senandung fluet di malam hulucai


senandung fluet di malam hulucai

(dibacakan di Theather Epic Camp Hulucai Bogor 09 Oktober 2009)

 

saat ini kawan, kita memeluk dingin

dengan gemuruh di dada dan hangat di telapak kaki

membayangkan suka cita yang akan kita kunyah

bulat-bulat

sama-sama

lalu ada angin malam menyapa

mengemis

untuk membagi sepotong kue kebahagiaan ini padanya

dan di sana di atas sana

ada purnama mengintip dari tirai hitamnya

malu-malu

di waktu yang sama

di petak negeri ini

anak-anak manusia

anak-anak adam

saudara dari saudaranya saudara saudara saudara dan saudara kita

berlomba dengan kita

sama-sama

dipeluk dingin, disapa malam, diintip purnama

di bawah tenda-tenda pengungsian

merenda duka kerana alam yang cemberut pada mereka

menjadikan ayah ibu tak beranak

suami tak beristri, istri tak bersuami, anak tak beribu tak berayah

janda semakin janda, perawan semakin perawan, dan perjaka semakin perjaka

tapi para duda sembunyikan harap dan tawa dibalik gurat sedih

dan lapar mendera menjadi ritual keseharian kerana bantuan dilahap birokrasi

kuburan massal jadi alas tidur

lalu jumlah korban cukup menjadi angka-angka statistik belaka

kawan…saat ini

kita cukup menonton sambil sesekali turut empati

bahkan memilin doa dan mengetuk pintu-pintu langit

keras-keras

berbasa-basi agar mereka diberikan ketabahan

sambil online-online 24 jam memainkan blackberry,

update status dan celoteh di facebook,

menimang-nimang batangan emas yang terkumpul,

menghitung hari untuk karir yang kinclong,

mengilapkan body kuda besi, mengintai pergerakan saham,

mengumpulkan rupiah demi rupiah dari alfamart, indomart,

kos-kosan yang tersebar di mana-mana,

merenovasi istana

sembari menunggu transferan bank mandiri dari bendahara di awal bulan

ssst…..kemarin malam

ritmis gerimis dan harum tanah negeri ini sempat berbisik padaku:

jangan kau buat ibu pertiwi menangis kembali karena polah serakah kita

lalu tadi malam di citayam senandung hujan sempat berbisik padaku:

nikmat tuhan mana lagi yang engkau mau dustakan

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam, 07 Oktober 2009 20.00 WIB


 

SURAT PEMBACA UNTUK PTKA


SURAT PEMBACA UNTUK PTKA

Siang ini saya ingin bercerita. Cerita yang sebetulnya sudah pernah saya ceritakan kepada beberapa kawan sebelumnya. Namun tak apalah untuk saya ceritakan kembali khususnya kepada yang belum tahu saja. Mengapa demikian? Karena ini ada kaitannya dengan dimuatnya surat pembaca saya di halaman situs ini.

Senin tanggal 28 September 2009 itu saya berbincang-bincang dengan kawan saya di atas Kereta Rel LIstrik (KRL) Ekspress Depok-Tanah Abang. Hari itu hari pertama saya masuk kantor setelah liburan lebaran sehingga tentu apa yang kami bicarakan tidak jauh cerita tentang perjalanan mudik kami. Sebelum ngobrol itu, teman saya menaruh tas ranselnya di rak atas KRL di samping tas kecil saya sambil berkata, “Mas, tolong ingatkan saya untuk mengambil tas ini ya kalau mau turun. Soalnya saya sering lupa.”

“Insya Allah,” jawab saya. Tapi permintaannya tidak saya penuhi sampai kami keluar dari KRL itu karena dia tetap ingat dengan tas yang ia taruh.

Besoknya, ternyata bukannya dia yang lupa dengan tasnya tetapi saya sendiri yang lupa. Dan sungguh, baru kali ini saya lupa dengan apa yang saya bawa. Ini sebenarnya juga teguran buat saya untuk tidak mentang-mentang atau sok dengan pengalaman tidak pernah lupa dengan barang bawaan.

Pagi itu, seperti biasa saya berdiri di pintu KRL dengan menaruh tas saya di raknya. Kali ini saya mengobrol dengan teman yang saya kenal. Beliau adalah Kepala Seksi di sebuah kantor pemerintahan di komplek yang sama dengan kantor saya. Asyik betul kami mengobrol hingga sampai juga kami di Stasiun Cawang.

Di stasiun Cawang, saya berpindah peron ke peron yang menuju Bogor untuk menunggu KRL yang mengantarkan kami kembali ke Stasiun Kalibata. Tapi…saya sepertinya mengalami suatu hal yang ganjil. Sepertinya ada yang hilang dari tangan saya yang terbiasa memegang sesuatu. Deg…tas saya mana?!!

Hilang!

Ketinggalan!

Cepat-cepat saya menghubungi petugas porter di Stasiun Cawang—seperti anjuran teman-teman yang lain. Petugas tersebut kemudian mengantarkan saya menuju ruang operator perjalanan kereta api. Dan petugas operator tersebut segera menghubungi petugas di Stasiun Sudirman dan Stasiun Tanah Abang untuk mengambil tas saya yang berada di gerbong kedua dari belakang.

Ciri-ciri tas itu saya beritahukan kepada petugas termasuk mereknya apa dan benda-benda apa saja. Ada telepon genggam, foto-foto jadul waktu pernikahan, ipod nano, dan yang terpenting sekali adalah harddisk eksternal yang berisi dokumen pekerjaan kantor dan ribuan foto berharga.

