KONTEMPLASI INAGURASI


KONTEMPLASI INAGURASI

 

Kawan, tak terasa waktu untuk berpisah telah menelanjangkan dirinya di depan mata kita. Pada akhirnya kebersamaan yang selama ini kita jalin dalam dua purnama lebih akan berujung pada sebuah kata yang bernama perpisahan. Itu semua mesti kita jalani sebagai sebuah takdir kita dari Yang Maha Pemberi Hidup.

 

Kebersamaan yang mengukir memori kita menjadi sebuah prasasti indah dalam benak masing-masing. Tak lekang oleh waktu. Ia akan selalu ada. Kita akan selalu ingat pada tawa dan canda yang selama ini terurai di setiap saat. Kita akan selalu terkenang pada momen-momen indah di sini. Pada malam-malamnya. Pada siang-siangnya. Pada kantuk-kantuknya yang melangutkan jiwa. Pada inci demi inci ruang-ruang kelas kita.

 

Pada diktat-diktat tebal yang menumpuk. Pada tugas-tugas yang membebani pundak kita hingga turun ke bumi. Pada lirikan mata pujaan hati. Pada kantung-kantung yang semakin tipis di akhir bulan. Pada dentingan sendok dan piring saat sarapan dan makan malam di kantin. Pada ingatan-ingatan kampung halaman. Bahkan pada tetesan air mata yang jatuh. Semuanya membuat kenangan itu lebih berwarna lagi.

 

Kawan, tak perlu kita pungkiri. Di sana ada juga ranah untuk murka yang menjelma menjadi rahwana. Ada benih benci yang tiba-tiba muncul menjadi onak yang menyakiti kita. Tapi kita sadar, pada akhirnya itu juga adalah warna yang memperindah kenangan itu. Pada akhirnya benci itu luruh menjadi cinta pada kali ini. Jelang perpisahan.

 

Kawan, lalu kita ingat tentang sebuah perjuangan. Perjuangan yang membutuhkan pengorbanan. Kita ingat dulu, waktu kita berdesak-desakkan mengambil formulir pendaftaran dengan ribuan pendaftar lainnya. Lapar dan lelah kita abaikan. Hanya untuk sebuah masa depan. Lalu kita berkeringat dingin untuk dapat menjawab dengan benar semua pertanyaan yang ada dalam lembaran-lembaran soal. Lalu dahi kita berkerut hanya untuk membuktikan otak kita waras atau tidak. Lalu kita terbata-bata menjawab pertanyaan dari para pewawancara hanya untuk membuktikan bahwa kita layak menjadi bagian takdir masa depan Indonesia. Lalu hati kita yang berdebar-debar mencari sederet nama pemberian orang tua kita terpampang di papan pengumuman atau di layar monitor komputer sebagai orang yang berhak lulus.

 

Sebelumnya kita tahu, ada banyak doa yang menghunjam ke langit dan perut-perut lapar berpuasa agar Sang Maha Pengabul Segala Do’a memenuhi permintaan kita. Dan kita teringat pada wajah-wajah tua dan keriput yang mencintai kita dan tak pernah lupa menengadahkan tangannya pada Sang Maha Pemberi memohon kebaikan untuk kita semua

 

Kawan, coba bayangkan, andaikata bapak ibu kita hadir mendampingi kita hari ini. Bukankah kita melihat mereka begitu gembira. Hadirkan wajah mereka dan lihat, mereka, ayah ibu kita tersenyum bangga kepada kita. Seakan-akan terlepas satu beban berat yang membebani punggung mereka. Andaikata kita bertanya kepada mereka bagaimana harus membalas jasa yang amat besar yang telah mereka berikan untuk kita, mungkin kita akan melihat ayah ibu kita berurai air mata dan mereka akan berkata “Nak, kami tak butuh ganti rugi atas pengorbanan kami, karena itu adalah ketulusan cinta kami kepadamu. Melihat kamu sukses itu sudah cukup memberi kebahagiaan kepada kami,” dan mereka pasti berkata kepada kita “Kami hanya meminta, ketika usia kami sudah tua, tolong jangan lupakan kami.”*)

 

Ah, lalu kita pun cuma berdo’a, ” Ya Ilahi, ampunilah kedua orang tuaku, dan kasihilah

mereka sebagaimana mereka mengasihi aku diwaktu kecil.”

 

    Cukupkah itu kawan?

 

Tidak! Tidak cukup! Perjalanan itu niscayanya tidaklah berhenti di sini. Masih panjang. Kita perlu membuktikan kepada mereka berdua bahwa kita memang layak menjadi kebanggaan mereka. Dan bukan untuk mempermalukan mereka karena wajah kita terpampang di layar televisi, ditonton jutaan mata penduduk republik ini karena tertangkap tangan oleh KPK menerima satu koper kertas merah bergambar Soekarno Hatta atau Hijau bergambar Benyamin Franklin. Tidak! Bukan untuk itu!

 

Tapi untuk menjadi seorang professional yang mempunyai integritas pada sebuah lembaga yang berusaha meninggalkan masa lalunya, mereformasi dirinya, menggapai cahaya di ujung terowongan gelap gulita. DE JE PE! Ya DJP. Dan kita akan katakan pada dunia nantinya, dengan lantang–tak perlu berbisik-bisik seperti yang biasa dilakukan pegawai pajak dulu—”kita adalah aparat pajak!”

 

Kawan, itu semua tak akan terjadi jikalau dari hati kita masing-masing ada kehampaan dari sebuah niat yang baik. Bukankah semua perbuatan itu tergantung dari niatnya? Maka sudah semestinya kawan, untuk memasukinya, untuk mengawalinya ada sebuah niat baik hanya karena Yang di Atas Semata. Bukan karena gengsi, bukan pula karena remunerasi, bukan pula untuk melanggengkan trah keluarga birokrasi, apatah lagi karena ingin korupsi. Aih, apa kata dunia?

 

Kawan, negara butuh kita. Negara butuh kejujuran kita. Dan rakyat telah menanti pelayanan kita di luar sana. Karena sejatinya kita bukanlah penguasa, bukan pula orang yang minta dilayani, tetapi kitalah yang melayani mereka. Kitalah khadimul ‘ummah, pelayan rakyat. Klise bukan? Seperti jargon masa lalu yang nihil pada tataran aplikasi. Sekarang, saatnya untuk membuktikan bahwa itu tidak klise. Bukan mengulang-ulang. Itu baru. Dengan jiwa baru, dengan semangat baru.

 

Ah, sudah cukup berbanyak kata, berpanjang kalimat, yang hanya menegaskan kita hanyalah sekumpulan orang yang banyak omong tanpa aksi. Inagurasi ini hanyalah satu lecutan cambuk helaan yang membuat kita bersemangat lari mengejar sebuah cita, sebuah asa yang masih ada. Bahwa Indonesia adalah negeri yang bebas dari noda hitam perilaku ketidakjujuran.

 

Itu dimulai dari kita sendiri, hal yang terkecil, dan saat ini.

Semoga.

 

 

***

riza almanfaluthi

14 April 2009

dedaunan di ranting cemara

 

 

*) Satu paragraf ini saya ambil dan edit dari seorang penulis di http://encung.multiply.com/journal/item/10

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s