Pendar-pendar Kenangan di Titik Evenaar


Di atas awan.

Bumi Kalimantan akhirnya saya pijak kembali. Itu pun setelah 13 tahun lamanya. Bukan lagi di Palangkaraya atau Balikpapan yang hanya menjadi tempat pindah pesawat. Sekarang adalah Kota Khatulistiwa: Pontianak. Tempat yang lagi-lagi membuat saya bisa terbang dan mengarungi lautan mega bergulung-gulung dengan senja yang akan tamat. Persis waktu yang lampau itu. Catatannya masih bisa kau obrak-abrik di sini.

Buku Rhenald Kasali yang berjudul Agility: Bukan Singa yang Mengembik menemani penugasan kali ini. Kebetulan buku itu sedang membahas tentang transformasi Angkasa Pura II dalam mengelola bandara. Salah satunya Bandara Supadio di Pontianak.

Mas Dwi Joko Supriyanto dan Mas Jarot Aditya Pratama sudah menunggu saya di luar pintu kedatangan malam itu. Bau asap langsung mendobrak indra penciuman saat menuju tempat parkir. Asap hasil pembakaran pembukaan lahan masih jamak dirasakan warga Pontianak. Sudah bertahun-tahun lamanya hal ini berulang. Berbagai pihak telah turun tangan untuk menangani, namun masih saja terjadi. Entah kenapa.

Saya menurut saja ketika mereka mengajak makan malam. Ajakan untuk ngopi setelahnya terpaksa saya tampik. Bukan apa-apa. Ini soal mempersiapkan diri buat tugas besok. Hakikinya kalau darma itu belum selesai saya masih tak bisa untuk merayakan kesenggangan.

Saya melihat warung-warung kopi dipenuhi manusia. Ini membuat ingatan saya terperosok di malam-malam Banda Aceh.  Suasananya sama seperti itu. Aku sudah menduga warung-warung itu bergelimang dengan kepahitan robusta. Ini diiyakan oleh Mas Jarot.

“Bagaimana kalau saya pesankan kopi Aming, Pak?” tanya Mas Djarot, “pesan online.”

“Hmm…” Sejenak aku berpikir, ini tawaran yang menarik. Tetapi itu akan membuat saya begadang. Aku butuh istirahat. “Nanti saja, Mas. Terima kasih.”

Sesampainya di penginapan yang terletak di Jalan Teuku Umar, Pontianak saya segera membuka laptop. Saya perlu sedikit memperbaiki materi yang akan disampaikan besok. Di atas ketinggian ribuan kaki, di dalam kabin pesawat, sempat terpikir ada yang mesti saya tambahkan dalam bahan ajar itu.

Seusai menyunting, saya tinggalkan malam Pontianak dalam mimpi-mimpi yang tak jelas.

 

Raja dari Segala Buah

Seharian itu teman-teman muda perwakilan dari enam Kantor Pelayanan Pajak dan tujuh Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan berkumpul untuk belajar bersama. Mereka berlatih membuat konten jurnalistik untuk dapat berkontribusi di situs web pajakgoid.

Waktu yang dirancang oleh Kepala Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah DJP Kalimantan Barat Sri Rahayu Murtiningsih membuat saya bisa leluasa memberikan porsi latihan yang banyak buat mereka.

Bagi saya yang terpenting dari sebuah lokakarya itu tak melulu pengetahuan, melainkan latihannya. Itu juga tak cukup berhenti di situ.  Setelahnya mesti konsisten untuk menulis dan berkontribusi sehingga mampu membantu tugas Bu Yayuk—biasa Sri Rahayu Murtiningsih dipanggil—dan menaikkan peringkat kehumasan Kantor Wilayah DJP Kalimantan Barat.

Usai tugas seharian tanpa beban, setelah makan malam, Bu Yayuk mengajak saya untuk  mendatangi sebuah jalan di sudut kota yang didirikan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771 ini. Kawan lama saya Erin Fadilah Sari ikut serta. Engkau tahu kemana rombongan ini pergi? Makan durian.

Ya, makan durian di pinggir jalan, di jembatan di atas Sungai Raya Dalam. Di sana tersedia tenda besar, meja, dan kursi untuk para pembeli yang hendak menyantap langsung. Tetapi jangan berharap dengan air kobokan dan selampai untuk membersihkan tanganmu dari serpihan-serpihan daging durian yang masih lengket di jemarimu. Tidak ada. Ini bukan resto.

Durian didatangkan dari Punggur, Batang Tarang, dan daerah lainnya di Kalimantan Barat. Buahnya kecil namun dagingnya berkilat kuning. Maka sering juga ia disebut sebagai durian tembaga.