Saya sudah pasrah. Tapi rada-rada optimis juga karena tas itu ketinggalan di kereta ekspress AC. Artinya seperti kebanyakan petugas PTKA bilang prosentase ketemunya adalah 80:20. Kalau ketinggalannya di kereta kelas ekonomi, “ikhlaskan saja deh,” kata petugas tersebut.

Karena tidak sabaran untuk menunggu akhirnya, saya putuskan untuk ke kantor terlebih dahulu. Sampai di kantor saya absen dan berniat sholat dhuha. Karena biasanya setelah sholat dhuha selalu ada jalan keluar yang terbaik buat saya. Eh ternyata lain, baru sebatas niat saja Allah sudah mengabarkan kabar gembira kepada saya. Pada saat saya duduk di teras masjid untuk membuka sepatu ada telepon masuk yang ternyata dari petugas stasiun Cawang. Mereka memberitahukan bahwa tas saya sudah diketemukan dan sekarang berada di Stasiun Tanah Abang.

Saya lihat jam yang ada di HP. Kurang lebih 30 menit tas itu sudah ketemu. Saya cabut ke stasiun Cawang untuk bertemu dengan dua petugas yang akan mengantar saya ke stasiun tanah Abang. Sampai di sana saya dengan mudahnya saya dapat mengambil tas saya itu.

Dari pengalaman itu dan terutama kesan pada kecepatan pelayanan yang diberikan petugas PTKA, sebagai balas jasa terhadap apa yang diberikan mereka, saya berkata dalam hati, saya akan mengirimkan surat pembaca agar bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya ini sebuah sikap keberimbangan karena selama ini yang diungkap di surat pembaca mengenai PTKA kebanyakan adalah keluhan dan gugatan atas pelayanan PTKA yang kurang memuaskan pelanggan.

Dan pada hari ini situs detikcom menayangkan surat pembaca tersebut.

 

Jumat, 09/10/2009 11:58 WIB
Terima Kasih dan Salut Atas Layanan PT Kereta Api
Riza Almanfaluthi – suaraPembaca

 

Jakarta – Pada tanggal 29 September 2009 saya naik Kereta Rel Listrik (KRL) Depok Ekspress Jurusan Tanah Abang dari Stasiun Depok Lama. Karena asyik ngobrol dengan teman ketika turun di Stasiun Cawang saya tidak menyadari tas saya tertinggal di KRL.  Baru sadar ketika kereta tersebut sudah berangkat kembali.

Lalu saya melapor ke petugas PT Kereta Api (PT KA) di stasiun tersebut. Dibantu petugas operator yang menghubungi petugas PT KA di stasiun berikutnya akhirnya dalam waktu setengah jam tas saya bisa diketemukan kembali.

Dengan diantar dua petugas dari Stasiun Cawang yaitu Bapak Triyono dan Sugiarto saya pergi ke Stasiun Tanah Abang untuk mengambil tas yang berisi harddisk eksternal dan di dalamnya terdapat dokumen-dokumen penting kantor dan keluarga.

Untuk ini saya ucapkan terima kasih dan salut atas kecepatan pelayanan yang diberikan PT KA kepada para pelanggannya.

Riza Almanfaluthi

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/10/09/115833/1218508/283/terima-kasih-dan-salut-atas-layanan-pt-kereta-api

 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di Ranting Cemara

14:49 10 Oktober 2009

 

 

 

 

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/10/09/115833/1218508/283/terima-kasih-dan-salut-atas-layanan-pt-kereta-api

ALUMNI ATAU ALUMNUS?


ALUMNI ATAU ALUMNUS?

Bulan syawal adalah saat yang tepat untuk mengadakan acara silaturahim. Contohnya acara temu kangen dengan teman-teman satu almamater. Acara itu dikemas dengan sangat informal dan biasanya diberi label temu alumni. Masalahnya kita seringkali gagap dalam memakai kata yang benar antara dua kata ini alumni atau alumnus.

Sebenarnya dua kata itu baku untuk dipakai kalau pemakaiannya pun tepat sesuai dengan maknanya. Oleh karena itu sebelum kita melangkah lebih jauh tentang pemakaian kata yang benar dari dua kata tersebut kita perlu mengetahui terlebih dahulu maknanya.

Alumni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring adalah orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi. Sedangkan alumnus menurut kamus yang sama mempunyai pengertian orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi.

Coba, kalau kita cermati maka kita bisa temukan bedanya. Bahwa alumni adalah bentuk jamak dari alumnus. Alumni menunjukkan banyak orang sedangkan alumnus adalah bentuk tunggal yang menunjukkan satu orang saja. Dengan kata lain alumni adalah para alumnus atau kumpulan alumnus.

Maka dengan demikian kita sudah tahu bagaimana pemakaian yang benar dari dua kata tersebut.

Suatu hari setelah saya memikirkan tentang makna alumni dan alumnus, kebetulan pula pada hari yang sama habis shalat isya saya bersalaman dengan remaja yang baru duduk di kelas 1 SMP. Ia memakai kaos hitam yang di punggung kaosnya terdapat tulisan besar ALUMNUS 2009 dan di bawahnya terdapat kotak yang berisi nama teman-teman lulusan sekolahnya dalam satu angkatannya.

Tentu dilihat dari maknanya pemakaian kata alumnus dalam kaos itu tidak tepat. Seharusnya memakai kata alumni yang menunjukkan banyak orang yang tamat dari sekolahnya.

Langsung saja saya berikan contoh-contoh lainnya sebagai berikut:

Yang salah     : Saya alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Angkatan 1997

Yang benar    : Saya alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Angkatan 1997

Yang salah    : Dipersilakan kepada para alumni untuk menempati kursi yang telah disediakan.

