Surat Terbuka Untuk Ikhwah


Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabaarokaatuh.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Semoga Allah senantiasa memberikan dan menetapkan hidayah kepada kita semua. Semoga salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada junjungan nabi kita Sayyidina Muhammad Saw.
Ikhwatifillah yang saya cintai karena Allah izinkan saya menulis untuk antum semua peserta forum tarbiyah di sini tentang sebuah kegundahan yang menggumpal dalam dada saya. Sebuah perenungan yang saya bawa sampai ke rumah dan yang membuat saya tidak bisa tidur tadi malam. Sebuah perenungan tentang apa yang telah saya perbuat untuk menyiarkan dakwah ini kepada sekitar dan terutama sekali kepada para peserta forum DSHNet. Ada dua poin sebenarnya yaitu gundah dan renung.
Saya utarakan kegundahan saya dulu yang pertama. Kemarin tepatnya hari senin tanggal 19 Nopember 2007, sekitar pukul 16.45 WIB di forum dakwah ada sebuah postingan yang judulnya adalah kurang lebih demikian Syiah dan Sunni Sama-sama bersihnya. Yang memosting saya lupa tapi saya tahu pasti tentang berapa IP Address-nya, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Batu. Kalau mendengar nama KPP ini maka yang telah berkecimpung lama di forum dakwah akan mengetahui ada saudara kita yang senantiasa membenci dakwah kita.tidak perlu disebutkan namanya di sini.
Saya memang selalu mencermati setiap postingan dari KPP batu sebagai bentuk pengawasan saya. Dan biasanya ketika ada sindiran-sindiran (dan celaan) darinya saya langsung melakukan tindakan untuk menonaktifkannya tanpa peringatan terlebih dahulu. Karena sudah berapa kali peringatan itu diberikan tetapi tidak pernah digubris oleh saudara kita itu—Semoga Allah memberikan kelembutan padanya. Dalam satu saat ia bisa mengganti nick beberapa kali untuk bisa bergabung kembali di forum. Dan saya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya. Tinggal siapa yang paling kuat sabarnya antara saya dengan dia saja.
Yang paling sering dilontarkan adalah tentang masalah gugatan terhadap moderator, politik, dan syiah. Terutama tentang syiah kurang lebihnya demikian: “Sudah tahu sesat tapi masih saja mengagung-agungkan para pemimpinnya.” Kali ini, sore kemarin itu, ia memosting satu paragraf saja sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Sunni dan Syiah adalah muslim. Mereka ini disatukan oleh kalimat Laa Ilaha Illallah dan Muhammadun rasulullah. Ini adalah prinsip aqidah di mana Sunni dan syiah sepakat dengannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya adalah pada tema-tema yang mungkin didekatkan (taqrib). (Dzikrayaat laa Mudzakiraat hal 345-346)
Lalu apa yang terjadi teman-teman, banyak sekali dari ikhwah kita yang reaktif dengan mengajukan berbagai pertanyaan dan hampir-hampir mengarah gugatan kepada apa yang diposting dan pemosting. Sampai sang pemosting itu pun mengajukan pertanyaan balik kepada yang memprotes: “memang ada yang salah yah dari pernyataan ini?”
Saya memahami tentang kegundahan kita sebagai ahlussunnah terhadap penyebaran pemikiran Syiah oleh Ridha yang menghujat para sahabat yang mulia di forum dakwah. Hingga langsung merespon cepat tentang adanya penyamaan ini. Saya tidak menyalahkan teman-teman. Itu suatu kewajaran.
Tetapi karena saya sudah tahu terlebih dahulu siapa yang memosting saya berhati-hati untuk berkomentar. Apakah ini adalah suatu penegasan yang disampaikan dari dua kalangan yaitu syiah atau dari seorang yang tahu tentang syiah, pembenci syiah, atau pembenci dakwah kita dan cuma untuk mengetes nanti selanjutnya mencela siapa yang mengeluarkan perkataan itu?
Dan saya memilih yang terakhir karena melihat IP address-nya tersebut. Ada beberapa tanggapan yang masuk, kurang lebih sekitar tujuh tanggapan. Terakhir adalah pertanyaan yang diajukan oleh sang pemosting ini seperti yang telah saya sebutkan di atas. Lalu saya langsung memotong diskusi tersebut dan “membuang”nya ke forum komunikasi para moderator.
Ikhwatifillah, saya dengan keras berpikir di mana saya pernah dengar dan baca tentang sebuah buku yang bernama Dzikrayaat laa Mudzakiraat. Dan saya yakin saya belum pernah memilikinya. Saya sering mendengarnya dari saudara Salafy kita yang sering menyebut-nyebut buku itu sebagai bahan perbantahan. Saya ambil sebuah buku di atas meja saya, bukunya Farid Nu’man, Al Ikhwanul Muslimun, Anugerah Allah yang terzalimi, saya baca referensinya. Tidak ada buku tersebut sebagai referensinya. Lalu saya ambil bukunya Abduh Zulfidar Akaha yang berjudul Siapa Teroris Siapa Khawarij, tidak ada pula di sana.
Saya bertanya-tanya apakah Syaikh Al-Qaradhawy yang mengatakan demikian atau siapa? Kalaupun mengatakan demikian hujjah apa yang bisa disampaikan? Ikhwatifillah, pertanyaan itu menggelayuti benak saya dan membuat saya gundah hingga dalam perjalanan pulang saya ke rumah. Dan saya bertekad untuk mencari referensi tersebut di internet.
Namun pelan-pelan kegundahan itu tersingkir dengan sebuah perenungan yang menghunjam saya dari seorang muda namun mempunyai tsaqofah yang luas, akh brazkie sebagai berikut (dengan perubahan sedikit pada tata bahasa):
Sekarang saya lagi memaksa diri saya untuk membaca apa yang seharusnya saya baca. Karena gerakan dakwah kita sudah memasuki mihwar muassasi dan mempersiapkan dirinya ke mihwar daulah, saya memaksa diri membaca bahan bacaan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan mihwar saat ini, yaitu buku yang berhubungan dengan Politik-Keamanan-Ekonomi-Bisnis.
Ini untuk mempersiapkan diri kita untuk menjadi “qiyadah” di masa kita nanti, sebab,keraguan orang-orangumum itu seputar mampukah kita orang-orang masjid mengelola negara ini, tanpa mengorbankan kesolehan mereka, atau toleran terhadap pluralitas bangsa ini?
Kalau buku-buku yang menjawab seputar salafy dan sebagainya, saya hanya berpikir itu hanya reaktif belaka, tahap yang paling jauh yang bisa bermanfaat untuk kita adalah menambah khazanah tsaqofah kita mengenai mereka. namun hendaknya kita tidak terjebak dan menjadikan itu sebagai referensi utama bagi proses belajar kita, sebab bagaimanapun persoalan yang lebih besar sedang menanti kita, ketimbang persoalan kecil semacam tingkah polah harokah lain khususon salafy.
Sekedar saran ya ikhwati…
Apa yang dikatakan oleh Akh Brazkie ini benar, seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy katakan dalam Kitab Fiqhul Ikhtilaf:
Di antara hal yang seringkali menyeret orang ke dalam kancah perselisihan dan menjauhkannya dari persatuan ialah kekosongan jiwa mereka dari cita-cita dan persoalan-persoalan besar. Bila jiwa kosong dari cita-cita dan persoalan-persoalan besar maka terjadilah pertarungan mempertentangkan masalah-masalah kecil.
Sebagaimana istri saya yang sering mengingatkan saya tentang perkataan seorang ustadz kampung namun punya kafaah yang mumpuni pada kekinian: “…karena mereka tidak punya mimpi besar.”
Wahai Saudaraku antum telah memberikan perkataan yang besar bagi diri saya. Sebuah perenungan yang membuat saya berpikir apa yang telah saya lakukan untuk dakwah ini. Apa yang telah saya berikan adalah sesuatu yang besar untuk forum diskusi DSH? Yang membuat semua orang mempunyai pemikiran yang luas bagaimana untuk membangun negeri ini dengan lebih baik lagi? Untuk dapat memikirkan saudara-saudaranya di bumi Allah yang masih tertindas. Untuk dapat memikirkan pengembangan kreatifitas dalam dakwah hingga semua merasa nyaman dengan dakwah ini. Hingga semua orang bersama-sama dengan dakwah ini.
Ya Allah ya Rabb, jawaban saya adalah BELUM. Saya masih terlalu sedikit berbuat atau bahkan belum berbuat sama sekali hingga terjebak pada permasalahan khilafiah di forum dakwah (maaf tanpa sama sekali mengecilkan ilmu-ilmu itu) namun ketika setiap hari saya (untuk tidak mengatakan kita) berkecimpung pada sesuatu yang diulang-ulang setiap harinya dan tanpa ada sebuah ide-ide segar yang muncul demi perkembangan Islam, maka sungguh saya dapat katakan bahwa saya telah terjebak pada pertentangan masalah-masalah kecil.
Perenungan ini pun membuat saya berpikir ulang bahwa niat saya mencari referensi sedapat mungkin tentang buku Dzikrayaat laa Mudzakiraat adalah cuma untuk gagah-gagahan, sekadar dianggap sebagai orang yang berilmu, reaktif hanya untuk membalas sebuah aksi, dan lagi-lagi terjebak pada pertentangan masalah-masalah yang tak kunjung habisnya padahal ada sebuah kerja besar yang harus senantiasa kita lakukan yaitu sebuah pembinaan. Bagaimana mau membina sedangkan bekal itu kosong karena otak tidak diberikan hak untuk menuntaskan dahaga ilmunya dan otak hanya dipenuhi oleh pikiran untuk menjawab tuduhan, berkelit, dan membalas. Masya Allah.
Sungguh Akh Brazkie dan teman-teman sekalian. Perenungan itu saya bawa pulang ke rumah. Sampai jelang tidur pun saya masih bertanya-tanya bisakah saya keluar dari jebakan ini? (Saya sampai meyakini tentang perkataan ustadz Andi Harsono bahwa saya sesungguhnya sedang dalam kehilangan orientasi dakwah). Istri saya sudah pernah bilang sejak lama, “belilah dan bacalah kembali buku-buku tarbiyah.”
Ya, sedikit solusi ini bisa untuk memberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas. Insya Allah.
Ikhwatifillah, malam pun jelang, saatnya untuk beristirahat. Maka tidurlah saya untuk memberikan hak pada jasadiyah saya. Lalu jam setengah dua malam istri saya membangunkan saya, menyuruh saya mengambil wudhu dan shalat. Rupanya istri saya belumlah tidur, ada tugas yang masih dikerjakannya.
Setelah shalat, saya pun berdiri dan beranjak ke lemari buku. Dari sana saya ambil Risalah Pergerakan Hasan Al-Banna jilid 1 dan saya mencari apakah ada perkataan tentang syiah, untuk menuntaskan kepenasaran saya. Dengan berusaha menebak-nebak arti sesungguhnya dari Dzikrayaat laa Mudzakiraat itu dan mencocokkannya dengan daftar isi dari buku Risalah Pergerakan itu saya mencari tentang syiah. Kali saja ada judul subbab yang isinya sama sesuai dengan keterbatasan kosakata saya terhadap Bahasa Arab. Dan hasilnya tidak ada.
Lalu mata saya terantuk ke sebuah buku yang berjudul: Umar Tilmisani: Mursyid ‘Am Ketiga Ikhwanul Muslimin. Soalnya siang sebelumnya melalui private messenger ada yang meminta saya tentang biografi beliau dan Alhamdulillah saya dapatkan di internet dan saya upload melalui sticky topic di forum dakwah.
Saya buka buku tersebut di halaman belakang dan saya cuma menemukan katalog buku yang telah diterbitkan oleh penerbit buku tersebut. Tidak ada referensi di sana. Lalu saya coba buka halaman-halaman depan yang memuat judul buku aslinya, siapa penulisnya, dan cetakan ke berapa.
Ikhwatifillah, apa yang saya lihat? Ternyata buku yang saya pegang ini adalah buku terjemahan dari sebuah buku yang berjudul: Umar Tilmisani: Dzikrayaat laa Mudzakiraat.
Subhanallah, Walhamdulillah, Wallahu akbar. Saya ternyata tidak hanya menemukannya tapi juga memiliki buku tersebut. Ini adalah semata-mata taufik Allah SWT. (terimakasih untuk Ustadz Andi Harsono yang telah memberikan sebuah istilah yang baru bagi saya bila mengalami hal yang seperti ini).
Saya buka subbab tentang perselisihan Sunni-Syiah, dan betul saya menemukan sebuah paragraph yang sama persis dengan apa yang disampaikan oleh pemosting dari KPP Batu tersebut. Perkataan tersebut adalah perkataan Imam Syahid Hasan Albanna. Agar saya punya pemahaman yang utuh terhadap perkataan tersebut maka saya baca paragraph lanjutannya (maaf untuk saat ini saya belum bisa menuliskannya karena keterbatasan waktu saya, Insya Allah di lain waktu). Dan Wallahi saya mendapatkan pemahaman dan penyikapan yang terbaik dalam perselisihan sunni dan syiah.
Ikhwatifillah, saya langsung pada malam itu mengirimkan pesan singkat pada saudara-saudara saya, Akh Isa Yulistiawan, Akh Andi Harsono, dan Akh Azzam, yang saya anggap sebagai orang-orang yang mumpuni dan paham tentang perselisihan ini. Tentang kegembiraan saya menemukan buku ini. Maaf tiada terkira, saya adalah orang yang sangat reaktif apabila mendapatkan kebahagiaan dan tak mau menyembunyikan kebahagiaan saya ini untuk sendiri.
Akh Isa Yulistiawan memberikan balasan demikian: “Antum hebat amat akh, sampai di rumah masih memikirkan dshforum. He..he…he…” Sungguh Mas Isa, pujian itu hanya untuk Allah semata, dan di dalam hati malah saya berpikir akankah saya terjebak dalam mempertentangkan permasalahan-permasahan. Saya malu dan senatiasa terngiang-ngiang dengan perkataan Akh Brazkie. Apakah ini adalah dalam rangka berbuat apa yang seharusnya saya perbuat? Apakah ini adalah dalam rangka merealisasikan ide-ide besar dakwah kita? Apakah ini adalah investasi untuk menjadi qiyadah di masa depan?
Sungguh akh, kegembiraan itu berlalu dengan seiring helaan nafas yang selalu terdengar di setiap saat. Kegembiraan itu tertutupi dengan sebuah beban berat yang ada dipunggung. Tertutupi dengan sebuah perenungan. Hingga wajah ini tiada tampak berserinya.
Allah ya rabbi, ampunilah saya atas segala kelalaian saya.
Ikhwatifillah ada beberapa kesimpulan yang ingin saya kemukakan di sini untuk diri saya dan untuk ikhwatifillah bila ini berguna untuk antum semua:
1. Camkan baik-baik nasehat Akh Brazkie ini, deeply. Jazakallah akh Brazkie.
2. Perbanyaklah membaca buku-buku dasar tarbiyah. Temukan kedalamannya juga di sana dan temukan hikmahnya di sana. Temukan pula ide-ide besar di sana.
3. Insya Allah dengan senantiasa membaca itu, kita pun tidak ikut terjebak dan larut dalam sebuah pertanyaan yang diajukan oleh yang membenci jalan dakwah kita ini.
4. Perbanyaklah muhasabah sehingga ingat betapa amal kita belumlah mampu untuk membuat Allah ridha terhadap kita.
Ikhwatifillah, maaf tiada terkira. Maafkanlah saya yang mudahnya untuk berkeluh kesah kepada antum semua yang saya yakini antum semua punya amanah dakwah yang amat berat di punggung antum semua.
Nasehatilah saya jika terlalai. Saya butuh cambuk nasehat antum mendera di punggung pemikiran dan amal saya. Agar mudah raga ini berpacu dengan waktu dan terengah-engah meraih ridhanya Allah. Ada debu, keringat, dan darah di sana…
Semoga Allah memberikan kepada saya sebuah keikhlasan. Semoga tidak ada niat di hati saya untuk pamer kata-kata indah di sini. Semoga tidak ada syirik kecil yang tersembunyi.
Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua. Dan mengumpulkan kita di surga-Nya Allah. Amin.

