[monolog]: rindu


[MONOLOG]: RINDU

 

Monolog kali ini adalah tentang #rindu. Coba apa yang dirindu dari SESEORANG kepada yang dicintainya? Balasan sms yang teramat dinanti, sapaannya mengawali sebuah obrolan, pertemuan yang diharapkannya.

Lalu apa yang dirasa? Jantung yang berdebar keras di luar normal, resah di kala kesendirian, persatuan yang dicita, geram pada waktu yang berjalan lambat di sebuah perpisahan dan pada waktu yang teramat cepat berlari di sebuah perjumpaan.

Tidak ada interval kecuali untuk tiga hal: memikirkannya, memikirkannya, dan memikirkannya. Ada cemas yang mendera dan ada cemburu yang menyala.

Orang dulu yang pertama sempat bilang: “Aku mencintai tiga hal yang dibenci orang, yakni aku mencintai kemiskinan, penyakit, dan kematian. Kematian menjadi pintu masuk berjumpa dengan YANG DIRINDU: ALLAH.

Orang dulu yang kedua sempat bilang juga: ” Sambutlah kedatangan kematian—kekasih yang datang pada saat dirindu dan dibutuhkan.

Benarlah ulama yang membuat bait-bait seperti ini:

jika cinta yang berkelana pada Sulma dan Laila bisa mencabut pemikiran dan kemampuan berpikir, lantas apa kira-kira kondisinya bagi dia yang hatinya berdenyut untuk kehidupan yang lebih mulia?

Orang dulu yang kedua adalah Mu’adz r.a. dan orang dulu yang pertama adalah Abu Darda. Dan SESEORANG di atas itu adalah aku sekarang.

Duh…bedanya. T_T

 

***

Riza Almanfaluthi

monolog KRL Pakuan Bogor Tanah Abang

dedaunan di ranting cemara

06.05 21 Februari 2011

 

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s