MUMPUNG DIA DEKAT


Saya ingin jadi orang baik. Saya ingin jadi tetangga yang baik buat tetangga-tetangga saya. Saya ingin agar Allah tidak memberikan beban yang sungguh tidak sanggup saya untuk memikulnya. Saya ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang yang senantiasa ikhlas, bisa menjaga lidahnya dari perkataan-perkataan buruk dan menyakitkan.
Saya ingin agar Allah memberikan saya pandangan yang jelas agar tampak kebenaran itu adalah kebenaran dan kebatilan itu adalah kebatilan. Pun saya ingin agar Allah memberikan saya hati yang sensitif terhadap kebenaran, mata yang mudah menangis, dan kekuatan untuk bangun di tengah malam. Meminta pada-Nya, mengadu pada-Nya, untuk menuntaskan segala hajat dan permasalahan dunia dan akhirat saya.
Saya ingin agar Allah memberikan saya kesehatan, juga kepada istri dan anak-anak saya. Agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada bapak saya. Agar Allah melapangkan kubur ibu saya. Dan mengampuni mereka, serta mengasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi saya di waktu kecil.
Saya ingin agar Allah memberikanku kekayaan yang berkah lalu menjadikan saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat-Nya. Saya ingin Allah menjadikan anak-anak saya sholeh, pintar, dan cerdas. Dan menjadikan mereka pejuang-pejuang agama-Nya.
Saya ingin agar Allah menetapkan saya untuk tetap komitmen di jalan “menyeru” ini. Juga agar Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada para pendukung dakwah di manapun mereka. Agar cahaya Islam ini tetap benderang di segala penjuru.
Saya ingin agar Allah tidak menimpakan malapetaka dan bala kepada saya dan keluarga saya. Dan saya ingin agar khadimat saya mau lagi untuk tinggal bersama kami selama bertahun-tahun ke depan. Dan semoga Allah senantiasa memudahkan kehidupan saya dan keluarga di tahun-tahun mendatang.
Dan saya selalu berharap Allah mematikan saya dalam syahid. Selamat dunia dan akhirat. Serta berkumpul dengan istri, anak-anak, dan keluarga serta orang-orang yang beriman lainnya di Jannah Firdaus-Nya.
***
Semua yang saya ungkapkan di atas itu adalah sebagian kecil dari permintaan saya kepada Allah Yang Maha Pengabul Permintaan dalam setiap panjatan doa dan keluh kesah saya. Karena saya merasa sebagai manusia yang tidak punya apa-apa, miskin, dan lemah, maka kepada siapa lagi saya harus meminta segalanya baik yang besar maupun remeh temeh terkecuali kepada-Nya. Dia Yang Maha Kaya dan Maha Pemilik Segala. Mumpung Dia dekat dengan saya, dan mumpung saya masih bertemu ramadhan tahun ini.
Dari awal ramadhan sampai hari ini, saya sudah tiga kali mendengar dari para penceramah di masjid komplek saya, Masjid Al-Ikhwan, berbicara tentang Allah yang lagi dekat dengan kita yang berpuasa. Saya kok sepertinya baru merasa mendapatkan sesuatu tema yang baru dan belum sekalipun diketahui oleh saya. Apa karena dulu hati saya masih tertutup sehingga tidak bisa peka mendengar segala bentuk kebaikan atau pas kebetulan saja hati saya ini, di ramadhan ini, lagi sensitif-sensitifnya sehingga baru dirasakan ngeh oleh saya.
Kata para ustadz itu, dari rangkaian ayat sebanyak lima ayat di surat Al-Baqarah yaitu tepatnya di ayat 183 sampai dengan 187 yang berbicara tentang puasa, tiba-tiba terselip ayat 186 yang berbicara tentang penegasan Allah bahwa diri-Nya itu dekat. Coba kita simak dulu ayatnya yah:
186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Maka dapat diartikan bahwa di ramadhan inilah Allah menegaskan bahwa Allah itu dekat, tidak jauh, tanpa hijab dari hamba-hambanya yang berdoa, yang meminta apa saja kepada-Nya, asal kitanya ini senantiasa memenuhi perintah-Nya dan beriman pada-Nya. Tuh kan, ada syarat yang harus dipenuhi dulu sebelum Dia mengabulkan permintaan kita.
Ini berarti-intinya-kita harus berupaya dulu. Kita berdoa setelah usaha, ikhtiar, dan kerja keras karena menurut Abdurrahman Muhayar, doa dalam pengertian yang sebenarnya bukan hanya sekadar wujud ketakberdayaan yang memaksa seseorang merengek kepada Allah SWT.
Tapi menurut saya senantiasa kita –saya dan Anda—berdoa kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun saja. Agar kita tidak dianggap sebagai orang yang sombong karena tidak pernah meminta pada-Nya. Memang kita orang yang kuat apa? Kita orang yang tidak punya kebutuhan apa? Atau semuanya kita bisa upayakan dengan usaha kita sendiri? Ah, sungguh terlalu…
Di ramadhan ini dengan kedekatan-Nya itu, dengan tanpa hijab-Nya itu, maka sudah selayaknya saya—yang dengan tertatih-tatih mendekati-Nya di luar ramadhan, tapi merasa kurang optimal hasilnya ini—bergembira dan bertekad untuk tidak melewatkan waktu tanpa berdoa pada-Nya, bertekad untuk meminta segala hajat saya. Begitu pula Anda teman-teman. Mumpung Dia dekat.
Kita merasakan ketenangan ba’da ramadhan tahun lalu sampai hari ini, bisa jadi, Insya Allah, karena Allah mengabulkan doa kita yang dipanjatkan saat ramadhan lalu. Kita bisa menyelesaikan tugas akhir kuliah, mempunyai kendaraan, rumah yang sederhana, anak-anak sehat, suami atau istri semakin sholih dan sholihah, pekerjaan kantor bisa diselesaikan dengan baik, tidak ada masalah dengan tetangga, punya anak lagi, tidak pernah terlambat masuk kantor dan gaji tidak dipotong absen, kalaupun dipotong itupun cuma sedikit sekali, semakin banyak berinfak, semakin rajin ke masjid, bicara yang secukupnya, selalu antusias mendengarkan nasehat kebaikan bisa jadi semua itu karena Allah mengabulkan doa kita.
Ya, cukuplah itu menjadi nasehat bagi diri saya sendiri. Maka mumpung kita lagi berpuasa, Dia dekat, berdoalah, berdoa apa saja. Berdoa demi kebaikan dunia dan akhirat kita. Setelah itu kita tinggal menikmati semuanya itu. Insya Allah.
***

* Doa adalah otak ibadah. (HR Ibn Hibban dan at-Tirmidzi).
* Doa adalah senjata orang yang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi. (HR al-Hakim)

Maraji’:
1. Alqur’an Mulia;
2. Abdurrahman Muhayar, Berdoa, Republika, 11 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
07:12 27 September 2007

