqah tidak selalu identik dengan uang. Di dalam shadaqah selain dengan materi ada yang namanya senyum, menyingkirkan duri dari jalanan, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, ataupun membebaskan saudaranya dari hutang. Dan infak wajiblah yang bernama zakat. Demikianlah secara ringkas dapat diilustrasikan perbedaan diantara ketiganya.

Shadaqah berasal dari kata shidiq yang artinya benar. Dan menurut Al-Qadhi Abu Bakar bin Arabi, benar di sini adalah benar dalam hubungan dengan sejalannya perbuatan dan ucapan serta keyakinan. 2) Dengan kata lain shadaqah berarti pembuktian benar adanya iman di dalam dada. 3) Hanya orang-orang yang beriman yang mampu melaksanakan shadaqah, hanya orang-orang yang percaya adanya Allah dan hari akhir sajalah yang mampu shadaqah, infak, ataupun zakat. Hanya orang–orang yang percaya betul dengan balasan Allah di dunia dan akhirat yang mampu dirinya mengangkangi syahwat bakhilnya.

Dengan balasan yang berlipat ganda yang diberikan oleh Allah swt kepada orang-orang yang beriman yang bershodaqah, maka Allah pun telah memperingatkan kepada orang-orang bershadaqah tersebut untuk menghindari dua perkara ini. Yaitu perkara-perkara yang dapat merusak dan menghilangkan nilai-nilai kebaikan atau pahala yang diberikan Allah kepada orang-orang yang bershadaqah. Sebagaimana telah difirmankan di ayat yang saya bacakan di awal:


Al-Baqarah:264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Allah telah memperingatkan keapda kita semua dalam hal bershadaqah: yaitu jangan sekali-kali menyebut-nyebut shadaqah itu dan menyakiti perasaan si penerima. Tanpa disadari kita mendapatkan shodaqah itu tidak bermakna apa-apa.

Semisal, betapa kita sering mendengar perkataan ini: “ini masjid tidak akan pernah bisa berdiri kalau saja tidak ada saya; ini masjid tidak akan pernah berdiri megah kalau saya tidak menjadi ketua panitianya; ini masjid enggak akan sesejuk ini kalau tidak ada AC yang saya beli.” Dikatakan dengan lisan atau cukup di dalam hati saja itu sudah membuat rusak pahala shadaqah kita.

Semisal lain. Seringkali rumah kita kedatangan tamu yaitu para peminta-minta. Apalagi kalau bulan puasa, banyak sekali. Dan karena sudah terbiasa bakhil, ketika kita memberi infak mulut kita atau hati kita sering reflek mengatakan dalam hati: “langganan; masih sehat ngemis; sindikat; bayinya dapat nyewa”. Atau seringkali karena kejengkelan kita karena didatangin terus menerus, kita sering bilang maaf kepadanya tanpa menongolkan kepala kita sedikitpun dari pintu kita.
Padahal bisa jadi yang datang itu adalah Pak RT yang menagih uang sampah dan keamanan.

Ya Ayyuhal ikhwah, sesungguhnya tangan-tangan kita amatlah pendek, dan kita juga tahu bahwa ini bagaikan lingkaran setan, mulai dari mana kita memutus rantai setan dunia kepengemisan ini. Dan sebenarnya sudah menjadi tugas pemerintahlah untuk mengangkat derajat hidup mereka. Nah kalau sudah tahu kita tidak mampu untuk mengentaskan mereka sendirian, tak perlulah kita menciderai amal shadaqah kita dengan mengatakan sesuatu yang amat menyakitkan itu.

Ayo, kita sama-sama berbenah diri, di bulan ramadhan ini berikan yang terbaik dengan shadaqah-shadaqah kita, dan tak usahlah pula merusak amal shadaqah kita dengan dua perkara tersebut. Allah telah membuat perumpamaan dalam lanjutan ayat tersebut tentang masalah ini dengan batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu batu tersebut disiram hujan lebat, maka menjadi bersihlah batu tersebut. Sia-sia. Tidak mendapat manfaat apa-apa.

Semoga di bulan penuh keberkahan ini Allah menerima shadaqah-shadaqah kita. Amin.

Samarinda kota di Kalimantan

ada pohon dinaikin bekantan

kalau ada kata yang menyakitkan

mohon untuk dimaafkan

kayu lidi di taman bekasi

cukup di sini, sekian, dan terimakasih.

Billahittaufik walhidayah…

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  1. H.R. Bukhori dan Muslim;
  2. Muhammad Andi Wibisana

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 September 2009

transkrip kuliah terserah antum

MBAH SURIP DAN ANAK SAYA


MBAH SURIP DAN ANAK SAYA

 

Kematian Mbah Surip bagi saya biasa-biasa saja. Tidak semengejutkan dengan kematian Michael Jackson. Dan memang tak bisa untuk dibanding-bandingkan antara mereka berdua. Tapi sebagai seorang muslim saya tetap mendoakan semoga Allah menerima segala amal Mbah Surip, mengampuni segala dosanya, dan menempatkannya di tempat yang terbaik.

Kemarin sore, dari kantor, saya menelepon anak saya yang ada di rumah untuk menanyakan apakah baret pramukanya sudah terbeli atau belum? Yang menerima telepon adalah Ayyasy, anak kedua saya, baru kelas 2 SD, satu sekolah dengan anak sulung saya, Haqi.

“Bi, tadi pulang mobil jemputannya ziarah dulu ke makamnya Mbah Surip,” katanya.

“Memangnya makamnya deket dengan sekolah Ayyasy?”tanya saya.

“Enggak jauh. Tadi habis do’a di kuburannya masak Haqi nyanyi ‘tak gendong’!” kata Ayyasy dengan polos.