Dari saudaramu, Alfaqir, yang bodoh
Riza Almanfaluthi
09:26 20 Nopember 2007

PERSELISIHAN SUNNI-SYIAH
Satu waktu kami bertanya kepada Imam Syahid sejauh mana perselisihan yang ada di antara Sunni dan Syi’ah. Rupanya beliau melarang kami masuk terlalu jauh ke dalam persoalan pelik ini. Menurut beliau, persoalan seperti ini tidak pantas mengambil waktu yang banyak dari kaum muslimim karena mereka, seperti yang bisa kita lihat sendiri, gampang terperangkap ke dalam ruang perpecahan dan api perselisihan yang selalu disulut musuh-musuh Islam.
Kami berkata kepada Imam Syahid: “Kami tidak menanyakan hal ini karena alasan fanatisme atau dengan maksud memperluas perbedaan yang ada di kalangan kaum muslimin. Kami menanyakannya semata-mata karena dorongan ilmu pengetahuan sebab persoalan ini telah tercatat di dalam buku-buku yang jumlahnya sulit dihitung. Masalahnya kami tidak punya waktu untuk mengkaji seluruh buku-buku tersebut.”
Imam Syahid menjawab: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Sunni dan Syiah adalah muslim. Mereka ini disatukan oleh kalimat Laa Ilaha Illallah dan Muhammadun rasulullah. Ini adalah prinsip aqidah di mana Sunni dan syiah sepakat dengannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya adalah pada tema-tema yang mungkin didekatkan (taqrib).
Kami bertanya: “Apa saja contohnya?”
Beliau menjawab: “Syiah adalah sebuah aliran yang dalam bahasa perbandingan mirip empat mazhab yang ada pada kelompok Sunni. Aliran Syi’ah Imamiyah, umpamanya, berpendapat bahwa masalah imamah (kepemimpinan) adalah sebuah prinsip islam yang harus diwujudkan. Mereka hanya mau berperang bersama pemimpin yang mereka tunggu (Imam Muntadzar) karena menurut mereka Imam adalah pengawal syri’at, pendapatnya adalah kata putus dan taat kepadanya adalah keharusan tanpa syarat. Ada juga beberapa hal yang diperdebatkan bisa dihilangkan, seperti nikah mut’ah dan poligami, sebagaimana yang ada pada sebagian kelompok Syi’ah. Persoalan-persoalan seperti ini, dan sejenisnya, tak layak dijadikan pemicu munculnya permusuhan antara Sunni dan Syi’ah. Kedua kelompok ini, selama beberapa ratus tahun, pernah hidup rukun. Kalau pun ada perbedaan maka hal ini muncul dalam bentuk tulisan-tulisan. Para imam Syi’ah sendiri turut berperan serta dalam memperkaya khazanah perpustakaan Islam. Dan sampai kini hasil-hasil karya pengetahuan tersebut masih menghiasi rak-rak perpustakaan dalam jumlah cukup banyak.” Demikianlah pendapat Imam Syahid.
Sekiranya konflik Iraq-Iran memang seperti yang diduga banyak orang, maka saya akan membahasnya lebih panjang. Tapi secara keagamaan, kita sebaiknya menghindarkan diri dari permasalahan yang hanya makin mempertajam garis perbedaan yang ada antara Sunni dan Syi’ah. Perbedaan yang makin parah inilah sesungguhnya yang diinginkan para musuh Islam.
Karena itu kita tidak pantas mempertajam masalah ini. Kita ingin cuaca menjadi jernih kembali dan persoalan dikembalikan ke pangkalnya. Mudah-mudahaan dengan cara ini kedua belah pihak bisa menjelaskan sudut pandangannya masing-masing secara adil. Kami menilai cukup sampai di sini pembahasan tentang perbedaan Sunni dan Syi’ah. Kami melakukan ini semata didorong semangat ingin mencontoh metoda Imam Syahid yang selalu berusaha menepis perselisihan yang ada di atnara kamu muslimin.
Kutipan dalam buku: Umar Tilmisani: Bukan Sekadar Kenangan, hal. 345-346. Terjemahan buku Umar Tilmisani : Dzikrayaat laa Mudzakiraat.

