MENCONGAK RINDU


mencongak rindu
***
satu biji

dua biji
  tiga biji
aku congak ribuan rindu di hati
bila kurang aku ambil
 sebiji dua biji rindu
bila lebih aku serahkan
 sebiji dua biji rindu
rindu dari siapa?
rindu untuk siapa?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.35 WIB
 

menyapa ramai di tepian kubur


menyapa ramai di tepian kubur
***

ada raga dingin di balik putihnya kain
menghela keramaian sekeliling
menghiba kala agar cepat menyingkir
maka aku bopong tubuhmu tanpa darah mengalir
kerandamu sudah menunggu
tikar pandan sudah menggulungmu
kini, tanah merah sudah menelanmu
lalu keraiaman apalagi yang kau tunggu
keramaian apa lagi yang kau sapa
kecuali dua yang datang padamu

setelah itu aku melihatmu
pada bayang-bayang malam
sepanjang malam…

*

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.30 WIB
janjian tawuran berujung nyawa,
duhai anak tetanggaku

OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN PARAH


SEBARKAN OBAT TRADISIONAL INI Kawan, ini bukanlah cerita bohongan sebagaimana teman-teman saya bilang tentang sebuah cerita fiksi. Karena apa yang akan aku ceritakan kepada kamu semua adalah cerita bukan fiksi, cerita nyata tentang apa yang dialami oleh sahabat saya. Dia adalah benar-benar sahabat saya sekaligus guru kehidupan saya. Tak perlu kamu tahu nama dia yang sebenarnya. Cukup panggil saja dia A Hun.

A Hun, teman saya ini, berpesan kepada saya untuk menceritakan apa yang dialaminya agar dapat bermanfaat buat orang lain. Karena apa yang dia alami benar-benar di luar perkiraannya. Ya, A Hun menderita ambeien parah, tak perlu juga saya sebutkan proses keparahannya itu karena saya khawatir kamu yang sedang makan dan membaca tulisan ini jadi tidak bisa makan lagi, karena kamu terlalu serius dan fokus untuk membayangkannya. Ah, masalah ini cukup Dibaca dan didengar saja. Selesaikan saja makan kamu lalu barulah mencoba membayangkannya, tetapi tak perlu mengutarakannya lagi pada saya. Karena saya sudah terlalu banyak menelan segala cerita tentang itu.

Ohya, kembali kepada A Hun—ingat yah dia itu teman saya—karena parahnya itu, berobat ke dokter umum sampai dua kali pun belum bisa membuat pendarahannya berhenti (tak perlu membayangkan lebih dalam lagi). Sampai harus di rujuk ke rumah sakit dan dokter di sana sudah bersedia untuk melakukan operasi kecil pada hari yang telah ditentukan.

Karena sudah trauma dengan selang yang pernah masuk dari alat vitalnya (maaf) waktu dia di opname karena sakit ginjal, maka ia sangat ketakutan sekali mendengar kata operasi ini. Ia pun berdoa agar penyakitnya segera sembuh. Untuk itu ia berusaha pula untuk mencari obat-obatan alternatif atau tradisonal. Dan ia mendapatkan sesuatu yang berharga untuk proses penyembuhannya. Di tengah pencarian itu ia ditelepon dari rumah sakit untuk segera datang ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. A Hun—dia itu teman saya–menolak untuk datang dan ia meminta pihak rumah sakit untuk mengundurkan jadwal operasi itu di keesokan harinya saja. Ia bilang ia belum siap mental.

Ya ada sebuah obat tradisonal yang dianjurkan oleh saudaranya untuk mengatasi penyakit ini. Dan alhamdulillah sembuh. Apalagi proses penyembuhannya cepat sekali. Pagi itu sebagaimana dianjurkan oleh saudaranya, A Hun pun membuat obat tradisional tersebut. Apa obat tradisional itu? Dan bagaimana cara membuatnya? Berikut rinciannya:

1. Siapkan 1 butir kelapa tua;

2. Siapkan 1 butir tomat merah;

3. Siapkan gelas;

4. Siapkan sendok.

Itu saja persiapannya. Lalu selanjutnya apa yang harus dilakukan? Berikut ikhtiarnya:

1. Kelapa diparut, diperas, dan santannya dimasak. Lama kelamaan dari hasil pemanasan ini akan muncul minyaknya. Bila selesai masak minyaknya disisihkan di tempat yang telah disediakan.