Itu adalah sedikit pembicaraan kami.

Pagi ini, seperti biasa saya berangkat ke kantor. Dari rumah di Citayam naik motor ke Stasiun Depok untuk naik Kereta Rel Listrik (KRL) Ekspress jurusan Tanah Abang dan Bekasi. Di KRL sambil menggelar kursi lipat saya membaca Koran Media Indonesia yang harganya cuma seceng (Rp1.000,00), harga khusus kereta. Lumayan buat menghabiskan waktu di perjalanan.

Kereta berhenti di Stasiun Cawang, dan saya bersama dengan banyak kawan pajak anggota KRL Mania pindah peron untuk melanjutkan perjalanan dengan KRL yang menuju Stasiun Kalibata. Sambil menunggu KRL yang segera tiba saya melihat-lihat koran yang dijual pedagang koran yang ada di peron tersebut. Satu persatu saya baca headline masing-masing koran tersebut. Berita Antasari dan Mbah Surip masih mendominasi.

Dan mata saya langsung terpaut pada judul besar yang terpampang di halaman pertama Harian Umum Berita Kota, Kamis 06 Agustus 2009, headlinenya adalah Anak Mbah Surip Ngamuk. Tapi yang membuat saya terkeju dan tidak percaya adalah foto yang terpampang di bawah judul besar itu. Di sana ada foto anak saya yang sedang berdoa di makamnya Mbah Surip.

“Haqi Masuk Koran!!!” seruku pada teman sebelah. Langsung saja saya beli koran tersebut. Di sana tergambar sejumlah pelajar SD Al-Hikmah yang sedang berdoa di makam Mbah Surip. Anak saya kedua dari kiri. Yang ketiganya adalah anak tetangga saya, Abdan—hari Ahad sore kemarin dia gabung pertama kalinya di kelompok pengajian anak-anak di rumah saya.

Langsung saya kirim pesan pendek kepada omnya Haqi yang masih ada dirumah. Balasannya bahkan mengejutkan, Omnya Haqi bilang Haqi tadi masuk di berita pagi SCTV. Saya coba lihat di situsnya SCTV untuk mengunduh video itu, tapi gak bisa. Nanti sajalah.

Bagi saya, terus terang saja, ini sesuatu yang mengejutkan. He…he…he…

Sekarang kematian Mbah Surip jadi tidak biasa bagi saya.

Turut berduka cita buat keluarga Mbah Surip.

Itu saja dari saya.

Ini fotonya:

 

 

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

11.25 06 Agustus 2009

THAGHUT ITU KECIL!!!


THAGHUT ITU KECIL!!!

Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.

Berikut saya kutip sebagian kisah itu.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…” (Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”.

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…” Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” *)

***

Ada yang selalu saya ingat dari sosok ayah saya saat bercerita tentang orang-orang besar. Ia selalu hafal kalimat-kalimat terkenal yang pernah diucapkan dari para tokoh itu, entah nasional atau dunia, dan ia mengucapkannya secara atraktif di hadapan kami para anak-anaknya sewaktu masih kecil. Itu amat mengesankan bagi saya. Yang sering ia ulang-ulang adalah ucapannya presiden pertama RI, IR. Soekarno. Sampai sekarang pun saya masih ingat walaupun tidak hafal perkataan tersebut. Yaitu tentang bagaimana nenek moyang kita yang berusaha mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia dengan mengucurkan keringat dan darah mereka.

Kali ini pun kiranya aku bergerak untuk mencontoh ayah saya. Ada kalimat yang amat mengharukan dan menggugah saya sehingga hampir-hampir saja saya menangis di depan komputer. “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”

Sungguh inilah natijah (buah) dari syahadatain, yang menolak setiap thoghut yang ingin menjadi setara dengan Pencipta dirinya. Inilah realisasi dari keimanan yang amat kuat hingga mampu merasakan dan mengatakan bahwa kehidupan dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Bila saya ada dalam posisinya, bisa jadi saya akan mengiyakannya, mengaku bersalah, meminta maaf, serta langsung menandatangani surat itu sebelum sang pembawa surat selesai mengucapkan kalimatnya. Tentunya dengan alasan karena saya belum menikmati seluruh kehidupan dunia ini. Na’udzubillah.

Sungguh mudah mengucapkan dan mengajarkan materi-materi tarbiyah tentang Syahadatain dan Ma’rifatullah, tapi teramat berat dalam merealisasikannya karena di sana ada musuh abadi yang senantiasa mengintai dan menghalangi-halangi, setan dan hawa nafsu.

Bagi saya Syaikh Asysyahid Sayyid Quthb adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu merealisasikan nilai-nilai tarbiyah islamiyah dalam sebenar-benarnya kehidupannya. Maka dari akhir orang yang seperti itu mengapa masih banyak orang menghinakannya sedang ia terbukti mampu untuk menjual kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya sedang orang-orang yang berbicara sinis tentangnya belumlah teruji dengan pahit manisnya jihad fi sabilillah melawan thagut.

Sungguh ia akan dikenang dengan pemikirannya dan semangat jihadnya yang tak pernah mati. Bahkan orang sekelas Gamal AbdulNasser, Yusuf Kalla dan Hendropriyono pun tak akan mampu mematikannya. Ia mati tapi sesungguhnya ia tetaplah hidup.

Sungguh tidak ada jihad sebelum iman.

Allah Maha Besar! Thaghut itu kecil!

***

*) Kutipan kisah diambil dari sebuah situs internet.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:47 30 Juli 2009

setelah sekian lama tidak menulis

BERTEMU MARK TWAIN


BERTEMU MARK TWAIN

Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.

Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.

