CERMIN: BERSIH-BERSIH TIADA AKHIR


CERMIN: BERSIH-BERSIH TIADA AKHIR

image

Sudah banyak sekali yang dilakukan oleh DJP untuk berbenah, berubah, dan menjadi institusi baru, institusi modern yang dipercaya masyarakat. Tetapi apa lacur, sepertinya semua yang telah diusahakan DJP dengan kerja keras itu sia-sia. DJP tetap menjadi bulan-bulanan.

 

 

PUKUL 10.34 WIB, saya bersama istri sudah berada di Puskesmas Bojonggede. Niatnya kami ingin meminta surat rujukan Askes untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit di Jakarta. Ternyata ketika sampai di loket kami ditolak dengan alasan kartu Askes kami yang baru belum bisa diaplikasikan di sistem administrasi Puskesmas. Jadi kami harus pakai kartu Askes kami yang lama. Padahal kami tidak membawanya.

Terpaksa saya harus pulang kembali ke rumah dalam jangka waktu 20 menit, karena pendaftaran Puskesmas ditutup pada pukul sebelas siang. Istri bersama Kinan, anak saya, saya tinggal di Puskesmas. Saya langsung ngebut. Alhamdulillah, ketika sampai di Puskesmas, masih ada waktu dua menit lagi menurut jam di HP saya. Tapi loket pendaftaran sudah ditutup dengan tirai. Petugas langsung mengerti bahwa saya adalah warga yang tadi sudah datang sebelum jam sebelas. Akhirnya kami dapat diterima.

Ketika mulai pemeriksaan, kami dipanggil masuk oleh dua orang dokter yang ada di dalam suatu ruangan. Lalu kami ditanyai tentang problem kesehatan kami. Sampai suatu saat, perempuan dokter yang memeriksa istri saya bertanya, “Ibu dari instansi mana?”

“Kementerian Keuangan,’ jawab istri saya.

"Dari pajak, Bu?”

“Bukan, noh… dia yang dari pajak," kata istri sambil menunjuk saya.

Dua perempuan dokter itu langsung tertawa, sambil menyindir-nyindir saya.

"Rumahnya mewah dong, Pak?” tanya salah satu dari mereka.

Istri saya langsung menjawab, “Bu, tergantung orangnya. Kalau benar ada uang miliaran sih, kami enggak mungkin tinggal di Citayam.”

“Kan bisa tinggal di sini. Untuk kamuflase gitu…’’

“Bu, kalau benar dugaan itu, tentu kami tidak akan datang ke sini untuk meminta surat rujukan Askes. Ngapain kami datang capek-capek ke mari,” kata saya menambahkan.

Oknum

Kejadian seperti itu memang tidak hanya sekali saya alami. Namun, entah mengapa saat itu saya anggap sebagai guyonan belaka. Tidak saya tanggapi dengan serius seperti biasanya. Saya hanya membalas dengan senyuman. Sembari menahan hati untuk bersabar. Saya memang sedikit pasrah, percuma saya tanggapi karena mereka lebih percaya kepada media.

Tapi, mungkin ini juga pengaruh dari suasana. Kalau saja tidak dalam suasana dikejar-kejar oleh waktu, saya mungkin akan memberikan penjelasan panjang lebar. Seperti pada sebuah seminar yang pernah saya ikuti.

Saat itu saya berteriak lantang ketika pembicaranya menyerempet-nyerempet masalah Gayus Tambunan. Katanya Gayus itu ketahuan karena apes, tertangkap cuma satu padahal masih banyak yang lainnya.

Sungguh saya tersinggung saat itu. Saya bilang di hadapan ratusan peserta seminar itu, “Perkataan Anda membuat saya tersinggung. Tidak betul apa yang Anda katakan itu. Berikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskannya agar tidak terjadi generalisasi yang semena-mena.”

Pada sesi tanya jawab itulah saya menerangkan dengan panjang lebar tentang permasalahan Gayus. Ya, saya berani bercerita karena saya yakin sepenuh hati DJP itu tidak sebejat yang mereka pikirkan. Permainan Gayus bukan permainan sebuah sistem tetapi permainan yang dilakukan oleh orang per orang untuk mengumpulkan harta tidak halal sebanyak-banyaknya.

Proses Seleksi

Tetapi entah kenapa Allah kemudian masih saja menunjukkan kepada masyarakat tentang masih adanya permainan yang dilakukan oleh oknum pegawai DJP selain Gayus. Akhir-akhir ini kasus pegawai pajak tertangkap KPK kembali menghiasi pemberitaan media massa.

Oh… memang ternyata masih ada juga pegawai yang seperti itu. Namun, tetap dengan sebuah keyakinan saya bahwa itu hanyalah sebagian kecil. Bukan kebanyakan dari pegawai pajak. Tetapi tetap saja kelakuan mereka seperti tusukan dari belakang. Sakit sekali. Kita berusaha menciptakan citra DJP yang bersih ternyata saudara-saudara kita yang ada di DJP masih melakukan itu. Sungguh mengecewakan. Tapi itu harus diakui, karena mereka eksis.

Lalu dengan pemikiran itu saya pun bersikap defensif saja. Hujatan dan makian saya terima walaupun dengan hati yang gondok. Manusiawi bukan?

Saya berharap bahwa ini adalah upaya Allah untuk membersihkan DJP dari oknum-oknum seperti itu. Saya terima saja. Ibarat kata ketika seorang pendulang emas ingin menemukan bongkahan emas, maka apa yang ia lakukan coba? la mengayak tanah yang mengandung emas itu dengan keras. Lalu menyortir dan menelitinya, lagi dan lagi. Ketika tidak ditemukan, segera ia kemudian mencelupkan tanah itu dengan air dan mengayaknya lagi. Apatah lagi ditambah dengan campuran zat kimia air raksa yang menyakitkan itu. Keras dan keras.

Lalu apa yang ditemukan oleh pendulang emas itu pada akhirnya? Mendapatkan emas yang ia cari lama-lama dengan sekuat tenaga itu, menyisihkannya dari tanah yang tidak punya arti itu. Lalu mengumpulkan emas itu dengan emas-emas yang lainnya. Dan apa yang terjadi dengan sisa tanah yang ada? Dibuang jauh-jauh. Karena ia tidak berguna, tak berarti apa-apa.

Ibarat itulah. Saya selalu berbaik sangka, bahwa semua hujatan, kecaman, dan kritikan yang masyarakat berikan kepada kami adalah dalam rangka memilih emas yang berharga dan mengubur dalam-dalam tanah yang tak bernilai itu. Mengumpulkan yang bersih-bersih agar yang kotor- kotor itu tidak ikut dalam sistem lagi. Sekali lagi walaupun pahit untuk dirasa oleh kita. Selama kita sendiri yakin kalau kita idealis, silakan diobok-obok.

