Bagaimana Kalau Kangen?


Main Mercon.

…telah sampailah  kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan kami ke dusun Wringinputih, tempat Mbah Rejo yang tua, bongkok, berdaulat, memakai tongkat, dan kopiah hitam yang sudah kecokelatan dengan ukuran nomor 5.

*

Dua prajurit itu menguntitku di belakang. Awalnya aku tak tahu siapa mereka. Tetapi penampilan rambut mereka yang cepak sudah bisa memastikanku. Satu prajurit berlari mendahuluiku, namun bisa kususul kembali. Satu lagi menyusulku dan tak bisa kusalip lagi. Itu juga karena kami berbeda arah. Ia ke timur, aku ke utara.

Pagi itu (16 Juni 2018), aku memang berlari dari rumah di Wringinputih, Borobudur, Magelang menuju depan kompleks Candi Borobudur. Jaraknya kurang lebih 5 kilometer. Jadi pagi itu genaplah 10 kilometer aku berlari. Itu juga dengan perjuangan berat bangun dari peraduan seperti Anaconda yang kekenyangan sehabis makan kapibara, rodensial terbesar di dunia.

Kabut yang membawa hawa dingin dan menggantung di langit-langit desa benar-benar membuatku terbangun pada pukul 2 pagi. Tidurku tak bisa lelap lagi. Sampai lewat Subuh, dingin pun tak juga beranjak. Benar-benar menusuk tulang.

Aku memakai sepatu lariku. Jam lari dan Sport ID sudah siap di pergelangan tangan. Setelah pemanasan aku pun segera berlari. Sebuah kebiasaan mingguan yang kulakukan lagi setelah 40 hari lamanya libur. Terakhir aku berlari pada saat kegiatan Ikanas Run di bulan Mei 2018.

Tiga tahun belakangan ini, setiap kali aku mudik ke Borobudur aku menyempatkan diri untuk berlari pagi di sana. Suasana pedesaan memang luar biasa asrinya. Barangkali pelarianku hari ini pun sebagai pemanasan.  Insyaallah, aku akan menjadi peserta Borobudur Marathon pada 18 November 2018 mendatang.

Ya, setelah semalam di Segeran, tiga malam di Semarang, perjalanan mudik kali ini, telah sampailah  kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan kami ke dusun Wringinputih, tempat Mbah Rejo yang tua, bongkok, berdaulat, memakai tongkat, dan kopiah hitam yang sudah kecokelatan dengan ukuran nomor 5.

Seharian itu kami bersilaturahmi kepada sanak saudara maupun fiktif, tidak ke handai tolan karena aku tak punya teman di sana; menziarahi makam ibu mertua; membuka banyak tutup toples; mencicipi teh hangat, mi rebus, dan opor ayam; mendoakan dan mencium kening kerabat yang sakit; meminta doa-doa kebaikan; dan foto-foto. Bagus simpan, jelek hapus. Ritus dari sebuah generasi sekarang yang tak akan pernah lagi melihat klise film.

Aku menolak kunjungan ke Candi Borobudur karena tahun lalu kami sudah pernah ke sana. Apalagi coba yang hendak dilihat kecuali keriuhan pelawat domestik? Pun, kami hanya sebentar saja di Magelang ini. Kami harus mengejar waktu yang sudah lari terbirit-birit. Kami harus segera pergi ke Purbalingga.

Sebagai bekal perjalanan, kami dibawakan banyak oleh-oleh. Antara lain sagon, gula aren asli, dan jenang. Yang terakhir ini adalah kudapan yang awalnya kupicingkan sebelah mata, namun ternyata kelak menjadi makanan yang kurasa enak sekali. Engkau tahu? Aku menyunting tulisan ini pun sambil menyantap seperlima bagiannya.

Mbah Rejo dan kami.
Rumah masa depan?
Makam Ibu Mertua.

Nelangsa Berdarah-darah

Magrib 4 Syawal 1439 H itu, sesaat azan berkumandang, kami usaikan kunjungan dan memulai lawatan kami ke sanak saudara yang lain. Kami tinggalkan rumah dengan perasaan nelangsaku yang berdarah-darah terbawa dari bilik jantung yang satu menuju bilik jantung yang lainnya. Dengan katup yang masih berfungsi dan saluran yang tak tersumbat jelantah kolesterol. Magrib seringkali membuatku demikian. Lebih tepatnya disergap perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Sepertinya muazin tahu betul perasaanku itu maka ia menyenandungkan azan dengan sepenuh hati lalu mengangkasakannya. Tinggi setinggi-tingginya.

Perjalanan itu kami mulai kembali. Sejauh 123 kilometer akan kami tempuh. Kami melalui jalan Purworejo-Salaman lalu berbelok ke kanan menuju Jalan Wonosobo-Magelang yang berkelak-kelok. Dikarenakan kami belum makan, kami berhenti di rest area Beran, Kepil.

