5 PRINSIP UNTUK MENJADI JUARA LOMBA MENULIS


5 PRINSIP UNTUK MENJADI JUARA LOMBA MENULIS

 

(sumber gambar: udel.edu)

Ramadhan selalu memberikan keberkahan kepada saya. Banyak sekali. Tak terhitung. Salah satunya adalah kemenangan-kemenangan kecil. Di tahun 2011, saya mengikuti lomba menulis puisi Islami yang diselenggarakan oleh Masjid Alamanah Kementerian Keuangan. Alhamdulillah Allah menakdirkan saya mendapatkan juara dua. Tiga tahun kemudian, di bulan Juli 2014 ini tepatnya di Ramadhan 1435 H, saya diberikan kesempatan untuk menjadi pamungkas di Lomba Menulis Artikel “Semangat Anti Korupsi” yang diselenggarakan oleh 7G DIV Khusus Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Kalau saja tidak ada yang menampilkan pengumuman lomba itu di Forum Shalahuddin tentu saya tidak akan pernah mengikuti lomba itu. Kebetulan saya melihat sepintas pengumumannya terselip dalam ratusan tema diskusi dalam forum tersebut. Saya membacanya dan memutuskan untuk ikut. Entah teman-teman forum sudah membaca pengumuman itu atau tidak. Dan tak tahu pula apakah banyak teman saya yang ikut.

Peserta lomba adalah mahasiswa STAN dan pegawai Kementerian Keuangan. Hadiahnya uang dan sertifikat. Bukan uang yang menjadi tujuan utama saya. Setidaknya niat saya untuk ikut lomba pun sekadar mengasah kemampuan menulis saya. Kalah menang adalah hal yang biasa. Sudah sering saya ikut lomba dan sudah sering pula saya kalah. Maka tak jadi soal kalau saya kalah. Mental seperti ini harus disiapkan agar tidak pernah ada rasa kecewa yang berkepanjangan. Kecewa itu manusiawi tapi kalau terus menerus dipelihara bisa mengakibatkan frustasi dan mematikan kreasi.

-Baca lebih lanjut.->

Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina


Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina

 

 

Aksi solidaritas untuk Palestina yang dilakukan oleh ribuan masyarakat pada hari Ahad (13/7) di Bunderan Hotel Indonesia Jakarta menyisakan kisah-kisah yang sangat mengharukan. Kisah-kisah tentang kepedulian para mustad’afin (orang-orang lemah) kepada saudara-saudaranya di bumi Palestina yang menjadi korban kebiadaban Israel.

Apa saja kisah-kisah mengharukan tersebut? Diantaranya diutarakan oleh Ririn, administrator komunitas ODOJ (One Day One Juz) 46. Komunitas yang mempunyai program memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Alquran satu juz sehari. Kisah ini telah beredar melalui pesan dalam grup ODOJ pagi ini. Menarik untuk disimak.

Ceritaku sebagai tim sunduk dari ODOJ di Aksi Solidaritas untuk Palestina. Awalnya rada sungkan, namun lama kelamaan asyik juga, apalagi kalau yang dikasih berupa Garuda Merah (lembar uang dengan nominal seratus ribu rupiah—red).

Berada di antara ratusan mobil yang lalu-lalang. Bahagia banget kalau ada ada yang membunyikan klakson kemudian membuka sedikit jendelanya dan si Garuda Merah atau Biru masuk ke kantong hijau ODOJ. Senang bukan main.

Tetapi ada satu hal yang membuat aku sampai mengeluarkan air mata di antara air hujan yang membasahi bumi yaitu sepasang suami istri dengan motor butut memberikan beberapa lembar Garuda Merahnya. Setelah memberikan lembaran itu, suami tersenyum kepada istrinya seraya berkata, “Ikhlas ya Mi, sahur dengan mi rebus?” Anggukan anggun si istri membuat aku terpana. Ya Allah, itu lembar terakhir mereka. Semoga Allah ganti lembaran-lembaran Garuda Merahmu untuk saudara muslim di Palestina kita dengan surga-Nya, wahai saudara muslimku.

Kemudian ada juga pemulung yang memberikan uang recehnya untuk saudara muslim Palestinaku seraya ia berkata, “Neng, Bapak bisa gak ya ke Palestina?” Tanyanya. “Kalau mau perang ke sana harus punya hafalan 30 juz ya Neng? Aduh, Bapak mah boro-boro hafalan, salat saja bolong-bolong, tapi Bapak pengen ke sana, Bapak ingin syahid Neng.”

Bapak pemulung itu berpakaian lusuh, namun hatinya laksana mutiara. Sepanjang menjalankan kotak sunduk, air mataku mengalir. Mereka mengajarkan kedahsyatan yang luar biasa. Hari ini aku bersyukur bisa terlibat menjadi bagian hal ini.

Bagi para pembaca jangan melewatkan diri untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Palestina dengan memberikan infak terbaiknya. Jika tidak, minimal dengan doa yang tidak putus-putusnya. Apalagi di bulan Ramadhan ketika Allah banyak memberikan waktu mustajab buat orang yang berpuasa untuk berdoa. Doa adalah senjata kaum beriman. [Riza Almanfaluthi]

ANDA PEREMPUAN? JANGAN TAKUT URUS SERTIFIKAT SENDIRI DI BPN


ANDA PEREMPUAN? JANGAN TAKUT URUS SERTIFIKAT SENDIRI DI BPN

 

Setelah membaca blog saya tentang Biaya Peningkatan Status Hak Guna Bangunan Menjadi Hak Milik seorang ibu bernama Dyah Ully mencoba mengurus sendiri sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB)-nya yang hampir kedaluarsa menjadi sertifikat Hak Milik di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu (19/6).

