Cinta Tak Lekang Sabari



Judul        : Ayah

Penulis    : Andrea Hirata

Penerbit    : Bentang Pustaka

Terbit    : Cetakan Keenam, Agustus 2015

Tebal     : xx + 412 halaman

Sabari sudah kadung cinta kepada Marlena sejak SMP, sampai SMA, kemudian lulus. Tapi apa daya cintanya selalu ditolak Lena. Tak pernah hidupnya berpaling dari Lena, si cantik pemberontak berlesung pipit, hingga semua yang dikerjakan dalam hidupnya hanya untuk sebuah obsesi: cinta Lena.

Kemudian Sabari ketiban pulung, kalau tidak disebut mengorbankan dirinya. Karena suatu sebab, Sabari diminta Markoni untuk menikahi Lena. Walau mereka sudah menikah, tak pernah mereka hidup serumah. Hingga Si L dan seluruh kebaikan yang dibawa—sebutan Sabari kepada Lenamelahirkan anak yang kemudian biasa dipanggil Zorro.

Walau bukan anaknya, Zorrolah yang menjadi pelipur lara atas cinta Sabari kepada Lena. Zorro adalah hidupnya Sabari. Maka kehidupan hanyalah sekumpulan kelinglungan ketika Lena menceraikannya kemudian Zorro pun dicerabut dari dirinya.

Sesungguhnya membaca novel ini seperti mengilas balik kisah lama kenaifan tokoh Forrest Gump dalam film Forrest Gump, kegigihan seorang ayah bernama Chow Ti dalam CJ7, atau kesetiaan sampai mati yang melekat pada Baridin dalam cerita legenda masyarakat Cirebon: Ratminah dan Baridin. Untuk yang terakhir, singkirkan gendam dan ketidakadarestuan ayah sang perempuan.

Tapi walau demikian kekuatan dalam novel yang bertaburkan puisi ini tak mesti berhenti karena sebab-sebab di atas. Seperti biasa dan seperti dalam novel-novel terdahulunya Andrea mahir dalam bermetafora, personifikasi, simile. Andrea juga masih mampu membuat pembaca novelnya tertawa terbahak-bahak, menangis, melupakan, dan menyembunyikan satu tokohnya tanpa sadar hingga kemudian ia muncul di akhir cerita.

Karakter para tokoh dalam novel ini pun kuat sekali kecuali untuk Sang Aborigin, Brother Niel Wuruninga, yang terkesan hanya sebagai pelengkap cerita belaka. Sebagai “sang terpilih” karena ia menemukan seekor Penyu yang kakinya diikat dengan lempengan alumunium bertuliskan pesan dari Indonesia Lonely Man kepada dunia.

Sebagaimana buku-buku lain, novel Andrea tak luput dari kekurangan. Perancang sampul novel ini barangkali tidak membaca atau lupa bahwa sepeda yang dipakai oleh Sabari bukan seperti yang digambarkan Andrea.

Ada satu elemen yang ditinggalkan dalam gambar sampul dan simbol sepeda yang menjadi pemisah bagian cerita dalam sebuah bab. Seharusnya ilustrasi sepeda itu lengkap bersama boncengan rotan yang disematkan di setang sepeda tempat Zorro ditaruh dan diajak berkeliling oleh Sabari.

Dalam cetakan keenam ini buku Andrea pun tak lepas dari kesalahan ketik yang semestinya tak perlu pada beberapa halamannya. Padahal buku ini digawangi oleh satu penyunting dan dua pemeriksa aksara.

Ah, ini tak seberapa dengan kedalaman makna dari novel Andrea yang filmis ini. Bahkan dari deskripsi Andrea setidaknya ada beberapa orang yang sepertinya layak dalam memerankan tokoh utama Sabari jika difilmkan. Salah satu di antaranya adalah Ringgo Agus Rahman.

Novel yang diselesaikan oleh Andrea Hirata dalam jangka waktu 6 tahun ini memang pantas menambah khazanah sastra Indonesia dan layak untuk dibaca. Apalagi bab terakhirnya. Baridin banget!

[Riza Almanfaluthi]

Resensi ini dimuat di Dakwatuna.com

http://www.dakwatuna.com/2016/01/11/78057/78057/#axzz3wvZki6JZ


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s