180 Derajat



Jelang Palimanan di Tol Cipali (Foto milik Makhfal Nasirudin)


    Ini bukan judul lagu yang dinyanyikan penyanyi Mesir yang dikenal sebagai pedendang lagu-lagu arab romantis: Tamer Hosny. Tapi benar-benar keadaan yang berlawanan dengan masa sebelumnya. Tentang apa? Tentang perjalanan mudik dan balik kami.

Baca lebih lanjut.

Wanita Ini Rela Pulang Pergi Bangkok Solo Bawa Air Susu Ibu Demi Kai


 Gunakan coolerbox ukuran kabin jika berniat on board, untuk menyimpan ASI dan blue ice.
(Dokumentasi Indy)

 

Kalau dulu kita mengenal Risa Fajarwati yang membawa cooler box berisi ASI pulang pergi Jakarta-Wates selama lebih dari setahun di akhir pekan dengan menggunakan kereta api, sekarang kita wajib mengenal perempuan inspiratif satu lagi. Tidak lagi ratusan kilometer yang ditempuh melainkan ribuan kilometer dengan menggunakan moda transportasi udara melewati batas negara.

Wanita kelahiran Solo 27 tahun lalu ini bernama lengkap Nindya Nindita Sari, biasa dipanggil Indy. Ia adalah mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa dari Kasetsart University Bangkok, Thailand. Indy harus meninggalkan anak pertamanya di Solo karena usianya yang belum tiga bulan membuat sang anak tidak boleh terbang.

Baca Lebih Lanjut

Cuma Satu yang Tak Akan Berkurang Walau Dibagi


Jalan rusak Citayam-Bojonggede via metropolitan.id

Jalanan Citayam-Bojonggede rusak berat. Menjelma kubangan kerbau dan kawah-kawah menganga yang lebar dan dalam. Tetapi menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilewati oleh mobil hitam yang berisi wanita kesakitan dan senantiasa berzikir karena hendak melahirkan.

Saya berusaha melewati setiap lubang itu dengan pelan dan tenang. Karena setiap guncangan yang terjadi maka menyebabkan kontraksi yang semakin menjadi. Seiring dengan itu tentu teriakan kesakitan mengisi kembali ruang dan waktu. Baca Lebih Lanjut

Kisah Nyata Pegawai DJP: Dituduh Sebagai Calon Tersangka Korupsi dan Cukuplah Allah Sebagai Saksi


KISAH NYATA PEGAWAI DJP:

DITUDUH SEBAGAI CALON TERSANGKA KORUPSI

DAN CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI SAKSI

 

Ini kisah yang dituturkan dari teman satu direktorat Gayus Tambunan pada tahun 2010. Saat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diterpa badai kecaman serta pemberitaan yang begitu telanjang dan tidak seimbang karena salah satu pegawainya melanggar kode etik.

Bagaimana rasanya ketika keluarga besarnya mengejek sinis setelah menyaksikan tayangan televisi yang menyebut-nyebut namanya sebagai atasan Gayus? Bagaimana rasanya diberitakan oleh salah satu televisi nasional sebagai “calon tersangka koruptor”? Bagaimana rasanya saat turun dari pesawat ia disapa oleh penumpang yang lain dengan pertanyaan: “Ibu atasannya Gayus?”

Kisah yang diceritakan dan ditulis sendiri oleh Ibu Dwi Astuti ini bisa dibaca dalam Buku Berbagi Kisah & Harapan 2: Bertahan di Tengah Badai yang diterbitkan oleh DJP di tahun 2011 lalu. Selamat membaca.

berkah2

Buku Berbagi Kisah & Harapan: Berjuang di Tengah Badai

Baca Lebih Lanjut

Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina


Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina

 

 

Aksi solidaritas untuk Palestina yang dilakukan oleh ribuan masyarakat pada hari Ahad (13/7) di Bunderan Hotel Indonesia Jakarta menyisakan kisah-kisah yang sangat mengharukan. Kisah-kisah tentang kepedulian para mustad’afin (orang-orang lemah) kepada saudara-saudaranya di bumi Palestina yang menjadi korban kebiadaban Israel.

Apa saja kisah-kisah mengharukan tersebut? Diantaranya diutarakan oleh Ririn, administrator komunitas ODOJ (One Day One Juz) 46. Komunitas yang mempunyai program memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Alquran satu juz sehari. Kisah ini telah beredar melalui pesan dalam grup ODOJ pagi ini. Menarik untuk disimak.

