Bulan Meleleh


20398856_1389534627749873_1174440574955028480_n

Pada suatu malam, candra yang sama-sama kita pandangi, meleleh ke bilik-bilik ingatan lalu berenang ke perigi jantung, terjun ke sela-sela jari dan sebidang bahu yang kausebut pelukan.

Pada suatu jarak, cahayanya yang sama-sama kita indrai, melesat lari menjadi pelangi, meluluh di wajah yang begini, menyublim menjadi gemetar di sekujur tubuh yang kausebut kerinduan.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Stasiun Kalibata, 28 Juli 2017

Ah-ha Moment: Sebesar apa Percikanmu?



Di suatu pagi yang padat dengan sinar rawinya masih majal, saya baru saja keluar dari mulut Commuter Line di Stasiun Kalibata. Saya bentangkan aplikasi perbincangan yang sudah berjejal dengan banyak risalah itu. Salah satunya pesan gambar yang terkirim dalam sebuah grup. Saya membuka gambar itu dan langsung tersentak hingga sanggup menghentikan langkah saya yang bergegas.

Kemudian saya mencari bangku kosong yang ada di peron stasiun, saya melirik jam, dan saya pikir masih cukup waktu untuk tiba di tempat pendidikan dan pelatihan yang sedang saya ikuti selama sepekan ini. Semua neuron yang ada di balik tempurung kepala saya seperti tepercik api, terpantik.

Continue reading Ah-ha Moment: Sebesar apa Percikanmu?

Berbincang-bincang dengan Sepatu 



Setiap malam, aku sering terbangun. Bangkit dari ranjang dan berbincang-bincang dengan sepatu. Benda yang sering kuajak lari-lari di pagi hari, tak pernah kurang 5 kilometer jauhnya. Kalau aku lelah sebenarnya dia pun lelah. Kalau dia aus sebenarnya aku pun aus. Haus apalagi. Haus dan aus hanya sekadar dibedakan dengan satu huruf saja.

Ia tak mengeluh walau setiap hari disakiti oleh kaki-kakiku dan perasaan-perasaanku pada saat lari. Karena semakin gelap perasaanku maka semakin keras kupacu kecepatan lariku. Ia juga tak mengaduh kalau sekujur tubuhnya dilumat kerasnya aspal, dimandikan becek jalanan, atau sekadar diwangikan kotoran kucing.

Hanya satu, yang kutahu, dia tak mau, berkawan sepi kelabu, di sudut rumah yang berdebu: tempat persemayaman terbaiknya. Sepi, katanya, sangatlah jahat. Ia sering merampas ingatan dan melemparkannya ke masa nan purba, “Ia hitam. Makanya aku minta kaubangun dan menemaniku setiap malam.”

Malam ini malam yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Aku bangun dan menemaninya. Kali ini ia terburu nafsu menyergapku, “Mimpi buruk lagi?” Yang kujawab dengan anggukan penuh dentum kesungguhan. “Pagi ini kita lari. Tak perlu cepat-cepat. Barangkali yang kaubutuhkan adalah jarak. Semakin jauh kau berlari, barangkali akan mampu membuatmu melupakan mimpimu,” kata sepatu.

Mendengar ia bicara demikian, kupikir memang ia benda terbaik yang pernah ada diciptakan oleh dunia. Bersama-sama denganku, hati-hati, pelan-pelan, sangat terinci, membuat perencanaan kejahatan tak terperi. Membunuh mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang buruk. Seburuk-buruknya peninggalan. Peninggalan sehitam malam.

Makanya setiap malam, aku sering terbangun. Bangkit dari ranjang dan berbincang-bincang dengan sepatu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Pancoran, 25 Juli 2017

Nyalakan Senyum di Parasnya


[Dalam puisi ini tidak ada ilustrasi gambar, sebagai penghormatan terhadap foto lampau sosok perempuan cilik yang mestinya ada di laman ini]

 

Pagi ini, aku tidak lari pagi.
tak baik lari pagi sehabis begadang
selalu soal meninggalkan endapan:
kantuk dan ingatan tentangmu.
apalagi aku lelah berlari-lari
dalam mimpi-mimpiku yang meriang
dalam mimpi-mimpimu yang intan
bahkan dalam lamunan yang buru-buru

kepada pohon nangka di depan rumah
pagi ini aku ucapkan selamat
semalam kau hebat
dari dahanmu kautumbuhkan
perempuan cilik
hanya saja,
untuk nanti malam aku berpesan
nyalakan senyum di parasnya
barangkali dengan beberapa tetes hujan dan sedikit kabut,
bekerja keraslah
semoga kau tak mengantuk
pagi ini kita ngopi dulu.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Di bawah pohon nangka, 23 Juli 2017

Hatimu yang Kawah Merapi


Di malam yang sibuk mengunyah dirinya sendiri, aku bertanya kepada bayang-bayang seorang gadis kecil yang sedang memegang sebuket bunga. Bunga yang langsat. “Apa kabarmu, Bayang? Sudah kautemukan  duniamu yang kecil itu?” Lalu kau hanya bisa tertawa dan aku terkantuk-kantuk karena ketiadaan segelas kopi yang mengangeni. Dalam hatimu yang kawah Merapi kutemukan lava sedih bergolak-golak. Tinggal menunggu waktu, “Meletuslah.” Bersama kehilangan dan ingatan yang buru-buru. Aku, biarlah menjadi endapan yang tertinggal.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 18 Juli 2017

Cobalah untuk Tabah


Duh, cobalah untuk tabah pada kisah yang belum juga selesai dibaca atau didengar. Karena ketabahan itu merupa angin yang bertiup mengidamkan daun-daun jatuh di musim dingin, pelan-pelan.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam,  17 Juli 2017

Fiksi atau Ilusi?


