jangan
seringkali kau berbisik
pada tuts-tuts keyboardmu
sampaikan pesan padanya
jangan pergi tinggalkan aku
saat malam diremukkan ekor shubuh
dia terkapar tak bisa pergi
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam
23.40 21 Februari 2011
Dedaunan di ranting cemara: Sosial, Budaya, Pajak, Sejarah, semua punya catatannya.
jangan
seringkali kau berbisik
pada tuts-tuts keyboardmu
sampaikan pesan padanya
jangan pergi tinggalkan aku
saat malam diremukkan ekor shubuh
dia terkapar tak bisa pergi
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam
23.40 21 Februari 2011
[MONOLOG]: RINDU
Monolog kali ini adalah tentang #rindu. Coba apa yang dirindu dari SESEORANG kepada yang dicintainya? Balasan sms yang teramat dinanti, sapaannya mengawali sebuah obrolan, pertemuan yang diharapkannya.
Lalu apa yang dirasa? Jantung yang berdebar keras di luar normal, resah di kala kesendirian, persatuan yang dicita, geram pada waktu yang berjalan lambat di sebuah perpisahan dan pada waktu yang teramat cepat berlari di sebuah perjumpaan.
Tidak ada interval kecuali untuk tiga hal: memikirkannya, memikirkannya, dan memikirkannya. Ada cemas yang mendera dan ada cemburu yang menyala.
Orang dulu yang pertama sempat bilang: “Aku mencintai tiga hal yang dibenci orang, yakni aku mencintai kemiskinan, penyakit, dan kematian. Kematian menjadi pintu masuk berjumpa dengan YANG DIRINDU: ALLAH.
Orang dulu yang kedua sempat bilang juga: ” Sambutlah kedatangan kematian—kekasih yang datang pada saat dirindu dan dibutuhkan.
Benarlah ulama yang membuat bait-bait seperti ini:
jika cinta yang berkelana pada Sulma dan Laila bisa mencabut pemikiran dan kemampuan berpikir, lantas apa kira-kira kondisinya bagi dia yang hatinya berdenyut untuk kehidupan yang lebih mulia?
Orang dulu yang kedua adalah Mu’adz r.a. dan orang dulu yang pertama adalah Abu Darda. Dan SESEORANG di atas itu adalah aku sekarang.
Duh…bedanya. T_T
***
Riza Almanfaluthi
monolog KRL Pakuan Bogor Tanah Abang
dedaunan di ranting cemara
06.05 21 Februari 2011
[MONOLOG] : SENYUM
Monolog ahad pagi ini bercerita tentang #senyum, bukan karena aku memiliki senyum yang indah seperti yang kau katakan. Bukan, bukan karena itu. Tetapi senyum memang memiliki hal yang penting. Hingga menjadikannya sebagai hal utama di dalam agama kita. Senilai dengan sedekah yang kita beri setiap hari.

Karena sesungguhnya kita dapat menarik seseorang dengan senyuman. Senyum menjadi saham perdana dalam pergaulan, dalam memikat hati objek dakwah. Untuk itu perlu sapa. Untuk menyapa perlu senyum. Bukan uang bukan tampang. Sekalipun tampang maka tampang penuh persahabatan. Bukan dengan parameter cantik dan gagah, jelek, dan buruk rupa.
Maka tersungginglah senyum di wajahku setiap bertemu siapapun adanya dia. Anak-anak, bapak-bapak dan untuk ibu-ibu—untuk yang terakhir ini tentu dengan senyum sewajarnya yang aku bisa. Sampai suatu ketika mereka bilang: “Anda beda daripada yang lainnya.” Segala puji hanya untuk Allah. Hanya satu hal yakni dari senyum itu mereka bisa menerima kita menjadi pelayan mereka, “khadimatul ‘ummat”
Maka segera tersenyumlah pada dunia. Jangan pelit dan jangan ragu untuk tersenyum. Hamburkanlah senyum yang kau miliki, selama tersenyum itu gratis. Dermawanlah kau dengan senyuman. Nilai sedekah sudah di tangan, apalagi ketika dengan senyuman itu kau mampu membahagiakan seseorang. Tersenyumlah padaku. Karena seseorang itu adalah aku.