Ceritaku sebagai tim sunduk dari ODOJ di Aksi Solidaritas untuk Palestina. Awalnya rada sungkan, namun lama kelamaan asyik juga, apalagi kalau yang dikasih berupa Garuda Merah (lembar uang dengan nominal seratus ribu rupiah—red).

Berada di antara ratusan mobil yang lalu-lalang. Bahagia banget kalau ada ada yang membunyikan klakson kemudian membuka sedikit jendelanya dan si Garuda Merah atau Biru masuk ke kantong hijau ODOJ. Senang bukan main.

Tetapi ada satu hal yang membuat aku sampai mengeluarkan air mata di antara air hujan yang membasahi bumi yaitu sepasang suami istri dengan motor butut memberikan beberapa lembar Garuda Merahnya. Setelah memberikan lembaran itu, suami tersenyum kepada istrinya seraya berkata, “Ikhlas ya Mi, sahur dengan mi rebus?” Anggukan anggun si istri membuat aku terpana. Ya Allah, itu lembar terakhir mereka. Semoga Allah ganti lembaran-lembaran Garuda Merahmu untuk saudara muslim di Palestina kita dengan surga-Nya, wahai saudara muslimku.

Kemudian ada juga pemulung yang memberikan uang recehnya untuk saudara muslim Palestinaku seraya ia berkata, “Neng, Bapak bisa gak ya ke Palestina?” Tanyanya. “Kalau mau perang ke sana harus punya hafalan 30 juz ya Neng? Aduh, Bapak mah boro-boro hafalan, salat saja bolong-bolong, tapi Bapak pengen ke sana, Bapak ingin syahid Neng.”

Bapak pemulung itu berpakaian lusuh, namun hatinya laksana mutiara. Sepanjang menjalankan kotak sunduk, air mataku mengalir. Mereka mengajarkan kedahsyatan yang luar biasa. Hari ini aku bersyukur bisa terlibat menjadi bagian hal ini.

Bagi para pembaca jangan melewatkan diri untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Palestina dengan memberikan infak terbaiknya. Jika tidak, minimal dengan doa yang tidak putus-putusnya. Apalagi di bulan Ramadhan ketika Allah banyak memberikan waktu mustajab buat orang yang berpuasa untuk berdoa. Doa adalah senjata kaum beriman. [Riza Almanfaluthi]

PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR


PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR

 

Ada yang rumit dari sebuah pagi, detilnya. Kali ini, pagi ini, demikian pula. Walau ada sebuah cerita mengiringinya. Ini sungguh terkait dengan keajaiban istighfar seperti yang sudah saya ceritakan kepada Anda semua di “Cring”.

Tadi malam saya i’tikaf di masjid komplek desa lain. Sahurnya pun disitu. Pas sahur air minum kemasan gelas habis. Mau mengambil air yang ada di dispenser tak ada gelasnya. Sudahlah, saya minumnya nanti, di rumah saja. Pun, karena saya harus kembali ke rumah segera untuk dapat sholat shubuh di Masjid Al-Ikhwan. Ada ceramah shubuh di sana.

Setengah jam menjelang adzan shubuh, saya memacu Fit di jalanan Bojonggede yang sepi. Di tengah perjalanan, saya baru ingat kalau jarum penunjuk fuel sudah menyentuh garis merah. Mentok sementok-mentoknya di dasarnya. Lupa belum diisi. Wah gawat kalau benar-benar dorong motor pas mau puasa. Ngelak tenan ik

Saya ingat nasehat ustadz. Perbanyak istighfar niscaya Allah kasih kelonggaran atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, rezeki dari arah yang tidak terduga. Langsung dah saya istighfar sebanyak mungkin, “ya Allah cukupkanlah bensin di motor saya ini sampai ketemu tukang bensin.” Saya percaya Allah akan menolong saya. Akankah keajaiban itu datang? Ternyata tidak saudara-saudara!

Motor benar-benar berhenti jauh dari tempat tukang bensin jualan. Saya turun dari jok dan mendorong motor itu. Speaker masjid dari mana-mana sudah terdengar menyuarakan pemberitahuan bahwa imsak akan datang sebentar lagi. Seratus meter dorong sambil cari warung pinggir jalan yang jualan air minum. Tak ada. Dan ujian akan tambah berat lagi. Di depan saya, kurang dari 100m, ada jembatan. Ini pertanda saya harus mengerahkan tenaga ekstra lagi untuk bisa melaluinya karena jalanannya menaik. Saya pasrah. Ini takdir yang harus dijalani di hari ke-26 Ramadhan.