GALAU VLADIMIR DONOMAKH


Vladimir Donomakh, seorang muallaf Rusia lagi semangat-semangatnya untuk menekuni dan mendalami syari’at Islam, agama yang dipeluknya tiga bulan lalu. Ia sering bertanya apa saja kepada imam masjid kota Toronto dan para imigran muslim lainnya. Ia bertanya tentang bagaimana tatacara sholat yang baik, tentang haji—sebuah perjalanan spiritual yang diidam-idamkannya, tentang puasa di bulan ramadhan, zakat dan masih banyak yang lainnya.
Tidak sekadar bertanya, setiap ada amalan baik yang dianjurkan dalam agama mulia itu dan ia tahu walaupun sedikit ia langsung mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Ia tahu ia harus beribadah sebanyak mungkin untuk menutupi kesia-siaan hidup 30 tahun yang ia lalui tanpa adanya sebuah kebenaran.
Tidak hanya dengan ilmu syariat yang ia pelajari, ilmu hati pun ia tekuni. Bagaimana ia harus belajar untuk mengendalikan lisan dan hatinya agar tidak terkotori oleh titik-titik dosa. Malam-malamnya ia lalui dengan tahajjud dan tangisannya kepada Allah. Mengharapkan dan merindukan surga-Nya dan takut akan neraka-Nya.
Ia tahu—dari hasil konsultasinya dengan saudara-saudara seiman lainnya—bahwa rasa harap dan takut ini merupakan dorongan yang sangat penting untuk melakukan berbagai amal shalih dan menjauhi berbagai keburukan. Dan ia tahu, ia harus tetap menjaga keseimbangan keduanya dalam hati dirinya.
Rasa takutnya tidak boleh terlalu dominan sehingga menimbulkan rasa putus asa dari rahmat Allah yang merupakan karakter orang-orang kafir belaka. Sebaliknya rasa harap tidak boleh terlalu dominan sehingga menimbulkan rasa aman dari balasan (siksa) Allah yang merupakan karakter utama dari orang-oang yang merugi.
Ia tahu betapa Alqur’an sarat penggambaran berbagai bentuk janji berupa kenikmatan abadi surga bagi orang-orang yang beriman dan ancaman kedahsyatan siksa neraka bagi manusia-manusia yang tidak mengimaninya. Berkenaan dengan kenikmatan akhirat dan siksanya, tidak hanya berhenti sampai di situ saja tetapi juga meliputi janji dan harapan yang berkaitan dengan kebaikan dunia.
Inilah yang ia pahami betul tentang kesempurnaan Islam dalam membahas kenikmatan dunia dan akhirat karena sebelum masuk Islam ia mencari kebenarannya pada ajaran Yahudi dan Nasrani. Pada ajaran Yahudi balasan yang didapat bagi orang-orang yang taat dan tidak taat secara umum bersifat material murni duniawi dan hampir tidak ada yang bersifat moral dan ukhrawi.
Sedangkan dalam ajaran Nasrani menawarkan kebalikannya yaitu bersifat spiritual dan hampir tidak ada balasan lain yang bersifat material, psikologis, sosial dan yang berkaitan dengan kehidupan duniawi.
Sedangkan di ajaran barunya ini ia menemukan—sebagaimana dibaca dalam Alqur’an dan kitab-kitab hadits terjemahan yang ia pinjam dari sahabatnya—bahwa balasan dalam Islam sangat beragam dan menyeluruh, yaitu meliputi balasan-balasan duniawi dan ukhrawi, spiritual dan material, individu dan sosial, psikologis dan moral, baik dalam aspek dan ganjarannya.
Maka dari semua yang ia pelajari itu ia mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa seseorang hamba Allah hanya mempunyai tugas di bumi ini untuk beribadah kepada Allah. Agar diterima ibadahnya itu maka harus dengan niat ikhlas karena-Nya. Bila dinilai ikhlas Allah akan memberikan kepadanya ganjaran pahala atau kebaikan langsung di dunia. Bila tidak adalah sebaliknya ancaman dan murka Allah di dunia atau di akhirat.
Maka beribadahlah Vladimir Donomakh dengan seikhlas-ikhlasnya untuk Allah semata agar ia mendapatkan ganjaran spiritual berupa keridhaan Allah kepada dirinya dan pemberian pahala, kebaikan yang tak ternilai seperti keindahan surgawi, ganjaran duniawi seperti pelipatgandaan harta karena ia dermawan dan sering menginfakkan sebagian hartanya. Dan ia meninggalkan semua larangan Allah karena ia takut murka-nya.
Tiba-tiba di suatu saat, di inbox emailnya, ia mendapatkan sebuah peringatan keras dari beberapa teman satu halaqoh tarbiyahnya yang kebanyakan dari Arab Saudi, Mesir Sudan dan Yaman, yang mengatakan bahwa semua pelaksanaan ibadah dan penjauhan segala larangannya itu sia-sia belaka karena tidak semata mengharap ridha-Nya Allah ta’ala. Teman-temannya tahu itu karena ia sering bercerita tentang kekagumannya pada agama ini dan tata cara ibadahnya.
Membaca peringatan keras dari temannya ia shock, risau, galau, terkejut, dan merasa bingung. Serta khawatir pula bahwa ibadah yang ia lakukan sia-sia belaka. Ia tidak mau mengulangi kesia-siaan yang ia lakukan selama masa jahiliyahnya itu. Maka ia siapkan sebuah pertanyaan dengan tanda tanya besar yang akan ia ajukan kepada ulama yang ia tahu kapasitasnya sebagai ulama dunia.
Bolehkah saya, Muhammad Usammah atau Vladimir Donomakh, melakukan sebuah amal dengan prinsip beramal karena mengharap pahala Allah atau karena takut siksa-Nya?
***
Para pembaca yang budiman, jujur, baik hati, dan tidak sombong, jikalau Anda diberikan pertanyaan seperti ini jawaban apa yang bisa Anda berikan untuk menghilangkan kegalauannya? Sebagai teman dekat dan peduli terhadap Vladimir Donomakh Anda akan segera mencari referensi-referensi yang ada atau bertanya kepada ajengan-ajengan (ulama) yang memang dikenal luas karena keilmuannya.
Dan bisa jadi jawabannya akan seperti ini:
Ada dua kelompok yang menentang prinsip beramal seperti itu, yaitu kelompok filosuf dan kelompok sufi.
Kelompok filosuf moralis dan idealis ini menyerukan pelaksanaan kewajiban karena kewajiban itu sendiri, tanpa memandang hasil-hasilnya, baik bermanfaat atau tidak, tanpa melihat iming-iming atau ancaman. Mereka mengecam akhlak agama karena ia mengaitkan pelaksanaan kewajiban dengan kemanfaatan, sekalipun berupa kemanfaatan ukhrawi. Alasannya adalah bila mengharap semua itu akan memecah belah manusia, akrena kemanfaatannya merugikan orang lain.
Sedangkan kelompok sufi berlebihan menentang orang yang melakukan amal perbuatan dan meninggalkan keburukan atau menaati Allah karena mengharap rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya atau karena mengharap sorga-Nya dan takut akan neraka-Nya. Mereka berkata, janganlah kamu menjadi hamba yang buruk; jika takut ia beramal, dan jangan pula menjadi seperti kuli yang buruk jika tidak diberi upah tidak mau bekerja. Kaum sufi melihat sebuah kecacatan dalam cintanya pada Allah bagi manusia yang beriman dengan mengharap surga dan neraka-Nya. Manusia ini adalah manusia yang egois.
Para pembaca sekalian Anda pasti pernah mendengar bait syair terkenal dari Rabi’ah al ‘Adawiyah berikut ini:

mereka semua beribadah karena takut neraka
menganggap keselamatan darinya keberuntungan besar
atau masuk surge kemudian mereguk kenikmatan dan minum jahe
bagiku tak ada bagian di surge dan neraka
aku tidak mengharap balasan bagi cintaku
Titik tolak dua kelompok ini berbeda, kelompok pertama bertolak dari keduniawian semata sedangkan kelompok kedua titik tolaknya adalah keagamaan.
Bantahan untuk kelompok pertama ini adalah sebagai berikut:
1. mengabaikan tabiat manusia dan kecenderungannya kepada sesuatu yang bermanfaat atau menguntungkan bagi manusia cepat atau lambat , di dunia ataupun di akhirat.
2. Mendapatkan keuntungan merupakan bagian dari komposisi fitrah yang diberikan Allah kepadanya. Tetapi hendaknya keuntungan yang diharapkan oleh orang yang melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan itu di atas manfaat material, individual, dan duniawi yaitu ridha-Nya Allah. JIka Allah ridha kepada Vladimir Donomakh karena ia ikhlas mengerjakan amal kebaikan maka Allah akan memberikan kepadanya kebaikan yang lebih banyak lagi dunia dan akhirat.
3. Kebanyakan manusia untuk bisa bergerak dan beramal masih memerlukan dorongan atau ancaman.
Demikian untuk kelompok yang pertama.

