PEKERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI


PEKERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

 

Dua hari ini, saya ditanya tentang kewajiban penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi bagi orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dan semata-mata dapat penghasilannya dari luar negeri. Apakah tetap mempunyai kewajiban melaporkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi atau tidak? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu harus dikembalikan kepada pertanyaan bagaimana perlakuan PPh bagi mereka itu.

Di tahun 2009 tepatnya tanggal 12 Januari 2009 telah dikeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-2/PJ/2009 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Bagi Pekerja Indonesia di Luar Negeri. Semua terjawab sudah dengan membaca aturan tersebut.

Dalam aturan itu, yang dimaksud Pekerja Indonesia di Luar Negeri adalah orang pribadi Warga Negara Indonesia yang bekerja di luar negeri lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. Pekerja ini merupakan Subjek Pajak Luar Negeri.

Ditegaskan dalam Pasal 3 aturan di atas, penghasilan yang diterima atau diperoleh pekerja itu sehubungan dengan pekerjaannya di luar negeri dan telah dikenai pajak di luar negeri, tidak dikenai PPh di Indonesia.

Nah, jadi sudah jelas bagi para pekerja di luar negeri tidak dikenai PPh di Indonesia asal memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. WNI bekerja di luar negeri;
  2. Lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan;
  3. Memperoleh penghasilan semata-mata dari pekerjaannya di luar negeri;
  4. Telah dikenai pajak di luar negeri;
  5. Tidak dapat penghasilan dari Indonesia.

Kalau sudah memenuhi syarat itu, selain tidak dikenai PPh di Indonesia kewajiban penyampaian SPT Tahunan pun tidak ada.

Nah, berbeda jika syarat nomor lima tidak terpenuhi. Selain mendapatkan penghasilan dari luar negeri ia juga mendapatkan penghasilan dari Indonesia, maka atas penghasilan tersebut dikenai PPh sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dan sudah pasti kewajiban penyampaian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi harus dilaksanakannya.

Akan elok kalau saya ilustrasikan sebagai berikut:


Seorang dokter gigi asal Jakarta bekerja di rumah sakit terkenal di Malaysia. Ia hanya mendapatkan penghasilan dari rumah sakit itu. Tidak ada penghasilan lain yang diterima dari Indonesia. Ia pun jarang pulang kampung. Namun di tahun 2011, tepatnya di bulan Juni, ia pulang ke Jakarta dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di sana. Bagaimana dengan penghasilan yang diterima dari luar negeri dan dalam negeri tersebut?

Ada dua syarat yang tidak terpenuhi yakni jangka waktu yang kurang dari 183 hari dan penghasilan yang diterima dari Indonesia. Dengan demikian sudah tentu ia punya kewajiban untuk menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi tahun Pajak 2011 dengan menggunakan formulir 1770—untuk tahun pajak 2010 ia tidak berkewajiban. Penghasilan dari luar negeri dan dalam negeri digabung dan dikenakan tarif sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pajak yang telah dipotong di luar negeri bisa menjadi pengurang (kredit pajak). Mudah bukan?

Demikian, semoga teman-teman yang bertanya hal ini bisa memahaminya dengan baik. Masih kurang jelas? Ruang diskusi terbuka lebar-lebar.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

kita punya hidup masing-masing

10.41 pm 25 Maret 2011

 

Tags: pajak penghasilan, pph, surat pemberitahuan, spt, spt tahunan pph orang pribadi, 1770,1770s, 1770ss, pekerja indonesia luar negeri, PER-2/PJ/2009, djp, direktorat jenderal pajak, Perlakuan Pajak Penghasilan Bagi Pekerja Indonesia di Luar Negeri, dokter gigi, persatuan dokter gigi seluruh indonesia, pdgi, tki, tenaga kerja indonesia, konsultasi perpajakan, konsultasi gratis perpajakan, konsultasi pajak gratis,

 

Jangan Katakan Itu di Hadapan Saya


Jangan Katakan Itu di Hadapan Saya

    

Sewaktu bercermin di ruang kaca toilet, datang teman saya. Sama-sama memandang cermin di hadapan dan membasuh tangan. Saya menegurnya, “mana Mas tulisannya? Katanya mau menulis?” Dia Cuma tertawa saja.

“Begini saja Mas, sampeyan kasih kepada saya apa yang harus saya tulis, lalu saya buat, dan saya kasih hasilnya? Bagaimana?” tantangnya.

