Inilah Caranya Mengurus Ganti Faskes (Fasilitas Kesehatan) di BPJS


Sekarang saatnya membahas cara mengganti atau mengubah Fasilitas Kesehatan (Faskes) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Terutama buat para peserta BPJS yang berdomisili di Kabupaten Bogor. Atau tepatnya yang mau mengubah data kepesertaan BPJS dan mau mengurusnya di Kantor BPJS yang terletak di Kompleks Pemda Cibinong.

Sebenarnya untuk mengubah data kepesertaan BPJS bisa datang ke kantor BPJS manapun karena sistemnya sudah online sekarang. Biasanya saya mengurusnya di Kantor BPJS Jalan Ahmad Yani No. 62 E Kota Bogor. Namun karena alasan kejauhan dan ternyata ada yang lebih dekat dari rumah saya, maka saya berusaha mengurus di Kantor BPJS Kompleks Pemda Cibinong ini.

Jadi Faskes ini merupakan tempat kita berobat dan meminta rujukan sebelum si sakit masuk rumah sakit. Faskes ini bisa berupa Puskesmas atau klinik swasta atau dokter keluarga atau balai pengobatan yang telah bekerja sama dengan BPJS.

Baca Lebih Lanjut.

Untuk Para Ayah: 5 Fakta Sosial Bikin Anak Keblangsak


 


Ayah yang mengajarkan anaknya wudhu. (Ilustrasi diambil dari islamicblog.co.in)

Pemuda-pemuda akan tumbuh

sesuai dengan apa yang telah dibiasakan oleh bapaknya.

Pemuda itu tidak hidup dengan akalnya, tetapi dengan agamanya.

Maka dekatkan ia kepada agama.

Pohon yang tumbuh di taman tidak akan sama

dengan pohon yang tumbuh di tanah tandus.


(Syair dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam)

 

Mereka para orang tua yang ditugaskan jauh dari keluarganya akan tahu betapa nikmat terbesar yang mereka miliki adalah kebersamaan dengan keluarga. Maka buat para orang tua yang demikian, janganlah menyia-nyiakan waktu kebersamaan itu.

Walau teknologi sudah mampu mendekatkan orang dalam hal berkomunikasi. Namun tetap saja tak mampu menggantikan hangatnya sebuah pelukan dan tatapan mata secara langsung. Sehebat-hebatnya mendiang Steve Jobs yang memiliki visi menjadi pelopor digitalisasi semua pekerjaan manusia, ia tetap percaya bahwa rapat itu harus bertatap muka. Menurutnya, kolaborasi dan kreativitas tak akan pernah muncul tanpa ada tatap muka. Apatah lagi dalam hal mendidik anak.

Baca lebih lanjut.

Sekrup-Sekrup Kecil: Empat Modus Perkaya Diri Jadi Masa Lalu


 


Pagi itu telepon berdering. Nomornya tidak dikenal. Kemudian terdengar suara seorang perempuan di ujung sana. Tak lama saya baru ngeh. Ternyata suara itu berasal dari seorang perempuan yang pernah saya kenal sewaktu saya menjadi Account Representative di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat. Perempuan ini dulu pernah menjadi tax manager sebuah perusahaan di Sidoarjo. Perusahaan pembalut buat ibu setelah melahirkan ini termasuk ke dalam kategori Wajib Pajak yang taat pajak.

Walaupun saya sudah bertahun lampau meninggalkan kantor itu dan sekarang berada di ujung negeri, ia masih menyimpan nomor telepon saya. Seperti waktu dulu, ia pun bertanya-tanya kepada saya mengenai kasus perpajakan yang ditanganinya. Bedanya, sekarang ia telah menjadi seorang konsultan manajemen. Penanganan kasus perpajakan hanyalah bonus yang diberikan kepada klien yang menyewa jasa konsultasi manajemennya.

Baca Lebih Lanjut

Kisah Nyata Pegawai DJP: Dituduh Sebagai Calon Tersangka Korupsi dan Cukuplah Allah Sebagai Saksi


KISAH NYATA PEGAWAI DJP:

DITUDUH SEBAGAI CALON TERSANGKA KORUPSI

DAN CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI SAKSI

 

Ini kisah yang dituturkan dari teman satu direktorat Gayus Tambunan pada tahun 2010. Saat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diterpa badai kecaman serta pemberitaan yang begitu telanjang dan tidak seimbang karena salah satu pegawainya melanggar kode etik.