Sedangkan bantahan untuk kelompok sufi, sebagian ulama kaum muslimin menganggap bahwa ungkapan tersebut sebagai kebodohan. Karena tidak ada salahnya jika seseorang beribadah kepada Allah karena mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya. Para ulama tersebut berhujjah (argumen) dengan ihwal para nabi, rasul dan orang-orang saleh yang mendapatkan pujian Allah dalam Alqur’an karena rasa takut mereka terhadap neraka dan pengharapan mereka akan surga.

Alqur’an dan sunnah sarat dengan pujian kepada para hamba-Nya dan wali-Nya yang meminta surga dan meminta perlindungan dari neraka. Karena saking banyaknya dan keterbatasan tempat saya tidak bisa memberikan contohnya di sini. Para pembaca bisa membaca kitab-kitab hadits terkenal atau seperti kitab Riyadhus Shalihin yang ditulis oleh Imam Nawawi atau Kitab Targhib wa Tarhib Imam Al-Mundziri dan akan menemukan banyak sekali contohnya.

Banyak lagi hadits-hadits yang menyatakan: “Barangsiapa melakukan ini atau itu maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” Ini semua adalah dorongan untuk mendapatkannya dan agar hal tersebut menjadi motivasi beramal. Karena itu, bagaimana mungkin beramal untuk mendapatkan semua itu dianggap cacat, padahal Rasulullah sendiri mengajurkannya.

Allah senang dimintai, bahkan Dia marah kepada orang yang tidak pernah meminta kepada-Nya, sedangkan permintaan yang paling besar ialah surga dan permintaan perlindungan yang paling besar adalah neraka. Jika hati sepi dari mengingat surga dan neraka maka ini akan melemahkan tekad dan tidak kuat motivasinya.

Seandainya hal ini tidak dianjurkan oleh Pembuat Syari’at niscaya Dia tidak akan menjelaskan gambaran surga dan neraka kepada para hamba-Nya secara rinci agar mereka segera beramal dan menjauhi larangan. Dan selebihnya diberikan gambaran globalnya agar manusia rindu kepada surga dan mendorong manusia untuk mendapatkanya.
Ibnul Qayyim berpendapat moderat di tengah-tengah kaum sufi dan ulama yang membantah kaum sufi tersebut. Pendapatnya kurang lebih demikian (saya sampai harus membacanya berulang kali dan pelan-pelan untuk bisa mendapatkan hakikat dari perkataan ulama besar ini):
Bahwa kita senantiasa mengharap surga-Nya Allah sebagai balasan dari amal-amal baik yang kita lakukan dan sebagai rahmat Allah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Surga itu tidak semata-mata buah-buahan, pepohonan, sungai-sungai susu dan madu, bidadari, dan istana-istana gemerlap. Surga itu pun berarti sebuah kenikmatan yang tiada tara, kenikmatan yang luas, terbesar, dan sempurna.
Yang di antara kenikmatan tersebut adalah memandang pada yang telah menciptakan diri manusia dan seluruh makhluk itu sendiri, yaitu Allah swt. Memandang dengan penuh cinta, ketakjuban dan melupakan semua kenikmatan yang tengah mereka nikmati. Demikian pula neraka. Siksaan berupa tidak melihat Allah, siksaan berupa murka-Nya, dan dijauhkan dari-Nya adalah lebih berat ketimbang jilatan api yang membakar jasad mereka.
Kalau saya bahasakan dengan yang bahasa lebih sederhana adalah sebagai berikut: untuk orang sufi realisasi cinta yang hakiki adalah melihat Allah SWT dan itu adalah sebuah kenikmatan. Itu adalah surga. Lalu mengapa menolak surga dengan mengatakan tidak ada bagiannya di surga. Kalau demikian ia menolak untuk melihat yang dicintanya. Sedangkan bagi yang menyanggah kaum sufi dikatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya kenikmatan surga berupa makan dan buah-buahan atau semua yang telah digambarkan Allah dalam Alqur’an tidak seberapa nilainya bila dibandingkan dengan nikmat memandang wajah Allah Yang Maha Mulia.
Demikian.
Setelah mendapat jawaban ini Anda perlu dengan pelan tapi jelas dan gamblang menjelaskan semuanya ini Vladimir Donomakh. Insya Allah ia akan memahaminya dengan baik. Tak mengapa ia beramal untuk mengharapkankan surga-Nya, pahala Allah, kebaikan di dunia dan akhirat sebagaimana yang telah di janjikan-Nya atau karena takut dengan siksa-Nya asalkan satu hal saja asal ia ikhlas karena Allah ta’ala.
Vladimir Donomakh, malam itu ia tak lagi galau, ia tidur nyenyak setelah mendapatkan jawaban ini dari Anda.
Allohua’lam bishshowab.

Catatan kecil:
Lalu bagaimana dengan orang yang sudah niat ikhlas karena Allah tapi ia juga ingin disebut sebagai dermawan, syahid, dan ‘ulama, maka sesungguhnya ini adalah riya (sudah tercampur dengan kesyirikan). Maka amalnya tertolak. Sudah jelas bahwa pujian manusia itu adalah bukan janji kebaikan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beramal.
Imam Asysyahid Hasan Al Banna berkata:
“Yang kami kehendaki dengan ikhlas adalah bahwa seseorang al-akh muslim dalam setiap kata-kata , aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, dan kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.”

Maraji’:
Pembagian kelompok antara filosuf dan sufi itu berasal dari Kitab: Seleksi Hadits-hadits Shahih tentang Targhib dan Tarhib: Menganjurkan Amal Kebaikan dan Memperingatkan Amal Keburukan, Al-Imam Al-Mundziri, Jilid 1. Diseleksi, diulas, diteliti derajat haditsnya oleh: Dr. Yusuf Qaradhawy, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Robbani Press, September 1996.
Maraji’ yang kedua adalah Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid 2, Intermedia, Maret 1998.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di rangting cemara
12:59 14 Nopember 2007

PERGILAH KAU KARTU KREDIT


Saya ini orangnya enggak enakan sama orang lain. Makanya ketika salesman kartu kredit menghampiri saya, memelas, dan mendesak saya untuk membuat kartu kredit BNI, dengan terpaksa saya mengiyakan serta mengisi aplikasi pendaftaran.
Padahal dari dulu saya sangat berhati-hati sekali dengan kartu kredit. Karena sudah banyak saya dengar dan saya baca bagaimana akhir dari orang-orang yang tidak bijak memakai kartu kredit. Mulai dari diteror dan diintimidasi oleh para juru tagih, bunga yang mencekik tinggi, atau tagihan asal-asalan karena kelalaian administrasi dari penerbit kartu itu. Alasan satu lagi sebenarnya adalah saya sedang belajar untuk menghindari transaksi-transaksi ribawi.
Lalu pada kasus ini kenapa saya menerima dan mengisi aplikasi tersebut? Waktu itu saya berpikir karena tahun pertama tidak ada iuran gratisnya, juga beralasan bisa membeli barang-barang 0% bunga dengan cara mencicil, fasilitas gratis di eksekutif lounge dan banyak tempat lainnya. Itu saja sih.
Kejadiannya sudah setahun lalu di bulan November tahun 2006. Akhirnya saya dapat kartu kredit BNI VISA GOLD yang limit pengambilan tunainya bisa lebih dari 10 juta. Sesuatu yang diirikan oleh teman saya karena kenapa dirinya tidak mendapatkan limit yang tinggi seperti yang saya dapatkan. Dan apa yang terjadi teman-teman setelah saya mendapatkan kartu emas itu?
Saya kok merasa seperti memegang bara api. Takut-takut saya tergoda dan terjerumus dalam ketidakterkendalian pengelolaan keuangan saya. Walhasil saya cuma menaruhnya di laci lemari saya di rumah. Saya tidak pernah memakainya sama sekali. Dulu pernah mau saya pakai saat saya mau ke Surabaya. Di bandara saya mau memanfaatkan fasilitas executive lounge gratisnya. Tapi dilarang masuk karena fasilitas itu hanya boleh untuk satu orang saja, sedangkan saya membawa teman. Akhirnya tidak jadi deh saya masuk. Saya tentu tidak bisa meninggalkan teman seperjalanan saya ini sendirian.
Saya juga tidak pernah mengambil tunai karena biaya administrasinya lebih besar daripada saya mengambil tunai di ATM. Saya juga tidak pernah memesan barang dengan fasilitas 0% bunga itu karena khawatir ribet masalah pembayarannya, soalnya saya sudah tidak punya lagi rekening BNI-nya. Jadi benar-benar saya merasakan tidak ada manfaatnya bagi saya kartu kredit itu.
Lalu saya bertekad sebelum saya kena charge karena sudah memasuki tahun kedua, maka sebelum tahun pertama berakhir saya harus mengakhiri kepemilikan kartu kredit saya. Dan pada hari ini, Kamis tanggal 08 Nopember 2007 saya menutupnya dengan sebelumnya saya hubungi dulu BNI Call 24 Hour.
Saat ditanya pihak mereka kenapa saya mau menutup kartu kredit ini saya jawab karena tidak ada manfaatnya bagi saya dan kudu bayar iuran tahunan. Walaupun ditawarkan fasilitas pembayaran 50% iuran tahunan saya tidak mau. Pokoknya saya mau tutup. Saya tidak mau memegang kartu ini. Pergilah kau kartu kredit!.
Alhamdulillah, teman-teman kini saya sudah tidak memiliki kartu kredit lagi. Saya sudah lega. Plong banget rasanya. Tapi teman kalau ada yang menawarkan kepada saya kartu kredit berbasis syariah, kayaknya saya mau tuh. Kayaknya itu lebih nyaman dan lebih berkah bagi saya. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01.40 07 Nopember 2007

Mencari Kawan Lama


Pagi ini setelah tiba di kantor saya langsung membuka Ciblog, lalu login dan saya mengklik tombol Add New Entry. Bukannya langsung menuliskan apa yang ingin ditulis, saya cuma memandang layar komputer dengan lama. Bingung apa yang mau ditulis.

