Mbok-mbok Penjual Kapur Sirih Taat Pajak Menjadi Viral di Media Sosial


Mbok-mbok Penjual Kapur Sirih Taat Pajak Menjadi Viral di Media Sosial

 

    Seorang pegawai pajak bernama Wahyu Widayat dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Magelang kedatangan seorang mbok-mbok penjual kapur sirih dan gambir dari Lereng Merbabu, kemarin (7/7). Kesederhanaan dan ketaatan seorang wanita desa memenuhi himbauan membayar pajak berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 (PP46/2013) telah menyentuh hati Account Representative di KPP tersebut.

    Curhatan Wahyu Widayat tentang nenek-nenek itu sebagaimana ditulis dalam laman Facebook-nya kini telah menjadi viral di media sosial. Berikut cerita lengkapnya:

“Trenyuh. Mbok, terima kasih atas partisipasinya dalam membayar pajak. Hari ini aku merasa malu. di hadapanku datang mbok-mbok penjual kapur sirih dan gambir di Lereng Gunung Merbabu. Letaknya jauh. Untuk pergi ke pasar saja butuh 1 jam turun gunung karena tidak ada angkot, kemudian baru ngangkot ke pasar setelah sampai di jalan.

Beliau mendapatkan surat himbauan PP 46. Dengan sedikit terbata-bata dengan bahasa Jawa (karena tidak bisa berbahasa Indonesia) mbok ini mengklarifikasi surat himbauan tersebut. Beliau takut kalau masih ada kekurangan pembayaran pajaknya. Karena setiap bulannya sudah tertib membayar PPh Pasal 25-nya dan juga SPT Tahunannya sudah lapor. Deg. Rasanya gimana gitu…

Setelah mendapat penjelasan, beliau mengucapkan terima kasih karena bukan kekurangan pembayaran seperti yang dikira olehnya. Terima kasih Mbok. Satu pelajaran besar yang kau berikan hari ini. Thanks God. Aku akan bekerja lebih baik.”

Simbok Penjual Sirih dan Gambir dari Lereng Merbabu yang datang ke kantor pajak untuk mengklarifikasi surat himbauan PP 46 (Foto diambil dari laman facebook Wahyu Widayat).

 

    Seperti dikutip dari laman pajak.go.id, PP46/2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu telah diberlakukan oleh Pemerintah sejak 1 Juli 2013. Peraturan Pemerintah ini mengatur Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tidak lebih dari 4,8 Milyar untuk membayar PPh final sebesar 1% dari omzet bulanan.

    Di tengah banyaknya pengemplang pajak dan Wajib Pajak yang tidak mau membayar pajak atau pun sekadar datang untuk memenuhi himbauan yang dikirimkan oleh kantor pajak, simbok yang sederhana dan mempunyai penghasilan tak seberapa ini telah memberikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa pajak dalam kondisi apapun harus dibayar. Tidak menjadi soal seberapa besar kontribusi yang diberikan melainkan ketaatan dalam mematuhi aturan main yang telah ditetapkan oleh Negara. Sudahkah Anda membayar dan melaporkan pajak dengan benar?

[RizaAlmanfaluthi]

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s