***
Riza Almanfaluthi
monolog ahad pagi
memperingati tulisan ke-500
dedaunan di ranting cemara
09.35 20 Februari 2011
[monolog]: jujur
Monolog adalah cara saya mengungkapkan sesuatu—pandangan dan perasaan—yang saya catat dengan telepon genggam. Di setiap pagi ketika kereta berangkat pergi dari Stasiun Citayam atau ketika pulang dari Stasiun Sudirman. Biasanya memakan habis waktu sepanjang perjalanan kereta untuk menuliskannya.
Monolog adalah hadiah khusus yang benar-benar khusus. Tidak lain dan tidak bukan.
Sudah banyak yang saya tulis, namun lenyap begitu saja. Mulai hari ini saya akan mendokumentasikannya, itu pun jika perlu. Untuk yang pertama menerima dan membacanya kali ini, saya harap dengan teramat sangat semoga ini berguna.
Sore ini saya ingin bermonolog tentang jujur.
jujur itu mahal
semahal harga diri
ia akan murah adanya
ketika bernama
jujur kacang ijo dan
jujur ayam
apalagi ketika keberuntungan sedang memihak
maka teman terdekat kita akan bilang:
engkau sedang jujur
penjahit beda bilangnya:
baju mana yang ingin aku jujurkan
tukang obat akan bilang:
obat ini selalu jujur, nomor satu
anak kelas satu sd akan bertanya:
ibu guru, mana sih yang jujur sangkar dan mana yang jujur telur
dokter berdiagnosa:
tak punya harapan, ia akan terjujur kaku
ini gara-gara iseng main-main dengan kabel yang terjujur
sorenya ia dijujur di tempat pemakaman umum
tak diketahui di jujur selatan atau di jujur utara bumi ini
semua di atas ketika jujur tidak ditempatkan pada tempatnya
jika ya
jujur adalah mata uang yang berlaku di manapun adanya.
dan aku adalah
kejujuran itu sendiri
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
04.25 19 Februari 2011
Jalan Sunyi Para Penyair
Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.
Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.
Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…
Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.
Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.
Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.
Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.
Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”
Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”


Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.
Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.
Untuknya…
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
03.59 18 Februari 2011
Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair
diunggah pertama kali di:
http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/
UNTUK ADEKKU YANG MANIS
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Puput, adekku yang manis, apa kabar hari ini? Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan Iman dan Islam kepada Puput. Tak lupa tentunya adalah kesehatan raga, apatah lagi sebentar kemudian hari-hari yang dinanti itu akan segera tiba. Wuih, bahagianya momen indah itu. Aang, turut bahagia sekali tentunya.
Puput, adekku yang manis. Ini bukan basa-basi loh. Bagaimana tidak manis hingga Mamah Aang senantiasa memajang foto keponakannya di ruang tamu di antara foto-foto keluarga kita. Hingga setiap pulang dari kampus—saat liburan itu—Aang selalu mendapati foto itu bertambah semakin manis-dan manis. Walaupun itu foto masa kecil Puput.
Dan tiba-tiba teknologi membuat kita terhubung dengan mudahnya setelah era facebook muncul ke permukaan dunia dan mengobrak-abrik sekat-sekat jarak yang memisahkan kita. Aang tak pernah tahu lebih jauh tentang Puput, karena Aang pernah datang ke rumah dulu, dulu sekali waktu Puput masih kecil, masih SD.
Tak disangka, tak dinyana tiba-tiba facebook membuat kita bertemu sekitar setengah tahun yang lampau. Dan tiba-tiba Puput sudah mau menautkan hati dengan sang idaman. Alhamdulillah, Aang senang.