Tidak diketahui alasan yang sebenarnya dari Ibu Dyah Ully untuk mengurus sendiri di BPN. Tapi dari komentarnya yang sempat masuk di sana, Ibu Dyah Ully ingin pengurusan sertifikat ini selesai agar tidak menyulitkan anaknya di kemudian hari. Alasan yang bagus menurut saya. Menjadikan anak keturunan kita tidak membawa beban orang tuanya.

Setelah menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan dan diawali dengan kecemasan tentang rumitnya birokrasi di BPN hingga membuatnya tidak bisa tidur serta biaya yang harus dibayar, Bu Dyah Ully menekadkan diri untuk langsung aksi daripada diam termangu tanpa melakukan apa-apa dan mendapatkan hasil. Berikut kisah lengkap Ibu Dyah Ully untuk bisa kita simak bersama-sama.

Kantor Pertanahan BPN Kota Administratif Jakarta Selatan (bpn.go.id)

*

Selasa, 17 Juni 2014

Tadi saya mulai dengan mencari kantor BPN Jakarta Selatan. Karena rupanya sejak 2011 kantornya pindah dari Jalan Prapanca ke Jalan Alwi di Tanjung Barat. Dan rupanya sesuai dengan hasil googling sana sini, kantornya nyelempit di antara rumah penduduk dan jalannya hanya muat satu mobil. Jalan masuknya pas di sebelah Showroom Auto2000, Lenteng Agung arah Depok sana. Dengan plang super mini: Kantor BPN Jakarta Selatan. Okelah, alhamdulillah ketemu dan rupanya ada tempat parkir yang lumayan lega.

Suasana kantor ramai luar biasa mirip dengan kantor imigrasi kira-kira. Saya menghampiri satpam dan tanya koperasi di mana. Rupanya di luar kanan belakang. Di sana saya membeli formulir permohonan peningkatan hak rumah tinggal. Mapnya warna putih. Oh iya saya sebelumnya di tanya luas tanah apakah melebihi 600 meter persegi atau tidak ? Saya bilang tidak. Tanah saya hanya 200 meter persegi. Mungkin beda formulirnya buat tanah berukuran 600 meter persegi ke atas.

Lalu saya tanya pada petugas, apakah fotokopinya perlu dilegalisir? Saya belum sempat melegalisir. Ini juga tadi langsung berangkat ke sini mumpung bayi saya anteng dan bisa ditinggal. Rupanya fotocopi KTP dan KK harus dilegalisir di kelurahan. Okelah. Biaya formulir 10 ribu saja. Pas juga sudah saya siapkan.

Jadi saya pulang dan akan saya isi dulu serta lengkapi persyaratannya. Sama kok yang diminta adalah fotokopi KTP dan KK dilegalisir, fotokopi IMB, fotokopi SPPT PBB tahun berjalan. Yang lupa saya lakukan adalah masuk dan bertanya di helpdesk kira-kira brp biaya yg hrs saya siapkan.

Tapi ya sudah, besok setelah lengkap saya akan kembali dan semoga saja biaya resminya tidak mahal. Amin.

 

Kamis, 19 Juni 2014

Barusan saya pulang dari kantor BPN Jakarta Selatan. Semua persyaratan sudah saya lengkapi. Fotokopi KTP dan KK yg dilegalisir, fotokopi IMB, dan fotokopi SPPT PBB.

Saya baru sampai kantor itu jam 10. Lalu mengambil nomor antrian. Sudah nomor 661. Rupanya nomor antrian sudah panjang sekali. Suasana sangat ramai. Waktu saya lihat, antrian nomor pengurusan baru 600. Saya mengikuti petunjuk Pak Riza, mencari loket 2. Saya duduk di bangku yg menghadap loket itu. Kelihatannya Pak Petugas tidak memanggil nomor antrian. Setelah menunggu 15 menit tanpa kepastian, saya mendatangi Pak Petugas dan bertanya, “Pak mau urus pengalihan hak dimana ya?”

Pak Petugas dengan ramah menjawab, “di sini bu. Mari saya periksa.”

“Maaf pak, biayanya berapa?“

“50 ribu Bu,” jawabnya. Saya kaget dan senang mendengarnya.

Alhamdulillah, diperiksa semua data, persyaratan lengkap, dan sertifikat asli diminta. Lalu dilepas dari map hijaunya. Contreng-contreng terus Pak Petugas bilang, “sudah ke pemetaan? Sambil menunjuk ke petugas di sebelahnya.

Oh belum, lalu map pun pindah tangan, diperiksa di komputer lalu dicap dan diberikan kembali ke Pak Petugas pertama. “Ditunggu dulu Bu,” Katanya. Alhamdulillah langsung diproses. Saya menunggu sekitar setengah jam dengan deg-degan karena tidak memakai nomor antrian. Lalu saya dipanggil lagi, diberikan surat pembayaran, benar tertulis lima puluh ribu rupiah. “Nanti habis bayar kemari lagi ya,“ Kata Pak Petugas.

Lalu saya ke loket pembayaran, dan menunggu kuitansi tanda pembayaran. Sekitar setengah jam kemudian, nama saya dipanggil. Saya kembali ke loket 2, lalu Pak Petugas dengan ramah menginformasikan bahwa di kantor BPN Jakarta Selatan ini untuk peningkatan hak pelayanannya ada juga di hari Sabtu. Malah kalau hari Sabtu, langsung jadi hari itu juga (one day service). Berhubung HGB saya sudah hampir kedaluwarsa saya tidak berani ambil risiko dengan datang ke BPN di hari Sabtu. Kelamaan. Nah karena saya datang di hari kerja biasa maka untuk sertifikat saya jadi dalam tujuh sampai sepuluh hari kerja.

Alhamdulillah. Saya tinggal menanti dan mengambil hasilnya. Semoga lancar dan dimudahkan. Terima kasih atas sharing-nya Pak Riza, yang membuat saya berani urus sendiri lewat jalur resmi. Terima kasih kasih buat pejabat negara yang sudah memudahkan ibu rumah tangga seperti saya bisa mengurus sendiri surat tanahnya. Sekian sharing saya, Terima kasih dukungannya.