Yang benar    : Dipersilakan kepada para alumnus untuk menempati kursi yang telah disediakan.

Yang salah    : Kita adalah alumnus ramadhan yang senantiasa harus dapat mempertahankan nilai- nilai ramadhan itu di sebelas bulan berikutnya.

Yang benar     : Kita adalah alumni ramadhan yang senantiasa harus dapat mempertahankan nilai- nilai ramadhan itu di sebelas bulan berikutnya.

Yang salah    : Ikatan Alumnus SMUN Bojong Kenyot

Yang benar    : Ikatan Alumni SMUN Bojong Kenyot

Contoh terakhir ini sedikit saya komentari. Mengapa? Karena alumnus adalah hanya satu orang saja sehingga tidak perlu diikat dalam sebuah ikatan. Yang pas adalah dengan memakai kata alumni karena menunjukkan banyaknya lulusan satu sekolah yang perlu diikat dalam satu ikatan. Mentang-mentang bahwa kata alumnus itu berasal dari kata asing (Latin) dan segala sesuatu dari bahasa asing–terutama Bahasa Inggris—sesuatu yang banyak atau menunjukkan jamak itu memakai akhiran s atau –es maka seringkali kita terkecoh dengan memakai kata alumnus untuk menunjukkan banyaknya lulusan suatu sekolah.

Demikian uraian saya, semoga bermanfaat. Kalau ada komentar atau informasi yang menunjukkan adanya kesalahan pada artikel ini mohon untuk dibetulkan. Terimakasih.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:38 09 Oktober 2009

ORANG PAJAK DIKASIH THR CUMA RP8.000,00


ORANG PAJAK DIKASIH THR CUMA Rp8000,00

Sabtu, 19 September 2009

Waktu itu jelang maghrib, saya masih di depan televisi untuk melihat saluran mana yang memberitakan mengenai sidang isbat 1 Syawal 1430 H. Dus, cari saluran mana yang cepat dalam mengumandangkan adzan maghribnya. He…he…he…Kalau pembaca membaca tulisan saya terdahulu pada saat-saat itu juga saya sedang lemas-lemasnya karena habis menempuh perjalanan mudik yang panjang—berkisar 526 Km dalam 30 jam tempuh.

Tiba-tiba, saya didatangi Ayyasy—anak kedua saya—sambil menyodorkan kepada saya empat lembaran uang kertas bergambar Pangeran Antasari.

“Apaan nih Nak?” tanya saya. Dia diam saja sambil tersenyum-senyum.

Umminya yang sedang di dalam kamar menyahut, “Itu loh Bi, Ayyasy ulang tahun hari ini, jadi dia kasih uang traktiran. Ummi dikasih, Haqi dikasih, Kinan juga dikasih.”

“Subhanallah, Terima kasih ya Nak,” kata saya, “Ini THR-nya Abi nih…”

Uangnya Ayyas itu dari kita-kita juga yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Pun, dari imbalan ataupun pemacu kalau puasanya bisa sehari penuh.

Yang menarik bagi saya dari peristiwa kecil itu bukan besar kecilnya uang itu yang cuma delapan ribu perak, tapi timbulnya rasa kepedulian pada anak tujuh tahunan —sekali lagi bagi saya—itu adalah hal yang teramat luar biasa. Juga timbulnya keinginan membahagiakan orang lain. Saya berharap sampai gede pun demikian.

Umminya pernah bilang dalam suatu kesempatan, “Ayyasy bilang nanti kalau setiap ulang tahun mau kasih duit. Itu juga kalau Ayyasy punya duit.”

“Ayyasy kalau sudah gede dapat gajian sepuluh juta, buat umminya berapa?” tanya Ummu Ayyasy iseng-iseng berhadiah.

“Buat Ummi semuanya,” kata Ayyasy.

“Kalau Haqi berapa?” tanya Ummi lagi.

“Sejuta saja, he…he…he…” kata Haqi.

“Alhamdulillah…”

(Ini dialog kayak di VCD Islami saja yah…tapi betulan loh…)

***

Segala puji bagi Allah, ramadhan telah mendidik mereka untuk bisa saling berbagi. Haqi dan Ayyasy selama dalam perjalanan mudik pun tidak bisa meninggalkan kota infak masjid yang kami singgahi tanpa mereka mengisi terlebih dahulu kotak itu dengan uang yang mereka miliki sendiri. Begitu pula dengan para peminta-minta. Insya Allah.

Saya meminta pada Allah agar kami dijauhi dari sikap bakhil, pelit, koret, medit. Allahumma inni a’udzubika minal jubni wal bukhl

Begitu pula dengan anak-anak kami. Amin.

Riza Almanfaluthi

orang pajak

dedaunan di ranting cemara

07:27 24 September 2009

INDRAMAYU-SEMARANG LANCAR


INDRAMAYU-SEMARANG LANCAR

Malam-malam, bibi saya kaget. Ia menyangka mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya adalah mobilnya yang sedang pergi ke Jakarta. Ketika membuka garasi, baru ia “ngeh” kalau yang datang adalah keponakannya. Perjalanan yang begitu panjang sebelumnya seperti enggak terasa karena ada kebahagiaan dalam pertemuan ini. Apatah lagi makan malam berat ditemani dengan sayur dan tahu buatan bibi setelah sekian lama. Nikmat banget.

Karena kepala saya pusing, nyut-nyutan, akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Semarangnya besok pagi dini hari. Saya minum obat pasaran kegemaran saya, yang kalau diminum sakit kepalanya langsung hilang. Cukup satu biji saja. Setelah itu tidur.

