TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari ini membuktikan kalau para pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak hanya mementingkan dirinya sendiri melainkan juga tahu tentang tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik. Ilmu pajak ini harus dapat dipahami dan disebarkan kepada yang lain. Contohnya kepada orang tua masing-masing. “Tanya kepada mereka, sudah bayar pajak atau belum?”

Hal ini dinyatakan oleh Eli Darmi, Kepala SMA Negeri 1 Tapaktuan, dalam sambutannya di acara Tax Goes To School yang diselenggarakan di aula SMA Negeri 1 Tapaktuan, Rabu (4/6). Tak kurang dari 63 pelajar mengikuti acara itu. Acara yang digagas oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bekerjasama dengan SMA Negeri 1 Tapaktuan ini merupakan salah satu agenda sosialisasi tahunan ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Aceh Selatan.

“Sosialisasi ini merupakan road show investasi pemahaman pentingnya pajak buat pembangunan negeri. Karena merekalah calon pembayar pajak di masa depan,” ujar Kepala KPP Pratama Tapaktuan, Jailani, saat dimintakan keterangannya. Dalam sambutannya ia berpesan agar pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak menyia-nyiakan waktu mudanya dengan cara belajar yang baik di sekolah ini. “Sekolah ini dibiayai dengan pajak yang dibayarkan Wajib Pajak dan dikumpulkan oleh negara,” tegasnya.

Kepala Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Tapaktuan, Suardjono, sebagai Ketua Panitia acara ini menambahkan, materi penting yang disampaikan kepada pemula ini antara lain materi dasar tentang manfaat pajak, peranan pajak, dan cara pembayaran pajak. Yang terakhir ini wajib disampaikan karena masih rancunya pemahaman di masyarakat bahwa bayar pajak itu di kantor pajak. “Padahal tidak demikian. Bayar pajak ya ke bank,” jelasnya.

Sekolah yang didirikan pada tahun 1959 di kota pala ini merupakan salah satu sekolah terbaik di Aceh Selatan. Sudah banyak prestasi yang ditorehkannya. Di antaranya sekolah ini mampu mengirimkan seorang siswanya menjadi duta Aceh dalam Olimpiade Siswa Nasional tingkat nasional. Tak heran dalam acara Tax Goes To School ditampilkan pula siswa-siswi berbakat di bidang seni seperti tarik suara dan pembacaan puisi.

Direncanakan dalam bulan yang sama, KPP Pratama Tapaktuan melanjutkan road shownya ke SMA Negeri Unggul Aceh Selatan. [RizaA]

*

Riza Almanfaluthi

Diunggah pertama kali di situs intranet Sumber Daya Manusia DJP

 

 

 

 


 

RIHLAH RIZA #37: YANG DIPERTOAN AGONG


RIHLAH RIZA #37: YANG DIPERTOAN AGONG

 

Namun, praktik pengajaran Bu Mus dan “stadium general” Pak Harfan berpijak pada prinsip yang tidak menyeragamkan standar kecerdasan anak. Semua murid diberi keleluasaan mengembangkan minat, potensi, dan bakat masing-masing.

(Asrori Karni-Laskar Pelangi: The Phenomenon)

 

Awalnya saya mengira kalau harga tiket pesawat dari Medan ke Jakarta atau sebaliknya akan mahal jika menjelang mudik atau balik lebaran, ternyata itu salah. Bahkan harga tiket pesawat ikut-ikutan mahal ketika satu minggu menjelang Ramadhan serta bertepatan dengan liburan sekolah. Saya sampai kehabisan tiket pulang dari Jakarta ke Medan pada hari Ahadnya. Terpaksa izin tidak masuk satu hari kerja di hari Senin untuk bisa kembali ke Tapaktuan.

Pulang ke Citayam kali ini memang bukan di jadwalnya. Namun mau tidak mau saya wajib pulang karena harus menghadiri momen langka dalam seumur hidup saya. Menyaksikan prosesi wisuda anak saya yang kedua: Muhammad Yahya Ayyasy Almanfaluthi. Alhamdulillah, Ayyasy lulus ujian Sekolah Dasar. Syukurnya juga adalah nilainya pun menduduki peringkat kedua dari seluruh teman-teman SD-nya. Selisih 0,05 dari teman perempuannya yang menduduki peringkat pertama.

Saat Ayyasy dipanggil oleh pembawa acara wisuda sebagai peraih nilai tertinggi ujian dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kami terkejut. Karena sesungguhnya kami tidak menyangka. Sewaktu try out, untuk pelajaran Bahasa Indonesia Ayyasy selalu mendapatkan nilai lebih kecil dibandingkan dengan dua mata pelajaran lainnya: IPA dan Matematika.

Kami—abi dan uminya—pun tidak memaksakan ia harus meraih nilai tinggi dalam ujian. Kami sangat menghargai proses. Tidak pada hasil akhir. Yang terpenting bagi kami adalah ia harus belajar. Belajar adalah ikhtiar yang wajib dilakukan olehnya sebagai manusia. Doa adalah ikhtiar lanjutannya. Insya Allah hasil menjadi efek ikutan.