Pembaca, setelah tiga bulan hanya menjadi ‘perusuh’ yang bisanya cuma meminta pedagangnya mengambil buku yang ingin saya lihat lalu mengecewakannya karena saya tidak jadi beli, saya menemukan buku yang masih terlihat baru. Masih terbungkus dengan plastik dari sananya. Harganya 20 ribu rupiah. Saya tawar 10 ribu pedagangnya tidak mau. Akhirnya sepakat di harga 18 ribu rupiah.

Judulnya Petualangan Tom Sawyer karangan Mark Twain diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Sepengetahuan saya buku itu adalah buku cerita klasik Amerika yang ditulis oleh penulisnya di tahun 1800-an.

Setelah buku itu di tangan, saya tidak langsung membacanya. Saya baca buku itu di rumah. Dan dari catatan pengantar Kang Ajip Rosidi, Mark Twain adalah jagoan humor Amerika yang dapat memberikan kegembiraan kepada para pembacanya. Dan saya mendapatkan buktinya. Saya sudah mendapatkan keceriaan dan tawa yang tak tertahankan di setiap babnya.

Baru empat bab buku itu saya baca, saya sudah mendapatkan kesimpulan bahwa buku ini bagus sekali. Pantas saja kisah ini terkenal sekali di seluruh pelosok dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Di Indonesia sudah diterjemahkan di tahun 1930-an oleh Abdoel Moeis untuk Balai Pustaka. Buku yang saya beli ini pun cetakan pertamanya di tahun 1973 diterjemahkan oleh Djokolelono.

Akhirnya saya berkeinginan, nanti setelah buku ini selesai saya baca, saya akan memburu buku Mark Twain lainnya, pasangan dari Petualangan Tom Sawyer ini yaitu buku yang berjudul Petualangan Huckleberry Finn. Atau tulisan dari Julius Verne yang terkenal seperti Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari dan Duapuluh Ribu Mil di Bawah Laut. Karena saya yakin kalau kisah klasik itu masih bertahan berabad-abad setelah penulisnya meninggal, pasti sudah menjadi jaminan mutu bagi pembacanya.

Ada satu pelajaran buat saya. Kesabaran menunggu, tak menuruti hawa nafsu, selalu berbuah manis. Kesabaran saya untuk tidak membeli buku sampai benar-benar ada buku yang membuat saya tertarik membacanya, lalu dengan merenda asa setiap sorenya berharap ada buku bagus di lapak itu, ternyata kemarin sore berbuah hasil. Kini, saya masih tetap berharap menemukan jendela dunia yang bermutu itu di sana.

Yang pasti bagaimana kesabaran itu harus diterapkan oleh saya untuk hal lain. Yaitu menunggu KRL yang jadwalnya tidak pasti. Apatah lagi KRL Ekonomi yang kastanya lebih rendah daripada Ekonomi AC dan Ekspress. Untuk hal yang ini saya masih angkat tangan.

Ayo, membaca…!

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:21 05 Juni 2009

JADILAH IKAN SEGAR!!!


JADILAH IKAN SEGAR!!!

Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.

Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.

Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari’at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.

Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.

Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum’ah, Da’watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da’watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)

Nah, Ki Dalang mau berada di tengah-tengah dari mereka berdua. Mampu untuk melahirkan karya dan laki-laki. Dan pada hari ini adalah hari di mana Ki Dalang menjadi sosok produktif ulama hadits tersebut. Dengan demikian beberapa paragraf di atas adalah baru pengantar, bukan isi dari lakon yang Ki Dalang mau mainkan. Sekarang dengarkanlah, atau bacalah, terserah Anda, cerita dari lakon ini.

Lagi, Ki dalang mendapatkan cerita hebat ini dari teman Ki Dalang yang mengirimkan surat elektroniknya kemarin. Cerita ini sebenarnya sudah banyak tersebar di dunia maya. Tetapi Ki Dalang mau membaginya kepada Anda yang sudah mengetahui ataupun yang belum mengetahuinya sama sekali. Oh ya, cerita yang dikirimkan oleh teman Ki Dalang itu cuma mengaitkannya dengan motivasi kita untuk mendahsyatkan potensi diri. Tapi Ki Dalang ingin semuanya dikatikan dengan nilai-nilai dakwah yang menjadi senyawa apik dari kehidupan kita di setiap hari dan malamnya.

Begini ceritanya…

KISAH NELAYAN JEPANG 2)

Ada sebuah cerita tentang nelayan Jepang yang insaya Allah bisa kita ambil hikmahnya. Orang Jepang sejak lama menyukai Ikan yang segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan sekitar Jepan dalam beberapa dekade ini.

Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh nelayan pergi, maka waktu yang dibutuhkan pun semakin lama untuk membawa hasil tangkapannya ke daratan. Jadi, ikan yang dibawanya tersebut sudah tidak lagi segar. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi permasalahan ini, perusahaan memasang freezerdalam kapal mereka.

Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut. Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi senakin jauh dan lama, namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan beku dan ikan segar, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Kemudian sebuah gagasan baru kembali dipakai oleh perusahaan penangkap ikan, yaitu dengan cara memasang tangki-tangki penyimpan ikan dalam kapal mereka. Setelah menangkap ikan para nelayan langsung memasukkan ikan tersebut ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan.

Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas kendatipun tetap hidup. Namun orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa segar ikannya. Orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.

Selanjutnya cara apa lagi yang dilakukan oleh para nelayan untuk menjaga agar ikannya tetap segar, sehingga diminati oleh masyarakat Jepang? Solusi terbaiknya ternyata sederhana, sangat sederhana!

Perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan tersebut di dalam tangki, tetapi kini mereka memasukkan ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi hidup dan sangat segar. Ikan-ikan tersebut ternyata tertantang untuk bertahan hidup dari ancaman.

