COKLAT, KARTINI, DAN SEJATINYA PEMIMPIN


COKLAT, KARTINI, DAN SEJATINYA PEMIMPIN

 

Jalan-jalan ke Cikini

Jangan lupa membeli duku

Hari ini Hari Kartini

Jangan abang lupakan daku

 

Nb:

ini hasil karya aye, makasih ya bang ye

ude dikasih kesempatan untuk

berkarya di luar rumah

            Salam kompak

            –Mpok Kartini—

**

Rabu petang, di lorong Kereta Rel Listrik (KRL) Pakuan Ekspress Tanah Abang Bogor, sambil duduk di kursi lipat, sempat juga saya tertidur dan bermimpi memberikan seseorang sepotong coklat dan mawar yang saya letakkan ke atas meja, “Itu buat kamu,” kata saya.

Keesokan harinya, 21 April 2011, Hari Kartini, saya salah kostum. Saya hanya memakai kemeja biru dan bawahan hitam. Harusnya memakai baju batik. Soalnya kemarin itu dari Pengadilan Pajak saya kembali ke kantor sudah sore. Jadi tidak tahu ada pemberitahuan semua pegawai laki-laki memakai batik. Tahunya kalau teman-teman perempuan diminta untuk memakai kebaya. Saya pakai kebaya? Enggak gue banget gitu loh… Ya sudah, tak mengapa. Namanya juga tidak tahu.

Pagi itu di ruangan lantai 19, sudah terjejer banyak kursi. Akan ada acara rupanya pada peringatan Hari Kartini ini. Pukul setengah delapan pagi lebih, pemberitahuan acara akan segera dimulai berkumandang. Kami disuruh kumpul segera di sana. Kami tidak disuruh untuk duduk, tapi berdiri di bagian depan jejeran kursi itu. Kepada kami disodorkan kertas kecil yang ternyata adalah bait-bait gubahan lagu Ibu Kita Kartini. Inilah bait-bait itu:

Ibu kita tercinta, Bu Catur Rini

Pemimpin yang bijak dan baik hati

Ibu kita tercinta,Bu Catur Rini

Walau banyak berkas, tetap semangat

Wahai ibu kita tercinta

Ibu Catur Rini

Sungguh besar kasih sayangmu

Bagi kami semua

 

Ibu kita tercinta, Bu Catur Rini

Pemimpin yang bijak dan baik hati

Pemimpin yang bijak dan baik hati

*

    

    “Nanti kalau Bu Direktur datang baru kita sama-sama menyanyikannya,” kata salah seorang teman. Ya, sebuah kejutan buat Direktur Keberatan dan Banding Direktorat Jenderal Pajak Ibu Catur Rini Widosari. Tepat ketika beliau tiba di ruangan, kami pun mulai menyanyikannya.

     Apa yang ada di dalam bait itu tidak dilebih-lebihkan. Menurut saya memang apa adanya. Tercinta, bijak, baik hati, semangat, dan besar kasih sayangnya. Kalau digabungkan, semuanya itu berkumpul pada satu kata: keibuan. Dan sifat itu memang seharusnya ada pada sosok-sosok Ibu, sosok-sosok Kartini masa kini.

    Betapa tidak baru kali ini—selama 13 tahun bekerja—saya mendengar dari sosok Ibu ini, yang mengatakan kepada kami pada saat Outbond November 2010 lalu bahwa: “yang penting adalah usaha keras yang kalian lakukan, bukan semata-mata hasilnya.” Jarang loh yang mengatakan demikian. Dapat dimaklumi sih, kenapa begitu. Soalnya kerja kami—pegawai DJP—selalu dibebani target penerimaan pajak. Sudah barang tentu, hasil akhir tercapainya penerimaan itu menjadi yang terdepan dalam penilaian di segala hal.

Pengarahan ibu yang satu ini membuat saya semakin menaruh hormat padanya. Artinya Bu Direktur tetap ada upaya menghargai dan mengakui kerja keras anak buahnya. Tidak menyepelekan dan memandang ringan. Tidak ada kesan untuk mengatakan “kerja elo ngapain aja“. Seperti yang pernah saya dapatkan dulu waktu jadi account representative (AR).

