Cerita Lari BNI UI Half Marathon (2):  Setelah ini Apalagi?


Sebelas Kilometer Terakhir

Menamatkan kilometer 11 menjadi Point of No Return buat saya. Mau tidak mau saya harus terus menderas ke depan. Mengakhirinya sampai garis finis. Di sisa-sisa water station (WS) yang ada, selain minum air berion saya juga mengambil air putih biasa untuk saya simbah ke kepala saya. Ini bikin adem.

Di kilometer  11 ini saya jauh dari kafilah lari. Saya otomatis seperti lari sendirian. Tidak ada yang menyusul saya dan saya pun tak bisa menyusul yang di depan.

Di kilometer 15 ada beberapa pelari di depan saya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ada yang sudah mulai jalan. Ini kesempatan saya buat menyusul. Tapi ada pelari persis di depan saya yang kuat banget.  Kecepatannya stabil. Bahkan lebih cepat daripada saya walaupun saya sudah berusaha menyamai lari dengan cara mengiringi di sisinya.

Sekarang, saya sudah buat target baru. Target pertama, menyusul pelari yang kuat dan paling dekat itu dan target kedua, menyusul rombongan pacer 2’:10” yang sudah ada di depan mata namun jaraknya masih 100 meter lagi. Tetapi betis saya di kilometer 15 itu sudah memberikan gelagat.

Dredet…dredet…Sinyal betis akan kram. Ya sudah, saya tidak memaksakan diri. Latihan memang tidak pernah bohong. Saya memang hanya lari sekali dalam sepekan. Itu pun jaraknya hanya 10 kilometer. Akhir Juni 2017, saya pernah lari dengan jarak 16 kilometer. Tentu otot saya belum mampu mengingat jarak yang lebih dari itu.

Saya berusaha menahan diri sambil melirik jam yang masih menunjukkan angka 15 kilometer. Masih ada 6 kilometer lagi. Saya bisa, insya Allah. Keringat mengucur tapi nafas saya masih terjaga dan kaki masih cukup kuat. Terpenting saya tidak merasa lelah.

Saya menikmati setiap kilometernya. Kadang tiba-tiba saya tertawa sambil berpikir kenapa saya mau lari-lari begini. Buat apa coba?

Di akhir kilometer 19 saya melihat Mas Asda di depan saya. Saya membersamainya. Di kilometer-kilometer yang tersisa ini, jalanan sudah ramai dengan orang. Dan ini, terus terang saja, membuat semangat saya berkobar. Apalagi para marshal menyemangati para pelari dengan mengedau, “Ayo sebentar lagi! Semangat!”

Di situlah ketidakberesan itu muncul. Saya melirik jam Garmin yang selama ini dalam genggaman, ternyata tidak merekam pelarian saya ini, entah di kilometer berapa tepatnya. Barangkali tombol off-nya tak sengaja saya pencet sampai mati. Kemudian saya buka tas pinggang dan melihat aplikasi lari Freeletics saya juga mati. Entah kenapa. Duh, benar-benar di lomba ini saya tidak punya catatan lari. Saya hanya mengandalkan catatan lari dari panitia saja kelak.

Di 500 meter menjelang garis finis yang semarak itu, saya meninggalkan Mas Asda, lalu lari dengan cepat. Saya sudah tak memikirkan tanda-tanda kram itu. Sekalian saja capek dan sakitnya, pikir saya. Ya, akhirnya saya lari kencang. Saya benar-benar tidak merasakan kram.

Rombongan pacer 2’:10” yang sengaja berlari pelan agar bisa difoto ganteng oleh fotografer profesional itu akhirnya bisa saya susul di 200 meter terakhir. Pelari kuat itu masih di depan saya, sudah tak bisa disusul lagi. Jaraknya 20 meteran.

Garis finis sudah 100 meter di tentangan, saya pacu kencang kaki saya. Apalagi seperti ada yang mau menyusul saya di belakang. Saya tak tahu siapa. Dan, Saudara-saudara, akhirnya saya bisa finis juga. Ketika saya tengok ke belakang, eh dia, wakil gubernur DKI Jakarta terpilih yang dikenal sebagai pegiat lari juga, Sandiaga Uno.

Alhamdulillah, saya berhasil finis kuat. Insya Allah tanpa merasa kelelahan yang luar biasa, kehabisan nafas, atau kehausan. Barangkali yang terakhir ini karena WS yang cukup banyak. Saya masih bisa menjaga ritme lari itu dari awal sampai akhir. Tentang catatan waktu kalau dari jam larinya Mas Asda, Garmin-nya menunjukkan waktu 2 jam 4 menit 58 detik. Dari catatan panitia yang sudah dipublikasikan, Finish Time saya di waktu 02 jam  4 menit 23 detik. 

Dari seluruh peserta, baik laki-laki ataupun perempuan, saya berada di urutan 125 dari 697 peserta lari Half Marathon. Dalam kategori laki-laki, saya di urutan 113 dari 533 peserta lari Half Marathon laki-laki. Dalam kategori Master (usia 40 tahun ke atas) saya berada di urutan 56 dari 268 peserta. Untuk manusia seumuran saya, ini adalah hal yang patut disyukuri.