Perihal durian, Kalimantan Barat memang jagonya. Durian Jawa masih belum mampu mengalahkan kelezatannya. Teman-teman meyakinkan saya kalau durian ini matang bukan karena diperam, melainkan jatuh dari pohon.

Tentang durian ini, lagi-lagi saya diingatkan kembali tentang tepian jalan di daerah Pantai Barat Aceh yang banyak ditumbuhi dengan pohon durian tinggi menjulang menunjuk-nunjuk langit. Pada musimnya, durian ini lebih murah daripada durian Pontianak.

Beberapa butir tersaji di atas meja. Saya meminta izin untuk tidak ikut menyantapnya. Dengan satu alasan: tidak suka buah dan tidak suka durian.

Bincang-bincang mengiringi kudapan malam itu. Bu Yayuk cukup mampu menahan diri. Di sisi lain bayang-bayang kolesterol tak mampu menggoyahkan hasrat para pemuda dalam rombongan ini untuk menghabiskan daging raja dari segala buah ini. Erin menjadi pemungkas dalam perjamuan di malam yang sudah mulai menua itu.

Memilih-milih durian.
Coba terangkanlah manisnya buah itu.
Durian mana lagi yang perlu kusentuh?

Di Kedai Kahwa

Paginya saya berlari. Itu pun diawali keengganan luar biasa walaupun pada akhirnya terlaksana juga. Kalau tidak lari, buat apa saya membawa sepatu lari untuk setiap perlawatan ke mana-mana. Karena ini sekadar menggugurkan rutinitas harian, saya cukup berlari lima kilometer mulai dari penginapan menuju IAIN Pontianak pulang pergi.

Setelah itu saya sarapan kemudian check out dari penginapan. Mas Jarot, Mas Dwi Joko, dan Mas Mukhlas Ali membawa saya ke tempat yang sedari kemarin, melalui aplikasi obrolan,  saya ditanya-tanya oleh teman-teman yang pernah singgah di Pontianak, “Sudah ke Kopi Asiang?”

Kedai kopi yang beroperasi mulai jam tiga pagi sampai jam lima sore ini menjadi ikon pop Pontianak dengan peracik minuman kopinya keturunan Tionghoa yang bertelanjang dada: The Naked Barista. Kedai kopi yang membuat para pelancong harus datang ke sana kalau tidak mau dianggap sebagai “pelancong yang benar-benar belum ke Pontianak”.

Kami memasuki kedai yang sudah dipenuhi puluhan manusia itu. Tanpa menyediakan sinyal wifi gratis di sana, membuat warung itu disesaki dengan obrolan yang menggenangi sudut-sudut warung. Mendengung bagaikan suara rombongan lebah yang keluar dari sarangnya.

Mereka mengisi waktu dan ruang di sana dengan obrolan, asap rokok, kudapan, dan tentunya cairan hitam kopi yang bisa dicampur dengan apa saja yang engkau mau. Susu kental manis atau sekadar creamer? Silakan saja.

Mengiringi pagi itu saya memilih kopi susu. Mas Dwi Joko menawarkan bubur ayam kepada saya yang kutolak dengan gelengan. Sarapan sebelumnya sudah mencukupi keinginan perut saya.

Secangkir kopi susu itu tidak saya aduk. Saya membiarkan pemanis kopi ini anteng berada di dasar cangkir. Saya menyeruput kahwa pelan-pelan. Ada yang tidak biasa untuk kongko-kongko kali ini. Saya merasa enjoy dan tidak diburu-buru waktu. Barangkali karena tugas telah terlaksana seharian kemarin.

Saya antusias mendengarkan teman-teman muda ini bercerita tentang pernak-pernik pagi di Pontianak dan tentang kedai kopi terkenal satu lagi di Pontianak: Aming. Kedai kopi yang buka sampai malam dan menyasar segmentasi milenial. Saya jadi teringat dua bungkus kopi pemberian Erin beberapa waktu lalu saat kami bersua di Bogor.

Budaya ngopi di Kalimantan Barat yang ditandai menjamurnya keberadaan warung kopi baru ada di Pontianak. Belumlah seramai Aceh yang di pelosok-pelosoknya engkau bisa temukan warung kopi. Mulai dari Sabang sampai Singkil, Kutacane, atau Langsa.

Setelah puas bercakap-cakap, kami kembali ke Kantor  Wilayah DJP Kalimantan Barat. Menyusuri jalanan Kota Pontianak yang mayoritas dihuni etnis Tionghoa, di saat matahari sudah mulai naik, saya seperti sedang menapaki Tanjungpandan, Belitong. De javu.

Kalau di Aceh namanya kopi sanger.
Di sepeminuman kopi.
Aku tak pernah meminta mereka untuk mengacungkan dua jari.