Tambah respek lagi adalah ketika dalam suatu pengarahan di pagi hari dalam suatu format acara yang saya lupa, ia mengatakan, “saya mohon untuk senantiasa menjaga integritas kalian.” Kata mohon itu diucapkannya berulang-ulang kali. Bahkan sempat tertanyakan, “apakah perlu saya untuk memohon kepada kalian setiap harinya?”

Sempat tertegun mendengarkan apa yang diarahkannya. Tidak dengan memakai bahasa kekuasaan ketika ia berkata. Misalnya seperti dengan mengucapkan, “awas jangan sampai kejadian Gayus terulang lagi kembali di sini.” Atau dengan berkata, “Saya tidak mau ada kejadian itu terulang di masa saya memimpin.”

Terasa bedanya loh. Jika dengan bahasa kekuasaan maka yang didapat adalah adanya ketidakpercayaan pimpinan kepada bawahan. Padahal untuk bisa bekerja dengan baik bawahan butuh adanya modal percaya yang diberikan atasan kepada dirinya.

Dan walau kata “percaya” sudah menjadi menjadi bagian dari ilmu dan teori manajemen yang diajarkan di bangku-bangku kuliah dan seminar peningkatan kemampuan kepemimpinan, sedikit juga yang bisa memahaminya dengan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka yang ada hanyalah ia bisa menjadi good manager tetapi belum bisa menjadi good leader.

Acara itu belum selesai, tetapi saya harus bergegas untuk segera pergi mempersiapkan berkas-berkas yang harus dibawa ke Pengadilan Pajak. Oleh karena itu saya kembali ke meja kantor dan menemukan benda ini di atasnya: COKLAT!.

Coklat yang dibungkus dengan kertas keemasan, disusun sedemikian rupa hingga membentuk deretan kepingan uang emas, dibungkus dengan plastik transparan yang diujungnya diikat dengan tali hias dan terdapat kertas yang bertuliskan bait-bait seperti di awal tulisan ini. So, sweet…

 

Zoom:

 

    Menerima itu berasa gimana gitu? Dalam mimpi saya menjadi pemberi, sedangkan pada nyatanya saya menjadi penerima coklat. “Hei Za, itu buat kamu…”.

    Ya, terima kasih atas semuanya juga Mpok, atas semua warna yang telah kau goreskan pada kanvas hidup kami. Yang penting bagi kami, seimbanglah. Di dalam dan di luar rumah. Itu saja.

***

 

Riza Almanfaluthi

kau tetap menjadi kartiniku

dedaunan di ranting cemara

mulai ditulis 22 April 2011 selesai 02.45 28 April 2011

 

 

tag: direktorat keberatan dan banding, direktorat jenderal pajak, djp, catur rini widosari, lantai 19, kartini, batik, 21 april,

KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK


KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK

 

Hari sudah semakin sore, jum’at (29/4) itu rekonsiliasi dengan Pemohon Banding di gedung Pengadilan Pajak belumlah usai seluruhnya. Kami hanya dapat menyelesaikan untuk satu sengketa pajak saja mengenai objek-objek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23.

Kami sepakat untuk melanjutkannya di pekan yang akan datang. Tentunya bagi tim kami, yang penting ada panggilan dari Pengadilan Pajak, kalau tidak ada itu kami tidak akan datang. Jangan dilupakan, kami tidak akan datang juga walau sudah ada panggilan kalau tidak ada surat tugas dari direktur kami. Ini semata-mata agar kami tidak dianggap sebagai petugas banding liar dan tetap dalam kerangka melaksanakan tugas negara—bukan tugas pribadi.

Saya bergegas menuju Jalan Senen Raya untuk menghadang Bus Jurusan Senen Cimone yang melewati Stasiun Gambir—karena dari sana saya akan pulang naik kereta rel listrik (KRL). Untuk menghentikan bus itu saya harus menunggu lama di seberang Hotel Oasis Amir. Bisa saja saya naik bajaj atau ojek motor atau juga naik taksi. Tapi pilihan itu akan saya ambil jika waktunya mepet dengan jadwal KRL yang saya naiki. Dan untuk hari itu waktu yang saya miliki masih banyak.

Kemudian tak sengaja mata saya melihat gedung tinggi di ujung sana. Tempat Pengadilan Pajak berada. Saya sempatkan untuk mengambil gambarnya dengan menggunakan kamera hp.