Saya, penamat lari Half Marathon ini akhirnya mendapatkan medali dan kaos penamat. Medali kedua.

 

 Go! Go! Go! Di akhir pelarian.

Kaos penamat.

Bersama DJP Runners.

Catatan hasil lari.

Buku Haruki  Murakami.
Lalu Apalagi?

Memang beda yah suasana lari saat sendirian dalam latihan dan pada saat lomba. Selalu ada semangat berkompetisi yang tidak dijumpai pada saat latihan sendirian. Apalagi suasana euphoria garis finis juga bisa memacu lari kita lebih kencang. Kalau pada latihan sendirian kita hanya berkompetisi dengan diri sendiri.  

Barangkali juga seminggu ini saya pas banget sedang membaca bukunya Haruki Murakami—penulis novel, pelari maraton, dan penamat triathlon—yang berjudul What I Talk About When I Talk About Running. Buku ini jadi booster buat saya. Ia mengatakan, “Tujuan utama berolahraga adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi tubuhku demi terus bisa menulis novel.”

Lalu? Buat saya, sesudah ini apalagi? Entah. Tapi ada keinginan untuk mengikuti ajang Half Marathon di bulan-bulan tersisa di 2017 ini. Lalu setelahnya, di tahun 2018, saya fokus untuk lari Full Marathon. Saya belum merencanakannya. Saya sudah mendaftarkan diri untuk ikut ajang Jakarta Marathon di kategori Half Marathon, tempat perjumpaan hebat para pelari di bulan Oktober 2017 nanti. Jadi Agustus, September, November, dan Desember  2017 masih kosong. Paling pada 31 Desember 2017 saya berencana ikut lari dari tugu ke tugu, dari Depok menuju Bogor.

Ada Mas Asda yang sudah punya Training Plan dengan Virsya (anggota DJP Runners lainnya) buat ikutan Full Marathon di Bali Agustus 2017 ini. Kayaknya perlu dicoba latihan bareng 30 kilometernya bersama mereka, mumpung ada temannya. Soalnya pun jarak paling jauh yang pernah saya tempuh adalah hanya sebatas 24 kilometer saja. Belum bisa nambah lagi.

Tetapi ada sebuah permenungan di lomba kali ini. Tiga tahun lalu dengan berat tubuh 78 kilogram, saya tidak bisa lari. Saya benci olahraga dan saya benci lari. Lari 100 meter saja sudah bikin ngos-ngosan. Tapi pada akhirnya saya bisa melampaui semua hambatan untuk menjadi lebih sehat dan lebih baik. Saya tak mengira bisa lari sejauh ini dan bisa sampai garis khatam 21 kilometer.

Pertemuan dengan Freeletics membawa saya menuju perubahan. Freeletics menjadi modal dasar dalam penguatan otot-otot saya. Sudah hampir tiga tahun saya bersama Freeletics. Ada empat hari dalam seminggu saya fokus di Freeletics lalu di akhir pekannya saya lari. Jadi otomatis latihan lari saya hanya 10 kilometer saja, tetapi saya bisa ikutan lari Half Marathon ini.

Beberapa waktu lalu, teman saya mas Novano Arya Wiraraja, yang juga pegiat Freeletics tiba-tiba mendapat tiket gratis untuk ikut Full Marathon di Yogyakarta. Ia bisa menyelesaikan lari Full Marathon pertamanya dalam waktu 5 jam lebih. Padahal hanya modal Freeletics tanpa fokus pada latihan lari. Kalau lebih fokus, saya yakin waktunya bisa lebih cepat lagi. Jadi sebenarnya Freeletics benar-benar menjadi modal besar buat lari.

Untuk saya, pengalaman lari di di Half Marathon ini menjadi pengalaman yang berharga. Saya teringat kalimat seorang sahabat, Mpu Tantular di pertapaannya paling senyap, “Setiap orang memiliki tujuannya sendiri. Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing. Goal yang harus dicapai.”  Untuk itu saya memilih dan terpacu untuk mengejar pencapaian lainnya: bisa Full Marathon. Ini perlu tekad, disiplin dalam berlatih, dan doa tak henti-henti supaya finis selamat.

Umur saya sudah hampir 41 tahun. Artinya, yang masih muda seharusnya lebih mampu untuk melakukan semuanya. Asal ada keinginan untuk berubah dan lagi-lagi tekad yang kuat. Barangkali Tapaktuan, Aceh Selatan, semesta saya bertugas dulu, tempat yang sepi, menjadi persemayaman terbaik yang membuat saya bisa berubah. Tapi apakah memang harus di-Tapaktuan-kan terlebih dahulu agar bisa berubah? Tentu tidak bukan? Intinya adalah: saya bisa, Anda juga bisa.

Itu saja cerita dari saya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi teman-teman semua. Tabik.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Entah, 18 Juli 2017.

Cerita perubahan saya bisa dilihat di https://rizaalmanfaluthi.com/my-freeletics

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Lari BNI UI Half Marathon (2):  Setelah ini Apalagi?

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s