ALI SEMBIRING TAUBAT


ALI SEMBIRING TAUBAT

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.

Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya. Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.

Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat. Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dapat mengambil pelajaran dari semuanya. Kesulitan yang bertubi-tubi menimpa dirinya adalah ujian. Ujian yang diberikan oleh Tuhannya yang baru ia dekati saat masuk penjara.

“Setelah kesulitan ada kemudahan”, katanya mengutip ayat yang ada di Juz 30.

Sejak itu ia mulai mengais-ngais harap pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia mulai menabung pahala untuk bekalnya nanti. Kebaikan-kebaikan ia cicil setiap hari. Satu tujuan adalah ridho-Nya dapat ia raih.

Sebagai manusia yang hidup di muka bumi, dengan cahaya iman di hati, ditambah beban sebagai khalifah fil ‘ardhi maka adakalanya hidup dipenuhi dengan banyak kesulitan yang datangnya tidak disangka-sangka. Paradoks dari rezeki yang diberikan Allah yang datangnya pula tak disangka-sangka.

Pada akhirnya Ali Sembiring tahu dari ceramah Ustadz di masjid dekat pengkolan. Tempatnya ia melepas penat setiap adzan dhuzur berkumandang. Ada enam pintu kebaikan yang akan melepaskan dirinya dari berbagai macam kesulitan.

Pintu pertama, mudahkan kesultian orang lain.

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.

Ali sadar betul. Dulu banyak proposal yang masuk pada dirinya dan ia tak akan meneruskan proposal dari konstituennya sebelum ia tahu betul berapa persen fee yang akan ia dapat dari upaya bantuan dengan pamrih itu. Ali taubat.

Pintu kedua, perbanyak shadaqah.

Sudah terlalu banyak keutamaan shadaqah yang diceramahkan oleh para ustadz. Tapi hanya sedikit yang masuk ke otaknya dan berbuah amal. Terbayang pada dirinya bagaimana ia juga banyak “shadaqah” tapi itupun dengan niat lain agar orang yang diberi infak atau shadaqah tersebut mencoblos dirinya. “Pak, Bu ini sembako dari saya, ingat yah nomor partai saya” atau dengan amplop putih berisi uang cebanan yang ia bagikan habis shubuh pada hari-H. Serangan fajar. Ali taubat.

Pintu ketiga, menghindari apa-apa yang diharamkan Allah.

Duh, ceramah ustadz itu menggedor hatinya. Malu dirinya mengungkapkan semua yang telah dilakukannya dulu. Kamar hotel bintang tiga menjadi saksinya saat bergumul dengan wanita yang bukan muhrimnya. Ia kaya. Ia sehat. Tapi istrinya tak mengizinkan dirinya berpoligami. Dan ia tak bisa menceraikan isitrinya. Pun ia takut dengan cercaan masyarakat kalau ia berpoligami. Shorcut ia tempuh. Apatah lagi seringkali kalau demikian ia ditemani sampanye dan anggur merah berharga mahal. Ah…Ali taubat.

Pintu keempat, “birrul walidain”, kata ustadz itu.

Untuk yang ini, Ali merasa ia jagonya. Tak pernah sedikitpun ia menyengsarakan batin dan lahir kedua orang tuanya. Ia merasa lega sebentar. Tapi sejenak ia tertegun. Uang darimana yang ia berikan kepada mereka. Ia ingat setiap ia mendapat fee dari rekanan pelaksana proyek pemerintah yang melalui dirinya ia berikan setengahnya buat mereka. IA sama saja dengan meracuni mereka. Air mata pun menetes perlahan dari matanya yang sudah sedari tadi berkaca-kaca. Ali Taubat.

Pintu kelima, iman dan amal sholeh.

Keduanya adalah dua yang tidak bisa dipisahkan. Lebih dari 300 ayat yang berbicara tentang masalah ini dala Al-Qur’an. Keduanya adalah dwi tunggal. Keduanya harus ada pada diri seorang beriman. Tak bisa seseorang yang beriman tanpa adanya amal sholeh. Begitu pula sebaliknya.

Betapa banyak orang yang bersyahadat lebih dari sepuluh kali setiap harinya, zakat setiap bulannya, puasa ramadhan dan pergi haji setiap tahunnya, tapi tetap membiarkan tetangganya berkubang dalam rintihan lapar atau membiarkan hati mereka tersakiti karena tiadanya adab yang baik dari dirinya. Iman tanpa amal sholeh dalam wujud amal-amal sosial adalah sebuah egoisme diri.

Dan betapa banyak orang yang seringkali melakukan amal shaleh tapi dengan keimanan yang rusak, karena niat yang tak sempurna karena-Nya. Atau digerogoti sikap menduakan Allah yang akan melenyapkan setiap amal yang ada. Sungguh tak akan bisa tercampur antara syirik dan amal sholeh.

Dan betapa banyak orang yang tak pernah mengucapkan kalimat Syahadat dalam seumur hidupnya lalu ia mendarmabaktikan hidupnya itu untuk berbuat baik (amal sholeh) kepada siapapun tanpa batas-batas agama, sungguh tak sedikitpun amal itu diterima. Karena syahadat adalah pintu masuk kepada Islam. Tertolaklah ia.

Iman dan amal sholeh. Amal sholeh adalah buah dari Iman. Ali tahu ia tipis dari keduanya. Ali taubat.

Pintu keenam, perbanyak doa.

Ali tahu, ia baru memperbanyak doa saat kesulitan itu mulai menanggalkan kenikmatannya satu persatu. Ali taubat.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia mampu menyerap sebuah hikmah. Hikmah kehidupan. Seabrek dosa dan segunung penyesalan membebani pundaknya tak membuat ia berputus asa dari rahmat Allah. Ia paham betul, telah terbentang di depannya padang luas ampunan Allah. Tak perlu malu ia beringsut seinchi demi inchi untuk mendekatiNya demi hanya menjadi budak-Nya. Untuk seumur hidupnya yang tersisa.

“Belum terlambat Li,” kataku, “selama nyawa masih ada di kandung badan.”

Ayo maju, maju…

Ayo maju, maju…

Ayo majuuu, majuuuuu…

***

Maraji’:

  1. AlQur’anul Kariim;
  2. Hadits riwayat Muslim;
  3. Ceramah Ustadz Zainal Muttaqien.

Nama di atas adalah bukan nama sebenarnya dan fiktif belaka. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:03 01 Juni 2009

64 tahun lahirnya Pancasila

Advertisements

4 thoughts on “ALI SEMBIRING TAUBAT

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s