Bentuk proses yang kami hargai di sana adalah bahwa haram hukumnya mendapatkan nilai dengan menggunakan cara-cara yang tidak halal. Pihak sekolah pun sangat mendukung. Oleh karenanya, tidak ada istilah bagi-bagi jawaban saat mau ujian. Tidak ada juga istilah saling mencontek. Di sinilah saat kejujuran menjadi “yang dipertoan agong“. Lebih baik mendapatkan nilai rendah tapi didapat dengan kejujuran daripada nilai tinggi yang didapat dengan cara-cara culas. Syukurnya pula Ayyasy dan teman-temannya lulus semua dengan nilai yang memuaskan. Insya Allah berkah.

Di sekolah Ayyasy terdapat empat siswa yang mendapatkan nilai sempurna dalam ujian sekolah. Ayyasy bukan salah seorang di antara mereka. Tapi itu tidak mengapa. Dan dipanggilnya Ayyasy ke atas panggung yang mengejutkan itu membuat kami bangga. Ya betul, terselip rasa bangga. Sangat manusiawi. Ayyasy mampu mewujudkan apa yang pernah kami sampaikan kepadanya di suatu waktu, “Ayyasy bisa tidak membuat Abi dan Umi bangga?”

Itu bukan tuntutan tapi harapan. Kami tidak memaksa. Kami tidak memukul atau menghina atau menindasnya secara fisik atau verbal ketika Ayyasy tidak mampu mewujudkannya. Apa adanya saja. Sambil kami terus berdoa agar Ayyasy sukses dunia dan akhirat. Tentu yang sering kami katakan dan bayangkan adalah sungguh kebahagiaan yang luar biasa jika ia membuat bangga kami di akhirat dengan amalan-amalan salehnya.

Yang menarik lagi dalam prosesi wisuda itu adalah pihak sekolah juga memanggil semua siswa ke atas panggung untuk menerima ucapan selamat dan plakat penghargaan. Plakat atas keberhasilan mereka menjadi yang terbaik dalam kecerdasan lain yang mereka miliki. Ya, kecerdasan ala Howard Gardner itu tidak terbatas kecerdasan kata dan logika melainkan ada banyak kecerdasan lainnya (multiple intelligences) seperti cerdas gambar, cerdas musik, cerdas tubuh, cerdas diri, cerdas bergaul, dan cerdas alam. Howard Gardner mencetuskan delapan kecerdasan itu di tahun 1983 dan tahun 1990-an.

Dengan pemberian ini sekolah sangat meyakini bahwa teman-teman Ayyasy pun memiliki kecerdasan yang tidak dapat diremehkan. Ini upaya yang sesungguhnya mengangkat mental mereka. Dengan ini pihak sekolah yakin, di dunia yang serba materialistis dan mengagungkan IQ (intelligence quotient) sebagai ukuran kecerdasan serta kesuksesan, mereka tidaklah bodoh, mereka unik, mereka adalah siswa berprestasi di bidangnya.

Melihat itu pikiran saya mengembara pada Ibu Muslimah dan Pak Harfan dalam novel dan film Laskar Pelangi. Dua sosok yang mampu mendidik murid-muridnya di sekolah yang hampir roboh itu tanpa menyeragamkan standar kecerdasan anak pada kecerdasan bahasa dan logika. Mereka mendahului Howard Gardner dalam praktiknya. Dan ini berhasil membuat anak-anak didik mereka mempunyai semangat bertempur yang besar melawan ketidakberdayaan dan kemiskinan untuk dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ini mencerahkan.

Malamnya, kami lengkap berlima berkumpul di ruang tengah. Mas Haqi—pangeran, pewaris tahta keluarga, dan pemilik cerdas bergaul—sudah kami jemput dari Pesantren Alkahfi. Ia libur dua minggu. Nanti di awal Juli ia harus kembali sekolah dan tentunya bersama Ayyasy. Ya, Ayyasy mengikuti jejak kakaknya melanjutkan sekolah di sana. Kelak di rumah tinggal Umi dan Kinan. Umi sudah mulai membayangkan rumah ini semakin sepi saja. Nantinya tak ada celoteh dan pertengkaran kecil antara Ayyasy dan Kinan. Pertengkaran yang selalu kami lerai tapi suatu saat dirindu juga.

Waktu berjalan dengan cepat sekali. Besok saya harus kembali ke Tapaktuan. Kami harus berpisah lagi. Saya bersyukur masih bisa berkumpul di waktu singkat ini. Berkumpul dengan nilai yang sangat mahal. Tapi tidaklah mengapa. Karena ada sesuatu yang tidak dapat disetarakan dengan uang. Yakni sebuah kebahagiaan. Ya, kebahagiaan bisa melihat Ayyasy diwisuda. Kami bisa berfoto bersama. Kami bisa menegaskan pada Ayyasy bahwa abinya ada untuknya. Saya, abinya, ada untuk membuat simpul agar ikatan batin ini semakin erat, erat, dan erat. Sekali lagi, tidak ada kata terlambat untuk membuat ikatan antara ayah dan anaknya.

Ayyasy, Umi, dan Kinan.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

27 Juni 2014

 

 

 

DEKLARASI DI KOTA NAGA, PERTAMA DI ACEH


 
 

 
 

DEKLARASI DI KOTA NAGA, PERTAMA DI ACEH

 
 

 
 

 
 

 
 

Pencanangan “Gerakan DJP Bersih di Tangan Kita” pada hari ini merupakan titik tolak untuk meningkatkan kembali kebersamaan para pegawai. Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan, Jailani, di Tapaktuan, Kamis (22/5).

