SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH


SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH

image

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa. Sejatinya kita menang atau kalah yang merasakan cuma diri sendiri. Soalnya bisa saja kita dekralasikan diri sebagai manusia merdeka dan bertakwa tetapi kemudian setan ikut bergembira dan merayakan karena ia baru saja melihat budak yang baru saja merdeka itu kembali terjerumus dalam perangkapnya yang sebenarnya lemah.

Ini adalah hari kemerdekaan setelah satu bulan melawan hawa nafsu dan bahagia yang terus menerus dirasakan. Kita cuma bisa berharap Allah kasih kita perlindungan dan bahagia sampai akhir hayat. Apalagi yang pada hari ini sedang memanjangkan umurnya dan sedang menerima rizki yang banyak karena lagi silaturahmi dengan sanak saudara. Ooo…semoga Allah kasih keberkahan di umur yang panjang dan rizki yang diterima itu.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari di saat kita bebas menikmati makan dan minum tanpa ada larangan lagi. Opor ayam, ketupat, dan sambal goreng ati yang terhidang kita santap sepenuh hati di  siang bolong dengan keceriaan dan bincang-bincang tanpa topeng dan basa-basi. Yang adanya baru kita rasakan cuma setahun sekali. Dengan segala detil dan pernak-perniknya. Hanya ada di hari itu. Tidak di hari lain. Walau sengaja banyak manusia berusaha menciptakannya di hari lain. Tetap tak bisa samakan. Kau harus merasakannya kembali dengan detil yang sama di tahun depan.

Ooo ini adalah hari kemerdekaan. Kala kata maaf berseliweran di antara dua mata, dua telinga, dan satu rasa. Itu kita sambut dengan lapang dada entah broadcast ataupun satu yang berbeda. Semua upaya yang harus dihargai agar tidak kehilangan makna di hari ini. Sungguh kita terima dengan senang hati. Karena semata ini tanda cinta dan perhatian kepada kita. Dari mereka. Yang patut jadi perhatian ketika tak ada maaf yang terberi…Ooo sedangkan Sang Pencipta kita adalah Dzat Yang Maha Memaafkan, lalu mengapa tak sudi beri maaf. Ataukah ada keangkuhan yang menjadi tabir. Ooo…ayolah maafkan saja mereka. Maafkan dia. Tidakkah kita ingin menjadi ahli surga karena gemar memaafkan?

Ini adalah hari kemerdekaan, hari buat mereka yang telah berpuasa. Bukan buat mereka yang sengaja berbuka di siang hari dan pamer di jalan-jalan. Buat mereka yang telah berlelah-lelah di siang hari dan malam-malamnya supaya bisa dekat-dekat dengan Sang Maha Pemberi Kemerdekaan. Sudahkah kita jadi mereka? Hasibu anfusakum qabla antuhasabu….Itung-itungan dulu  yuk amal kita sebelum kita diitung-itung sama Yang Di atas.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan. Panjinya sudah dikibar-kibarkan di atas benteng, Tapi ini belumlah usai karena ini cuma pertempuran kecil. Perangnya masih berlangsung sampai ajal. Tidak tahu siapa yang menjadi pemenang sejati, Tapi kita berharap kepada Allah supaya kita menjadi pemenangnya. Dan merekalah yang kalah: iblis dan bala tentaranya: setan, jin, tuyul, sundel bolong, genderuwo, pocong, kolor ijo,  siluman babi, siluman ikan, siluman monyet, vampir (sebenarnya ini bukan karnaval)  dan manusia pengikutnya.

Ini adalah hari kemerdekaan, Hari di mana diri yang bernama Riza Almanfaluthi,  mohonkan maaf kepada semua. Seraya berharap kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan 1435 Hijr. Bekasi…cukup di sini aja sssssiiiih……ikan peda sono pegi daaahhh…..

Tabik. Happy Eid Mubarak, 1 Syawal 1434H.

Riza Almanfaluthi

Pojokan Semarang Panas

8 Agustus 2013 M

Dodolan Dawet Sik Yoo


image

image

Karena dawetnya belum mateng ya mikul pikulannya dulu sama Kinan keliling kampung.