Bagaimana rasanya ketika keluarga besarnya mengejek sinis setelah menyaksikan tayangan televisi yang menyebut-nyebut namanya sebagai atasan Gayus? Bagaimana rasanya diberitakan oleh salah satu televisi nasional sebagai “calon tersangka koruptor”? Bagaimana rasanya saat turun dari pesawat ia disapa oleh penumpang yang lain dengan pertanyaan: “Ibu atasannya Gayus?”

Kisah yang diceritakan dan ditulis sendiri oleh Ibu Dwi Astuti ini bisa dibaca dalam Buku Berbagi Kisah & Harapan 2: Bertahan di Tengah Badai yang diterbitkan oleh DJP di tahun 2011 lalu. Selamat membaca.

berkah2

Buku Berbagi Kisah & Harapan: Berjuang di Tengah Badai

Baca Lebih Lanjut

INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA


DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA

Subhanallah, waktu berjalan tiada berhenti. Tiada melambatkan waktunya sedikit pun. Meninggalkan segalanya. Dan sekarang sudah tanggal 3 Agustus 2014 saja. Meninggalkan tanggal 24 Juli 2014–sebagai saat terakhir saya menulis di Tapaktuan–di belakang. Sekarang saya berada di Semarang. Di sebuah masjid yang teduh, Masjid Agung Jawa Tengah. Tahun ini saya kembali mudik ke kota kelahiran istri. Untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan berziarah ke makam mertua.

Setelah menempuh ribuan kilometer dari Tapaktuan dan hanya beristirahat sehari semalam, maka dengan tekad dan niat yang diupayakan selurus mungkin saya berangkat mudik pada hari Ahad. Satu hari menjelang lebaran. Syukurnya Allah memudahkan segalanya. Perjalanan relatif dilancarkan. Hanya menemui sedikit kemacetan di Cijelag dan Jembatan Comal. Ya, untuk tahun ini kembali kami arungi medan laga jalur permudikan melalui jalur tengah. Via Cipularang keluar Gerbang Tol Purwakarta lalu tembus ke Situ Buleud, Wanayasa, Sumedang, Cijelag, Palimanan, Kanci, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal sampai ke Semarang.

Saya yang biasanya ‘ngantukkan’ ternyata mampu kuat mengendarai mobil sendiri tanpa istirahat tidur sampai Batang. Setelah di kota sebelah Pekalongan itu saya merasa capek dan harus berhenti. Sampai di rumah Semarang jam setengah empat pagi. Kalau ditotal maka kami telah menempuh jarak 558 KM dalam waktu 18,5 jam. Alhamdulillah kami  bisa salat Id di tempat. Padahal kami sudah tidak berharap dan tidak diupayakan dengan keras untuk segera tiba di Semarang. Mengingat kondisi jalan, situasi lebaran, dan hanya saya sendiri yang jadi supir.
Baca lebih lanjut

Beginilah ‘Framing’ Media Sekuler Beritakan Syariat Islam di Brunei


Beginilah ‘Framing’ Media Sekuler Beritakan Syariat Islam di Brunei

Suatu sore dalam perjalanan pulang dari Meulaboh sehabis menghadiri pesta “turun tanah” anak dari teman pelaksana di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan, masuk notifikasi dari teman facebook saya yang bernama Mbak Intan Nugraha. Katanya nama saya muncul di fimadani. Saya cek link yang diberikan Mbak Intan. Oh ternyata, Fimadani mengulas status facebook saya. Ya, pada waktu itu status saya berisikan kegalauan membaca berita dari Tribunnnews yang membagi berita dari OkeZOne. Isi beritanya itu lagi-lagi framing (pembingkaian) atas penerapan syariat Islam di Brunei Darussalam. Negeri kecil tetangga kita di pulau Kalimantan.

Dan fakta yang disodorkan oleh taman facebook saya Abu Saif Kuncoro Jati, mengejutkan saya. Ternyata yang menulis itu adalah seorang perempuan jurnalis berjilbab yang seharusnya tak perlu marah-marah dan bisa menerapkan kode etik jurnalisme yang benar. Apalagi di era fitnah seperti sekarang ini. Sudahlah, tak perlu keterusan membahas tampilannya lagi, nanti jadi ad hominem. Tapi yang selalu saya harapkan dari diri saya pribadi dan teman-teman muslim yang lainnya, semoga kita dilindungi dari bentuk tampilan yang berbeda dengan isi. Selayaknya tampilan sama dengan isi. Semoga.

http://news.fimadani.com/read/2014/05/09/beginilah-framing-media-sekuler-beritakan-syariat-islam-di-brunei/

Beritanya Fimadani berikut ini:

Media sekuler memang tidak menyukai berbagai kemajuan yang dicapai Islam dan ummatnya. Oleh karena itu, mereka senantiasa mengkampanyekan hal-hal negatif tentang Islam. Jika tidak ada hal yang negative maka hal-hal yang positif atau netral pun ditunjuk menjadi seolah-olah negatif.