Dan di titik inilah, di saat kepasrahan itu menjelma, keajaiban istighfar datang menghampiri. Seorang pengendara motor , anak muda, berhenti dan menanyakan kepada saya apa yang terjadi. Setelah mengetahui kondisinya, ia langsung menawarkan untuk nyetut
motor saya. Stut motor itu mendorong motor yang saya naiki dengan kakinya atau dorki (dorong kaki). Alhamdulillah ini sangat membantu. Kurang lebih 500 meter ia dorong motor saya sampai di tukang bensin terdekat. Dan ia langsung pergi tanpa berhenti untuk sekadar menerima ucapan terima kasih saya. Semoga Allah memudahkan urusannya dan membalasnya dengan kebaikan yang banyak.

Ilustrasi dari sini.

Saya beli dua botol bensin. Sebelumnya saya bertanya sambil melirik kulkas apakah ada air kemasan yang dijual. Ibu itu bilang tidak ada. Tapi ia langsung mengambil air segelas besar penuh dan memberikannya kepada saya. Ia tahu betul kalau saya lagi kehausan. Ucapan terima kasih lagi-lagi saya haturkan kepada orang baik kedua yang telah menolong saya. Inilah keajaiban istighfar yang kedua pas imsak tiba.

Di pagi yang rumit itu saya mendapatkan tiga keutamaan sekaligus dari istighfar. Allah hapus kegalauan saya karena harus mendorong motor di pagi buta, disebabkan ada orang yang mau membantu saya. Allah kasih jalan keluar atas setiap kesempitan karena ada orang yang kasih solusi dengan nyetut dan tukang bensin yang tak sebegitu jauhnya. Lalu Allah kasih rezeki segelas penuh air minum gratis menjelang waktu shubuh untuk menghilangkan dahaga dan bekal seharian berpuasa. Nikmat mana lagi yang mau diingkari jeh? Astaghfirullahal’adziim…

Maka untuk merayakan pagi yang tak rumit lagi ini bolehlah saya teriakkan: “Pagi Cantik…” Semoga amal ibadah kita di Ramadhan ini bagus semua, cantik semua. Lalu Allah menerimanya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di pojokan masjid

04 Agustus 2013

 

C R I N G


CRING

Kalau di surga, Adam jika menginginkan sesuatu maka ia tinggal bilang lalu “cring”. Segalanya sudah ada di hadapannya. Sungguh kenikmatan yang tiada tara. Dalam kesendiriannya naluri sebagai seorang manusia menghendaki adanya seorang teman. Lalu diciptakanlah Hawa dari tulang rusuknya. Maka kenikmatan apa lagi yang dapat menandingi kenikmatan yang mereka miliki? Sampai terjerumus oleh Iblis dengan memakan buah terlarang. Kenikmatan dua manusia pertama itu dicabut dan mereka berdua turun ke bumi. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercipta akan mengurangi banyak kenikmatan.

Di bumi, walaupun tidak sedahsyat surga, tetapi jika Adam menginginkan buah ia masih tinggal memetiknya dari pohon. Keturunannya sudah semakin banyak. Dengan sebuah pelajaran yang teramat berharga—terusirnya mereka dari surga—lalu membuat anak keturunan Adam tidak berbuat dosa? Dosa-dosa pun tercipta. Lalu mereka tak bisa memetik buah dari pohon, mereka harus menanamnya mulai dari biji-biji yang mereka dapatkan. Ada upaya keras tercipta untuk mendapatkan sebuah kenikmatan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Dosa-dosa selanjutnya membuat manusia semakin sukar mendapatkan apa yang diinginkannya hingga untuk mendapatkan kebutuhan yang paling pokokpun mereka harus memiliki sesuatu yang berharga untuk bisa ditukar. Sistem barter pun mulai berjalan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Lalu apa yang membuat antagonis dari postulat tersebut? Hingga sebabkan satu “something” itu dilakukan maka akan menambah banyak kenikmatan yang lain. Istighfar. Ya Istighfar. Istighfar itu dekat dengan kenikmatan. Dekat dengan surga. Istighfar itu sebuah pengakuan kelemahan diri akan sebuah dosa yang dilakukan, dan berharap kepada Sang Pemilik Ampunan agar menghilangkan bintik-bintik dosa di sekujur tubuh yang memberatkan sisi timbangan amal sebelah kiri.

Duhai…manusia, janji Allah yang tersebut dalam Surat Hud ayat 3 sudah menjadi sebuah keniscayaan. “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus).”

Apalagi janji Rasulullah yang tak pernah teringkari: “Barang siapa yang melazimkan istighfar, Allah akan menjadikan dari setiap kesedihan kelonggaran, dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Sunan Ibnu Majah 3809).