“Acara ini juga untuk menyatakan dengan tegas bahwa kantor pajak bukan institusi penuh KKN. Kita semua antikoruptor,” jelasnya saat membuka acara. Acara yang diselenggarakan sore hari di tepi pantai Rindu Alam, Lhok Keutapang, Tapaktuan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Internalisasi Corporate Value (ICV) KPP Pratama Tapaktuan.

ICV hari itu dimulai dengan kegiatan indoor berupa pemaparan yang disampaikan oleh Riza Almanfaluthi sebagai ketua panitia kegiatan kepada seluruh peserta ICV. Pemarapan ini penting agar peserta tahu latar belakang dari pencanangan gerakan. “Gerakan ini menjadi gerakan moral antikoruptor yang wajib diikuti oleh seluruh pegawai DJP,” ujarnya. “Di Kanwil DJP Aceh, KPP Pratama Tapaktuan menjadi yang pertama dalam pencanangan gerakan ini,” tambahnya lagi.

Setelah pemaparan seluruh peserta berjalan kaki menuju tempat yang telah ditentukan untuk pelaksanaan kegiatan outdoor. Tapaktuan, kota kecil yang dikenal dengan sebutan Kota Naga ini terkenal dengan pantai eksotisnya. Di sanalah acara pendeklarasian komitmen pegawai KPP Pratama Tapaktuan akan dilaksanakan.

Dengan memakai ikat kepala merah putih yang menggambarkan tekad bulat untuk tetap memberikan yang terbaik buat negeri di wilayah terpencil ini, peserta tetap semangat menuju pantai yang berjarak satu kilometer dari kantor.

Di bawah lambaian nyiur, turunnya senja, deru suara ombak, kibaran sepasang bendera merah putih, dan di dalam sebuah lingkaran besar, lantunan ayat suci Alquran membuka acara outdoor. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tak kurang semangatnya pegawai bersama-sama mendeklarasikan komitmen DJP Bersih di Tangan Kita.

Bertekad untuk sama-sama mewujudkan DJP sebagai institusi yang bersih dari praktik korupsi; saling mengawasi dan mengingatkan sesama pegawai DJP untuk tidak melakukan praktik korupsi; melaporkan kepada pimpinan DJP setiap dugaan praktik korupsi yang dilakukan oleh dan/atau melibatkan pegawai DJP; menjaga kehormatan dan martabat sebagai pegawai DJP; dan menjunjung tinggi nilai-nilai Kementerian Keuangan: integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan.

Usai pendeklarasian, acara dilanjutkan dengan penandatanganan banner oleh seluruh peserta ICV
sebagai tanda telah mengetahui, menyepakati, dan tekad bulat untuk melaksanakan komitmen bersama gerakan moral DJP Bersih di Tangan Kita.

Penganugrahan kepada Account Representative (AR) berprestasi dan penayangan video pencanangan awal “Gerakan DJP Bersih di tangan Kita” di Kantor Pusat DJP menjadi puncak acara ICV. Acara yang diselenggarakan pada malam hari ini menahbiskan Yusra Effendi dan Rudi Wahyudi dari dua Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang ada di KPP Pratama Tapaktuan sebagai AR dengan pencapaian penerimaan pajak tertinggi sampai dengan bulan April 2014.

Selain itu Jailani memberikan apresiasi yang sama kepada Mohamad Cahyandaru sebagai AR Terbaik dalam melakukan penggalian potensi pajak dengan menggunakan Approweb. Jailani menutup acara itu dengan berpesan agar penghargaan ini memacu pegawai lain untuk meningkatkan prestasi kerjanya.

***

 
 

Riza Almanfaluthi

Dimuat pertama kali di situs Intranet Sumber Daya Manusia DJP.

 
 

 
 

 
 

 
 

  

RIHLAH RIZA #36: MENJELMA MENJADI PELUKAN


RIHLAH RIZA #36: MENJELMA MENJADI PELUKAN

 
 

I tell you that wealth does not make you good within,

but that from inner goodness comes wealth and every other benefit to man.

(Socrates, The Apology)

 
 

Akhir Mei lalu, di hari-hari dalam sepekan yang saya manfaatkan betul untuk bersama dengan keluarga, saya menjadi saksi dari sebuah keberhasilan kecil. Keberhasilan yang dilakukan oleh Kinan dan Ayyasy. Ketika saya belum juga reda dari lelah menempuh ribuan kilometer perjalanan Tapaktuan-Jakarta, Kinan sudah meminta saya mencopot dua roda belakang tambahan di sepeda kecilnya itu. Kinan sepertinya ingin memberanikan diri menaiki sepeda hanya dengan dua roda. Saya bilang nanti besok.

Tiba-tiba Kinan datang kembali dari tempat mainnya dengan dua roda belakang tambahan yang sudah terikat di stang sepeda. Roda itu telah dicopot sama tetangga jauh. Tapi Kinan masih belum bisa menaiki sepedanya. Kakinya masih menyentuh tanah. Bahkan Kinan menuntun sepeda sampai rumah ketika ia sadar ia masih belum berani naik.

