Ma’rifatul Maydan


Ceritanya begini, di kantor saya ini sedang heboh-hebohnya melakukan persiapan perjalanan dinas. Saya pun ternyata ditugaskan oleh Kepala Kantor untuk melakukan perjalanan itu. Akhirnya ditetapkan bahwa saya harus pergi ke salah satu Wajib Pajak yang mempunyai lokasi pertambangan di daerah. Tepatnya di Desa Mangkahui, Kelurahan Beriwit, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Waow, ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang sangat baru bagi saya. Maklum saja, selama delapan tahun di KPP PMA Tiga saya tidak pernah melakukan perjalanan dinas. Sebagai Jurusita dulu, paling jauh ke barat Jakarta saya pernah pergi ke Karawaci. Ke timur Jakarta, saya hanya sampai di Cikarang. Ke selatan Jakarta, saya hanya sampai di Gunung Putri. Ataupun secara pribadi, bukan sebagai siapa-siapa, saya paling jauh ke luar Jawa hanya sampai di Lampung. Sedangkan kota yang pernah saya kunjungi di daerah timur adalah Madiun, itu pun di tahun 1999. Sudah lama sekali.
Jadi perjalanan ini adalah perjalanan pertama bagi saya, begitu jauh, dan asing. Saya tidak begitu kenal dengan daerah Kalimantan. Nol besar. Apalagi ini merupakan penerbangan pertama bagi saya. (Hare gini, belum pernah naik pesawat? ck…ck…ck…). Dan bayangan saya tentang Kalimantan adalah pulau di Indonesia yang sepi dan masih banyak hutannya. Saya kesana sendirian lagi, tanpa ditemani oleh siapapun. Sehingga saya benar-benar mengalami rasa takut, ngeri, atau apalah namanya.
Tapi saya sadar, saya takut karena saya asing dan tidak mengenal daerah itu. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, agar saya dapat mengatasi rasa takut itu, agar saya lebih mengenal daerah Kalimantan Tengah, saya pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin yang saya dapat. Istilah kata para da’i kita kudu ma’rifatulmaydan atau mengenal medan terlebih dahulu sebelum melakukan da’wah di suatu tempat.
Pertama saya buka internet, dan langsung mencari daerah Kalimantan Tengah melalui Paman Google. Akhirnya saya mendapat situs Pemprov Kalteng. dari situlah saya mengetahui bahwa Kalteng beribukota Palangkaraya. Maklum saya tak begitu hapal Kalimantan itu terbagi berapa provinsi dan apa saja ibukota provinsi di Kalimantan. Dari sana saya tidak mendapatkan keterangan tentang kabupaten Murung Raya.
Saya kemudian search lagi, dan mendapatkan hasilnya yakni situs Pemkab Murung Raya. Ternyata Murung Raya adalah kabupaten baru, sehingga belum tercantum dalam situs Pemprov. Atau situs Pemprovnya yang belum di update. Ibukota Kabupaten Murung Raya adalah Puruk Cahu. Perjalanan menuju kesana melalui jalan udara hanya dapat ditempuh oleh dua penerbangan saja yang dilakukan oleh DAS (Dirgantara Air Service) dari Palangkaraya, atau dari Banjarmasin (kalau tidak salah).
Untuk menuju ke sana dari Jakarta berarti saya harus naik pesawat ke Palangkaraya terlebih dahulu. Dan ini hanya bisa dilayani oleh dua maskapai penerbangan saja yakni Batavia air dan Sriwijaya Air. Batavia Air terbang dari Jakarta Pukul 12.15, sedangkan Sriwijaya air penerbangan pertama ada pada pukul 09.40.
Dari Palangkaraya saya harus memilih hari yang tepat, karena DAS dalam seminggu hanya melayani tiga hari perjalanan saja. Yakni hari selasa dengan satu kali penerbangan, hari kamis dengan dua kali penerbangan, dan hari sabtu satu kali penerbangan saja.
