RIHLAH RIZA #36: MENJELMA MENJADI PELUKAN


RIHLAH RIZA #36: MENJELMA MENJADI PELUKAN

 
 

I tell you that wealth does not make you good within,

but that from inner goodness comes wealth and every other benefit to man.

(Socrates, The Apology)

 
 

Akhir Mei lalu, di hari-hari dalam sepekan yang saya manfaatkan betul untuk bersama dengan keluarga, saya menjadi saksi dari sebuah keberhasilan kecil. Keberhasilan yang dilakukan oleh Kinan dan Ayyasy. Ketika saya belum juga reda dari lelah menempuh ribuan kilometer perjalanan Tapaktuan-Jakarta, Kinan sudah meminta saya mencopot dua roda belakang tambahan di sepeda kecilnya itu. Kinan sepertinya ingin memberanikan diri menaiki sepeda hanya dengan dua roda. Saya bilang nanti besok.

Tiba-tiba Kinan datang kembali dari tempat mainnya dengan dua roda belakang tambahan yang sudah terikat di stang sepeda. Roda itu telah dicopot sama tetangga jauh. Tapi Kinan masih belum bisa menaiki sepedanya. Kakinya masih menyentuh tanah. Bahkan Kinan menuntun sepeda sampai rumah ketika ia sadar ia masih belum berani naik.

Besok paginya, Kinan sudah tak sabar ingin belajar naik sepeda. Saya angkat dan bawa sepedanya ke jalanan depan rumah. Saya meminta Kinan duduk di sadel, kakinya dinaikkan di satu pedal, dan saya dorong sepedanya sambil teriak, “genjot sekarang!” Kinan melaju ke depan dengan lancar tanpa halangan. Ia berteriak kesenangan. Kemudian saya memberikan ilmu cara mengerem dan belok agar bisa lebih ahli lagi.

Seharian anak yang mau kelas satu SD ini main sepeda. Tak kenal waktu. Saya mewanti-wanti agar ia berhati-hati dan jangan jauh-jauh. Melihat Kinan dari kejauhan saat ia berusaha keras agar tidak goyang menaiki sepeda ada yang hangat mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Tahu-tahu besok saya harus kembali lagi ke Tapaktuan. Tapi Sabtu ini saya hadir dalam wisuda Ayyasy. Wisuda Alquran Angkatan III SDIT Al-Hikmah Cipayung Depok. Juz 30 insya Allah sudah dihafalnya. Juz 29 mentok di Surat Almuzammil. Tidak apa-apa cuma hafal segitu. Masih banyak yang belum hafal satu juz. Malah masih banyak yang belum bisa baca Alquran. Apa pun pencapaiannya selalu layak untuk dihargai.

Melihatnya diwisuda dengan memakai baju putih, kopiah hitam yang kebesaran, kain hijau terselempang di bahu, pun ketika ia naik ke atas panggung, diberikan medali dan piagam, serta disalami oleh para ustaz ada hangat yang mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Bahagia yang sederhana. Yang mampu memberikan rasa nyaman. Itu pun baru sebatas bahagia di dunia. Apatah lagi bahagia di akhirat ketika Kinan mampu menaiki sepeda kehidupan dengan sukses. Sedangkan Ayyasy mampu memberikan mahkota cemerlang buat kedua orang tuanya karena hafal Alquran 30 juz misalnya.

Sepeda empat roda Kinan dulu (Foto koleksi pribadi).

 
 

Masjid Alhikmah yang jadi tempat wisuda (Foto koleksi pribadi).

 
 

Ayyasy berdiri di tengah paling belakang di sebelah temannya yang pakai peci putih (Foto koleksi pribadi)

Abi dan Ayyasy (foto koleksi pribadi).

Ayyasy (Foto koleksi pribadi).

 
 

Ayyasy bersama Alustadz Alhafiz Badruddin Lc,. MT.

 
 

Menyaksikan dua momen itu setidaknya adalah saat memastikan diri tidak ada kata terlambat bagi saya untuk memiliki golden moment. Ketika fase-fase sebelumnya, fase anak masih dalam kandungan dan usia 0-2 tahun, fase terbaik dalam membentuk ikatan hati dengan anak terlewati. Golden moment inilah yang oleh Bendri Jaisyurrahman disebut sebagai saat orang tua harus hadir menemani mereka: saat sedih dan berprestasi.