TAHUN INI PELUNCURAN TKB VERSI DESKTOP


TAHUN INI PELUNCURAN TKB VERSI DESKTOP

“Dalam rapat koordinasi terbatas Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) beberapa waktu yang lalu telah direncanakan adanya knowledge base buat para Penelaah Keberatan. Salah satunya yang akan dihimpun di sana adalah putusan pengadilan pajak,” demikian diungkap oleh pemateri pertama, Moh. Tolcha, dalam Workshop Pengembangan Tax Knowledge Base yang diselenggarakan oleh Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), di Aerowisata Grand Hotel Preanger, Bandung, kemarin (29/5).

Adanya rencana itu tentunya disambut hangat oleh 38 peserta workshop yang terdiri dari para Penelaah Keberatan dan Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan dari beberapa wilayah yang tersebar di Indonesia. Keterbukaan akses terhadap putusan Pengadilan Pajak sangat dinanti buat bahan evaluasi para pegawai di unit-unit terdepan DJP. Harapan lainnya adalah adanya sinergi antara DKB dengan P2 Humas agar tidak terjadi dobel aplikasi dan dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Yang lebih menggembirakan lagi adanya janji yang diungkap oleh pemateri kedua, Eka Darmayanti, Kepala Subdirektorat Analisis dan Evaluasi Sistem Informasi dari Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi (TTKI). “Tahun ini diharapkan aplikasi Tax Knowledge Base (TKB) versi desktop akan selesai,” katanya. “Aplikasi TKB versi desktop—selama ini yang baru jalan adalah versi web—sangat berguna sekali buat para pegawai di kantor-kantor DJP seluruh Indonesia yang akses intranetnya terbatas,” tambahnya.

Seperti telah diketahui, DJP mempunyai lebih dari 14600 peraturan perpajakan yang bisa diakses dalam situs intranet oleh seluruh pegawainya. Situs ini mulai diperkenalkan sejak Desember 2012. Tidak hanya itu, situs ini niatnya akan dikembangkan menjadi tempat berbagi ilmu, pengetahuan, pengalaman dari dan untuk pegawai DJP sendiri. Oleh karenanya pengembangan dilakukan secara terus menerus dan bertahap, salah satunya dengan workshop yang dilaksanakan oleh para penggawa Subdirektorat Pelayanan Perpajakan, Direktorat P2 Humas ini.

Workshop di hari pertama akan dilanjutkan pada hari Kamis ini dengan sesi acara tips dan trik memaksimalkan TKB versi web, penyampaian materi ketiga, diskusi panel, motivasi, serta presentasi masing-masing kelompok. Workshop direncanakan berakhir pada Jum’at besok (31/5) dan akan ditutup oleh Direktur P2 Humas Kismantoro Petrus.

***

Riza Almanfaluthi

Asia Afrika Bandung

30 Mei 2013

 

Kangen Tak Berkesudahan


image

Kinan dan Ayyasy kangen sama Abinya yang lagi kondangan di Magelang. Malam ini lagi cari makan malam di Jogja. Insya Allah senin malam kita ketemu. Soalnya senin dinihari diperkirakan baru sampai kantor jadi langsung sidang dulu. Sidang-sidang terakhir di Pengadilan Pajak sebelum pindah ke Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan Dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak. Robbi ‘anzilni munzalan mubarokan wa anta khoirun munzilin.

KISAHKU DENGAN PARA MANTAN


KISAHKU DENGAN PARA MANTAN


*Suasana Jelang Persidangan, yang lagi mikir: Bro Toni Siswanto

Ia sekarang telah menjadi kuasa hukum Pemohon Banding. Posisinya berada di sebelah kanan depan Hakim Tunggal. Sedangkan di samping Pemohon Banding, di meja lain, Terbanding diwakili oleh satu tim yang terdiri dari dua orang Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding yang pengalaman dan umurnya jauh di bawah kuasa hukum.

    Walaupun demikian tidak ada hambatan psikologis yang menghalangi Terbanding untuk bersikap profesional melawan mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini. Bahkan naluri paling dasar petugas banding, naluri untuk menang, terasa mendominasi. Ini persidangan acara cepat, persidangan pemeriksaan atas banding yang ditengarai tidak memenuhi ketentuan formal.

Untuk kali itu, permasalahannya adalah Pemohon Banding telat beberapa hari dalam menyampaikan permohonan bandingnya ke Pengadilan Pajak. Perlu pembuktian kalau Kantor Wilayah DJP tidak terlambat dalam mengirimkan surat keputusan keberatan. Jelas sudah pemeriksaan dicukupkan segera setelah beberapa kali persidangan. Tiga pekan kemudian, pembacaan putusan dilaksanakan. Hakim Tunggal memenangkan Terbanding.

Para Mantan

Tidak aneh jika Terbanding berhadapan dengan orang-orang yang paling dikenalnya sewaktu di kampus atau saat masih menjadi bagian dari DJP. Ada teman kampusnya, adik kelasnya, mantan dosennya, mantan teman satu direktorat, mantan kepala seksi, mantan pejabat fungsional, mantan kepala kantor pelayanan pajak, mantan kepala kantor wilayah, mantan pejabat eselon II DJP, mantan Sekretaris DJP, bahkan mantan Direktur Jenderal Pajak.

Tidak ada yang salah saat para mantan tersebut memilih menjadi kuasa hukum di Pengadilan Pajak. Undang-undang memperbolehkan siapapun orangnya untuk menggeluti profesi itu asal memenuhi syarat yang telah ditentukan. Dan setelahnya memenuhi kewajiban sebagai kuasa hukum yakni mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan Undang-Undang Pengadilan Pajak.

Bagi orang awam, ini seakan membuka peluang untuk terciptanya kongkalikong baru karena ada pengaruh yang dijual dari para kuasa hukum mantan pejabat itu kepada para mantan anak buahnya yang menjadi Terbanding atau bahkan yang sudah menjadi hakim. Tetapi pendapat ini terlalu prematur karena seakan meragukan integritas dan profesionalisme para petugas banding dan hakim. Juga ada benarnya agar kesempatan sekecil apapun untuk terjadinya persekongkolan tidak akan terjadi lagi.

Lihat Daftar isi buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

Baca Sinopsis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

Kalau dengan semangat ini, maka institusi DJP tertinggal satu langkah dari Pengadilan Pajak dalam menciptakan sistemnya. Pengadilan Pajak telah mengatur bagaimana seorang mantan hakim di Pengadilan Pajak tidak diperbolehkan menjadi kuasa hukum selama dua tahun sejak ia berhenti sebagai hakim di Pengadilan Pajak. Apakah perlu seorang mantan pegawai atau pejabat DJP juga diberlakukan yang sama agar tidak ada pengaruh yang dijual. Entah kepada institusi lamanya atau para hakim.

Bicara soal trading influence, maka kantor akuntan publik yang termasuk dalam the big four paling agresif merekrut para mantan pejabat tersebut. Mereka mengincar mantan pejabat DJP yang sekaligus mantan hakim pula apalagi kalau sudah pernah menjadi Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Pajak. Perkawanan masa lalu, senioritas, serta pengalaman tahunan menjadi pejabat dan hakim adalah modal utama dan bernilai tinggi, minimal ‘tidak diabaikan’ saat berkunjung ke kantor pelayanan pajak atau kantor wilayah, juga saat berbicara di hadapan Majelis Hakim.

Salah satu keuntungan merekrut para mantan ini adalah dalam persidangan mereka tahu apa yang wajib dipermasalahkan dari Terbanding yang luput dari pandangan kuasa hukum biasa. Para mantan itu juga mampu menembus birokrasi karena mereka tahu dapur DJP. Tidak segan-segan dan sungkan-sungkan memangkas alur untuk mendapatkan pelayanan excellent. Mantan kepala kantor wilayah yang baru saja pensiun tentu tidak ‘selevel’ jika dilayani hanya sekelas pelaksana, account representative, atau para penelaah keberatan. Maka minimal eselon III yang akan turun tangan.