Dari informasi yang diperoleh dari Wajib Pajak, diketahui bahwa sebenarnya landasan di Puruk Cahu adalah landasan yang dipunyai oleh Wajib Pajak namun juga disewakan kepada DAS. Dan Wajib Pajak sebenarnya sudah menyediakan pesawat dari bandara Sepinggan, Balikpapan ke site. Namun saya bersikeras saya harus datang terlebih dahulu ke Palangkaraya karena ini menyangkut pencairan SPPD. Syarat SPPD cair adalah saya harus mendapatkan stempel dari KPP tempat lokasi kunjungan berada, sedangkan lokasi Wajib Pajak benar-benar berada di wilayah kerja KPP. Walaupun kalau dilihat efisiensi, lebih enak lewat Balikpapan, tapi apa mau dikata, kalau tidak ada legalisasi dari KPP setempat saya tidak akan mendapatkan pengganti atas pembiayaan perjalanan ini. Tapi saya sudah bilang kepada Wajib Pajak kalau pulangnya bisa deh saya ikutan pesawatnya.
Kemudian setelah saya mengetahui jadwal penerbangan ke lokasi, saya pun berusaha mencari tahu tentang suasana di kota Palangkaraya. Oleh karena itu saya bertanya kepada salah satu Kepala Seksi di KPP PMA Tiga yang pernah bertugas lama di daerah Kalimantan. Dari beliaulah saya mendapatkan banyak informasi tambahan yang baru yakni kalau melakukan perjalanan dari Palangkaraya menuju Puruk Cahu melalui jalan darat akan memakan waktu kurang lebih lima jam dan itu pun kalau tidak ditambah dengan banjir. Wah…lama juga.
Yang terpenting juga, beliau menawarkan bantuan untuk menghubungi temannya di KPP Palangkaraya agar setidaknya membantu saya di sana. Mulai dari fasilitas penginapan sampai pesan tiket DAS menuju Puruk Cahu. Tapi saya sudah mewanti-wanti kepada beliau, bahwa saya cuma bisa menginap di penginapan yang murahan saja agar saya dapat menghemat biaya perjalanan itu. Karena saya tidak tahu seberapa besar ongkos perjalanan pulang pergi Jakarta-Puruk Cahu termasuk akomodasinya. Atas hal ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada beliau atas bantuannya.
Pada akhirnya semua ketakutan itu setidaknya berkurang apalagi nantinya saya akan ditemani oleh wakil dari Wajib pajak yang saya kenal akrab dengannya. Sehingga tidak begitu clingak-clingukan di lokasi yang masih asing bagi saya.
Poinnya adalah kita memang perlu melakukan upaya ma’rifatulmaydan dalam melakukan sesuatu perjalanan atau kegiatan apapun. Atau mungkin bahasa kerennya saat ini adalah to plan atau planning, merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Agar kita dapat mempersiapkan apa yang harus kita lakukan supaya tujuan yang diinginkan di awal dapat tercapai.
Oleh karena itu ketika kita akan menikah pun kita perlu ta’aruf terlebih dahulu.
“Lho apa hubungannya Palangkaraya dengan menikah. Jaka Sembung dong,” tanya sisi lain.
“Hehehe….nggak ini cuma intermezo saja Lho anda juga kenapa tanya-tanya segala masalah korelasi dan tidaknya? ” sisi lain balik bertanya.
“Tidak, soalnya masalah ini sensitive lho,” jawab sisi lain.
“Oh ya sudah, kalau gitu saya minta maaf, hehehehe…”pinta sisi lain.
So…ber-ma’rifatulmasydan-lah Anda agar semua rasa takut itu hilang. Setelahnya, biar Allah yang akan melindungi Anda. Insya Allah.
dedaunan di ranting cemara
di antara mimpi-mimpi bumi Kalimantan
18:55 09 Desember 2005

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s