Sudahlah, hapus segala galaumu dengan istighfar. Longgarkan jalanan macet dengan istighfar. Commuter Line tidaklah manusiawi hingga tak tahu lagi kemana kaki berpijak dan tangan yang tergantung, luaskan semua itu dengan istighfar. Tak percaya? Lakukan saja.

Dalam sebuah perjalanan. seorang ustadz bertemu dengan muridnya yang pengangguran di sebuah musholla. Sang Ustadz lagi banyak rezeki, maka ia pun membagi barang satu lembar kertas merah bergambar Soekarno Hatta kepada Sang Murid. Lalu mereka shalat bersama jama’ah yang lain. Setelah salam Sang Murid menghampiri Sang Guru, mencium tangannya kembali dan berkata, “Ya Ustadz seharian saya mencari pekerjaan tapi tak dapat juga. Dan akhirnya saya singgah ke musholla ini. Saya mulanya tak tahu akan makan apa hari ini karena tak dapat uang sepeserpun. Saya teringat pesan Ustadz untuk senantiasa beristighfar, maka saya pun beristighfar. Banyak. Terus menerus. Sampai Ustadz datang dan menyerahkan uang 100.000 an itu. Subhanallah Ustadz. Jazaakallah. Allah maha menepati janji.”

Tidak ada manusia yang tak luput dari dosa. Maka ia pun selayaknya untuk selalu beristighfar. Pun karena Allah mencintai orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat. Allah gembira dengan orang yang bertaubat melebihi kegembiraan seorang musafir di tengah gurun pasir yang terik di saat menemukan kembali ontanya yang hilang.

Kalau saja nabi Yunus tidaklah mengucapkan doa ini niscaya ia akan selamanya terkurung dalam kegelapan perut ikan yang besar. Pada akhirnya Nabi Yunus terbebas dari kesempitan yang akan membuatnya mati.

clip_image002

Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat di sisa-sisa terakhir ramadhan. Setelahnya pun demikian. Selamanya. Hingga nafas terakhir kita. Ingat pulalah yang satu ini: Satu dosa menghancurkan kenikmatan, satu istighfar akan mendatangkan kenikmatan. Kita berharap kelak akan bisa seperti Adam dulu, di surganya Allah, dengan sebuah “cring…” Segalanya ada.

***

Riza Almanfaluthi

29 Juli 2013

dari sebuah ceramah yang diremark

Banyak Pegawai Pajak Seperti Dia, Bukan Gayus


Banyak Pegawai Pajak Seperti Dia, Bukan Gayus

image

Para penumpang secara bersamaan memandang motor yang berhenti persis di samping angkot itu. Motor yang dinaiki oleh lima orang. Di atasnya ada sepasang suami istri dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Anak paling besar di depan jok, anak keduanya di tengah, sedangkan yang kecil di gendongan Sang Ibu. Mereka tidak tahu kalau yang mengendarai motor itu adalah pegawai pajak.

Sudah 13 tahun lamanya, pegawai yang bernama Rizky Syabana ini, bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan. Tahun ini tahun kesembilan bekerja di lingkungan Kantor Pusat DJP. Menurutnya bekerja di direktorat yang mengurusi 75% penerimaan Negara ini tidak harus identik dengan kemewahan. Pun, PNS Pajak itu sama saja dengan PNS-PNS lainnya yang hidup bersahaja. Apalagi kesederhanaan itu adalah pilihan dan integritas adalah kewajiban.

Tentu ada masa baginya kalau integritas yang ia pegang teguh akan diuji. Syukurnya, seluruh ujian itu bisa dilewati dengan baik. Tawaran dari Wajib Pajak untuk dibantu dalam proses penyelesaian keberatan dengan imbalan yang menggiurkan, ditampiknya dengan sopan. Ia cuma mengisyaratkan kalau bersikap profesional adalah tuntutan untuk bekerja di direktorat yang terus berbenah sejak tahun 2002.

Tidak bisa tidak, ada tiga faktor yang mendukungnya untuk tetap bisa memegang teguh integritasnya itu. Pertama, paradigma tentang rezeki: jangan mengambil yang bukan haknya. Halal itu berkah. Dan keberkahan bukan berasal dari banyaknya harta. Tetapi istri, anak, kondisi rumah tangga yang selalu sehat itulah hartanya yang tak ternilai.

Kedua, merasa cukup dengan apa yang ada. Tak adanya tuntutan berlebihan dari orang tua dan istri kepada dirinya sebagai pegawai pajak yang “kata orang” harus punya ini dan itu. Ketiga, lingkungan kerja dan rumah tangga yang selalu mendukung. Sekaligus budaya di tempat kerja yang sudah baik seperti mematuhi jam kerja, berdoa sebelum bekerja, pengumuman adzan, saling mengingatkan untuk tetap menjaga integritas, dan masih banyak lagi lainnya.