Besok paginya, Kinan sudah tak sabar ingin belajar naik sepeda. Saya angkat dan bawa sepedanya ke jalanan depan rumah. Saya meminta Kinan duduk di sadel, kakinya dinaikkan di satu pedal, dan saya dorong sepedanya sambil teriak, “genjot sekarang!” Kinan melaju ke depan dengan lancar tanpa halangan. Ia berteriak kesenangan. Kemudian saya memberikan ilmu cara mengerem dan belok agar bisa lebih ahli lagi.

Seharian anak yang mau kelas satu SD ini main sepeda. Tak kenal waktu. Saya mewanti-wanti agar ia berhati-hati dan jangan jauh-jauh. Melihat Kinan dari kejauhan saat ia berusaha keras agar tidak goyang menaiki sepeda ada yang hangat mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Tahu-tahu besok saya harus kembali lagi ke Tapaktuan. Tapi Sabtu ini saya hadir dalam wisuda Ayyasy. Wisuda Alquran Angkatan III SDIT Al-Hikmah Cipayung Depok. Juz 30 insya Allah sudah dihafalnya. Juz 29 mentok di Surat Almuzammil. Tidak apa-apa cuma hafal segitu. Masih banyak yang belum hafal satu juz. Malah masih banyak yang belum bisa baca Alquran. Apa pun pencapaiannya selalu layak untuk dihargai.

Melihatnya diwisuda dengan memakai baju putih, kopiah hitam yang kebesaran, kain hijau terselempang di bahu, pun ketika ia naik ke atas panggung, diberikan medali dan piagam, serta disalami oleh para ustaz ada hangat yang mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Bahagia yang sederhana. Yang mampu memberikan rasa nyaman. Itu pun baru sebatas bahagia di dunia. Apatah lagi bahagia di akhirat ketika Kinan mampu menaiki sepeda kehidupan dengan sukses. Sedangkan Ayyasy mampu memberikan mahkota cemerlang buat kedua orang tuanya karena hafal Alquran 30 juz misalnya.

Sepeda empat roda Kinan dulu (Foto koleksi pribadi).

 
 

Masjid Alhikmah yang jadi tempat wisuda (Foto koleksi pribadi).

 
 

Ayyasy berdiri di tengah paling belakang di sebelah temannya yang pakai peci putih (Foto koleksi pribadi)

Abi dan Ayyasy (foto koleksi pribadi).

Ayyasy (Foto koleksi pribadi).

 
 

Ayyasy bersama Alustadz Alhafiz Badruddin Lc,. MT.

 
 

Menyaksikan dua momen itu setidaknya adalah saat memastikan diri tidak ada kata terlambat bagi saya untuk memiliki golden moment. Ketika fase-fase sebelumnya, fase anak masih dalam kandungan dan usia 0-2 tahun, fase terbaik dalam membentuk ikatan hati dengan anak terlewati. Golden moment inilah yang oleh Bendri Jaisyurrahman disebut sebagai saat orang tua harus hadir menemani mereka: saat sedih dan berprestasi.

Ketika anak sedih saya harus menjelma menjadi pelukan menenangkan mereka. Ketika mereka berprestasi, wisuda, dalam pertandingan olahraga, atau kegiatan lainnya, saya upayakan sekuat tenaga untuk bisa hadir secara fisik menemani. Inilah saat saya harus menjelma menjadi senyuman, teriakan, tepuk tangan, acungan jempol, dan tertawa buat mereka. Inilah persembahan terbaik orang tua kepada anak. Ini bahagia saya juga. Karena bahagia itu juga tidak semata uang.

Tambah uang tambah bahagia. Ini anggapan yang kebanyakan orang harus terima sebagai realitas. Tapi ternyata pada suatu titik tertentu, pertambahan uang akan berhenti memberikan tambahan kebahagiaan, bahkan menjadi antiklimaks, dan menukik turun tajam. Inilah yang bila digambarkan dalam sebuah grafik disebut dengan “Kurva U Terbalik”.

Dalam buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa, titik itu oleh para cendekia berada pada kisaran 75 ribu dolar Amerika Serikat per tahun. Atau sebesar 825 juta rupiah per tahun dengan kurs 11 ribu rupiah per 1 dolar Amerika Serikat. Setara gaji sebulan sebesar 68,75 juta rupiah. Di atas angka ini uang tidak mampu memberikan kebahagiaan lebih. Bahkan memudarkan kebahagiaan.

Dalam buku tersebut Gladwell membandingkan antara pengasuhan anak dengan kekayaan. Kualitas pengasuhan anak di sumbu y dari titik terendah (sukar) menuju titik teratas (mudah). Sedangkan kuantitas kekayaan di sumbu x yang dimulai dari titik miskin bergeser ke kanan menuju titik kaya. Seperti ilustrasi berikut ini:

 
 

Faktanya, tak seorang pun bakal berkata dengan banyak uang yang dimiliki maka kita akan menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita. Sinetron-sinetron Indonesia menjadi cerminan akan hal ini. Rumah megah tak menjamin ada ketenteraman di sana. Bahkan seringkali diisi dengan teriakan, makian, hasutan, dan pertengkaran. Bertambahnya uang pada suatu titik berbalik menjadi pendulum yang akan memperburuk kualitas kita sebagai orang tua buat anak-anak kita. Ini tidak membahagiakan.