Dan pilihan warung ayam goreng kampung yang berada di sisi paling kanan rest area itu menjadi pilihan jitu untuk perut kami yang sudah mengaum sejak dari sore. Penjualnya sudah menua semua. Ayam goreng kampungnya enak tak tepermanai, sambal hijaunya juga lezat. Murah lagi. Sekarang ini, kami jadi punya rekomendasi tempat rehat nyaman sebagaimana SPBU MURI di Tegal atau Rumah Makan Sari Raos Bandung di Pekalongan.

Setelah itu perjalanan 94 kilometeran masih harus kutempuh. Kami kemudian melalui Kertek, Banjarnegara. Aku hanya sekali menguap. Kopi Arabika dari Meulaboh yang kubuat sendiri di warung ayam goreng itu mampu membuatku terjaga mengarungi jalanan sepi. Kami tiba dengan selamat di Jalan Jenderal Sudirman, Purbalingga pukul 23.30. Alhamdulilah.

Warung Soto Ayam Pak No itu masih buka dan dipenuhi dengan pembeli. Lebaran memang membawa banyak keberkahan buat banyak orang. Salah satunya warung sanak kami ini yang cabangnya sudah ada di mana-mana. Kami akan tinggal selama dua malam di rumahnya.

Waktu berlalu begitu saja. Saatnya kami kembali ke Jakarta. Kinan ditinggal di Purbalingga. Ia masih ingin berlama-lama dengan sepupu-sepupunya. Baru kali ini kami meninggalkan anak seperti ini. Kakak-kakaknya belum pernah melakukannya. Kinan berani ditinggal selama dua minggu ke depan.

Lalu akubilang kepadanya, “Bagaimana kalau Abi kangen?” Katanya, “Itu DA-lah”. “Apa itu DA?” tanyaku. “Derita Abilah,” jawabnya. Begitu ya. Tahu dari mana coba istilah seperti itu? Abinya saja tak tahu. Tetapi apa yang dikatakan Kinan itu betul sekali.

Ketika piknik ke Purbasari.

9 Hari 8 Malam

Berangkatlah kami dari Purbalingga siang itu (Selasa, 19/6) menuju Tegal. Di sana kami harus mampir dulu ke rumah saudara kami yang lain lagi untuk mengambil krupuk antor. Krupuk melarat khas Tegal yang diberi bumbu khusus.

Berdasarkan informasi dari Google Maps kami akan sampai di Tegal sekitar pukul 18.00.  Kami melewati Randudongkal, Pemalang dan jalanan yang pernah aku lewati satu setengah tahun lampau. Tak banyak yang bisa diceritakan akhirnya kami sampai di Tegal tepat pada waktunya.

Niatnya kami tidak bermalam, namun kami diminta untuk berangkat besok paginya. Ya sudah kami putuskan menginap di toko Haji Agus di Talang, Tegal. Sambil mencicipi kuliner khas tegal seperti Sauto, soto yang dicampur dengan tauco. Saya baru pertama kali mencicipi kuliner ini dan rasanya aneh ketika dicampur dengan tauco. Tetapi lidah ini tak pernah hilang ingatan tentang sebuah rasa tauco, masakan yang sering dibuat oleh ibuku waktu aku masih kecil.

Pagi itu kami meninggalkan Tegal. Aku melihat peta dan tampak ada kemacetan panjang di sekitar tol Pejagan. Jadi kami tidak masuk tol melalui Pintu Tol Tegal atau pun Pintu Tol Brebes Barat dan Timur, kami mencegatnya di Pintu Tol Kanci. Jalan Pantura Tegal-Kanci masih lancar. Kami bersaing dengan pengguna motor. Sempat kami alami kemacetan sedikit karena ada truk elpiji yang bergelimpang.

Setelah masuk di jalan tol terlihat ada dua garis merah di jalan tol Cipali. Menjelang titik kemacetan itu, kemudi aku serahkan kepada Mas Haqi dan ini sangat membantuku. Aku sudah mengantuk.

Dua titik kemacetan itu bisa dilalui dalam waktu yang relatif tidak lama. Kemacetan yang masih biasa saja dan bisa ditoleransi. Kami berhenti di rest area Cibubur untuk salat. Dan pada akhirnya kami menyelesaikan perjalanan mudik ini ketika mobil kami sampai di rumah pada pukul 14.30.

Selesai sudah perjalanan panjang kami ini. Semalam di Segeran, tiga malam di Semarang, semalam di Magelang, dua malam di Purbalingga, dan semalam di Tegal. Silaturahmi selama 9 hari 8 malam ini bisa aku jadikan pembelajaran. Semoga banyak keberkahan yang mengiringinya.

Insyaallah tahun depan, perjalanan Citayam-Semarang sepenuhnya bisa dijalani dengan lebih cepat, selamat, dan sehat.  Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan?

Ya, kan?

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
01 Juli 2018

Baca Cerita Mudik Sebelumnya:

  1. Membeli Martabak di Bulak
  2. Di Titik Didih Kerinduan

 

Advertisements

2 thoughts on “Bagaimana Kalau Kangen?

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s