Ramadhan telah tiba. Ada sesuatu yang unik di kantornya sekarang. Jika ia pergi ke Masjid setelah pengumuman waktu shalat, maka sudah dipastikan ia akan kebagian di barisan belakang karena Masjid sudah penuh oleh pegawai pajak lainnya. Ini yang dirindukan dari bulan Ramadhan. Semua seperti berlomba-lomba dalam kebaikan. Semua dilatih kejujurannya.

Tak pelak ini menumbuhkan harapannya bahwa kecambah integritas di setiap pegawai pajak akan terus terpelihara setelah bulan suci usai. Dilihat, didengar, diberitakan orang maupun tidak, di tempat yang sepi ataupun ramai. Kecambah itu akan menjadi tumbuhan yang kokoh, akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah, batangnya kuat, cabangnya melangit, daunnya hijau dan rindang, buahnya manis.

Gayus -teman satu tim banding di Pengadilan Pajak– cuma daun kering dan tua yang memang sudah waktunya untuk jatuh. Tetapi komitmen dengan kejujuran yang dipegangnya membuat Rizki tak ikut terseret kasus yang mencederai semangat dan membuat luka hati setiap pegawai pajak yang sedang dalam proses perubahan itu.

Walau sempat dicaci, tapi ia menganggapnya sebagai risiko dari sebuah perubahan. Menyulitkan memang. Tapi bukankah semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh? Ia teringat kutipan John Gray itu. Dan ia percaya bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Sampai sekarang, pagi dan sorenya, Rizky tetap konsisten mengarungi 34 kilometer dari rumah menuju kantornya, pulang dan pergi, dengan motor yang setia menemani. Tetap dengan sederhananya. Tetap dengan integritasnya. Banyak Pegawai Ditjen Pajak berintegritas seperti Rizky bukan Gayus.

Seperti kesederhanaan dan integritas para pegawai pajak lainnya yang berada di daerah terpencil. Jauh dari keluarga dan pusat keramaian, tinggal di rumah dinas berkamar pengap tanpa AC dengan ranjang berkelambu, siang hari tanpa listrik, infrastruktur yang tidak memadai. Semua dijalani dengan sikap penuh kerelaan dan tanggung jawab.

Ini semata agar denyut pembangunan bisa dirasakan oleh setiap penduduk Republik ini. Oleh karenanya negeri ini butuh pegawai berintegritas seperti mereka dan perlulah berbangga terhadap para ksatria pajak dengan sikap sederhananya yang telah berjuang dan bekerja keras tanpa pamrih demi mengumpulkan penerimaan Negara.

***

Riza Almanfaluthi

di sebuah tuts keyboard

Gambar milik Direktorat Keberatan dan Banding/Puji.

SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR


SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR

Baka sira deleng blog e kita sekien, sira pasti mikir baka kita wis suwe belih nulis. Ya wis belih papa baka kedelenge mengkonon mah. Tapi baka sira weruh, kita sebenere nulis bae. Nulis kontinyu mengkonon. Nulis apa bae. Tapi kadang belih ke pablis ning wong-wong. Soale tergantung proyek e. Sekien ana proyek sing kudu mari dina senen mbuh selasa. Tapi sekien kih proyek nulise durung dadi-dadi. Ning pikirane kita lagi pengen nulis kanggo kita dewek dingin. Pengen nulis kanggo blog e kita dewek. Pengen nulis sing ana ning ati dingin.

Makane kita sore kien buka laptop langsung nulis. Eh kelingan karo basa dermayu kah, makane kita nulis nganggo basa wong tua, basa ibu, sing senget cilik kita omong karo wong tua, karo sedulur. Mbuh pada ngerti belih karo sira sing dudu wong Cerbon apa Dermayu. Sing keturunane Nok Ratminah atawa Kang Baridin mah pasti weruh. Tapi kedelenge wong Brebes karo wong Tegal rada-rada ngerti. ya wis syukur baka ngerti sih. Terus pengen nulis apa maning kien? Mbuh. Terjemahe ning esor yaa…

    Seperti sudah saya bilang, kalau saya itu selalu belajar dari orang lain. Kalau baik, saya ingat amal kebaikannya itu dan ingin menjadikan target dari amal kebaikan yang akan saya lakukan. Jika jelek, tentunya sudah cukup itu menjadi pemikiran saya dan tidak menjadi aksi.