Mengapa pada suatu titik tertentu uang tidak memberikan kebahagiaan? Karena ada fenomena—yang saya kutip dari akun twitter Business Life—hedonic treadmill. Semakin kaya kita, semakin tinggi nafsu memiliki materi, semakin tidak puas, dan kebahagiaan pun menjadi stagnan.

Inilah fenomena yang disebut juga dengan fenomena “fokus terhadap apa yang diinginkan”. Kalau kita sehari-hari hanya fokus terhadap apa yang kita inginkan maka yang ada ketidakpuasan terus-menerus. Kita belum liburan ke Bali, belum punya ipad, mobil satu lagi belum terbeli. Begitu banyak daftar keinginan kita yang senantiasa terpikirkan. Ini tidak membahagiakan. Maka Richard Carlson—penulis buku-buku best seller—sebagai konsultan stres pun mengatakan, “Fokuslah terhadap apa yang dimiliki, hidup Anda akan lebih baik. Dan barangkali untuk pertama kalinya Anda akan tahu apa artinya merasa puas.”

Islam sudah mengajarkannya berabad-abad lampau. Kalau kita bersyukur akan ditambah nikmatnya. Jika sebaliknya, azablah yang akan datang. Dicabutnya kebahagiaan dari diri kita bisa jadi merupakan azab kecil yang Allah berikan karena ketidaksyukuran ini. Ah, betapa banyaknya…

Maka, saya mensyukuri keberhasilan kecil mereka ini. Dan akan berusaha mensyukuri keberhasilan mereka yang lainnya. Setelah itu saya harap ada yang hangat mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Walau seringkali menikmatinya dari jauh.

***

 
 

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Juni 2014

 
 

 
 

Tags: kinan fathiya almanfaluthi, muhammad yahya ayyasy almanfaluthi, sdit alhikmah cipayung depok, malcolm gladwell, richard carlson, david & goliath ketika si lemah menang melawan raksasa, badruddin lc,

DRAMATISASI PEMBAKARAN POSKO JOKOWI OLEH TEMPO.CO


DRAMATISASI PEMBAKARAN POSKO JOKOWI OLEH TEMPO.CO

 

Seperti diberitakan oleh Tempo.co di link ini bahwa telah terjadi pembakaran Pondok Komunikasi Rakyat Jokowi oleh orang yang tidak dikenal pada Senin dinihari (26/5). Sebagai efek lebih menderita dan mendramatisasi suasana kebakaran maka Tempo.co menayangkan gambar atau foto seperti di bawah ini.

 

Capture berita yang diambil dari sini.

 

Dalam foto tersebut tidak ada caption yang menggambarkan atau menerangkan data objek foto. Di sana hanya ada tulisan TEMPO/Firman Hidayat. Padahal caption adalah ilmu dasar jurnalistik foto yang biasa jadi bahan ajar wartawan foto. Foto yang tanpa caption—yang saya kutip dari blog Kelompok Diskusi Wartawan Jawa Tengah—disebut juga dengan foto bisu. Foto bisu ini membingungkan pemirsa, bahkan bisa jadi pemirsa akan memiliki persepsi beda dalam memaknai maksud foto jurnalistik, karena tidak ada pesan yang mengarahkan. Demikian ditulis dalam blog tersebut.

Namun memang disengaja bahwa foto tersebut tanpa caption agar dapat mengarahkan publik bahwa Posko Jokowi (Tempo menyebutnya demikian) terbakar hebat. Foto bisu Tempo.co ini meyakinkan pembaca berita bahwa telah terjadi efek derita yang dahsyat. Apalagi dengan terminologi “dibakar” yang digunakan Tempo. “Dibakar” dan foto bisu dengan api yang bergolak melengkapi efek dramatisasi ini.

Tapi benarkah bahwa foto tersebut adalah foto pembakaran Posko Jokowi? Sekarang adalah era jurnalisme masyarakat (citizen journalism) sebagai partisipasi masyarakat dalam mengawasi jalannya demokrasi. Sekarang juga adalah era ketika “manipulasi” mudah untuk diketahui dengan segera karena semakin canggihnya teknologi informasi. Sekarang era Google. Dengan Google kita bisa melacak duplikasi sebuah foto. Dan saya menggunakannya untuk kali ini.

Di Google fasilitas penelusuran bisa menggunakan teks ataupun gambar. Foto ikon kamera di sebelah kaca pembesar memudahkan penelurusan dengan gambar.

Fasilitas pencarian gambar di Google.

Terdapat dua pilihan pencarian gambar ini. Dengan menempelkan url gambar atau mengunggah gambar yang mau dicari. Untuk lebih memastikan kevalidan proses pencarian maka saya mengunggah fotonya. Hasilnya mengejutkan dan sudah diduga. Foto tersebut digunakan untuk dua peristiwa kebakaran yang telah lampau. Pemberitaan kebakaran di Jelambar yang terjadi pada tanggal 28 September 2013 dan kebakaran di Kantor PLN Madiun yang terjadi 19 April 2014. Saya capture gambar pemberitaan kedua-duanya.