Biarlah yang kotor itu tersingkir dengan proses yang alamiah. Mungkin beginilah seleksi alam yang harus dialami oleh DJP, cara halus tidak bisa sehingga harus diobok-obok dulu agar senantiasa bersih sebagaimana harapan masyarakat.

Ya, saya senantiasa berharap bahwa prahara yang dialami oleh DJP ini segera cepat berakhir. DJP lebih bisa berbenah lagi. Mendapatkan kepercayaan masyarakat lagi. Lalu saya pun tak perlu disindir-sindir lagi oleh yang lain.

Saya berdoa pada Allah semoga dijauhkan dari segala fitnah. Allahumma inni a’udzubika minal fitani. Semoga siapa pun pegawai DJP yang masih memiliki keinginan untuk memperkaya diri dengan cara yang melanggar aturan, dapat memahami bahwa perbuatan mereka akan menyakiti sesama saudara-saudara mereka di DJP

***

Riza Almanfaluthi

Ini adalah tulisan lama yang dimuat di Majalah Berita Pajak No. 23/XLV/2013. Bulan Agustus dan September 2013 ini.

CHAN CHUN HWA


CHAN CHUN HWA

Di Youtube banyak sekali video tentang berbondong-bondongnya orang barat masuk Islam. Selalu saja prosesi pengucapan kalimat Syahadat itu sarat emosional dan memancing keharuan. Tak terasa mata sudah membanjir menjadi telaga. Kalau dalam Islam, ketika ada orang yang kembali kepada pangkuan Islam selalu disambut dengan gembira, takbir, dan air mata. Anda bisa mencari sendiri di sana.

Malam Ahad itu seharusnya ada ustadz yang akan mengisi pengajian pekanan kami di Masjid Al-Ikhwan. Tetapi karena mendung dan cuaca yang tidak mendukung pada akhirnya shalat maghrib itu dipimpin tanpa ustadz tersebut. Dan sebenarnya beliau berjanji akan datang karena kami—pengurus DKM—meminta dengan sangat kehadiran beliau karena akan ada orang yang masuk Islam di Masjid kami.

Ya sudah saya yang akan mengambil alih prosesi pengucapan dua kalimat syahadat itu. Tak bisa ditunda lagi. Karena hidayah bisa datang kapan saja dan ada kematian yang juga bisa datang kapan saja menghalangi hidayah itu sampai kepada orang itu.

Kali ini tetangga kami, seorang perempuan Tionghoa bernama Chan Chun Hwa. Namanya mengingatkan kepada tokoh-tokoh dunia persilatan di cerita silat Asmaraman S Kho Ping Hoo. Anak-anaknya sudah masuk ke dalam Islam. Menantunya juga. Tinggal dia saja yang belum. Yang memberatkan untuk segera masuk Islam memang teman-teman gerejanya yang intensif mendekati beliau. Tapi apa mau di kata kalau Allah sudah berkehendak ya susah. Biarpun jutaan orang menghalangi seseorang dengan membelanjakan seluruh hartanya tak akan bisa menghalangi turunnya hidayah Allah kepadanya. Tak banyak cerita dan motif tentang keinginannya masuk Islam. Itu saja yang saya ketahui.

Saya persilakan ibu-ibu mendampingi Ibu Chan Chun Hwa ke hadapan saya. Bapak-bapak duduk di bagian kiri ruangan masjid. Setelah membuka acara dengan sedikit kultum, saya bertanya kepada Ibu Chan Chun Hwa,

“Apakah Ibu benar-benar mau masuk ke dalam Islam?”

“Betul,”

“Apakah tidak ada siapapun atau apapun yang memaksa Ibu masuk ke dalam Islam? Karena dalam Islam tidak ada paksaan beragama. Laa ikrooha fiddiin.”

“Tidak ada,”

“Alhamdulillah, kalau demikian mari Ibu ikuti kata-kata saya. Ibu sebelumnya pernah belajar mengucapkan dua kalimat syahadat ini?”

“Pernah,”

“Baik mari ikuti ucapan saya ya Bu…”

Di luar hujan sangatlah deras. Rahmat Allah sedang turun ke bumi Citayam. Ia menjadi saksi atas masuk Islamnya seorang yang bernama Chan Chun Hwa. Dua kalimat syahadat telah diucapkan. Dalam bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.

Ia telah mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada ilah selain Allah yang patut disembah. Dan ia pun mempersaksikan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul Allah, utusan Allah. Utusan yang terakhir dan tidak ada nabi dan rasul setelahnya.

Tahmid bergema di masjid Al-Ikhwan. Ibu-ibu memeluk Ibu Chan Chun Hwa. Ibu-ibu telah bersepakat untuk memberikan nama baru buatnya: Ibu Sri Sulastri Khairunnisa.

“Ibu tahu arti Khairunnisa?” tanya saya kepadanya.

“Tidak tahu,” jawabnya.

“Khairunnisa itu artinya perempuan yang baik. Nama adalah doa. Insya Allah Ibu akan menjadi perempuan baik-baik dengan hidayah Allah sampai akhir nanti. Amin.”

“Bapak-bapak, Ibu-ibu yang Insya Allah dimuliakan Allah swt, alhamdulillah petang ini kita telah mendapatkan saudara baru yang kembali ke dalam Islam, karena sesungguhnya manusia itu ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani, dan majusi. Syahadat itu adalah miftahul jannah, kuncinya surga, tetapi tentu tidak sekadar berhenti sampai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung ketika menjadi seorang muslim. Yaitu melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah dan rasulNya dan meninggalkan larangan-laranganNya. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban ibu-ibu di sini untuk memberikan pelajaran tentang Islam kepada Ibu Chan Chun Hwa ini, ajak beliau mengikuti taklim, dan kita semua yang Bapak-bapak juga mempunyai kewajiban memberikan nasihat. Sebagai perwujudan menegakkan amar makruf nahi munkar. Baik kita akhiri acara ini dengan doa bersama.”

Ada doa-doa yang terlantun pada saat itu. Apalagi pada saat hujan deras, saat Allah mengijabah doa-doa hambaNya. Maka kami meminta kepada Allah agar hidayah Islam ini tetap ada pada kami sampai kami menghembuskan nafas yang terakhir.

Rabbana la tuzigh qulubana ba’da id hadaitana wa hab lana min ladunka rahmah innaka antal wahhab

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). Ali Imran (3) ayat 8.

Hujan tak mau menyelesaikan tangisnya yang sumbang walau acara itu sudah selesai. Memang rahmat Allah tak berkesudahan. Tak henti-hentinya datang kepada semua makhluk. Apalagi kepada saya. Tetapi manusia memang begitu. Dikasih banyak, bejibun, oleh Allah, tapi untuk bersyukur saja susahnya minta ampun. Hidayah Islam adalah nikmat Allah yang teramat besar, sehingga para ulama—kita pun demikian—dalam setiap memulai ceramahnya selalu mengingatkan tentang perlunya kita bersyukur atas nikmat Islam ini. Tak semua orang bisa mendapatkannya. Karena masih banyak milyaran orang di muka bumi ini yang belum mendapatkan hidayah Allah ini.