***

Ya Ayyuhal Ikhwah, dari cerita ini Ki Dalang tidak membahas pada kreatifitas nelayan-nelayan Jepang tapi menitikberatkan pada kalimat ini: orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.

Artinya apa wahai saudara-saudaraku? Orang segar membutuhkan ikan yang segar, ikan yang masih aktif bergerak. Sehingga ketika tiba waktunya untuk disayat dengan pisau masih terasa kesegarannya, masih terasa kaya nutrisinya, dan sudah barang tentu rendah kalorinya.

Orang segar tidak butuh dengan ikan yang tidak segar, lemas, atau mati bahkan busuk.

Begitupula dengan masyarakat kita. Masyarakat yang segar butuh kader-kader dakwah yang segar. Bukan untuk disembelih ataupun disayat dengan pisau. Tapi untuk memberikan tambahan kesegaran yang lebih kepada mereka. Mereka butuh kader-kader dakwah yang senantiasa enerjik, yang tetap semangat dalam kondisi apapun, dan tentunya mampu memberikan kesegaran kepada mereka di tengah himpitan hidup yang membelenggu. Kesegaran yang bagaimana?

Kesegaran yang berupa semangat membina yang tak pernah padam, keluasan ilmu, tawadhu’, jujur, dermawan, bersih, peduli, itqon (profesional), dan terus menerus beramal nyata yang benar-benar dirasakan oleh mereka. Kedatangan kita ditunggu sampai-sampai mereka bernyanyi seperti lirik lagu ini: datanglah, kedatanganmu kutunggu, telah lama, telah lama ‘ku menunggu…3)

Setiap pekannya kesegaran kita ditunggu oleh mereka. Koreksi kita pada tilawah mereka, ilmu tajwid yang menuntun mereka, hadits-hadits Arba’in yang kita bacakan kepada mereka, taujih yang kita sampaikan kepada mereka, bahkan telinga tebal dan kesediaan kita untuk mendengarkan keluhan mereka.

Ayyuhal ikhwah, itu semua butuh kreatifitas kita sebagai refleksi kesegaran itu. Jangan sampai kreatifitas itu baru muncul pada saat kita memang terdesak atau ketika malaikat maut sudah muncul di depan hidung kita. Selagi masih ada suasana kondusif di negeri kita tercinta ini yang memungkinkan kita dengan nyaman dan aman untuk melakukan syiar-syiar kebaikan maka manfaatkanlah itu. Mumpung kesempatan itu masih ada. Suasana aman kiranya lebih baik daripada suasana chaos.

Dus, ketika suasana politik sudah akan menurun desibel hiruk pikuknya, maka sudah saatnya Anda semua sebagai kader dakwah mengasah kembali pedangnya yang tumpul, tapal kudanya yang sudah aus, rentangan busur panahnya yang sudah kendor untuk kembali dibina dan membina, untuk kembali memikirkan sejatinya asholah dakwah itu. “Kembali ke barak!!!”, kata teman Ki Dalang.

Teruslah bergerak, teruslah beramal, karena itu membuat Anda semua para kader dakwah senantiasa segar.

Bergeraklah, sungguh air yang diam itu akan menjadi bibit penyakit. Jadilah air yang mengalir yang senantiasa memberikan manfaat pada jalan yang dilewatinya.

Bergeraklah, karena diam berarti kematian. 4)

Bergeraklah, karena diam itu adalah busuk.

Bergeraklah, maka Allah akan menggerakkan hati manusia. Taharaku wallahu sayuhariku qulubannas.

Bergeraklah engkau.

Jadilah ikan segar!

Wallahua’lam bishshowab.

Catatan Kaki:

  1. Email motivator Febriya Fajri
  2. Ridho Rhoma feat Sonet 2 Band

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

9:12 03 Mei 2009

ALI SEMBIRING TAUBAT


ALI SEMBIRING TAUBAT

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.

Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya. Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.

Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat. Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dapat mengambil pelajaran dari semuanya. Kesulitan yang bertubi-tubi menimpa dirinya adalah ujian. Ujian yang diberikan oleh Tuhannya yang baru ia dekati saat masuk penjara.

“Setelah kesulitan ada kemudahan”, katanya mengutip ayat yang ada di Juz 30.

Sejak itu ia mulai mengais-ngais harap pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia mulai menabung pahala untuk bekalnya nanti. Kebaikan-kebaikan ia cicil setiap hari. Satu tujuan adalah ridho-Nya dapat ia raih.

Sebagai manusia yang hidup di muka bumi, dengan cahaya iman di hati, ditambah beban sebagai khalifah fil ‘ardhi maka adakalanya hidup dipenuhi dengan banyak kesulitan yang datangnya tidak disangka-sangka. Paradoks dari rezeki yang diberikan Allah yang datangnya pula tak disangka-sangka.

Pada akhirnya Ali Sembiring tahu dari ceramah Ustadz di masjid dekat pengkolan. Tempatnya ia melepas penat setiap adzan dhuzur berkumandang. Ada enam pintu kebaikan yang akan melepaskan dirinya dari berbagai macam kesulitan.

Pintu pertama, mudahkan kesultian orang lain.

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.

Ali sadar betul. Dulu banyak proposal yang masuk pada dirinya dan ia tak akan meneruskan proposal dari konstituennya sebelum ia tahu betul berapa persen fee yang akan ia dapat dari upaya bantuan dengan pamrih itu. Ali taubat.

Pintu kedua, perbanyak shadaqah.

Sudah terlalu banyak keutamaan shadaqah yang diceramahkan oleh para ustadz. Tapi hanya sedikit yang masuk ke otaknya dan berbuah amal. Terbayang pada dirinya bagaimana ia juga banyak “shadaqah” tapi itupun dengan niat lain agar orang yang diberi infak atau shadaqah tersebut mencoblos dirinya. “Pak, Bu ini sembako dari saya, ingat yah nomor partai saya” atau dengan amplop putih berisi uang cebanan yang ia bagikan habis shubuh pada hari-H. Serangan fajar. Ali taubat.

