Martabak Buat Bapak Polisi



Martabak Manis via https://patriciaangelika.files.wordpress.com

Selamat Pagi Pak Polantas, semoga pagi ini adalah pagi yang indah untuk dinikmati Bapak di tengah deru mesin kendaraan dan tentunya kepulan asap hitam yang keluar dari knalpot mobil angkutan umum. Semoga pagi ini pula adalah pagi yang penuh semangat untuk menjalankan tugas mulia Bapak, mengatur lalu lintas dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Semoga pagi ini pun adalah pagi yang penuh kebahagiaan karena anak dan istri di rumah baik-baik dan sehat-sehat saja, cukup makan dan cukup pendidikan.

Tidak hanya buat Bapak, pagi ini pun bagi saya adalah pagi yang penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia karena tadi malam saya mendapat sentuhan luar biasa dari pelayanan Bapak. Tapi sebelumnya saya ceritakan dulu kepada Bapak kenapa pagi-pagi ini saya teringat dengan Bapak.

Ya, di saat saya membaca halaman belakang sebuah koran nasional di Republik ini, mata saya terpaut pada foto di sudut kanan bawah halaman koran itu. Pada sosok-sosok polisi, teman-teman Bapak di Polres Pamekasan, yang sedang tekun mengikuti psikotes penggunaan senjata api. Saya paham cara ini dilakukan adalah untuk mengetahui seberapa jauh kelayakan teman-teman Bapak untuk memegang senjata api itu. Peristiwa Semarang telah membuat saya dan Bapak terkejut bukan?

Baca Lebih Lanjut.

Ketika Iblis Tak Pernah Mengatakan Itu



Akulah pemegang undang-undang penjara, akulah yang mematikan dan menghidupkan, aku boleh membunuh seratus orang sehari dan tiada siapa boleh menghalang. Jika tuhan turun, aku akan sumbat ke dalam penjara dan akan aku sula.

Hamzah Basyuni
**

 

Keberanian pasukan muslim menginap di Tabuk tanpa ada perlawanan pihak Romawi sebagai salah satu adikuasa pada saat itu membuat derajat kaum muslimin naik satu tingkat di mata bangsa Arab lainnya. Kemudian berdatanganlah utusan kabilah Arab dari berbagai penjuru menemui Rasulullah saw. Salah satunya dari Bani Amir yang mengutus Amir bin Thufail dan Arbad bin Qais. Dua orang yang tercatat dalam sejarah tapi dengan tinta hitam yang mengeruhkan.

Karena kedatangan mereka dengan mengancam Sang Terpilih. Ancaman yang tidak main-main: menghilangkan nyawa. “Kalau kita sudah berjumpa dengannya, saya akan membuatnya sibuk dan lupa denganmu. Kalau dia sudah lengah, pukullah dia dengan pedangmu,” kata Amir bin Thufail kepada Arbad. Tapi Rasulullah saw adalah makhluk yang terpelihara. Usai menolak menemui Amir bin Thufail yang menginginkan perbincangan empat mata, Rasulullah saw berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah aku dari Amir bin Thufail.” Apa yang terjadi?

Di tengah safari meninggalkan Madinah, Allah kirimkan penyakit thaun kepada Amir bin Thufail. Pembesaran kelenjar yang membuatnya menjerit kesakitan hingga kematian menjemputnya di rumah seorang wanita Bani Salul—suatu kabilah Arab yang dianggap rendah oleh kabilah Arab lainnya. Bagaimana dengan Arbad bin Qais?

Baca Lebih Lanjut.

Duka Bersama dari Garda Terdepan DJP


13012762_10209288722155575_7320788217930801356_n

 

Orang itu tidak percaya kepada saya yang membawa surat tugas dan berbaju lengkap jurusita. Ia “mengurung” saya dalam ruangan kantornya. Ditinggal sendirian. Lama banget. Teman saya tidak ikut masuk. Dia ada di tempat parkir. Saya ditanya macam-macam dan saya jawab seadanya dan menjelaskan maksud kedatangan saya memberitahukan Surat Paksa. Sampai pada akhirnya selesai urusan.

Sampai di kantor saya dipanggil kepala kantor. Barulah ketahuan kalau orang perusahaan itu menelepon kepala kantor saya dan menanyakan apakah benar saya adalah petugas dari kantor pajak. Waktu itu kepala kantor saya tidak ingat ada pegawainya bernama Riza. Untung ada Kepala Seksi Penagihan yang sedang berada di depannya. Dan langsung mengonfirmasikan kepada orang perusahaan bahwa benar saya adalah petugas pajak. Pantas saja orang perusahaan itu perlakuannya berubah kepada saya. Langsung jadi ramah. Awalnya dia menyangka saya komplotan penipu yang menyamar jadi petugas pajak.

Baca Lebih Lanjut.

DIREKTUR JENDERAL INI TIDAK PINTAR


Rumornya Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro sudah menggadang-gadang Ken Dwijugiasteadi sebagai Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak). Selama ini Ken didaulat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan oleh Sigit Priadi Pramudito sejak Desember tahun lalu.