Saya bersyukur mendapatkan hidayah ini sejak lahir, tetapi terkadang yang mendapatkan hidayah ini sejak lahir malah ketaatannya kalah jauh daripada orang yang mendapatkan hidayah baru-baru saja. Ini semata untuk mengejar ketertinggalan—perkataan yang biasa sering diucapkan oleh para muallaf itu. Tetapi walaupun sekadar mengejar ketertinggalan jangan-jangan amal-amal mereka malah lebih utama, dahsyat, dan diterima Allah daripada yang sudah lama berislam tetapi miskin prioritas amal, kering keikhlasan, dan banyak yag ditolak Allah karena riya’.

Astaghfirullah…karenanya doa itu selayaknya tidak tertinggal dari mulut-mulut kita ketika sehabis shalat: ya Allah berilah petunjuk kepada kami sampai nyawa kami dicabut. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

di lantai: glosoran

09:39 15 September 2013

Gambar diambil dari Islamedia.

Tulisan ini diunggah pertama kali oleh Islamedia. http://www.islamedia.web.id/2013/09/chan-chun-hwa.html

PEREMPUAN YANG TERLUNTA


PEREMPUAN YANG TERLUNTA

Kaki kiri perempuan itu telah dipotong separuh karena penyakit gula. Luka bekas amputasi yang telah lama mengering entah kenapa kembali basah setelah ada lecet sedikit. Malam itu ia mengerang tanpa sadar kesakitan. Entah karena diebetes atau masalah diperutnya.

Dua anaknya panik mengetok pintu rumah saya. Mereka dulunya adalah murid-murid belajar Iqra dan pengajian pekanan yang saya selenggarakan di rumah. Mereka meminta pendapat atas kondisi ibunya dan kesediaan saya mengantar mereka dengan mobil. Sepertinya memang harus dibawa ke rumah sakit karena hari ini hari ke lima sejak ibu mereka tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Kemana Sang Ayah? Pergi ke Batam, meninggalkan istri dan anak-anak , tidak pulang-pulang berkali-kali lebaran serta tak mau memberi mereka nafkah. Setelah sebelumnya sempat pergi dengan perempuan lain, balik lagi, dan diterima dengan penuh kesabaran oleh istrinya yang sekarang sakit-sakitan. Ketika malam itu dikabarkan kepadanya bahwa Sang Istri harus dibawa ke rumah sakit ia tetap bergeming tak mau pulang.

Setengah sebelas malam kami pergi ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong, Bogor. Sang Dokter menyarankan bahwa Sang Ibu harus dirawat di kamar isolasi. Masalahnya adalah kamar isolasi sudah penuh, tidak ada kamar kelas rakyat lagi, yang ada kelas VIP. Memang kami melihat sebelumnya ada perempuan terluka karena kecelakaan pun harus pergi kembali disebabkan tak bisa dirawat di sana. Kami lalu diberi surat rujukan ke RS lain.

Berundinglah kami bertiga tentang akan dibawa ke mana lagi Sang Ibu. Cuma RS pemerintah yang bisa kami tuju karena ketiadaan biaya. Eko, sebut saja demikian, si anak sulung, hanya bisa mengusahakan adanya Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat buat ibunya. Kami pergi ke RS PMI di Kota Bogor, tapi jawaban pihak rumah sakit pun sama. Empat ruang isolasi yang mereka miliki sudah penuh.

Akhirnya kami pulang. Sang Ibu yang dari semula tak mau dibawa ke RS menyarankan untuk mengetok rumah Bu Bidan di komplek kami, soalnya obat terdahulu yang pernah diberikan “cespleng” katanya. Kami sepakat untuk kembali ke rumah sambil menunggu ruang kosong di RSUD Cibinong dan mengontrol kondisi Sang Ibu apakah dengan obat sementara itu kondisinya membaik atau tidak. Jika masih tetap kondisinya mau tidak mau harus kembali ke RSUD dan mengambil kamar yang ada di sana apapun kelasnya.

Setengah tiga dini hari, saya sudah sampai di rumah. Mau tidur tetapi mata belum mengantuk. Pertandingan bola antara Chelsea dan Bayern Muenchen menjadi pilihan untuk ditonton. Tak terasa kemudian adzan Shubuh telah berkumandang. Langkah kaki menuju ke Masjid mengusir kantuk yang sudah mulai menyerang. Total jenderal, lebih dari 24 jam tidak tidur sejak pagi kemarin.

Ta’awun

Ada yang mendera dalam pikiran selama perjalanan mengantar hingga shubuh itu. Pajak dikumpulkan sebanyak-banyaknya, dikelola dengan sebaik-baiknya, untuk kemanfaatan rakyat sebesar-besarnya. Salah satunya buat penambahan ruang rawat di RSUD Cibinong yang sudah jadi keharusan walau saat ini kondisi RS tersebut telah direhab dengan baik. Tetapi tetap saja masih ada cerita tentang kurangnya kualitas layanan atau calon pasien yang ditolak karena penuhnya kamar. Ini penting agar tak ada ceritanya lagi pasien yang ditolak di mana-mana kemudian meninggal karena ketiadaan kamar rawat.

Deraan yang kedua di punggung pikiran saya adalah selain ketersediaan jaminan kesehatan dari pemerintah buat orang yang tidak mampu, pun soal jaminan layanan berkualitas yang digaransi akan diterima oleh yang berhak. Jangan sampai pula ada perbedaan kualitas layanan antara orang yang membayar dengan pemakai kartu jaminan kesehatan.

Deraan terakhir adalah ketika akses terhadap dua hal di atas tidak bisa didapat maka di sinilah dibutuhkan adanya dana darurat buat orang-orang yang tidak mampu agar tetap bisa dirawat secepat mungkin dan kondisinya bisa tertangani. Keluarga pun tidak berpikir terlalu lama mau dirawat di rumah sakit mana karena ketiadaan dana.

Masalahnya di RT kami, dana ta’awun (tolong menolong) itu baru sebatas iuran kematian. Tak ada dana darurat selainnya. Di sinilah kepekaan para tetangga yang mampu diasah untuk bisa berempati dan turut membantu. Karena dengan Zakat, Infak, dan Shadaqah (ZIS) yang dikumpulkan dari mereka insya Allah itu akan sangat menolong.