Pintu ketiga, menghindari apa-apa yang diharamkan Allah.

Duh, ceramah ustadz itu menggedor hatinya. Malu dirinya mengungkapkan semua yang telah dilakukannya dulu. Kamar hotel bintang tiga menjadi saksinya saat bergumul dengan wanita yang bukan muhrimnya. Ia kaya. Ia sehat. Tapi istrinya tak mengizinkan dirinya berpoligami. Dan ia tak bisa menceraikan isitrinya. Pun ia takut dengan cercaan masyarakat kalau ia berpoligami. Shorcut ia tempuh. Apatah lagi seringkali kalau demikian ia ditemani sampanye dan anggur merah berharga mahal. Ah…Ali taubat.

Pintu keempat, “birrul walidain”, kata ustadz itu.

Untuk yang ini, Ali merasa ia jagonya. Tak pernah sedikitpun ia menyengsarakan batin dan lahir kedua orang tuanya. Ia merasa lega sebentar. Tapi sejenak ia tertegun. Uang darimana yang ia berikan kepada mereka. Ia ingat setiap ia mendapat fee dari rekanan pelaksana proyek pemerintah yang melalui dirinya ia berikan setengahnya buat mereka. IA sama saja dengan meracuni mereka. Air mata pun menetes perlahan dari matanya yang sudah sedari tadi berkaca-kaca. Ali Taubat.

Pintu kelima, iman dan amal sholeh.

Keduanya adalah dua yang tidak bisa dipisahkan. Lebih dari 300 ayat yang berbicara tentang masalah ini dala Al-Qur’an. Keduanya adalah dwi tunggal. Keduanya harus ada pada diri seorang beriman. Tak bisa seseorang yang beriman tanpa adanya amal sholeh. Begitu pula sebaliknya.

Betapa banyak orang yang bersyahadat lebih dari sepuluh kali setiap harinya, zakat setiap bulannya, puasa ramadhan dan pergi haji setiap tahunnya, tapi tetap membiarkan tetangganya berkubang dalam rintihan lapar atau membiarkan hati mereka tersakiti karena tiadanya adab yang baik dari dirinya. Iman tanpa amal sholeh dalam wujud amal-amal sosial adalah sebuah egoisme diri.

Dan betapa banyak orang yang seringkali melakukan amal shaleh tapi dengan keimanan yang rusak, karena niat yang tak sempurna karena-Nya. Atau digerogoti sikap menduakan Allah yang akan melenyapkan setiap amal yang ada. Sungguh tak akan bisa tercampur antara syirik dan amal sholeh.

Dan betapa banyak orang yang tak pernah mengucapkan kalimat Syahadat dalam seumur hidupnya lalu ia mendarmabaktikan hidupnya itu untuk berbuat baik (amal sholeh) kepada siapapun tanpa batas-batas agama, sungguh tak sedikitpun amal itu diterima. Karena syahadat adalah pintu masuk kepada Islam. Tertolaklah ia.

Iman dan amal sholeh. Amal sholeh adalah buah dari Iman. Ali tahu ia tipis dari keduanya. Ali taubat.

Pintu keenam, perbanyak doa.

Ali tahu, ia baru memperbanyak doa saat kesulitan itu mulai menanggalkan kenikmatannya satu persatu. Ali taubat.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia mampu menyerap sebuah hikmah. Hikmah kehidupan. Seabrek dosa dan segunung penyesalan membebani pundaknya tak membuat ia berputus asa dari rahmat Allah. Ia paham betul, telah terbentang di depannya padang luas ampunan Allah. Tak perlu malu ia beringsut seinchi demi inchi untuk mendekatiNya demi hanya menjadi budak-Nya. Untuk seumur hidupnya yang tersisa.

“Belum terlambat Li,” kataku, “selama nyawa masih ada di kandung badan.”

Ayo maju, maju…

Ayo maju, maju…

Ayo majuuu, majuuuuu…

***

Maraji’:

  1. AlQur’anul Kariim;
  2. Hadits riwayat Muslim;
  3. Ceramah Ustadz Zainal Muttaqien.

Nama di atas adalah bukan nama sebenarnya dan fiktif belaka. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:03 01 Juni 2009

64 tahun lahirnya Pancasila

SITU CINTA


Situ Cinta

Cinta,
malam ini akan aku peluk engkau
dengan rindu yang telah menguning di hati
tanpa ada dengkul yang mencoba menghujat langit
kerana tak ada pelangi di gulitanya

Cinta,
cukup sekian kata yang berpeluh
dari aku yang mengukir lima hurufmu
di atas air situ
tanpa ada titik,koma, dan tanda seru

*

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
25 Juni 2009

LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?


LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?

Dua orang juri—termasuk saya di dalamnya—ternyata punya feeling yang tak jauh berbeda terhadap cita rasa sebuah cerita pendek (cerpen). Setelah masing-masing memilih tiga cerpen terbaik, ternyata terbaik pertama dan kedua pilihan kami sama.

Terbaik pertama, bagi saya punya keindahan bahasa yang jauh di atas peserta lainnya, alur cerita yang mengalir, dan ada hikmah yang bisa diberikan kepada pembaca. Bagi juri yang lain, terbaik pertama tahu betul bagaimana membuat sebuah cerpen yang baik. Terbaik kedua kualitasnya tentunya di bawah yang pertama.