*

Ayo perempuan Indonesia jangan takut dengan birokrasi. Jangan takut urus sendiri sertifikat di BPN. Ada beberapa birokrasi yang sudah mau berubah. Sudah bukan zamannya lagi birokrasi yang mengagung-agungkan kredo “kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”. Selain BPN tentunya ada kantor pajak di seluruh Indonesia yang senantiasa memudahkan dalam memberikan pelayanan perpajakan. Jangan takut pula Anda, Wajib Pajak, untuk datang mengurus sendiri hak perpajakan Anda ke kantor pajak.

***

 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

12 Juli 2014

RIHLAH RIZA #39: WEDANG JAHE SEGORO NING ILAT


RIHLAH RIZA #39: WEDANG JAHE SEGORO NING ILAT

 

“Di dalam surga itu mereka diberi segelas minum (minuman) yang campurannya adalah jahe.”

(Alquran yang Mulia, Alinsaan 17)

 

Tapaktuan itu kota kecil yang mempunyai pilihan makanannya sedikit. Selain itu tidak semua makanan ataupun masakannya bisa sesuai dengan lidah Jawa akut saya ini. Seringkali lauk-pauk yang dijual di warung-warung itu terhidang “anyeb” (tidak hangat). Tentu tak akan pernah bisa menggugah selera. Makan pun jadi sekadar rutinitas wajib agar jangan sampai perut kosong. Maka kalau ada teman satu mes saya yang masak dan saya diizinkan untuk mencicipi masakannya itu adalah anugerah yang luar biasa buat saya.

Tapi saya tidak bisa masak. Saya hanya bisa masak air putih, nasi, jagung, dan mi rebus. Masak nasi pun terkadang hasilnya kering-kering sekali atau lembek-lembek sekali. Namun suasana makmeugang dan Ramadhan memberikan kesempatan besar kepada saya untuk belajar memasak. Karena apa? Selain karena alasan di atas, malas pergi keluar saat sahur menjadi alasan utama.

Untuk itu, saya sering pergi ke pasar. Beli ikan, telur, gula, minyak sayur, sayur-sayuran, dan masih banyak lagi yang lainnya. Walau seringkali yang masak itu bukan saya melainkan teman satu mes saya. Tapi saya juga berusaha mencoba. Belajar masak dari Google dengan mencari resep-resep memasak yang sederhana. Bahan-bahannya yang mudah dicari dan dengan alat masak yang umum-umum saja serta tidak aneh-aneh.

Saya membuat tempe goreng, ikan bakar, ikan goreng, telur dadar, omelet mi, tumis kangkung, nasi goreng, bubur kacang ijo, dan wedang jahe. Hasilnya ya begitulah. Kalau dinilai dapat C. Saya pernah membuat nasi goreng di sahur hari pertama dengan menggunakan bumbu instan. Hasilnya tidak habis saya makan karena nasi goreng itu berminyak. Pantas kalau saya sebut nasi goreng itu sebagai Nasi Goreng Ladang Minyak Cepu.

Tapi ada yang sungguh sukses luar biasa yaitu ketika saya berhasil membuat bubur kacang ijo sebagai menu berbuka puasa. Bahannya mudah dicari dan tidak banyak. Antara lain kacang ijo, gula merah, santan, daun pandan dan sedikit garam. Saya benar-benar ikuti apa yang diinstruksikan dalam resep dari sebuah blog masak itu. Terutama dalam hal takaran dan cara memasaknya. Saya tak mau ambil resiko dengan berimprovisasi. Supaya kalau tidak enak jangan saya yang disalahkan tetapi pembuat resepnya. He he he he…bisa saja.

Hasilnya sungguh luar biasa. Bubur kacang ijo yang saya bikin sambil bawa-bawa hp dan baca blog masakan itu jadi hidangan berbuka puasa yang pas. Saya sampai geleng-geleng kepala tiada mengira atas keberhasilan membuatnya. Teman-teman saya pun sampai berkali-kali nambah. Saya sangat berterima kasih sekali kepada pembuat resepnya. Semoga amalnya dibalas Allah dengan balasan yang banyak. Pantaslah jika bubur kacang ijo itu saya sebut sebagai Bubur Kacang Ijo Manna dan Salwa. Saya ambil nama ini dari nama makanan surga yang disia-siakan oleh Bani Israil selepas lolos dari kejaran bala tentara Fir’aun.

Bubur Kacang Ijo Manna dan Salwa. Kata Teh Windy Ariestanti Hera Supraba, kacang ijo yang tidak tenggelam itu berarti kacang ijonya gabug (Foto koleksi pribadi).

 

Lain hari, saya membuat tumis kangkung. Masaknya dengan insting saja. Tidak buka-buka hp. Wajan bekas goreng ikan sebelumnya itu tidak saya bersihkan. Biarkan apa adanya. Agar terasa kangkung itu dengan rasa ikan. Enggak tahu benar apa tidaknya cara seperti ini. Alhamdulillah jadi. Hasilnya lumayan. Buat teman yang tidak suka asin tumis kangkung saya ini sudah pas. Tapi bagi teman yang lainnya dan saya sendiri yang orang Cirebon rasa tumis kangkung itu jelas kurang pas. Wong Cerbon itu suka yang asin-asin. Karena kami berdua sama-sama sedang dalam perantauan dan jauh dari kampung maka pantaslah kalau tumis kangkung ini saya namakan Tumis Kangkung Sinbad Berkelana.

Lain waktu saya mencoba membuat wedang jahe sebagai teman menu utama buka puasa. Setelah saya googling resepnya sederhana. Semua resep yang saya baca mereferensikan daun serai sebagai salah satu bahannya. Jahe, gula merah, daun pandan, garam, dan daun serai adalah bahan utamanya. Saya pikir semuanya ada di mes kecuali gula merah dan jahenya. Maka saya pun pergi ke pasar untuk membeli kedua bahan itu.

