RIHLAH RIZA #66: Putus Harapan? Itu Gila!


Aroma opor yang harum menguar di dapur. Melata ke dinding-dinding dan singgah kepada mereka yang memiliki hidung di rumah ini. Otak mengolahnya menjadi sebuah informasi lalu mendapatkan sebuah konklusi: lebaran akan tiba.

Dan yang saya inginkan pada saat ini adalah agar waktu berhenti berputar. Atau kalau memang tak bisa dihentikan, kecepatannya cukup dikurangi saja menjadi 20 km/jam. Supaya momen-momen kebersamaan yang indah ini tak cepat berlalu dan tiba-tiba saya harus kembali lagi ke suatu negeri. Catatan ini saya tulis di Semarang, Kamis Legi, satu hari menjelang lebaran.

Puasa yang hari-harinya akan genap sebulan ini sudah berada di penghujungnya. Besok kalau hitungannya benar dan hilal sore ini tampak maka umat Islam Indonesia akan bersama-sama berlebaran. Banyak sekali yang menjadi kenangan dalam Ramadhan ini. Terutama buat saya yang arungi seperlima Ramadhan sendirian di tanah seberang.

Apa-apa sendiri. Yang paling ngenes ya buka puasa sendiri. Makan seadanya. Apa yang ada. Soalnya saya belum bisa masak. Entah kenapa keinginan masak saya di bulan suci ini tak sebesar bulan puasa tahun lalu yang bisa bikin bubur kacang ijo enak segala. Barangkali pun karena saya sedang menjaga asupan yang masuk ke dalam tubuh (bilang aja sih lagi diet). Pernah tuh saya merebus tempe, bakso, tahu, telur. Kalau saja ada bumbu kacang jadi tuh siomay ala Tapaktuan. Hehehe…

image
Menu buka puasa saya di Tapaktuan
image
Semangka adalah buah yang sering saya konsumsi di bulan puasa.

Yang paling penting dari kehidupan dalam Ramadhan ini adalah saya bisa menjaga harapan. Harapan apa saja. Ini yang “bikin” hidup saya dan hidup jadi lebih berwarna. Karena dengan harapan itu kita bisa berharap-harap cemas asa menjadi nyata. Harapan yang diunggah ke langit dengan banyak-banyak doa. Harapan apa saja?

Banyak sekali. Harapan dunia dan akhirat. Semua harapan yang paling manusiawi saya. Salah satu contohnya adalah berharap Ramadhan ini bisa berbuka puasa bersama bersama keluarga. Makanya saya ajukan cuti tiga hari sebelum dan sesudah lebaran. Kalau saya memikirkan diri sendiri tentunya yang paling enak adalah cuti setelah lebaran. Tapi kalau begini kapan saya bisa mendulang kebahagiaan berbuka puasa bersama dengan keluarga?

Kalimat seperti ini jadi kalimat ampuh saat mengajukan cuti, “Apakah Bapak tega membiarkan saya tidak pernah berbuka puasa bersama dengan anak dan istri saya?” Kita bisa tanyakan kepada semua orang yang berpuasa dan meminta jawaban mereka, “Salah satu momen apa yang paling membahagiakan di bulan puasa?” Jawabannya insya Allah sama: ifthor jama’i, buka puasa bersama. Ustadz di Tapaktuan saja bilangnya begitu kok.

So, memelihara harapan itu adalah pekerjaan utama saya di negeri orang. Gila saja kalau orang tak punya harapan, putus asa.

Dan di Ramadhan 1436 H ini saya merasakan sekali ketenangan yang sering kali luput didapat di selain Ramadhan. Ibadah bisa saya lakukan dengan enteng. Tak ada berat-beratnya. Biasanya malas mendera, tapi ini enggak. Pernah beberapa kali malas datang, bosan juga datang, “puasa-puasa kok ngibadah terus”, tapi saya jadi ingat dengan determinasi saat saya melakukan Freeletics. No Excuse.

Kok bisa buat urusan dunia saya bela-belain “no excuse”, tapi dalam urusan yang jauh mahapenting, banyak sekali alasan yang harus ada. Makanya saya jawab semua kemalasan itu dengan bangkit dan melakukan amalan itu. Alhamdulillah selesai. Ada kalimat motivasi di Freeletics saya pakai: just do it, just finish it.

Ramadhan adalah bulan berkah. Banyak sekali keberkahan yang didapat pada Ramadhan kali ini. Buka bersama dengan kawan-kawan kerja, pekerjaan yang dimudahkan, rezeki yang banyak mengalir, dapat juara satu lomba menulis, dan perjalanan mudik yang tidak memberatkan adalah beberapa di antaranya. Untuk dua yang terakhir akan saya ceritakan dalam tulisan lain.

‘Ala kulli hal, beberapa jam lagi Ramadhan akan usai. Bulan doa-doa yang dipanjatkan menjadi mustajab akan segera berakhir. Takbir akan berkumandang. Pertanyaannya akankah ibadah-ibadah yang didawamkan selama Ramadhan ini akan juga abadi selepasnya?

Bisa tidak tuh salat duhanya lanjut, tahajudnya lanjut, salat berjamaahnya lanjut, tilawahnya lanjut, zikirnya lanjut, puasanya lanjut, silaturahminya lanjut, sedekahnya lanjut, semangat berbaginya lanjut, jaga mulutnya lanjut, jaga hatinya lanjut, jaga matanya lanjut, jaga angan-angannya lanjut, kinerjanya juga lanjut? Wallahua’lam bishshawab.

Ini saya tulis seadanya saja di tablet. Yang penting ada yang bisa ditulis. Jadi catatan harian saya. Utama pula saya ucapkan semoga amal ibadah kita selama Ramadhan ini diterima Allah swt. Mohon maaf lahir dan batin yah. Semoga Allah menjadikan kita insan yang bertaqwa. Taqabalallahu minna waminkum. Shiyamana washiyamakum. Kullu amiin wa antum bikhoirin. Selamat mendulang kebahagiaan.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Kamis Legi, Semarang, 16 Juli 2015

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s