Alhamdulillah dana ZIS yang kami kumpulkan oleh para aktivis tarbiyah sangat efektif membantu dalam masalah ketersediaan dana pendidikan buat orang yang tidak mampu. Terakhir dana pendidikan itu mampu untuk menebus ijazah anak tetangga yang masih ditahan pihak sekolah. Kebetulan Sang Anak sudah diterima di suatu perusahaan yang mensyaratkan jaminan ijazah asli.

Perlu sekali dana-dana ZIS yang terkumpul untuk dana darurat kesehatan. Dana tersebut bisa diserahkan tanpa harus ada upaya mengembalikan atau dalam bentuk pinjaman lunak dengan waktu yang luas. Dan dalam kasus Sang Ibu ini sepertinya kami harus mengetuk pintu tetangga kembali untuk secara sukarela memberikan dana bantuan. Ini solusi sementara sebelum dana darurat itu terbentuk.

Akhirnya Sang Ibu masih dalam kondisi semula bahkan lebih berat lagi, Ahad malam kami membawanya ke RSUD Cibinong dan dimasukkan ke kelas VIP. Sambil tetap berpesan kepada pihak RSUD jika ada kelas tiga yang kosong Sang Ibu harus diprioritaskan untuk masuk.

Notifikasi dari aplikasi Whatsapp muncul di hp saya. Dari seorang teman yang memberitahukan bahwa ia telah mentransfer ke rekening saya sejumlah uang zakat dan infaknya untuk diberikan kepada yang berhak. Ia meminta didoakan agar anaknya yang sakit disembuhkan dengan perantaraan sedekah ini. Juga agar perjalanan hajinya dimudahkan Allah. Sungguh, teman saya ini paham betul kalau sedekahnya itu akan menjadi sarana penyembuhan anaknya oleh Allah SWT. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda: obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.

Subhanallah, ini memang rizky minallah buat Sang Ibu. Insya Allah, teman. Dana ZIS itu akan diserahkan sebagiannya buat biaya perawatannya. Semoga Allah angkat penyakit Sang Ibu yang tidak mampu dan terlunta itu dan semoga Allah menyembuhkan segera anak teman saya ini.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sudut pagi yang dingin

06:34 08 September 2013

tags: RSUD Cibinong, Bogor, RS PMI, PMI,

MAU SEJUTA


MAU SEJUTA

Karakter Hajjah Ida di Sinetron Emak Ijak Pengen ke Mekah adalah karakter orang kaya yang sombong, sering memamerkan kekayaan dan kedermawanannya kepada orang lain. Dan itu berhasil diperankan sangat baik oleh Sang Pemeran, hingga membuat penonton hanya bisa mengelus dada dan jengkel melihat tingkah lakunya.

*

Jumlah hit yang berkunjung ke blog ini sudah hampir satu juta. Tentu karena bukan blog yang luar biasa, menempuh sejumlah angka tersebut perlu kerja keras. Karena satu pakem yang saya yakini betul dari sebuah blog dan ini hal yang terpenting adalah kontennya. Seberapa pun tampilan blognya super keren tapi isinya tidak bikin tambah manfaat buat pembaca tentunya berbanding terbalik dengan jumlah kunjungannya.

 

image

 

Seperti saya yang sering berkunjung ke blog unofficialnya Dahlan Iskan, itu karena semata kebutuhan. Bahwa di sana ada yang saya cari. Di sana ada yang saya butuhkan untuk menghilangkan dahaga intelektualitas (maaf kalau sok-sokan seperti ini) dari apa yang dia tulis di setiap pekannya.

Enam ratus hits setiap hari. Dan saya tahu apa yang mereka kunjungi di blog ini. Dan betul sesuatu yang bermanfaat buat mereka. Bukan karena celotehan saya yang tak karuan yang menyebabkan mereka datang ke blog ini. Bukan. Dan setelah saya perhatikan itu pun karena artikel-artikel lama saya. Hingga saya berpikir sudahkah membuat tulisan yang bisa dibagi buat orang lain dan bermanfaat saat –saat ini?

Jangan-jangan selama ini tulisan-tulisan baru saya tak ada manfaatnya buat mereka. Hanya sekadar ajang narsis saya. Pemikiran ini memukul telak ambang batas dari niat ikhlas yang selalu saya dawamkan ketika mau memosting sebuah tulisan. Sudah ikhlaskah? Saya cuma bisa meluruskan niat dan mengembalikannya kepada Allah SWT.

Hajjah Ida itu dermawan. Ia sangat royal kalau mau kasih duit ke orang. Satu hal tentang Hajjah Ida ini ia tak segan-segan bantu orang dan keluarkan duit banyak untuk bagi-bagi. Tapi yaitu tadi, padahal ia sudah mengumpulkan banyak pahala atas kebaikannya bagi-bagi duit, tapi langsung lenyap seketika hanya karena pamer dan sering menyakiti hati orang yang diberi duit.

Sedekah ya sedekah tapi jangan nyakitin. Padahal kalau Hajjah Ida tahu, kalau ia sedekah tak menyebut-nyebut sedekahnya itu dan tidak menyakiti perasaan si penerima, maka Hajjah Ida akan mendapatkan banyak pahala kebaikan buatnya, tidak akan ada rasa cemas yang menjadi sumber dari segala penyakit nomor satu manusia modern, dan tentunya Hajjah Ida tak pernah bersedih hati. Itu sudah janji Allah.

Amalan Hajjah Ida itu adalah amalan serupa batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. Tidak mendapatkan sesuatu apapun, sedikitpun, dari apa yang diusahakan.

So, saya dengan Hajjah Ida jangan-jangan sama. Karakter Hajjah Ida jangan-jangan sudah melekat di dalam jiwa saya. Mengira menulisnya bermanfaat buat orang lain, eh tahunya tak dapat apa-apa. Musibah.

Ah, gak tau yaa…Soalnya saya cuma ingin menulis hari ini. Menulis apa saja. Kalau sudah kayak gini berarti memang saya sudah jadi fakir ide dalam menulis. Tabungan ide saya habis. Atau sebenarnya banyak ide tapi pengen menulis yang serius, dan gurih, gurih, gurih begitu. Eh malahan tak bisa jadi semua. Oleh karenanya menulisnya jadi tak serius seperti ini, apa adanya, sekali jadi, tanpa edit, dan langsung posting. Tak tahu apakah ini bisa manfaat buat orang lain atau tidak. Padahal kata Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik kamu adalah yang manpangat buat orang lain gitu….

Sudahlah. Ternyata ada satu berkas jatuh tempo yang harus saya kerjakan sekarang. Pamit dan undur diri. Mau sejuta hits? Kerja keras, beri sesuatu yang manfaat buat orang lain, dan istiqomahlah. Itu saja.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:35 02 September 2013

Di sudut lantai 19

MENZALIMI SABTU


MENZALIMI SABTU

Sabtu pagi, matahari sudah duduk-duduk di pelataran. Hangat tentunya. Dan saya terbangun dengan sukses. Uh…Sabtu dan Minggu adalah waktu sangat berharga buat rehat serehat-rehatnya. Maklum Senin sampai Jum’at digunakan betul buat berjibaku mendorong, mendesak, dan menyandar, bertele-tele di antara tubuh-tubuh yang terjepit penumpang Commuter Line ketika berangkat atau pulang dari kantor. Melelahkan tentunya.