SEMUANYA BERKAH


SEMUANYA BERKAH

Sungguh nikmatnya ukhuwah saya rasakan pada hari-hari ini. Betapa tidak permohonan baju layak pakai dan dana untuk kegiatan bakti sosial (baksos) yang saya edarkan melalui email dan forum diskusi mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa positifnya.
Dering telepon dan email balasan yang masuk banyak menanyakan teknis pengambilan baju layak pakai, bahkan hingga jam-jam terakhir juga masih ada yang menanyakan nomor rekening bank saya untuk bisa mentrasfer dana untuk kegiatan itu.
Dari Denpasar dikirim satu kardus penuh baju layak pakai. KPP LTO, Madya Jakarta Timur, hingga Kantor Pusat adalah tempat-tempat yang saya kunjungi untuk diambil baju layak pakainya. Dari teman-teman satu kantor pun banyak juga yang memberikan barang yang sama pula hingga terkumpul satu troli penuh. Tidak hanya itu dana yang terkumpul baik secara tunai ataupun melalui rekening bank adalah sebanyak Rp1.700.000,00. Dengan dana yang dikumpulkan dari teman-teman panitia yang lain terkumpul total dana empat juta lebih.
Subhanallah jumlah yang sangat luar biasa besarnya bagi saya dan teman-teman panitia. Hingga kami memutuskan untuk menambah paket sembako yang semula 150 paket seperti tahun yang lalu menjadi 200 paket sembako. Terdiri dari beras empat liter, satu kilogram minyak goreng curah, dua bungkus mentega simas, satu kilogram tepung terigu, dan satu kilogram gula pasir. Yang kalau diuangkan maka satu paket sembako itu seharga Rp38.500,00. Sehingga total dana yang harus kami sediakan adalah sebesar kurang lebih delapan juta rupiah.
Dengan dana awal 4 juta itulah kami membeli sembako ke pedagang sembako langganan baksos kami yang sudah tiga tahun ini menjalin kerjasama. Dengan bermodal kepercayaan, pedagang sembako mau menyediakan paket dan sisa uangnya nanti diberikan setelah acara baksos selesai. Kami optimis kekurangan dana yang ada akan bisa ditanggulangi dari hasil penjualan baju layak pakai.
Ohya, tidak hanya paket sembako yang bersubsidi yang kami berikan. Kami juga menjual sembako eceran dengan harga yang amat murah. Simas satu bungkus kami hargai seribu rupiah. Satu liter minyak goreng seharga tujuh ribu rupiah. Sekilo tepung terigu kami hargai lima ribu rupiah. Gula pasir empat ribu rupiah sekilonya.
Alhamdulillah, acara kemarin berlangsung dengan sukses. Terasa dan terlihat kegembiraan pada wajah-wajah mereka yang mendapatkan sembako gratis dan murah, pakaian yang amat layak pakai (terutama yang dari kantor pajak). Tetapi kami juga tidak bisa menutupi kekecewaan mereka yang tidak mendapatkan kupon paket sembako gratis dan murah itu.
Dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semata-mata keterbatasan yang ada pada kami. Namun kami mempersilakan mereka untuk membeli baju layak pakai dan sembako eceran yang harganya pun jauh sekali dari harga pasaran. Bila mereka pun ingin memiliki baju layak pakai, tetapi tidak memiliki uang kami persilakan mereka untuk berbicara kepada panitia tentang ketidaksanggupannya, dan kami akan berikan apa yang mereka minta.
Pakaian yang amat layak pakai itu kami jual seharga Rp7000,00 sampai Rp500,00 (lima ratus perak). Bahkan ada yang kami bagikan gratis. Dan juga agar semua daerah yang ditengarai menjadi kantong-kantong kemiskinan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan baju layak pakai ini, maka kami bersepakat untuk tidak menggelar semua barang itu di hanya satu lokasi saja.
Pada akhirnya ada teman lain yang bergerak untuk mengevaluasi hasil baksos tersebut. Dari hasil evaluasi itu kami juga bersepakat bila ada dana yang tersisa dari hasil keuntungan baksos tersebut, maka agar menjadi keberkahan bagi para donator yang telah menginfakkan hartanya, sebagian dana tersisa akan diberikan untuk menyubsidi kekurangan dana iktikaf. Pelaksanaan iktikaf ini merupakan acara yang yang pertama kalinya diselenggarakan untuk tiga desa yang dipusatkan di masjid di desa kami.
Yaitu untuk menambah kekurangan dana menu makanan berbuka puasa buat para shoimin dan juga sahur para peserta iktikaf. Insya Allah ini akan menjadi suatu keberkahan, karena pahala yang akan didapat adalah sama seperti pahala puasanya orang yang berbuka puasa itu. Subhanallah. Dan tidak ada sepeserpun untuk kami para panitia. Insya Allah semuanya berkah.
Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi teman-teman yang telah menyumbangkan baju layak pakainya, seperti Ichal, Arya, Mbak Titik Minarti dan kawan-kawannya, Mbak Julianti, si Lay Erwinsyah M, Mbak Ardiana, Mbak Dewi Wiwiek, Mas Erfan, Ibu Mona Junita, dan Mas Purnomo di Denpasar.
Juga kepada teman-teman yang telah menginfakkan uangnya tunai ataupun transfer melalui rekening Bank Mandiri saya seperti (maaf saya menyebutnya dengan nama inisial, agar tidak mencederai niat baik ini) AR sebesar Rp500.000,00. Hamba Allah sebesar Rp100.000,00 (sampai saat ini saya belum mendapatkan konfirmasi nama donator ini). Ayr sebesar Rp250.000,00. Ich sebesar Rp100.000,00. Sebesar Rp250.000,00 telah disumbangkan oleh 6470. Mbak A*is*h sebesar Rp250.000,00 dan kawan lama saya yang menelpon di detik-detik terakhir: Mbak Listy sebesar Rp250.000,00.
Saya tidak bisa memberikan apa-apa kepada para donator sebagai balasannya . Saya hanya berharap semoga Allah senantiasa melimpahkan balasan kebaikan yang berlipat ganda atas semua kemurahan hati mas-mas dan mbak-mbak donatur. Sungguh bukan karena tulisan saya, sungguh bukan karena kenal dengan saya semua ini terjadi. Semuanya semata-mata karena Allah telah menggerakkan segumpal daging bernama hati untuk senantiasa sensitif terhadap kebersamaan dan kepedulian. Terimakasih.
Dan saya yakin bagi yang belum berkesampatan untuk turut serta dalam kebersamaan ini, bukan berarti tidak peduli, tapi karena semata-mata ada prioritas yang lebih dekat, yang lebih membutuhkan, yang lebih penting di daerahnya masing-masing. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita semua. Amin.
Jazakalloh khoiron katsiro.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:26 24 September 2007
Sekadar laporan sekilas. Foto digital ada tapi belum saya terima.

Baju Layak Pakai Anda Dibutuhkan Mereka


Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan keberkahan kita di bulan ramadhan yang mulia ini. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan sehingga bisa mengoptimalkan ibadah di bulan penuh pahala ini. Semoga kita senantiasa tetap mencintai rasulullah SAW dengan melaksanakan semua sunnah-sunnahnya.
Saudara-saudaraku semua, Insya Allah saya bersama teman-teman di Desa Pabuaran, Bojonggede, Bogor akan mengadakan Bakti Sosial di daerah minus di kampung kami yaitu di daerah PARKO. Di sana banyak sekali saudara-saudara kita yang kekurangan, dan Insya Allah bantuan kita yang sedikit sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Teknisnya kita akan menjual sembako 150 paket dengan harga yang telah di subsidi dari dana-dana dan infak-infak yang diberikan oleh donator. Tidak hanya itu selain menjual sembako kami juga akan memberikan secara cuma-cuma kepada yang betul-betul tidak mampu. Insya Allah. Selain itu, berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman bertahun-tahun mengadakan bakti sosial, baju layak pakai yang kami kumpulkan sungguh-sungguh sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Baju-baju layak pakai itu awalnya kami hargai dulu sesuai dengan masih bagus atau tidaknya baju itu. Biasanya harganya sekitar Rp4.000,00, Rp3.000,00, Rp2.000, Rp1.000,00 atau gratis sama sekali. Tetapi terkadang mereka tidak membeli, mereka menunggu sampai acara itu selesai untuk mendapatkan secara gratis baju-baju itu. Bagi kami tidak masalah. Karena itu pun memang untuk mereka semua. Kami beri harga juga bukan untuk kami, tetapi untuk menutupi kekurangan subsidi atau penambahan jumlah paket sembako tersebut.
Insya Allah apa yang antum semua berikan kepada mereka, akan menjadi keberkahan bagi saudara-saudara kita yang berkekurangan tersebut. Apalagi di bulan ramadhan yang mana Allah telah menjajikan kepada kita semua atas pelipatan ganda pahala atas semua kebaikan yang kita berikan apalagi memberikan infak kepada yang membutuhkannya. Sudah waktunya kita tidak melepaskan kesempatan besar ini.
Insya Allah acara itu akan diselenggarakan pada:
Hari/tanggal : AHAD BESOK, 23 SEPTEMBER 2007
Tempat : PARKO, DESA PABUARAN, BOJONGGEDE, BOGOR

Bagi antum semua yang mau memberikan baju layak pakainya, bisa saya tunggu sampai hari jum’at nanti tanggal 21 September 2007, bagi yang berkantor di Kalibata atau sekitarnya yang dekat dan bisa saya jangkau dengan motor saya, Insya Allah saya akan jemput di kantor masing-masing.
Dan bagi antum yang berniat untuk sedekah dan berinfak bisa juga saya ambil langsung (kalau dekat dengan daerah sekitar Kalibata), atau juga antum semua bisa transfer ke rekening:

RIZA ALMANFALUTHI
Bank Mandiri
0060005113XXX

(Agar tidak tercampur dengan uang saya yang ada di bank Mandiri yang memang tinggal Rp110.000 , mohon untuk konfirmasi kepada saya melalui PM di DSHNet (username: riza almanfal) atau melalui email pajak: riza.almanfaluthi@pajak.go.id atau via HP: 0817 79 5050. Ditunggu sampai hari Jum’at tanggal 21 September 2007).