 


Capture berita kebakaran Kantor PLN Madiun Terbakar. (Sumber: Tempo.co)

 


Capture berita kebakaran di Jelambar. (Sumber: Tempo.co)

Saya tidak tahu foto kebakaran itu atas foto yang terjadi untuk peristiwa kebakaran di Jelambar atau di Kantor PLN atau untuk peristiwa kebakaran yang lainnya. Biarlah ahli multimedia yang menganalisisnya. Tempo.co malas mencantumkan caption dalam beberapa fotonya walau hanya sekadar dua kata “ilustrasi kebakaran”. Dua kata itu memberikan pemahaman bahwa foto itu hanya sekadar ilustrasi dan bukan peristiwa kejadian kebakaran yang sebenarnya.

Berita dan foto pembakaran Posko Jokowi telah menjadi viral dan diunggah oleh situs-situs lainnya. Ada yang serta-merta di antaranya menayangkan foto Tempo.co di atas sebagai sebuah fakta kebakaran di posko itu. Padahal dari beberapa pemberitaan dan foto yang ditayangkan, kebakaran itu tidak separah yang digambarkan dalam foto. Eternit posko tidaklah hancur atau menghitam sebagaimana digambarkan dalam ilustrasi foto.

Tapi apa pun motif yang ada di belakang peristiwa kebakaran ini, entah di mana pun kejadian kebakaran itu terjadi, saya turut prihatin. Sebagai orang yang pernah mengalami peristiwa kebakaran saya sedikit banyak tahu derita psikologis korban kebakaran. Namun keprihatinan ini pun tidak menutupi kekritisan kita terhadap netralitas media.

Netralitas media adalah hal yang langka pada saat ini. Tidak netral pun bukan hal yang tabu lagi. Tapi tugas media massa yang tidak boleh dilupakan adalah mencerdaskan masyarakat. Ketika media massa tidak menjalankan tugasnya maka tugas masyarakat itu sendiri untuk lebih cerdas dalam menyaring berita. Agar isi kepala tidak dipenuhi dengan sampah. Ini bukan negative campaign atau black campaign.

Terima kasih.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

27 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana.

http://politik.kompasiana.com/2014/05/27/dramatisasi-pembakaran-posko-jokowi-oleh-tempoco-655093.html

SEGELAS MABUK


SEGELAS MABUK

 

 

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang sebungkus bulan yang kau bawa di tepian panjang pantai calang. Kita santap setiap potongannya. Dan di setiap gigitan itu meledaklah bunyi nafas-nafas kita. Itulah saat hasrat mengeja api yang sering kau sebut rindu.

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang debur ombak yang kau selalu rapihkan karena kusut untuk kupakai. Kita cari sebintik bayang di bola mata masing-masing. Seringkali di sana sebentuk jujur menjadi binar abadi tak pernah terhapus dengan sepercik dusta barangkali. Itulah saat malam sungkan menyimpan hujan yang sering kau sebut air mata.

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang isak merupa nanar menggenangi ruang-ruang perih di puncak gerutee. Kita hirup aroma kopi tubruk panas. Mungkin sebentuk asap adalah pilinan resume dari kabut sejarah pertemuan kita. Setiap kau bicara tentang perpisahan, aku yang bicara tentang perjumpaan. Itulah saat Tolstoy pun gagap bicara apa yang sering kau sebut cinta.

Aku segelas mabuk yang bercerita. Cerita apa saja.

***

Riza Almanfaluthi

Lamlagang, Banda Raya, Banda Aceh

15 Mei 2014

Ditulis untuk Jejak Kata Tapaktuan

Sumber gambar dari sini.

MERAH ITU…


Merah itu…

 

 

kau merah, yang taburkan segenggam debu rindu, seraya rapal mantera amarah, lalu kau punah dikikis tatah kesumat, perihnya tanpa tara.

kau tumbang, koyak, jejas, jatuh dalam geraham getir

maka seringkali aku memohon padamu, di setiap malam yang nyaris kelu, kalau kau tak perlu peduli pada ingatan masa lalu.

kau puisi, yang hurufnya berkicauan merdu, di rerumpunan belukar kata, lalu kau sibak dengan spasi, dan apa yang kau temukan?

makna yang purba: cinta yang renta

maka sebelum kau sirna membawa prasasti luka, tetaplah menjadi puisi

yang aku acap eja di tengah malam

malam yang merah

merah itu engkau.

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis buat Open Mic Jejak Kata Tapaktuan

11.48 10 Mei 2014

Gambar diambil dari sini.

 

H E N D A K


Tiga orang ini mengais-ngais kata dalam tumpukan mulut. Menjadi puisi. Yang menafsirkan tentang malam. Dengan tafsirnya masing-masing. Di sebuah kota kecil. Ramai dengan sepi. Angkuh dengan gemuruh ombak. Karenanya tempat mana lagi ketika kata-kata dijaja dengan murah sedangkan kami di sini menjadikannya pualam. Indah didengar. Itu pun jika tidak tuli. Izinkan ia memusikalisasinya.