Gedung bercat putih itu adalah Gedung Dhanaphala. Di sana selain Pengadilan Pajak adalah tempat berkantornya para pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.

Bus itu tiba dan tak sampai 10 menit sampai di depan Stasiun Gambir. Sesampainya di stasiun itu segera saya beli tiket dan naik ke lantai 1. Saya mencari tempat duduk di sana. Tak biasanya saya demikian. Di hari-hari sebelumnya kalau sudah beli tiket saya langsung naik ke lantai dua dan menunggu KRL datang di peron 3-4.

Saya pikir waktunya masih lama dan pasti akan ada pemberitahuan kalau KRL Pakuan Ekspress itu tiba di Stasiun Gambir dari Stasiun Kota. Makanya saya santai saja duduk-duduk di bangku lantai 1. Ada sekitar 20 menit saya di sana. Untuk sekadar menelepon, sms-an, dan tentunya melihat Monas dari kejauhan. Sepertinya emas yang ada dipuncaknya itu tak berkurang satu gram pun.

Ketika ada pengumuman bahwa KRL Pakuan datang, saya segera naik ke lantai 2 dengan santainya. Eh, pas betul, setibanya di atas, KRL Pakuan itu sudah nongkrong di jalur 3 dengan pintu yang sudah tertutup dan kemudian berangkat lagi. Saya gigit jari. Saya ketinggalan kereta. Tega nian KRL itu untuk tidak membuka pintunya barang sejenak agar saya bisa ikut dengannya.

Aneh, seharusnya pengumuman kedatangan KRL diberitahukan sebelum KRLnya datang di Stasiun Gambir bukan? Atau pada saat KRL sudah berangkat dari stasiun terdekat. Nah, ini benar-benar tidak ada. Tiba-tiba diumumkan kalau KRLnya sudah tiba di jalur 3. Atau sebenarnya ini salah saya? Seharusnya pula kalau sudah tahu jadwalnya jam segitu ya segera naik ke atas. Tak perlu tunggu pengumuman. Nanti akan alasan begini: “Memangnya jadwal KRL selama ini tepat waktu?” Ya sudahlah akan banyak argumentasi yang muncul.

KRL ini memang tidak berhenti di Stasiun Citayam tetapi ia berhenti di Stasiun Bojonggede. Dari sana saya harus menunggu KRL arah baliknya yang menuju ke Jakarta untuk nantinya turun di Stasiun Citayam.

Keterlambatan ini harus ditebus dengan 20 menit menunggu kereta berikutnya. Apalagi sore itu Stasiun Gambir sudah mulai penuh karena banyaknya pemakai jasa kereta api yang ingin pulang kampung. Maklum akhir pekan. Jadi suasananya tambah semrawut.

Eh, kekecewaan ini terobati juga. Dari pengumuman yang ada, KRL berikutnya itu bisa berhenti di Stasiun Citayam. Jadi tak perlu harus ke Stasiun Bojonggede dan balik lagi. Dan betul ketika sampai di Stasiun Citayam waktu tibanya tidak berbeda jauh bila naik KRL yang meninggalkan saya itu. Hmm…

Saya kembali memikirkan sesuatu. Hingga pada sebuah ujung bahwa seringkali kita menyesali dan merutuki nasib karena sesuatu yang diharapkan lepas dari tangan kita. Padahal Allah sudah menggariskan kalau memang yang diharapkan itu bukan untuk kita, bisa jadi karena tidak baik untuk kehidupan kita di dunia atau setelahnya. Pun, karena Allah sudah mempersiapkan yang lain lagi sebagai penggantinya, bahkan lebih baik.

Sore itu saya mendapatkan yang terakhir.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

bahagia ditemani sepanjang perjalanan

10.40 01 Mei 2011

 

Tags: pengadilan pajak, senen raya, hotel oasis amir, Cimone, kereta rel listrik, gambir, citayam, bojonggede, pajak penghasilan pasal 23, pakuan, jakarta, gedung dhanapala, direktorat jenderal anggaran, departemen keuangan,

 

To be:


 

to be:

 

aku ingin menjadi hujan yang senantiasa membasahi dirimu

aku ingin menjadi huruf dari setiap kata yang terucap olehmu

aku ingin menjadi sinaran mentari pagi yang menghangatkan wajahmu

aku ingin menjadi muara sungai dari setiap kesahmu

aku ingin menjadi telaga yang meneduhkan setiap amarahmu

aku ingin menjadi mata air yang meredakan dahagamu

dan aku,

malam ini,

ingin menjadi sunyi yang menemanimu

ketika menggigil merindukanku

 

 

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

hari-hari kemarin

28 April 2011

galabah


galabah

**

gumpalan sinus, cosinus,

tangen, cotangen,

secan, dan cosecan

yang tak bisa diselesaikan

karena kerumitannya,

malam ini rumit itu

menjadi

limban lara

dan

tongkah galabah

yang tak ada ujung

aku

meniti di atasnya.

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02.57 28 April 2011

Kepada yang mencintai hujan malam ini


kepada yang mencintai hujan malam ini

**

aku taruhkan sepucuk rindu pada setiap tetes yang jatuh

dan menahanku untuk berbicara apa adanya padamu

diam sesungguhnya menjadi simfoni megah

kala hati kita saling berbicara

aku taruhkan segenggam cinta pada setiap rinainya yang gemetar

dan menghantam setiap sudut jalanan untuk membasahimu

terpaku menjadi raja pada maghrib ini

kala kau berjalan di istana hidupmu sendiri

sambil memutar slide persahabatan

yang akan kau persembahkan pada dunia

aku menjadi daun yang jatuh sendiri…

aku taruhkan melodi kebersamaan pada gerimis yang mengundang

dan membisikkan padamu: jangan menunggu pagi

untuk melihat jejak-jejaknya

di pucuk-pucuk ilalang, bunga, daun, ranting, dan tanah basah

kau mencium hujan malam ini

sedetik saja

hujan itu menjadi aku.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20.10 23 April 2011

Judul puisi terinspirasi dari sini

SIGAP TERHADAP AIB, GAGAP TERHADAP KELEBIHAN


SIGAP TERHADAP AIB, GAGAP TERHADAP KELEBIHAN

By: Riza Almanfaluthi

        

IslamediaKetika saya ditanya seorang teman tentang tiga kelemahan dirinya, saya dengan cepat dan sigap menyebutnya satu persatu. Tetapi ketika kemudian saya ditanya lagi tentang tiga kelebihan dirinya, maka mulut saya seperti Aziz Gagap. Ehhhh…ehhhh…Lola. Loading Lambat. Berpikirnya lama. Sambil bertanya-tanya, “apa ya?”

    Jelas sudah, ini tabiat manusia. Kalau dengan kelemahan, keburukan atau aib seseorang pikiran kita dengan cepat mengumpulkan informasi itu. Atau sebenarnya memori terdalam kita sudah lama menjumput semua kelemahan-kelemahan orang lain seperti kita mengukir di atas batu. Tetapi jika dengan kebaikan seseorang kita mudah untuk melupakannya seperti menulis di atas air.

    Padahal di saat kita menimbang-nimbang kelemahan orang lain, sudah menunggu begitu banyak kelemahan diri yang perlu untuk dihitung-hitung. Inilah yang sering diungkap dalam sebuah pepatah yang mengatakan, “semut di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Maka sebenarnya jika diri kita mampu untuk mengevaluasi diri, tidaklah akan sempat kita untuk menghitung-hitung dan mencari-cari kelemahan atau aib orang lain. Pun karena takut, kalau-kalau Allah akan mengungkap aib kita kelak. Tidak hanya itu, Al Qarni dalam sebuah ungkapan menyebutkan bahwa evaluasi diri mampu menjadikan harapan kita kepada orang lain lebih seimbang (tak berlebihan) dan membuat kita menjadi simpatik kepada orang yang berbuat kesalahan.

    Setiap orang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Itu sudah pasti. Dan untuk menjadi timbangan penilaian adalah sebanyak apapun kelebihan seseorang tetaplah ia bukan malaikat yang tak pernah berbuat kesalahan. Saat melihat kelemahannya maka kita memaklumi bahwa Ia hanya manusia yang tak sempurna, tempatnya lalai dan dosa.

Atau dengan kata lain, dengan ukuran apa seseorang itu sudah dapat disebut sebagai orang yang baik atau orang yang buruk. Tentu ukurannya adalah sejauh mana banyaknya kebaikan itu dapat menutupi keburukannya atau sebaliknya. Contohnya Kita lihat pada sosok yang satu ini.