Sungguh kepedulian kita semua sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Saya tidak bisa memberikan balasan kepada antum semua yang sudi dan berkenan atas kesediaannya untuk berbagi kepada sesame dan mempercayakannya kepada saya. Hanya Allah yang berhak untuk membalas kebaikan antum dengan kebaikan berlipat ganda. Harapan terbesar saya adalah semoga kita dikumpulkan oleh Allah di Jannah-Nya yang keindahannya tidak pernah dilihat, didengar, dan dirasa oleh manusia. Semoga. Amin.

Barokallohu fiikum.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Riza Almanfaluthi

MEMBERI ATAU…?


Seorang teman selalu berangkat ke kantor lebih pagi daripada yang lainnya. Ia selalu naik motor dari rumah menuju tempat kerjanya. Dan di dalam tasnya selalu tersedia pembalut luka, obat merah, dan beberapa gelas air kemasan. Saat ditanya untuk apa ia membawa semua itu di setiap harinya, ia selalu menjawab, “agar saya bisa menolong orang lain.”
Setiap pagi, ia seringkali menjumpai para pengendara motor yang tergeletak di tepian jalan. Entah karena menabrak atau tertabrak kendaraan lain. Sudah barang tentu pengendara motor tersebut mengiris kesakitan karena luka dalam ataupun luar. Kalaupun tidak ada luka, muka pucat sudah menandakan ia mengalami guncangan adrenalin yang amat hebat.
Semuanya harus ditangani segera. Tapi senyatanya orang-orang yang menolong seringkali hanya memindahkan korban kecelakaan tersebut ke pinggir jalan. Lalu setelah itu panik, bingung, lalu telepon kesana kemari. Bahkan yang lainnya cuma terbengong-bengong. Tidak dipikirkan bahwa korban perlu pertolongan pertama segera. Peran kosong itulah yang diisi oleh teman saya ini. Dengan sigap ia memberikan yang ia bawa itu kepada korban. Peran kecil tapi sungguh membantu.
Itulah mengapa ia selalu berangkat lebih pagi. Karena dengan berangkat lebih pagi, ia tidak perlu terburu-buru mengejar absen, dan ia masih sempat untuk berhenti menolong orang lain. Jika tidak, jiwanya seringkali berkecamuk, berperang batin antara berhenti untuk menolong atau terus melaju demi rupiah di awal bulan yang utuh tidak terpotong. Dan ia seringkali memilih yang terakhir. Untuk itu ia cuma bisa beristighfar dengan air mata yang membasahi pipi menyesali ketidakmampuannya. Menyesali ada suatu kesempatan besar yang hilang begitu saja dari dirinya.
“Apa untungnya kamu menolong mereka?” tanya saya penasaran.
“Duniawi? Tidak ada!” akunya. “Saya cuma mengharap dari-Nya,” Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas. Ia merasa ia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu sebelum ia memberikan sesuatu. Ia tidak akan ditolong orang sebelum ia menolong orang. Ia percaya, sesungguhnya setiap kebaikan sekecil apapun akan diberikan balasan kebaikan yang sama atau yang lebih besar lagi.
“Percayalah, seseorang tidak akan pernah menerima saat ia tidak pernah memberi. Percayalah, saat ia mengedepankan penolakan implisit dan eksplisit terhadap suatu kata bernama “tolong”, ia tidak akan pernah mendapatkan anugerah besar berupa upaya baik dari orang lain. Saat itu juga atau suatu saat kelak,” jelasnya panjang lebar.
Dalam sekali apa yang dikatakan teman saya ini. Sebuah pembelajaran yang membuat saya merenung sepanjang perjalanan menyusuri Margonda sore ini. Hingga di suatu pertigaan…
“Pak, minta uang dong Pak…” seorang bocah kecil berbaju kumal menyodorkan tangannya kepada saya yang sedang menunggu lampu hijau menyala.
Saat saya menoleh kepadanya, lampu kuning sudah menyala.
Duh, memberi atau…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
jelang perjuangan nomor 1
21:57 07 Juli 2007

DUA YANG MEMATIKAN


Menurut kamu, kecemasan apa yang membuatmu tidak bisa tidur? Ada banyak jawaban yang akan kamu berikan kepada saya. Dan akan saya katakan kepada kamu, itulah manusia, tidak lepas dari sebuah rasa yang bernama cemas. Lalu jika kamu bertanya hal yang sama kepada saya, maka saya akan jawab salah satu dari sekian rasa kecemasan saya, “tidak menulis selama beberapa hari.”
Bagi saya, yang patut dicemasi pada diri saya adalah hilangnya kemampuan menulis saya. Karena saya merasa bukan orang yang berbakat menulis. Karena tidak adanya bakat itulah saya berusaha untuk latihan dan latihan menulis terus menerus. Menulis bagi saya adalah sebuah latihan untuk menutupi ketiadaan bakat itu. Menulis adalah proses latihan bagi diri saya. Sebagus apapun tulisan yang saya hasilkan itu adalah proses bagi pembelajaran saya.
Maka bolehlah saya akan cemas ketika sudah berminggu-minggu tiada tulisan yang saya hasilkan. Saya akan merasa bahwa kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada saya ini akan hilang selamanya. Dan saya tidak mau. Maka saya harus memaksakan diri untuk menulis. Menulis apa saja. Tak peduli apa yang orang akan bilang saat membaca tulisan saya.
Saya pun senantiasa berpikir mengapa saya tidak produktif dalam menulis. Dan saya akan iri kalau melihat betapa teman-teman saya begitu produktifnya menghasilkan sebuah karya. Saya pikir rasa iri ini tentunya masih dalam lingkup yang bisa ditolerir. Sebuah keirian agar saya bisa menghasilkan karya, bukan sebuah keirian yang ingin agar teman-teman saya tidak bisa menulis lagi. Naif sekali kalau yang terakhir itu yang saya irikan. Sungguh iri itu adalah tanda ketidakmampuan.
Setelah saya berpikir lama mencari jawaban dari sebuah pertanyaan tentang ketidakproduktifan saya—yang sebenarnya bisa saja saya mencari beribu alasan untuk melegitimasinya, maka saya menemukannya.
Pujian. Bagi saya sebenarnya ia adalah racun yang sangat mematikan kreatifitas saya. Maka sedari awal sejak saya mulai belajar menulis bertahun-tahun lalu, saya sudah siapkan payung agar tiada ribuan tetesan pujian yang akan membasahi tubuh saya. Tapi terkadang payung antipujian yang saya pakai seringkali tidak mampu untuk menahan derasnya. Sehingga membuat saya terkapar dalam sebuah keterlenaan. Dan pada akhirnya saya tidak mampu menulis segera.
Apa kaitannya dengan kreatifitas yang mati? Konkritnya begini. Jika saya dipuji, dan sangat menikmati sekali pujian itu, ketika akan menulis lagi dalam benak saya akan dipenuhi sebuah keinginan agar dapat membuat sebuah karya yang bisa menghasilkan pujian. Agar karya saya bisa memuaskan para pembacanya seperti kepuasan yang diperoleh saat membaca tulisan saya terdahulu.
Nah, pada saat itulah saya terjebak untuk melawan idealisme yang saya buat buat sendiri. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa idealisme kepenulisan saya saat membuat sebuah tulisan adalah TIDAK PERLU PEDULI APA KATA ORANG. Biasanya dengan idealisme itu saya—syukurnya—bisa membuat sebuah tulisan berhalaman-halaman dengan lancar tanpa beban tanpa hambatan.
Sudah barang tentu saat saya mengabaikan idealisme ini dan hanya menurutkan sebuah nafsu hanya untuk dipuji maka sudah dapat dipastikan saya tidak bisa menulis. Ada saja hambatannya, seperti takut salah atau adanya pikiran: “jangan yang ini, orang pasti tidak suka nantinya.” Seperti ada beban di pundak. Sejak itulah sebuah kreativitas mati.
Dan yang selanjutnya adalah cepat berpuas diri. Ini pun bagi saya adalah racun yang sama dahsyatnya dengan racun pujian di atas. Karena merasa bahwa tulisan sudah bagus maka biasanya saya akan terlena dengan tulisan itu, berhenti sejenak yang kebablasan dan tidak dapat dihentikan. Mengagumi diri sendiri. Narsisme yang sudah sangat keterlaluan.
Merasa diri besar dan hebat, pasti disitulah saya lengah. Karena sudah merasa hebat saya merasa tidak perlu bersusah payah dan bekerja keras. Kerja keras hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.
Di situlah sebuah kreativitas akan mati. Karena sesungguhnya walaupun menulis itu gampang tapi ia adalah sebuah kerja yang harus dilakukan dengan keras, telaten, dan penuh pemikiran. Tidak bisa dengan hanya berpuas diri.
Berpuas diri hanya akan memuarakan diri saya pada ‘ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri) yang sangat membinasakan bahkan menghancurkan agama. Bukankah saya dan kamu juga pernah ingat tentang Nabi kita tercinta yang menegaskan ‘ujub ini digolongkan sebagai perusak agama? Ia disebut pertama kali dari dua hal lainnya yang merusak agama, yaitu kikir dan hawa nafsu yang diikuti.
Ternyata betul sekali. ‘Ujub menjadi unsur pertama pemusnah agama timbul karena saya akan merasa segala nikmat yang diberikan Allah SWT itu hadir atas usaha saya sendiri. Saya yang sudah memiliki sifat seperti ini akan merasa bangga dengan diri saya sendiri, melebihi rasa bangganya terhadap kebesaran Allah.
Lalu pada tahap selanjutnya, sifat ‘ujub ini bisa berkembang menjadi riya. Saya yang memiliki sifat riya selalu ingin agar kebaikan-kebaikan saya ini dilihat orang lain. Dari sifat riya itu akan muncul pula sikap takabur. Jika sifat ini sudah ada pada diri saya maka musnahlah kehidupan beragama saya. Saya berlindung pada Allah atas sifat-sifat yang sedemikian rupa ini.
Jadi, jikalau kamu-kamu yang sudah mulai berkomitmen diri untuk menjadikan menulis sebagai jalan untuk dapat mencerahkan orang lain, selain dibutuhkan keuletan dan kesabaran untuk terus melatih dan mengasah kemampuan itu, dibutuhkan pula kesiapan mental menghadapi pujian dan rasa cepat berpuas diri.
Introspeksi atau muhasabah diri adalah jalan terbaik untuk memiliki kesiapan mental itu. Dengan muhasabah diri, saya dan kamu akan merasa bahwa semua pujian itu hanyalah milik Allah semata. Juga karena mereka yang memberikan pujian itu tidak mengetahui betapa banyak aib yang telah saya dan kamu perbuat selama hidup ini. Jikalau mereka mengetahui tentu mereka tidak akan pernah memuji saya dan kamu.
Akhirnya jikalau muhasabah itu menjadi keseharian saya dan kamu, kreatifitas itu akan senantiasa hidup dalam diri. Karena ide senantiasa ada dan mengalir mengisi pena-pena kita di setiap harinya. Menghitamkan layar putih komputer itu dengan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat yang tersusun lancar dan enak dinikmati. Lalu kita tidak perlu cemas. Dan kita, saya dan kamu, pada akhirnya bisa tidur nyenyak. Insya Allah.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’:
1. A. Ilyas Ismail, Bahaya Pujian, Republika, 18 Juni 2005;
2. Suprianto, Pemusnah Agama, Republika, 09 September 2005.

***
sekadar tips untuk menulis
jelang ramadhan ini sudikan saya untuk memberi salam hormat buat mas danang sh, mas Isa, masker, maswin, ustadz andi harsono, mbak anis, mbak atik, mierza imoet, deedee, mbak listya, eko anakitebet dan atifah, salsabila, jund1, mas ekonov, abu amru, ibnu umar, binanto, budi utomo, mentari pagi, suprayitno, anggun, azzam mas budi, abu dhaby, brazkie, abu salma, abu fauzan, gaza, java, andri tasik makassar, viviet di ciblog, sajadah biru, abu miqdad, joen dan kafanputih, lumpur kering, kuswedi, alkhoir, firdaus, fathur, tri satya hadi, seseorang di bogor, dan lain-lainnya yang saya tak bisa sebut namanya satu persatu. Semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya. ini cita besar kita semua.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:54 10 September 2007

MENOLAK SI TITIN


MENOLAK SI TITIN
(Sebuah Kiat)

Cerita pendek (cerpen) saya yang berjudul TITIN BARIDIN ditolak oleh Harian Umum Kompas untuk dimuat di kolom sastranya. Suatu hal yang biasa sebenarnya dan sudah dipahami betul bagi saya sebagai penulis pemula. Hal yang paling saya kagumi dari redaktur Kompas adalah profesionalitas mereka. Yaitu pemberitahuan penolakan tersebut kepada si penulis yang tidak memakan waktu lama. Dalam kasus saya cuma dalam waktu dua minggu saya sudah tahu keputusannya.
Pemberitahuan ini jarang sekali dilakukan oleh redaktur harian yang lainnya. Sehingga terkadang penulis harus menunggu berminggu-minggu bahkan sampai tiga bulan untuk mengetahui karyanya dimuat atau tidak. Bahkan sama sekali tidak diberitahu. Walaupun ditolak, sebenarnya pemberitahuan itu penting agar penulis bisa mengirimkannya ke media lainnya dengan cepat tanpa lebih lama menunggu.
Sebagaimana saya mengirimkan cerpen di atas kepada Kompas melalui surat elektronik (email) Kompas memberitahukan penolakan pemuatan itu juga melalui media yang sama. Isinya adalah: “Maaf cerpen Anda tidak sesuai dengan Kompas.”
Sempat terpengaruh juga dengan penolakan tersebut. Tapi saya tepis segera kemasygulan itu dan menghibur diri saya sendiri. Masih banyak media lain yang bisa saya kirimi. Pun, kalaupun tidak bisa tembus juga, karya saya yang sudah dibaca banyak orang di kalangan internal sudah patut untuk disyukuri. Tinggal membuat karya-karya lain yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Tidak berputus asa di sana. Saya mengirimkan cerpen tersebut untuk mengikuti seleksi cerpen yang akan dibahas di diskusi bulanan Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat, Ahad, 26 Agustus 2007. Dari banyak cabang seperti DKI Jakarta, Depok, Ciputat, dan Bekasi mengirimkan masing-masing cerpen unggulannya. Alhamdulillah, cerpen saya yang ditolak Kompas itu masuk nominasi untuk diikutkan di diskusi tersebut. Cerpen saya itu adalah salah satu dari lima cerpen unggulan yang mewakili FLP Depok.
Total cerpen yang dibahas sebanyak dua puluh cerpen. Salah satu judul cerpen menjadi kaver dari kumpulan cerpen yang akan dibahas—biasanya yang dianggap terbaik oleh penyusun kumpulan tersebut. Judulnya adalah Perempuan yang Digoda Malam. Milik salah satu cerpenis dari FLP Depok.
Aturan main dalam pembahasan tersebut adalah pembahas akan mengulas satu persatu cerpen tersebut, mengulas bagus dan jeleknya karya itu. Lalu pada sesi terakhir akan diumumkan cerpen siapa yang dianggap terbaik oleh pembahas mulai nomor urut satu sampai terakhir. Tentu dengan penilaian yang subyektif dan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Kali ini sebagai pembahas adalah Irfan Hidayatullah, Dosen Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, kolumnis majalah Annida, dan mantan Ketua FLP Pusat.
Saat, Kang Irfan—biasa dipanggil demikian—membahas cerpen TITIN BARIDIN, ia memberi judul pembahasannya sebagai berikut: “Lokalitas dan Logika Kalimat”. Tentu banyak kritikan yang saya dapatkan, terutama masalah fokus cerita dan tidak detil dalam penggambaran kemelaratan keluarga Baridin. Kritikan itu saya terima dengan lapang dada.
Singkat cerita, setelah membahas kumpulan cerpen tersebut, Kang Irfan dengan parameter penilaian berupa “keahlian penulis cerita pendek untuk mengubah atau meramu teks menjadi konteks” maka menobatkan cerpen saya TITIN BARIDIN sebagai cerpen terbaik pada diskusi karya hari itu. Mengalahkan cerpen Perempuan yang Digoda Malam dan cerpen berjudul Bukan Dongeng Biasa yang diunggulkan sekali oleh teman-teman di FLP Depok.
“Lokalitasnya kental,” komentar Kang Irfan, “yang benar-benar cerpen,” lanjutnya lagi. Hasil ini, kata Koko Nata, mantan Ketua FLP Depok, menegaskan lagi bahwa daya lokalitas seringkali memberikan penilaian lebih terhadap suatu cerpen. Karena cerpen terbaik di diskusi bulan Juli lalu dengan pembahas Mbak Helvy Tiana Rosa adalah juga cerpen yang mempunyai lokalitas kental, berjudul: Membasuh Megatruh.
Penobatan ini bagi saya adalah sebuah apresiasi yang patut saya syukuri. Tentunya saya tidak bisa untuk cepat berpuas diri. Lalu tenggelam dalam lautan pujian yang seringkali melenakan dan mematikan kreativitas. Masih banyak yang harus saya lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik.
Lalu ada pelajaran yang bisa saya petik dari sebuah kegagalan yang bermula dari Kompas yang menolak si “Titin”, yaitu Sebuah kegagalan akan menjadi kesuksesan ketika kita tidak mudah untuk berputus asa. Ini, bagi saya, adalah sebuah kiat untuk mengatasi keterpurukan mental dari sebuah penolakan. Pula semuanya bermula dari membaca, membaca, membaca, dan berkarya.
Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
setelah dimarahin boss besar
11:09 27 Agustus 2007

MASIH KERE, MASIH MELARAT


MASIH KERE, MASIH MELARAT

By: Riza Almanfaluthi

Dulu sebelum moderenisasi pajak saya sudah dianggap sebagai orang “kaya” oleh teman-teman saya. Saya beri tanda kutip pada kata kaya karena kaya di sini bukan berarti saya punya rumah gedong, uang berlimpah di bank, punya banyak gebetan Wajib Pajak, punya sampingan mengajar di mana-mana, dan punya-punya yang lainnya.

Saya ingat betul seorang teman pernah bilang kepada saya, “Enak betul kamu Za, sudah punya rumah, punya motor, punya istri, punya anak, kerja di pajak, sudah sarjana pula.” Bagi teman saya itu, saya adalah sosok kesempurnaan dari sebuah kesuksesan. Padahal menurut saya banyak sekali orang pajak yang jauh melebihi segalanya daripada saya. Lebih kaya dan lebih sukses.

Pula rumah saya cuma rumah kreditan yang harus saya bayar selama lima belas tahun. Bukan di tengah kota tapi di pinggirannya malah. Yang orang pajak lain akan berkerut dahinya kalau saya sebutkan daerah itu. Motor memang tidak kreditan tapi itu pun diberi oleh teman baik saya. Saya memang punya istri biasa saja, bukan seleb yang luar biasa cantiknya, tapi cukup untuk meneduhkan mata dan hati saya.

Saya memang punya dua anak, yang biasa saja tapi Insya Allah sehat-sehat. Saya memang kerja di pajak tapi bukan pejabat tinggi cuma pegawai rendahan, biasa saja juga. Saya memang sudah sarjana tapi pula bukan dari sebuah universitas ternama di negeri ini, yang banyak dari teman-teman saya ngebetnya minta ampun untuk bisa kuliah di sana walaupun biaya kuliahnya luar biasa besar. Sedangkan saya, cukup dengan mencari tempat kuliahan yang berbiaya 500 ribu rupiah untuk satu semesternya. Syukurnya saya dapat pula masuk ke sebuah sekolah tinggi yang khusus untuk pegawai negeri.

Ya, itulah kesuksesan menurut ukuran pandangan teman saya itu. Mendengar teman saya berkata demikian, saya cuma mengucapkan Alhamdulillah. Saya sudah tentu tidak bisa mengingkari semua itu. Semuanya karena Dia Yang Mahakaya telah berkenan memberikan itu pada saya. Ucapan itu pun sekaligus menyadarkan saya dari keterlenaan dan keterpanaan terhadap teman-teman saya lainnya yang sudah betul-betul kaya dan sukses. Dalam hati kecil, tidak bisa dipungkiri bahwa saya ingin seperti mereka. Sebuah naluri alami manusia yang wajar-wajar saja. Akhirnya saya cuma bisa berkata: “rejeki itu tidak akan kemana-mana.”

Dan betul rejeki itu tidak kemana-mana. Allah telah berkehendak bahwa moderenisasi pajak adalah sebuah keniscayaan. Dan saya adalah salah satu dari ribuan pegawai pajak yang diberikan kepercayaan dari-Nya untuk menikmati moderenisasi ini. Tunjangan naik berlipat kali. Karir pun naik pula. Saya bisa meneruskan kuliah. Saya juga bisa menikmati “kesenangan” dunia yang dulu tidak pernah terbayang sebelumnya untuk bisa dimiliki. Halal lagi. Subhanallah. Saya orang tajir baru.

Tapi di tengah kenikmatan yang begitu banyak menggelontor kepada saya, ada sebuah kekhawatiran—ada sebuah ketidaktenangan—Ia akan mengambil semuanya dari saya. Karena saya tidak pandai bersyukur. Karena saya pelit untuk berbagi. Karena saya menjadi tamak, rakus, serakah. Karena saya berpikir bahwa saya kaya karena semata-mata kepintaran dan keahlian saya semata. Karena saya tidak dekat dan ingat dengan-Nya. Karena saya semakin menjauh dari-Nya. Duh…

Ternyata tajirnya saya dengan harta tidak membuat saya tenang. Ternyata ketenangan bukan ditentukan dari banyaknya harta—sepertinya ini klise karena sering diungkap oleh para penceramah di setiap mimbar—tapi itu memang senyatanya. Yang sering saya lupakan adalah sebuah ketajiran lain yang harus ada pada diri saya. Tajir batin.

Tajir batin akan sanggup mengimbangi keinginan kuat saya terhadap materi. Kalau tajir lahir bentuknya harta yang wujud seperti emas, rumah, pangkat, dan mobil, lalu tajir batin yang seperti apa? “Qona’ah” kata seorang kyai. Qona’ah adalah rasa puas, rasa cukup.

Dengannya, katanya, saya akan ridha terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah kepada saya. Juga akan meminimalisasikan sifat hasud dan dengki serta sifat rakus dan tamak yang begitu mengadhesi pada diri saya. Qona’ah-lah yang akan membumihanguskan fir’aunisasi dan qorunisasi saya. Satu lagi kata kyai itu, “ia adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis. Dan akan melahirkan sifat syukur.”

“Kamu sudah tajir batin?” Saya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Saya langung menjawab tanpa berpikir panjang, “Saya masih kere. Masih melarat. Fakir miskin betul.”

“Kalau begitu siap-siap saja tambah melarat. Batin kagak punya, lahir keblangsak. Fakir dua-duanya.”

“Tapi, betapa banyak yang fakir sefakir-fakirnya batin, ia tetap tajir lahirnya. Malah tambah tajir, dan semakin tajir.”

“Wah itu sih istidraz. Suatu pembiaran di dunia yang kelak seberat-beratnya azab di sana.”

Ah, betapa muyul (kecenderungan) kepada duniawi begitu kuatnya menggoda. Keinginan yang tidak pernah habis-habisnya. Kesibukan yang tidak pernah terselesaikan. Kebutuhan yang tidak berujung. Angan-angan yang tidak pernah tercapai. Semuanya karena pada pagi hari saya sering menjadikan dunia sebagai konsentrasi utama dan begitu banyak hak-hak Allah yang terlalaikan.

Ah, betapa Qona’ah adalah adalah sesuatu yang dirindukan. Duh, lalu kapan saya bisa tajir batin bila ia senantiasa hanya dirindu, bukan dicari dan diupayakan?

Maraji’:

Kekayaan Batin, KH Didin Hafidhuddin, Republika, 08 Juli 2005

Mewaspadai Empat Perkara, Taufik Munir, eramuslim, 19 Agustus 2005

dedaunan di ranting cemara
Jum’at dengan rindangnya kontemplasi
10:17 24 Agustus 2007

FALATEHAN


FALATEHAN

Ada lagi perbincangan menarik antara kyai dan santrinya. Tidak lagi tentang wanita idaman si Santri. Tapi, kini si Santri mulai memperbincangkan hal lainnya. Tentang sebuah sejarah masa lalu yang masih suram bagi dirinya.
Dan perbincangan itu tidak dilakukan di waktu ba’da subuh seperti dulu saat pagi masih bermandikan cahaya. Mereka berbincang-bincang saat mereka rehat di saung di tengah sawah setelah berlumpur-lumpur ria membersihkan tanaman padi dari rumput-rumput liar yang mengganggu.
Santri : Ki, kemarin dalam sebuah diskusi, seorang teman masih saja percaya bahwa sesungguhnya Fatahillah yang menakhlukkan Sunda Kelapa adalah Sunan Gunung Jati itu sendiri. Padahal dari sejarah yang saya baca dan juga dari film yang saya tonton dulu, Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda. Mohon penjelasannya Ki?
Kyai : Kok tanyanya ke saya?
Santri : Ah, saya tahu Kyai sangat paham betul tentang sejarah ini. Di lemari buku Kyai saya lihat banyak sekali buku-buku sejarah. Apalagi kalau tidak salah Kyai juga keturunan Elang Cirebon.
Kyai : Kalau sudah tahu ada buku-buku sejarah di sana, mengapa tidak kau baca buku itu sendiri?
Santri : He…he…he…saya lagi malas baca Kyai. Tinggal mendengarkan saja dari Kyai kan enak.
Kyai : Jang…jang…Santri model kayak kamu inilah yang biasanya enggak akan eksis nanti setelah keluar dari pesantren. Dan hanya menjadi korban dari imperialisme dan kolonialisme gaya baru. Inginnya serba instan, cepat, dan ending oriented. Proses terabaikan.
Santri : Iya Kyai, saya kan sudah mengaku. Tapi cobalah Kyai sempatkan berbagi kepada saya tentang itu. Bisa kan Kyai?
Kyai : Tapi untuk kali ini saja. Lain kali kau bisa membacanya langsung. Tak perlu bertanya kepada saya lagi. Kecuali memang ada hal-hal yang tidak kau mengerti atau pertanyaan yang diawali “mengapa”.
Santri : Insya Allah Kyai.
Kyai : Seringkali orang menyamakan Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Padahal keduanya merupakan orang yang berbeda. Namun masih mempunyai kekerabatan dari hasil perkawinan. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah, Penguasa Cirebon dan Banten. Syarif Hidayatullah sendiri adalah cucu Raja Pajajaran yang amat berkuasa pada masanya yaitu Prabu Siliwangi. Awalnya dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, lahirlah Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sengara.
Setelah meninggalnya ibu mereka, Raden Walangsungsang dan adik perempuannya belajar agama Islam kepada Syaikh Datu Kahfi di Gunung Ngamparan Jati. Mereka diperintahkan gurunya untuk pergi haji ke Mekkah setelah tiga tahun belajar bersamanya.
Santri : Hebat juga, anak-anak dari Prabu Siliwangi memilih keluar dari keraton dan memilih Islam sebagai petunjuk hidupnya.
Kyai : Ohya tentu, karena pada saat itu Islam menjadi tamaddun yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa di dunia. Walaupun Andalusia baru jatuh, tetapi muncul kekhalifahan baru yang masih membuat peradaban Islam masih tetap bercahaya cemerlang, yaitu Kekhalifahan Utsmani.
Santri : Ngomong-ngomong tamaddun itu apa?
Kyai : Peradaban. Lanjut. Jadi seperti zaman sekarang, kalau sudah disebut nama Amerika kita langsung membayangkannya sebagai negara paling modern, maju, kaya, dan pusat ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan saat itu, Islam menjadi sesuatu yang diperbincangkan di banyak tempat. Apalagi dengan para pedagang Muslim yang mengembara ke berbagai tempat di belahan dunia lainnya untuk berniaga sekaligus membawa misi Islam.
Juga Mekkah dan Madinah walaupun tidak lagi menjadi sebuah pusat kekuasaan politik Islam sejak Khalifaturrasyidin terakhir, tetapi sebagai pusat kesempurnaan rukun Islam dan napak tilas sirah nabawiyyah maka kedua tempat itu adalah sesuatu tempat yang harus mereka kunjungi sebagai muallaf yang bersemangat dalam berislam. Sebagaimana kota-kota Islam terkenal lainnya seperti Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Istanbul. Wajar kedua anak Prabu Siliwangi ini pun pergi ke tanah Arab.
Santri : Terus bagaimana Kyai?
Kyai : Setelah menunaikan haji Raden Walangsungsang kembali ke tanah Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan, yang masih merupakan kekuasaan Pajajaran. Pasambangan kemudian berkembang menjadi Cirebon, dan Raden Walangsungsang memperoleh gelar Pangeran Cakrabuana.
Sedangkan Nyai Lara Santang dilamar oleh bangsawan Arab dari Bani Hasyim, yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Dan melahirkan anak yang ia beri nama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa Syarif memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Lalu ia pergi ke Cirebon menemui pamannya. Setelah pamannya wafat, Syarif menggantikan kedudukan pamannya dan berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Santri : Wah, Sunan Gunung Jati keturunan Suku Quraisy juga ya Ki?
Kyai : Dari silsilahnya demikian. Lalu setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam dan lepas dari pengaruh Pajajaran, ia meluaskan pengaruhnya kepada kerajaan-kerajaan yang belum mengenal Islam seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dan ini didukung oleh Demak.
Berhubung pada saat itu Demak sedang berkonfrontasi dengan Portugis, dan Pajajaran bersekutu dengan Portugis dalam penguasaan perdagangan rempah-rempah, juga dikarenakan Banten—yang merupakan wilayah Pajajaran—merupakan pelabuhan yang strategis dan ramai yang dikunjungi oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri, maka menarik minat Demak untuk menguasai Banten.
Diutuslah panglima perang Kerajaan Demak sekaligus menantunya sendiri yaitu Fatahillah untuk menyerbu Banten. Sebelum ke Banten, Fatahillah mampir ke Cirebon ke rumah mertuanya.
Pasukan Demak dan Cirebon bergabung di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati , Fatahillah, Dipati Keling, dan Dipati Cangkuang menuju Banten. Di sana, anaknya Sunan Gunung Jati bernama Maulana Hasanuddin yang menjabat sebagai bupati juga melakukan pemberontakan kepada penguasa Pajajaran, sehingga mereka tidak menemui kesulitan untuk merebut Banten.
Di Banten, Sunan Gunung Jati meletakkan dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan orang-orang Islam di Banten pada tahun 1525 atau 1526. Ketika ia pulang ke Cirebon, Banten diserahkan kepada kembali anaknya Maulana Hasanuddin. Di tahun 1527 itulah atas prakarsa Sunan Gunung Jati penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan. Dipimpin juga oleh Fatahillah.
Santri : Panjang benar nih Kyai menerangkan. Sebenarnya bagi Demak Sunan Gunung Jati itu pengaruhnya seberapa besar sih?
Kyai : Oh tentu pengaruhnya besar sekali. Menurut Babad setempat yaitu Babad Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720, Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari Wali Songo. Tentang ini kamu pasti sudah tahu Jang. Ia sangat dihormati oleh raja-raja lain di Jawa karena kepemimpinan dan keilmuannya sehingga sering disebut pula sebagai Raja Pandita. Ia pun adalah salah satu pembuat soko guru Masjid Demak, selain Sunan Ampel, Kalijaga, dan Bonang. Sekarang kamu sudah mengerti belum?
Santri : Alhamdulillah, Ki. Saya jadi paham kaitan antara Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati. Mereka bukan orang yang sama.
Kyai : Tapi jangan salah loh, beberapa tahun yang lalu koran nasional sekaliber Republika pernah menulis bahwa Fatahillah itu adalah Sunan Gunung Jati. Argumentasinya adalah bahwa Sunan Gunung Jati punya banyak nama di antaranya adalah Muhammad Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati. Sedang menurut babad-babad (cerita), nama asli Sunan Gunung Jati sangatlah panjang, yaitu Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah. Jadi bisa jadi bahwa Fatahillah itu adalah Falatehan, dan Falatehan itu adalah Sunan Gunung Jati.
Tapi kalau saya baca dari tulisan itu amatlah lemah. Karena sisi historisnya digambarkan dengan alur yang loncat-loncat dan tidak bisa dimengerti. Jadi saya lebih memilih bahwa mereka bukanlah orang yang sama.
Santri : Kenapa nama Fatahillah juga disebut sebagai Falatehan, Ki?
Kyai : Salah seorang orientalis Barat yang terkenal bernama Dr BJO Schrieke, mengatakan bahwa dari hasil penyelidikannya nama Falatehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab: Fatahillah. Kayaknya sudah cukup saya menerangkan ini kepada kamu. Kamu tinggal baca referensi yang lain.
Santri : Insya Allah tadi sudah cukup. Nanti kalau saya belum puas tentang sejarah Cirebon dan Banten saya akan baca di perpustakaannya Kyai. Boleh ‘kan Kyai?
Kyai : Boleh-boleh saja Jang. Tapi ingat, jangan melirik-lirik si Ai yah…
Santri : Lah dulu Kyai yang menawarkan. Saya boleh dong mengenal lebih dekat?
Kyai : Ah, inget aja kamu ya Jang. Ah pokoknya jangan nyerempet-nyerempet. Luruskan niat mau belajar. Bukan untuk yang lain.
Siang pun masih terik dengan matahari yang membakar. Sawah sudah mulai menyapa mereka agar menuntaskan pekerjaannya hingga senja kan jelang.
***
Maraji’:
1. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=146425&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=185
2. Sejarah Emas Muslim Indonesia, Sabili, No.9 Tahun X 2003;
3. Ensiklopedi Islam, Jilid 1 dan 5, Cetakan Keenam, PT Ictiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 31 Juli 2007

YULIA HASANAH


YULIA HASANAH
MENULIS ADALAH HIDUPNYA

Perawakan gadis ini biasa saja. Tingginya pun seukuran tinggi kebanyakan perempuan Indonesia. Kulitnya hitam manis. Dengan wajah dan matanya yang membulat. Menghasilkan sebuah karya yang fenomenal melebihi J.K. Rowling adalah obsesi terpendam gadis berjilbab bernama Yulia Hasanah ini. Oleh karena itu penyuka komik ini berusaha mewujudkannya dengan mengikuti Batre (Basic Writing Training for Beginner) Angkatan V yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Depok.
Tidak berhenti di sana, ia senantiasa berusaha menulis di setiap harinya agar kemampuan menulisnya semakin terasah. Dan terbukti seluruh tugas yang diberikan oleh tutor dalam pelatihan itu selalu dikerjakannya. Misalnya tugas merekonstruksi sebuah dongeng dunia yang bila dibaca ternyata terasa amat memukau.
Bagi anak terakhir dari lima bersaudara ini menulis adalah hobinya, menulis adalah hidupnya. Agar ia dapat hidup maka ia perlu membaca. Maka tak heran tas punggungnya yang selalu ia bawa kemana-mana itu berisi banyak buku untuk menyalurkan hobinya membaca.
Walaupun dirasa pendiam dan pemalu oleh temannya dalam pelatihan itu, juga pemalasnya yang ampun-ampunan dan suka menggampangkan persoalan seperti yang diakuinya sendiri, Yulia punya cita-cita luhur yaitu menjadi orang yang berguna di dunia dan akhirat. Ya, sebuah cita-cita yang amat mulia bagi perempuan yang teramat sangat untuk kuliah ini. Tapi sayang sampai saat ini keinginannya belum terpenuhi karena alasan klasik yang dialami sebagian besar pelajar Indonesia, yaitu masalah biaya. Jika saja masalah ini teratasi ia berkeinginan untuk masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Namun pada dasarnya inilah bentuk pengorbanannya kepada orang tuanya sebagai sebuah realisasi nyata dari cita-cita luhurnya itu, yaitu menjadi orang berguna. Bukan menjadi orang yang tidak berguna karena memaksakan diri dan orang tuanya untuk menguliahkan dirinya. Sungguh sebuah akhlak terpuji yang perlu ditiru bagi remaja Indonesia lainnya yang saat ini diserbu oleh hedonisme dan konsumerisme.
Semoga tetap istiqomah.

MAZHAB SELANGKANGAN


MAZHAB SELANGKANGAN
By: Riza Almanfaluthi

Saat ini saya tidak membahas masalah perbedaan pendapat di ranah fikih hanya gara-gara menampilkan judul dengan kata awal: mazhab. Karena sudah jelas tidak ada kata yang kedua dalam pemikiran Islam. Tetapi saat ini saya hendak mengutarakan sesuatu yang menjadi polemik belakangan ini. Polemik yang hampir-hampir menyerupai pertarungan pemikiran di tahun 70-an antara Nurkholis Madjid dan H.M. Rasyidi dan berpuncak di tahun 1994 antara Nurkholis Madjid dan Daud Rasyid di Taman Ismail Marzuki (TIM), yaitu polemik dan benturan pemikiran Islam versus sekulerisme.
Setelah rehat beberapa saat—walaupun masing-masing telah bermetamorfosis membentuk lembaga-lembaga sesuai dengan keyakinan pemikirannya masing-masing seperti partai politik atau jaringan komunitas—maka polemik itu muncul kembali. Tidak di ranah yang sama, tapi di ranah yang sepi dari publikasi dan apresiasi masyarakat secara luas yaitu sastra. Maka dari itu kebanyakan yang mengetahui polemik ini adalah mereka selaku pegiat sastra Indonesia, baik pelaku, penikmat, penggembira atau sekadar kepura-puraan dari ketiganya.
Polemik itu dimulai dengan tulisan Hudan Hidayat (pengusung liberalisme sastra) di Jawa Pos (06 Mei 2007) yang “membuka front” dengan mengkritik Pidato Kebudayaan Taufik Ismail yang dibacakan (lagi-lagi) di TIM akhir tahun lalu. Dalam pidatonya itu Taufik Ismail membunyikan genderang perang terhadap para satrawan atau cuma setengah sastrawan yang mengusung Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) di setiap karya mereka. Maka setelah dipicu demikian, perang pemikiran sastra meledak dengan hebatnya. Entah melalui media nasional ataupun lokal dan diskusi-diskusi komunitas.
Kali ini saya tidak akan ikut berdiskursus dalam polemik itu, walaupun sudah jelas keberpihakan saya ada di mana. Bagian argumentasi disertai ribuan fakta biarlah mereka sendiri—para sastrawan—yang bersuara. Sedangkan bagian saya, biarlah yang remeh temeh. Dari berbagai wacana di kedua belah pihak itu saya cuma ingin menjelaskan kepada masyarakat luas atas sebuah ketidaktahuan bahwa inilah yang disebut Sastra Mazhab Selangkangan itu.

Apa itu Sastra Mazhab Selangkangan?
Sastra Mazhab Selangkangan (SMS) atau sering juga disebut Fiksi Alat Kelamin (FAK) ini menurut Taufik Ismail adalah sebuah genre baru dalam sastra Indonesia yang muncul setelah gelombang besar reformasi membawa perubahan politik di tanah air. Digerakkan oleh mereka yang permisif, adiktif, serta sesuai dengan karakteristiknya memang pantas untuk disebut sebagai bagian dari GSM (Gerakan Syahwat Merdeka).
Ciri sastra ini menurut Sunaryono menganut vulgarisme deskriptif selangkangan. Sedangkan menurut Wowok Hesti Prabowo adalah mazhab yang senantiasa menyebarkan aliran neo-liberalisme yang cenderung memperbolehkan pengikutnya berbuat apa saja sebagai perayaan “hak asasi manusia”. Juga bercirikan nonsens (tidak penting), porno-praxis (mendewakan tubuh dan seks), dan cenderung anti peran agama (sekuler). Sastra-sastra nonsense merayakan hal-hal sepele, seperti odol, sikat gigi, sepatu biru, celana dalam, sarung, dan sesekali agar keren juga mengeksplorasi daun mapel, pohon willow dan rumput azalea yang jarang bahkan sukar ditemukan di Indonesia.
Bahkan menurut Viddy beberapa media sastra Jakarta pun telah bertahun-tahun ikut merayakan kata-kata semacam rembulan tumbuh di dengkulku, kapal berlabuh di meja makan, pu**** su**mu patah di altar (maaf), atau malam biru menggoreng onde-onde yang cukup membingungkan bahkan bagi penyair dan budayawan senior sekelas Abdul Hadi WM waktu membedah puisi-puisi semacam itu di Cakrawala Sastra Indonesia yang diselenggaraan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Lalu Siapa Pelopor SMS?
Awal dan pertengahan tahun 2002, muncul Larung (Ayu Utami), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), dan Ode untuk Leopold Van Massoch (Dinar Rahayu). Ketiga novel ini ini secara gamblang berbicara tentang seks. Larung adalah kelanjutan dari novel seksual juga yang berjudul Saman yang lahir dan menjadi pemenang dari Sayembara Menulis Novel DKJ.
Kemudian Djenar Mahesa Ayu secara menggemparkan di salah satu bukunya yang berjudul Waktu Nayla menceritakan tentang adegan oral seks antara seorang anak perempuan dengan ayah kandungnya! Luar biasa berani! Yang menurut Kathrin Bandel, seorang kritikus sastra, novel itu tidak mempunyai logika cerita.
Siapa Pendukung SMS?
Saat ini Komunitas Teater Utan Kayu (TUK) bisa disebut sebagai penarik gerbong kereta liberisasi sastra ini. Sejalan dan seide dengan liberalisasi pemikiran agama yang dilakukan oleh para dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL).
Didukung juga oleh media nasional dan lokal yang senantiasa perhatian terhadap karya-karya mereka. Sehingga sepertinya sastra Indonesia hanya berkutat pada sastra-sastra yang antimanfaat.
Dengan big boss-nya adalah jaringan globalisasi Yahudi, Viddy menulis: “Pemikir Islam, Yusuf Qaradhawi, pernah mengatakan, bahwa globalisasi kebudayaan adalah jalan untuk menghancurkan kearifan-kearifan lokal agar suatu bangsa hanya mengekor kepada satu kebudayaan global, yakni kebudayaan Yahudi-Free Mason. Filsuf-filsuf dunia yang mendukung “penghancuran kearifan lokal” seperti Roland Barthes, Michael Foucoult, dan Raman Shelden, telah lama dipuja-puja sejak awal kelahiran dan pendirian TUK.”
Apa yang Dilakukan Mereka Saat Ini?
TUK kini juga mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai tempat dan daerah, sebagai bagian dari “gerakan politik sastra” untuk liberalisasi. Pada tataran strategis mereka telah berhasil menguasai DKJ.
Lalu dominasi mereka di Koran-koran dan majalah mereka selama bertahun-tahun. Mengadakan anugerah seni dan sastra liberal. Serta dengan jaringan yang mengglobal, mereka dapat mengirimkan ke setiap pesta puisi internasional orang-orang yang hanya sejalan dengan pemikiran mereka.
Adakah yang Melawan Hegemoni Mereka?
Ada. Baik dengan karya maupun wacana. Taufik Ismail bisa jadi adalah lawan berat mereka. Juga Gola Gong dan Saut Situmorang (yang ini seorang Nasrani). Di belakangnya banyak tokoh komunitas dari Yogya, Medan, Depok, Pekanbaru, dan Banten berusaha untuk melawan ideologi sekuler tersebut. Forum Lingkar Pena (FLP) diharap banyak oleh para pelawan TUK ini, karena jumlah anggotanya yang banyak, tersebar di seluruh Indonesia, dan pembinaan calon penulis yang dikenal baik. Juga karena idealisme yang dipegang teguh sesuai dengan visinya yaitu menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan umat.
Tapi sayang, menurut Ketua FLP-nya sendiri, M Irfan Hidayatullah—melawan mereka FLP seringkali hanya bermodal semangat. Selalu kehabisan referensi dan tidak didukung dengan wawasan yang kaya. Ini disebabkan karena kurangnya budaya membaca. Oleh sebab itu ia menyarankan untuk senantiasa menumbuhkan semangat baca yang tiada padam. Tiada hari tanpa membaca. Tiada hari tanpa perkembangan wawasan keislaman, kebudayaan, dan kesastraan!
***
Apa yang saya sampaikan di sini adalah informasi mini dan singkat dari sebuah gerak sastra penganut paham kebebasan seenaknya. Lebih lanjut dan lebih luasnya pembaca dipersilakan untuk mengeksplorasi khazanah perdebatan sastra ini melalui publikasi media baik di dunia nyata ataupun maya. Lalu tinggal menentukan pilihan keberpihakan. Suatu kejanggalan bilamana seseorang tidak memilih.
Sebagaimana seorang teman memilih untuk bergenre feminisme—anak kandung dari liberalisme itu sendiri—dalam setiap karyanya, maka saya tidak bisa memaksa. Karena semuanya memiliki konsekuensi masing-masing. Semuanya kembali pada pilihan masing-masing. Tentunya sang teman pun tidak bisa memaksakan ideologinya kepada saya, mengutip Helvy, seperti yang dilakukan oleh sastrawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideologi mereka sebagai dasar.
Karena sesungguhnya, bagi saya menulis adalah suatu ekspresi yang harus bisa mencerahkan orang. Sekaligus sarana menganjurkan kebaikan dan menghindarkan kemungkaran. Dan di setiap huruf yang tertulis ada tanggung jawab yang diminta oleh Sang Mahapemiliksastra. Sang Pemilik Keindahan Sejati.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji:
1. Adian Husaini, Penyesatan Opini: Sebuah Rekayasa Mengubah Citra, Gema Insani Press: 2002;
2. Helvy Tiana Rosa, Segenggam Gumam, Syamil CIpta Media, Bandung: 2003;
3. Hudan Hidayat, Nabi tanpa Wahyu, Jawa Pos, 1 Juli 2007
4. Hudan Hidayat , Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya, Jawa Pos, Minggu, 06 Mei 2007 http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=283968
5. M. Irfan Hidayatullah, sebuah email untuk forum_lingkarpena@yahoogroups.com;
6. Taufik Ismail, 13 Wajah Gerakan Syahwat Merdeka,
Perspektif, Gatra Nomor 7 Beredar Kamis, 28 Desember 2006 http://www.gatra.com/artikel.php?id=100809;
7. Taufik Ismail, HH dan Gerakan Syahwat Merdeka , Jawa Pos, Minggu, 17 Juni 2007,
http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=290339;
8. Sunaryono Basuki Ks, Gonjang Ganjing Sastra Selangkangan: Bagian pertama dari Dua Tulisan;
9. S. Yoga, Puritisme dalam Sastra Indonesia: Tanggapan untuk Imam Cahyono;
10. Viddy AD Daery, Sebuah Tulisan.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:17 08 08 2007