H E N D A K
**
aku hendak mengukur malam
dengan secangkir kopi panas
dan sebatang ingatan menyala
yang asapnya bertengkar
siapa harus pertama
menggapai angkasa

aku hendak mengukur malam
dengan banyak mulut para penyair
dan huruf-huruf lara derita
yang tercatat teliti
dalam sajak-sajak siapa
harus mati lebih dulu
diterkam sepi berwajah srigala

aku hendak mengukur malam
sesaat untuk kali ini saja
dengan siapa yang didamba para pecinta
:rindu yang tak pernah muara
***

Riza Almanfaluthi
Tapaktuan 22:29, 12 April 2014

HENDAK

**

Aku juga hendak mengukur malam
Sepanjang ombak yang semakin lama semakin keras menerjang…
Sedalam luka sepi yang menganga serupa jahanam…
Selarut serpihan doa yang berkecamuk dalam samudra keniscayaan…
Saat pagi datang, malam masih saja tak mau pulang…
***

Sofan

HENDAK

**

inginku mengukur malam dengan apapun yang mencoba mengusik lelapku,.
serasa manis terbenam dilidahku..
senada lagu menelusup telingaku..
seriak ombak buyarkan nadi pikirku..
inginku mengukur malam dengan sebongkah asa esok kan hadir lagi..
***

Sudirman Napitupulu

Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”


Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”
Sumber: Islamedia.co
Islamedia.co – Hari ini Senin(26/5), sebuah akun Facebook Jiwa Singa mengunggah sebuah foto yang menampilkan sosok bertopeng yang membakar kain putih bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah dalam huruf Arab. Bendera ini dalam literatur Islam dikenal sebagai bendera Rasulullah saat berperang dengan kafir musyrikin Mekkah. 
 
Dalam akunnya saat mengunggah foto tersebut Jiwa Singa menulis, “FYI : Teman saya yang mengirim foto ini tidak anti Islam. Tapi ketika agama atau apapun itu Ideologi, mulai memusuhi dan memaksa, dan bahkan membunuh yang lainnya yang tidak seiman, maka perlawanan tentang hal itu adalah suatu yang memang sudah seharusnya. Termasuk membakar bendera mereka.” 
Atas foto aksi pembakaran yang merupakan kontribusi foto untuk Cronos Zine edisi dua ini menimbulkan pro dan kontra. Salah seorang Facebooker Noor H Dee menyatakan pendapatnya, “Wah wah wah, kenapa begini bro? Itu bendera Islam? Bendera yang dibawa rasul. Ngajakin perang ini namanya.” 
Akun Jiwa Singa menyatakan bahwa aksi ini harus dipahami secara kontekstual bukan secara tekstual. Membaca aksi teman dan pendapat akun Jiwa Singa ini mengingatkan publik pada aksi seorang dosen yang menginjak-injak lafaz Allah. 
Menurut  Abu Faguza Abdullah, selaku pegiat dakwah: “Aksi-aksi demikian seperti unjuk keberanian di Negara yang mayoritas muslim, Pelaku pembakaran dan penyebaran foto ini bisa kena pasal UU ITE.
Link Facebook Penyebar Foto Pembakaran “Bendera Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”:
 
[im/mh]
***
Kontribusi Berita untuk Islamedia.

 

SINGKIRKAN GADGET, TANGKAPLAH ILMU


Singkirkan Gadget, Tangkaplah Ilmu

Ilustrasi gadget (dakwatuna, mtv.in.com)

 

dakwatuna.com – Sebuah sunnatullah kejayaan dan kemenangan akan tiba dengan proses yang panjang. Begitu pula dengan kemenangan dakwah. Ketika menyadari kerja keras telah dipersembahkan dan doa telah dipanjatkan namun juga kekuasaan tidak dapat direbut bahkan kekalahan beruntun tidak dapat dielakkan maka muhasabah jangan luput untuk dieja kembali. Introspeksi pada niat dan cara yang sudah dilakukan. Sudah sesuaikah dengan keridaan Allah dan sunah nabi? Atau sudahkah kita telah mencapai syarat-syarat kemenangan itu? Syarat-syarat untuk kita layak mendapatkan pertolongan Allah.

Biarlah. Biarlah waktu berjalan terus sambil kita tak abai untuk berkomitmen melahirkan generasi-generasi mendatang dari rahim tarbiyah dan pantas memimpin bangsa ini. Sekalipun kita nantinya tak pernah merasakan hasil atau sentuhan keadilannya. Tetaplah bekerja sembari berbenah. Berbenah mulai dari hal yang paling sederhana dulu misalnya. Contoh, sudahkah halaqah sebagai sarana tarbiyah berjalan dengan semestinya? Sudahkah halaqah sesuai dengan adab-adabnya?

Di dalam halaqah terdapat proses pembinaan karakter pribadi muslim berupa majelis ilmu, evaluasi ibadah, penyebaran informasi-informasi penting tentang dakwah dan perkembangan umat, dan transfer keteladanan. Dalam proses itu perlu interaksi yang tak bisa disepelekan dan perhatian penuh antara murabbi (pembina) dan mutarabbi (binaan). Sayangnya di zaman modern seperti ini, perhatian itu sangat mudah teralihkan dengan adanya gadget di tangan para peserta halaqah.