Sabtu, 19 September 2009

Jam dua malam kami bangun untuk bersiap-siap berangkat kembali. Di Dapur Bibi, sibuk sekali menyiapkan makanan untuk sahur kami. Sayur bening dan telur dadar. Subhanallah, walaupun sederhana tapi lezat nian. Sepertinya ini sahur terlahap yang pernah saya ingat di ramadhan ini. Pula, bisa jadi ini adalah sahur yang terakhir di ujung ramadhan.

Tiga kurang delapan menit, angka yang ditunjukkan oleh jam di mobil kami. Kami berangkat dari rumah bibi. Sebelum pergi, saya bilang kepada Bibi saya Insya Allah Sabtu mendatang, sewaktu akan balik ke Jakarta, kami datang kembali ke rumah Bibi .

Bibi saya berpesan, kalau mau balik lagi ke sini bilang dulu, supaya dirinya bisa mempersiapkan oleh-oleh yang harus kami bawa untuk ke Jakarta. Ia, katanya mau membuatkan kami koci, makanan khas Indramayu yang bentuknya segitiga dan di dalamnya ada isi kacang hijau. Oke Bi…

Mata sudah melek betul ketika kami menyusuri jalanan jalur Karang Ampel Cirebon yang bermeridian, lebar, mulus, dan sepi. Kecepatan bisa dipacu sampai 100 km/jam. Benar-benar kami seakan-akan pemilik sejatinya jalan itu. Dan kami baru menemukan rombongan pemudik lain, kala kami sampai di pertigaan Kanci.

Sholat Shubuh kami lakukan di daerah sekitar Tanjung, Brebes. Kami singgah di Masjid di sana. Namun sungguh tak representatif sekali. Kamar kecil dan airnya sedikit sekali. Jadi diputuskan masjid ini bukan untuk tempat istirahat kami.

Secara umum perjalanan kami lancar-lancar saja. Kemacetan walaupun ada jarang kami temui. Dan tentunya tidaklah separah hari kemarinnya.

Ketika kantuk mulai terasa, kami memutuskan untuk berisitrahat di Posko Toyota di Alas Roban. Awalnya kami sudah membayangkan apa yang pernah diiklankan di situsnya tentang posko lebaran Toyota seperti fasilitas kursi pijat atau istirahat yang nyaman. Tapi nyatanya jauh api dari panggang. Kami mampir dan tidak ada fasilitas itu. Sekadar mencari kursi tersisa untuk tempat duduk pun enggak ada. Mungkin karena banyak pemudik yang lagi menunggu kendaraannya diperbaiki.

Jadi kami tidak istirahat di sana. Hasilnya sambil terkantuk-kantuk saya hampir menabrak pengendara motor. Sedetik saya kehilangan kesadaran. Alhamdulillah yang masih melindungi kami. Segera kami cari SPBU untuk mengistirahatkan mata ini barang lima atau sepuluh menit.

Setelah istirahat kami cabut lagi. Tentunya dengan kondisi badan yang sudah lebih baik dari seperempat jam yang lalu.

Dan tepat pada pukul 12.05 WIB kami sampai di rumah.

Masalahnya kawan, maghrib masih lama. Sedangkan badan terasa lemas banget. Sampai di rumah saya langsung tidur. Bangun tidur masih jam dua. Tidur lagi, bangun lagi belum maghrib juga. Baru kali ini saya puasa sambil melihat
jam terus. Jam tiga…Jam empat…Benar-benar berat…

Tapi tenang saja, maghrib di Semarang lebih cepat daripada maghrib di Jakarta. Dan pada waktunya…

Allahuakbar…Allahuakbar…Syawal pun tiba.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17.30 23 September 2009

kencangkan ikat pinggang

JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM


JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM

Jum’at, 18 September 2009

Dari kilometer 0 tepat pukul 05.56 WIB kami memulai perjalanan mudik ini. Sedari awal kami sudah niatkan bahwa mudik ini buat ibadah. Bukan untuk apa-apa. Jadi perjalanan panjang pun harus diiringi dengan ibadah itu. Maka kami pun bertekad walaupun Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi para musafir, kami tidak akan memanfaatkan fasilitas itu.

Dengan banyak alasan tentunya. Yang paling utama adalah rasa beratnya mengganti puasa di luar bulan ramadhan. Di saat orang lain tidak berpuasa dan miliu kebaikan tidak sekental di bulan Ramadhan. Alasan lain, kami ingin merasakan kenikmatan yang luar biasa di saat berbuka puasa di tengah perjalanan mudik. Bagaimana dengan nikmatnya nanti akan saya ceritakan kemudian.

Dari rumah sampai tol Cikampek perjalanan kami lancar. Walaupun selalu diberitakan dari radio yang saya pantau bahwa di ujungnya akan terdapat kemacetan yang mengular panjang. Tetapi kami bertekad perjalanan itu jangan sampai dibelokkan dari jalur yang tidak pernah saya lalui, misalnya melalui jalur alternatif Sadang.

Dan betul Allah selalu memudahkannya, ketika kendaraan-kendaraan lain diarahkan ke jalur alternatif, eh…pas untuk kendaraan saya tetap diarahkan ke jalur utama. Dua kali saya mengalaminya. Tetapi resikonya benar-benar berat.

Dari satu kilometer menjelang pintu tol Cikampek hingga Pertigaan Jomin dan 30 kilometer setelahnya, saya harus menempuhnya selama kurang lebih 5 jam kawan. Jalan yang tidak lebar dan hanya dua lajur, kepadatan kendaraan, ribuan pemudik motor, serta penumpukan kendaraan di SPBU, ketidaktertiban poara pengendara adalah beberapa penyebabnya.