Yang menjadi perdebatan adalah penentuan terbaik ketiga. Kami mempunyai pandangan yang berbeda di sini. Terbaik ketiga dalam penilaian saya ia mempunyai kreatifitas ide yang lain daripada yang lain. Dan saya memberikan skor tertinggi daripada peserta lain dalam masalah ini. Sedangkan terbaik ketiga dari juri yang lain itu menurut saya cerpennya bagus diawal, membuat trenyuh, tetapi ending-nya jelek sekali.

Akhirnya kami memutuskan untuk menjumlahkan skor yang dimiliki masing-masing. Dan terbaik ketiga dari penilaian sayalah yang berhak untuk menjadi juara ketiga Lomba Penulisan Cerpen Education Fair 2009 yang diselenggarakan ahad kemarin (17 Mei 2009) oleh Kelompok Studi Pelajar Muslim (KSPM) dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Perlombaan penulisan cerpen itu adalah satu dari sekian perlombaan yang diselenggarakan LSM (lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak khusus dalam pembinaan remaja dan pelajar se-Bojonggede itu.

Apa yang dilakukan oleh teman-teman muda saya dari KSPM itu patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Karena dalam kerangka pikir saya yang namanya lomba penulisan cerpen itu para peserta lomba diperkenankan untuk mengirim sebanyak mungkin karyanya dengan persyaratan yang telah ditentukan dan dikumpulkan kepada panitia pada waktu yang telah ditentukan. Lalu dengan jumlah juri yang lebih dari dua dan punya kapabilitas tentunya dipersilakan untuk memberikan penilaian kemudian mendiskusikan siapa pemenangnya.

Jadi bukan dengan mengumpulkan para peserta lomba penulisan cerpen itu dalam suatu kelas lalu dalam waktu hanya 90 menit disuruh untuk membuat cerpen, dengan menggunakan tulisan tangan tentunya. Maka bagi saya hasil yang didapat pun akan pas-pasan. Yaitu juri harus berkerut kening untuk membaca tulisan tangan dari para peserta lomba, karena tidak semua peserta tulisan tangannya bagus. Lalu tidak ada pengeditan yang dilakukan oleh peserta lomba. Dan tentunya sangat jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Padahal salah satu esensi dari lomba penulisan cerpen adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau demikian yang terjadi namanya bukan lomba penulisan cerpen tapi ujian mengarang.

Maka dengan segala keterbatasan yang ada itu parameter kebahasaan Indonesia yang baik dan benar tidak saya pakai dalam penilaian saya. Padahal parameter penilaian itu yang menjadi pokok dalam setiap penilaian yang saya gunakan dalam menentukan baik atau tidaknya sebuah cerpen. Dalam lomba itu yang diukur hanya kreatifitas ide, alur cerita, keindahan bahasa, dan hikmah yang ada.

Yang saya tahu alasan dari gaya lomba seperti ini adalah kalau tidak dikumpulkan pesertanya dalam satu ruangan maka takut adanya karya jiplakan atau dalam pembuatan cerpennya dibantu oleh orang lain. Bagi saya tak masalah. Silakan orang membuat cerpen jiplakan itu, karena suatu saat akan ketahuan juga. Dan tentu itu adalah menipu diri sendiri saja. Tidak ada nilai kreatifitas yang nantinya akan memacu semangat untuk lebih maju lagi. Tidak ada yang didapat kecuali kemenangan dan kebahagiaan semu. Untuk menjadi penulis cerpen yang baik modal utama adalah sebuah kejujuran. Tanpa kejujuran maka silakan ke laut saja.

Kalaupun dengan alasan tidak adanya peserta yang datang pada hari puncak perayaan, maka sudah barang tentu pengumuman lombanya dilakukan pada hari itu. Dan saya yakin masih banyak peserta lomba yang akan penasaran untuk mengetahui siapa pemenangnya.

Oleh karena itu ke depan saya mencoba mengusulkan syarat dan ketentuan lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh KSPM. Antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Sesuai tema yang telah ditentukan panitia;
  2. Diketik rapih, (format teknis menyusul);
  3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  4. Melampirkan biodata;
  5. Salinan keras
    paling lambat dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan;
  6. Salinan lunak
    dikirim via email kepada panitia;
  7. Juri lebih dari dua dan diberikan satu minggu untuk memberikan penilaian. Dan ada diskusi penentuan antarjuri;
  8. dan lain-lain.

Saya harapkan ke depan, dengan syarat dan ketentuan tersebut akan di dapat hasil dan penilaian cerpen yang berkualitas.

Terakhir saya ucapkan selamat kepada para pemenangnya, saya yakin 90 menit waktu yang diberikan belumlah cukup untuk mengembangkan potensi kalian, karena penulis-penulis cerpen terkenal pun kiranya belumlah mampu untuk dapat menghasilkan karya masterpiece-nya dalam waktu sesingkat itu.

Berikut nama empat besar lomba penulisan cerpen Education fair 2009 KSPM tersebut:

  1. Shinta Lestari, “Kurindu Guruku”. Ternyata terbaik pertama ini adalah siswi SMU. Salut. Saya melihat ada bakat pada dirinya.
  2. Tegar Adinda B. Putri (SMP), “Pengorbanan Bocah kecil”. Ternyata terbaik kedua ini adalah seorang perempuan.
  3. Kartika Putri (SMPN 2 Bojonggede), “Pingsan Mania Go To Bathroom“. Terbaik ketiga. Tomboy juga nih anak.
  4. Syifa Fauziah, (SMPN 2 Bojonggede). Ceritanya bagus sekali, sayang ending kurang bagus. Jika tidak saya akan pilih kamu.