Pertanyaannya adalah bisakah pejabat aktif DJP juga bersikap adil memperlakukan mereka seperti para pejabat aktif DJP itu memperlakukan kuasa hukum atau konsultan pajak atau Wajib Pajak lain yang bukan mantan pejabat DJP? Akankah terjadi sambutan ramah, pertemuan, atau pelayanan langsung yang diberikan oleh pejabat aktif DJP? Di sinilah profesionalisme diuji.

Kisah Lain

Jelang persidangan, seorang mantan hakim Pengadilan Pajak sekaligus mantan pejabat DJP menghampiri saya. Kami dari Terbanding pernah satu kali berhadapan dengannya di sengketa banding sebelumnya. Kali ini ia menjadi kuasa hukum untuk sebuah perusahaan elektronik milik pengusaha terkenal di Indonesia ini.

Sambil berbisik ia berkata: “Soal transfer pricing itu sebenarnya bangsa kita yang dirampok melulu.” Ia menghela nafas. Dari gesture-nya terlihat seperti tidak rela. “Dik, kalau ada tingkah laku saya yang kurang berkenan, tegur saya yah. Jangan sungkan,” lanjutnya. Kalimat terakhir ini mengingatkan saya saat bertarik urat leher dengan timnya sewaktu melakukan uji bukti. “Jiwa saya tetap DJP,” pungkasnya.

Sembari bangkit dari kursi karena sudah dipanggil masuk oleh Panitera Pengganti, saya pamit, bersalaman, dan membalas acungan jempolnya dengan dengan acungan jempol yang sama. Untuk penegasannya tersebut hanya Allah dan dirinya yang tahu. Waktu yang akan membuktikannya.

Baca satu bab gratis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

Baca Kata Pengantar buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

***

Riza Almanfaluthi

Pegawai Direktorat Keberatan dan Banding

04 Mei 2013

Ini adalah opini yang dimuat di Situs Intranet DJP: Kepegawaian pada tanggal 13 Mei 2013

Pemesanan buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Makan-makan di Rumah Luna


Adiknya Luna telah lahir ke muka bumi beberapa waktu yang lalu. Luna itu putrinya teman kami di Subdirektorat Banding dan Gugatan II (BG2), Direktorat Keberatan dan Banding (DKB). Maka Jum’at lalu (26/4) kami berbondong-bondong menjarah datang ke rumahnya untuk menghabiskan segala yang ada di sana.

Gule kambing lengkap dengan kepalanya, tempe penyet, ayam goreng, tahu, tempe, bakso dan masih banyak lagi yang lainnya lenyap segera. Tinggal sedikitlah tersisa. Memang ganas-ganas mereka ini. Kata @melsharfey kita itu ibarat piranha. Ikan yang cuma ada dan hidup di Amazon. 🙂

Sebelum makan siang berdoa terlebih dahulu. Dipimpin oleh saya sendiri. Namun usainya, saya diprotes oleh Mpok Farah karena saya mendoakannya begini: “Ya Allah berikanlah keberkahan kepada kami, kepada istri-istri kami, dan anak-anak kami.” Katanya: “Seharusnya istri kami, bukan istri-istri kami.” Karepmu lah Mpok. He-he-he…

Di bawah ini gambar-gambar yang bisa abadi dalam kenangan kami suatu saat kelak.

image

Si cantik Luna dengan topi dan gitarnya.