Sosok Hajjaj bin Yusuf. Ia yang telah mengalungkan kepada Anas bin Malik—ahli hadits dan sahabat nabi terkemuka—dengan sebutan yang sangat menghina. Lebih sadis lagi adalah apa yang pernah ia lakukan beberapa tahun sebelumnya dengan mengirim kepala Abdullah bin Zubair di atas nampan kepada junjungannya, Abdul Malik bin Marwan, yang berada di Damaskus.

Tangan yang berlumuran darah dan membersitkan amisnya itu tak mampu menahan mantan kepala sekolah di Thaif ini untuk mengambil peran dalam kejayaan tamadun Bani Umayyah. Reformasi ortografinya berupa pengembangan tanda baca untuk menghindari kesalahan dalam membaca Alqur’an menjadikannya monumental. Apakah kebaikannya lebih dikenal daripada keburukannya? Sudah barang tentu kekejian dan kesadisannya lebih dikenal daripada peran pentingnya itu.

Seseorang ulama yang sudah dikenal dengan pengabdiannya kepada umat, buku-bukunya yang sudah tersebar ke seantoro dunia, kelurusan akidah serta moderatnya dalam fikih yang sudah diakui pula, ketika melakukan satu kesalahan—bisa jadi berawal dari perbedaan pendapat dalam ijtihad yang diambil—apakah itu akan menghancurkan dan menutupi seluruh kebaikannya untuk umat itu? Tidak, sungguh tidak adil jika kita mengabaikannya. Kesalahan—jika masih disebut seperti itu—yang dilakukannya malah membuktikan bahwa dia adalah manusia yang tak sempurna.

Tinggal bagaimana saudara seakidahnya ini dapat menutupi aib yang ada atau memberikan pemakluman kepada ulama itu. Karena masih ada 999 alasan lainnya untuk kita berlapang dada dengan kelemahan yang dimilikinya.

Saya teringat perkataan salah satu orang besar dunia, “Lupakan kesalahan orang lain seperti kita melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan dan jangan pernah untuk melupakan kebaikan orang lain.”

“Ayo cepat, sebutkan segera tiga kelebihan saya untuk diisi dalam formulir ini,” tanya teman saya lagi.

“Ee…eh,” saya masih saja tergagap-gagap.

Dasar.

 

***

Riza Almanfaluthi

ditulis untuk Islamedia

dedaunan di ranting cemara

Lantai 9 Pengadilan Pajak

10.42 21 April 2011

 

http://www.islamedia.web.id/2011/04/sigap-terhadap-aib-gagap-terhadap.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

dermaga


dermaga

**

 

debur ombak seringkali mengalahkan senyapnya

angin yang bertiup di atas bibir-bibir karang,

geliatnya mengalahkan sejuta pesona

matahari yang hendak tidur diam-diam,

aku adalah perahu yang hendak

kembali di keesokan hari,

berkenanlah kau menjadi dermaga

tempat aku persembahkan

segala apa yang ada di dalam samudera,

apa saja…

sudi?

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 April 2011

METAFORA DAN SIMILE


METAFORA DAN SIMILE

 

Saat ini, hujan menangis di bahuku, aku basah dengan cinta…

“Metafora yang ciamik…”

“Salah itu bukan metafora, tapi personifikasi”.

“Oh kalimat di atas bukan metafora yah…lalu?”

“Metafora seperti yang akan saya uraikan di bawah.”

*

Ketika kita membaca ungkapan berteman bagaikan sumur atau berteman bagaikan laut atau wajahmu secantik bulan purnama
apakah
ini juga
metafora? Bukan, ini pun bukan metafora, hampir mirip memang dengan metafora. Lalu seperti apa metafora?

***

Waktu belajar bahasa Indonesia di sekolah dulu sering kali kita diajarkan tentang apa itu metafora yakni pemakaian kata bukan dalam bentuk sebenarnya. Mengutip dalam bukunya Robert A Harris yang berjudul A Handbook of Rhetorical Devices, Harry Surjadi—mantan wartawan Kompas—mengemukakan bahwa metafora adalah salah satu bentuk retorika berbahasa.