Karena lama tidak mendapatkan ide maka saya melakukan kegiatan lain yaitu membuka-buka email di inbox pajak. Membaca beberapa email dan pada saat saya membaca salah satu email itu mata saya tertumpu pada sebuah nama penerima email dari sekian banyak penerima email forward-an itu: Sulis. Saya tidak mengenalnya, tapi saya jadi teringat seorang teman saya yang juga ada nama-nama sulisnya. Tapi saya lupa nama lengkapnya.

Untuk itu saya membuka homepage browser saya: situs kepegawaian. Lalu mengetik nama sulis di kolom pencarian data kepegawaian. Byarrr…dari result-nya bisa banyak juga nama yang mengandung kata sulis didalamnya. Dan saya melihatnya satu persatu fotonya yang sudah lama tidak saya lihat. Yup, akhirnya ketemu juga. Foto itu dari zaman dulu belum diganti pula, masih dengan jilbab birunya.

Akhirnya saya ingin menghubunginya, dengan niat menjalin silaturahim yang sudah lama terputus. Dulu saya punya nomor telepon genggamnya, tapi hilang saat telepon genggam saya lenyap entah kemana. Setelah itu hubungan kami terputus begitu saja. Entah sudah berapa tahun yah…Kalau tidak salah dua tahun lebih kali.

Untuk memulai usaha saya menghubunginya itu, saya telepon kantor pelayanan pajak (KPP) tempat di mana ia bekerja sebagaimana tercantum dalam data kepegawaian tersebut. Tapi sebelumnya karena saya tidak punya nomor telepon KPP itu maka saya coba mencari alamat dan nomor teleponnya di portaldjp. Dan saya menemukannya. Lalu saya langsung menghubungi nomor telepon itu. Nomor pertama tidak ada yang mengangkat. Saya beralih ke nomor telepon yang kedua. Alhamdulillah ada yang mengangkat.

“Selamat Pagi Bu,” sapa saya.
“Pagi,” jawab suara perempuan di seberang sana.
“Bu saya mau tanya, apa Ibu Sri Sulityaningsih, korlak PPN, ada di sini?”
“Sri Sulistyaningsih…Sri Sulistyaningsih…. Kayaknya enggak ada deh. Sudah pindah kali.”
“Oh ya Bu, sebenarnya KPP Jakarta Cilandak ini sudah jadi KPP moderen belum sih Bu?”tanya saya lagi.
“Oh sudah…sudah…”jawabnya.

Saya mengakhiri pembicaraan dengannya setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih banyak atas informasi yang diberikannya kepada saya. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa data di kepegawaian belum ter-update. Iya soalnya mana ada korlak PPN Perdagangan di KPP moderen.

Ya, sampai saat ini saya belum mengetahui keberadaan kawan lama saya ini. Jadi dimohon kepada para blogger yang mengetahui keberadaannya, dimohon untuk memberitahu saya melalui email di riza.almanfaluthi@pajak.go.id atau pesawat telepon saya di 0817 79 5050. Loh…loh…loh…kok kayak iklan mencari orang hilang di televisi, radio, dan koran saja sih. Namanya juga usaha.

Ngomong-ngomong tentang dia, saya mengenalnya dulu sekali di tahun 2003 saat heboh-hebohnya chating mirc ditrikpa di channel #pajak dan #halaqoh. Bersama dengan yang punya nickname Dandelion, Atik, Ananda, Wongkito dan nama-nama lainnya yang sudah tidak dapat saya ingat lagi. Mbak Sulis ini dulu punya nickname eyes.

Walaupun kami saat itu intens sekali mengelola #halaqoh, kami tidak pernah bertemu muka dan mengenal wajahnya sama sekali, terkecuali dandelion yang memang satu komplek perkantoran dengan saya. Atik, yang saat itu masih jejaka–dan ternyata kenal dengan sahabat karib saya waktu di SMP, karena temannya saya itu adalah teman SD-nya yang pindah ke daerah saya–pun sama, belum pernah bertatap muka dengan saya. Apalagi Mbak Sulis ini yang kantornya juga jauh dari kantor saya walaupun sama-sama di Jakarta, saya belum pernah ketemu dengannya. Saya cuma tahu wajahnya dari foto kepegawaian itu. An sich.

Mbak Sulis kesukaannya–kalau tidak salah–baca novel. Dan pada saat itu yang lagi marak novelnya Dewi Lestari–personel RSD yang berkarier solo di dunia kepenulisan–yang berjudul, kalau tidak salah, supernova.. Gara-gara dia suka baca novel dan menghebohkan bagusnya novel itu di #halaqoh, membuat saya ikut-ikutan tertarik untuk membelinya.

Mbak Sulis ini juga sering memosting hal-hal yang berbau tasawuf, sampai-sampai pada saat itu saya hapal betul kalimat-kalimat andalannya. Pula–kalau tidak salah–Mbak Sulis ini suka puisi. Punya kesukaan yang sama dengan saya. Makanya sering kali kami berbalas puisi di forum itu.

Ya itulah sedikit tentang Mbak Sulis ini. Tapi terus terang saja, saya terbata-bata mengingat semuanya itu. Ingatan di atas pun saya dapatkan dengan mengais-ngais memori lama itu. Maaf Mbak, bukannya saya mau melupakan Anda dan memutuskan silaturahim itu. Tapi semata-mata karena memori saya ini memang pendek sekali. Tidak hanya Mbak, tapi banyak kawan saya di #halaqoh. Insya Allah saya berusaha menyambung silaturahim ini. Tidak ada kata terlambat di dalamnya.

Mungkin saya cukupkan di sini saja semuanya.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:03 WIB 02 Nopember 2007

MENGELUHKU TENTANG HUJAN


Pagi itu cuaca mendung, langit hitam tidak membiarkan mentari pagi memberikan secercah sinarnya pada bumi. Saya sudah berpikir bahwa biasanya kalau Citayam sudah gelap, berarti di Jakarta juga sama akan turun hujan. Dan saya melihat ke langit utara, betul sama gelapnya. Saya sudah menyiapkan mantel yang kugantungkan di buntut motorku. Saya tidak ingin kehujanan masuk ke kantor seperti dulu saat saya meremehkan alam dengan mengatakan, “ah, paling hujannya sebentar.”
Saya sudah terlambat lima menit dari kebiasaan berangkatku setiap paginya. Apalagi tangki motorku kosong, maka saya harus mampir dulu ke kios penjual bensin untuk mengisi bensin barang satu atau dua liter. Sudah barang tentu ini akan memperlambat perjalanan lagi. Ditambah kalau benar-benar hujan dengan ban sudah hampir gundul dan jalanan Jakarta yang tidak bisa diprediksikan kemacetannya saya tidak akan bisa melajukan kendaraan dengan cepat. Hati saya sudah deg-degan. Khawatir terlambat.
Dan betul tidak lama kemudian, hujan turun walaupun baru rintik-rintiknya. Saya harus menepi untuk memakai mantel hujan. Ini pun memakan waktu. Setelah selesai memakainya, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya baru teringat bahwa walaupun saya memakai mantel tapi mantel ini belumlah mampu untuk menahan air hujan yang amat deras masuk membasahi pakaian saya. Kalau gerimis-gerimis saja sih Insya Allah mantel itu mampu melindungi saya dari kebasahan.
Dengan situasi seperti itu saya memasrahkan diri pada Allah dan cuma bisa berdoa pada-Nya, “Ya Allah, kalaulah engkau menghendaki bahwa pagi ini hujan, turunkanlah hujan. Namun sampaikanlah aku ke tempat tujuan tepat waktu, tidak terlambat, dan janganlah membuat pakaianku basah kuyup.” Saya tidak meminta-Nya untuk tidak menurunkan hujan, karena saya pikir hujan adalah rahmat Allah yang sangat dibutuhkan buat masyarakat yang air sumurnya tidak bisa dipompa karena sudah kering kerontang.
Sambil tetap fokus, berhati-hati mengendarai motor saya ini, dan memikirkan hal lain, tidak terasa perjalanan saya sudah sampai di Tanjung Barat. Saya baru sadar kalau saya sendiri yang memakai mantel hujan. Saya baru sadar juga kalau cuaca tidak semendung di Citayam. Tercetuslah dari mulut saya, ”Ya Allah kok tidak jadi turun hujan, kenapa enggak sekalian saja menurunkan hujannya. Saya kan sudah berhenti dan capek-capek pakai mantel hujan.” Saudara-saudara, saya ngedumel, mengeluh, dan kecewa pada-Nya hanya gara-gara saya sudah terlanjur memakai mantel hujan dan ternyata tidak jadi hujan.
Tidak lama kemudian saya tersadar dari kekhilafan saya. Saya ini harusnya sadar bahwa doa saya ternyata telah benar-benar dikabulkan Allah. Ya betul, doa saya benar-benar dikabulkan-Nya karena saya masih punya waktu yang cukup untuk sampai ke kantor dan yang paling penting lagi baju saya tidak kehujanan.
Saya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan saya ini, “dasar manusia, lupa kalau doanya dikabulkan, lupa kalau sudah diberi nikmat banyak, lupa pada yang memberi, bisanya cuma mengeluh doang. Oh my God, sungguh terlalu Anda.”
Sejenak saya merenung. Saya mengakui kelalaian saya, dan saya cuma bisa berharap Allah mengampuni saya dan memasukkan saya ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.
Seorang penyair Arab berkata:
betapa seringnya kita meminta kepada Allah
bila kita dirundung penderitaan
tapi kita segera melupakan-Nya, begitu derita itu hilang
bila berada di lautan, kita memohon agar Dia menyelamatkan kapal kita
bila kita kembali mendarat dengan selamat, ktia mengingkari-Nya
kita terbang di langit dengan aman dan nyaman
dan kita tidak jatuh karena pelindung kita adalah Allah.