Jokowi tentu akan bertanya kepada Bambang, siapa Ken? Sebuah pertanyaan yang barangkali sudah ada jawabannya sejak ia menjabat sebagai Plt. Sebuah jabatan yang menurut Mardiasmo (Wakil Menteri Keuangan) bakal diemban Ken hanya dalam jangka waktu sebulan saja. Dan saat ini—Februari 2016—Ken masih sebagai Plt, belum definitif sebagai Dirjen Pajak.

Dengan tuntutan Presiden dan Menteri Keuangan yang semakin besar terhadap kinerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam mengumpulkan penerimaan negara di tahun 2016 sebesar 1360 trilyun rupiah maka kekosongan jabatan yang dibiarkan lama mengisyaratkan sesuatu yang paradoksal. Seperti butuh tak butuh.

Kalau sudah demikian, saya jadi teringat sebuah catatan kecil yang dibuat oleh Frans Seda saat menjadi Menteri Keuangan di era Orde Baru, di tahun 1966-1968. Catatan kecil berupa catatan kaki tentang penunjukan Salamun AT sebagai Dirjen. Catatan ini ada di sebuah bundel stensilan bahan kuliah istri saya di program Maksi Universitas Indonesia.

Baca Lebih Lanjut.

Ini Soal Bertengkar dengan Istri, Pergilah ke Tempat Ini.


image

Di suatu hari saya pulang ke rumah dalam keadaan letih dan penuh beban. Saya membuka pintu ketika tiba-tiba istri saya menunggu penuh tanda marah dan emosi.

Dia langsung menjejali saya dengan berbagai pertanyaan. Saya tidak bisa menguasai diri, lalu menghadapinya dengan emosi dan marah yang sama.

Malam sudah larut, sementara debat dan marah terus berlanjut sampai menjelang Subuh. (Lama kaliiiiii…). Akhirnya, istri saya mengambil inisiatif meninggalkan rumah dan pergi ke rumah orang tuanya. (Ini seperti lagu jadul. Lagu tahun 90an. Sepertinya lagu Betharia Sonata. Pulangkan saja aku pada ibuku.)

Baca Lebih Lanjut.

Dua Puluh Tujuh Tahun Menanti, Akhirnya Hamil Juga



(Ilustrasi via kabarumat.com)

Banyak saudara kita yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum dikaruniai anak. Doa sudah dipanjatkan dan ikhtiar sudah dilakukan namun tetap saja belum diberikan amanah. Tentu akhirnya hanya dengan sabar kepada ketentuan Allah yang menjadi bekal terakhir orang-orang beriman. Allah Maha berkehendak dan mengabulkan segala doa, 27 tahun menunggu keajaiban terjadi, perempuan ini hamil.

Baca Lebih Lanjut.

180 Derajat



Jelang Palimanan di Tol Cipali (Foto milik Makhfal Nasirudin)


    Ini bukan judul lagu yang dinyanyikan penyanyi Mesir yang dikenal sebagai pedendang lagu-lagu arab romantis: Tamer Hosny. Tapi benar-benar keadaan yang berlawanan dengan masa sebelumnya. Tentang apa? Tentang perjalanan mudik dan balik kami.

Baca lebih lanjut.

Wanita Ini Rela Pulang Pergi Bangkok Solo Bawa Air Susu Ibu Demi Kai


 Gunakan coolerbox ukuran kabin jika berniat on board, untuk menyimpan ASI dan blue ice.
(Dokumentasi Indy)

 

Kalau dulu kita mengenal Risa Fajarwati yang membawa cooler box berisi ASI pulang pergi Jakarta-Wates selama lebih dari setahun di akhir pekan dengan menggunakan kereta api, sekarang kita wajib mengenal perempuan inspiratif satu lagi. Tidak lagi ratusan kilometer yang ditempuh melainkan ribuan kilometer dengan menggunakan moda transportasi udara melewati batas negara.

Wanita kelahiran Solo 27 tahun lalu ini bernama lengkap Nindya Nindita Sari, biasa dipanggil Indy. Ia adalah mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa dari Kasetsart University Bangkok, Thailand. Indy harus meninggalkan anak pertamanya di Solo karena usianya yang belum tiga bulan membuat sang anak tidak boleh terbang.

Baca Lebih Lanjut

Cuma Satu yang Tak Akan Berkurang Walau Dibagi


Jalan rusak Citayam-Bojonggede via metropolitan.id

Jalanan Citayam-Bojonggede rusak berat. Menjelma kubangan kerbau dan kawah-kawah menganga yang lebar dan dalam. Tetapi menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilewati oleh mobil hitam yang berisi wanita kesakitan dan senantiasa berzikir karena hendak melahirkan.

Saya berusaha melewati setiap lubang itu dengan pelan dan tenang. Karena setiap guncangan yang terjadi maka menyebabkan kontraksi yang semakin menjadi. Seiring dengan itu tentu teriakan kesakitan mengisi kembali ruang dan waktu. Baca Lebih Lanjut