Saya mulai membuatnya satu jam sebelum waktu berbuka. Saya cuci bersih semuanya. Iseng saya menanyakan ke teman satu mes saya yang jago masak.

“Bang, batang serai ini masih bagus, kan?” Tanya saya sambil menunjukkan benda keras dan panjang berwarna coklat kepadanya.

“Bukan. Itu kayu manis.”

“Hah…Whaaaat?”

Ternyata saya salah mengira. Yang saya kira daun serai itu ternyata kayu manis. Terpaksa saya manyun. Pergi ke pasar jam segini pasti warung sudah pada tutup. Sepertinya saya akan menunda membuat wedang jahe itu. Tapi teman saya tahu kegundahan saya. Ia bilang kalau daun serai itu tanaman yang mudah ditemukan di halaman belakang mes. Tak lama ia sudah memberikan kepada saya beberapa batang daun serai. Oooo….ini toh yang namanya daun serai. Sebenarnya sudah sering saya lihat tapi tidak tahu benar kalau itu adalah daun serai.

Subhanallah. Maghrib itu jahe hangat menjadi minuman yang sangat nikmat. Jahe atau dalam bahasa arab disebut zanzabil ini merupakan campuran minuman di surga. Benarkah? Iya betul. Di dalam Alquran surat Alinsaan ayat 17 disebutkan, “Di dalam surga itu mereka diberi segelas minum (minuman) yang campurannya adalah jahe.”

Jahe di surga itu dari mana asalnya? Dari Hongkong? Dijawab pertanyaan itu di ayat selanjutnya, “(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan Salsabil.”


Deu…deu…deu yang punya nama Salsabila.
Sekarang tahu bukan kalau Salsabila itu adalah nama mata air di surga. Indah nian. Cantik nian. Rima dalam akhir dua ayat itu pun juga indah: Zanzabila-Salsabila.

Saat meminumnya saya jadi teringat masa kecil saya dulu. Ibu saya sering beli jamu gendong. Biasanya yang ibu minum adalah jamu yang warnanya kuning dan terasa pahit. Untuk anak-anaknya kami diberinya segelas cairan warna coklat yang rasanya manis itu. Biasa sebagai penawar dan penghilang rasa pahit jamu. Itulah minuman jahenya. Hangat di lidah hangat di perut. Sore itu, ketika azan magrib berkumandang pantaslah kalau minuman jahe yang saya buat itu saya namakan Wedang Jahe Segoro Ning Ilat (Wedang Jahe Samudra di Lidah).

Duh maaf, puasa-puasa begini membahas hal beginian. Bagi yang sudah ahli memasak atau bagi ibu-ibu rumah tangga, pengalaman saya ini pengalaman remeh temeh. Biasa saja. Tidak ada yang aneh. Tapi bagi saya ini pengalaman yang sangat luar biasa. Minimal saya bisa masak bubur kacang ijo. Insya Allah akan saya praktikkan di Citayam sana untuk bantu-bantu Ummu Haqi. Saya juga jadi tahu mana kayu manis dan mana daun serai. Itu pelajaran berharga.

Kiri Kayu Manis, Kanan Daun Serai. Jangan sampai salah. (Gambar dari berbagai sumber).

 

Kata teman, kemampuan memasak ini akan meningkat seiring dengan waktu. Para tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah pun demikian, sepulangnya dari perantauan, selain bertambahnya pengalaman, mereka pada jago masak. Semua berawal karena keterpaksaan, pada akhirnya memasak pun menjadi candu. Berhasil satu resep maka ingin mencoba resep lain. Ada teman saya yang lain sekarang kecanduan masak. Postingan Facebooknya penuh hasil olahannya.

Saya mungkin belum bisa seperti mereka yang jago masak itu. Saya hanya sekadar memenuhi sebatas kebutuhan perut saja. Cukup yang sederhana-sederhana saja. Yang penting saya bersyukur masih bisa makan. Apalagi di tengah keprihatinan karena masih banyak saudara-saudara kita, entah di Indonesia, di Somalia, atau pun di Jalur Gaza, yang pada susah makan. Entah karena kemiskinan, konflik, ataupun penjajahan.

Semoga Allah memberikan keberkahan atas apa yang kita makan. Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamarraahimiin.

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Juli 2014

 

 

 

GAZA


GAZA
 

 

Maafkan aku yang terlambat 
sadari seberapa gentingnya kamu, 
sebelumnya hatiku tak bergerak 
ketika mendengar kabar dari media sosial 
 
tentang anak-anakmu yang dibakar, berdarah-darah, 
termutilasi oleh api-api laknat penjajah.
Aku baru tahu dari running text 
sebuah televisi swasta 
kalau 40 anak-anakmu telah syahid. 
Betapa menderitanya kamu Gaza.
 
Oh…aku baru tahu ternyata 
di antara laparku yang menyengat, 
di gempitanya menu berbuka puasa, 
di sepanjang doa-doa malam yang terburu-buru, 
di rakaat-rakaat tarawihku yang pendek, 
di sujud-sujud tahajudku yang seadanya, 
di ramainya tontonan piala dunia, 
di sahurku yang begitu berada, 
di shubuhku yang enggan terlaksana segera 
karena tidur yang menggoda, 
di puasaku yang penuh ghibah dan pura-pura lemas, 
di pesta demokrasi yang menghabiskan sebagian dayaku, 
ada sebuah kuasa yang mempertontonkan 
kesombongan dan ketamakan para monyet.
Oh…aku tak mau abai lagi. 
Kukirimkan rudal-rudal doa mengenyahkan segala angkuh. 
Ini Ramadhan, saat tubuh dan jiwaku untukmu Gaza. 
 