Adalah Okezone.com yang menurunkan berita berjudul Berlakukan Hukum Pidana Syariat, Sultan Brunei Kena Batunya pada Kamis, 08 Mei 2014 15:41. Berita yang ditulis oleh Andyta Fajarini ini berisi tentang kemungkinan tidak berlakunya hokum itu bagi anggota keluarga kerajaan.

Okezone menulis, “Namun, peraturan baru yang diterapkan di Brunei ini sepertinya tidak berlaku bagi keluarga Sultan Hasannal Bolkiah. Pasalnya, banyak sekali Hukum Islam Syariat yang dilanggar oleh keluarga sang Sultan, seperti gaya hidup yang bermewah-mewahan dan juga pesta seks.”

Andyta Fajarini, reporter Okezone yang mengenakan jilbab itu melanjutkan tulisannya, “Putra Sultan Hassanal Bolkiah lainnya yang sering membuat kontroversi adalah Pangeran Haji Abdul Azim. Dia memang dikenal sering mengundang dan membayar selebriti Hollywood untuk hadir di pestanya. Banyak rumor yang mengatakan bahwa Pangeran 25 tahun ini adalah seorang gay.”

Berita itu ditutup dengan kesimpulan, “Terbukti banyak sekali Hukum Islam Syariat yang dilanggar oleh keluarga Sultan. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk berpesta dan berfoya-foya. Tetapi, apakah Hukum Islam Syariat ini akan berlaku bagi keluarga sang Sultan?”

Riza Al Manfaluthi, menjelaskan bahwa framing berita tersebut terlalu dibuat-buat, “Judul tak menyambung dengan isinya. Siapa yang kena batunya? Tak dijelaskan.”

“Hukum syariat mulai diberlakukan 1 Mei 2014. Media ini sudah mengarahkan: “SEPERTINYA” hokum tidak akan berlaku buat keluarga Sultan,” lanjutnya.

“Orang yang cerdas baca berita akan bertanya: Kok berita tidak menyajikan fakta, namun menyajikan ‘seperti-sepertinya’. Dugaan yang belum terjadi, langsung disimpulkan sebagai sebuah fakta,” pungkasnya.

Redaktur: Shabra Syatila

**

Pengantar: Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11 Mei 2014

KOMPASIANA HANYA KOLAM KECIL


Kompasiana Hanya Kolam Kecil

 


Ini mah bukan kolam tapi telaga. 😀 (Gambar diambil dari sini)

 

Saya mau bercerita sedikit. Mau memberikan pilihan kepada Ayah dan Bunda yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Saya mengilustrasikannya seperti ini. Ada anak cerdas di Amerika Serikat. Ia mencintai pelajaran matematika, kimia, fisika, biologi, dan ilmu pasti lainnya. Cita-citanya menjadi seorang ahli sains. Selepas SMA ia memilih kuliah di kampus yang ternama dan bonafide untuk menggapai cita-citanya. Di sebuah universitas tempat anak-anak cerdas berkumpul.

Untuk dapat belajar di kampus itu ia harus melalui ujian SAT. Ujian yang digunakan di banyak sekolah tinggi Amerika Serikat sebagai tes masuknya. Mungkin kalau di Indonesia adalah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)-nya. Di universitas terkenal itu ia memilih jurusan sains tentunya. Ia lulus dan dapat belajar di sana.

Tapi apa yang terjadi? Di tengah perkuliahan ia gagal dan memilih keluar serta berpindah jurusan ke ilmu sosial. Padahal ia sudah menyadari kenyataan untuk tidak menjadi nomor satu di antara orang-orang cerdas itu. Bahkan ia sangat sadar ketika menjadi mahasiswa biasa-biasa saja bahkan paling bawah sekali pun. Ia tak berharap untuk menyaingi mereka. Targetnya adalah mampu bertahan kuliah.