Seorang teman menasehati saya ketika saya berjumpa dengannya saat menanti kumandang iqamat sholat Ashar dan menceritakan padanya tentang kebahagiaan saya di bulan ramadhan, dengan sebuah nasehat: “banyak-banyaklah bersyukur.”
Nasehat biasa dan pendek-pendek saja tapi subhanallah menghunjam sekali di hati saya hingga Ashar itu seperti Ashar di ramadhan lalu. Indah nian…
Teman, dan Anda para pembaca sekalian, ajaklah saya menjadi bagian dari Anda, bagian dari orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat-Nya. Ajaklah saya selalu.
***

Syair di atas bisa dibaca pula di: Don’t be Sad: Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih & Frustasi, Dr. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA, hal. 473, Edisi Revisi, Maghfirah Pustaka

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
lantai tiga kalibata
09:49 pagi 26 Oktober 2007

KUHADIAHI DIA DENGAN CIUMAN GANASKU


Di saat pulang kerja, atau pulang dari mana saja, atau di saat apapun, dan di saat kerinduan saya merayap ke sekujur tubuh pada anak-anak saya, maka seringkali saya meminta pada anak-anak saya untuk berkumpul setelah mereka mencium tangan saya.
“Haqi, Ayyasy ke sini! Abi bawa hadiah nih,” teriakku kepada mereka berdua. Mereka kalau sudah mendengar kata ‘hadiah’ girangnya bukan main.
“Hadiah apaan Bi?” tanya si bungsu, Ayyasy, yang biasanya paling antusias. Iya, dia yang paling duluan merebut kantong plastik hitam yang biasa tergantung di stang motorku kalau saya pulang dari kantor. Kayaknya dia seneng banget kalau ada saja yang dibawaku.
Kali ini tidak ada kantong plastik hitam itu. “Hadiahnya adalah cium abi dong,” jawabku. Serempak mereka berdua berkata, “yahhhh….” Walaupun demikian mereka tetap menciumku. Caranya adalah saya menyodorkan pipi kanan saya kepada mereka lalu mereka mencium pipi saya itu. Lalu menyodorkan pipi kiri saya dan mereka melakukan hal yang sama. Terakhir saya akan mencium bibir mereka masing-masing. Tapi, sejak Haqi sudah kelas dua, Ia sudah tidak mau lagi dicium bibirnya oleh saya. Geli kali…Untuk Ayyasy kuhadiahi dia dengan bonus ciuman ganasku pada pipinya, karena pipinya yang tembem itu loh, menggemaskan.
Di saat saya memberikan hadiah yang sebenarnya kepada mereka atau membawa oleh-oleh untuk mereka, maka seringkali saya meminta kepada mereka untuk menciumku. Setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Dan tidak lupa pula saya selalu menanyakan sesuatu kepada mereka setelah kami saling berciuman, “Haqi, Ayyasy, sayang Abi enggak? Mereka akan menjawab serempak: “sayang.” Terkadang si Haqi menyeletuk dengan jawaban ini: “Enggak sayang.”
“Bener nih? Kalau enggak sayang Abi tak akan kasih uang jajan loh,” tanyaku. Dan biasanya Haqi akan menjawab: “Eh iya…iya Haqi sayang Abi.” Saya cuma tersenyum mendengar jawabannya itu.
Lagi-lagi setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Saya merasakan setidaknya ini menjadi pelipur dari ketidakdekatan kami secara kuantitas karena saya harus berangkat kerja sebelum mereka bangun tidur dan pulang ke rumah saat maghrib telah menjelang.
Ciuman untuk mereka menurut saya adalah hadiah immaterial terbaik dari saya untuk mereka. Sebenarnya tidak hanya ciuman bisa kita berikan kepada mereka sebagai hadiah immaterial-nya, bisa pula berupa pujian, dekapan, membacakan buku cerita, main game bersama, mendongeng, menjawab segala pertanyaannya, atau ke masjid bersama-sama.
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya menjalin kedekatan jiwa dengan anak melalui sentuhan kasih-sayang. Rasulullah Saw. biasa mencium putri dan cucunya. Bahkan terkadang Rasulullah Saw. turun sejenak dari mimbar untuk mencium cucunya Al-Hasan dan Al-Husain yang datang berlari kepadanya. Rasulullah Saw. juga pernah menggendong Umamah—cucunya dari Zainab binti Rasulullah Saw.—sedangkan beliau melakukan shalat.
Ciuman untuk mereka menurut saya, mengutip dari Muhammad Fauzil Adhim, adalah upaya kecil saya untuk bisa belajar—sekali lagi saya dalam proses belajar—menerapkan positive parenting. Apaan tuh? Intinya sih bagaimana menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita. Memangnya kita selama ini tidak baik kepada mereka? Memangnya ada orang tua yang jahat pada anaknya? Wuiihhh…di dunia yang sudah seperti daun kelor ini karena saking tidak ada batasnya, sudah sering kita mendengar kekejaman dan kebuasan yang dilakukan orang tua pada anak-anaknya. Tak perlu saya ceritakan di sini, cukup Anda, para pembaca, membaca dan mendengar dari media massa dan elektronik di setiap harinya.
Ciuman untuk mereka bisa juga menjadi sebuah kiat mengatasi kerewelan anak sebagaimana telah saya baca sebuah ceritanya dari Ibu Yana di Karet Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan berikut ini:
Saya kadang dibikin repot sama anak kedua saya, Himmah. Ia agak lain dari kakak dan adiknya. Mungkin karena ia anak tengah. Kata orang, anak tengah selalu ingin tampil beda. Bedanya, Himmah lebih bawel bin rewel dari kakak dan adiknya. Karena kerewelannya, sejak bayi hingga sekarang berusia empat tahun, Himmah tidak pernah jatuh dari tempat tidur. Tiap kali bangun tidur, ia selalu memberikan pengumuman. Bunyinya sederhana, tapi kencangnya luar biasa. “Huwaaaaaaaa!!!!”
Di usia empat tahun ini, saya seperti sudah terbiasa dengan Himmah. Ada kiat khusus buatnya, terutama kalau lagi rewel. Kalau rewelnya hampir mencapai maksimal, saya langsung memeluknya. Saya cium pipinya yang kiri, kemudian yang kanan. Setelah itu, saya cium juga dahinya. Setelah selesai, saya bilang sama Himmah, “Mah, Umi sudah cium kamu. Sekarang, kamu cium Umi, ya!” Nah, kalau Himmah mau membalas ciuman saya maka ia bisa menghentikan rewelnya untuk beberapa saat. Mana mungkin bisa nyium sambil rewel. Saya yakin, kerewelannya berbanding lurus dengan posisinya di tengah. Dan, cara itu memang efektif. Ngiri, kali!
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya agar Allah senantiasa mengekalkan rasa kasih sayang dari hati saya, sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari: Suatu saat Rasulullah saw mencium cucunya. Seorang pembesar bernama Aqra’ bin Habis At-Tamimi melihatnya, lalu berkomentar, ”Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak satu pun dari mereka yang pernah kucium.” Rasulullah saw lalu menjawabnya dengan ungkapan yang fasih, ”Apa dayaku bila Allah telah mencabut kasih-sayang dari hatimu!”
Yah, sekali lagi ciuman adalah penuntasan kerinduan saya kepada mereka. Walaupun bagi orang lain bisa jadi hal itu merupakan hal yang biasa dan sepele, bagi saya, ia adalah hal yang amat luar biasa dan berkesan bagi saya.
Dan ungkapan sayang mereka ibarat alunan seruling yang mengalun meritmis di sela-sela bukit-bukit dan lembah-lembah di tatar Pasundan. Indah dan menghanyutkan.
Pembaca, ciumlah anak-anakmu, rasakan kebahagiaan itu sebagaimana kebahagiaan yang saya rasakan. Semoga keindahan itu pun akan dirasa…

Maraji’:
1. Dan Anak Kita Penulis: Tim Buah HatiSumber: alhikmah.com, Senin, 28 Oktober 2002;
2. Promoting Attachment (Mohammad Fauzil Adhim), keluargamuslim.com, Kamis, 23 Januari 2003;
3. Kiat Mengatasi Anak Rewel, Ummigroup, Rabu, 25 September 2002