Makanya, sepertinya, oleh karenanya, Sabtu dan Minggu kayaknya ogah deh berangkat ke Jakarta. Jangan sampai deh bisa menyentuh dia. Dua hari itu dipersiapkan buat lahir dan batin untuk menggauli Jakarta di hari-hari kerja sahaja. Dua hari itu fokus buat keluarga dan masyarakat di sekitar rumah. Porsinya harus dipenuhi dengan adil seadil-adilnya. Digilir. Masing-masing ada waktunya. Ada jatahnya. Kalau enggak bisa adil, bisa celaka dunia dan akhirat. Nanti ada yang terzalimi. Kalau terzalimi, khawatir ada yang berdoa dan doanya didengar oleh Allah. Wow…

Kali ini mau tidak mau ada yang harus terzalimi, karena Sabtu ini, saya pergi ke Jakarta. Pergi ke Tanjung Barat. Ada Sarah Sechan sarasehan yang harus saya ikuti. Sarasehan menulis. Berbagi dan mendapatkan ilmu menulis seperti itulah. Jam delapan pagi langsung ke Stasiun Citayam.

Entahlah, kali ini saya tuh bongbong pergi ke Stasiun Citayam. Tahukan bongbong itu apa? Bukan bong buat ngisep ganja yang dikuadratkan yah. Bongbong itu bahasa Jawa Dermayu , artinya enggak ada beban. Ya betul enggak ada beban seperti di hari kerja. Yang harus tergesa-gesa, berjuang untuk mencari tempat di dalam Commuter Line yang penuh, desak-desakan, dan lain-lainnya.

Kali ini saya nyantai aja berangkat. Bermandikan cahaya matahari yang langka saya dapatkan—secara saya biasanya berangkat setelah shubuh tatkala matahari masih tidur di kandangnya. Pikiran pun tak galau karena pasti Commuter Line tak sepenuh seperti biasanya. Dan betul, saya masih leluasa baca koran dengan berdiri. Kosong. Ohya…jangan memakai bahasa kosong tanpa isi seperti yang biasa dipakai para pakar saintis itu. Kosong adalah bahasa relativisme yang dipakai oleh para penumpang Commuter Line ketika ia tidak menyandar pada tubuh orang lain. Itulah kosong.

Jarak Citayam-Tanjung Barat pun menjadi tak seberapa. Perjalanan berasa singkat bae. Ini jadi tambah bombongin ati. Baru baca enam artikel di koran saja sudah sampai. Stasiun Tanjung Barat masih sepi. Lalu saya susuri jalan setapak pinggiran relnya. Kolong jembatan layangnya. Sudah lama saya tak melewati kolong yang pada beberapa pekan sebelum ini memakan korban mobil situs berita tertabrak kereta.

Commuter Line dan jalan setapak. Serupa duit dan dompet.

Dan…di tempat tujuan sudah ada teman dari Semarang, bahkan dari Johor, Malaysia pun datang. Kali ini saatnya saya menyelesaikan tulisan ini. Seperti sudah pernah saya bilang kalau kita kudu tahu kapan kita harus keluar. Kapan kita harus berhenti. Di pohon gak ada ikan patin, mohon maaf lahir batin. Meksiko
Mekso…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di rangting cemara

11.09 24 Agustus 2013

FESTIVALISASI KEMUNAFIKAN


FESTIVALISASI KEMUNAFIKAN


Isi perutnya terburai. Tubuhnya berlumuran darah. Clurit perampok itu telah menghabisi nyawa keturunan Tionghoa yang terkenal kaya di desa Jatibarang puluhan tahun lampau itu. Selentingan kabar korban dibacok karena kukuh tidak mau menyerahkan hartanya. Harta bisa dicari lagi, nyawa cuma satu, lalu mengapa tidak menyerah saja? Sejatinya ini bukan sekadar masalah harta yang tak seberapa dan bisa dicari lagi itu. Sungguh.

*

Ini sebuah pembantaian. Ribuan nyawa demonstran damai melayang oleh tangan-tangan besi militer dan polisi Mesir. Dibidik, diasap, ditembak, dibakar, dibunuh, dilindas adalah cara-cara barbar yang digunakan aparat untuk membubarkan demonstran yang sedang menuntut haknya untuk mengembalikan Mursi ke kursi kepresidenannya.

    “Ternyata semua ini tentang kursi kepresidenan,” cuit seorang ustadz. Tidak sesederhana itu wahai Ustadz yang terhormat. Kursi itu diraih dengan cara yang menurut orang zaman sekarang adalah cara yang paling beradab, moderen, sesuai kesopanan dan etika dunia abad 21: pemilihan umum. Diperoleh dengan cara yang sedemokratis mungkin. Maka ketidaksetujuan terhadap kebijakan presiden terpilih, selayaknya disalurkan dengan cara yang telah diatur pula sesuai dengan etika orang-orang yang beradab itu: tidak memilihnya lagi di pemilihan umum selanjutnya.

    Maka wajar ketika kudeta yang dilakukan militer dan didukung oleh antek-antek Mubarak dan para liberalis itu dilawan dengan demonstrasi damai oleh para pendukung Mursi. Sebuah demo untuk melawan perampokan di siang bolong di sebuah tatanan dunia yang begitu mengagung-agungkan demokrasi.

    Ini bukan sekadar kursi kepresidenan, melainkan sebuah perjuangan menuntut hak yang telah dirampas itu dengan demo marathon yang membutuhkan nafas esktra panjang. Dan ini sah. Bahkan sekalipun terbunuh dalam rangka mempertahankan haknya itu. Hadits riwayat Abdullah bin Amru Radhiallaahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu’alaihiwasallam bersabda: Barang siapa yang terbunuh demi mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid. (Hadits Marfu’, Mutawatir).

    Akankah mereka para pendemo itu tidak tahu syariat daripada orang Cina di atas yang tidak tahu Islam tetapi mampu untuk mati dalam rangka mempertahankan hartanya? Tidak. Mereka beda. Mereka mencintai kematian. Dan tidak ada sesuatu apapun yang bisa mengalahkan orang-orang yang mencintai kematian. Tidak Fir’aun atau Assisi sekalipun. Bahkan dunia yang sedang diam ini.