IMG-20130426-WA0010

Luna dan Opa Psy 007 (baca: Rifun)

image

Anggota girlband: Fatin Fatih Chibi.

image

Main congklak atau dakon oleh para perempuan kami yang masa kecilnya kurang bahagia. Mpok Farah dan @melsharfey sing laka-laka (wong Tegal aselih)

image

Pak Yon Suryayuda, bapak kami.

image

Pak Widi, Mas Sapto, Uda Marzaini, dan Mas Adi  Prasetya. Sepertinya sedang kelaparan tak tertahankan.

image

Ini lagi ikut-ikutan main congklak tanpa aturan. Masak mereka tak giliran mainnya. Maklum mereka pembesar DKB.

image

Nah kalau yang ini adiknya Lunaaaa…. I love you beib.  Semoga jadi anak sholih.

image

Eyang Subur, Eyang Tandus Sesepuh di DKB. Mas Unesa. Ia seorang figuran cameo di film Sang Murabbi walau cuma sekelebatan doang. Eh enggak ding…

image

Fatih Chibi, Kang Aher alias Mas Benny, dan Mas Sehat (dari kiri.ke kanan)

image

Maaf gambar ini tak ada kaitannya dengan acara kami.

image

Us

image

BiG 2. Mas Pulung dan TP.

Sudah ah, sudah malam. Jadi saya selesaikan saja sampai di sini. Mohon dimaafkan jika ada yang tak berkenan. Salam.
***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di Ranting Cemara
1 Mei 2013

One Team: Tour of Duty


image

Siap-siap berangkat ke Pengadilan Pajak. Yang pake batik merah: Toni Siswanto.

30 April 2013.

Teh dan Cutter di Suatu Hari dengan Matahari Cuma Jadi Pajangan


2013-04-29 08.39.43

Setumpuk pekat teh dan gula pasir terajang cairan panas, menggeliat kesakitan. Uap nanahnya menguar kemana-mana terbang melayang, menyelinap, dan memberontak hingga masuk ke hidung berdebu dan minggat tanpa pamit ke langit-langit yang dengan duka-cita menyambut. Kurang ajar. Ia tak tahu kalau aku kedinginan semalam dan butuh kehangatannya. Sedetik yang baru saja lewat, kita tak tahu untuk apa kita minum teh? Merayakan senin atau membuang gulana yang sudah jadi daki di leher? Sampan di ujung dermaga kayu ini telah siap melayarkanmu, dan terjun bebas di Niagara. Selamat pagi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

29 April 2013

 

 

Once Upon a Time in Jeddah


image

‘Rasyid Sidek’–pebulutangkis Malaysia era 80-an–bersama istri di Jeddah. Di sebuah senja yang hangat.

Togetherness is Golden


image

Foto Lama Para Penggawa Subdirektorat Banding dan Gugatan II

Sanadnya begini, Kang Asep–teman sesama Penelaah Keberatan–pernah mendengar dari gurunya kalau: togetherness is golden. Riwayatnya sahih. Tidak dhaif bahkan munkar. Kalau dilihat dari matannya sahih pula. Memang betul sih kalau kebersamaan itu emas. Berharga. Tak ternilai.

Foto di atas adalah bentuk mengabadikan kebersamaan itu. Ada yang sudah pindah kantor ataupun resign dari DJP. Tapi itu tak membuat tali ikatan batin terputus sebagai sesama Penelaah Keberatan yang pernah bertugas di Pengadilan Pajak. Pahit getir menghadapi Pak Hakim dan Pak Jaksa, menunggu persidangan sampai malam menjelang, buka puasa di stasiun Gambir ataupun di lobi Gedung Sutikno Slamet, dan masih banyak momen-momen lainnya yang memupuk kebersamaan. So, melihat foto di atas adalah upaya mengenang saat-saat kebersamaan itu.

Dari foto di atas coba lihat dengan teliti, penampakan mana yang mirip dengan saya. Kalau Anda familiar dengan wajah saya tentu Anda dengan mudah mencarinya.

Kalau Anda ingin merasakan apa yang sedang saya rasakan sekarang ini. Coba abadikan setiap momen yang ada dengan kamera. Lalu lihat hasilnya beberapa waktu berselang dalam hitungan tahun. Akan Anda rasakan betapa teman-teman kita itu baik-baik semua pada kita. Rasakan saja.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di Ranting Cemara
Lantai 9 Gedung Sutikno Slamet Pengadilan Pajak
Di sela-sela penantian
10.41 1 Mei 2013 15 April 2013.