Namun ia tetap bekerja keras untuk dapat menyamai kecerdasan dan mengikuti irama kepandaian dari mahasiswa cerdas di kelasnya itu. Tapi ia selalu mendapatkan nilai B minus seberapa pun kerasnya usaha belajarnya itu. Nilai-nilai yang tak pernah ia dapatkan di SMA-nya dulu. Katanya, teman-temannya itu sampai pada suatu titik egoisme untuk tidak mau berbagi ilmu karena ketat nya kompetensi. Dosennya sampai bilang juga kepadanya untuk tak perlu ikut mata kuliah ini. Ia menyerah. Ia gagal.

Kalau saja ia memilih universitas yang pertengahan, maka ia akan bisa mengikuti irama kuliah dan menjadi terbaik di kelasnya. Ia pun akan tetap pada jalurnya untuk menjadi ahli sains. Ia tidak bodoh. Ia cerdas. Tapi ia salah dalam memilih. Ia tidak membandingkan dirinya dengan mahasiswa di luar kampusnya. Ia hanya menjadikan teman-teman kampusnya sebagai benchmark. Itu membuatnya merasa bodoh dan tak berguna.

Universitas ternama itu adalah kolam besar dan anak cerdas itu ikan kecilnya. Sedangkan jika ia memilih universitas biasa saja atau universitas pertengahan ia sesungguhnya adalah ikan besar dan universitas biasa itu adalah kolam kecilnya. Ayah dan Bunda ingin menjadikan anak Ayah dan Bunda ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar?

Karena berdasarkan penelitian, tak ada signifikansi pengaruh almamater terhadap perolehan pendapatan setelah lulus kuliah. Berdasarkan penelitian pula ada perbandingan seperti ini dengan contoh sederhana. Ada 100 anak tercerdas yang nilai SAT-nya tinggi kuliah di jurusan sains Harvard . Seratus anak yang SAT-nya rendah di bawah daripada mereka yang kuliah di Harvard, kuliah di jurusan sains universitas biasa saja. Dua universitas ini mempunyai metode dan sistem pengajaran yang sama. Ternyata masing-masing dari universitas itu hanya bisa meluluskan 50% saja mahasiswa mereka.

Ini aneh. Seharusnya mereka yang nilai SAT-nya tinggi dan bisa kuliah di Harvard tentu lulus semua. Atau dengan kata lain mahasiswa yang SAT-nya rendah daripada mahasiswa Harvard dan hanya bisa kuliah di universitas biasa saja itu yang tak akan mampu lulus kuliah jurusan sains. Tapi kok malah ada mahasiswa Harvard yang tidak lulus kuliah.

Ini artinya adalah banyak sekali yang mau jadi ikan kecil di kolam besar dengan risiko ia tidak bisa menjadi apa yang diidamkannya, dan tidak memilih menjadi ikan besar di kolam kecil hanya karena gengsi dan kehormatan.

Anak yang saya ceritakan di atas sampai bilang: “Kalau saja saya kuliah di universitas biasa saja itu, saya bakal masih di bidang yang saya cintai dan menjadi ahli sains.” Yang lain bilang: “Lucu sekali banyak mahasiswa matematika dan fisika yang pada akhirnya drop out dan masuk kuliah hukum, setelah lulus menjadi pengacara atau konsultan pajak.”

Saya paham, perusahaan di di Amerika Serikat memilih orang-orang yang terbaik berdasarkan apa yang dihasilkannya bukan semata dari almamater mana ia lulus. Tapi untuk diterapkan di Indonesia mungkin masih cukup sulit karena masih memandang dari mana Anda kuliah. Ini untuk urusan dunia pendidikan. Tapi untuk dunia lainnya bisa jadi bisa.

 

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah penceritaan kembali secara sederhana dalam bahasa dan sedikit imajinasi saya dari apa yang ada dalam salah satu bab buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath. Sebuah buku yang memberikan cara pandang baru dalam memahami fenomena sosial. Bagaimana memandang kelemahan sebagai sebuah keunggulan. Semua orang—dalam medan pertempuran itu—memandang remeh kepada David karena ia melawan raksasa kuat bernama Goliath. Tapi sejarah mencatatnya bahwa apa yang dianggap sebagai kekuatan itu rontok tak berdaya di hadapan sosok “penuh” kelemahan. Dari empat buku yang ditulis sebelumnya saya lebih menikmati buku terbarunya ini. Buku ini anti mainstream.

 

Dalam dunia tulis menulis Anda bisa menjadi ikan besar di kolam kecil untuk menjadi orang yang dikenal sebagai penulis hebat. Misalnya dengan konsisten menulis dan mengirimkan tulisan ke media di bawah Kompas. Atau membuat sebuah media sendiri tempat buat para penulis berkreasi tanpa ada seleksi, juri, dan keterbatasan lainnya. Tanpa mengesampingkan kualitas tentunya. Tak perlu berkecil hati. Kompasiana, saat ini, bisa menjadi kolam kecilnya. Dan banyak kompasianer yang telah menjadi ikan besarnya di sana.

Seperti Monet, Degas, Cezanne, Renoir, dan Pisarro yang tidak akan pernah dikenal dunia jika mereka hanya menjadi ikan kecil di kolam besar dengan hanya bertahan bagaimana bisa memasukkan karya mereka di galeri “Salon” yang benar-benar ketat dalam seleksi dan tempatnya sangat terbatas.

Tapi akhirnya mereka membentuk komunitas tersendiri untuk mengenalkan lukisan impresionisme dan mereka menjadi ikan besar di kolam kecil. Pada akhirnya mereka dikenal dunia. Lukisan mereka banyak dicari orang. Saya memilih menjadi ikan besar di kolam kecil. Anda?

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana: http://media.kompasiana.com/buku/2014/05/09/kompasiana-hanya-kolam-kecil-652009.html

 


 

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA


Gambar diambil dari Islamedia.

Islamedia.coSuami dengan kesabaran setara tabi’in, orang zuhud, dan shiddiqin pada zaman sekarang ini ternyata ada dan ditunjukkan kepada saya langsung malam itu setelah tulisan yang berjudul “Istri Belum Hamil-Hamil, Suami Mau Nikah Lagi” dimuat di Islamedia pagi harinya. Salah seorang ibu yang bernama Ibu Shanti memberikan sebuah persaksian di komentar blog saya. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman yang menyangsikan di dunia ada laki-laki semacam itu. Berikut kisah lengkapnya:

Hampir dua belas tahun usia pernikahan dan kami masih berdua saja. Belum juga dikaruniai anak. Semua terapi sudah kami jalani dari mulai medis hingga alternatif. Dokter yang menangani kami adalah seorang dokter spesialis kandungan yang saleh dan tidak mengeruk keuntungan pribadi. 

Ketika semua tahapan terapi telah selesai dijalani, sang dokter berkata : “Ibu dan Bapak tidak ada masalah sedikit pun, ikhtiar sudah dijalankan, sekarang saya sarankan kepada Ibu dan Bapak untuk memperbanyak sedekah, doa, dan istighfar. Posisi anak dan harta itu sejajar dalam Alquran, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Mohonlah kepada Allah untuk segera diberi keturunan. Sehebat apa pun ilmu kedokteran dan obat yang saya berikan, semua tidak akan berguna tanpa bantuan dari Allah.” 

Kami hanya tersenyum dalam tangis haru. Subhanallah, kami dipertemukan dengan dokter yang baik ini padahal pasien beliau lebih dari empat puluh orang sehari. 

Saya pernah mengalami masa-masa stres yang panjang, sampai-sampai saya enggan berkunjung kepada teman atau tetangga yang melahirkan karena ada perasaan kecewa, sedih, cemburu, dan marah. “Kapan giliran saya ya Rabb?!” 

Di saat saya menangis, suami selalu mengingatkan saya untuk bersabar. Ketika saya betul-betul merasa sedih saya membaca Alquran tanpa memilih surat maupun ayatnya. Subhanallah, Allah menegur saya melalui Alquran yang saya baca sambil meneteskan air mata ini. Yakni pada ayat “jadikanlah salat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. 

Saya tidak mampu membaca ayat tersebut dalam satu helaan nafas. Tenggorokan saya tercekat dan sakit mengingat apa yang sudah saya pikirkan terhadap Allah. Betapa Allah sayang kepada saya, betapa Allah ingin menunjukkan seberapa sabar saya. Malam itu saya berusaha tawakal menerima apa pun keputusan Allah dan semoga bisa menerimanya dengan ikhlas. 

Dan malam itu juga saya bertanya kepada suami, ”Kenapa Ayah tidak pernah mempertanyakan kapan Bunda hamil?” Sambil tersenyum dan mengusap kepala saya dengan lembut, ia berkata: ”Karena Ayah tidak mau menyakiti perasaan Bunda dengan pertanyaan tersebut. Kita serahkan semuanya kepada Allah ya, Nda! Sementara itu, kita dekatkan diri kita kepada Allah.” 