 

Kepada para penyair, engkau selalu membawa-bawa perasaanmu, lalu membuka kitab tafsir mahadewa, menebak-nebak palung hati, seakan-akan lirik-lirik magis puisi itu adalah pahit manis hidup para penyair yang paling nyata.

Kepada para penulis cerpen, roman, atau apa pun kausebut, engkau tanggalkan perasaanmu, kaupendam kitab tafsir, tak sedikit pun kau mengira bahwa isi cerita itu adalah potongan sejati kisah hidup penulisnya.

Ini tak adil. Kaumudah sekadar menyebut kisah para penulis itu sebagai fiksi, lalu mengapa kausulit menyebut puisi para penyair itu sebagai ilusi?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 23 Juli 2017

Buku Puisi


Saya tak percaya diri menuliskan ini.

Suatu ketika saat saya masih di Tapaktuan, saya berlari pagi dengan jadwal yang ditetapkan di hari Minggu. Jam enam pagi waktu Tapaktuan masih gelap. Saya bergegas untuk pemanasan. Lalu tak lama saya sudah menyusuri jalanan yang sepi itu. Menyusuri beberapa toko dan warung kopi di pinggir jalan dengan mewangi biji kopi yang sedang dimasak, menaik di tanjakan tebing, dan menyusuri pantainya.

Dan pada sisi jalan yang terbuka dengan bibir pantainya yang dekat dengan jalanan itu, lari saya selalu melambat. Saya selalu tak bisa memalingkan pandangan dan pendengaran dari ombak dan derunya yang tak pernah habis. Di saat itu pace saya menurun. Hela dan hembus nafas menjadi terdengar lebih kencang, semata benar-benar untuk mengusir sepi yang menerkam. Tapi saya kembali sadar untuk segera menyelesaikan semua yang telah dimulai. Apa yang dimulai, pantang untuk kembali.

Segera ketika finis, saya minum air banyak-banyak, masak-masak ala kadarnya, dan mengambil buku untuk segera trans dan masuk ke eskapisme yang lain. Kini, saat ini, di kota yang tak pernah tidur ini, buku tetap menjadi eskapisme saya. Apa yang dimulai, pantang untuk diakhiri di tengah jalan. Halaman buku ini mesti diselesaikan semuanya. Tapi itu bukan buku puisi.

Kalau yang terakhir ini, saya hanya bisa berujar:

“Nanti tolong, buku puisi yang kaupinjam itu, kembalikan lagi kepadaku, dengan seluruh judul dan isi puisi di sana kauganti semua dengan namamu.”

 

***
Dedaunan di ranting cemara
Riza Almanfaluthi
Citayam, 15 Juli 2017

Pandai Besi di Sebuah Desa



Ada sebuah rutinitas yang mesti saya kerjakan malam ini. Freeletics Kentauros. Saya sudah menginjak ronde ketiga. Ada burpees yang mesti saya lakukan sebanyak 40 repetisi. Dengan keringat yang mengurapi sekujur tubuh, pada itungan kesebelas, ketika dada dan hidung saya menempel lantai, tiba-tiba saya berhenti. Saya tak kuasa mengangkat tubuh. Otak saya memerintahkan sekujur tubuh untuk diam dengan menyungkurkan wajah di lantai sepenuhnya. Ini lama sekitar satu menit.

Ada benang-benang, kunang-kunang, berang-berang, musang, kukang, cupang, belalang, teripang, kijang, dan congcorang memenuhi batok kepala. Ah, konotasi lagi. Denotasi setengah konotasinya adalah seperti ketika kita diajak berbicara oleh orang lain dan kita pun serius menyimaknya lalu tiba-tiba pandangan kita beralih ke tempat lain dengan kosong. Lalu ada logika saya yang menjadi Che Guevara. Ayo revolusi. Lalu saya bangkit dan menyelesaikan tuntas sampai repetisi terakhir.

Saya jadi teringat satu kalimat Haruki Murakami dalam What I Talk about When I Talk About Running. Begini kalimatnya: “Aku hanya seperti pandai besi di sebuah desa yang dengan tekun melakukan pekerjaannya.” Izinkan malam ini di tengah deru suara kereta api yang melaju ke selatan di kegelapan untuk menambahkan beberapa kalimatnya.

Aku hanya seperti pandai besi di sebuah desa, yang dengan tekun melakukan pekerjaannya. Mengumpulkan logam gelora, arang kayu kehilangan, daun hijau harapan, dan pecahan kaca ingatan. Menempa logam itu dengan godam bisu dan pemalu, membakarnya dalam api pertanyaan yang menjulang-julang. Sembari melirihkan selembar doa yang putih. Bening. Cahaya. Wangi.

Jadilah ia bilah pedang puisi untuk membelah jiwa yang sembunyi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Pinggir kali, 14 Juli 2017.

Di Resto



di resto yang melati
berteman pahit kopi
aku menunggu puisi,
ia tak juga ke sini

lalu kumenunggu
di satu bangku taman
tempat ia termangu,
tak pula kelihatan

hari hampir pagi
ia datang pelan-pelan
kupanggil ia lari
aku tinggal sendirian

di kolam renang mimpi
ia sedang bersembunyi
sembari merenangi
air matanya sendiri .

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
pinggir kali, 13 Juli 2017