 

 
**

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
9 Juli 2014
dimuat pertama kali di islamedia.co

 

Mbok-mbok Penjual Kapur Sirih Taat Pajak Menjadi Viral di Media Sosial


Mbok-mbok Penjual Kapur Sirih Taat Pajak Menjadi Viral di Media Sosial

 

    Seorang pegawai pajak bernama Wahyu Widayat dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Magelang kedatangan seorang mbok-mbok penjual kapur sirih dan gambir dari Lereng Merbabu, kemarin (7/7). Kesederhanaan dan ketaatan seorang wanita desa memenuhi himbauan membayar pajak berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 (PP46/2013) telah menyentuh hati Account Representative di KPP tersebut.

    Curhatan Wahyu Widayat tentang nenek-nenek itu sebagaimana ditulis dalam laman Facebook-nya kini telah menjadi viral di media sosial. Berikut cerita lengkapnya:

“Trenyuh. Mbok, terima kasih atas partisipasinya dalam membayar pajak. Hari ini aku merasa malu. di hadapanku datang mbok-mbok penjual kapur sirih dan gambir di Lereng Gunung Merbabu. Letaknya jauh. Untuk pergi ke pasar saja butuh 1 jam turun gunung karena tidak ada angkot, kemudian baru ngangkot ke pasar setelah sampai di jalan.

Beliau mendapatkan surat himbauan PP 46. Dengan sedikit terbata-bata dengan bahasa Jawa (karena tidak bisa berbahasa Indonesia) mbok ini mengklarifikasi surat himbauan tersebut. Beliau takut kalau masih ada kekurangan pembayaran pajaknya. Karena setiap bulannya sudah tertib membayar PPh Pasal 25-nya dan juga SPT Tahunannya sudah lapor. Deg. Rasanya gimana gitu…

Setelah mendapat penjelasan, beliau mengucapkan terima kasih karena bukan kekurangan pembayaran seperti yang dikira olehnya. Terima kasih Mbok. Satu pelajaran besar yang kau berikan hari ini. Thanks God. Aku akan bekerja lebih baik.”

Simbok Penjual Sirih dan Gambir dari Lereng Merbabu yang datang ke kantor pajak untuk mengklarifikasi surat himbauan PP 46 (Foto diambil dari laman facebook Wahyu Widayat).

 

    Seperti dikutip dari laman pajak.go.id, PP46/2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu telah diberlakukan oleh Pemerintah sejak 1 Juli 2013. Peraturan Pemerintah ini mengatur Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tidak lebih dari 4,8 Milyar untuk membayar PPh final sebesar 1% dari omzet bulanan.

    Di tengah banyaknya pengemplang pajak dan Wajib Pajak yang tidak mau membayar pajak atau pun sekadar datang untuk memenuhi himbauan yang dikirimkan oleh kantor pajak, simbok yang sederhana dan mempunyai penghasilan tak seberapa ini telah memberikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa pajak dalam kondisi apapun harus dibayar. Tidak menjadi soal seberapa besar kontribusi yang diberikan melainkan ketaatan dalam mematuhi aturan main yang telah ditetapkan oleh Negara. Sudahkah Anda membayar dan melaporkan pajak dengan benar?

[RizaAlmanfaluthi]

 

RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG


RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG

Ada tradisi yang dipegang begitu kuat oleh masyarakat Aceh, salah satunya adalah tradisi meugang atau makmeugang. Tradisi meugang adalah tradisi berkumpul dengan keluarga sembari makan-makan di hari terakhir bulan Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadhan. Enggak afdal kalau tidak berkumpul. Oleh karenanya, seminggu atau beberapa hari sebelum hari meugang tersebut banyak para perantau kembali pulang kampung.

Selain makan-makan dengan menu khusus maka yang muda berkunjung kepada yang lebih tua dengan menyerahkan bawaan berisi lauk-pauk—termasuk di dalamnya daging kerbau atau sapi yang diolah ke dalam berbagai macam masakan. Tidak heran di berbagai daerah di Aceh banyak bermunculan lapak-lapak baru di pinggir jalan yang khusus berjualan daging kerbau atau sapi.

Dalam masyarakat Aceh tradisi ini dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu menjelang bulan Ramadhan, menjelang hari raya Idul Fitri, dan menjelang hari raya Idul Adha. Tradisi ini berlangsung ratusan tahun dan sudah turun temurun dilaksanakan.

Menurut Acehpedia, pada awalnya meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya. Setelah Aceh dikalahkan Belanda, kerajaan bangkrut. Lalu, rakyat berpartisipasi sendiri dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkan meugang.

Tradisi itu tetap berakar di tengah masyarakat Aceh sampai sekarang. Tradisi ini malah bisa membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, yaitu daging yang diawetkan. Dengan daging awetan, tulis Acehpedia, pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.

Penjual daging di salah satu pasar di Aceh (gambar dari acehmail.com)

Di Tapaktuan, tradisi ini berimbas buat saya. Warung nasi tidak ada yang buka. Sebenarnya pemilik warung memahami urgensi keberadaan mereka buat para pekerja rantauan seperti saya ini. Apalagi buat yang menjomblo. Karena kepraktisan membeli makanan daripada memasak sendiri lebih jadi pilihan.

Tapi apa mau dikata, tradisi ini harus dipegang. Harus dihormati. Sebelas bulan mencari nafkah masak satu atau beberapa hari saja saja tutup tidak mau. Ada saja gunjingan ini kepada para pemilik warung yang masih buka.

Daripada saya kelaparan maka pada hari kedua sebelum Ramadhan saya pun membeli sembako sebagai persiapan antara lain lima butir telor, satu kilogram beras, dua ekor ikan, mi dan bumbu-bumbu instan. Sayang sekali tidak ada yang namanya sayur instan. Sedangkan kalau beli ikan tentu di pajak (baca pasar). Saya titip sama teman saya yang sering pergi belanja ke sana, J. Simorangkir, teman saya yang hobi banget makan ikan dan jalan-jalan pagi.