Semuanya putri. Semoga tahun depan ada juga penulis cerpen laki-lakinya. J

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:02 18 Mei 2009


KPU BERBENAH SETELAH DITERIAKI


KISRUH DPT BOM WAKTU MASA LALU

Setelah banyak yang memprotes tentang Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu legislatif (Pileg) 2009 dan dituduh bersekongkol dengan penguasa bahkan akan ada upaya gugatan kepadanya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai berbenah diri. Untuk pemilihan presiden nanti KPU akan berusaha memperbaiki DPT-nya dengan cara memberikan kesempatan seluas-luasnya bahkan semudah-mudahnya agar mereka yang berhak mengikuti pesta demokrasi dapat benar-benar ikut secara riil berpartisipasi.

Antara lain dengan melibatkan Ketua RW dan Ketua RT dalam penyusunannya. Yang semula hanya stelsel aktif, yang berarti pemilih secara aktif mendaftarkan diri sebagai pemilih ke kelurahan, kini KPU berusaha pula menggunakan stelsel pasif yaitu dengan melibatkan para Ketua RT dan RW tersebut untuk mendatangi para calon pemilih yang belum terdaftar. Bentuknya adalah dengan menyebarkan formulir yang harus diisi oleh calon pemilih tersebut. Dan untuk menyukseskannya KPU akan menyosialisasikannya kepada masyarakat melalui spanduk-spanduk. Diharapkan dengan hal ini tidak lagi ada suara-suara miring terhadap DPT untuk pemilihan presiden nantinya.

Apa yang dilakukan oleh KPU perlu diapresiasi oleh semua pihak. Walaupun yang tampak di hadapan publik adalah KPU mulai bergerak setelah adanya banyak protes dari berbagai pihak. Karena jikalau tidak ada yang bersuara keras tentang hal ini KPU bisa jadi tidak akan berusaha untuk memperbaiki DPT.

Bila ini terjadi walhasil adik saya yang tinggal serumah dengan saya dan telah mempunyai kartu tanda penduduk sebagai bukti sah keberadaannya sebagai masyarakat di daerah itu dan telah mempunyai hak pilih akan tercerabut haknya dan dipaksa untuk golput sebanyak 7 kali. Karena Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Bogor—tempat kami tinggal—sebagai kepanjangan tangan dari KPU tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya.

Ini bisa dihitung, yaitu pada saat Pilkada Kabupaten Bogor putaran pertama dan lanjutannya adik saya tidak terdaftar di DPT. Tetangga-tetangga saya pun demikian. Pula pada saat Pileg 2009 lalu yang diberi hak untuk memilih 4 calon untuk DPR Pusat, provinsi, kabupaten, dan DPD. Atau jika masih terulang di Pilpres 2009 ia bisa dipaksa untuk tidak ikut lagi.

Jadi kisruh tentang DPT ini sebenarnya tidak hanya berlangsung di pusat saja dan pada saat Pileg 2009. Tetapi sudah menjadi bom waktu sejak diselenggarakannya pilkada-pilkada di banyak daerah—contoh DKI dan Jatim—yang momentum tumbukannya terjadi di Pileg 2009. Dan tidak meledak pada saat itu hanya karena menjadi wacana lokal yang tidak menyangkut kepentingan secara nasional dan banyak pihak. Juga tak punya nilai jual berita di banyak media.

Akhirnya saya berharap, KPU harus mengambil banyak pelajaran dari peristiwa ini. Hujatan dan cercaan menjadi pemicu untuk memperbaiki diri. Inisiatif mendatangi pemilih sebagai niat baik KPU Pusat juga harus didukung sepenuh hati oleh seluruh KPUD dan para pemegang kepentingan lainnya seperti pemerintah pusat, Departemen Dalam negeri, dan pemerintah daerah.

Satu paradigma yang harus dipatri kepada mereka yang saya sebutkan di atas tadi adalah: “Anda-anda ini selayaknya memosisikan diri sebagai pelayan rakyat, “jongos”-nya rakyat. Bukannya tuannya rakyat. Maka layanilah rakyat dengan baik.”

Saya yakin kalau posisi tuan itu ada pada Anda-anda wahai tuan-tuan, maka kisruh DPT tidak akan pernah berakhir. Maka akan dibawa kemana bangsa kita karena setiap hari dicekoki sengketa para elit politik yang memanfaatkan isu ini?

Saya berharap tidak.

Riza Almanfaluthi

18 April 2009

Dimuat di www.inilah.com

KONTEMPLASI INAGURASI


KONTEMPLASI INAGURASI

 

Kawan, tak terasa waktu untuk berpisah telah menelanjangkan dirinya di depan mata kita. Pada akhirnya kebersamaan yang selama ini kita jalin dalam dua purnama lebih akan berujung pada sebuah kata yang bernama perpisahan. Itu semua mesti kita jalani sebagai sebuah takdir kita dari Yang Maha Pemberi Hidup.

 

Kebersamaan yang mengukir memori kita menjadi sebuah prasasti indah dalam benak masing-masing. Tak lekang oleh waktu. Ia akan selalu ada. Kita akan selalu ingat pada tawa dan canda yang selama ini terurai di setiap saat. Kita akan selalu terkenang pada momen-momen indah di sini. Pada malam-malamnya. Pada siang-siangnya. Pada kantuk-kantuknya yang melangutkan jiwa. Pada inci demi inci ruang-ruang kelas kita.

 

Pada diktat-diktat tebal yang menumpuk. Pada tugas-tugas yang membebani pundak kita hingga turun ke bumi. Pada lirikan mata pujaan hati. Pada kantung-kantung yang semakin tipis di akhir bulan. Pada dentingan sendok dan piring saat sarapan dan makan malam di kantin. Pada ingatan-ingatan kampung halaman. Bahkan pada tetesan air mata yang jatuh. Semuanya membuat kenangan itu lebih berwarna lagi.