Festivalisasi Kemunafikan

    Ya, dengan dunia yang diam, dengan Amerika Serikat (AS) sebagai pengasong dan penjaga demokrasi yang bermuka dua. Ini sebuah festivalisasi kemunafikan negara adidaya itu. Berderet panjang ambivalensi AS ketika demokrasi dimenangkan oleh partai-partai berlabel Islam. Jadi sebenarnya tidak ada ruang leluasa buat umat Islam ketika demokrasi sebagai alat perjuangan umat dimenangkan kecuali ia harus menjadi jongos AS terlebih dahulu.

    Kemunafikan ini dijaga agar tetap eksis karena ini menyangkut eksistensi Israel sebagai satelit AS, belanja senjata trilyunan dolar AS oleh para raja Timur Tengah. Dus, sumber daya alam yang begitu berlimpah di sana. Maka kekacauan dibuat sedemikian rupa agar wilayah panas itu tak pernah jeda sejenak untuk mengambil nafas kedamaian.

    Ditambah para penguasa diktator dan despotis itu membiarkan lenyapnya nyawa saudara sebangsanya itu selama berdekade AS mengambil peran di sana. Tak ada kegetiran sedikit pun bahwa mereka hanya jadi boneka yang bisa dipermainkan setiap saat oleh dalangnya. Tak heran anggapan ini marak: nyawa orang Arab itu murah. Tidak ada harganya. Satu dua mati, prihatin. Banyak yang mati cuma jadi statistik.

    Peran kekhalifahan dengan eranya yang begitu mencengangkan sejarah tidak diambil oleh para raja itu karena mereka sadar, sekali mereka muncul akan dibabat habis oleh para diktator lain yang menginginkan peran yang sama tapi nirkerja dan nirmandat. Sampai kapan kemunafikan ini terus difestivalisasi?

Lalu sampai kapan pembantaian ini didiamkan saja? Wahai para raja, muslim di seluruh dunia, dan para manusia di kolong jagat raya ini, letakkan dalam hati—jika kalian masih memilikinya—perkataan Erdogan ini: “Anda tak perlu menjadi rakyat Mesir untuk bersimpati, Anda hanya perlu menjadi manusia.”

    ***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Di satu hari menjelang kemerdekaan

08:37 16 Agustus 2013

 

 

INI MUDIK YANG MENYENANGKAN


INI MUDIK YANG MENYENANGKAN

 

Perjalanan mudik kemarin menyisakan banyak remah-remah kesimpulan. Dan tentunya menyenangkan. Dimulakan dengan sebuah niat yang baik: mempererat tali persaudaraan dengan sanak di kampung. Oleh karenanya kami cuma berharap Allah melindungi perjalanan kami ini. Mudik dan baliknya. Alhamdulillah semuanya dikabulkan. Tidak melelahkan lagi.

    Senin menjelang siang (5/8), tepatnya pada pukul 10.30 kami berangkat berenam saja—Saya, istri, ibu mertua, Maulvi, Ayyasy, dan Kinan—dari Citayam. Kita berangkat jam segitu karena tak mau buru-buru dan untuk memberikan hak kepada tubuh agar bisa istirahat setelah semalamnya mencari Lailatul Qadr di malam 27 Ramadhan. Semalamnya pun saya ubah gaya iktikafnya. Biasanya baru tidur 24.00 kemudian bangun jam 02.00, menjadi tidur lebih dini dan bangun jam 03.00. Ini setidaknya memberikan tenaga buat mudik.

    Perjalanan dari Citayam sampai Cikampek lancar banget yah. Tak ada kemacetan sama sekali. Bahkan saat keluar pintu tolnya. Saya pun akhirnya memilih ke kiri—ke arah perempatan Jomin—karena lengang dan tak ada polisi yang mengarahkan kami untuk ambil arah ke kanan menuju Sadang seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Sungguh, jalur Pantura ini terakhir saya ambil tiga tahun yang lalu. Setelahnya selalu mengambil jalur tengah yang panjang dan tetap macet juga. Kemacetan atau merayapnya mobil dari mulai Jomin sampai Sukra, Indramayu masih dalam batas kewajaran. Kadang merayap kadang bisa memacu kecepatan sampai 80km/jam.

    Sampai di Jatibarang saya tempuh jalur Jatibarang-Palimanan. Sampai di Kertasemaya maghrib. Untuk memasuki tol Palimanan sejak dari Tegalgubug mulai merayap. Kapanpun, entah cuti bersamanya panjang atau tidak, menjelang lebaran ini jalur Jatibarang-Palimanan tetaplah padat. Seharusnya saya ambil jalur seperti tahun-tahun sebelumnya kalau mudik melalui Pantura, yaitu melalui jalur Jatibarang-Karangampel-Cirebon. Ini jalur yang tak pernah dianggap oleh pemudik, padahal jalur ini jalur yang lengang dengan jalannya yang lebar. Selepas Cirebon barulah memasuki tol di Kanci.

    Dari Palimanan sampai Pejagan, saya bisa melenggang dengan kecepatan tinggi. Jalan tol sepi. Cuma mulai merayap lagi selepas gerbang tol Pejagan menuju Brebes, karena harus antri untuk bisa menyeberangi palang pintu kereta api. Setelah itu lancar. Tak ada kemacetan.

Kami berkali-kali berhenti. Bahkan kalau dihitung bisa sampai tujuh kali istirahat. Santai sajalah. SPBU Muri jadi tempat idaman untuk istirahat. Jam 23.30 kami ada di sana. Kami sahur di Sari Raos Gringsing, setelah Alas Roban, jam tiga pagi. Lalu kami melanjutkan perjalanan sebelum imsak. Sampai di Mangkang, Semarang sudah setengah lima pagi. Rumah sudah dekat. Tapi kantuk sudah tak bisa ditahan lagi. Daripada celaka lebih baik istirahat saja. Karena berdasarkan data statistik yang dirilis dinas terkait kecelakaan terjadi kebanyakan karena gerimis kantuk yang melanda.

Akhirnya kami tiba di Semarang, pukul 07.30, jadi kurang lebih 21 jam perjalanan. Ini sudah termasuk rekor bagi kami. Karena tahun-tahun sebelumnya hampir bahkan lebih dari 24 jam perjalanan. Yang terpenting selamat dan tidak melelahkan.

    So, bagi saya, untuk menempuh perjalanan mudik kemarin perlu kiat-kiat tersendiri. Dan inilah remah-remah kesimpulan itu antara lain sebagai berikut:

  1. Menej dengan baik malam iktikafnya;
  2. Siapkan fisik dengan baik. Tak perlu memaksakan diri, sehabis pembagian zakat jam satu malam langsung cabut. Tidur yang cukup. Berangkat pagi saja setelah shubuh atau dhuha atau menjelang dzuhur;
  3. Ambil jalur Jatibarang-Karangampel-Cirebon untuk menghindari kemacetan;
  4. Perbanyak istirahat di jalan;
  5. Tentunya perbanyak doa.