Ini benar-benar puncak dari arus mudiknya. Kamis kemarin, sebagaimana diinformasikan teman-teman di facebook, perjalanan mudiknya amat mudah, masih lengang. Bayangkan saja, Jakarta Brebes hanya ditempuh selama 6 jam perjalanan.

Tapi kini kawan…sungguh berat perjalanan ini. Mau tidak mau, kami harus melaluinya untuk bisa bersilaturahim dengan sanak keluarga. Dan ini seninya mudik. Lalu saya, istri, dan anak-anak diberikan pemandangan yang amat menggiurkan.

Di tengah kemacetan dan panas terik yang membakar, betapa banyak para musafir itu meminum air dingin yang menyejukkan. Luar biasa…Apatah lagi para pedagang air minum itu sengaja menawar-nawarkankanya kepada kami dengan air kemasan yang sengaja dibuat berembun agar kelihatan segarnya.

Khadimat yang ikut saya sudah saya tawarkan untuk membatalkan puasanya karena terlihat sudah lemas betul ia. Tapi Alhamdulillah ia menampik tawaran itu. Maunya tetap puasa sampai akhir. Syukurlah…

Sedangkan untuk anak-anak saya tidak berikan penawaran itu karena sudah pasti mereka akan menerimanya sebelum saya menyelesaikan kalimatnya. Saya bujuk mereka untuk berpuasa sampai akhir.

Setelah lepas dari kemacetan, perjalanan itu sudah mulai terganggu dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyergap dan rasa capek yang luar biasa. Saya harus istirahat untuk memulihkan tenaga. Dan saya menemukan masjid yang representatif—masih di sekitar Kabupaten Subang sebelum masuk Indramayu—untuk menghilangkan rasa berat di mata.

Setelah menjama’qashar, saya langsung tidur pulas, setengah jam kemudian pada pukul 15.30 WIB saya bangun dan badan sudah mulai terasa segar kembali. Bapak saya sudah beli nasi timbel dan sate kambing ketika mau berangkat kembali, “untuk persiapan buka,” katanya. Buka masih lama pak.

Subang sampai Indramayu tepatnya di daerah Lohbener, lancar-lancar saja. Walaupun juga sempat ada kemacetan karena pasar tumpah. Dan ketika sudah mendekati Jatibarang, terdengarlah adzan yang menggema. Subhanallah, akhirnya kami bisa berbuka juga. Kami minggir sebentar untuk membeli sekadar makanan dan minuman kecil pembuka puasa. Hanya dengan seteguk air sudah menghilangkan beban yang sedari pagi menumpuk.

Ini nih…janji Allah bagi orang yang berpuasa. Dua kenikmatan yang diberikan yaitu berjumpa dengan Allah dan nikmatnya saat berbuka. Yang terakhir ini saya rasakan betul sebagai nikmat yang teramat luar biasa diberikan Allah kepada kami hari itu. Seperti yang juga Allah pernah berikan waktu mudik di tahun 2007.

Akhirnya sampai juga kami di Jatibarang. Dan setelah menurunkan Bapak di suatu tempat kami pun melanjutkan perjalanan kami karena Jatibarang bukan daerah tujuan mudik kami.

Eh…Allah berkehendak lain, ketika mau berangkat saya baru ngeh kalau ban belakang kanan mobil saya sudah kempes. Syukurnya ada ban serep. Masalahnya selama dua tahun umur mobil ini saya belum pernah mencoba-coba buka tempat ban serep. Utak-atik selama 20 menit tidak terbuka-buka juga baut penahan ban serep. Akhirnya saya putuskan tetap berjalan walaupun dengan pelan-pelan. Dengan pertolongan Allah 500 meter di depan ada tukang tambal ban.

Setengah jam kemudian kami sudah meneruskan perjalanan kami dengan tenang. Kami memakai jalur alternatif Jatibarang-Karangampel-Cirebon. Kami tidak memakai jalur yang biasa ditempuh para pemudik lainnya untuk menuju Jawa Tengah yaitu jalur Jatibarang-Tol Palimanan-Kanci.

Alasannya, saya sudah berkali-kali menempuh jalur alternatif itu. Dan saya sudah merasakan betul kenyamanannya selama berkali-kali lebaran. Jalannya lebar, mulus, dan sepi dari pemudik. Saya sampai berpikir, “aneh juga kenapa para pemudik motor ataupun mobil sedikit yang menempuh jalur ini.”

Kalau mobil bolehlah mereka tidak lewat sini, mungkin mereka berpikiran ada jalur tol. Tapi lebaran kayak begini tol juga macet sampai setengah perjalanannya. Kalau pemudik motor kemungkinannya satu menurut saya, mereka tidak tahu. Itu saja.

Alasan lainnya saya menempuh jalur ini adalah saya bisa mampir ke bibi saya di Segeran, sebuah kampung sebelum masuk Karangampel. Dan kami memutuskan untuk menginap di sana. Perjalanan mudik tahap pertama kami berakhir dulu.

Total jenderal waktu yang ditempuh adalah 13,5 jam kawan.