 

Kawan, tak perlu kita pungkiri. Di sana ada juga ranah untuk murka yang menjelma menjadi rahwana. Ada benih benci yang tiba-tiba muncul menjadi onak yang menyakiti kita. Tapi kita sadar, pada akhirnya itu juga adalah warna yang memperindah kenangan itu. Pada akhirnya benci itu luruh menjadi cinta pada kali ini. Jelang perpisahan.

 

Kawan, lalu kita ingat tentang sebuah perjuangan. Perjuangan yang membutuhkan pengorbanan. Kita ingat dulu, waktu kita berdesak-desakkan mengambil formulir pendaftaran dengan ribuan pendaftar lainnya. Lapar dan lelah kita abaikan. Hanya untuk sebuah masa depan. Lalu kita berkeringat dingin untuk dapat menjawab dengan benar semua pertanyaan yang ada dalam lembaran-lembaran soal. Lalu dahi kita berkerut hanya untuk membuktikan otak kita waras atau tidak. Lalu kita terbata-bata menjawab pertanyaan dari para pewawancara hanya untuk membuktikan bahwa kita layak menjadi bagian takdir masa depan Indonesia. Lalu hati kita yang berdebar-debar mencari sederet nama pemberian orang tua kita terpampang di papan pengumuman atau di layar monitor komputer sebagai orang yang berhak lulus.

 

Sebelumnya kita tahu, ada banyak doa yang menghunjam ke langit dan perut-perut lapar berpuasa agar Sang Maha Pengabul Segala Do’a memenuhi permintaan kita. Dan kita teringat pada wajah-wajah tua dan keriput yang mencintai kita dan tak pernah lupa menengadahkan tangannya pada Sang Maha Pemberi memohon kebaikan untuk kita semua

 

Kawan, coba bayangkan, andaikata bapak ibu kita hadir mendampingi kita hari ini. Bukankah kita melihat mereka begitu gembira. Hadirkan wajah mereka dan lihat, mereka, ayah ibu kita tersenyum bangga kepada kita. Seakan-akan terlepas satu beban berat yang membebani punggung mereka. Andaikata kita bertanya kepada mereka bagaimana harus membalas jasa yang amat besar yang telah mereka berikan untuk kita, mungkin kita akan melihat ayah ibu kita berurai air mata dan mereka akan berkata “Nak, kami tak butuh ganti rugi atas pengorbanan kami, karena itu adalah ketulusan cinta kami kepadamu. Melihat kamu sukses itu sudah cukup memberi kebahagiaan kepada kami,” dan mereka pasti berkata kepada kita “Kami hanya meminta, ketika usia kami sudah tua, tolong jangan lupakan kami.”*)

 

Ah, lalu kita pun cuma berdo’a, ” Ya Ilahi, ampunilah kedua orang tuaku, dan kasihilah

mereka sebagaimana mereka mengasihi aku diwaktu kecil.”

 

    Cukupkah itu kawan?

 

Tidak! Tidak cukup! Perjalanan itu niscayanya tidaklah berhenti di sini. Masih panjang. Kita perlu membuktikan kepada mereka berdua bahwa kita memang layak menjadi kebanggaan mereka. Dan bukan untuk mempermalukan mereka karena wajah kita terpampang di layar televisi, ditonton jutaan mata penduduk republik ini karena tertangkap tangan oleh KPK menerima satu koper kertas merah bergambar Soekarno Hatta atau Hijau bergambar Benyamin Franklin. Tidak! Bukan untuk itu!

 

Tapi untuk menjadi seorang professional yang mempunyai integritas pada sebuah lembaga yang berusaha meninggalkan masa lalunya, mereformasi dirinya, menggapai cahaya di ujung terowongan gelap gulita. DE JE PE! Ya DJP. Dan kita akan katakan pada dunia nantinya, dengan lantang–tak perlu berbisik-bisik seperti yang biasa dilakukan pegawai pajak dulu—”kita adalah aparat pajak!”

 

Kawan, itu semua tak akan terjadi jikalau dari hati kita masing-masing ada kehampaan dari sebuah niat yang baik. Bukankah semua perbuatan itu tergantung dari niatnya? Maka sudah semestinya kawan, untuk memasukinya, untuk mengawalinya ada sebuah niat baik hanya karena Yang di Atas Semata. Bukan karena gengsi, bukan pula karena remunerasi, bukan pula untuk melanggengkan trah keluarga birokrasi, apatah lagi karena ingin korupsi. Aih, apa kata dunia?

 

Kawan, negara butuh kita. Negara butuh kejujuran kita. Dan rakyat telah menanti pelayanan kita di luar sana. Karena sejatinya kita bukanlah penguasa, bukan pula orang yang minta dilayani, tetapi kitalah yang melayani mereka. Kitalah khadimul ‘ummah, pelayan rakyat. Klise bukan? Seperti jargon masa lalu yang nihil pada tataran aplikasi. Sekarang, saatnya untuk membuktikan bahwa itu tidak klise. Bukan mengulang-ulang. Itu baru. Dengan jiwa baru, dengan semangat baru.

 

Ah, sudah cukup berbanyak kata, berpanjang kalimat, yang hanya menegaskan kita hanyalah sekumpulan orang yang banyak omong tanpa aksi. Inagurasi ini hanyalah satu lecutan cambuk helaan yang membuat kita bersemangat lari mengejar sebuah cita, sebuah asa yang masih ada. Bahwa Indonesia adalah negeri yang bebas dari noda hitam perilaku ketidakjujuran.

 

Itu dimulai dari kita sendiri, hal yang terkecil, dan saat ini.

Semoga.

 

 

***

riza almanfaluthi

14 April 2009

dedaunan di ranting cemara

 

 

*) Satu paragraf ini saya ambil dan edit dari seorang penulis di http://encung.multiply.com/journal/item/10