180 Derajat



Jelang Palimanan di Tol Cipali (Foto milik Makhfal Nasirudin)


    Ini bukan judul lagu yang dinyanyikan penyanyi Mesir yang dikenal sebagai pedendang lagu-lagu arab romantis: Tamer Hosny. Tapi benar-benar keadaan yang berlawanan dengan masa sebelumnya. Tentang apa? Tentang perjalanan mudik dan balik kami.

    Siapa sangka perjalanan mudik Citayam-Palimanan yang biasanya harus ditempuh dalam jangka waktu belasan jam kini hanya bisa ditempuh dalam waktu empat jam saja. Ya, kami berangkat pada hari Selasa, 14 Juli 2015. Tiga hari sebelum lebaran. Tidak biasanya saya berangkat di H-3, biasanya juga sehari menjelang lebaran. Tapi untuk tahun ini tidak. Karena saya mengambil cuti kerja sebelum dan sesudah lebaran.

    Kami berangkat jam satu siang. Waktu yang tidak biasanya kami lakukan untuk memula perjalanan mudik. Dulu-dulu biasanya kami berangkat sehabis tarawih atau sehabis sahur. Hari Selasa itu kami berangkat siang, karena mengumpulkan tenaga terlebih dahulu setelah semalaman mengejar lailatul qadar di malam ke-27. Jadi setelah kantuk saya sudah hilang dan anak-anak sudah siap, kami berangkat di siang hari bolong itu.

Perjalanan yang diniatkan dengan santai dan tidak buru-buru. Pokoknya kalau saya ngantuk saya harus minggir, harus berhenti. Kami harus memulai perjalanan ini dengan niat yang baik dan senantiasa meluruskan niat, bahwa semuanya ini untuk mencari rida Allah dalam melestarikan sunnah Nabi Saw berupa silaturahmi.

    Mobil sudah diisi penuh dengan premium semalam. Sebelum masuk pintu tol Sentul pun mobil sudah dicek tekanan bannya dengan nitrogen. Jalan tol Jagorawi dilalui dengan lancar. Lalu kami masuk jalan tol Lingkar Luar-Cikunir untuk menuju jalan tol Cikampek. Lalu kami susuri 70-an kilometer jalan tol Cikampek. Semuanya lancar tidak ada hambatan.

    Ada pilihan untuk keluar di pintu tol Cikampek lalu melanjutkan perjalanan dari Jomin menuju Pantura. Tapi itu tidak kami lakukan. Kami ingin mencoba jalan tol baru Cipali walau di pagi harinya ada berita kemacetan di pintu keluar tol Palimanan.

    Banyak pemandangan sawah terhampar sepanjang perjalanan menyusuri jalan tol Cipali. Dengan adanya jalan baru ini, jalur sunyi berabad-abad lamanya milik Pajajaran ini mulai terbuka. Kecepatan saya jaga di angka 100 km/jam. Benar-benar lancar. Sampai bikin kantuk. Ini tanda saya harus berhenti. Di rest area—entah di kilometer berapa—saya berhenti, mengambil air wudhu dan menyiram kepala dengan air yang banyak. Lalu kami melanjutkan perjalanan kembali tanpa saya harus tidur dahulu.

    Jam lima sore saya sudah berada di pintu keluar tol Cipali tanpa ada kemacetan yang mengular. Sambil ditonton oleh penduduk sekitar yang sedang menanti azan magrib. Kami berbuka puasa selepas pintu tol Plumbon 3 bersama banyak mobil lainnya di pinggir jalan tol. Kami membuka bekal yang sudah dipersiapkan di pinggir sawah itu. Alhamdulillah dalam perjalanan ini kami berenam tetap berpuasa. Jadi terasa nikmatnya sekali berbuka puasa pada saat menjadi musafir. Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar. Di situlah saya merasa bahagia.

    Setelah selesai berbuka puasa tujuan kami selanjutnya adalah SPBU Muri sebagai rest area berikutnya untuk melaksanakan salat jamak qashar. Berkah Allah diberikan kepada kami. Selepas pintu keluar tol Pejagan, kami antri untuk menuju jalur pantura Brebes. Eh, Allah kasih kemudahan. Beberapa meter di depan, Polisi membuka jalan kami menuju tol Pejagan-Brebes yang sedang dalam pembangunan. Kalau saja kami sudah melewati kumpulan polisi itu, tentu kami harus melewati kemacetan pintu tol Pejagan yang panjang itu.

    Dan petualangan off-road melewati tol Brebes yang belum jadi itu dimulai. Kami harus konvoi dengan kendaraan lain dengan kecepatan tidak seberapa. Kabut debu menghadang begitu tebalnya. Benar-benar seperti kabut. Debu dengan partikel kecil sampai masuk ke dalam mobil. Jalanan tol yang rencananya akan dibangun sampai Pemalang ini memang belum beraspal. Jadi baru dilapis dengan kerikil-kerikil kecil. Sudah pasti mobil menjadi kotor dan berdebu.

    Dengan adanya jalan tol Cipali maka kemacetan yang dulunya ada di Jawa Barat sekarang beralih ke Jawa Tengah. Tepatnya mulai dari Brebes sampai Semarang. Setahun lalu bahkan bertahun-tahun lalu kalau malam-malam melewati Kendal sampai Semarang mobil seperti tidak ada lawan. Artinya jarang ada kemacetan dan mobil bisa dipacu dengan kencang. Sekarang jalanan itu menjadi padat, bahkan walau pada waktu dini hari. Luar biasa.

    Kami berhenti di banyak tempat. Di SPBU Muri Tegal kami salat. Di SPBU Pekalongan saya tidur karena ngantuk berat. Kami punya rencana sebelumnya untuk sahur di Rumah Makan Sari Raos Bandung selepas Alas Roban. Alhamdulillah kesampaian. Jam setengah empat pagi kami sudah sampai di sana. Kami sahur dan sekaligus menunggu azan subuh berkumandang. Sahur yang nikmat dengan ayam goreng kampung.

    Selepas salat Subuh kami melanjutkan perjalanan. Eh, sampai di Mangkang, Semarang, kantuk datang lagi. Padahal tidak lama lagi kami sudah sampai. Tapi saya harus berhenti, karena sangat berbahaya. Jangan asal “tanggung-tanggung”. Jadinya di SPBU Mangkang saya berhenti dan lanjut tidur. Satu jam kemudian, jam setengah tujuh pagi, kami berangkat lagi. Jalanan Semarang sudah padat.

Kami masuk tol Jatingaleh lalu keluar di pintu tol Gayamsari. Dan tiba di Tlogosari, Pedurungan, jam tujuh pagi. Alhamdulillah perjalanan mudik ini selesai juga. Citayam- Semarang yang ditempuh dengan santai selama 18 jam perjalanan. Yang paling heboh menurut saya dan 180 derajat dari tahun lalu adalah perjalanan Citayam-Cirebon yang fenomenal. Hanya lima jam saja. Ini tentu menakjubkan bagi saya apalagi di tengah suasana arus mudik yang padat begitu.

Pada hari itu Tol Cipali bersahabat dengan kami. Namun setelahnya, di H-2 dan H-1, Tol Cipali menjadi neraka. Kemacetan mengular di pintu tol Cipali di Palimanan. Bahkan ada teman sampai mengalami perjalanan mudik terlamanya dalam seumur hidupnya. Sampai 24 jam lamanya untuk sampai ke Kudus dari Jakarta.

Akhirnya saya berkesimpulan. Kalau H-2 atau H-1 tidak perlu lewat Tol Cipali. Tapi lewat Pantura saja. Karena banyak yang bilang kalau Pantura pada saat itu sedikit mobil dan motor menjadi raja jalanan. Barangkali jalur yang akan saya tempuh adalah Citayam-Jomin via tol Cikampek. Lalu dari Jomin Menuju Jatibarang. Dari Jatibarang memakai jalur Karangampel. Dari Karangampel menuju Cirebon hingga Brebes.

Atau kalau Tol Pejagan-Brebes-Pemalang sudah selesai, maka dari Jatibarang saya akan ambil jalur masuk tol Palimanan menuju Kanci hingga pintu tol keluar Pejagan atau Brebes. Saya yakin, kemacetan di Pejagan akan berpindah ke ujung tol di Pemalang. Jadi saya akan keluar di pintu tol sebelum ujung untuk menghindari kemacetan. Itu pun jika Allah menghendaki kami menjumpai Ramadhan dan lebaran tahun depan. Insya Allah.

Alhamdulillah, Allah kasih kemudahan dalam perjalanan mudik kami. Insya Allah ini bentuk keberkahan-Nya yang diberikan kepada kami. Tak lupa dalam perjalanan itu kami memperbanyak doa keselamatan seperti salawat dan istighfar. Salah satu doa mustajab adalah doa yang dilakukan pada saat safar. Apalagi dalam keadaan berpuasa. Semoga.


***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

25 Juli 2015

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s