    Saya punya teman. Teman ini selalu punya keyakinan, kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tentu Allah Sang Maha Pemberi Rezeki yang mengaturnya. Bukan atasan dan bukan pula negara. Jadi sejak dulu dia selalu punya azzam kalau ada pekerjaan yang mengganggu ibadahnya maka pekerjaan itu akan ditinggalkan senyaman apapun hasil yang diperoleh. Kalau waktunya sholat—apalagi kalau sudah shalat Jum’at—ia selalu meninggalkan pekerjaannya walau sedang sibuk atau sedang rapat ataupun sedang mengantar Direktur dan tamu asingnya. Tapi ia tak peduli.

    Ia selalu punya keyakinan rezeki akan datang menghampirinya saat ia sedang butuh walau ia tak tahu dari mana datangnya rezeki itu. Tentu ia pun bukan seorang nihilisme—orang yang pasrahnya keterlaluan. Ia tetap berikhtiar dan kerja sekuat tenaga mencari rezeki itu. Dan faktanya memang demikian, rezeki itu selalu ada saat ia membutuhkannya, misal saat anaknya harus mendaftar ulang sekolah yang tentunya membutuhkan biaya banyak. Ada saja tiba-tiba orang menyerahkan uang kepadanya. Entah karena bisnisnya atau ada yang membayar utangnya.

    Satu saja untuk semua itu: ia punya keyakinan mendalam bahwa Allah itu tergantung dari kita sendiri sebagai hambaNya. Dan ia memberikan pelajaran kepada saya bahwa mengarungi hidup itu harus dengan pandangan positif kepada Allah. Kalau kita yakin Allah akan menolong kita, maka Allah pasti akan menolong kita. Kalau kita yakin Allah akan memberikan rezekinya maka Allah pasti akan memberikan perbendaharaan kekayaannya kepada kita. Begitu pula sebaliknya. Maka ia selalu berpikir positif, bukankah Allah tergantung prasangka hambaNya? Malam itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Seorang trainer dari sebuah perusahaan finance kendaraan bermotor. Pekerjaannya memberikan pelatihan kepada semua cabangnya di seluruh Indonesia. Dan pekerjaan sampingannya adalah menuntaskan kredit yang tak kunjung dibayar atau kredit macet. Selalu saja pekerjaannya itu—entah yang pokok atau sampingannya—berbuah kesuksesan.

    Dewan direksi melihat pekerjaannya, apalagi kalau menyangkut bagaimana mengurai kredit macet, selalu ada sisi positif yang didapat: omzet naik, grafik kredit macet turun, target tercapai dalam setiap bulan, urusan dengan pihak eksternal selalu terselesaikan dengan mulus. Satu kemampuan tambahannya adalah dia pelobi dan negosiator handal. Oleh karenanya CEO setuju untuk menaikkan jabatannya menjadi seorang manajer kredit—semula dia hanya bekerja di bagian HRD—dengan mendapatkan fasilitas tambahan berupa kenaikan gaji lumayan gede, tunjangan tambahan, dan mobil dinas.

    Untuk merayakan dan mensyukuri keberhasilannya itu ia mengajak istri dan anak-anaknya makan-makan di sebuah restoran. Saat makan-makan itu salah satu dari tiga anaknya bertanya kepada Sang Ayah detil apa dan bagaimana pekerjaannya. Sang Ayah menjelaskan dengan lantang dan bersemangat. Tapi satu pernyataan dari anak keduanya yang bersekolah di SMPIT itu membuatnya tersedak: “Berarti Ayah bergaul dan makan uang riba secara langsung dong. Ngeri Yah.”

    Sejak saat itu kebimbangan menyertainya. Ini membuat gulana. Karena di bagian kredit itu ia memang secara langsung tahu bagaimana detil dari aktifitas riba yang berlangsung dan dijalankan dalam sistem pembiayaan di perusahaan tersebut. Ia shalat istikharah. Dan pada akhirnya ia berkeyakinan untuk resign walau perusahaannya berkutat menahan sekuat tenaga agar aset berharga dan utamanya ini tidak keluar. Tapi ia bergeming. Ia tetap keluar walau ia tidak tahu akan kemana lagi ia bekerja. Ia cuma punya satu keyakinan kalau Allah tidak akan meninggalkannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih halal.

    Di saat menjalani hari-hari terakhirnya di kantor itu ia mendapat telepon kalau perusahaan temannya membutuhkan seorang trainer. Sang teman itu memintanya kalau ada kenalan yang mau ikut bergabung di sebuah perusahaan kesehatan. Ia langsung menangkap peluang itu, walau sang teman terkejut kalau sebenarnya jabatan itu bukan untuk dirinya karena tidak level. Tapi ia tetap meyakinkan temannya kalau ia mau masuk dan tidak mempermasalahkan tentang grade jabatan dan take home pay-nya yang pasti berkurang.