 

Di Titik Evenaar

Siangnya Mas Jarot dan Mas Mukhlas mengajak saya menuju tempat ikon pop lainnya: Tugu Khatulistiwa. Pontianak memang berada di garis khatulistiwa. Garis imajiner yang berada di tengah dua kutub dan membagi bumi menjadi dua bagian (belahan bumi utara dan selatan).Nah, tugu itu sederhananya adalah titik yang menandakan kakimu bisa kau jejakkan di utara dan selatan sekaligus.

Untuk ke sana, kami melewati dua jembatan besar yaitu Jembatan Kapuas I dan Jembatan Landak. Dulu, melewati Jembatan Kapuas I yang dibangun pada 1982 setiap pelintas harus membayar terlebih dahulu. Pungutan tol itu kemudian dihapus pada pertengahan 1990-an.

Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke sana. Kami hanya membayar delapan ribu rupiah sebagai jasa parkir ketika memasuki area tugu.

Sesampainya di lokasi, masih ada rombongan pejabat bank BUMN yang sedang mengadakan seremoni. Petinggi mereka dari Jakarta sedang dijamu rupanya.  Terlihat dua pemuda pemudi tinggi semampai berpakaian adat dengan hiasan bulu burung enggang di kepala di depan gedung tugu. Elegan sekali.

Menunggu hajat mereka selesai, kami bergeser ke arah Sungai Kapuas. Menuju titik nol khatulistiwa berdasarkan pengukuran baru yang lebih pasti dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) pada Maret 2005. Sedangkan titik 0 khatulistiwa di dalam gedung itu adalah titik 0 yang diukur pada 1928.

Lalu kami bergeser ke tepian Sungai Kapuasnya. Di sana banyak kedai penjual makanan dan minuman ringan selain kapal restoran yang sedang berlabuh. Tak lama kami di situ. Lalu kami kembali menuju gedung tugu.

Acara penyambutan petinggi BUMN itu sudah usai rupanya. Tapi tunggu dulu, saya menahan Mas Mukhlas untuk masuk ke dalam gedung.  Saya ingin mencicipi pisang goreng di salah satu warung yang berada di depan gedung.

Pisang goreng Pontianak memang terkenal sebagai jajanan tradisional dari Kalimantan Barat. Sekitar sepuluh tahun lampau sempat menjamur penjual makanan ini di Jakarta dan Depok yang antreannya mengular sebelum kemudian tumbang. Kejayaannya cuma sebentar.

Saya juga memesan minuman khas Pontianak yaitu minuman lidah buaya atau Aloe vera tanpa tambahan apa pun. Saya sudah diwanti-wanti oleh kakak penjual berlogat Kak Ros dalam serial Upin Ipin kalau rasanya akan hambar. Dan benar saja rasanya adalah “tiada rasa”. Oh, jadi rasa manis yang selama ini saya rasakan itu berasal dari pemanisnya dan bukan dari asli tanaman lidah buaya itu. Terbayang betapa banyak gula yang kita konsumsi.

Kami memasuki gedung tugu dan disambut perempuan paruh baya pegawai Dinas Pariwisata Kota Pontianak. Setelah kami mencatatkan nama di buku tamu, ia  tak segan-segan mengajak kami untuk mencoba mendirikan telur.

Engkau ingat tentang bagaimana Columbus dilecehkan banyak orang saat menemukan Benua Amerika? Columbus menantang mereka mendirikan telur. Tak ada yang bisa. Lalu Columbus menunjukkan caranya. “Wah, gitu doang mah gue juga bisa,” ucapan mereka kira-kira seperti itu setelah melihat kaidah Columbus mendirikan telur.

Tidak seperti Columbus, ibu itu sanggup mendirikan telur dengan menggunakan telur mentah. Dua telur sekaligus dari empat yang tersedia. Ia bilang medan magnet di titik khatulistiwa membuatnya seimbang. Maka saya pun mencoba untuk mendirikannya. Berulang-ulang kali gagal, namun dalam satu kesempatan yang tak bisa saya ulang lagi saya pun bisa membuat telur itu berdiri tegak.

Setelah itu saya mencoba mewalakkan kaki di utara dan selatan seperti orang–orang biasa lakukan saat berkunjung di sini. Kemudian melihat foto-foto dan membaca sejarah pendirian tugu ini.

Dan tak kalah pentingnya ketika keluar dari sana, saya diberi satu sertifikat, tanda bahwa saya telah melintasi garis evenaar (Khatulistiwa dalam bahasa Belanda). Sertifikat itu dicetak langsung dengan nama saya sendiri. Sertifikat ini ditandatangani oleh Walikota Pontianak Sutarmidji yang pada Pilkada Juni 2018 itu terpilih sebagai Gubernur Kalimantan Barat.