Aang, sebagai saudara—kalau memang Puput masih menganggap Aang demikian, Insya Allah—tentunya hanya berpesan niatkanlah semata-mata pernikahan itu karena Allah swt. Tak lain dan tak bukan karena kehendak-Nya hingga semua ini terjadi. Jikalau ada bersitan niat-niat bukan karena-Nya, maka segeralah untuk meluruskannya. Ah, alangkah baiknya.
Ayah dan Ibu tentu senang bukan kepalang. Putrinya semata wayang akan menjadi seorang yang berbeda di pekan yang akan datang. Jika Allah berkenan Aang akan datang. Aang juga kangen dengan Salawu. Akankah suasana di sana seperti 15-an tahun yang lampau? Semoga.
Puput yang manis, tentunya Aang hanya bisa mendoakan di hari bahagia itu, semoga Puput menjadi:
Berat? Namanya do’a Puput yang manis. Sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Dan Allah Maha Mendengar.
Itu saja Puput yang manis dari Aang. Sudah malam yah, Aang ngantuk. Semoga ukhuwah kita tetap terjaga. Dan jangan lupa untuk dapat mampir ke Citayam. Di sana ada keponakan-keponakan Puput: Haqi, Ayyasy, dan Kinan.
Manusia tak luput dari kekhilafan dan kesalahan. Maafkan Aang jikalau surat ini menyinggung Puput. Aang berharap menemukan telaga maaf yang teramat teduh dari Puput. Lalu biarlah Aang mereguk airnya dan mendapatkan kesegaran di dalamnya.
Alhamdulillah, wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
dari Aangmu:
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di antara kepingan malam yang penuh nyamuk
10:52 25 Desember2010
*atas seizinnya (putri utami) surat ini bisa dinikmati semua
bangun ruang hati
pagi ini aku kotak,
menyiapkan diri
semedi di sudutnya,
siangnya aku lingkaran,
tanpa sudut,
berputar,
hilang ingatan pada prasasti hati,
sorenya,
kembali aku menjadi kotak,
menghirup sunyi di keramaian,
semedi disudutnya,
malamnya,
aku menjadi segitiga
yang bertumpuk,
yang mengumpulkan kata-kata,
untuk sekadar satu jawaban,
lalu kapan aku menjadi jantungmu?
***
riza almanfaluthi
di atas kereta yang mencaci maki rel
dedaunan di ranting cemara
06.15 17 Februari 2011
menunggu jawab
di dalam kereta
yang lari berderit-derit
di pinggir jendela
dengan hitam menganga di kaca
kau kelanakan pikiran
pada pelangi angan
bertopang pada sebelah tangan
meneguhkan keberadaan diri
ada gumpalan tanya
menggelembung di labirin memori
menyumbat jawab hingga
mengering, sekarat, dan mati
adakah?
mengapa?
dan untuk apa?
untuk itu aku mengunci kata
menjadi patung pinggir jalan
tak berdaya
susah untuk bicara
aku tahu engkau tahu
kilatan daun lontar setiap sore
adalah jawab sesungguhnya
jika engkau mengerti
ya jika kau mengerti
*****
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21.46 11 Februari 2011
yang pulang untuk kembali
(((***)))
siapakah dia yang membawa
tiga ikat papirus tebal
di tengah-tengah malam
membukanya
membacanya
diterangi kunang suram
di atas kencana
yang membawanya pulang
siapakah dia berkemul selimut
merepih dingin
berlapikkan bantal kecil hijau
melandaskan mimpi-mimpi sedikit
tak acuh pada titah-titah
yang bertengger
berkicau
mengacaukan malam
di atas kencana
yang membawanya pulang
jika kau tanya itu padaku
aku akan menjawabnya
siapa dia gerangan:
dia yang hari ini memerintahkan bentala
untuk berputar lebih cepat
dia yang hari ini membawa senja di jubahnya
dia yang hari ini membawa gempita di setiap laku
dia yang hari ini dengan bulan setengah di wajahnya
dia yang hari ini dengan mata dan senyum yang tiada pahitnya
dia yang menatah hari ini menjadi adiwarna
dia yang malam ini di atas kencana
yang membawanya pulang
untuk kembali…
itu cuma tanda tanya
***
riza almanfaluthi
tulus
dedaunan di ranting cemara
01.28 15 Februari 2011
RINDU LAUT
Malam ini kembali saya tak bisa tidur. Ada gundah yang membuncah. Ada gelembung yang siap mengapung dan pecah. Ada kata-kata yang tak mau berhenti untuk diucap. Ada pikiran yang tak mau berhenti kembara. Dan semuanya berujung tiba-tiba dengan bangkitnya saya dari peraduan. Lalu menyalakan netbook. Membuka lembaran putih. Kemudian mengetikkan dua kata: rindu laut.
