Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina


Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina

 

 

Aksi solidaritas untuk Palestina yang dilakukan oleh ribuan masyarakat pada hari Ahad (13/7) di Bunderan Hotel Indonesia Jakarta menyisakan kisah-kisah yang sangat mengharukan. Kisah-kisah tentang kepedulian para mustad’afin (orang-orang lemah) kepada saudara-saudaranya di bumi Palestina yang menjadi korban kebiadaban Israel.

Apa saja kisah-kisah mengharukan tersebut? Diantaranya diutarakan oleh Ririn, administrator komunitas ODOJ (One Day One Juz) 46. Komunitas yang mempunyai program memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Alquran satu juz sehari. Kisah ini telah beredar melalui pesan dalam grup ODOJ pagi ini. Menarik untuk disimak.

Ceritaku sebagai tim sunduk dari ODOJ di Aksi Solidaritas untuk Palestina. Awalnya rada sungkan, namun lama kelamaan asyik juga, apalagi kalau yang dikasih berupa Garuda Merah (lembar uang dengan nominal seratus ribu rupiah—red).

Berada di antara ratusan mobil yang lalu-lalang. Bahagia banget kalau ada ada yang membunyikan klakson kemudian membuka sedikit jendelanya dan si Garuda Merah atau Biru masuk ke kantong hijau ODOJ. Senang bukan main.

Tetapi ada satu hal yang membuat aku sampai mengeluarkan air mata di antara air hujan yang membasahi bumi yaitu sepasang suami istri dengan motor butut memberikan beberapa lembar Garuda Merahnya. Setelah memberikan lembaran itu, suami tersenyum kepada istrinya seraya berkata, “Ikhlas ya Mi, sahur dengan mi rebus?” Anggukan anggun si istri membuat aku terpana. Ya Allah, itu lembar terakhir mereka. Semoga Allah ganti lembaran-lembaran Garuda Merahmu untuk saudara muslim di Palestina kita dengan surga-Nya, wahai saudara muslimku.

Kemudian ada juga pemulung yang memberikan uang recehnya untuk saudara muslim Palestinaku seraya ia berkata, “Neng, Bapak bisa gak ya ke Palestina?” Tanyanya. “Kalau mau perang ke sana harus punya hafalan 30 juz ya Neng? Aduh, Bapak mah boro-boro hafalan, salat saja bolong-bolong, tapi Bapak pengen ke sana, Bapak ingin syahid Neng.”

Bapak pemulung itu berpakaian lusuh, namun hatinya laksana mutiara. Sepanjang menjalankan kotak sunduk, air mataku mengalir. Mereka mengajarkan kedahsyatan yang luar biasa. Hari ini aku bersyukur bisa terlibat menjadi bagian hal ini.

Bagi para pembaca jangan melewatkan diri untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Palestina dengan memberikan infak terbaiknya. Jika tidak, minimal dengan doa yang tidak putus-putusnya. Apalagi di bulan Ramadhan ketika Allah banyak memberikan waktu mustajab buat orang yang berpuasa untuk berdoa. Doa adalah senjata kaum beriman. [Riza Almanfaluthi]

The Final Destination


The Final Destination

Empat bulan sudah surat elektronik itu terkirim kepada seseorang. Itu sebelas hari sebelum kami berangkat meninggalkan Indonesia untuk menapaktilasi jejak-jejak ayahanda para nabi, Ibrahim AS. Sekadar penyesalan dan permintaan maaf atas sebuah tingkah laku. Agar tanpa beban kepergian kami itu dan musnahlah semua yang menjadi mimpi buruk saya selama bertahun-tahun ini. Tapi yang ada adalah senyap dari jawab. Tak ada balas. Persis akhir baratayudha di Kurusetra.

Di sana, di sebuah tempat yang tiada hijab antara diri, doa, dan Sang Penerima Harap, dengan membayangkan wajahnya saya tak henti-henti meminta agar ia di suatu saat dapat mengikhlaskan dan memaafkan atas segala salah. Dan…doa itu tergantung di langit. Enggan untuk turun ke bumi menuju the final destination. Atau sedang menunggu saat yang tepat? Persis Pasopati yang siap lepas dari busur Arjuna menuju tubuh Adipati Karna.

Empat bulan sudah berlalu, kemarin, balasan surat itu muncul. Sebuah kesyukuran yang tiada terkira, ia sudi memaafkan saya. Sebenarnya sudah dari dulu katanya, tapi tak pernah terucap dan tersampaikan. Atau saya yang sudah lupa? Persis Amangkurat I yang lupa sejarah kalau bapaknya—Sultan Agung—adalah musuh sejati VOC, sedangkan ia adalah karib dari kumpeni.

Memaafkan jelas dan yakin tak bisa direkayasa secara artifisial dengan sekadar kata-kata. Ia membutuhkan energi besar untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan yang pernah terjadi. Dan Muhammad Sang Teladan adalah contoh mutlak dari sebuah sosok yang gemar untuk menaburkan ribuan butir-butir maaf kepada semua yang telah memberikan rasa sakit berpuncak dan derita berlipat-lipat kepada dirinya di suatu ketika, di masa lalu. Tanyakan kepada sejarah atas kesaksian Abu Sufyan dan Wahsyi.

Memaafkan adalah Shalahuddin yang membiarkan ribuan Kristen pergi dari benteng Yerusalem dengan tenang. Sedangkan 88 tahun sebelumnya, di kota tua itu, darah Muslim dan Yahudi bahkan Kristen menjadi banjir, amis, dan anyir. Dibuang percuma oleh kebiadaban yang dibawa dari Eropa.

clip_image001

Memaafkan adalah upaya keras membuang ke dasar laut motivasi dendam berkepanjangan. Asal ia keluar dari hati yang putih. Dan itu bukan laku sia-sia. Ia mendamaikan dan menyatukan dua pribadi atau bahkan dua bangsa. Kalau saja memaafkan menjadi pakaian kebesaran buat Kurawa bahkan buat Pandawa sekalipun, walau hanya topeng, maka perang besar itu tidak akan pernah terjadi.

Sungguh layaklah seorang sahabat Nabi saw mendapat sebuah predikat yang membuat sahabat yang lain menjadi bukan apa-apa dan siapa-siapa: Ahli Surga. Tiga hari penyelidikan seorang sahabat yang lain menegaskan sahabat berpredikat itu tak mempunyai amalan utama sedikitpun. Kerja akhirat yang ia lakukan adalah biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Tetapi ada satu yang menjadi pembeda. Dan pembeda itulah yang menentukan: ia memaafkan semua orang di saat malam telah larut, saat kantuk akan mendapatkan tempatnya.

Kemarin itu, seseorang telah menjadi Shalahuddin abad ini—bagi saya tentunya. Ia membiarkan kerak-kerak pekat pelan-pelan keluar tenang dari kota suci hati dan pikiran saya. Untuk jangan kembali. Agar bersih dengan tatanan dan era baru. Kibar panji terima kasih telah berdiri tegak di atas sudut-sudut benteng. Hilang sudah langit hitam. Akan selalu ada ketenangan setelah badai.

Terima kasih kepadanya. Semoga Allah membalas dengan surga. Setelahnya, kapan saya akan menjadi Shalahuddin? Atau kapan pula Anda semua menjadi Shalahuddin buat saya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

sepi menjadi pecundang

11.54 16 Februari 2012

Gambar diambil dari sini.