“Boleh,” jawab saya.

“Kalau sudah memulai menulis, mungkin nanti saya bisa menulis, ya Mas,” tambah dia lagi.

Mendengar itu saya langsung menghentikan aktivitas saya, menegakkan kepala, dan langsung berkata, “jangan katakan mungkin, bisa! Insya Allah.” Setengah berteriak saya berkata demikian. Karena bagi saya kata “mungkin” adalah kata yang menyiratkan pesimisme. Dan saya tidak suka itu. Begitu pula sebaliknya.

Seperti ada yang bilang kepada saya, “saya tak mungkin bisa menulis seperti Anda, saya tak punya bakat, saya tak punya waktu.” Jangan katakan ‘tak mungkin” di hadapan saya. Ini sudah lebih parah daripada yang di atas. Ia telah menciptakan mental blocknya terlebih
dahulu. Membentengi dirinya dari segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Kalau sudah demikian, saya katakan kalau menulis itu tidak sulit. Menulis cuma butuh 3 hal—kata Maghfiroh Jenny—yatu minat, tekun, dan jujur.

Mengutip Om Wijaya Kusumah, minat merupakan salah satu aspek psikis manusia yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu obyek, cenderung untuk memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih besar kepada obyek tersebut. Namun apabila obyek tersebut tidak menimbulkan rasa senang, maka ia tidak akan memiliki minat pada obyek tersebut.

Seberapapun keinginan Anda untuk menulis tetapi Anda tidak punya minat untuk menulis ya percuma saja. Ini ditunjukkan ketika Anda sudah punya niat untuk menulis tetapi gagal melulu karena dikalahkan oleh kegiatan lain.

Jadi kalau Anda sudah memegang pulpen atau sudah menyediakan layar putih di hadapan Anda kemudian Anda malah menggantikan kegiatan itu dengan kegiatan lain berarti Anda tidak punya minat. Maka lebih baik kubur harapan Anda menjadi penulis. Menulis bukan jalan Anda dan carilah jalan lain yang memang sesuai dengan Anda. Menulis bukan bakat Anda.

Yang kedua, menulis itu mudah asal selain punya minat juga punya ketekunan. Tekun ini berarti Anda tidak mudah menyerah dan sudah siap untuk mengawalinya dengan berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih dan konsisten untuk menulis.

Salah satu bentuk ketekunan itu adalah misalnya Anda bertekad kuat menulis diari atau di blog setiap harinya. Jelek atau bagus tulisannya, yang penting menulis. Sambil terus menerus belajar dari kesuksesan orang dalam menulis dan tak henti-hentinya mengevaluasi diri mana yang kurang dari tulisan yang dibuat.

Bentuk ketekunan lainnya adalah Anda mampu menyisihkan waktu khusus untuk menulis. Bisa habis shubuh, tapi kayaknya buat para pekerja di Jakarta, waktu itu biasanya untuk kegiatan persiapan berangkat ke tempat kerja. Okelah kalau tidak punya, bangun tengah malam dan menulislah. Pokoknya sempatkan diri untuk meluangkan waktu. Mengantuk di siang harinya itu adalah harga yang harus dibayar kalau Anda mau jadi penulis sukses. So, yang tahu waktu tepat untuk Anda menulis adalah Anda sendiri.

Dan menulis itu tidak sulit kalau kita menulisnya dengan penuh kejujuran. Tidak mengada-ada. Kalau menulisnya sudah tidak jujur itu adalah awal untuk menciptakan kebohongan berikutnya. Jujur di sini pun bisa berarti sesuai logika. Menulis fiksi, yang sudah jelas mengkhayalnya, itu saja butuh ditulis sesuai logika. Apatah lagi menulis nonfiksi. Benar juga kalau jujur adalah mata uang yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Untuk menulis pun demikian.

Maka, sekali lagi buat teman-teman yang ingin belajar menulis, jangan katakan mungkin dan apalagi tidak mungkin di hadapan saya, karena sesungguhnya Anda bisa menulis dengan mudah. Yang terpenting Anda punya minat (bukan bakat), tekun, dan jujur. Ayo menulislah.