2. Lalu masukkan 1 butir tomat ke dalam gelas dan masukkan pula satu sendok makan minyak kelapa yang kita buat. Dan tumbuk secukupnya tomat tersebut dengan memakai sendok tersebut. Tidak perlu sampai halus. Yang terpenting bisa ditelan oleh mulut kita dan dimamah dengan baik dalam pencernaan kita.

3. Setelah itu makan hasil olahan sederhana itu. Kamu buat obat itu dua kali sehari, pagi dan malam. Ingat!, baca basmallah terlebih dahulu sebelum menelannya.

4. Senantiasa berdoa.

Apa yang terjadi kawan-kawan di saat A Hun–dia teman saya loh yah–memakan obat tradisonal itu? Yup, alhamdulillah paginya di saat ia memenuhi panggilan alam seperti biasa, buang air besarnya itu sama sekali tidak ada pendarahan, tidak ada rasa sakit yang selama ini membayanginya. Benar-benar luar biasa. Subhanallah. Walhasil ia membatalkan operasi itu. Selama beberapa hari selanjutnya ia tetap meneruskan pengobatan tradisional mandirinya itu. Dan diceritakanlah kesuksesan itu kepada saya dan menyuruh saya untuk menceritakannya kepada orang lain agar asas kemanfaatan ini bisa dirasakan banyak orang.

A Hun, dia itu teman saya, telah berdoa dan berupaya untuk kesembuhan penyakitnya lalu hasilnya diserahkan kepada Allah. Syukurnya Allah mengabulkan doanya dan menerima ikhtiarnya itu. Lalu agar ia mendapatkan pahala kebaikan lebih, ia memberikan petunjuk atau cara bagus ke arah kebaikan ini kepada orang lain agar orang lain pun merasakan hal yang sama tentang manfaat obat ini. Kata qudwah kita Rasulullah saw: Addaalu ‘alal khoiri kafaa’ilihi 1). Barangsiapa yang menunjuki jalan kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. Luar biasa bukan?

Juga karena A Hun tidak mau dicap sebagai kufur nikmat maka ia mau menyebarkan kebaikan yang ia peroleh itu kepada yang lain. Bukankah Jenderal Besar, teladan kita, Muhammad Saw itu juga pernah bilang: “barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti) dia mengkufuri nikmat itu.” 2)

Jadi, kepada kawan-kawan yang mempraktikkan pengobatan tradisional ini lalu sembuh, alhamdulillah, maka dianjurkan untuk menyebarkan informasi ini seluas mungkin agar pula dapat pahala kebaikan yang lebih besar lagi. Insya Allah.

Cukup sekian dari saya untuk kamu-kamu, kawan-kawan saya dari teman saya yang bernama A Hun–dia itu teman saya loh.

**

Telah terbit buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

WhatsApp Image 2020-05-03 at 10.47.59

***

1. HR Bukhori.

2. HR. Ath-Thabrani

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.03 18 Maret 2008

Pesolek


bedakmu tak akan bisa
menghapus kecantikanmu
karena kamu adalah
mata air keelokan
***
Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13 Maret 2008 08:25

 Catatan:

Terinspirasi saat melihat seseorang di kantor yang sedang memulas bedak pada wajahnya.

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari


 

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Terjemahan                                : Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Asli                                  : Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah

Penulis                 : Abdul Karim Zaidan, Dr.

Penerjemah       : Muhyidin Mas Rida Lc.

Penerbit              : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

Cetakan               : Pertama, Februari 2008

Tebal                     : xxxii + 280 hlm

·         Seseorang yang tidak mampu membayar utang, diberi tangguh sampai mampu melunasi utangnya;

·         Seseorang dalam keadaan sangat kelaparan, kemudian dia memakan makanan orang lain, maka dia harus mengganti seharga makanan tersebut;

·         Sesuatu yang haram diterima, juga haram diberikan;

·         Tidak boleh membuat bangunan yang dapat merugikan orang lain;

·         Seseorang yang merasa dirugikan, tidak boleh membalas dengan merugikan orang lain, tetapi harus lapor ke pengadilan;

·         Diperbolehkan membunuh para pemberontak;

·         Tidak boleh menutup toko yang baru karena kehadirannya dianggap merugikan toko yang lama.