Ketika anak sedih saya harus menjelma menjadi pelukan menenangkan mereka. Ketika mereka berprestasi, wisuda, dalam pertandingan olahraga, atau kegiatan lainnya, saya upayakan sekuat tenaga untuk bisa hadir secara fisik menemani. Inilah saat saya harus menjelma menjadi senyuman, teriakan, tepuk tangan, acungan jempol, dan tertawa buat mereka. Inilah persembahan terbaik orang tua kepada anak. Ini bahagia saya juga. Karena bahagia itu juga tidak semata uang.

Tambah uang tambah bahagia. Ini anggapan yang kebanyakan orang harus terima sebagai realitas. Tapi ternyata pada suatu titik tertentu, pertambahan uang akan berhenti memberikan tambahan kebahagiaan, bahkan menjadi antiklimaks, dan menukik turun tajam. Inilah yang bila digambarkan dalam sebuah grafik disebut dengan “Kurva U Terbalik”.

Dalam buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa, titik itu oleh para cendekia berada pada kisaran 75 ribu dolar Amerika Serikat per tahun. Atau sebesar 825 juta rupiah per tahun dengan kurs 11 ribu rupiah per 1 dolar Amerika Serikat. Setara gaji sebulan sebesar 68,75 juta rupiah. Di atas angka ini uang tidak mampu memberikan kebahagiaan lebih. Bahkan memudarkan kebahagiaan.

Dalam buku tersebut Gladwell membandingkan antara pengasuhan anak dengan kekayaan. Kualitas pengasuhan anak di sumbu y dari titik terendah (sukar) menuju titik teratas (mudah). Sedangkan kuantitas kekayaan di sumbu x yang dimulai dari titik miskin bergeser ke kanan menuju titik kaya. Seperti ilustrasi berikut ini:

 
 

Faktanya, tak seorang pun bakal berkata dengan banyak uang yang dimiliki maka kita akan menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita. Sinetron-sinetron Indonesia menjadi cerminan akan hal ini. Rumah megah tak menjamin ada ketenteraman di sana. Bahkan seringkali diisi dengan teriakan, makian, hasutan, dan pertengkaran. Bertambahnya uang pada suatu titik berbalik menjadi pendulum yang akan memperburuk kualitas kita sebagai orang tua buat anak-anak kita. Ini tidak membahagiakan.

Mengapa pada suatu titik tertentu uang tidak memberikan kebahagiaan? Karena ada fenomena—yang saya kutip dari akun twitter Business Life—hedonic treadmill. Semakin kaya kita, semakin tinggi nafsu memiliki materi, semakin tidak puas, dan kebahagiaan pun menjadi stagnan.

Inilah fenomena yang disebut juga dengan fenomena “fokus terhadap apa yang diinginkan”. Kalau kita sehari-hari hanya fokus terhadap apa yang kita inginkan maka yang ada ketidakpuasan terus-menerus. Kita belum liburan ke Bali, belum punya ipad, mobil satu lagi belum terbeli. Begitu banyak daftar keinginan kita yang senantiasa terpikirkan. Ini tidak membahagiakan. Maka Richard Carlson—penulis buku-buku best seller—sebagai konsultan stres pun mengatakan, “Fokuslah terhadap apa yang dimiliki, hidup Anda akan lebih baik. Dan barangkali untuk pertama kalinya Anda akan tahu apa artinya merasa puas.”

Islam sudah mengajarkannya berabad-abad lampau. Kalau kita bersyukur akan ditambah nikmatnya. Jika sebaliknya, azablah yang akan datang. Dicabutnya kebahagiaan dari diri kita bisa jadi merupakan azab kecil yang Allah berikan karena ketidaksyukuran ini. Ah, betapa banyaknya…

Maka, saya mensyukuri keberhasilan kecil mereka ini. Dan akan berusaha mensyukuri keberhasilan mereka yang lainnya. Setelah itu saya harap ada yang hangat mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Walau seringkali menikmatinya dari jauh.

***

 
 

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Juni 2014

 
 

 
 

Tags: kinan fathiya almanfaluthi, muhammad yahya ayyasy almanfaluthi, sdit alhikmah cipayung depok, malcolm gladwell, richard carlson, david & goliath ketika si lemah menang melawan raksasa, badruddin lc,

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s