***

 

*sumber gambar: di sini

 

riza almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara    

satu rindu, lara hati, liberian girl: rewind terus

00.45 am 25 Maret 2011

 

Tags: tips menulis, menulis dengan jujur, minat menulis, bakat menulis, waktu untuk menulis, tekun dalam menulis,

malam di 1/3 terakhir


Malam di 1/3 Terakhir

**


aku mencintaimu seperti daun-daun jatuh di hutan, sepi tanpa suara

aku merinduimu seperti air jeram di sungai, ramai penuh gelora

aku kehilanganmu seperti nisan tua dan lapuk di tanah pekuburan.

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02.20 am 24 Maret 2011

pulang sekolah


pulang sekolah

**

dengan tubuh legam berkarat

lonceng itu merintih berharap-harap

menyerah pada pukulan demi pukulan

untuk sebuah lengking nyaring

menggelumat atmosfer

sepi sujud pada ramai jam 2 siang

kursi yang kau duduki dan

pulpen yang kau pegang

berteriak serentak, “pulanglah segera,

sebiji matamu menunggu,

karena malam ini ia akan pergi,”

bukankah kasih bunda adalah bahasa keabadian?

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai dasar gedung sutikno slamet

13.35 22 Maret 2011

Gambar diambil dari sini

dahaga


dahaga

**

 

di ruang-ruang senja yang terkotak-kotak

kau pergilirkan semaian rindu

pada ladang-ladang yang kerontang

pada ilalang-ilalang yang dendam

dengan pertemuan tak kunjung beranjak

jika wajahmu adalah hujan

untuk ladang dan ilalang itu

biarkan aku berdiri di atas puncak bukit

rentangkan tangan lebar-lebar

menampar angin

tengadahkan seraut rupa

tanpa mata yang membuka

untuk menerima

gerimismu

lebatmu

hingga kuyup

semuanya karena ada dahaga

yang tak kunjung tamat

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas krl pakuan ekspress 17.40

17.50 21 Maret 2011

DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN


DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN

 

Lama waktu berjalan tanpa sanggup mengingatkan saya untuk melakukan obrolan santai bersama kucing jantan yang satu ini. Bulunya didominasi warna putih, ada warna hitam di telinga kiri, punggung, dan ujung ekornya.

Baru kali ini di rumah saya ada kucing pejantan yang manja, mau dielus-elus, dan tak jiperan sama manusia. Kalau disapa push push, ketika lagi jalan santai, dia berhenti lalu menengok ke arah suara, melihat sebentar yang menyapanya itu bawa daging atau enggak, kalau enggak dia jalan saja terus. Cool.

Sering masuk rumah dan hobi banget menggosok-gosokkan
badannya di kaki saya. Tapi memang satu yang kurang ajar dari binatang ini adalah menyemprotkan air seninya sembarangan. Biasalah tabiat pejantan untuk menandai daerah kekuasaannya dengan cara itu. Pun, untuk memberitahu kepada kucing betinanya kalau dia itu available, jomblo, sendiri, siap untuk kawin. Yang jenis kelamin sama, “awas loh, gue siap bertarung dengan elo,” itu yang dipikirkan oleh kucing jantan ini.

Punya nama? Ah, enggak. Saya enggak pernah menamainya. Sempat berniat untuk memberi namanya dengan kucing garong. Kelakuannya memang begitu kok. Dia itu malu-malu kucing sama kita, di depan penurut banget. Tapi kalau kita enggak ada di depan matanya. Dia siap untuk menggarong apa saja. Lauk di atas meja atau kelinci yang di kandang di depan rumah habis disikat.

Ibu-ibu tetangga saya pun komplain, “Bi… hati-hati loh Bi sama kucing itu, digebukin sama sapu juga enggak mau keluar dari rumah, tukang nyolong pula.” Kucing jantan itu kalau dengar omongan sinis dari ibu-ibu itu dengan santainya cuma bilang: “ngeong…ngeong.” Bukankah sudah dibilang, rumah saya pernah dijejali dengan semprotan air seninya, maka karena ia merasa bahwa rumah ini sudah jadi daerah kekuasaannya, bahkan istananya yang terindah, digebukin juga kagak mau keluar dia.

Herannya dia tahu betul tempat yang enak buat melingkarkan tubuhnya dan tidur pulas. Di sofa, di bawah televisi, atau di kursi belakang dekat meja dapur. Kalau sudah begitu, suara mercon juga enggak bisa membangunkannya. Lebay sih pengungkapan demikian.

Mana mungkinlah, soalnya anjing saja yang pendengarannya lima kali lebih tajam daripada manusia kalah dua kali dibandingkan kucing. Artinya manusia kalah 10 kali pendengarannya. Jadi kalau manusia jika tidur cuma bisa mendengkur dan mimpi, kucing tambah satu lagi, telinganya bisa jadi radar untuk mengetahui yang datang menghampiri dirinya itu kecoa, tikus, tokek, atau manusia yang bawa penggebuk.

Nah, hari ini dia datang lagi ke rumah saya. Enggak mengucapkan “Assalaamu’alaikum” atau “sampurasun duluur” dia masuk dan langsung ke belakang, mengorek-ngorek tong sampah. Walau kita tak mau dianggap saudara sama dia, bukanlah lebih baik mengucapkan salam jika masuk rumah, nah apabila manusia enggak salam kalau masuk rumah seperti siapa tuh?

Sebelum dia pergi karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan di tong sampah, saya ajak dulu ngobrol atau bahasa kerennya saya ingin berdialog dengannya, dialog imajiner.

Riza    : Push, jangan pergi dulu, saya mau bicara sama kamu. (Seperti biasa dia cool nengoknya)

Pejantan: Ada apa pak Tua?

Riza    : Hussss…kan sudah pernah saya bilang dulu, jangan memanggil saya seperti itu dong!

Pejantan: Emang sudah tua, tuh ubannya tambah banyak lagi. Depan dan samping kanan. Mau memungkiri? Kalau enggak mau, gue pergi. (enak banget dia ngomong gue-gue)

Riza    : Oke-oke, saya tak akan memaksa.

Pejantan: Satu lagi gue tak mau bicara politik dulu, Pak Tua. Bosaaaaan!

Riza    : Iya, iya. Lagian siapa yang mau ngajak kamu ngomong politik? Sore ini saya mau bicara tentang …

Pejantan: Tunggu, tunggu dulu! Emangnya gue dapat apa nih sore ini?

Riza    : Halah, transaksional banget sih kamu Cing, kayak politikus di istana itu. Tenang, kita makan bareng sore ini. Buka puasa bersama. Deal or no deal? No Deal? Kamu pergi saja. (Sedikit mengancam, memangnya manusia saja yang bisa ditekan?)

Pejantan    : Ngeong… (Ini pertanda dia menyerah, saya tahu betul kok, kalau bersoal tentang makanan dia keok)

Riza    : Saya mau cerita dulu tentang suatu hal Cing. Ternyata umur seseorang itu bukan penanda dari kedewasaan berpikir atau tepatnya bertambahnya wawasan kita. Jadi semakin tua kita belum tentu wawasan berpikir kita jadi banyak dan luas gitu loh.

Pejantan: Ya…sederhananya sajalah Pak Tua.

Riza    : Contohnya saya ini Cing, hampir 35 tahun saya tuh baru tahu kalau aishiteru itu artinya aku padamu.

Pejantan : Halah ada yang kurang tuh, 5 huruf lagi.

Riza    : Iya saya tahu, tapi tak perlu disebut di sini ah, malu saya. Tapi kok kamu tahu sih Cing?

Pejantan: Dari zaman jebot gue juga sudah tahu.

Riza    : Saya tahunya tuh kalau aku padamu dalam bahasa Inggrisnya ya I love you, bahasa jermannya ich liebe dich, sunda: abdi bogoh ka anjeun, jawa: aku tresno karo kowe, arab: ana uhibbuk, cinanya: wo ai ni, bahasa dermayunya: kita demen ning sira. Itu saja. Tahulah pokoknya dari SMP.

Pejantan: Terus…

Riza    : Waktu baca, saya nemu kata itu. Lalu saya tanya sama orang aishiteru itu apa? Kayaknya heboh banget gitu. Orang yang ditanya malah bilang: “di googling saja.”

Pejantan : Terus…

Riza    : Saya kira awalnya itu nama band Korea yang nyanyiin lagu nobody-nobody. Eh tahunya, itu ternyata aku padamu. Tepuk jidat saya, plak…!!! Oh itu…

Pejantan: Ha…ha…ha…katro. Pak Tua memang bukan lagi zamannya. Terus apa lagi Pak Tua. Di kita mah, di dunia kucing, enggak butuh-butuh itu. Yang penting muka badak dan kuat begadang. Semalaman mengikuti betina, tak bisa langsung diterima gitu.

Riza    : Oh gitu Cing…memangnya enggak ada tuh perasaan berdesir-desir, perasaan jatuh cinta, perasaan bergetar kalau disebut namanya, atau perasaan apapun yang mendominasi orang yang sedang jatuh cinta?

Pejantan: Itu cuma ada di manusia, kita cuma punya insting alami saja. Kalau pun ada itu cuma di walt disney pictures…

Riza    : Oh gitu yah…

Pejantan: Pak Tua, sayangnya manusia kebanyakan lupa.

Riza    : Lupa pegimane Cing?

Pejantan: Berdesir-desir, berbunga-bunga, bergetar-getar, berkebun-kebun itu saat manusia jatuh cinta pada sejenisnya. Berdesir saat disebut namanya, melihat orangnya, melihat gambarnya, saat menerima pesan-pesan darinya, panjang ataupun pendek, saat berbicara dengannya. Ada yang hilang ketika sapaan dan keberadaannya tak kunjung datang. Ada sebuah persatuan yang dicita pada orang yang dicintai. Ini sebuah kelaziman.

Riza    : Wah wise banget Cing.

Pejantan: Belum selesai gue.    

Riza    : Oke teruskan.

Pejantan: Empati menjadi sebuah keharusan. Turut merasakan apa yang dirasakan yang dicintainya. Jika sedih, ia sedih. Jika bahagia, ia pun bahagia. Semua perasaan yang pernah ada di muka bumi yang dimiliki kekasih pun menjadi sebuah perasaan yang turut ia rasakan semuanya. Muncullah tanda-tanda cinta di sana seperti banyak mengingat, banyak memimpikannya, banyak menyebut, kagum, rela, berkorban , cemas, berharap dan ta’at. Masalahnya ketika Yang Nyiptain kita menuntut begitu, manusia sebaliknya.

Riza    : Waduh nyindir Cing.

Pejantan: Ngerasa Pak Tua?

Riza    : Kalau begini saya diam sajalah, dengerin.

Pejantan: Coba kalau ada nama Allah—yang wajib dicinta itu—disebut, gemetar enggak Lo?

Riza     : Saya tertohok.

Pejantan: Atau kalau pesan-pesan dari langit dibacakan bertambah Iman kagak Lo?

Riza    : Saya tertusuk Cing, hiks.

Pejantan: Nah, gitulah manusia. Bersyukurlah gue jadi binatang. Tidak dimintakan pertanggungjawabannya. Elo? Jangan salah ya Umar bin Khaththab saja kalau bisa memilih ingin hidup jadi binatang supaya jangan dituntut di sana.

Riza    : Cing…

Pejantan: Yup.

Riza    : Stop dulu deh sampai di sini. Saya kelu Cing.

Pejantan: Padahal ini baru awal Pak Tua. Masih banyak yang ingin gue sampaikan sama elo.

Riza     : Iya…ya, saya tahu. Tapi nanti saja dulu deh. Tuh daging ayamnya sudah siap. Lagian azan maghrib sudah mau berkumandang. Tapi terus terang Cing dialog kita, dialog kau aku, sore hari ini, menyentuh saya. Kok bisa Cing kamu tahu banyak gitu?

Pejantan: Dengerin ceramahnya ustadz di masjid dan majelis taklim gitu Pak Tua. Gue kesana bukan cuma nyari Cicak yang lagi sial doang.

Riza    : Yah sudah makan dulu aja. (Tumben nih gue baik banget sama kucing pejantan ini). Ohya Cing, sebelum kita mengakhiri ini, walau saya senang kamu, saya tak mau bilang padamu: aishiteru yah.

Pejantan: Halah, najis. Ogah gue juga.

Riza    : Wadaw….

    Akhirnya selesai sudah dialog singkat saya dan dia. Yang pada akhirnya juga dia tetap kucing yang cuma bisa mengeong-ngeong. Saya juga terbengong-bengong. Terdiam dan terlongong-longong. Seperti tersedak oleh biji kedondong. Masak saya ngomong sendiri sama kucing. Untung belum ada yang bilang: Edan!.

