Hatimu yang Kawah Merapi


Di malam yang sibuk mengunyah dirinya sendiri, aku bertanya kepada bayang-bayang seorang gadis kecil yang sedang memegang sebuket bunga. Bunga yang langsat. “Apa kabarmu, Bayang? Sudah kautemukan  duniamu yang kecil itu?” Lalu kau hanya bisa tertawa dan aku terkantuk-kantuk karena ketiadaan segelas kopi yang mengangeni. Dalam hatimu yang kawah Merapi kutemukan lava sedih bergolak-golak. Tinggal menunggu waktu, “Meletuslah.” Bersama kehilangan dan ingatan yang buru-buru. Aku, biarlah menjadi endapan yang tertinggal.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 18 Juli 2017

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s