     

Semoga Allah memberikan kemudahan itu di tahun-tahun yang akan datang. Karena sesungguhnya kita berangkat untuk sebuah niat yang baik, niat yang mulia, yaitu silaturahmi. Kalau sudah demikian insya Allah, Allah akan lindungi perjalanan kita. Semoga.

 

***

Riza Almanfaluthi

dirantingcemara

09:45 14 Agustus 2013

    

SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH


SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH

image

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa. Sejatinya kita menang atau kalah yang merasakan cuma diri sendiri. Soalnya bisa saja kita dekralasikan diri sebagai manusia merdeka dan bertakwa tetapi kemudian setan ikut bergembira dan merayakan karena ia baru saja melihat budak yang baru saja merdeka itu kembali terjerumus dalam perangkapnya yang sebenarnya lemah.

Ini adalah hari kemerdekaan setelah satu bulan melawan hawa nafsu dan bahagia yang terus menerus dirasakan. Kita cuma bisa berharap Allah kasih kita perlindungan dan bahagia sampai akhir hayat. Apalagi yang pada hari ini sedang memanjangkan umurnya dan sedang menerima rizki yang banyak karena lagi silaturahmi dengan sanak saudara. Ooo…semoga Allah kasih keberkahan di umur yang panjang dan rizki yang diterima itu.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari di saat kita bebas menikmati makan dan minum tanpa ada larangan lagi. Opor ayam, ketupat, dan sambal goreng ati yang terhidang kita santap sepenuh hati di  siang bolong dengan keceriaan dan bincang-bincang tanpa topeng dan basa-basi. Yang adanya baru kita rasakan cuma setahun sekali. Dengan segala detil dan pernak-perniknya. Hanya ada di hari itu. Tidak di hari lain. Walau sengaja banyak manusia berusaha menciptakannya di hari lain. Tetap tak bisa samakan. Kau harus merasakannya kembali dengan detil yang sama di tahun depan.

Ooo ini adalah hari kemerdekaan. Kala kata maaf berseliweran di antara dua mata, dua telinga, dan satu rasa. Itu kita sambut dengan lapang dada entah broadcast ataupun satu yang berbeda. Semua upaya yang harus dihargai agar tidak kehilangan makna di hari ini. Sungguh kita terima dengan senang hati. Karena semata ini tanda cinta dan perhatian kepada kita. Dari mereka. Yang patut jadi perhatian ketika tak ada maaf yang terberi…Ooo sedangkan Sang Pencipta kita adalah Dzat Yang Maha Memaafkan, lalu mengapa tak sudi beri maaf. Ataukah ada keangkuhan yang menjadi tabir. Ooo…ayolah maafkan saja mereka. Maafkan dia. Tidakkah kita ingin menjadi ahli surga karena gemar memaafkan?

Ini adalah hari kemerdekaan, hari buat mereka yang telah berpuasa. Bukan buat mereka yang sengaja berbuka di siang hari dan pamer di jalan-jalan. Buat mereka yang telah berlelah-lelah di siang hari dan malam-malamnya supaya bisa dekat-dekat dengan Sang Maha Pemberi Kemerdekaan. Sudahkah kita jadi mereka? Hasibu anfusakum qabla antuhasabu….Itung-itungan dulu  yuk amal kita sebelum kita diitung-itung sama Yang Di atas.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan. Panjinya sudah dikibar-kibarkan di atas benteng, Tapi ini belumlah usai karena ini cuma pertempuran kecil. Perangnya masih berlangsung sampai ajal. Tidak tahu siapa yang menjadi pemenang sejati, Tapi kita berharap kepada Allah supaya kita menjadi pemenangnya. Dan merekalah yang kalah: iblis dan bala tentaranya: setan, jin, tuyul, sundel bolong, genderuwo, pocong, kolor ijo,  siluman babi, siluman ikan, siluman monyet, vampir (sebenarnya ini bukan karnaval)  dan manusia pengikutnya.

Ini adalah hari kemerdekaan, Hari di mana diri yang bernama Riza Almanfaluthi,  mohonkan maaf kepada semua. Seraya berharap kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan 1435 Hijr. Bekasi…cukup di sini aja sssssiiiih……ikan peda sono pegi daaahhh…..

Tabik. Happy Eid Mubarak, 1 Syawal 1434H.

Riza Almanfaluthi

Pojokan Semarang Panas

8 Agustus 2013 M

PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR


PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR

 

Ada yang rumit dari sebuah pagi, detilnya. Kali ini, pagi ini, demikian pula. Walau ada sebuah cerita mengiringinya. Ini sungguh terkait dengan keajaiban istighfar seperti yang sudah saya ceritakan kepada Anda semua di “Cring”.

Tadi malam saya i’tikaf di masjid komplek desa lain. Sahurnya pun disitu. Pas sahur air minum kemasan gelas habis. Mau mengambil air yang ada di dispenser tak ada gelasnya. Sudahlah, saya minumnya nanti, di rumah saja. Pun, karena saya harus kembali ke rumah segera untuk dapat sholat shubuh di Masjid Al-Ikhwan. Ada ceramah shubuh di sana.

Setengah jam menjelang adzan shubuh, saya memacu Fit di jalanan Bojonggede yang sepi. Di tengah perjalanan, saya baru ingat kalau jarum penunjuk fuel sudah menyentuh garis merah. Mentok sementok-mentoknya di dasarnya. Lupa belum diisi. Wah gawat kalau benar-benar dorong motor pas mau puasa. Ngelak tenan ik

Saya ingat nasehat ustadz. Perbanyak istighfar niscaya Allah kasih kelonggaran atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, rezeki dari arah yang tidak terduga. Langsung dah saya istighfar sebanyak mungkin, “ya Allah cukupkanlah bensin di motor saya ini sampai ketemu tukang bensin.” Saya percaya Allah akan menolong saya. Akankah keajaiban itu datang? Ternyata tidak saudara-saudara!

Motor benar-benar berhenti jauh dari tempat tukang bensin jualan. Saya turun dari jok dan mendorong motor itu. Speaker masjid dari mana-mana sudah terdengar menyuarakan pemberitahuan bahwa imsak akan datang sebentar lagi. Seratus meter dorong sambil cari warung pinggir jalan yang jualan air minum. Tak ada. Dan ujian akan tambah berat lagi. Di depan saya, kurang dari 100m, ada jembatan. Ini pertanda saya harus mengerahkan tenaga ekstra lagi untuk bisa melaluinya karena jalanannya menaik. Saya pasrah. Ini takdir yang harus dijalani di hari ke-26 Ramadhan.