(kaver depan)

***

                Mengikuti berbagai forum diskusi dan kajian tentang fikih maka kita akan sering mendapati para peserta diskusi, mentor, guru menyebutkan kaedah-kaedah fikih. Semisal kaedah bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa, mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan, keadaan darurat memperbolehkan melakukan yang dilarang,  atau kaedah suatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya adalah wajib dan masih banyak lagi contoh kaedah yang lainnya.

                Bagi yang ingin memahami lebih lanjut tentang berbagai kaedah ini biasanya harus merujuk pada kitab-kitab fikih yang terkenal. Terkadang yang dibahas hanya beberapa kaedah saja. Kebanyakan pula referensi tersebut tersedia dalam bahasa Arab. Ini tentu menyulitkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa itu. Maka buku terjemahan yang diterbitkan baru-baru saja ini, tentunya sangat membantu sekali bagi Anda, para penuntut ilmu ataupun siapapun yang ingin mendalami kajian kaedah fikih dalam kehidupan sehari-hari. Dan Anda tidak perlu membacanya dari awal sampai tuntas untuk mengetahui dengan segera kaedah yang diperlukan. Anda cukup dengan mencari di daftar isinya, lalu menuju halaman yang dituju, dibaca, dan dipahami. Anda dapat membaca buku ini dari kaedah mana saja. Praktis sekali.

                Penulis buku ini mengumpulkan sebanyak seratus kaedah fikih –yang tersebar dari berbagai kitab para ulama—yang bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Kaedah fikih ini—sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit—merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat nash-nash Al-Qur’an maupun hadits menggariskan hukum secara global, sementara permasalahan hukum dari waktu ke waktu semakin komplek dan semakin banyak, sehingga diperlukan metode dalam pengambilan hukum tersebut.

                Buku ini diawali dengan memberikan pengertian apa itu definisi kaedah secara bahasa serta perbedaan antara kaedah fikih dan hukum fikih itu sendiri. Yang menarik lagi dalam buku ini adalah di setiap kaedah yang dibahas diberikan makna,  dalil-dalil, cabang, pengecualian kaedah, serta contoh-contohnya. Ini tentunya lebih memudahkan dan memberikan penjelasan yang menyeluruh bagi para pembacanya.

                Bagi saya, kehadiran buku ini benar-benar merupakan taufik Allah yang diberikan-Nya kepada saya. Betapa tidak, dua atau tiga minggu sebelum saya membeli buku ini saya kesulitan dalam mencari kaedah-kaedah fikih yang diperlukan untuk memahami timbulnya suatu perkara dalam hukum fikih, baik di internet ataupun dalam buku-buku fikih yang saya miliki. Dan akhirnya Allah memudahkan saya dengan menemukan buku ini di suatu pameran buku Islam yang baru saja berakhir hari ini (9/03).

                Walaupun diakui sendiri oleh penulisnya bahwa kumpulan kaedah ini merupakan kumpulan catatan singkat yang berisi penjelasan sebagian kaedah fikih dalam syariat Islam dan belum ditulis secara luas serta komprehensif, setidaknya bagi dunia perbukuan Indonesia  merupakan penambahan harta karun referensi Islam yang amat berharga. Pun bagi saya dan Anda tentunya keberadaan buku ini memperdalam samudra perbendaharaan tsaqofah (wawasan) serta menuntaskan dahaga intelektualitas kita. Semoga.

Riza Almanfaluthi

Tengah malam, 00.01 WIB 10 Maret 2008

dedaunan di ranting cemara

https://dirantingcemara.wordpress.com

               

SERAPAH UNTUK MEREKA


Aih…tanduk siapa yang menjelma pada si angkara murka,

Aih…ekor runcing siapa yang menjelma pada wajah-wajah bengis

dari keturunan para kera

hingga nyawa-nyawa berebutan keluar dari jasad

sungguh Surga untukmu Bur’i…

 

****

Syair kepedihan untuk Bayi-bayi Palestina yang jadi korban biadab Israel.