Kita sering kali beralasan di dalam gadget itu terdapat semua yang dibutuhkan dalam pertemuan seperti Al-Quran, tool pengolah kata, software hadits, ebook-ebook Islami, dan lain sebagainya. Namun menafikan bahwa di dalamnya juga terdapat segala hal yang dengannya kita mudah terbujuk dengan sekali sentuh. Seperti aplikasi permainan, chatting, Facebook, Twitter, Path, sms, BBM, galeri foto, email, dan situs berita.

Kita tak bisa menjamin ketika materi halaqah sedang disampaikan, salah seorang peserta halaqah sedang asyik-masyuk bermain-main dengan salah satu aplikasi gadget pintar di atas. Padahal dalam petunjuk pelaksanaan halaqah disebutkan bahwa ketika halaqah dibuka semua peserta berkonsentrasi dengan agenda halaqah dan tidak diperkenankan sibuk dengan agenda pribadinya. Mari kita berkaca kepada para salaf dan khalaf saat melingkar seperti ini.

Allah swt berfirman dalam surat Qaaf ayat 37, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Ibnu Alqayyim Aljauziyah sewaktu membahas ayat di atas dalam kitab Miftahu Darussa’adah yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Kunci Kebahagiaan menyebutkan bahwa untuk terbukanya pintu ilmu dan hidayah bagi seorang hamba maka ia harus mempunyai hati dan menggunakan pendengarannya.

Orang yang tidak mempunyai hati tidak dapat mengambil faedah dari setiap ayat yang lewat di hadapannya. Orang yang mempunyai hati juga tidak dapat mengambil manfaat hati jika tidak menghadirkan hatinya dan tidak konsentrasi terhadap apa yang disampaikan. Orang yang menghadirkan hati juga tidak dapat manfaat kecuali ia memasang telinga dan memusatkan perhatian kepada apa yang diajarkan kepadanya.

Nasihat Ibnu Alqayyim Aljauziyah ini dapat diterapkan di halaqah para kader dakwah, agar mereka bisa mengambil manfaat atau buah dari halaqah yang mereka selenggarakan. Dengan menerapkan tiga hal ini tentunya: pertama, kebersihan dan penerimaan hati; kedua, menghadirkan dan mencegah hati ngelantur atau tidak konsentrasi; ketiga, memasang telinga dan melakukan zikir.

Ulama zaman sekarang mengisyaratkan hal yang sama ketika membahas halaqah ini. Dr. Abdullah Qadiri Alahdal yang menulis buku tentang adab-adab halaqah, menyebutkan bahwa selain adab-adab pokok halaqah berupa: serius dalam segala urusan; berkemauan keras memahami akidah salaf; istiqamah; menjauhkan diri dari sikap fanatik buta; menghindari ghibah; melakukan islah; dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, juga terdapat adab yang lebih spesifik dalam halaqah antara lain memiliki kesiapan secara jasmani, ruhani, dan akal; membersihkan hati dari akidah dan akhlak yang kotor; memperbaiki dan membersihkan niat, dan bersemangat menuntut ilmu.

Tiada beda antara ulama salaf dan khalaf. Maka ketika halaqah telah memenuhi adab-adabnya Insya Allah halaqah tersebut menjadi halaqah yang muntijah atau berhasil guna. Yang darinya sebagaimana disebut oleh Ustadz Rahmat Abdullah terlahir generasi baru. Generasi yang siap memikul beban dakwah dan menegakkan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, di bawah naungan Al-Quran dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.

Generasi yang terikat dengan ilmu. Ilmulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Pun antara manusia dan manusia lainnya. Ilmulah yang menjadikan manusia itu siapa-siapa. Jika tanpa ilmu maka bukanlah siapa-siapa. Sebuah kisah yang ditulis Ibnu Alqayyim Aljauziyah dalam buku yang sama menegaskan hal ini.

Seorang khalifah Bani Abbas sedang bermain catur. Ketika pamannya meminta izin masuk, ia mengizinkannya setelah menutup meja catur. Begitu sang paman duduk, ia bertanya, “Paman, apakah engkau telah membaca Al-Quran?”

Jawabnya, “Tidak.”

Ia bertanya lagi, “Apakah engkau telah menulis sebuah hadits?”

“Tidak,” jawabnya.

“Apakah engkau telah membaca fikih dan perbedaan pendapat para ulama?” tanyanya.

Kembali ia menjawab, “Tidak.”

Sang khalifah bertanya lagi, “Apakah engkau telah mempelajari bahasa Arab dan sejarah?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Setelah mendengar semua jawaban ini, sang khalifah berkata, “Bukalah meja ini dan lanjutkan permainan!”

Di sini sopan santunnya dan rasa malunya kepada sang paman hilang. Teman bermainnya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, engkau membuka meja catur itu di hadapan orang yang patut kau hormati?”

Sang khalifah berkata, “Diamlah! Di sini tak ada siapa-siapa.”

Singkirkanlah gadget, tangkaplah ilmu, jadikanlah halaqah yang berhasil guna, halaqahnya para salaf, lalu jadilah generasi yang diharapkan umat, dan darinya lahirlah para pemimpin bangsa. Tunggulah waktu itu pasti akan datang. Insya Allah.
***

Ditulis: Riza Almanfaluthi

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/05/20/51567/singkirkan-gadget-tangkaplah-ilmu/#ixzz32HEmc0tc
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook