Malcolm Gladwell


image

Nemu lagi bukunya setelah Outliers.

Foto Pagi Ini


IMG_0027

Bro Unesa and …..

 

IMG_0049

dengan kawan-kawan Banding dan Gugatan II

 

IMG_0055

Sok sibuk.

 

IMG_0058

Menatap jalan Jenderal Gatot Subroto yang macet dari ketinggian lantai 19

HAJI KHOIR DAN SANG BANGOR


HAJI KHOIR DAN SANG BANGOR

clip_image001

 

 

Gedoran keras di pintu kamar itu membuat saya terbangun. “Bangun! bangun! Siap-siap Shubuh!” teriak paman saya. Dengan malas saya bangkit dari ranjang besi dan melongokkan kepala sambil teriak, “Iya Liiik!”

Setelah tahu kalau saya sudah bangun, maka ia beranjak pergi ke musholla tua untuk adzan. Saya yang juga tahu kalau ia sudah pergi, maka saya datangi kembali kasur untuk saya dengkuri. Tapi itu tak lama, karena bibi sudah datang menggedor, “Bangun Za! Bangun!”

Itu berarti titah tak terbantahkan. Saya pun ke kamar mandi, ambil wudhu, dan pergi ke musholla. Shubuh dilakoni dengan mata terpejam, dengan kantuk yang luar biasa akibat begadang. Maklum, karena semalam belajar matematika habis-habisan.

Setelah sholat shubuh saya punya tugas yang tak bisa dialihkan kepada siapa-siapa. Saya hampiri bibi yang tengah memasak nasi dengan kayu bakar. “Nih uangnya. Beli tahu dan tempe seperti biasa,” katanya sambil menyodorkan gumpalan uang lusuh dari dompet kecilnya. Saya terima uangnya dan mengambil sepeda ontel tua yang masih enak dipakai itu.

Saya pergi ke warung yang jaraknya 500 meter dari rumah bibi. Bibi memang jualan nasi yang dicampur dengan oreg. Tahu dan tempe goreng menjadi teman yang enak buat nasinya. Saya kesengsem sama tahu dan tempe gorengnya itu. Setelah dari warung saya harus mengisi bak kamar mandi yang ukurannya tiga meter kubik. Biasanya pada timbaan yang keseratus bak kamar mandi sudah penuh. Dan itulah aktivitas saya di pagi hari selama tiga tahun di rumah bibi, waktu masih di SMA. Antara tahun 1991 sampai dengan 1994 yang lampau.

Bibi saya ini sebenarnya saudara jauh sepupu Bapak. Tetapi karena berdasarkan catatan nasab keluarga besar, bahwa keluarga Bapak itu termasuk yang paling tua, maka saya tidak memanggil bibi—yang umurnya bahkan jauh lebih tua daripada Bapak—dengan panggilan uwak. Dalam keseharian saya juga sebenarnya tidak memanggil beliau dengan sebutan Bibi, tapi memanggilnya dengan sebutan Mimi. Mimi itu panggilan khas masyarakat Cirebon, panggilan anak kepada ibunya.

Kepada suaminya yang bernama Haji Khoir, saya tetap memanggilnya Lik (paman). Tubuh lelaki ini sudah membungkuk sebagai pertanda usia yang telah sepuh. Dia adalah guru ngaji saya setiap bakda isya setiap harinya. Mengaji kitab kuning. Salah satunya kitab safinatunnajah. Tapi khusus malam minggu ada liburnya karena beliau pergi ke pesantren Kempek, pergi ke komunitasnya untuk ngaji bareng lagi belajar kitab. Walau sudah tua semangat menuntut ilmunya juga masih tinggi.

Aktivitas bakda maghrib saya saat itu adalah belajar mengaji Alqur’an pada anaknya—ini berarti sepupu saya—yang sudah hafidz 30 juz. Kepada semua muridnya dipersyaratkan seperti ini: untuk bisa membaca kitab Alqur’an yang tebal itu—yang merupakan prestise dan level pembeda—semua muridnya harus hafal juz 30 terlebih dahulu. Mulai dari surat Alfatihah , Annaas, sampai surat Annaba.

Kalau sudah hafal Annaba lalu sudah boleh pegang Alqur’an begitu? Tidak. Harus kembali diperdengarkan (disimak) kepadanya dari Annaba sampai ke Annaas, dan Alfatihah. Satu hari satu surat. Kalau ada bacaannya yang masih salah jangan harap berpindah surat untuk esok harinya. Alfatihah saja lama banget untuk pindahnya. Butuh waktu satu bulan supaya melafalkan alfatihah dengan benar.

Ohya jangan lupa, tongkat rotannya siap menghantam paha kalau kita salah. Padahal yang tasmi’ kepadanya tidak satu orang dalam waktu bersamaan melainkan bisa sampai empat orang. Tapi kok ia tahu saja kalau saya salah lidah. Kayaknya ia punya telinga banyak deh. Enggak hanya dua. Dan tahukah kalian, dalam tiga tahun itu saya ‘sukses’ enggak pernah pindah ke Alqur’an. Masih saja menghafal juz 30. Kalah sama anak SD.

“Za, pergi ke kebun sana. Ambil setandan pisang,” kata Lik Haji pada sebuah siang. Saya ambil dan kayuh sepeda ontel kesayangannya yang berat tapi mantap itu. Sepertinya saya juga sudah sejiwa dengan sepeda itu karena ketika saya mengayuhnya saya sampai bisa lepas tangan tak pegang kemudi, jauh dan lama.

Sepeda itulah yang selalu nemenin saya pergi ke komplek perumahan pabrik semen untuk main basket, atau pergi ke Kempek setiap malam minggunya, bukan untuk ke pesantrennya, tapi untuk “main”. You know-lah.

Yang saya ingat dari diri Lik Haji ini adalah pesannya saat kami mengaji kitab di musholla, di suatu malam, di bawah lampu bohlam lima watt yang temaram, kepada dua muridnya ini, saya dan teman saya. “Jangan buku pelajaran umum saja yang dipelajari, tapi kitab juga kudu dibuka. Kudu dibaca. Buku umum saja yang bisa sampai rusak karena sering dibaca, tapi kalau kitab kuning bukunya bagus terus karena tak pernah tersentuh, tak pernah dibuka-buka.” Sebuah pesan kuno tapi benar yang hari ini kalah dan takluk dengan semarak gaya hedonisme yang abai pada hal-hal transendental.

Pesan itu memang ditujukan buat saya dan untuk menyindir saya. Karena pada saat itu—ditengah bangor dan badegnya (baca: kebandelan) saya—beliau selalu melihat saya rajin belajar, selalu buka-buka dan membaca buku pelajaran. Tapi tidak untuk kitab kuning. Kalau dalam pemahaman saya waktu itu, inti pesannya adalah: sebaiknya buku pelajaran itu ditinggal saja. Biar fokus ngaji kitab kuning belaka.

Belasan tahun kemudian salah satu cucunya bisa diterima di STAN, yang saya yakini betul kalau cucunya ini selalu rajin belajar, selalu buka-buka dan membaca buku pelajaran. Kalau tidak? Enggak akan mungkin diterima di almamater saya itu.

**

Rabu pukul 20.41. Kecipak air tanda pesan japri Whatsapp masuk terdengar. Dari Ma’am, cucu Lik Haji Khoir yang telah ditempatkan di salah satu kantor pelayanan pajak di Sumatera sana.

“Assalaamu’alaikum wrwb ang rija.”

“Maap wasap bengi2, nembe kelingan ngupai kabar.”

“Mama tuwa tutup yuswa mau awan.”

Deg…Innalillaahi wainnaailaihi rooji’uun. Pesan yang mengagetkan. Paman saya, guru ngaji saya, telah berpulang ke Rahmatullah siang tadi dalam umur 87 tahun. Saya segera menelepon Bapaknya Ma’am dan meminta maaf karena tak bisa datang. Darinya saya mengetahui kalau penguburan dilangsungkan bakda isya tadi. Insya Allah khusnul khotimah. Akhir yang baik buat Lik Haji Khoir yang meninggal dengan wajah tersenyum bercahaya serta jasad yang mewangi berdasarkan persaksian banyak orang.

Saya cuma bisa berdoa semoga Lik Haji Khoir diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt, dilapangkan kuburnya, ditemani dengan amal baiknya, dan diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah swt. Insya Allah ada pahala yang selalu mengalir karena ada ilmu yang bermanfaat yang telah diwariskan kepada saya dulu. Ya Rabb, kabulkanlah doa ini.

**

Terjemah:

“Assalaamu’alaikum wrwb Ang Riza.”

“Maaf WhatsApp malam-malam, baru teringat untuk memberi kabar.”

“Mama tua tutup usia tadi siang.”

*Mama tua panggilan Ma’am kepada kakeknya, Lik Haji Khoir.

*Bangor; badeg; bahasa sunda yang sepadan dengan bandel.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.30 13 Desember 2012

Gambar diambil dari situs ini.

Tags: bangor, badeg, bandel, haji khoir, stan, kantor pelayanan pajak, ma’am, ma’muroh, whatsapp, stan, safinatunnajah

BIAYA PENINGKATAN STATUS HAK GUNA BANGUNAN MENJADI HAK MILIK


BIAYA PENINGKATAN STATUS

HAK GUNA BANGUNAN MENJADI HAK MILIK

 

sertifikat tanah

 

Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Harga yang harus dibayar untuk ongkos jasa Notaris dalam pengurusan menaikkan status sertifikat dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik sebesar Rp750 ribu terdengar biasa saja. Tapi yang mencengangkan adalah harga sebenarnya yang harus dibayar di Badan Pertanahan Nasional Cibinong.

Ceritanya begini, rumah kami ini jangka waktu cicilannya berakhir di tahun 2015. Ada rezeki datang di tahun 2012, maka kami putuskan untuk membayar lunas saja. Dari Bank Tabungan Negara saya mendapatkan sertifikat banyak dokumen antara lain Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).

Tentu keinginan dari seluruh pemilik rumah adalah agar Sertifikat HGB tersebut berubah menjadi sertifikat Hak Milik. Maka saya pun segera mengurusnya. Pertama kali saya datangi Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Cibinong untuk mendapatkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan membayar sejumlah rupiah PBB yang harus saya bayar.

Singkat cerita, setelah urusan PBB selesai saya datang ke kantor notaris untuk mendapatkan informasi persyaratan apa saja yang harus dilengkapi dalam pengurusan penaikan status tersebut. Pun untuk mengetahui berapa ongkos pengurusannya.

Mendengar harganya sebesar itu saya datang langsung ke kantor BPN. Dalam kunjungan pertama ini saya mendapat informasi dari petugas helpdesk kalau biaya pengurusannya cukup hanya membayar Rp 500 ribuan. Di sana saya diberitahu dokumen apa saja yang harus dilengkapi.

Pada kunjungan kedua dengan dokumen lengkap saya datang ke BPN pada pukul 13.55. Dan ditolak karena waktu pelayanan sudah habis. Jadi saya ingatkan bagi Anda yang berurusan dengan loket BPN Cibinong bahwa jam pelayanan di sana hanya sampai pukul 14.00. Saya mengira jam pelayanannya sama dengan di kantor pajak yang melayani Wajib Pajak sampai pukul 17.00. Ternyata tidak.

Nah pada kunjungan ketiga inilah saya datang tepat pukul 10.45. Dengan membawa dokumen lengkap berupa:

1. Map dan Lembar Permohonan. Ini dibeli di Koperasi BPN Cibinong seharga Rp10 ribu. Di dalam map ada dua lembar dokumen yang harus diisi, yaitu lembar permohonan itu sendiri dan surat pernyataan dari pemohon. Siapkan satu materai untuk ditempel di surat pernyataan;

2. Sertifikat HGB asli;

3. Fotokopi IMB;

4. Fotokopi KTP;

5. Fotokopi SPPT PBB tahun terakhir.

Langsung saja menuju Loket Dua tempat penerimaan surat. Kalau tidak tahu, tanya satpam saja. Biasanya satpam juga tanya-tanya apa yang mau diurus dan buka-buka dokumen kita. Bilang saja sudah lengkap. Supaya urusan bisa lebih resmi dan cepat.

Setelah diterima saya diminta untuk menunggu. Hampir satu jam kemudian saya dipanggil dan saya menerima Blanko Pembayaran. Blanko ini harus diserahkan ke loket pembayaran untuk dimintakan tanda tangan dari Bendahara Penerimaan. Dan tentu saya harus membayar biaya perubahan hak dari HGB menjadi HM untuk RS/RSS hanya sebesar Rp50 ribu saja. What? Iya betul cuma Rp50 ribu saja. Saya juga heran kenapa cuma sebesar itu. Jauh sekali dari apa yang disebutkan oleh petugas helpdesk dan diminta notaris dulu.

Setelah dari loket pembayaran, saya segera kembali ke loket dua, loket penerimaan surat itu. Saya menyerahkan blanko pembayaran yang telah ditera Bendahara Penerimaan. Lalu saya mendapatkan dua lembar dokumen dari petugas, yaitu:

1. Tanda Terima Dokumen;

2. Bukti Pembayaran.

Dua dokumen ini jangan sampai hilang dan harus dibawa pada saat pengambilan sertifikat. Salinan atau fotokopi dokumen ini tidak dilayani.

Satu jam lebih sedikit urusan penyerahan dokumen permohonan ini selesai. Saya akan datang kembali satu bulan kemudian untuk pengambilan sertifikatnya sebagaimana Petugas Penerimaan Surat itu katakan kepada saya. Dan yang membuat saya masih geleng-geleng kepala selama perjalanan pulang itu adalah biayanya yang murah banget. Tapi saya tak tahu apakah nanti pada saat pengambilan dokumennya ada harga yang harus dibayar lagi?

Kita tunggu saja. Kita lihat saja.

Semoga bermanfaat.

TAMBAHAN:

Pada hari Rabu, 23 Januari 2013 saya datang ke BPN untuk mengambil sertifikat Hak Milik itu. Saya datang langsung ke loket “Penerimaan Sertifikat” lalu menyerahkan Tanda Terima asli. Saya disuruh menunggu. Tidak lama, dalam jangka waktu kurang lebih 5 menit saya dipanggil. Saya disodorkan formulir untuk ditandatangani. Formulir bukti bahwa saya telah menerima sertifikat tersebut. Dan kemudian saya diberi sertifikat lama di atas yang sudah dicoret tulisan Hak Guna Bangunannya diganti dengan Hak Milik. Selesai sudah.

TIDAK ADA BIAYA SAMA SEKALI. PELAYANAN CEPAT.

Itu saja informasi tambahannya. Semoga bermanfaat. Kita tunggu dan kita lihatnya sudah terjawab. Terima kasih semoga bermanfaat.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.48 08 Desember 2012

Sumber gambar dari sini

 

BACA JUGA:

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

MENGURUS PENINGKATAN STATUS HGB KE HM DI BPN JAKARTA SELATAN

DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI


DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI

 

HuG_by_1uno

 

Anak itu gagal mendapatkan bintang biru sebagai tiket ke Jakarta dalam ajang audisi Idola Cilik 2012. Tangis yang menyertainya tidak meluluhlantakkan hati seorang ibu untuk menghiburnya, untuk memeluknya. Yang ada adalah kemarahan dan kekesalan yang ditumpahkan pada sang anak. “Kamu sih…salah kostum.”

Sang suami kecewa terhadap perlakuan istri terhadap anak mereka. “Sudah…sudah! Sekarang tidak ada lagi acara libur-liburan di Bandung ini. Kita langsung pulang saja ke Jakarta,” kata sang suami. Acara senang-senang setelah audisi yang semula direncanakan itu gagal total hanya karena sang ibu salah menyikapi kegagalan sang anak. Salah yang berbuah luka.

Di waktu lain. Sebuah pesan masuk ke dalam perangkat selular seorang ayah. Dari anaknya yang tengah belajar di pesantren di suatu lembah antara Gunung Gede dan Gunung Salak. “Abi janji enggak akan marah kalau nilai merahnya banyak?” Sang ayah terdiam lalu membalas pesan pendek itu, “Kita lihat saja nanti.”

Saat liburan Idul Adha tiba, sang anak pulang ke rumah dan menyerahkan lembaran rapot sementaranya. Lebih dari tujuh mata pelajaran terbakar dengan warna merah menyala. Sang ayah menatap sang anak yang sudah ketakutan itu. Sang ayah merentangkan kedua belah tangannya lebar-lebar dan bilang, “Peluk Abi.”

Sang ayah tahu betul, di saat itu sang anak tak butuh ceramah apalagi amarah. Yang dibutuhkan adalah pelukan untuk menguatkan dan meneguhkannya. “Masih ada waktu. Ayo perbaiki,” cuma pesan itu yang terkatakan. Ada sayang yang abadi.

Di lain waktu, ia, seorang sahabat sangat karib, sudah bertekad untuk tak menceritakan apapun kesusahan dan derita kepada ayahnya, walau sudah tak tertanggungkan oleh dirinya. Apa sebab? Hanya semata-mata ayahnya pernah berkata, “pokoknya Papa tidak mau tahu urusanmu. Jangan buat Papa mati.” Tak ada komunikasi, apalagi pelukan yang menghangatkan dan membakar lara.

Pun seharusnya pelukan itu mendamaikan. Jika itu dilakukan tanpa hipokrasi. Maka adalah niscaya untuk para politikus yang berada di Senayan. Saat mereka melancarkan kekerasan verbal yang membuat gaduh negeri ini. Bagaimana tidak, kata-kata seperti “dicincang” mudah keluar dari mulut seorang Gus Choi saat mengomentari tingkah Sutan Bhatoegana yang dianggap melecehkan Gus Dur. Ayolah berpelukan.

Pelukan itu adalah hasrat memaafkan. Percaya tidak jika memaafkan orang yang bersalah itu melegakannya, sedangkan memaafkan orang yang tak bersalah itu melegakan kita? Pelukan itu mendamaikan dan perdamaian membutuhkan memaafkan.

Maka ingatkah Anda kapan pelukan terakhir itu hinggap dibahumu seperti hujan yang mengguyur kegersangan di awal musimnya? Atau ada amnesia yang menjelma karena Anda lupa kapan terakhir memeluknya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Ri, aku semakin mencintaimu

12:42 06 Desember 2012

Sumber gambar dari sini.

PTKP DARI MASA KE MASA


PTKP DARI MASA KE MASA

Mulai tanggal 1 Januari 2013 akan berlaku besaran Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang terbaru setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 162/PMK.011/2012 tanggal 22 Oktober 2012 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak.

PTKP adalah komponen pengurang penghasilan neto untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP) dari Wajib Pajak Orang Pribadi. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan di bidang ekonomi dan moneter serta harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat maka ketentuan yang mengatur besaran PTKP seringkali diubah atau disesuaikan.

Artikel kali ini hanya sekadar mencatat perubahan PTKP itu dari masa ke masa, berlakunya, dan beleid yang mendasarinya. Ini diawali dari yang paling teranyar atau yang pada saat tulisan ini dibuat sedang berlaku. Semoga bermanfaat.

 

PTKP

dedaunan di ranting cemara

Riza Almanfaluthi 21:30

28 November 2012

diupload pertama kali di: http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/11/29/ptkp-dari-masa-ke-masa-512683.html

S A L J U


S-A-L-J-U

hanya ada salju

tak ada yang lain

yang lebih putih di bulan Desember

aku nanar menatap pepohonan

karena ia menjelma menjadi dirimu

dalam sengkarut jiwa

yang menghapus jejak-jejak kaki

bahkan ingatan akan sakura

aku terbakar dalam dingin

merepih jilatannya yang tak berkesudahan

di dahan rantingmu

aku siap terbang

menjadi elang

mengangkasa

dan mencumbu rahasiamu

hitungan hari bersimbah detik-detik

lalu ia terhenti selamanya.

**

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

26 November  2012

WHATSAPP YANG MERAMPAS?


WHATSAPP YANG MERAMPAS?

 

Tanpa disadari atau sengaja tidak menyadari kalau dunia WhatsApp mengalihkan perhatian saya. Aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 100 juta kali itu adalah aplikasi messenger yang dapat mengirimkan teks, video, gambar, dan suara kepada teman-teman dan kontak yang ada di hp kita masing-masing. Ini juga karena saya masuk ke grupnya. Mungkin kalau tidak bergabung ke dalamnya, dunia per-whatsapp-an saya juga sepi-sepi saja.

    Saya juga berpikir inilah yang mungkin menyebabkan Blackberry digilai oleh sebagian pengguna gadget di Indonesia karena semata kehebatan dari BBM-nya. Tapi BBM ini tersaingi karena kehadiran WhatsApp yang tidak mengharuskan penggunanya untuk memakai perangkat Blackberry. Lintas smartphone, lintas operator, lintas OS. Gtalk kalau saya bandingkan dengan WhatsApp juga lewat.

    Saya tak berusaha detil untuk mengulas WhatsApp di sini, saya cuma mau mengatakan bahwa zaman sekarang orang sudah terhubung dengan berbagai macam cara. Tentu di sana selain kelebihan yang didapat ada pula kelemahan atau mudharat yang kudu diwaspadai oleh semua penggunanya. Layaknya pisau ada ditangan siapa. Atau seperti pisau karton dalam cerpen Motinggo Busye?

    Sejak kenal grup dalam WhatsApp itu jarang sekali perjalanan pulang dalam kereta menjadi perjalanan yang membosankan. Asal handphone-nya sudah dicharge terlebih dahulu tentunya. Kalau enggak, matilah gaya sudah pasti. Untuk itu, setiap jam tiga sore handphone sudah harus dicolok kabel charger. Kalau sudah jam lima teng kurang sedikit barulah dicabut. Lumayan bisa untuk satu sampai dua jam ke depan.

    Di dalam kereta, walau desak-desakkan dan sedikit panas, perhatian bisa teralihkan ke gadget. Tersenyum dan tertawa bisa muncul di saat ikutan grup WhatsApp itu. Walau harus tertawa tertahan agar tidak dilihat oleh penumpang yang lain. Apalagi kalau japri sama teman-teman di sana yang rada-rada minha. Minha itu kata teman berasal dari bahasa arab yang artinya setengah atau sebagian atau sedeng gitulah. Sebenarnya teman-teman saya tak seperti itu kok. Mereka baik-baik. Mereka tahu batas tentang bercanda dan serius. Mereka para guru. Dan sudah tentu otak mereka semua genap. Insya Allah ahli surga semua. Amin.

Kegilaan saya terhadap WhatsApp tetap ada batasnya. Dan memang harus dibatasi agar jangan merampas hidup saya. Ada waktu khusus saya yang tidak bisa diganggu gugat oleh WhatsApp. Yaitu setiap pagi saat saya naik kereta rel listrik. Ada yang harus saya kerjakan sambil berdiri yang tak bisa tergantikan olehnya. Dan Alhamdulillah masih bisa bertahan walau dering sms dan bunyi kecipak air tanda pesan WhatsApp memekik-mekik.

Dan yang kudu diperhatikan juga adalah jangan sampai hubungan kita dengan WhatsApp mengalahkan hubungan personal kita di dunia nyata. Sampai rumah ya sudah, buang itu gadget jangan dipegang terus. Kehangatan ruang grup WhatsApp tetap tak bisa mengalahkan kehangatan ruang keluarga kita. Terhadap yang mencintai kita dan kepada celoteh-celoteh riang yang memenuhi ruang itu.

Bolehlah kembali ke ruang maya itu saat mereka tidur semua tapi ingat kalau besok adalah hari yang pepat. Hari yang membutuhkan kesiapan fisik kita secara paripurna, yang tidak bisa disediakan oleh tubuh yang kekurangan tidur.

Saat menekan tombol titik setelah kata tidur di atas, saya langsung menguap. Tanda alarm kalau tubuh saya juga butuh tidur. Besok adalah hari Ahad, banyak sekali yang harus saya lakukan. Saya akhiri saja kali yah keterpesonaan saya kepada makanan baru bernama grup WhatsApp ini. Pesona yang sama saat bule-bule pertama dan berulang kali datang ke Raja Ampat.

Sebenarnya maksud saya mengungkapkan semua ini semata hanya ingin menulis. Enggak ada maksud lain. Terus terang saja, grup WhatsApp telah mengalihkan fokus saya dari menulis. Dan kalau seminggu saya tidak menulis badan saya meriang. Ada virus kegelisahan yang memenuhi pembuluh darah saya. Makanya saya paksakan menulis sekarang. Karena enggak ada tema-tema berat yang harus saya tulis, ya tentu yang ringan-ringan saja yang saya tulis. Seperti tentang WhatsApp ini.

Kalau sudah menulis kan bisa plong. Saya bisa berpikir yang lain. Saya bisa mengamati keadaan dan suasana yang berbeda. Tidak suntuk lagi. Ini sudah bagus saya bisa menulis sekali seminggu. Kalau bisa mah sehari sekali. Tetapi mungkin saya belum sampai ke taraf itu, karena setiap melakukan pergulatan ide (baca menulis) saya mengalami kelelahan setelahnya. Ah, itu cuma alasan saja kali yah. Iya memang betul cuma alasan. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis. Kudu menulis kapan pun, setiap saat.

Agar apa? Agar bisa dipastikan bahwa otak kita masih waras. Tidak minha. Masih bisa diajak untuk berpikir. Untuk mengamati keadaan. Dan tidak dementia atau pikun. Berbagai studi telah membuktikan, supaya kita tidak mengalami kepikunan maka menulis bisa menjadi salah satu cara pencegahannya. Menulis merupakan kegiatan yang dapat menstimulasi sel-sel saraf otak

Itu aja kali yah monolog malam ahad ini. Semoga bisa bermanfaat buat yang lain. Terutama sih untuk diri saya pribadi. Semoga besok adalah hari yang menyenangkan buat kita semua. Amin. Tabik.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00:06 Ahad 25 November 2012

MENCIUM BIBIRNYA


MENCIUM BIBIRNYA

 

Terbangun di tengah malam itu sesuatu. Dua jam berikutnya hanya terpaku pada mainan baru bernama WhatsApp di android 2011 saya. Mengecek satu-persatu siapa saja yang pada pukul 00.00 masih saja terlihat jejaknya. Last seen today at 00:00.

Memergoki keponakan di tanah seberang yang masih melek. “Durung turu tah, Nok?” tanya saya. Basa Cerbon menjadi sarana komunikasi semut kami. “Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?” Pernyataan dan pertanyaan adalah responnya. Ohya maaf bagi yang tidak mengerti dialog kami, santai saja Bray, di bawah akan ada terjemahannya.

Gerak selanjutnya adalah membuka benda hitam—netbook—yang teronggok di atas meja. Terdiam sejenak dan berpikir mau menulis apa. Tiba-tiba sudut mata saya jatuh pada sebuah album foto yang hampir rusak. Saya membukanya. Dan satu persatu saya melihat rekaman hidup yang tergambar di setiap lembar kertasnya.

Kemudian menemukan foto setengah badan saya. Foto di tahun 1997. Latar belakang hijau. Pakai baju putih. Pakai dasi dan jas pemberian waktu saya jadi panitia wisuda di tahun 1996. Saya pun waktu itu masih kurus. Sedikit ada senyum di wajah. Dan jenggot tipis di dagu. Apa lagi pentingnya saya deskripsikan di sini buat Bray yah?

Dan seperti adegan di film-film biasanya. Saya mengambil foto itu dari plastiknya lalu membalik foto itu. Ah…sebuah tulisan tangan ada di sana. Sebuah tulisan tangan yang saya tentunya tahu betul siapa pemilik dari goresan tinta hitam itu. Ada dua alinea. Beberapa kalimat. Dengan dua kata pertama yang dicoret biru agar tak bisa dibaca.

“…… …… saat mendengar antum menerima ane. Meski keraguan itu masih ada, ane menerima untuk menjalani apa yang ada.”

“Ya akhi rahimakillah, hanya ketsiqohan ane kepada Umi dan Pak Hasan, yang membuat ane berani menyatakan “iya”. Bukan keraguan tentang keimanan antum yang m’buat ane bimbang.”

Ini jejaknya. Saya teringat kalau foto ini adalah foto yang saya berikan padanya saat ta’aruf. Dan itu masa lalu. Belasan tahun terlampaui. Sekarang kita tahu diri kita masing-masing. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Kita saling menutupi kelemahan diri kita. Kita terus berusaha dan belajar memahami.

Saya menghentikan sejenak tulisan ini. Segera bergegas masuk ke dalam kamar. Melihat sosok perempuan itu terlelap. Dan mencium keningnya. Ada Kinan di sebelahnya. Khusus untuk perempuan kecil lucu ini, tidak lain tidak bukan, bibirnya saya cium. Sambil berkata, “Zawwadakillaahuttaqwa.” Ucapan doa yang saya kutip dari Ustadz Fathur—semoga Allah senantiasa menyehatkan beliau—yang artinya kurang lebih: “semoga Allah membekalimu taqwa.”

Saat melanjutkan tulisan ini jarum pendek jam sudah menusuk di angka 3. Bergegas untuk segera menyelesaikannya. Saya butuh tidur lagi. Sebentar saja. Sebagai penutupnya saya teringat sebuah dialog dengan perempuan ini, siang tadi.

“Bersyukurlah punya istri yang tidak minta macam-macam,” katanya.

Sambil berpikir, meresapi kalimat yang ia ucapkan, saya pun menyetujuinya. Polos saya berkata, “Betul, karena barangsiapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmatnya.”

“Wuih…enggak sopan,” tegurnya sambil melirik tajam.

“What &(%($*#&*??”

*

Semoga ini bukan pencitraan. Saya ini pembelajar saja. Setiap pembelajaran tentu ada salahnya. Kalau orang memanggil saya dengan sebutan terhormat, aduh saya sungguh tidak pantas. Masih banyak dosanya. Masih saja terus berbuat salah. Masih saja enggak mau “nyadar”. Nyadar nikmat, nyadar umur, nyadar Allah masih terus menutupi aib-aib saya, dan nyadar-nyadar yang lainnya.

Kalau kamu, Bray, nemuin saya salah, terjerembab, sadari Bray, saya juga manusia. Mohon dimaafkan. Saya cuma pembelajar. Semoga Allah mengampuni saya selalu. Kita.

**

Terjemahan:

  1. Durung turu tah, Nok?     : Belum tidur, Nok?
  2. Nok         : Panggilan kepada adik perempuan, anak perempuan, perempuan yang dimudakan.
  3. Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?    : Bangun habis menyusui, Ang. Bagaimana, bagaimana?
  4. Ang        : Panggilan kepada kakak laki-laki.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tak saya edit lagi. Apa adanya. Selesai di 03.14

12 November 2012

 

tags: whatsapp, android, ustadz Fathurrahman, ustadz fathur, curahan hati, kinan, perempuan, ria dewi ambarwati, cerbon, mamuroh, ma’muroh, maam, ma’am,

TIPS MENULIS: CARI PATOK DUGA


 

Bagi saya membagi “Mel” kepada yang lain melalui jalur pribadi adalah sebuah proses perpindahan ilmu. Dan sungguh saya tak keberatan. Sila untuk ditelaah lebih dalam mengapa “Mel” menjadi yang terbaik pada momen itu. Sila untuk ditiru: gaya bahasa, cara bertutur, dan kejutannya.

Bagi yang sedang belajar menulis, proses meniru adalah sebuah keniscayaan, bahkan jalan mula untuk menemukan gaya menulisnya sendiri kelak. Jadi, seperti banyak penulis profesional sering katakan: carilah benchmarking. Jadikan satu-dua penulis yang disukai menjadi patok duga. Fokus, baca pelan-pelan, dan amati bagaimana mereka menyuguhkan keindahan berbahasa dan bercerita.

image

(Sumber gambar: Deviart art, photo by brianmiller72)

Maka saya menemukan Dahlan Iskan, Goenawan Mohammad, dan Radhar Panca Dahana adalah Istana Sulaiman yang penuh manik-manik dan permata kata-kata. Mereka adalah patok duga. Membaca Dahlan Iskan seperti membaca sebuah kelugasan, selipan humor, masakan tanpa bumbu sastra, tampilan apa adanya. Dan kekuatan yang diberikan selesai membacanya adalah selalu tumbuhnya harapan dan optimisme yang sepertinya mulai pudar ditelan skeptisme akan kondisi negeri. Inilah hebatnya ia.

Lain halnya Radhar Panca Dahana yang bermain-main dengan diksi yang kaya. Sungguh-sungguh kaya. Bagaimana dengan Goenawan Mohammad? Ayo kita tamasya pada keluasan referensi saat membaca catatan pinggirnya, gaya bahasa yang mengilap dan memuisikan itu. Walau ia dianggap bukanlah seorang sastrawan oleh seorang Saut Situmorang.

Selain patok duga, saya mengajak tak henti-hentinya kepada Anda yang ingin belajar mengolah kata untuk segera angkat ‘pena’ sekarang juga, celupkan ia pada tinta hitam, dan tuliskan di selembar kertas putih, tuangkan segala yang dirasa, yang dipikir, di atasnya. Tanpa perlu membuang-buang waktu berpikir tentang si A, si B, si C yang karyanya bisa menjuarai perlombaan, memenangkan penghargaan, ataupun masuk koran.

Tahukah Anda kalau Wolfgang Amadeus Mozart yang musisi dan komponis besar itu menghabiskan 10.000 jam untuk berlatih. Begitu pula Bill Joy, seorang pencipta bahasa pemrograman Java dan pendiri Sun Microsystems menghabiskan lebih dari 10.000 jam juga untuk berlatih membuat program dan menjadikan dirinya dianggap “an American computer scientist” serta menjadi legenda.

Kalau Anda cuma melihat keberhasilan seseorang dari bagaimana ia maju ke panggung menerima penghargaan ataupun kekayaannya yang bertambah, maka sesungguhnya ada yang dilupakan oleh Anda yaitu proses mendapatkannya. Ini seperti Anda yang hanya kagum saat melihat tukang batu berhasil meremukkan batu sebesar gajah pada pukulan yang ke-1000. Anda tidak melihat ada 999 pukulan sebelumnya yang turut menentukan, atau pada pukulan pertamanya. Dan seringkali pukulan pertama itu yang enggan untuk diayunkan. Dengan berbagai alasan tentunya.

Malam ini, saya mengajak Anda yang ingin menjadi penulis hebat untuk: yang pertama, mencari patok duga dan yang kedua, berlatih sekarang juga. Menerima tantangan ini?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih terus belajar dan berlatih

ditulis pertama kali untuk kompasiana.com

di:

http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/02/tips-menulis-cari-patok-duga-506076.html

01 November 2012

tags:

Bottom of Form