Riza Almanfaluthi 

16:32 4 Maret 2008

(Berita terkait di sini: Hafez)

BASSE, BAHIR, LAPAR


 

BASSE, BAHIR, LAPAR

                Pagi itu masih dingin. Taujih yang disampaikannya membuat semua yang ada di ruangan tertegun. Di selanya ada isak tangis dan air mata yang mengalir. Sebuah keharuan menyeruak dan mengeliminasi segala keegoan dan menyublim menjadi sebuah perenungan tentang kepedulian.

                Ia bercerita, “Sore kemarin saya membeli ayam bakar karena tidak ada lauk yang dimasak sendiri pada hari itu. Dengan sepiring nasi yang banyak dan potongan dari ayam bakar yang paling saya sukai, saya memulai acara peningkatan gizi itu dengan menonton televisi dan mencari acara yang bagus.”

                “Tapi saat itulah saya terpaku pada sebuah pemberitaan dari Makassar. Pemberitaan yang sungguh ironi dan membuat saya tidak enak hati untuk menghabiskan makanan itu. Betapa tidak, ketika saya makan, pemberitaan adanya ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan anaknya yang balita tewas dan satu anaknya yang lain masih kritis di rumah sakit karena kelaparan, membuat saya tersentak,” lanjutnya lagi.

                “Allahu Rabbi.  Saya melihat sendiri dari tayangan betapa sosok ibu itu terbujur kaku. Mereka sudah tidak makan selama tiga hari. Dan kata tetangganya lagi keluarga itu memang jarang makan teratur. Suami ibu itu pun cuma tukang becak.”

                 Semua yang mendengar perkataannya terdiam dan menundukkan kepala. “Saya menjadi marah, sedih, bercampur aduk. Ada apa dengan negeri kita yang tercinta ini yang banyak dikatakan orang luar negeri sebagai negeri yang kaya dan makmur karena sumber daya alamnya. Apalagi keluarga itu mati di daerah yang disebut sebagai lumbung pangan. Allohuakbar. Lalu ke mana para tetangganya? Lalu ke mana para aghniyanya?  Lalu ke mana saudara-saudara muslimnya? Lalu ke mana para aparat pemerintahnya? Lalu ke mana para wakil rakyatnya? Lalu ke mana para pemimpinnya? Tidakkah mereka semua akan dimintakan pertanggungjawabannya?” tanyanya sambil mengusap air mata yang deras mengucur.

                Mendengar dan melihat kegelisahannya tentang sebuah pertanggungjawaban, saya yang hadir dalam pertemuan pekanan itu menjadi teringat kembali sebuah perkataan yang diungkapkan oleh calon kandidat Gubernur Jawa Barat yang saat itu sedang bersilaturahmi di daerah kami. “Sungguh jabatan dalam pengertian kami adalah sebuah amanah yang nanti akan dimintakan tanggung jawabnya oleh Allah swt. Saya tidak memintanya dan sungguh banyak teman-teman saya yang tidak mau untuk dipilih menjadi calon karena besarnya amanah itu.”

“Hanya karena syuralah sehingga saya ditunjuk maju untuk memenangi dakwah ini. Sungguh, bapak-bapak, Ibu-ibu, nanti saya akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah di padang mahsyar nanti bila rakyat yang saya pimpin tidak bisa makan, rakyatnya tidak bisa sekolah dengan baik, tidak bisa diberikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan. Bahkan jikalau ada kerbau yang kakinya keseleo karena jatuh di jalan yang rusak  berlubang, saya pun akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah.”

Saya merenung tentang peran kita sebagai manusia. Kita adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan bertanggung jawab dalam keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pegawai adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya.  

Saya mendengar kembali apa yang ditaujihkannya di pagi itu yang isaknya sudah mulai reda, “Saudara-saudaraku semua, saya mengajak pada diri saya sendiri dan Antum semua untuk memasang telinga, membuka mata, dan hati kita agar bisa merekam peringatan dini yang disampaikan oleh kerabat dan tetangga terdekat kita di lingkungan masing-masing agar tidak sampai terjadi hal yang demikian. Bahkan kita perlu memberikan perhatian yang lebih terhadap mereka-mereka yang karena izzah atau kemuliaan dirinya tidak mau untuk tangannya berada di bawah. Merekalah yang seharusnya patut kita nafkahi.”