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
03:35 24 Oktober 2007

Cerita Mudik: 540


540
Adalah kilometer yang harus saya tempuh dalam perjalanan balik saya dari Tlogosari, Semarang ke Pabuaran, Bojonggede. Ini adalah pengalaman pertama dalam seumur hidup saya mengendarai sendiri mobil yang menempuh jarak ratusan kilometer. Waktu mudik di H-1, hari Jum’at (12/10) keluarga di Semarang belum memercayai saya untuk memegang sendiri kemudi sehingga harus mengirimkan orang terpercaya di keluarga kami untuk pegang kendali perjalanan mudik itu.
Ohya, perjalanan mudik kami saat itu terasa menyenangkan. Mengapa? Karena perjalanan kami lancar-lancar saja dan tidak terjebak kemacetan berjam-jam seperti yang diberitakan di malam sebelumnya atau di H-2 dan H-3-nya. Ini dikarenakan kami berangkat ba’da shubuh, tepatnya pukul 05.30 WIB di Jum’at itu. Coba kalau kami memaksakan diri untuk berangkat di malamnya, pasti kami terjebak di Tol Cikampek atau Tol Kanci yang padat merayap.
Dari pengalaman mudik dari Jakarta ke Semarang yang menarik itu saya bertekad bahwa nanti kalau balik dari Semarang ke Jakarta, saya sendiri yang harus menyupiri. Orang lain? No way. “Bener, nih?” tanya ipar saya setengah tidak percaya. “Insya Allah,” tegas saya.
Maka untuk mempersiapkannya, saya sering jalan-jalan menyusuri jalanan Semarang dan paling jauh ke rumahnya Mbah Redjo*) di sekitar Borobudur, Magelang dengan menempuh jarak 80 kilometer lebih dengan jalan dua arah yang sempit dan tidak selebar jalan pantura Jawa Barat. Apalagi terasa beratnya menaiki jalanan mendaki di sekitar Ungaran dan berliku di Bawen. Alhamdulillah berhasil juga sampai ke Magelang. Ini menambah kepercayaan diri saya bahwa saya bisa pergi ke Jakarta sendiri.
Agar perjalanan balik itu terasa nyaman dan mengasyikkan—sebagaimana slogan Polri dalam Operasi Ketupat tahun ini , Mudik itu Asyik—maka saya cuci mobil itu sebersih-bersihnya dan sekinclong-kinclongnya. Ruang dalamnya saya bersihkan dengan vacuum cleaner agar tidak ada sedikitpun kotoran yang tersisa. Saya isi bensin full tank dengan membayar Rp182.500,00. Tekanan ban saya cek terlebih dahulu, ini penting banget karena saya melihat bannya kok seperti kempes. Dan betul setelah dicek ternyata tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Tekanan ban depan yang seharusnya ukurannya 31 psi ternyata cuma 29 psi. Dan ban belakang tidak sesuai ukuran yang seharusnya 35 psi.
Akhirnya saat itu pun tiba, Sabtu (20/10) pagi, tepatnya pukul 06.30 WIB, setelah berpamitan, mengenolkan odometer agar bisa diketahui seberapa jarak yang telah kami tempuh, memasang seatbelt dengan benar, bersama-sama berdoa: bismillahi majreha wamursaha inna robbi laghofururrohiim, memperbanyak sholawat, berangkatlah kami berlima, istri saya, dua anak saya, dan saudara kami, ke Jakarta.
Dengan hanya bermodal papan petunjuk arah yang dipasang di sepanjang jalan pantura saya mulai melakukan perjalanan jauh ini. Yang harus saya waspadai adalah pengendara motor. Sudah cukup banyak berita yang saya dengar tentang banyaknya jumlah korban yang tewas kebanyakan dari para biker itu. Untuk itu saya selalu menjaga jarak, menjaga kecepatan—tidak pernah lebih dari 80 km/jam, dan senantiasa pergunakan lampu sen untuk berpindah jalur.
Batang, Kendal, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes saya lalui dengan lancar walaupun sempat tersendat saat melintasi kota Pekalongan karena jalan yang sempit, banyaknya pertigaan dan penyeberang jalan. Kami beristirahat di SPBU sebelum Tol Kanci. Setengah jam kemudian kami sudah melanjutkan perjalanan.
Menuju tempat bibi saya di Segeran, Indramayu, sengaja saya tidak lewat jalan Tol Kanci. Saya lewat kota Cirebon dan melalui jalan alternatif menuju Karangampel, rute jalan yang dulu kami lewati saat berangkat mudik. Jalanannya lebar 4 jalur, sepi dan berseparator. Benar-benar asyik!
Bertahun-tahun kami selalu lewat sini, tapi saya pikir, aneh juga kenapa banyak pemudik yang tidak mengambil rute bagus ini. Jalur konvensional Lohbener-Jatibarang-Palimanan-Kanci itu selalu padat dengan pemudik terutama pengendara motor dan rawan kemacetan. Seharusnya kalau mereka tahu betapa bagusnya rute ini yaitu Lohbener-Jatibarang-Karangampel-Cirebon, pasti mereka akan kesengsem untul melewatinya. Ohya, jangan ambil rute Lohbener-Indramayu-Karangampel-Cirebon karena jalan itu adalah jalan alternatif yang terlalu jauh memutar.
Sampai di tempat bibi saya jam setengah tiga sore. Beristirahat sebentar, makan-makan dulu, lalu diberi oleh-oleh mangga asli Indramayu yang tanpa obat dan pengawet, saya lalu berpamitan menuju Jatibarang untuk bertemu dengan bapak saya dan bersilaturahim dengan saudara-saudara saya di sana.
Di Jatibarang, saya sempat gregas-greges, masuk angin, pusing-pusing, dan berkeringat dingin. Saya paksakan untuk tidur sebentar, sekitar 10 menit. Ganti baju dan meluluri tubuh dengan minyak kayu putih dan balsam, sedikit banyak mampu mengusirnya.
Pukul 17.30 WIB dari Jatibarang, kami—yang sekarang berenam, ditambah adik saya yang ikut menumpang—melanjutkan kembali perjalanan balik ini. Suasana remang-remang, jalanan yang mulai padat, tidak sedikit pemudik motor yang tetap berkendara, penyeberang jalan yang sembarangan, pengemudi mobil yang tidak sabaran membuat saya harus menambah konsentrasi dan tetap waspada. Karena, lagi-lagi, berkendara malam adalah petualangan pertama saya. Dan saya bertekad untuk tidak beristirahat terkecuali di saat jelang tol Cikampek.
Kandanghaur, Pamanukan, Ciasem, Sukamandi sudah saya lewati. Perasaan sudah jauh kok Cikampek belum juga nyampe-nyampe. Dari Sukamandi masih 24 kilometer lagi. Phuihhhh….kaki sudah kaku minta istirahat. Di kilometer 19 sebelum Cikampek jalanan sudah macet, kendaraan mulai merayap. Ternyata di ujung sana ada truk gandengan yang mogok dan memakan setengah badan jalanan sehingga jalan yang tadinya dua jalur menjadi satu jalur.
Beberapa lama kemudian kami sampai juga di SPBU sebelum pintu tol Cikampek. Di sanalah kami beristirahat, makan mi seduh, dan sholat. Empat puluh lima menit kemudian tepatnya pukul 20.48 WIB kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami masuk tol Cikampek. Masih 140 kilometer lebih jarak yang harus ditempuh kami untuk sampai rumah.
Menurut saya, perjalanan di tol Cikampek sangat menegangkan. Situasinya tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk bersantai-santai atau berkecepatan minimum. Semuanya seperti memburu sesuatu di depan. Saya sering diklakson bus AKAP atau ditembak dengan lampu jauh dari mobil yang di belakang, padahal saya telah sampai pada batas maksimum kecepatan yang ditoleransi. Dan selama tujuh puluh kilometer itulah saya kembali berkonsentrasi penuh hingga pintu tol JORR.
Di lintasan tol JORR, kepadatan pengguna jalan tol tidaklah sepadat tol Cikampek, begitupula dengan tol Jagorawi. Saya sudah bisa bernafas lega, tapi saya merasa sendirian sekarang, soalnya semua sepertinya sudah terlelap. Saya hanya ditemani muhasabah yang mengharu biru dari seorang ustadz di radio Dakta 107,0 FM. Tanda-tanda kantuk sudah mulai terasa dengan seringnya saya menguap, tapi saya tahan. Alhamdulillah berhasil hingga pintu tol Citeureup.
Lagi-lagi saya bisa bernafas lega. Kalau sudah keluar dari tol, perjalanan sampai ke rumah, Insya Allah, sudah tidak menegangkan dan tidak akan lama lagi. Syukurlah, tepat dua jam perjalanan dari Cikampek, dan tepat pada kilometer 540 akhirnya kami sampai di depan rumah.
Saya bersyukur Allah memberikan kemudahan pada saya untuk mengadakan perjalanan mudik dan balik ini dengan lancar, tanpa halangan, tanpa kurang suatu apapun juga. Perjalanan mudik tahun ini, bagi saya adalah pengalaman yang amat membahagiakan, menyenangkan, dan mengasyikkan.
Semoga ini adalah buah dari doa yang senantiasa saya panjatkan di ramadhan, keselamatan, kebahagiaan dunia akhirat. Dan sebenarnya tidak hanya perjalanan mudiknya itu, kontemplasi selama ramadhan itu pun membuat hati saya tenang dan bahagia. Suasana malam-malamnya, tarawih, qiyamullail, tilawah, silaturahim, penjagaan hati, mata, dan telinga, serta iktikafnya. Saya berharap semoga tidak hanya saya saja yang mengalaminya, Anda juga, para pembaca, mendapatkan sejumput keberkahan ramadhan itu.
Hingga terasa sekali kerinduan pada ramadhan tahun depan. Kerinduan agar ramadhan segera datang menghampiri kita. Meramadhankan hati kita, meramadhankan semuanya, meramadhankan masjid kita yang kini mulai sepi, dan meramadhankan perjalanan mudik balik kita. Cuma satu saja pertanyaannya, akankah kita menjumpai ramadhan tahun depan? Allohua’lam bishshowab.
Terimakasih pada semuanya.