    Senyatanya aku gila. Cuma padamu.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Cuma fiksi

08.13 21 Maret 2011

 

Tags: kucing pejantan, aishiteru, dialog imajiner, googling, google, deal or no deal, jepang, jerman, sunda, indramayu, jawa, inggris, korea, nobody nobody

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

supermoon


supermoon

**

 

aku ambil pisau

memotongnya sebagian

dan kuletakkan di atas nampan

kuserahkan padamu

sisanya biarlah untuk kita nikmati bersama

dengan tatapan-tatapan kita:

bulan sepotong

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

mabit di masjid almuhajirin bojonggede

12.57 20 Maret 2011

foto asli diambil pada pukul 04.31 (sepertinya)

malam likat


malam likat

**

 

ada huruf yang kutulis

merana di awal cerita:

d

lalu

ada satu yang tertinggal

di ujung cerita:

u

menjelma menjadi riak-riak kata

yang terngiang-ngiang

lalu menjadi bisik-bisik

menemanimu sepanjang perjalanan

malam itu yang likat,

sebagiannya bersembunyi malu

di balik bintang-bintang

kini setelah satu purnama lewat

tanpa permisi

dan bintang-bintang itu pudar

kelelahan

ada yang indah terlihat

ada yang merdu terdengar

aku sampaikan padamu

di siang ini yang pemberang:

di cintamu kutemui arti hidupku*

***

 

 

*mengutip satu larik lagu yang diciptakan

Oddie Agam dan dipopulerkan oleh

Mus Mujiono: Arti Kehidupan

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 9 gedung sutikno slamet pengadilan pajak

12.57 18 maret 2011

 

MENIKMATI KESENDIRIAN


MENIKMATI KESENDIRIAN

 

Sejak berada di tempat baru akhir September 2010 lalu ini, saya tak pernah sekalipun sarapan di ruangan yang memang khusus disediakan untuk itu. Tak pernah. Namun pagi ini anehnya, saya ingin menikmati betul sarapan di tempat itu. Sambil menikmati semburat cahaya pagi yang tak sopan menerobos jendela. Makan nasi uduk yang di beli di Stasiun Sudirman. Menikmati ketinggian dari lantai 19 memandang gedung pencakar langit di sebelah atau padatnya arus lalu lintas Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.

Setelah semalamam digedor dengan sesuatu yang melelahkan fisik dan mental, saya ingin menikmati kesendirian itu. Sebelumnya saya biasa sarapan di depan komputer sambil baca-baca berita dan email. Banyak banget sebenarnya ajakan untuk sarapan bersama di ruangan itu oleh teman-teman. Tapi saya bergeming. Enakan juga makan sendiri di depan benda mati yang seolah-olah hidup ini.

    Herannya pagi ini entah kenapa nasi uduk yang saya santap tidak senikmat hari-hari kemarin? Ada yang dipikirkan? Tentunya ada. Tak perlu diungkap di sini. Walau demikian nasi uduk itu habis juga meskipun saya kunyah perlahan-lahan.

    Hari ini berat sepertinya, tidaklah seperti Kamis yang Ringan yang dulu pernah saya ungkap. Karena sisa semalam masih menumpuk, dua berkas persidangan, jadwal menunggu yang lama, dan waktu yang berjalan lambat. Apa coba yang bikin hidup elo tambah hidup hingga waktu berjalan cepat dan tidak terasa?

    Teori Relativitas Einstein menyadarkan saya tentang dimensi waktu. Sedetik memegang cawan panas seperti waktu dihentikan tak pernah bergerak, dan satu jam melakukan sesuatu atau bersama yang kita cintai seakan satu detik saja. Lebih rumit sedikit adalah tentang dimungkinkannya kita untuk bergerak lebih lambat atau lebih cepat daripada kecepatan cahaya tetapi tidak mungkin dapat bergerak sama dengan kecepatan cahaya itu sendiri. Tak mengerti? Ya sudah abaikan saja…

    Apapun itu, pagi ini saya menikmati kesendirian itu. Sampai kapan?

 

***

 

Riza Almanfaluthi

presisi yang sia-sia, giza runtuh

dedaunan di ranting cemara

07:49 17 Maret 2011

banal


banal

*

 
 

teriakku pada macan

yang ada di kebun binatang:

aku ambil lorengmu!!!

pada zebra:

aku ambil belang-belangmu!!!

pada singa:

aku ambil surai di lehermu!!!

pada buaya:

aku tak akan ambil kulitmu!!!

Bosan,

aku akan ambil matamu saja,

pada ular:

aku akan ambil lidahmu!!!

Satu-satu,

aku permisi pada semua penghuni,

setelahnya aku menjadi binatang…

banal  

 
 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

Februari Maret 2011