Tapaktuan ini terkenal dengan ikan segarnya. Seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal Aceh, Nasir Jamil, saat dia tahu bahwa saya bekerja di Tapaktuan, langsung menyatakan kesukaannya dengan ikan-ikan di Tapaktuan yang segar, putih, dan empuk dagingnya itu. Dalam kunjungan kerjanya, ia pernah mampir di Tapaktuan.

Ya, saya sudah terbayang mau diapakan ikan ini. Dibakar dan digoreng. Ilmu cara bakar ikan dari teman satu mes saya yang jago masak: Tulus Mulyono Situmeang. Cukup dengan memberi garam dan perasan air jeruk nipis. Katanya enak. Kalau menggoreng ikan sepertinya tak perlu repot, bumbunya sudah ada, tinggal beli saja.

    Sahur pertama kali di negeri orang, sendirian, hanya dengan nasi berteman ikan bakar rasa seadanya tanpa sayur. Saya terima semuanya dengan berusaha lapang dada. Sebotol air putih sebagai penutup sahur untuk memulai hari pertama Ramadhan. Seraya memohon kepada Yang Maha Kuat agar Ia menguatkan fisik saya. Tidak hanya itu, saya meminta semua hajat pada-Nya. Bukankah waktu sahur adalah waktu teristimewa untuk kita berdoa?

    Sayyid Quthb ketika menafsirkan QS Alimran ayat 17 menggambarkan “as haar” yakni “pada waktu sahur” sebagai waktu malam menjelang fajar. Saat yang hening, menimbulkan nuansa lembut dan tenang, dan tercurahlah semua perasaan serta getaran yang tertahan dalam hati. Mereka yang sabar, jujur, taat kepada Allah, suka berinfak, dan memohon ampunan kepada Allah pada waktu sahur, akan mendapatkan “keridaan Allah”. Merekalah—yang menurut Penulis Kitab Fii Dzilaalil Qur’an ini—layak mendapatkan keridaan dengan naungannya yang segar dan maknanya yang penuh kasih sayang. Ibnu Hajar mengatakan doa dan istighfar di waktu sahur adalah diijabahi (dikabulkan).

    Alhamdulillah, hari pertama dilalui dengan mudah. Sirine tanda berbuka puasa berbunyi nyaring dari masjid yang berada di salah satu sudut kota Tapaktuan. Selain pada waktu berbuka puasa, sirine ini berbunyi pada jam tiga dan empat pagi, serta pada waktu imsak. Saya meminum segelas air teh hangat. Sepiring nasi dan dua potong ikan goreng yang setengah jam sebelumnya saya masak. Itu saja. Tidak ada yang lain. Tapi benar-benar nikmatnya luar biasa. Benar apa yang dikatakan Kanjeng Nabi Muhammad saw, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan. Kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-Nya.” Semuanya jadi nikmat karena diterima dengan gembira.

    Pun, foto yang dikirimkan oleh istri saya melalui aplikasi whatsapp di waktu duha sebelumnya meneguhkan kembali kesadaran saya tentang arti banyak-banyak bersyukur terhadap hidangan berbuka puasa. Foto yang bertuliskan dengan huruf besar “Renungan Ramadhan” dan terdapat gambar seorang laki-laki berpakaian tradisional Arab sedang mengusap air matanya dengan sapu tangan. Tulisan di bawah gambar menjelaskan lebih lanjut.

Seorang mufti besar Arab Saudi menangis terisak-isak setelah menerima soalan melalui telefon dalam sebuah rancangan TV live. Panggilan tersebut datang daripada seorang saudara Islam dari Somalia dengan pertanyaan: “Adakah puasa saya (dan kami) sah dan diterima Allah SWT sedangkan saya (kami) tidak dapat bersahur atau berbuka?” Saudara kita di Somalia tiada apa-apa untuk bersahur dan berbuka sedang kita enak menjamu selera dan aman damai.

    Di Citayam, buka puasa sudah satu jam sebelumnya. Ada yang membuat haru ketika saya mendapatkan foto lain yang terkirim dari Umi Haqi. Foto yang menggambarkan Mas Haqi, Mas Ayyasy, dan Kinan duduk bersama di atas meja makan sambil menyantap dengan lahap hidangan buka puasa. Subhanallah. Insya Allah tetap afdal keberadaan kita walau dipisahkan oleh jarak dan waktu di hari meugang dan pertama ramadhan ini. Yang terpenting adalah keberadaan Allah tetap di hati kita masing-masing. Insya Allah.

    Bagaimana hari pertama Ramadhan Anda?

070614_1223_MAKMEUGANG2.jpg

Mas Ayyasy dan Mas Haqi sedang menyantap hidangan berbuka puasa.

070614_1223_MAKMEUGANG3.jpg

Kinan lagi buka puasa sebedug dan semaghrib.

070614_1223_MAKMEUGANG4.jpg

Kinan lagi salat. Plirak-plirik.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

03 Juli 2014

SEKALIBER TRIBUNNEWS PAKAI FOTO EDITAN


SEKALIBER TRIBUNNEWS PAKAI FOTO EDITAN

    

    Pada tanggal 3 Juli 2014, media online tribunnews.com menampilkan berita yang berjudul “Nasi Kotak yang Dibagi-bagikan Prabowo di Dalamnya Ada Duit Rp 50 Ribu!”. Tak lupa sebagai peneguh atas judul tersebut sekaligus sebagai dramatisasi maka Tribunnews menampilkan foto nasi kotak dengan gambar uang lima puluh ribuan tertempel di tutup nasi kotak. Caption yang tertulis di bawah foto sebagai berikut: “Nasi kotak yang dibagi-bagikan Prabowo saat kampanye di Lapangan Lumintang Bali, Selasa 1 Juli 2014. Tampak terselip uang Rp 50 ribu.”

    Dengan caption seperti itu maka dinyatakan dengan tegas bahwa foto nasi kotak itulah yang dibagi-bagikan pada saat kampanye Prabowo di Lumintang, Bali (1/7). Di era penuh dusta seperti saat ini maka sebagai pembaca yang cerdas tentu tidak mudah untuk percaya. Sebaiknya pun menggunakan dengan baik dan benar anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita yaitu otak.

