MBAH SURIP DAN ANAK SAYA


MBAH SURIP DAN ANAK SAYA

 

Kematian Mbah Surip bagi saya biasa-biasa saja. Tidak semengejutkan dengan kematian Michael Jackson. Dan memang tak bisa untuk dibanding-bandingkan antara mereka berdua. Tapi sebagai seorang muslim saya tetap mendoakan semoga Allah menerima segala amal Mbah Surip, mengampuni segala dosanya, dan menempatkannya di tempat yang terbaik.

Kemarin sore, dari kantor, saya menelepon anak saya yang ada di rumah untuk menanyakan apakah baret pramukanya sudah terbeli atau belum? Yang menerima telepon adalah Ayyasy, anak kedua saya, baru kelas 2 SD, satu sekolah dengan anak sulung saya, Haqi.

“Bi, tadi pulang mobil jemputannya ziarah dulu ke makamnya Mbah Surip,” katanya.

“Memangnya makamnya deket dengan sekolah Ayyasy?”tanya saya.

“Enggak jauh. Tadi habis do’a di kuburannya masak Haqi nyanyi ‘tak gendong’!” kata Ayyasy dengan polos.

Itu adalah sedikit pembicaraan kami.

Pagi ini, seperti biasa saya berangkat ke kantor. Dari rumah di Citayam naik motor ke Stasiun Depok untuk naik Kereta Rel Listrik (KRL) Ekspress jurusan Tanah Abang dan Bekasi. Di KRL sambil menggelar kursi lipat saya membaca Koran Media Indonesia yang harganya cuma seceng (Rp1.000,00), harga khusus kereta. Lumayan buat menghabiskan waktu di perjalanan.

Kereta berhenti di Stasiun Cawang, dan saya bersama dengan banyak kawan pajak anggota KRL Mania pindah peron untuk melanjutkan perjalanan dengan KRL yang menuju Stasiun Kalibata. Sambil menunggu KRL yang segera tiba saya melihat-lihat koran yang dijual pedagang koran yang ada di peron tersebut. Satu persatu saya baca headline masing-masing koran tersebut. Berita Antasari dan Mbah Surip masih mendominasi.

Dan mata saya langsung terpaut pada judul besar yang terpampang di halaman pertama Harian Umum Berita Kota, Kamis 06 Agustus 2009, headlinenya adalah Anak Mbah Surip Ngamuk. Tapi yang membuat saya terkeju dan tidak percaya adalah foto yang terpampang di bawah judul besar itu. Di sana ada foto anak saya yang sedang berdoa di makamnya Mbah Surip.

“Haqi Masuk Koran!!!” seruku pada teman sebelah. Langsung saja saya beli koran tersebut. Di sana tergambar sejumlah pelajar SD Al-Hikmah yang sedang berdoa di makam Mbah Surip. Anak saya kedua dari kiri. Yang ketiganya adalah anak tetangga saya, Abdan—hari Ahad sore kemarin dia gabung pertama kalinya di kelompok pengajian anak-anak di rumah saya.

Langsung saya kirim pesan pendek kepada omnya Haqi yang masih ada dirumah. Balasannya bahkan mengejutkan, Omnya Haqi bilang Haqi tadi masuk di berita pagi SCTV. Saya coba lihat di situsnya SCTV untuk mengunduh video itu, tapi gak bisa. Nanti sajalah.

Bagi saya, terus terang saja, ini sesuatu yang mengejutkan. He…he…he…

Sekarang kematian Mbah Surip jadi tidak biasa bagi saya.

Turut berduka cita buat keluarga Mbah Surip.

Itu saja dari saya.

Ini fotonya:

 

 

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

11.25 06 Agustus 2009

Advertisements

2 thoughts on “MBAH SURIP DAN ANAK SAYA

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s