Saya menyukai metafora. Dengan sangat. Apalagi Aristoteles sampai mengatakan: “hal yang paling luar biasa sejauh ini adalah menjadi penguasa metafora.” Maka benarlah apa yang disebutkan dalam makalah Harry bahwa manfaat penggunaan metafora adalah antara lain membuat lebih hidup bahasa yang sering kita pakai dalam keseharian, mendorong banyak interpretasi, lebih efisien dan ekonomis, menciptakan arti baru, serta menunjukkan kecerdasan.

Saya akan tunjukkan contoh metafora yang ada dalam beberapa paragraf berikut ini.

Kau berjalan di pematang sawah pada pagi yang berkabut  tipis. Dan aku menunggumu di saung yang meraung kesepian  di ujungnya. Lalu kita sama-sama mematut-matut diri pada nasib yang membuat kita berjarak pada nyatanya. Kita membunuh waktu dengan celotehan tentang apa saja yang membahagiakan masing-masing.

Sampai kita lupa pada burung-burung yang tiba-tiba saja hadir menemani tapi untuk urusannya mereka sendiri. Hanya mengambil satu dua bulir padi yang siap untuk dipanen. Kita pun tidak rela, hingga kau mengayunkan tali untuk menggerakan orang-orangan sawah untuk menakut-nakuti mereka. Aku melihatmu. Aku memperhatikanmu.

Dan setiap  gerak itu, yang hanya terlihat di mataku adalah sebuah simfoni. Karena tawamu adalah bunyi biola yang mengindahkan semuanya. Senyummu adalah dentingan gitar yang terpetik mengiringinya. Matamu adalah piano orkestra yang menjadi instrumentalia pembuka. Sungguh, saat itu yang aku inginkan adalah waktu menjadi beku. Menjadi tawananku untuk tak lari menghindar. Aku hanya ingin  melihatmu melakukan apa saja di saung itu. Dan aku cukup dengan melihatmu saja. Aku sudah bahagia. *1)

Lihat pada kalimat: “Karena tawamu adalah bunyi biola yang mengindahkan semuanya. Senyummu adalah dentingan gitar yang terpetik mengiringinya. Matamu adalah piano orkestra yang menjadi instrumentalia pembuka.” Akan kering tanpa rasa bila hanya menyebut tawamu renyah, senyummu menawan, dan matamu indah. Seperti keringnya kita saat mendengar cabang Partai A atau ranting Partai B. Kata-kata itu telah kehilangan rasanya karena klise.

Sapardi Djoko Damono seringkali menggunakan metafora dalam karya indahnya. Coba lihat ini:

Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. (Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo).

Lalu kalau simile itu apa? Hampir sama dengan metafora tinggal tambahkan saja kata seperti, atau bagaikan. Pada dasarnya simile merupakan perbandingan dua benda yang mempunyai kemiripan dan kesamaan dengan menambahkan kata seperti atau sebagai. Kalau metafora menyatakan bahwa “sesuatu” itu benda lain, sedangkan pada simile sebaliknya, “sesuatu” tidak menyatakan sama dengan benda itu tapi mempunyai kemiripan.

Contoh:

Metafora: Tawamu biola (tawamu adalah biola)

Simile:

– Tawamu seperti biola (tawamu bukan biola)

– berteman bagaikan sumur atau berteman bagaikan laut atau wajahmu secantik bulan purnama.

Dan inilah simile yang saya buat itu:

Sehari saja enggak nyentuh gtalk, seperti ikan yang dikeluarkan dari air, seperti ular yang digaremin, seperti burung yang dipatahin satu sayapnya, seperti kecoa yang diputusin sungutnya, seperti ekor cicak yang tanggal dari tubuhnya, seperti bisul yang mau pecah cenat-cenut, seperti sepeda yang satu bannya meletus tak karuan.*2)

Sapardi Djoko Damono dalam Penyair:

Aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku

…aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu…

Sangat imajinatif, penuh pemaknaan, begitulah adanya metafora dan simile. Anda mudah untuk membuatnya jika mau. Dan demikianlah perbedaan metafora dan simile. Semoga bisa dipahami.

