Segelas sunyi yang biru kutenggak siang ini. Ia lebih kupercaya dari senja yang cepat mangkir. Sebentuk lamunan lupa kutulis di atas kalender 2014 yang hampir selesai. Ingin rasanya membuang semua dalam sekejap lelap. Tapi bilah pedang matahari memanggang asbes mes hingga ke dalamnya. Aku terbakar. Makanya aku buka pintu lebar-lebar mempersilakan angin pantai duduk di atas kulitku. Sambil disaksikan punai-punai riuh kekenyangan. Atau kucing betina yang melihatku penuh curiga dan kaget tak kepalang, kabur ketakutan. Listrik sedari pagi pergi tanpa pamit. Sial…kota kecil ini memang tak bisa akur dengannya. Aku tak peduli. Nantinya dia akan kembali jam lima sore sambil membawa dan menggandeng gelap. Kini, biarkan aku teguk segelas sunyi yang biru di ruang tengah dengan angin pantai yang sudah mulai memelukku. Barangkali hanya tulisan-tulisan suci yang membuatku tetap waras. Kubaca setiap hari. Tanda aku masih serupa hamba. Kupanggil dirimu Ya. Datang…datang…Buru-buru…Pergi…pergi…Kuhabiskan segelas sunyi yang biru sampai lupa dari tadi sudah 100 derajat celcius. Mulutku hancur. Di depan mes ini rumput-rumput yang belum terpotong terpingkal-pingkal mentertawakanku. Kutenggak segelas sunyi yang biru, cuma itu yang bisa kulakukan di November yang panas. Aku menunggu malam dengan sangat. Saat aku bisa merasakan sepotong kangen. Kangen yang pagi, tipis, dan mawar.
Suatu malam yang jarang kita sapa dengan segala nada sontak datang mengukur pintu-pintu nadi pikir kita. Laron yang sepasang berderet mengukur sudut-sudut lantai menaburkan dingin. Gigilnya tak kepalang mengukur mata-mata yang tak mau terpicing. Dengkur halusmu seperti ratusan belati yang sengaja kau tikam dalam telinga-telinga rapuhku. Tersebab itu, waktu aku tipu. Selagi ia sibuk memaki, izinkan kata-kata rapuh melamatkan aku: “Pada siapa elegi akan tiba?”
Puluhan hari kemudian datanglah kembali suatu malam yang jarang kita sapa.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang sebungkus bulan yang kau bawa di tepian panjang pantai calang. Kita santap setiap potongannya. Dan di setiap gigitan itu meledaklah bunyi nafas-nafas kita. Itulah saat hasrat mengeja api yang sering kau sebut rindu.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang debur ombak yang kau selalu rapihkan karena kusut untuk kupakai. Kita cari sebintik bayang di bola mata masing-masing. Seringkali di sana sebentuk jujur menjadi binar abadi tak pernah terhapus dengan sepercik dusta barangkali. Itulah saat malam sungkan menyimpan hujan yang sering kau sebut air mata.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang isak merupa nanar menggenangi ruang-ruang perih di puncak gerutee. Kita hirup aroma kopi tubruk panas. Mungkin sebentuk asap adalah pilinan resume dari kabut sejarah pertemuan kita. Setiap kau bicara tentang perpisahan, aku yang bicara tentang perjumpaan. Itulah saat Tolstoy pun gagap bicara apa yang sering kau sebut cinta.
Aku segelas mabuk yang bercerita. Cerita apa saja.