Semuanya terbentang. Dengan rasa yang tak tertahankan pada deru gelombangnya. Ombaknya yang tidak pernah muntah menjilati tepian pantai. Anginnya yang menerjang tak pernah berhenti. Teriakan camar cerewet. Bau khasnya yang selalu menggelitiki hidung. Batu karang yang sombong. Pohon kelapa yang menari. Pasir-pasir yang berusaha untuk melembutkan dirinya pada setiap telapak kaki dengan cangkang-cangkang tiram mengilap terselip di sana. Semuanya ada pada benak saya malam ini.
Dan tanda tanya tiga di belakang sebuah kalimat berikut: kapan lagi saya akan merasakannya setelah hampir 8 tahun lamanya, menyemut di kepala. Rindu laut membuat saya memelas meminta kepada memori yang ada di tempurung otak saya untuk membongkar kenangan dua puluh tahunan lampau.
Memori itu menemukan serakan-serakan seperti ini. Perkemahan sabtu minggu, upacara bendera di tepi pantai, jilatan ombak, senja, dentingan gitar, perahu di tengah laut, dan lagu kemesraan yang mengalun indah. Ya kutemukan saat itu adalah saat—yang kata Iwan Fals—semoga jangan cepat berlalu. Ada kedamaian di sana katanya lagi.
Sampai sekarang momen-momen itu tak pernah saya lupakan. Karena memang lautnya sendiri cantik dan manis. Ngangenin. Ia pun pandai sekali bercerita. Cerita apa saja. Sampai berbusa-busa. Buktinya betapa banyak puisi dan syair yang tercipta darinya. Betapa banyak lirik lagu dan instrumentalia terinspirasi darinya. Memetaforakan apa saja. Memersonifikasikan siapa saja.
Malam ini saya rindu laut. Pada warna-warna yang seringkali berebutan menjadi warna dominan dalam sebuah kanvas lukisan. Biru muda pada langitnya. Biru tua pada lautnya. Kuning pada mataharinya. Jingga pada senjanya. Putih pada awan-awannya. Hitam dan putih pada pasirnya. Tujuh warna pada pelanginya yang seringkali muncul. Hijau pada nyiur-nyiur yang melambai.
Malam ini saya rindu laut untuk sejenak melupakan apa yang terjadi. Melupakan segenap yang ada. Hingga waktu ini mau tunduk pada saya untuk segera berputar cepat. Tapi terlihat ia enggan dengan teramat sangat. Apa boleh buat seringkali saya menghelanya dengan keras. Jika diperlukan ada cambuk yang siap dilecutkan padanya.
Malam ini saya rindu laut sedangkan Citayam jauh sekali darinya. Butuh puluhan kilometer untuk memisahkannya. Di barat lebih indah. Di utara penuh dengan sampah. Di timur kejauhan. Di selatan terlalu ganas. Ya aku akan menuju barat. Tapi setelah malam ini tentunya. Setelah urusan selesai semuanya. Untuk sekadar menuntaskan rindu yang tak tersampaikan.
Setelah rindu ini selesai, rindu mana lagi?
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
dari citayam yang masih terasa gerah
malam ahad hingga 01.40 13 Februari 2011
pertama kali diunggah di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/02/13/rindu-laut/
gambar berasal dari: sini
Tags: laut, iwan fals, kemesraan, citayam, pelangi