BASSE, BAHIR, LAPAR


 

BASSE, BAHIR, LAPAR

                Pagi itu masih dingin. Taujih yang disampaikannya membuat semua yang ada di ruangan tertegun. Di selanya ada isak tangis dan air mata yang mengalir. Sebuah keharuan menyeruak dan mengeliminasi segala keegoan dan menyublim menjadi sebuah perenungan tentang kepedulian.

                Ia bercerita, “Sore kemarin saya membeli ayam bakar karena tidak ada lauk yang dimasak sendiri pada hari itu. Dengan sepiring nasi yang banyak dan potongan dari ayam bakar yang paling saya sukai, saya memulai acara peningkatan gizi itu dengan menonton televisi dan mencari acara yang bagus.”

                “Tapi saat itulah saya terpaku pada sebuah pemberitaan dari Makassar. Pemberitaan yang sungguh ironi dan membuat saya tidak enak hati untuk menghabiskan makanan itu. Betapa tidak, ketika saya makan, pemberitaan adanya ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan anaknya yang balita tewas dan satu anaknya yang lain masih kritis di rumah sakit karena kelaparan, membuat saya tersentak,” lanjutnya lagi.

                “Allahu Rabbi.  Saya melihat sendiri dari tayangan betapa sosok ibu itu terbujur kaku. Mereka sudah tidak makan selama tiga hari. Dan kata tetangganya lagi keluarga itu memang jarang makan teratur. Suami ibu itu pun cuma tukang becak.”

                 Semua yang mendengar perkataannya terdiam dan menundukkan kepala. “Saya menjadi marah, sedih, bercampur aduk. Ada apa dengan negeri kita yang tercinta ini yang banyak dikatakan orang luar negeri sebagai negeri yang kaya dan makmur karena sumber daya alamnya. Apalagi keluarga itu mati di daerah yang disebut sebagai lumbung pangan. Allohuakbar. Lalu ke mana para tetangganya? Lalu ke mana para aghniyanya?  Lalu ke mana saudara-saudara muslimnya? Lalu ke mana para aparat pemerintahnya? Lalu ke mana para wakil rakyatnya? Lalu ke mana para pemimpinnya? Tidakkah mereka semua akan dimintakan pertanggungjawabannya?” tanyanya sambil mengusap air mata yang deras mengucur.

                Mendengar dan melihat kegelisahannya tentang sebuah pertanggungjawaban, saya yang hadir dalam pertemuan pekanan itu menjadi teringat kembali sebuah perkataan yang diungkapkan oleh calon kandidat Gubernur Jawa Barat yang saat itu sedang bersilaturahmi di daerah kami. “Sungguh jabatan dalam pengertian kami adalah sebuah amanah yang nanti akan dimintakan tanggung jawabnya oleh Allah swt. Saya tidak memintanya dan sungguh banyak teman-teman saya yang tidak mau untuk dipilih menjadi calon karena besarnya amanah itu.”

“Hanya karena syuralah sehingga saya ditunjuk maju untuk memenangi dakwah ini. Sungguh, bapak-bapak, Ibu-ibu, nanti saya akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah di padang mahsyar nanti bila rakyat yang saya pimpin tidak bisa makan, rakyatnya tidak bisa sekolah dengan baik, tidak bisa diberikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan. Bahkan jikalau ada kerbau yang kakinya keseleo karena jatuh di jalan yang rusak  berlubang, saya pun akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah.”

Saya merenung tentang peran kita sebagai manusia. Kita adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan bertanggung jawab dalam keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pegawai adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya.  

Saya mendengar kembali apa yang ditaujihkannya di pagi itu yang isaknya sudah mulai reda, “Saudara-saudaraku semua, saya mengajak pada diri saya sendiri dan Antum semua untuk memasang telinga, membuka mata, dan hati kita agar bisa merekam peringatan dini yang disampaikan oleh kerabat dan tetangga terdekat kita di lingkungan masing-masing agar tidak sampai terjadi hal yang demikian. Bahkan kita perlu memberikan perhatian yang lebih terhadap mereka-mereka yang karena izzah atau kemuliaan dirinya tidak mau untuk tangannya berada di bawah. Merekalah yang seharusnya patut kita nafkahi.”

“Semoga ini bermanfaat bagi Antum semua dan menyeruak kesadaran kita agar senantiasa peduli. Dan saya tidak akan membiarkan ini terjadi pada kita, maka jikalau Antum punya kesulitan dalam masalah penghidupan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya,” katanya mengakhiri.

                Ah, sungguh dengan keimanan yang kokoh dan akarnya menghunjam ke bumi akan berdiri sebuah bangunan kebaikan di atasnya. Bangunan penyebaran kemanfaatan kepada sesama. Maka agar bangunan itu senantiasa indah dipandang mata memperbaharui keimanan itu adalah sebuah keharusan. Karena iman di dada pada keturunan anak Adam adalah keimanan yang naik dan turun. Dan sensitivitas pada kebaikan, peka pada permasalahan sosial adalah berpangkal pada keimanan yang kokoh itu. Tidak akan mungkin bagi mereka yang tak mempunyai keimanan akan merasakan sebuah sensitivitas yang membuatnya menangis saat melihat fenomena sosial yang melanda negeri ini dan tidak tergerak untuk beraksi nyata.

                Kawan, senantiasalah waspadalah pada kehidupan kita akan sebuah kepastian bernama kematian. Siap atau tidak itu akan membawa kita pada suatu kenyataan amal apa yang telah kita persiapkan untuk menjadi teman kita di alam kubur sambil menanti kiamat yang entah kapan akan datangnya. Seorang yang berwajah rupawan dan itu adalah amal kebaikan kita di saat masih hidup atau sebaliknya? Maka meneguhkan keimanan kita adalah sebuah keharusan. Tak perlu bermuluk-muluk dengan amal yang besar. Sekadar memberi petunjuk kepada kebaikan maka pahala yang diraih sama saja dengan orang yang melakukan kebaikan itu, percayalah. Dan cukuplah sudah dikatakan bukan muslimin di kala kita tidak memperhatikan urusan kaum muslimin lainnya.

Maka tidaklah mungkin seorang beriman yang teguh ia akan tidak peduli kepada saudaranya yang lain. Tidaklah mungkin terjadi peritiwa di atas jikalau pemimpin yang ada di sana atau di sini begitu sadar dan paham tentang beratnya sebuah amanah. Aih…

Kawan, semoga kekayaan kita tidak akan sampai melupakan tetangga-tetangga kita yang kelaparan. Semoga butiran nasi ditambah lauk terlezat yang kita telan tidaklah sampai membutakan mata hati kita pada erangan saudara-saudara kita yang sakit dan tak punya uang untuk berobat ke dokter atau dirawat di rumah sakit. Semoga apa yang kita miliki membuat keberkahan bagi kita sendiri dan apatah lagi buat sekitarnya. Semoga menjadi pembelajaran.

 

Untuk Ibu Basse, Adik Bahir, dan Calon Adik, semoga Allah melapangkan Anda semua.

 

https://dirantingcemara.wordpress.com

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

16:13 03 Maret 2008

  

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s