“Semoga ini bermanfaat bagi Antum semua dan menyeruak kesadaran kita agar senantiasa peduli. Dan saya tidak akan membiarkan ini terjadi pada kita, maka jikalau Antum punya kesulitan dalam masalah penghidupan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya,” katanya mengakhiri.

                Ah, sungguh dengan keimanan yang kokoh dan akarnya menghunjam ke bumi akan berdiri sebuah bangunan kebaikan di atasnya. Bangunan penyebaran kemanfaatan kepada sesama. Maka agar bangunan itu senantiasa indah dipandang mata memperbaharui keimanan itu adalah sebuah keharusan. Karena iman di dada pada keturunan anak Adam adalah keimanan yang naik dan turun. Dan sensitivitas pada kebaikan, peka pada permasalahan sosial adalah berpangkal pada keimanan yang kokoh itu. Tidak akan mungkin bagi mereka yang tak mempunyai keimanan akan merasakan sebuah sensitivitas yang membuatnya menangis saat melihat fenomena sosial yang melanda negeri ini dan tidak tergerak untuk beraksi nyata.

                Kawan, senantiasalah waspadalah pada kehidupan kita akan sebuah kepastian bernama kematian. Siap atau tidak itu akan membawa kita pada suatu kenyataan amal apa yang telah kita persiapkan untuk menjadi teman kita di alam kubur sambil menanti kiamat yang entah kapan akan datangnya. Seorang yang berwajah rupawan dan itu adalah amal kebaikan kita di saat masih hidup atau sebaliknya? Maka meneguhkan keimanan kita adalah sebuah keharusan. Tak perlu bermuluk-muluk dengan amal yang besar. Sekadar memberi petunjuk kepada kebaikan maka pahala yang diraih sama saja dengan orang yang melakukan kebaikan itu, percayalah. Dan cukuplah sudah dikatakan bukan muslimin di kala kita tidak memperhatikan urusan kaum muslimin lainnya.

Maka tidaklah mungkin seorang beriman yang teguh ia akan tidak peduli kepada saudaranya yang lain. Tidaklah mungkin terjadi peritiwa di atas jikalau pemimpin yang ada di sana atau di sini begitu sadar dan paham tentang beratnya sebuah amanah. Aih…

Kawan, semoga kekayaan kita tidak akan sampai melupakan tetangga-tetangga kita yang kelaparan. Semoga butiran nasi ditambah lauk terlezat yang kita telan tidaklah sampai membutakan mata hati kita pada erangan saudara-saudara kita yang sakit dan tak punya uang untuk berobat ke dokter atau dirawat di rumah sakit. Semoga apa yang kita miliki membuat keberkahan bagi kita sendiri dan apatah lagi buat sekitarnya. Semoga menjadi pembelajaran.

 

Untuk Ibu Basse, Adik Bahir, dan Calon Adik, semoga Allah melapangkan Anda semua.

 

https://dirantingcemara.wordpress.com

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

16:13 03 Maret 2008

  

Malam


Malam
***

Adalah ranah pendakian
tebing mimpi
terkadang basah
di pagi hari

dedaunan di ranting cemara 

Riza Almanfaluthi
08:30 03 Maret 2008

SEKOLAH GRATIS (BENERAN) BUAT ANAK YATIM


Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhIkhwatifillah, jikalau Antum semua punya kenalan atau tetangga yang mempunyai anak yatim atau dhu’afa dan orang tuanya tidak mampu untuk menyekolahkannya maka saya tawarkan kepada antum semua agar mereka bisa SEKOLAH GRATIS dan mampu untuk menghafal Al qur’an. Sekali lagi tanpa dipungut biaya sama sekali. Juga berijazah SMP Terbuka nantinya. Walaupun si anak yatim ini tidak bisa baca Al-qur’an tidaklah mengapa untuk masuk ke dalam pesantren tersebut, yang penting dan dibutuhkan sekali adalah KESUNGGUHAN MEREKA SAHAJA.