Teman saya sengaja menyelipkan gumpalan uang kepada pencetak sertifikat namun ditolak halus. “Ini hadiah dari Pak Walikota,” katanya. Wow, luar biasa. Menurut saya ini hebat. Tidak banyak orang sepertinya yang sering kali dalam posisinya memanfaatkan kebaikan untuk dibalas dengan recehan.

Ini selaras dengan salah satu pigura yang dipamerkan di sana. Pigura yang membungkus piagam penghargaan dari Ombudsman RI tentang pelayanan publik. Pontianak memang berulang kali mendapatkan penghargaan tingkat nasional.  Bahkan pernah menjadi kota terbaik se-Indonesia dalam hal pelayanan publik pada 2016.

 

Gedung Tugu Khatulistiwa.

 

Tugu Khatulistiwa difoto dari arah Sungai Kapuas.
Ini titik “evenaar” yang baru.
Salah satu foto yang dipajang di dalam gedung Tugu Khatulistiwa.
Sudah samakah dengan model dalam foto Stefan Murtany?
Burung Enggang yang jadi lambang budaya.
Utara dan selatan itu jelas.

Seberangi Kapuas

Pulangnya kami tidak menempuh rute yang sama. Kami akan menyeberangi sungai terpanjang di Indonesia ini melalui Dermaga Penyeberangan Feri Siantan. Namun kami harus antre cukup lama di sana.

“Waktuku cukup, Mas?” tanya saya.

“Insyaallah, Pak,” kata Mukhlas yang sedari tadi pegang kemudi. “Banyak kok kapalnya. Pokoknya kita sampai di kantor lagi jam empat sore.”

Saya masih punya cukup waktu untuk pergi ke Bandara Supadio.

Di dermaga itu saya melihat titik 0 Pontianak. Titik yang dibuat sebagai patokan untuk membuat jalan dari Pontianak menuju Sambas di zaman kolonialisme Belanda. Konon, beberapa tahun lampau keberadaannya tidaklah semenarik sekarang.

Walaupun bertahun-tahun di Aceh Saya tidak pernah berkunjung ke titik 0 Indonesia di Sabang, pada akhirnya saya pernah berhenti di sebuah titik 0 lainnya, di sini.

Kami menunggu setengah jam untuk bisa masuk ke tubuh kapal. Setelah menelan puluhan motor dan banyak mobil, di antaranya mobil pengangkut sapi, kapal itu segera berangkat menuju ke seberang. Proses pemuatannya termasuk cukup singkat.

Tak banyak yang naik ke geladak kapal seperti kami. Ini karena waktu tempuh yang cukup singkat. Pengendara motor banyak yang hanya duduk di atas jok motornya masing-masing.

Di atas geladak itu saya sempatkan menikmati pemandangan Sungai Kapuas di hari menjelang sore sambil melirik kegesitan nakhoda mengendalikan kapal. Saya jadi teringat sore hari saat meninggalkan pelabuhan Singkil menuju Sinabang, Simeulue di hari pertama 2014. Engkau berada di mana waktu itu?

Kapal merapat di Pelabuhan Feri Penyeberangan Pontianak. Para penumpang keluar dengan cepat dari mulut kapal seperti koyakan daging impala yang dikeluarkan dari perut anjing liar Masai Mara untuk makan anak-anaknya yang kelaparan.

Mobil kami membelah Kota Pontianak dengan terburu-buru menuju Kantor Wilayah DJP Kalimantan Barat. Ini memberikan kesempatan kepada saya untuk berpamitan dengan para sejawat.Berterima kasih atas segala sambutan bersahabat dari awal sampai tamat. Meminta maaf atas segala kekhilafan yang diperbuat. Bukankah ini semua adalah adat yang perlu dirawat?

Beberapa waktu kemudian, saya sudah meninggalkan Pontianak di bawah. Dari jendela pesawat, saya melihat tak ada warna lembayung di langit-langitnya. Yang tersisa adalah pendar-pendar kenangan yang mesti dicatat untuk tidak menjadi lupa. Engkau tahu apakah warna dari sebuah kenangan? Jawablah.

Sobekan karcis.

Tidak di titik 0 Indonesia.
Sobekan karcis.
Kapten Kapal sedang memusatkan perhatiannya pada arah kapal. Sukses terus, Pak.
Memasuki lambung kapal.
Sapi kurban juga ikut menyeberang.
Aku tahu engkau selalu menatapku.
Pelabuhan Bardan dari kejauhan.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
18 Agustus 2018

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.