    Benarkah nasi kotak itu yang diberikan pada saat kampanye Prabowo? Ternyata itu foto tertanggal 11 Juli 2007. Pengguna facebook menunjukkan tautan bahwa foto yang ditampilkan oleh tribunnews.com adalah foto hasil editan. Tautan tersebut berasal dari sini: http://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Nasi_gudeg_nasi_kotak.JPG . Dari situs wikimedia.org tersebut maka dapat diketahui pula oleh kita metadata dari foto yang berjudul Nasi Gudeg Nasi Kotak.jpg.

    Terlihat dari foto asli nasi kotak tersebut tidak ada gambar uang lima puluh ribuan. Gambar nasi kotak isi nasi gudeg, ayam goreng, dan rendang telur pun lebih tajam dan menggugah selera daripada yang ditampilkan oleh Tribunnews. Selain itu Tribunnews menampilkan tautan sumber dari foto tersebut yaitu: http://www.matammasa.org. Namun ketika diklik tautan tersebut tidak dapat dibuka.

    Suasana pilpres 2014 membuat para pekerja media terbelah. Profesionalisme, cek dan ricek, hanya menjadi barang mewah. Jumlah hits sekarang menjadi tujuan utama. Kini para pembaca harus lebih cerdas dalam membaca. Karena banyak media yang melacurkan idealismenya. Mudah melakukan kedustaan. [Riza Almanfaluthi]

**

http://www.suaranews.com/2014/07/sekaliber-tribunnews-pakai-foto-editan.html?m=1

 

 

 

TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari ini membuktikan kalau para pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak hanya mementingkan dirinya sendiri melainkan juga tahu tentang tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik. Ilmu pajak ini harus dapat dipahami dan disebarkan kepada yang lain. Contohnya kepada orang tua masing-masing. “Tanya kepada mereka, sudah bayar pajak atau belum?”

Hal ini dinyatakan oleh Eli Darmi, Kepala SMA Negeri 1 Tapaktuan, dalam sambutannya di acara Tax Goes To School yang diselenggarakan di aula SMA Negeri 1 Tapaktuan, Rabu (4/6). Tak kurang dari 63 pelajar mengikuti acara itu. Acara yang digagas oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bekerjasama dengan SMA Negeri 1 Tapaktuan ini merupakan salah satu agenda sosialisasi tahunan ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Aceh Selatan.

“Sosialisasi ini merupakan road show investasi pemahaman pentingnya pajak buat pembangunan negeri. Karena merekalah calon pembayar pajak di masa depan,” ujar Kepala KPP Pratama Tapaktuan, Jailani, saat dimintakan keterangannya. Dalam sambutannya ia berpesan agar pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak menyia-nyiakan waktu mudanya dengan cara belajar yang baik di sekolah ini. “Sekolah ini dibiayai dengan pajak yang dibayarkan Wajib Pajak dan dikumpulkan oleh negara,” tegasnya.

Kepala Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Tapaktuan, Suardjono, sebagai Ketua Panitia acara ini menambahkan, materi penting yang disampaikan kepada pemula ini antara lain materi dasar tentang manfaat pajak, peranan pajak, dan cara pembayaran pajak. Yang terakhir ini wajib disampaikan karena masih rancunya pemahaman di masyarakat bahwa bayar pajak itu di kantor pajak. “Padahal tidak demikian. Bayar pajak ya ke bank,” jelasnya.

Sekolah yang didirikan pada tahun 1959 di kota pala ini merupakan salah satu sekolah terbaik di Aceh Selatan. Sudah banyak prestasi yang ditorehkannya. Di antaranya sekolah ini mampu mengirimkan seorang siswanya menjadi duta Aceh dalam Olimpiade Siswa Nasional tingkat nasional. Tak heran dalam acara Tax Goes To School ditampilkan pula siswa-siswi berbakat di bidang seni seperti tarik suara dan pembacaan puisi.

Direncanakan dalam bulan yang sama, KPP Pratama Tapaktuan melanjutkan road shownya ke SMA Negeri Unggul Aceh Selatan. [RizaA]

*

Riza Almanfaluthi

Diunggah pertama kali di situs intranet Sumber Daya Manusia DJP

 

 

 

 


 

RIHLAH RIZA #37: YANG DIPERTOAN AGONG


RIHLAH RIZA #37: YANG DIPERTOAN AGONG

 

Namun, praktik pengajaran Bu Mus dan “stadium general” Pak Harfan berpijak pada prinsip yang tidak menyeragamkan standar kecerdasan anak. Semua murid diberi keleluasaan mengembangkan minat, potensi, dan bakat masing-masing.

(Asrori Karni-Laskar Pelangi: The Phenomenon)

 

Awalnya saya mengira kalau harga tiket pesawat dari Medan ke Jakarta atau sebaliknya akan mahal jika menjelang mudik atau balik lebaran, ternyata itu salah. Bahkan harga tiket pesawat ikut-ikutan mahal ketika satu minggu menjelang Ramadhan serta bertepatan dengan liburan sekolah. Saya sampai kehabisan tiket pulang dari Jakarta ke Medan pada hari Ahadnya. Terpaksa izin tidak masuk satu hari kerja di hari Senin untuk bisa kembali ke Tapaktuan.

Pulang ke Citayam kali ini memang bukan di jadwalnya. Namun mau tidak mau saya wajib pulang karena harus menghadiri momen langka dalam seumur hidup saya. Menyaksikan prosesi wisuda anak saya yang kedua: Muhammad Yahya Ayyasy Almanfaluthi. Alhamdulillah, Ayyasy lulus ujian Sekolah Dasar. Syukurnya juga adalah nilainya pun menduduki peringkat kedua dari seluruh teman-teman SD-nya. Selisih 0,05 dari teman perempuannya yang menduduki peringkat pertama.