Melelahkan juga nikmat…

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21 September 2009 08:46

SHADAQAH YANG TERCEDERAI


SHADAQAH YANG TERCEDERAI


إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا

ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له،

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده

ورسوله


أما بعد

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Rabb semesta ‘alam yang telah mengizinkan kepada kita untuk bermuwajahah, yang telah memperkenankan kita untuk saling mengikatkan tali kasih sayang di antara kita, dan yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Alhamdulillah yang telah memberikan kepada kita nikmat hidayah dan sepercik iman, yang dengan itu pula Allah telah menggerakkan hati dan melangkahkan kaki kita untuk selalu mengerjakan amal kebajikan.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, qudwah hasanah kita, murabbi umat, panglima besar revolusi kemanusiaan, nabi Muhammad saw, yang akhlaknya adalah alqur’an, yang paling dermawan, yang paling berani, yang memberi bagaikan orang yang tidak pernah takut akan kefakiran, yang rumahnya senantiasa terbuka bagi siapapun yang singgah, yang senantiasa memberi makan orang yang lapar dari makanannya, yang pernah mengatakan kepada kita semua: “aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” 1)

Rahmat Allah inilah, ya ayyuhal Ikhwah, yang sedang kita rasakan di bulan ramadhan ini, bulan pelipatgandaan amal. Dan dirasakan oleh umat beriman lainnya. Betapa tidak dengan datangnya bulan ramadhan ini, kita yang tidak pernah baca Al-qur’an di luar bulan ramadhan, di bulan suci ini kita kembali kepada al-qur’an untuk membacanya. Kita yang tidak pernah shalat malam di luar bulan ramadhan, di bulan penuh keberkahan ini kita mendirikan malam-malamnya setidaknya melaksanakan shalat tarawih dan witirnya. Kita yang tidak pernah datang ke masjid, berbondong-bondong kita ke masjid di bulan penuh rahmat ini. Dan kita yang dikuasai dengan kebakhilan di luar ramadhan, dengan datangnya ramadhan mubarok ini kebakhilan gantian menjadi budak kita dengan tanda berupa entengnya kita dalam mengeluarkan shadaqah.

Shadaqah yang kita keluarkan di luar bulan ramadhan, Allah sudah janjikan dengan balasan 10 kali lipat hingga seratus kali lipat, apatah lagi di bulan ramadhan. Oleh karena itu betapa banyak dari kita mengeluarkan shadaqah, infak dan zakat itu di bulan ramadhan.

Ada yang bertanya apa bedanya antara zakat, infak dan shodaqah. Kalau diibaratkan sebuah lingkaran maka shadaqah adalah lingkaran besar yang di dalamnya terdapat lingkaran kecil yang bernama infak, dan di dalam lingkaran kecil infak itu terdapat lingkaran lagi bernama zakat. Cakupan shadaqah amatlah luas. Shadaqah tidak selalu identik dengan uang. Di dalam shadaqah selain dengan materi ada yang namanya senyum, menyingkirkan duri dari jalanan, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, ataupun membebaskan saudaranya dari hutang. Dan infak wajiblah yang bernama zakat. Demikianlah secara ringkas dapat diilustrasikan perbedaan diantara ketiganya.

Shadaqah berasal dari kata shidiq yang artinya benar. Dan menurut Al-Qadhi Abu Bakar bin Arabi, benar di sini adalah benar dalam hubungan dengan sejalannya perbuatan dan ucapan serta keyakinan. 2) Dengan kata lain shadaqah berarti pembuktian benar adanya iman di dalam dada. 3) Hanya orang-orang yang beriman yang mampu melaksanakan shadaqah, hanya orang-orang yang percaya adanya Allah dan hari akhir sajalah yang mampu shadaqah, infak, ataupun zakat. Hanya orang–orang yang percaya betul dengan balasan Allah di dunia dan akhirat yang mampu dirinya mengangkangi syahwat bakhilnya.

Dengan balasan yang berlipat ganda yang diberikan oleh Allah swt kepada orang-orang yang beriman yang bershodaqah, maka Allah pun telah memperingatkan kepada orang-orang bershadaqah tersebut untuk menghindari dua perkara ini. Yaitu perkara-perkara yang dapat merusak dan menghilangkan nilai-nilai kebaikan atau pahala yang diberikan Allah kepada orang-orang yang bershadaqah. Sebagaimana telah difirmankan di ayat yang saya bacakan di awal:


Al-Baqarah:264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Allah telah memperingatkan keapda kita semua dalam hal bershadaqah: yaitu jangan sekali-kali menyebut-nyebut shadaqah itu dan menyakiti perasaan si penerima. Tanpa disadari kita mendapatkan shodaqah itu tidak bermakna apa-apa.

Semisal, betapa kita sering mendengar perkataan ini: “ini masjid tidak akan pernah bisa berdiri kalau saja tidak ada saya; ini masjid tidak akan pernah berdiri megah kalau saya tidak menjadi ketua panitianya; ini masjid enggak akan sesejuk ini kalau tidak ada AC yang saya beli.” Dikatakan dengan lisan atau cukup di dalam hati saja itu sudah membuat rusak pahala shadaqah kita.

Semisal lain. Seringkali rumah kita kedatangan tamu yaitu para peminta-minta. Apalagi kalau bulan puasa, banyak sekali. Dan karena sudah terbiasa bakhil, ketika kita memberi infak mulut kita atau hati kita sering reflek mengatakan dalam hati: “langganan; masih sehat ngemis; sindikat; bayinya dapat nyewa”. Atau seringkali karena kejengkelan kita karena didatangin terus menerus, kita sering bilang maaf kepadanya tanpa menongolkan kepala kita sedikitpun dari pintu kita.
Padahal bisa jadi yang datang itu adalah Pak RT yang menagih uang sampah dan keamanan.