Sekolah Gratis ini diadakan oleh Pesantren Yatim & Dhu’afa Baitul Qur’an yang dikelola oleh Dr. Mushlih Abdul Karim Pimpinan Islamic Center Baitul Qur’an dan beralamatkan di: Tempat PendaftaranKompleks Timah Blok CC-III No.21, Kelapa Dua, Tugu, Cimanggis, Depok 16951 Jawa Barat Telepon: 021-8770 4622, 8770 8070 Faksimili: 021-8770 1338. Syarat Pendaftaran:1.      Lulus SD/MI (Untuk saat ini hanya diperuntukkan bagi anak laki-laki)2.      Usia tidak lebih dari 14 tahun3.      Mengisi formulir pendaftaran dengan melampirkan:          Fotokopi Ijazah;          Fotokopi Akta Kelahiran          Surat Keterangan Yatim atau Dhu’afa dari RT atau Kelurahan;          Pas Foto 3 x 4 ( 4 lembar) Waktu PendaftaranSenin s.d. Jum’at Pukul 08.00-16.00 WIB Dari Bulan Maret – Juni 2008 Test PendaftaranSelasa, 1 Juli 2008 Pengumuman Hasil TestSabtu, 5 Juli 2008  Sekilas Pesantren Yatim dan Dhu’afa Baitul Qur’anAdalah sebuah lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan Baitul Qur’an Indonesia yang terletak di Komplek Timah, kelapa Dua, Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.Dan merupakan pesantren yang khusus mengasuh, mendidik, dan membina anak yatim dan dhu’afa secara terprogram, di mana seluruh santri tinggal dalam asrama dengan program utama menghafal Al-Qur’an 30 juz & terjemahannya. VisiMembina anak didik menjadi generasi Qur’ani MisiMemberikan pengasuhan, pendidikan, pembinaan kepada anak didik agar tumbuh menjadi generasi Qur’ani. Menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penanganan anak yatim dan dhu’afa.Mengangkat harkat dan derajat anak yatim dan dhu’afa sehingga mendapat pendidikan dan kehidupan yang layak. Kurikulum Pesantren Baitul Qur’an          Hafalan Al-Qur’an 30 Juz dan terjemahannya;          Akidah dan Akhlak;          Hadits;          Fiqih;          Sirah Nabawiyah          Bahasa ArabSMP Terbuka          Bahasa Inggris          Bahasa Indonesia          Matematik          IPAKegiatan Lainnya          Outbond          Rihlah SEGERA DAFTARKAN ANAK YATIM YANG ANTUM KENAL  Jikalau Antum semua mau menjadi tetangga Rasulullah SAW di jannah-Nya Allah sebagaimana Nabi-Nya berkata:  Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR Al-Bukhari) maka Antum bisa menyalurkan zakat, infaq, dan shadaqahnya maupun aset produktif lainnya untuk pengembangan lebih lanjut pesantren ini melalui: Bank Syariah Mandiri Cabang DepokNo. rekening: 0617045147a.n. Ponpes Yatim Baitul Qur’an atau  Diantar langsung ke Pesantren Yatim & Dhu’afa Baitul Qur’an. Semoga amal antum diterima Allah. 

 

 Ohya sekadar pemberitahuan saja, saya bukanlah pengurus dari Pondok Pesantren dan yayasan ini.  Saya cuma sekadar kenal pengasuh pondok ini. Dan hanya berkeinginan informasi berharga ini bisa sampai kepada khalayak ramai tentang adanya pendidikan gratis ini. Semoga bermanfaat. Sebarkan jika ini dianggap penting dan Anda peduli dengan PENDIDIKAN GRATIS di Republik Indonesia yang tercinta ini. Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.  Riza Almanfaluthidedaunan di ranting cemara14:58 29 Februari 2008

Pemandian Kata-kata


*pemandian kata-kata

ajaklah aku untuk menusuk subuh ini dengan kata-kata
biar tiada terasa pelukan dinginnya
bagiku saat itu citra ayumu
adalah suatu
mimpi

riza almanfaluthi

09.00 29 Februari 2008

Lantai 3 Kalibata