Saat Ayyasy dipanggil oleh pembawa acara wisuda sebagai peraih nilai tertinggi ujian dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kami terkejut. Karena sesungguhnya kami tidak menyangka. Sewaktu try out, untuk pelajaran Bahasa Indonesia Ayyasy selalu mendapatkan nilai lebih kecil dibandingkan dengan dua mata pelajaran lainnya: IPA dan Matematika.

Kami—abi dan uminya—pun tidak memaksakan ia harus meraih nilai tinggi dalam ujian. Kami sangat menghargai proses. Tidak pada hasil akhir. Yang terpenting bagi kami adalah ia harus belajar. Belajar adalah ikhtiar yang wajib dilakukan olehnya sebagai manusia. Doa adalah ikhtiar lanjutannya. Insya Allah hasil menjadi efek ikutan.

Bentuk proses yang kami hargai di sana adalah bahwa haram hukumnya mendapatkan nilai dengan menggunakan cara-cara yang tidak halal. Pihak sekolah pun sangat mendukung. Oleh karenanya, tidak ada istilah bagi-bagi jawaban saat mau ujian. Tidak ada juga istilah saling mencontek. Di sinilah saat kejujuran menjadi “yang dipertoan agong“. Lebih baik mendapatkan nilai rendah tapi didapat dengan kejujuran daripada nilai tinggi yang didapat dengan cara-cara culas. Syukurnya pula Ayyasy dan teman-temannya lulus semua dengan nilai yang memuaskan. Insya Allah berkah.

Di sekolah Ayyasy terdapat empat siswa yang mendapatkan nilai sempurna dalam ujian sekolah. Ayyasy bukan salah seorang di antara mereka. Tapi itu tidak mengapa. Dan dipanggilnya Ayyasy ke atas panggung yang mengejutkan itu membuat kami bangga. Ya betul, terselip rasa bangga. Sangat manusiawi. Ayyasy mampu mewujudkan apa yang pernah kami sampaikan kepadanya di suatu waktu, “Ayyasy bisa tidak membuat Abi dan Umi bangga?”

Itu bukan tuntutan tapi harapan. Kami tidak memaksa. Kami tidak memukul atau menghina atau menindasnya secara fisik atau verbal ketika Ayyasy tidak mampu mewujudkannya. Apa adanya saja. Sambil kami terus berdoa agar Ayyasy sukses dunia dan akhirat. Tentu yang sering kami katakan dan bayangkan adalah sungguh kebahagiaan yang luar biasa jika ia membuat bangga kami di akhirat dengan amalan-amalan salehnya.

Yang menarik lagi dalam prosesi wisuda itu adalah pihak sekolah juga memanggil semua siswa ke atas panggung untuk menerima ucapan selamat dan plakat penghargaan. Plakat atas keberhasilan mereka menjadi yang terbaik dalam kecerdasan lain yang mereka miliki. Ya, kecerdasan ala Howard Gardner itu tidak terbatas kecerdasan kata dan logika melainkan ada banyak kecerdasan lainnya (multiple intelligences) seperti cerdas gambar, cerdas musik, cerdas tubuh, cerdas diri, cerdas bergaul, dan cerdas alam. Howard Gardner mencetuskan delapan kecerdasan itu di tahun 1983 dan tahun 1990-an.

Dengan pemberian ini sekolah sangat meyakini bahwa teman-teman Ayyasy pun memiliki kecerdasan yang tidak dapat diremehkan. Ini upaya yang sesungguhnya mengangkat mental mereka. Dengan ini pihak sekolah yakin, di dunia yang serba materialistis dan mengagungkan IQ (intelligence quotient) sebagai ukuran kecerdasan serta kesuksesan, mereka tidaklah bodoh, mereka unik, mereka adalah siswa berprestasi di bidangnya.

Melihat itu pikiran saya mengembara pada Ibu Muslimah dan Pak Harfan dalam novel dan film Laskar Pelangi. Dua sosok yang mampu mendidik murid-muridnya di sekolah yang hampir roboh itu tanpa menyeragamkan standar kecerdasan anak pada kecerdasan bahasa dan logika. Mereka mendahului Howard Gardner dalam praktiknya. Dan ini berhasil membuat anak-anak didik mereka mempunyai semangat bertempur yang besar melawan ketidakberdayaan dan kemiskinan untuk dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ini mencerahkan.

Malamnya, kami lengkap berlima berkumpul di ruang tengah. Mas Haqi—pangeran, pewaris tahta keluarga, dan pemilik cerdas bergaul—sudah kami jemput dari Pesantren Alkahfi. Ia libur dua minggu. Nanti di awal Juli ia harus kembali sekolah dan tentunya bersama Ayyasy. Ya, Ayyasy mengikuti jejak kakaknya melanjutkan sekolah di sana. Kelak di rumah tinggal Umi dan Kinan. Umi sudah mulai membayangkan rumah ini semakin sepi saja. Nantinya tak ada celoteh dan pertengkaran kecil antara Ayyasy dan Kinan. Pertengkaran yang selalu kami lerai tapi suatu saat dirindu juga.

Waktu berjalan dengan cepat sekali. Besok saya harus kembali ke Tapaktuan. Kami harus berpisah lagi. Saya bersyukur masih bisa berkumpul di waktu singkat ini. Berkumpul dengan nilai yang sangat mahal. Tapi tidaklah mengapa. Karena ada sesuatu yang tidak dapat disetarakan dengan uang. Yakni sebuah kebahagiaan. Ya, kebahagiaan bisa melihat Ayyasy diwisuda. Kami bisa berfoto bersama. Kami bisa menegaskan pada Ayyasy bahwa abinya ada untuknya. Saya, abinya, ada untuk membuat simpul agar ikatan batin ini semakin erat, erat, dan erat. Sekali lagi, tidak ada kata terlambat untuk membuat ikatan antara ayah dan anaknya.

Ayyasy, Umi, dan Kinan.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

27 Juni 2014