PEREWA


 


 

anak-anak puyuh riuh rendah kembali ke sarang

nikmatilah itu

enyami setiap dukanya

peluklah setiap sukanya

karena tak tempo lagi kau menitis garuda

tapaki gunung

terjangi awan-awan putih

renangi angin

hidup itu pendaran cinta dan benci

sebentuk perkelahian bergelimang madu dan berlumus nanah

semua menjadi raja pada waktunya

kukuh!

perewa!

tabah serupa hujan yang tumbuh di desember

anak-anak puyuh ribut kembali ke sarang

tak lama lagi menjelma garuda

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 3 Januari 2015

Foto: istimewa

MINA


2011-11-09 06.39.14

Tumpukan sandal mencari pemiliknya masing-masing.
Padahal yang dicari sedang tersenyum di atas langit.
Yang fana menyebutnya tragedi.

**
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Citajam, 24 September 2015

Malam-malam di Braga


image

Usai hujan sore
Di kemarau yang luput
Ada yang berzikir
Menghitung asap dan bir
Lupa yang sama-sama.

***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Bandung, 20 September 2015.

tidak ada yang baru di bawah matahari


2015-04-10 12.30.06 (2)

Dua sampan terkapar diterkam gelombang

Dermaga jauh entah di hadapan

Diremehkan rindu yang pura-pura mengeja gerimis kesedihan

Lukanya hanya bisa diampuni oleh sebuah perjumpaan

***

Imaji Jum’at

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 10 April 2015

Punai Riuh


 

 


 

Segelas sunyi yang biru kutenggak siang ini. Ia lebih kupercaya dari senja yang cepat mangkir. Sebentuk lamunan lupa kutulis di atas kalender 2014 yang hampir selesai. Ingin rasanya membuang semua dalam sekejap lelap. Tapi bilah pedang matahari memanggang asbes mes hingga ke dalamnya. Aku terbakar. Makanya aku buka pintu lebar-lebar mempersilakan angin pantai duduk di atas kulitku. Sambil disaksikan punai-punai riuh kekenyangan. Atau kucing betina yang melihatku penuh curiga dan kaget tak kepalang, kabur ketakutan. Listrik sedari pagi pergi tanpa pamit. Sialkota kecil ini memang tak bisa akur dengannya. Aku tak peduli. Nantinya dia akan kembali jam lima sore sambil membawa dan menggandeng gelap. Kini, biarkan aku teguk segelas sunyi yang biru di ruang tengah dengan angin pantai yang sudah mulai memelukku. Barangkali hanya tulisan-tulisan suci yang membuatku tetap waras. Kubaca setiap hari. Tanda aku masih serupa hamba. Kupanggil dirimu Ya. DatangdatangBuru-buruPergipergiKuhabiskan segelas sunyi yang biru sampai lupa dari tadi sudah 100 derajat celcius. Mulutku hancur. Di depan mes ini rumput-rumput yang belum terpotong terpingkal-pingkal mentertawakanku. Kutenggak segelas sunyi yang biru, cuma itu yang bisa kulakukan di November yang panas. Aku menunggu malam dengan sangat. Saat aku bisa merasakan sepotong kangen. Kangen yang pagi, tipis, dan mawar.

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ditulis untuk jejak kata Tapaktuan

Tapaktuan, 10 November 2014

Ilustrasi via fineartamerica.com

Aku Epilog di Bab Terakhir Catatan Harian yang Kau Kirim Kepadaku Dengan Beribu Gesa


 

 

 

Tidak Ada Argari

 

By: Riza Almanfaluthi

 

Aku kuyup digigit ribuan hujan dari langit yang menganga lama

getar petir menular menjadi  gemerutuk  sekujur tubuh

haus dari apa yang kau sebut pelukmu

selalu saja ada alasan buat ombak untuk terus menatapku yang sedang duduk di bawah nyiur

menjadi tabir dari keluhmu tentang aku yang didera jauh

tak cukup ribuan halaman kertas mengeja setiap katayang kau kikir dengan pena rindumu
biarkan tintanya habis…

karena tidak ada yang lebih sedih dari pedih yang kuhirup menjadi udara pagi….

 

Aku senja yang disapa satu persatu oleh jarum jam di dinding kayu lapuk rumahmu

cicak mana yang mau berpesta serangga di sana

detaknya tidak lebih dari 20 desibel, akankah kau dengar?

tapi ini kalibrasi epik karena harimu berdenyut tanpa sebentuk suara

tanpa wajah yang dimamah senyum, tanpa geliat raga yang dikobar renjana

tanpa ketik huruf yang bersembunyi di balik kaca, tanpa tombak tawa semenjana

biarkan ujung bayungnya jatuh…

karena tidak ada yang lebih tegar dari argari berantamu yang kubayar menjadi khayal…

 

Aku epilog di bab terakhir catatan harian yang kau kirim kepadaku dengan beribu gesa

selarik hitam mengular lama tanpa jeda mengisyaratkanku akan sebuah igau

enggan aku baca, karena aku tahu berapa kali engkau tala madah berjuluk perpisahan

sedetik sapamu hanya senampan basa-basi terhidang di piring penuh kedustaan

atau sekadar keengganan bercampur peluh dinginmu saat kau sadar ini tak boleh nyata

biarkan ia menetes…

karena tidak ada yang lebih harum dari wangimu yang kupecut menjadi hening semesta…