Dan di titik inilah, di saat kepasrahan itu menjelma, keajaiban istighfar datang menghampiri. Seorang pengendara motor , anak muda, berhenti dan menanyakan kepada saya apa yang terjadi. Setelah mengetahui kondisinya, ia langsung menawarkan untuk nyetut
motor saya. Stut motor itu mendorong motor yang saya naiki dengan kakinya atau dorki (dorong kaki). Alhamdulillah ini sangat membantu. Kurang lebih 500 meter ia dorong motor saya sampai di tukang bensin terdekat. Dan ia langsung pergi tanpa berhenti untuk sekadar menerima ucapan terima kasih saya. Semoga Allah memudahkan urusannya dan membalasnya dengan kebaikan yang banyak.

Ilustrasi dari sini.

Saya beli dua botol bensin. Sebelumnya saya bertanya sambil melirik kulkas apakah ada air kemasan yang dijual. Ibu itu bilang tidak ada. Tapi ia langsung mengambil air segelas besar penuh dan memberikannya kepada saya. Ia tahu betul kalau saya lagi kehausan. Ucapan terima kasih lagi-lagi saya haturkan kepada orang baik kedua yang telah menolong saya. Inilah keajaiban istighfar yang kedua pas imsak tiba.

Di pagi yang rumit itu saya mendapatkan tiga keutamaan sekaligus dari istighfar. Allah hapus kegalauan saya karena harus mendorong motor di pagi buta, disebabkan ada orang yang mau membantu saya. Allah kasih jalan keluar atas setiap kesempitan karena ada orang yang kasih solusi dengan nyetut dan tukang bensin yang tak sebegitu jauhnya. Lalu Allah kasih rezeki segelas penuh air minum gratis menjelang waktu shubuh untuk menghilangkan dahaga dan bekal seharian berpuasa. Nikmat mana lagi yang mau diingkari jeh? Astaghfirullahal’adziim…

Maka untuk merayakan pagi yang tak rumit lagi ini bolehlah saya teriakkan: “Pagi Cantik…” Semoga amal ibadah kita di Ramadhan ini bagus semua, cantik semua. Lalu Allah menerimanya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di pojokan masjid

04 Agustus 2013

 

C R I N G


CRING

Kalau di surga, Adam jika menginginkan sesuatu maka ia tinggal bilang lalu “cring”. Segalanya sudah ada di hadapannya. Sungguh kenikmatan yang tiada tara. Dalam kesendiriannya naluri sebagai seorang manusia menghendaki adanya seorang teman. Lalu diciptakanlah Hawa dari tulang rusuknya. Maka kenikmatan apa lagi yang dapat menandingi kenikmatan yang mereka miliki? Sampai terjerumus oleh Iblis dengan memakan buah terlarang. Kenikmatan dua manusia pertama itu dicabut dan mereka berdua turun ke bumi. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercipta akan mengurangi banyak kenikmatan.

Di bumi, walaupun tidak sedahsyat surga, tetapi jika Adam menginginkan buah ia masih tinggal memetiknya dari pohon. Keturunannya sudah semakin banyak. Dengan sebuah pelajaran yang teramat berharga—terusirnya mereka dari surga—lalu membuat anak keturunan Adam tidak berbuat dosa? Dosa-dosa pun tercipta. Lalu mereka tak bisa memetik buah dari pohon, mereka harus menanamnya mulai dari biji-biji yang mereka dapatkan. Ada upaya keras tercipta untuk mendapatkan sebuah kenikmatan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Dosa-dosa selanjutnya membuat manusia semakin sukar mendapatkan apa yang diinginkannya hingga untuk mendapatkan kebutuhan yang paling pokokpun mereka harus memiliki sesuatu yang berharga untuk bisa ditukar. Sistem barter pun mulai berjalan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Lalu apa yang membuat antagonis dari postulat tersebut? Hingga sebabkan satu “something” itu dilakukan maka akan menambah banyak kenikmatan yang lain. Istighfar. Ya Istighfar. Istighfar itu dekat dengan kenikmatan. Dekat dengan surga. Istighfar itu sebuah pengakuan kelemahan diri akan sebuah dosa yang dilakukan, dan berharap kepada Sang Pemilik Ampunan agar menghilangkan bintik-bintik dosa di sekujur tubuh yang memberatkan sisi timbangan amal sebelah kiri.

Duhai…manusia, janji Allah yang tersebut dalam Surat Hud ayat 3 sudah menjadi sebuah keniscayaan. “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus).”

Apalagi janji Rasulullah yang tak pernah teringkari: “Barang siapa yang melazimkan istighfar, Allah akan menjadikan dari setiap kesedihan kelonggaran, dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Sunan Ibnu Majah 3809).

Sudahlah, hapus segala galaumu dengan istighfar. Longgarkan jalanan macet dengan istighfar. Commuter Line tidaklah manusiawi hingga tak tahu lagi kemana kaki berpijak dan tangan yang tergantung, luaskan semua itu dengan istighfar. Tak percaya? Lakukan saja.

Dalam sebuah perjalanan. seorang ustadz bertemu dengan muridnya yang pengangguran di sebuah musholla. Sang Ustadz lagi banyak rezeki, maka ia pun membagi barang satu lembar kertas merah bergambar Soekarno Hatta kepada Sang Murid. Lalu mereka shalat bersama jama’ah yang lain. Setelah salam Sang Murid menghampiri Sang Guru, mencium tangannya kembali dan berkata, “Ya Ustadz seharian saya mencari pekerjaan tapi tak dapat juga. Dan akhirnya saya singgah ke musholla ini. Saya mulanya tak tahu akan makan apa hari ini karena tak dapat uang sepeserpun. Saya teringat pesan Ustadz untuk senantiasa beristighfar, maka saya pun beristighfar. Banyak. Terus menerus. Sampai Ustadz datang dan menyerahkan uang 100.000 an itu. Subhanallah Ustadz. Jazaakallah. Allah maha menepati janji.”

Tidak ada manusia yang tak luput dari dosa. Maka ia pun selayaknya untuk selalu beristighfar. Pun karena Allah mencintai orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat. Allah gembira dengan orang yang bertaubat melebihi kegembiraan seorang musafir di tengah gurun pasir yang terik di saat menemukan kembali ontanya yang hilang.

Kalau saja nabi Yunus tidaklah mengucapkan doa ini niscaya ia akan selamanya terkurung dalam kegelapan perut ikan yang besar. Pada akhirnya Nabi Yunus terbebas dari kesempitan yang akan membuatnya mati.

clip_image002

Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat di sisa-sisa terakhir ramadhan. Setelahnya pun demikian. Selamanya. Hingga nafas terakhir kita. Ingat pulalah yang satu ini: Satu dosa menghancurkan kenikmatan, satu istighfar akan mendatangkan kenikmatan. Kita berharap kelak akan bisa seperti Adam dulu, di surganya Allah, dengan sebuah “cring…” Segalanya ada.

***

Riza Almanfaluthi

29 Juli 2013

dari sebuah ceramah yang diremark