***

*1) Dibuat di atas bus yang pulang dari Pengadilan Pajak pada Rabu 6 April 2011

*2) Dibuat 02 Maret 2011

Maraji’: Metafora , Harry Surjadi, Bahan Diklat Menulis Ilmiah, Pusdiklat Keuangan Umum, Departemen Keuangan

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

*mohon kritik jika salah dan ada yang kurang

09.56 am 10 April 2011

Tags: metafora, simile, personifikasi, harry surjadi, kompas, pusdiklat keuangan umum, Robert A Harris, Handbook of Rhetorical Devices, pengadilan pajak

terlanjur


terlanjur

*

hujan menangis

di bahuku saat ini,

aku basah dengan cinta…

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.33 pm 08 04 2011

PNS, CPNS, DAN MALINDA DEE


PNS, CPNS, DAN MALINDA DEE

 

Dua kali mengetes kejujuran para kondektur Metromini 640 Jurusan Tanah Abang Pasar Minggu, hasilnya kurang memuaskan. Caranya? Diam-diam saya membayari ongkos Metromini teman satu instansi saya, walau tidak kenal. Saya memberi uang 4000 perak kepada kondektur untuk ongkos angkut saya dan teman yang ada di depan. Saya tunjuk dari belakang seorang perempuan berjilbab. Saya yakini betul kondektur itu untuk tidak menagih lagi ongkos padanya.

    Kondektur melewati teman saya walau ia sudah menyodorkan uangnya. Dan ketika sudah sampai ke tujuan dan ia hendak turun, teman saya itu kembali menyerahkan uang dua ribuannya kepada kondektur. Kondektur itu melihat dulu ke arah saya, karena dia tahu saya mengawasinya, ia cuma bilang “sudah dibayari sama yang di belakang.” Teman saya bingung siapa lagi yang bayari dia. Saya pura-pura melihat ke arah lain. Apa coba yang terjadi kalau saya tidak memelototi kondektur itu?

    Hari yang lain juga sama. Untuk ini saya serahkan uang enam ribu rupiah kepada kondektur buat dua orang teman saya yang ada di depan, tentu tanpa sepengetahuan mereka. Kondektur melewati mereka. Namun karena dua teman saya itu tak tahu ada yang membayari mereka maka pada saat turun mereka tetap menyerahkan uangnya kepada kondektur. Kondektur itu menerimanya walau tahu mereka sudah dibayari saya. Seharusnya kondektur itu bilang, “ada yang bayarin.” Apa susahnya?

    Dua orang kondektur itu bagi saya masih diragukan kejujurannya. Tapi eksperimen saya masih sumir karena mengambil sampel yang cuma sedikit. Yang membanggakan adalah teman-teman saya dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini, integritas mereka teruji sudah. Merasa belum bayar, mereka tidak langsung menyimpan uangnya kembali ke saku, memanfaatkan kesempatan lupanya kondektur untuk mengirit dua ribu perak, tetapi membiarkan uang itu tetap dipegang di tangannya dan akan diserahkannya pada saat turun nanti.

    Akan ada yang berpikir begini bahwa mereka—teman-teman saya ini—belum teruji karena cuma disodorkan kesempatan “menilap” uang recehan yang tidak bernilai itu. Kalau uang milyaran di depan mata, siapa tak akan mau? Sebenarnya jawabannya mudah. Kalau yang kecil saja tidak bisa ditolak bagaimana mungkin akan menolak yang bernilai besar? Semua itu dimulai dari hal-hal yang kecil. Hari itu saya bangga mempunyai teman seperti mereka.

Di kesempatan lain, ada teman yang pernah menjadi calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah Kalimantan namun meninggalkan kesempatan besar untuk menjadi PNS itu hanya karena banyak hal yang bertentangan dengan idealismenya. Saya ingin menceritakannya sepintas.

Seperti kita ketahui bersama, begitu banyak orang terpikat untuk menjadi PNS, oleh karenanya saat lowongan penerimaan PNS dibuka, ribuan orang turut serta berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri. Bagi yang tak mau capek dan ingin hasil yang instan, segala cara bisa dipakai. Mulai dari menggunakan jalur koneksi, dukun, sampai sogok menyogok. Seringkali pada akhirnya mereka hanya menjadi korban penipuan saja.

