Cerita Lari BNI UI Half Marathon: Ini Soal Nafas Panjang


Racepack.

Wajah saya tersungkur di atas seuntai sajadah sembari melamatkan sebentuk doa yang tak kunjung habis menjulang ke langit. Meminta kepada Yang Maha Menatap sebuah kekuatan dan kesehatan agar tubuh yang dititipkan kepada saya menjadi berdaya. Jam sudah menunjukkan wajah  bertaringnya di angka 03.45 pagi.

Saya harus melesat ke Universitas Indonesia (UI) untuk menandak kaki mengikuti lomba lari BNI UI Half Marathon 2017. Ini lomba pertama yang saya ikuti untuk kategori 21 kilometer. Atau musabaqah kedua setelah lari 5 kilometer di Spectaxcular 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Perlu saya kasih tahu di sini, soalnya masih banyak yang belum tahu juga. Kalau Half Marathon itu lari dengan jarak tempuh 21, 0975 kilometer. Sedangkan Full Marathon menempuh jarak 42, 195 kilometer.

Semalam setelah berkonsultasi dengan sesama DJP Runners Mas Asdaferry, bujang ganteng sekaligus pelari tangguh dari Kantor Wilayah DJP Jakarta Selatan Satu, semua perlengkapan lari sudah saya siapkan dalam satu tas. Jadi ketika mau berangkat, saya tinggal bimbit saja tas ransel itu.

Ada sarung buat salat Subuh, sunblock Oriflame, topi Humas DJP, air putih dalam botol, susu coklat kemasan untuk saya minum setelah finis, jam lari yang saya tak tahu apakah sudah penuh atau belum baterainya, dan tas pinggang. Ada juga lima biji gula jawa yang dibungkus seperti permen sebagai “gel” buat saya, rencananya setiap 5 kilometer saya akan makan sebagai penambah daya.

Lalu ada biskuit buat sarapan. Sebenarnya Mas Asda yang menyarankan saya untuk membawa roti sebagai sarapan tapi saya hanya punya biskuit. Padahal selama ini ketika saya latihan lari setiap hari Minggu saya tak pernah sarapan dulu.

Saya membangunkan senja yang tak pernah tenggelam untuk sekadar pamitan dan mengunci pintu. Saya memeluknya. Setelah mengenakan jaket tipis Adidas, saya segera mengeluarkan motor dari garasi dan melaju di dini hari yang belumlah Subuh. Waktu itu saya masih belum punya keputusan untuk naik motor sampai UI atau menitipkan motor di parkiran Stasiun Citayam lalu melanjutkan naik commuter line untuk turun di Stasiun Pondok Cina. Pilihan yang terakhir sangat menarik. Ini yang lebih praktis.

Akhirnya saya putuskan naik commuter line. Kereta rel listrik yang pertama pas banget sampai ketika saya memijakkan kaki di peron Stasiun Citayam. Sebelum pintu commuter line menganga ada orang yang  menghampiri saya dan menaarufkan dirinya sebagai peserta lari nanti. Atribut yang saya kenakan sudah membuat orang bisa mengenali saya. Ternyata sesama pegawai Kementerian Keuangan. Ia juga anggota komunitas lari di Lapangan Banteng.

Sesampainya di Stasiun Pondok Cina, kami segera melangkah ke Balairung UI tempat panggung dan garis start. Para peserta sudah berkelimun di sebagian area. Saya salat Subuh di salah satu sudut balairung. Tempat salat sudah disediakan panitia. Banyak yang salat berjamaah di sana.

Setelah salat saya segera mempersiapkan diri. Tangan dan muka saya semprot dengan sunblock. Saya segera menggigit setumpuk biskuit, menenggak air putih secukupnya, memakai topi, memasang tas pinggang tempat telepon genggam dan jam Garmin FR 10, dan memasang sport id di tangan kanan.

Saya bersua Mas Asda di tempat salat lalu kami menitipkan tas di tempat penitipan. Di samping Balairung jauh dari panggung, saya sempatkan pemanasan Dynamic Warm-up Pro. Pemanasan yang biasa saya lakukan sebelum melakukan latihan Freeletics.