Ya Ayyuhal ikhwah, sesungguhnya tangan-tangan kita amatlah pendek, dan kita juga tahu bahwa ini bagaikan lingkaran setan, mulai dari mana kita memutus rantai setan dunia kepengemisan ini. Dan sebenarnya sudah menjadi tugas pemerintahlah untuk mengangkat derajat hidup mereka. Nah kalau sudah tahu kita tidak mampu untuk mengentaskan mereka sendirian, tak perlulah kita menciderai amal shadaqah kita dengan mengatakan sesuatu yang amat menyakitkan itu.

Ayo, kita sama-sama berbenah diri, di bulan ramadhan ini berikan yang terbaik dengan shadaqah-shadaqah kita, dan tak usahlah pula merusak amal shadaqah kita dengan dua perkara tersebut. Allah telah membuat perumpamaan dalam lanjutan ayat tersebut tentang masalah ini dengan batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu batu tersebut disiram hujan lebat, maka menjadi bersihlah batu tersebut. Sia-sia. Tidak mendapat manfaat apa-apa.

Semoga di bulan penuh keberkahan ini Allah menerima shadaqah-shadaqah kita. Amin.

Samarinda kota di Kalimantan

ada pohon dinaikin bekantan

kalau ada kata yang menyakitkan

mohon untuk dimaafkan

kayu lidi di taman bekasi

cukup di sini, sekian, dan terimakasih.

Billahittaufik walhidayah…

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  1. H.R. Bukhori dan Muslim;
  2. Muhammad Andi Wibisana

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 September 2009

transkrip kuliah terserah antum

MBAH SURIP DAN ANAK SAYA


MBAH SURIP DAN ANAK SAYA

 

Kematian Mbah Surip bagi saya biasa-biasa saja. Tidak semengejutkan dengan kematian Michael Jackson. Dan memang tak bisa untuk dibanding-bandingkan antara mereka berdua. Tapi sebagai seorang muslim saya tetap mendoakan semoga Allah menerima segala amal Mbah Surip, mengampuni segala dosanya, dan menempatkannya di tempat yang terbaik.

Kemarin sore, dari kantor, saya menelepon anak saya yang ada di rumah untuk menanyakan apakah baret pramukanya sudah terbeli atau belum? Yang menerima telepon adalah Ayyasy, anak kedua saya, baru kelas 2 SD, satu sekolah dengan anak sulung saya, Haqi.

“Bi, tadi pulang mobil jemputannya ziarah dulu ke makamnya Mbah Surip,” katanya.

“Memangnya makamnya deket dengan sekolah Ayyasy?”tanya saya.

“Enggak jauh. Tadi habis do’a di kuburannya masak Haqi nyanyi ‘tak gendong’!” kata Ayyasy dengan polos.

Itu adalah sedikit pembicaraan kami.

Pagi ini, seperti biasa saya berangkat ke kantor. Dari rumah di Citayam naik motor ke Stasiun Depok untuk naik Kereta Rel Listrik (KRL) Ekspress jurusan Tanah Abang dan Bekasi. Di KRL sambil menggelar kursi lipat saya membaca Koran Media Indonesia yang harganya cuma seceng (Rp1.000,00), harga khusus kereta. Lumayan buat menghabiskan waktu di perjalanan.

Kereta berhenti di Stasiun Cawang, dan saya bersama dengan banyak kawan pajak anggota KRL Mania pindah peron untuk melanjutkan perjalanan dengan KRL yang menuju Stasiun Kalibata. Sambil menunggu KRL yang segera tiba saya melihat-lihat koran yang dijual pedagang koran yang ada di peron tersebut. Satu persatu saya baca headline masing-masing koran tersebut. Berita Antasari dan Mbah Surip masih mendominasi.

Dan mata saya langsung terpaut pada judul besar yang terpampang di halaman pertama Harian Umum Berita Kota, Kamis 06 Agustus 2009, headlinenya adalah Anak Mbah Surip Ngamuk. Tapi yang membuat saya terkeju dan tidak percaya adalah foto yang terpampang di bawah judul besar itu. Di sana ada foto anak saya yang sedang berdoa di makamnya Mbah Surip.

“Haqi Masuk Koran!!!” seruku pada teman sebelah. Langsung saja saya beli koran tersebut. Di sana tergambar sejumlah pelajar SD Al-Hikmah yang sedang berdoa di makam Mbah Surip. Anak saya kedua dari kiri. Yang ketiganya adalah anak tetangga saya, Abdan—hari Ahad sore kemarin dia gabung pertama kalinya di kelompok pengajian anak-anak di rumah saya.

Langsung saya kirim pesan pendek kepada omnya Haqi yang masih ada dirumah. Balasannya bahkan mengejutkan, Omnya Haqi bilang Haqi tadi masuk di berita pagi SCTV. Saya coba lihat di situsnya SCTV untuk mengunduh video itu, tapi gak bisa. Nanti sajalah.

Bagi saya, terus terang saja, ini sesuatu yang mengejutkan. He…he…he…

Sekarang kematian Mbah Surip jadi tidak biasa bagi saya.

Turut berduka cita buat keluarga Mbah Surip.

Itu saja dari saya.

Ini fotonya:

 

 

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

11.25 06 Agustus 2009

THAGHUT ITU KECIL!!!


THAGHUT ITU KECIL!!!

Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.

Berikut saya kutip sebagian kisah itu.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…” (Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”.

