DRAMATISASI PEMBAKARAN POSKO JOKOWI OLEH TEMPO.CO


DRAMATISASI PEMBAKARAN POSKO JOKOWI OLEH TEMPO.CO

 

Seperti diberitakan oleh Tempo.co di link ini bahwa telah terjadi pembakaran Pondok Komunikasi Rakyat Jokowi oleh orang yang tidak dikenal pada Senin dinihari (26/5). Sebagai efek lebih menderita dan mendramatisasi suasana kebakaran maka Tempo.co menayangkan gambar atau foto seperti di bawah ini.

 

Capture berita yang diambil dari sini.

 

Dalam foto tersebut tidak ada caption yang menggambarkan atau menerangkan data objek foto. Di sana hanya ada tulisan TEMPO/Firman Hidayat. Padahal caption adalah ilmu dasar jurnalistik foto yang biasa jadi bahan ajar wartawan foto. Foto yang tanpa caption—yang saya kutip dari blog Kelompok Diskusi Wartawan Jawa Tengah—disebut juga dengan foto bisu. Foto bisu ini membingungkan pemirsa, bahkan bisa jadi pemirsa akan memiliki persepsi beda dalam memaknai maksud foto jurnalistik, karena tidak ada pesan yang mengarahkan. Demikian ditulis dalam blog tersebut.

Namun memang disengaja bahwa foto tersebut tanpa caption agar dapat mengarahkan publik bahwa Posko Jokowi (Tempo menyebutnya demikian) terbakar hebat. Foto bisu Tempo.co ini meyakinkan pembaca berita bahwa telah terjadi efek derita yang dahsyat. Apalagi dengan terminologi “dibakar” yang digunakan Tempo. “Dibakar” dan foto bisu dengan api yang bergolak melengkapi efek dramatisasi ini.

Tapi benarkah bahwa foto tersebut adalah foto pembakaran Posko Jokowi? Sekarang adalah era jurnalisme masyarakat (citizen journalism) sebagai partisipasi masyarakat dalam mengawasi jalannya demokrasi. Sekarang juga adalah era ketika “manipulasi” mudah untuk diketahui dengan segera karena semakin canggihnya teknologi informasi. Sekarang era Google. Dengan Google kita bisa melacak duplikasi sebuah foto. Dan saya menggunakannya untuk kali ini.

Di Google fasilitas penelusuran bisa menggunakan teks ataupun gambar. Foto ikon kamera di sebelah kaca pembesar memudahkan penelurusan dengan gambar.

Fasilitas pencarian gambar di Google.

Terdapat dua pilihan pencarian gambar ini. Dengan menempelkan url gambar atau mengunggah gambar yang mau dicari. Untuk lebih memastikan kevalidan proses pencarian maka saya mengunggah fotonya. Hasilnya mengejutkan dan sudah diduga. Foto tersebut digunakan untuk dua peristiwa kebakaran yang telah lampau. Pemberitaan kebakaran di Jelambar yang terjadi pada tanggal 28 September 2013 dan kebakaran di Kantor PLN Madiun yang terjadi 19 April 2014. Saya capture gambar pemberitaan kedua-duanya.

 


Capture berita kebakaran Kantor PLN Madiun Terbakar. (Sumber: Tempo.co)

 


Capture berita kebakaran di Jelambar. (Sumber: Tempo.co)

Saya tidak tahu foto kebakaran itu atas foto yang terjadi untuk peristiwa kebakaran di Jelambar atau di Kantor PLN atau untuk peristiwa kebakaran yang lainnya. Biarlah ahli multimedia yang menganalisisnya. Tempo.co malas mencantumkan caption dalam beberapa fotonya walau hanya sekadar dua kata “ilustrasi kebakaran”. Dua kata itu memberikan pemahaman bahwa foto itu hanya sekadar ilustrasi dan bukan peristiwa kejadian kebakaran yang sebenarnya.

Berita dan foto pembakaran Posko Jokowi telah menjadi viral dan diunggah oleh situs-situs lainnya. Ada yang serta-merta di antaranya menayangkan foto Tempo.co di atas sebagai sebuah fakta kebakaran di posko itu. Padahal dari beberapa pemberitaan dan foto yang ditayangkan, kebakaran itu tidak separah yang digambarkan dalam foto. Eternit posko tidaklah hancur atau menghitam sebagaimana digambarkan dalam ilustrasi foto.

Tapi apa pun motif yang ada di belakang peristiwa kebakaran ini, entah di mana pun kejadian kebakaran itu terjadi, saya turut prihatin. Sebagai orang yang pernah mengalami peristiwa kebakaran saya sedikit banyak tahu derita psikologis korban kebakaran. Namun keprihatinan ini pun tidak menutupi kekritisan kita terhadap netralitas media.

Netralitas media adalah hal yang langka pada saat ini. Tidak netral pun bukan hal yang tabu lagi. Tapi tugas media massa yang tidak boleh dilupakan adalah mencerdaskan masyarakat. Ketika media massa tidak menjalankan tugasnya maka tugas masyarakat itu sendiri untuk lebih cerdas dalam menyaring berita. Agar isi kepala tidak dipenuhi dengan sampah. Ini bukan negative campaign atau black campaign.

Terima kasih.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

27 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana.

http://politik.kompasiana.com/2014/05/27/dramatisasi-pembakaran-posko-jokowi-oleh-tempoco-655093.html

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s