 

Aku sampul buku yang dicampakkan benih-benih rayap di sudut lemari yang bisa kau jangkau setiap saat

Sebuah entah apalagi yang akan kau gesekkan di atas senar-senar biola sedihmu

Akan kau dermagakan kemana harap

Akan kau deraikan kemana lagi cerita

Akan kau sisihkan kemana lagi segala kemas

Sedangkan aku dengan rinduku setengah mati yang tak pernah bisa mati

Biarkan itu adanya…

Karena tidak ada yang lebih

tidak ada yang lebih berduka dari rimba asmara yang kuriba menjadi kusuma pusara

tidak ada…

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Tapaktuan, 2 September 2014

 

 

Bernyanyilah Semaumu, Biarlah Waktu Aku Tipu


 


 

 

Suatu malam yang jarang kita sapa dengan segala nada sontak datang mengukur pintu-pintu nadi pikir kita. Laron yang sepasang berderet mengukur sudut-sudut lantai menaburkan dingin. Gigilnya tak kepalang mengukur mata-mata yang tak mau terpicing. Dengkur halusmu seperti ratusan belati yang sengaja kau tikam dalam telinga-telinga rapuhku. Tersebab itu, waktu aku tipu. Selagi ia sibuk memaki, izinkan kata-kata rapuh melamatkan aku: “Pada siapa elegi akan tiba?”

Puluhan hari kemudian datanglah kembali suatu malam yang jarang kita sapa.

**

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Jejak Kata Tapaktuan

25 Agustus 2014

Gambar berasal dari Kompasiana.

GAZA


GAZA
 

 

Maafkan aku yang terlambat 
sadari seberapa gentingnya kamu, 
sebelumnya hatiku tak bergerak 
ketika mendengar kabar dari media sosial 
 
tentang anak-anakmu yang dibakar, berdarah-darah, 
termutilasi oleh api-api laknat penjajah.
Aku baru tahu dari running text 
sebuah televisi swasta 
kalau 40 anak-anakmu telah syahid. 
Betapa menderitanya kamu Gaza.
 
Oh…aku baru tahu ternyata 
di antara laparku yang menyengat, 
di gempitanya menu berbuka puasa, 
di sepanjang doa-doa malam yang terburu-buru, 
di rakaat-rakaat tarawihku yang pendek, 
di sujud-sujud tahajudku yang seadanya, 
di ramainya tontonan piala dunia, 
di sahurku yang begitu berada, 
di shubuhku yang enggan terlaksana segera 
karena tidur yang menggoda, 
di puasaku yang penuh ghibah dan pura-pura lemas, 
di pesta demokrasi yang menghabiskan sebagian dayaku, 
ada sebuah kuasa yang mempertontonkan 
kesombongan dan ketamakan para monyet.
Oh…aku tak mau abai lagi. 
Kukirimkan rudal-rudal doa mengenyahkan segala angkuh. 
Ini Ramadhan, saat tubuh dan jiwaku untukmu Gaza. 
 

 

 
**

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
9 Juli 2014
dimuat pertama kali di islamedia.co

 

SEGELAS MABUK


SEGELAS MABUK

 

 

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang sebungkus bulan yang kau bawa di tepian panjang pantai calang. Kita santap setiap potongannya. Dan di setiap gigitan itu meledaklah bunyi nafas-nafas kita. Itulah saat hasrat mengeja api yang sering kau sebut rindu.

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang debur ombak yang kau selalu rapihkan karena kusut untuk kupakai. Kita cari sebintik bayang di bola mata masing-masing. Seringkali di sana sebentuk jujur menjadi binar abadi tak pernah terhapus dengan sepercik dusta barangkali. Itulah saat malam sungkan menyimpan hujan yang sering kau sebut air mata.

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang isak merupa nanar menggenangi ruang-ruang perih di puncak gerutee. Kita hirup aroma kopi tubruk panas. Mungkin sebentuk asap adalah pilinan resume dari kabut sejarah pertemuan kita. Setiap kau bicara tentang perpisahan, aku yang bicara tentang perjumpaan. Itulah saat Tolstoy pun gagap bicara apa yang sering kau sebut cinta.

Aku segelas mabuk yang bercerita. Cerita apa saja.

***

Riza Almanfaluthi

Lamlagang, Banda Raya, Banda Aceh

15 Mei 2014

Ditulis untuk Jejak Kata Tapaktuan

Sumber gambar dari sini.

MERAH ITU…


Merah itu…

 

 

kau merah, yang taburkan segenggam debu rindu, seraya rapal mantera amarah, lalu kau punah dikikis tatah kesumat, perihnya tanpa tara.

kau tumbang, koyak, jejas, jatuh dalam geraham getir

maka seringkali aku memohon padamu, di setiap malam yang nyaris kelu, kalau kau tak perlu peduli pada ingatan masa lalu.

kau puisi, yang hurufnya berkicauan merdu, di rerumpunan belukar kata, lalu kau sibak dengan spasi, dan apa yang kau temukan?

makna yang purba: cinta yang renta

maka sebelum kau sirna membawa prasasti luka, tetaplah menjadi puisi

yang aku acap eja di tengah malam

malam yang merah

merah itu engkau.

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis buat Open Mic Jejak Kata Tapaktuan

11.48 10 Mei 2014

Gambar diambil dari sini.