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…” Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” *)

***

Ada yang selalu saya ingat dari sosok ayah saya saat bercerita tentang orang-orang besar. Ia selalu hafal kalimat-kalimat terkenal yang pernah diucapkan dari para tokoh itu, entah nasional atau dunia, dan ia mengucapkannya secara atraktif di hadapan kami para anak-anaknya sewaktu masih kecil. Itu amat mengesankan bagi saya. Yang sering ia ulang-ulang adalah ucapannya presiden pertama RI, IR. Soekarno. Sampai sekarang pun saya masih ingat walaupun tidak hafal perkataan tersebut. Yaitu tentang bagaimana nenek moyang kita yang berusaha mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia dengan mengucurkan keringat dan darah mereka.

Kali ini pun kiranya aku bergerak untuk mencontoh ayah saya. Ada kalimat yang amat mengharukan dan menggugah saya sehingga hampir-hampir saja saya menangis di depan komputer. “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”

Sungguh inilah natijah (buah) dari syahadatain, yang menolak setiap thoghut yang ingin menjadi setara dengan Pencipta dirinya. Inilah realisasi dari keimanan yang amat kuat hingga mampu merasakan dan mengatakan bahwa kehidupan dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Bila saya ada dalam posisinya, bisa jadi saya akan mengiyakannya, mengaku bersalah, meminta maaf, serta langsung menandatangani surat itu sebelum sang pembawa surat selesai mengucapkan kalimatnya. Tentunya dengan alasan karena saya belum menikmati seluruh kehidupan dunia ini. Na’udzubillah.

Sungguh mudah mengucapkan dan mengajarkan materi-materi tarbiyah tentang Syahadatain dan Ma’rifatullah, tapi teramat berat dalam merealisasikannya karena di sana ada musuh abadi yang senantiasa mengintai dan menghalangi-halangi, setan dan hawa nafsu.

Bagi saya Syaikh Asysyahid Sayyid Quthb adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu merealisasikan nilai-nilai tarbiyah islamiyah dalam sebenar-benarnya kehidupannya. Maka dari akhir orang yang seperti itu mengapa masih banyak orang menghinakannya sedang ia terbukti mampu untuk menjual kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya sedang orang-orang yang berbicara sinis tentangnya belumlah teruji dengan pahit manisnya jihad fi sabilillah melawan thagut.

Sungguh ia akan dikenang dengan pemikirannya dan semangat jihadnya yang tak pernah mati. Bahkan orang sekelas Gamal AbdulNasser, Yusuf Kalla dan Hendropriyono pun tak akan mampu mematikannya. Ia mati tapi sesungguhnya ia tetaplah hidup.

Sungguh tidak ada jihad sebelum iman.

Allah Maha Besar! Thaghut itu kecil!

***

*) Kutipan kisah diambil dari sebuah situs internet.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:47 30 Juli 2009

setelah sekian lama tidak menulis

BERTEMU MARK TWAIN


BERTEMU MARK TWAIN

Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.

Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.

Pembaca, setelah tiga bulan hanya menjadi ‘perusuh’ yang bisanya cuma meminta pedagangnya mengambil buku yang ingin saya lihat lalu mengecewakannya karena saya tidak jadi beli, saya menemukan buku yang masih terlihat baru. Masih terbungkus dengan plastik dari sananya. Harganya 20 ribu rupiah. Saya tawar 10 ribu pedagangnya tidak mau. Akhirnya sepakat di harga 18 ribu rupiah.

Judulnya Petualangan Tom Sawyer karangan Mark Twain diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Sepengetahuan saya buku itu adalah buku cerita klasik Amerika yang ditulis oleh penulisnya di tahun 1800-an.

Setelah buku itu di tangan, saya tidak langsung membacanya. Saya baca buku itu di rumah. Dan dari catatan pengantar Kang Ajip Rosidi, Mark Twain adalah jagoan humor Amerika yang dapat memberikan kegembiraan kepada para pembacanya. Dan saya mendapatkan buktinya. Saya sudah mendapatkan keceriaan dan tawa yang tak tertahankan di setiap babnya.

Baru empat bab buku itu saya baca, saya sudah mendapatkan kesimpulan bahwa buku ini bagus sekali. Pantas saja kisah ini terkenal sekali di seluruh pelosok dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Di Indonesia sudah diterjemahkan di tahun 1930-an oleh Abdoel Moeis untuk Balai Pustaka. Buku yang saya beli ini pun cetakan pertamanya di tahun 1973 diterjemahkan oleh Djokolelono.

Akhirnya saya berkeinginan, nanti setelah buku ini selesai saya baca, saya akan memburu buku Mark Twain lainnya, pasangan dari Petualangan Tom Sawyer ini yaitu buku yang berjudul Petualangan Huckleberry Finn. Atau tulisan dari Julius Verne yang terkenal seperti Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari dan Duapuluh Ribu Mil di Bawah Laut. Karena saya yakin kalau kisah klasik itu masih bertahan berabad-abad setelah penulisnya meninggal, pasti sudah menjadi jaminan mutu bagi pembacanya.

Ada satu pelajaran buat saya. Kesabaran menunggu, tak menuruti hawa nafsu, selalu berbuah manis. Kesabaran saya untuk tidak membeli buku sampai benar-benar ada buku yang membuat saya tertarik membacanya, lalu dengan merenda asa setiap sorenya berharap ada buku bagus di lapak itu, ternyata kemarin sore berbuah hasil. Kini, saya masih tetap berharap menemukan jendela dunia yang bermutu itu di sana.

Yang pasti bagaimana kesabaran itu harus diterapkan oleh saya untuk hal lain. Yaitu menunggu KRL yang jadwalnya tidak pasti. Apatah lagi KRL Ekonomi yang kastanya lebih rendah daripada Ekonomi AC dan Ekspress. Untuk hal yang ini saya masih angkat tangan.

Ayo, membaca…!

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:21 05 Juni 2009