    Ia tak perlu lagi mengikuti tes tertulis yang biasa dilakukan buat pendatang baru karena sang Direktur sudah tahu tentang kredibilitas dirinya dari wawancara yang dilakukan. Aura keyakinan dirinya sudah tertangkap Sang Direktur, juga pada keyakinannya pada rezeki dan takdir. Kalau yang halal itu sudah jelas kehalalannya dan yang haram itu sudah jelas keharamannya. Shubuh itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Yang tertangkap dari dua teman saya itu adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan pada sesuatu yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran dan syariat. Dan saya yakin bahwa itu semua adalah refleksi dari keimanan yang tinggi kepada takdir dan janji-janji Allah. Sebuah keyakinan yang saya perlu belajar banyak dari mereka berdua. Dan saya bukan apa-apanya dari mereka. Saya serupa Musa di hadapan Khidir.

    Wallaahua’lam Bishshowab.

**

Terjemah:

    Kalau Anda melihat blog saya sekarang, Anda pasti berpikir kalau saya sudah lama tidak menulis. Ya Sudah tidak apa-apa kalau terlihatnya demikian. Tapi kalau Anda tahu, saya sebenarnya menulis selalu. Menulis kontinyu seperti itu. Menulis apa saja. Tapi terkadang tidak terpublikasikan kepada siapa-siapa. Soalnya tergantung proyek menulisnya. Sekarang ada proyek menulis yang harus jadi hari Senin atau Selasa besok. Tapi sekarang proyek menulis itu belum selesai-selesai. Yang jadi pikiran, saya ingin menulis untuk saya dulu. Ingin menulis buat blog saya sendiri. Ingin menulis yang dari hati saya dulu.

Makanya saya sore ini buka laptor langsung menulis. Eh, teringat dengan Bahasa Indramayu begitu, makanya saya menulis pakai bahasa ibu ini, yang dari kecil saya pakai ketika berbicara dengan orang tua dan saudara-saudara. Tak tahu apakah Anda yang bukan orang Cirebon atau Indramayu mengerti tulisan ini? Yang keturunannya Nok Ratminah dan Kang Baridin pasti tahu. Tapi kelihatannya orang Brebes dan Tegal mengerti juga. Ya sudah, syukur kalau mengerti. Terus ingin menulis apa lagi sekarang? Tak tahu. Terjemahan di bawah yaa…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Jelang Nisyfu Sya’ban

17:41 23 Juni 2013

Gambar dari sini.

DIBA INGIN SUSU


DIBA INGIN SUSU

 


 

“Mi…Diba ingin susu,” kata anaknya. Permintaan yang diterimanya dengan hati trenyuh. Bagaimana tidak, sedangkan persediaan susu anaknya sudah habis tak bersisa. Ia pun tak punya uang cukup untuk membeli sekotak susu.

    “Ya sudah Diba ambil kertas dan tulis di kertas itu: Ya Allah, Diba ingin susu. Berikanlah Diba susu ya Allah,” perintah ibu dua orang anak ini kepada anak pertamanya yang baru berumur tujuh tahun. “Setelah itu tempel di dinding ya.”

    Ia pun segera membuatkan Diba segelas air teh dengan sisa gula pasir yang ada di toples. Semata sebagai pengganti susu. Lalu ia pergi ke warung tetangga sebelah untuk membeli susu kental manis kemasan yang seharga seribu perak buat anak keduanya yang duduk di bangku TK. Suaminya hanya seorang penjaga keamanan yang gaji bulanannya habis buat kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk membayar rumah kontrakan.

    Tak lama setelah ia berhasil menidurkan kedua anaknya itu suaminya pulang. Raut mukanya yang tergambar lelah membuatnya tak tega untuk menceritakan tentang susu anak mereka yang sudah habis. Ia pergi ke dapur untuk membuatkan teh tawar hangat lalu menghidangkannya.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya kecuali tatapan matanya yang tertuju pada secarik kertas yang tertempel di dinding sana. Sang Suami mengikuti arah tatapan istrinya. Menghampiri kertas itu dan membacanya. Yang ada cuma helaan nafas panjang. “Insya Allah kita dapat rezeki yang banyak,” hanya kalimat itu yang terucap.

Waktu sesaat dihiasi hening. Tapi tak lama, karena dering telepon genggam suaminya meramaikan suasana kembali. Ia hanya bisa melihat suaminya sedang berbicara dengan orang yang berada di ujung sana. Siapa lagi malam-malam begini yang menelepon?