    Tak masalah jika dari hasil seleksi itu yang diterima adalah mereka yang benar-benar berkualitas. Masalahnya adalah jika mereka yang tak mau capek dan memakai segala cara itu ternyata ikut diterima juga. Lalu akan jadi birokrat seperti apa mereka? Pun, apakah mereka yang diterima dengan cara yang benar dijamin akan menjadi seorang birokrat yang mampu memegang idealismenya? Tentu ini tergantung antara lain dari budaya yang ada di tempat kerjanya, keteladanan para seniornya, dan komitmen para pemangku kepentingan utama untuk menjalankan good corporate governance.

    Ceritanya, teman saya ini diterima sebagai CPNS dengan cara yang jujur dan langsung ditempatkan di salah satu dinas di sana ketika lulus. Hanya empat bulan dia bertahan dengan suasana yang penuh ujian terhadap integritasnya. Mulai dari disuruh me-markup laporan pertanggungjawaban, lembur dan rapat fiktif, menerima uang tidak jelas sebesar 50 ribu sampai 100 ribu rupiah sehari, atau sekadar dicatut namanya pada kegiatan tertentu lalu ia tinggal menikmati hasilnya. Ia protes atas semua itu.

    Ia yang sudah diajarkan tentang nilai idealisme dan menyampaikan kebenaran walau pahit sejak kecil, merasa menjadi PNS bukan dunianya lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, keluar dari menjadi Calon PNS. Dengan meninggalkan kesempatan untuk menjadi PNS, gaji Rp3,5 juta waktu itu dan akan bertambah besar, serta mendapatkan jaminan pensiun kelak. Dan ia bersedia untuk membayar Rp10 juta untuk pengunduran dirinya. Sekarang ia hanya menjadi seorang guru SDIT saja. Mendengar ceritanya, hari itu saya bangga mempunyai teman sepertinya.

    Dua cerita ini menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan saya sendiri pada saat diskusi di dalam bus yang membawa kami pulang dari Pengadilan Pajak. Masih adakah orang jujur untuk melanjutkan reformasi birokrasi yang dirasa berjalan lambat ini dan karena adanya peristiwa-peristiwa yang mencederai semangat reformasi itu? Faktanya ada. Masih banyak orang jujur. Tidak hanya di DJP, di luar DJP juga tidaklah sedikit.

Begitu pula potensi korupsi dan orang-orang yang tidak jujur tidak hanya ada pada instansi pemerintah, tetapi juga pada instansi swasta yang profesional dan kredibel, seperti Citibank misalnya. Sebagaimana sudah diketahui kalau Citibank ini adalah bank terkenal, mendunia, disebut juga sebagai universitas perbankan, mempunyai kultur kerja yang baku, nilai-nilai yang sudah inheren, sistem perbankan yang canggih dan modern. Tetapi sebutan itu tak berdaya di hadapan seorang Malinda Dee yang disangka telah membobol lebih dari Rp17 milyar selama 3 tahun.

Malinda diuntungkan karena tempatnya bekerja. Dia tidak langsung disebut sebagai seorang koruptor ketika menyelewengkan uang nasabah, cuma penggelap. Beda dengan teman-teman saya di atas jika tidak melakukan perbuatan tidak jujur itu. Stigma koruptor langsung melekat. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring disebutkan pelaku yang menyelewengkan uang Negara atau perusahaan adalah koruptor.

Jarang pengamat yang menyalahkan sistem perbankkannya yang bobrok, semuanya mengarah pada niat dan kesempatan terbuka yang dimanfaatkan oleh Malinda. Tidaklah sama dengan yang diterima institusi pemerintahan seperti DJP yang berusaha untuk menjadikan sistem pelayanannya diterima masyarakat dengan baik. Seberapa bagusnya sistem tersebut, selain orang yang disalahkan maka sistemnya pun menjadi ajang terbuka untuk dihujat. Inilah risiko ketika reformasi birokrasi dimulai dari sebuah awal yang buruk berupa stigma masa lalu: birokrasi korup.

Pada akhirnya teman-teman saya di atas, PNS dan CPNS itu, terbukti lebih bersahajanya daripada Malinda Dee ketika kesempatan itu terbuka di depan mata.

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

4.32 04 april 2011

 

Tags: citibank, kejahatan perbankan, integritas, jujur, kalimantan, kbbi, Malinda dee

Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2011/04/05/pns-cpns-dan-malinda-dee/