 

Pelarian itu Dimulai

Jarum jam sudah menunjuk angka 05.15 pagi. Belum ada cahaya pagi yang memandikan kami. Saya bergeser ke garis start. Para pelari sudah banyak berkumpul di garis awal itu. Saya sudah mengeset jam Garmin yang saya tak tahu apakah semalam sudah diisi listrik dengan penuh atau belum, tapi yang pasti jam tangan ini berada dalam genggaman tangan saya. Tali jamnya sudah rusak. Saya juga sudah mengatur waktu di aplikasi lari Freeletics saya. Saya berharap dua alat pengukur jarak dengan GPS ini tidak mati sampai akhir lomba.

Panitia sudah menyediakan rombongan Pacer (pelari yang menjadi acuan waktu untuk menyelesaikan lari). Pacer ini membawa beberapa balon yang melayang dan diikatkan di pinggang mereka. Balon itu bertuliskan 2’:00”, 2’:10”, dan 2’:20”.

Suasana di garis start.

 

Menjelang lari.

 


Pacer.

Waktu terbaik saya dalam menyelesaikan Half Marathon adalah 2 jam 29 menit. Itu waktu saya masih di Tapaktuan. Jadi untuk kali ini saya berusaha mencoba memperbaiki waktu terbaik saya. Untuk kali ini saya mencoba untuk mengikuti pacer yang membawa balon dengan angka 2 jam 20 menit. Saya pikir saya cukup mampu mengimbanginya.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Ketika bunyi lomba dimulai, entah dengan apa dan oleh siapa, kami tak peduli, kami langsung melesat ke depan. Saya berusaha melewati beberapa orang. Tapi sedari awal saya sudah punya strategi agar bisa finis kuat. Saya tak mau ngoyo di awal. Saya berusaha lari dengan kecepatan pada saat saya latihan. Silakan kalau ada yang menyusul. Nyusul-nyusul aja. Sono gih.

Tapi dengan pace (waktu yang diperlukan dalam menempuh jarak satu kilometer) yang saya terapkan setidaknya jarang ada yang menyusul saya, juga saya tak bisa menyusul pelari-pelari yang ada di depan. Saya mengatur nafas dan menenangkan diri. Saya berusaha menjaga pace di angka 6 menit. Saya masih nyaman lari dengan pace itu.

Kegelapan masih menabiri alam saat saya sudah berada di water station (WS) pertama.  Di lomba ini, WS disediakan oleh panitia di setiap jarak 2,5 kilometer. Kalau latihan saya jarang berhenti untuk minum. Biasanya saya minum setelah menyelesaikan lari. Pada lomba kali ini, saya tak begitu. Pokoknya saya ambil minuman berion yang disodorkan panitia.

Saya usahakan agar setiap jarak 5 kilometer yang saya tempuh selalu di bawah angka 30 menit. Di 5 kilometer pertama waktunya mepet. Waktunya pas banget 30 menit. Ini berarti pace saya 6 menitan setiap satu kilometernya. Tidak masalah. Lalu saya membuka “gel”, permen gula merah yang sudah disiapkan senja yang tak pernah tenggelam itu. Saya menikmati manisnya.

Saya berusaha berlari dengan menetapkan target seperti ini: orang yang di depan saya dan paling dekat adalah pelari yang mesti saya susul. Entah dia peserta lomba atau bukan karena ternyata banyak juga yang bukan peserta lomba ikut memakai jalur lomba ini. Satu lagi adalah saya tidak boleh disusul oleh perempuan pelari.

Di kilometer 8 otomatis tidak ada pelari di depan saya yang bisa disusul saya. Berarti mereka pelari tangguh semua. Di 10 kilometer pertama, saya disusul oleh kakek-kakek, pelari asing, dan sedikit anak muda. Saya berusaha mempertahankan kecepatan saya. Ini soal daya tahan dan nafas panjang. Jadi saya harus menghemat tenaga.

Catatan waktu 10 km pertama masih di atas satu jam lebih satu menitan walaupun saya sudah berusaha lari sprint di 200 meter terakhir di kilometer 10 itu. Tapi ini masih lumayanlah. Sudah hampir setengah perjalanan. Kaki saya masih kuat, nafas saya masih pas, dan belumlah lelah. Puluhan pelari masih di belakang saya. Mampukah saya bertahan?

 

Bersambung ke Sini.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Di sebuah labirin, 18 Juli 2017

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s