Kata-kata seperti siap, segera ke sana, sekarang juga, dan ucapan terima kasih terdengar dari mulut suaminya. Tetapi yang membedakan kali ini dengan keadaan sebelum menelepon adalah sesungging senyum di wajah itu.

“Alhamdulillah, Allah dengar doa kita. Abi diminta datang ke rumah teman sekarang juga. Teman Abi habis pulang dari Turki. Ada sedikit oleh-oleh. Ternyata dia masih ingat sama Abi,” jelas suaminya panjang. Ia cuma bisa mengucap syukur atas rezeki yang datang tiba-tiba ini. Insya Allah pagi ini akan ada segelas susu untuk diberikan kepada Diba dan bungsunya.

*

Zakat, infak, dan shadaqah yang saya terima dari teman-teman sebagiannya untuk mereka para mustahik yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja mereka tak mampu. Salah satunya seperti cerita di atas. Sebagiannya untuk mereka yang sakit tak tertangani karena biaya masuk rumah sakit yang tinggi. Sebagiannya adalah untuk biaya pendidikan ketika memulai tahun ajaran baru.

Pangan, pendidikan, dan kesehatan menjadi kebutuhan yang sangat dasar dan harus terpenuhi segera. Oleh karena itulah bersama beberapa kawan saya berusaha menghimpun dana untuk memenuhi hak-hak dasar masyarakat seperti itu.

Saya memanfaatkan sebagian besar dana ZIS yang didapat untuk beasiswa. Karena masih banyak mereka yang ternyata masih tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya ke SMP. Kawan-kawan LSM di Bojonggede mendirikan proyek Podium (Pos Peduli Ummat) yaitu sebuah proyek untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak Bojonggede yang mau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya bekerjasama dengan mereka dalam hal pendanaan. Alhamdulillah puluhan orang telah tertangani.

Kerja sendiri jelas tak mungkin. Ini diperlukan kerja besar dan kerja sama. Karena ini menyangkut daya jangkau dan kualitas dari cakupan bantuannya. Sebenarnya ini merupakan tugas pemerintah tapi apa daya pemerintah pun punya keterbatasan. Walau sudah harus diapresiasi dengan adanya fasilitas kesehatan gratis buat yang tidak mampu atau adanya pendidikan dasar seperti SD dan SMP yang gratis. Tapi untuk pemenuhan pangan? Belum kiranya.

Ke depan sepertinya pemenuhan kebutuhan pangan (gizi) akan menjadi prioritas juga. Minimal tidak akan ada lagi Diba-Diba yang lain. Sungguh banyak sekali anak yang tak bisa minum susu di Bojonggede. Ada sebuah ide: membuat daftar mustahik yang masih mempunyai balita dan anak SD dan tak mampu membeli susu. Kami akan berikan kepada mereka beberapa kotak susu dalam setiap bulannya. Yang akan menjadi prirotas adalah mereka yang bapaknya TIDAK MEROKOK.

Ya, kami punya komitmen dalam pemberantasan barang sia-sia itu. Agar para bapak-bapak itu memahami bahwa bagaimana mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya dan mendapatkan biaya kesehatan sedangkan mereka dengan sepenuh kesadaran membakar uang setiap hari yang sebenarnya bisa terkumpul banyak itu.

Terpenting pula adalah menyadarkan umat bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, zakat tidak sekadar di bulan ramadhan, serta Infak dan sedekah mesti setiap saat. Selayaknya jiwa filantropi itu harus ada di setiap dada kaum muslimin agar bisa mengentaskan saudara-saudaraya yang lain dari jurang kefakiran. Karena ia dekat dengan kekufuran.

**

“Kak, saya pengen cari kerjaan secepatnya agar tak terus bergantung sama kakak,” kata adik bungsunya itu di suatu malam.

“Sudah cari di mana saja?”

“Sudah banyak kirim lamaran, tinggal nunggu telepon.”

Tiba-tiba Diba menyahut, “Makanya Paman minta sama Allah saja. Paman ambil kertas lalu keinginan Paman ditulis di kertas. Jangan lupa ditempel di dinding. Supaya ingat terus Paman minta apa.”

Mendengar itu mereka hanya bisa tersenyum.

***

 

Riza Almanfaluthi

14:11 17 Februari 2013

Citayam di sebuah selasar gerimis yang membatu.

Gambar dari sini.

Thanks to Muzakkis 4 all your support: Herlin Sulismiyarti, Indah Pujiati, Irwan Wibandoko, dan mereka yang tak mau disebut namanya.