*) Mbah Redjo ini bukan dukun, tapi mbahnya istri saya.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
04:47 21

SEKEHENDAKMU, UMMI!


Sore itu, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, menyusuri jalan rindang penuh rerimbunan pohon, di jalan setapak Kampus Universitas Indonesia.
“Alhamdulillah, Ummi bersyukur punya suami kayak Abi,” bisiknya meningkahi deru motor.
“Syukurnya kenapa?”tanyaku penasaran. Maklum pembicaraan ini seumur-umur baru terdengar.
“Jangan geer yah…”tegasnya padaku.
“Insya Allah enggak.”
“Syukurnya Abi tidak banyak menuntut macam-macam. Kayak menghalangi Ummi untuk dibina dan membina.”
“Ah masak?”
“Betul kok…”
“Emang ada contoh yang menghalangi istrinya untuk itu?” tanyaku lagi. “Banyak,” jawabnya sambil menyebut nama salah seorang dari ustadz kami.
“Sebenarnya satu saja bagi Abi untuk membiarkan Ummi tetap menjalani apa yang Ummi kehendaki. Itu ‘kan komitmen awal kita sebelum menikah bukan? Masak lupa sih?”
“Terus apa lagi?” tanyaku lagi tentang kesyukuran dia memilikiku.
“Ummi enggak masak, Abi tidak marah.”
“Karena dalam biodata Ummi ‘kan sudah jelas ditulis tidak bisa masak, ya Abi pasrah saja. Nrimo apa adanya. He…he…he….”
“Ada lagi?” tanyaku.
“Cukup itu saja dulu.”
“Kayaknya banyak deh yang harus Ummi banggakan dari diri Abi ini,” kataku.
“Iya sebanding pula dengan kelemahan yang ada pada diri Abi,” tukasnya.
“He…he…he…tahu saja Ummi sih…” jawabku sambil tersenyum.
***
Pembicaraan di atas motor tadi adalah sarana paling efektif yang sering kami lakukan untuk bisa saling memahami. Di atas motorlah, di sepanjang perjalanan pulang, kami membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan sampai tuntas untuk membunuh rasa jenuh saat melintasi jalanan dengan rute yang sama dari hari ke hari. Tapi terkadang kami sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama kalau dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari. Sehingga bisa jadi tanpa sepatah katapun saling terucap. Tidak mengapa.
Ada pertanyaan buat kami, mengapa pembicaraan itu tidak dilakukan ketika sampai di rumah ketika kita semua sudah dalam keadaan tubuh yang segar dan sedang istirahat? Jawabannya adalah bahkan kalau di rumah sepertinya kami tidak bisa berkomunikasi dengan efektif karena selalu diganggu oleh anak-anak dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sehingga seringkali kami memanfaatkan waktu yang ada di manapun berada untuk berkomunikasi dengan efektif. Dan di atas motor itu adalah salah satu cara terbaik bagi kami walapun terkadang dengan suara yang harus dikeraskan karena sering ditingkahi oleh deru kendaraan yang lain.
Dalam majalah Safina No. 1/ Th II Maret 2004 ditulis tentang pentingnya komunikasi buat pasangan suami istri.
Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga Islam adalah komunikasi dan dialog yang intensif dan sehat antara suami istri. Pada saat ini tidak jarang terjadi adanya sumbatan komunikasi diantara pasangan suami istri. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal itu, misalnya kesibukan kerja, terlampau letih dan lain-lain. Bahkan karena begitu sibuk dan letihnya, ada pasangan bertatap mukapun tidak sempat. Sebagai akibatnya, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi satu dengan lainnya.
Komunikasi yang hambar biasanya mengakibatkan hubungan kemesraan menjadi berkurang. Bahkan tidak jarang menimbulkan ketegangan dan terjadilah perselisihan, kalau sudah begini suami istri akan mengalami penderitaan. Sangat disayangkan apabila hubungan yang hambar ini terjadi pada keluarga muslim yang dibangun dalam rangka beribadah kepada Allah. Diperlukan pengertian yang mendalam dari kedua pasangan agar komunikasi dapat berjalan secara kontinyu.
Tidak ada yang menjamin bahwa saat kita sudah merasa sekufu, satu agama, sama-sama ngaji, sama-sama aktifis dakwah, setara, sama, cocok, dan percaya seolah-olah semua urusan rumah tangga akan beres. Padahal, banyak pasangan gagal meneruskan bahtera rumah tangga mereka karena kurang peduli dengan urusan komunikasi seperti ini.
Dengan komunikasi di atas motor itulah saya bisa tahu apa yang diinginkan oleh istri saya, bagaimana perasaan saya pada saat itu terhadapnya atau sebaliknya. Dan adanya keterbukaan yang terjalin pada saat itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hingga terbentuknya rasa kerinduan di hati saat ia tidak membonceng di belakang saya karena ia pulang duluan.
Saya senantiasa berharap komunikasi yang senantiasa kami jalankan di setiap harinya, dengan cara kami sendiri itu, bisa menyadarkan kami betapa komunikasi itu sangatlah penting untuk bisa saling memahami. Dengan pemahaman itulah saya harapkan dia bisa mengerti apa yang aku kehendaki dari dirinya dan sebaliknya, hingga saya bisa berkata pada dirinya: “Sekehendakmu saja, Ummi!”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:59 09 Oktober 2007

KARENA SA’D BERDOA


Suatu hari salah seorang sahabat Rasulullah, Sa’d bin Abi Waqqash, berkata pada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, doakan saya agar saya menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah.” Lalu Rasulullah berkata: “Wahai Sa’d, Perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya.”
Dan Allah mengabulkan doa Rasulullah SAW. Sepeninggal Rasulullah, saat Sa’d menjadi Gubernur Kufah di Irak pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab ia diadukan oleh warganya kepada Khalifah yang berada di Madinah. Dengan sebuah pengaduan bahwa ia tidak beres saat menjadi imam sholat mereka.
Sahabat Umar tidak serta merta mempercayai pengaduan itu, karena ia tahu benar tentang kemuliaan akhlak Sa’d. Ia mengutus beberapa sahabat terpercayanya untuk mengecek kebenaran laporan tersebut. Berangkatlah beberapa sahabat dari Madinah menuju Kufah. Sampai di sana mereka langsung bekerja melakukan investigasi dengan mendatangi masjid-masjid yang ada di Kufah.
Para ahlul masjid saat ditanya tentang Sa’d maka mereka menjawab bahwa Sa’d adalah orang yang adil dan mereka senantiasa mendoakan kebaikan untuk Sa’d. Hampir semua masjid di kota Kufah berpendapat yang sama tentang Sa’d. Terkecuali satu masjid yang berbeda dan salah satu jama’ahnya berdiri dan berkata:
“Tentang Sa’d, Wallahi, dia adalah orang yang tidak adil, tidak merata dalam pembagian ghanimah, dan tidak pernah pergi bersama pasukannya.”
Mendengar perkataan orang tersebut, Sa’d langsung berdiri dan berkata: “Ya Allah, jikalau orang ini berbicara secara dusta, riya’ dan ingin pamer, maka panjangkanlah umurnya, kekalkanlah kefakirannya, dan tetapkanlah atas dia fitnah.”
Seorang perawi meriwayatkan ia melihat orang yang didoakan oleh Sa’d itu betapa panjang umurnya. Alisnya menjulur hingga menutupi kedua matanya karena tua rentanya. Pekerjaan orang itu hanya menghadang para gadis di jalan-jalan kota Kufah, seraya menggoda mereka, dan berucap: “aku adalah orang yang tidak tahu diri karena do’a Sa’d.”
Subhanallah, Sa’d menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Karena ia makan dari makanan yang halal. Maka salah satu syarat agar doa kita senantiasa dikabulkan oleh Allah adalah demikian.
Pernah merasa betapa banyak doa yang kita panjatkan tetapi tak satu pun jua yang terkabul? Ini bisa menjadi sarana muhasabah bagi kita sendiri, bahwa ternyata: “makanan yang halal—baik dzat dan cara memperolehnya—menjadi tolok ukur diterimanya doa dan seluruh ibadah kita”, kata Imam Ibnu Katsir. Begitu pula sebaliknya.
Sebuah perenungan memerangkap kesenyapan dan menjadikannya lebih senyap karena saya sedang berfikir: “Akankah saya seperti Sa’d? Semoga apa yang selalu Allah kabulkan kepada saya bukanlah sebuah pembiaran. Ampunilah aku ya Allah.”
***
“Seorang laki-laki yang telah berkelana jauh dengan rambutnya yang kusut masai dan pakaian yang penuh debu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdo’a; ‘Ya Allah, ya Allah’, sedang makanannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan dibesarkan dengan makanan haram, bagaimana Allah akan mengabulkan do’anya itu”. (HR Muslim).
“Janganlah salah seorang dari kamu mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetap hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” (HR. Abu Dawud).

Maraji:
1. Cambuk Hati, ‘Aidh Al Qorni
2. Makanan Haram, Ummu Fathin, Republika, 19 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:35 02 Oktober 2007

TIWIKRAMA


TIWIKRAMA

Langit Jakarta meniwikrama sehitam legam
belum selegam kenangan laluku

Riza Almanfaluthi
langit kalibata hitam
16.50 07 september 2007