Peristiwa itu terjadi tahun 2009, di usia pernikahan kami yang ketujuh. Sekarang, hampir dua belas tahun usia pernikahan kami. Dan dia tetap mencintai saya seperti awal mula kami menikah, tetap tidak pernah mempertanyakan kapan kami akan memiliki keturunan. Komitmen awal kami menikah adalah ingin menyempurnakan setengah din yang sudah kami miliki. Semoga kami tetap istikamah dalam berikhtiar, bersedekah, beristighfar, dan saling menerima kekurangan masing-masing.

Membaca kisah Ibu Shanti dan suaminya membuat saya kembali teringat beberapa perkataan Rasulullah saw yang pernah dicatat dalam kitab Attirmidzi bahwa sebaik-baik ibadah adalah menunggu dengan sabar datangnya hasil yang membahagiakan. Atau dalam hadis sahih lainnya, “Ketahuilah bahwa kemenangan datang setelah kesabaran dan kemudahan datang setelah kesulitan.” 

Saya tidak membayangkan kemenangan dan kebahagiaan seperti apa yang didapat oleh Ibu Shanti dan suaminya jika dalam waktu dekat ini Allah segera karuniakan kepada mereka buah hati yang didamba. Sudah barang tentu ini adalah buah dari pohon ikhtiar dengan pupuk tawakal dan kesabaran itu. Insya Allah. 

Namun apa pun itu, ada ataupun tidak ada anak adalah sebuah takdir. Sebuah ketetapan Allah. Kata Rasulullah saw lagi: “Segala sesuatu yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya adalah lebih baik baginya.” 

Semoga kita bisa menerima apa yang Allah tetapkan buat kita. Dan percayalah bahwa laki-laki sabar setara tabi’in itu ada, saat ini. Saya yakin pula, tidak hanya suami Ibu Shanti, melainkan Anda. Semoga. ***


Riza Almanfaluthi

Sumber: http://www.islamedia.co/2014/05/suami-penyabar-setara-tabiin-itu-ada.html

 

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI


ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

Gambar diambil dari Islamedia.

Islamedia.co Suaminya ingin menikah lagi. Gara-gara dirinya tidak bisa memberikan anak dalam pernikahan. Perempuan ini hanya bisa mengelus dada, menangis, bersabar, dan berdoa tiada henti. Ketidakmampuan memberikan anak tentu bukan sesuatu yang dikehendaki. Semua jalan sudah ditempuh dari mulai periksa ke dokter sampai pengobatan alternatif.

Suaminya tak sabar bahkan berhubungan intens dengan seorang janda. Diingatkan pelan-pelan bahkan dengan cara yang lebih tegas, dirinya malah dimarahi balik oleh sang suami. Ia menyimpulkan kalau-kalau sang suami sudah kena sihir dari janda itu. Apalagi yang harus dilakukan agar ia tetap menjadi istri yang baik buat suaminya?

Pertanyaan itu masuk di komentar tulisan lama saya di blog. Judul tulisannya “Kisah Nyata: Lakukan Ini Jika Ingin Punya Anak”. Sebuah cerita tentang sahabat saya yang punya anak setelah melakukan dua hal yang disarankan di sana. Banyak komentar yang masuk. Sebagian besar berisikan permintaan doa agar bisa memiliki keturunan. Sebisa mungkin saya membalasnya walau terkadang hanya menuliskan kata amin. Tapi yakinlah ini setulus-tulusnya doa dan bukan basa-basi hanya sekadar membalas komentar.

Pertanyaan dari perempuan yang tidak saya kenal ini membuat saya berpikir. Bahkan menarik saya ke dalam situasi seandainya saya menjadi perempuan itu. Apa yang bisa dilakukan? Ini empati. Menjawabnya mungkin saya hanya bisa meminta kepadanya untuk bersabar. Sebuah nasihat biasa tapi kata Rasulullah saw tanda keimanan seorang hamba adalah kesabarannya. Sudah banyak nasihat tentang sabar yang diucapkan dan ditulis oleh para ulama. Kiranya saya tak perlu mengulanginya kembali.

Mungkin juga saya akan tetap meminta kepada perempuan ini untuk tetap ikhtiar dan doa terus menerus karena Allah senang melihat hamba-Nya memohon-mohon dan memelas dengan penuh pengharapan. Di titik tertinggi dari kelemahan, ketidakberdayaan, dan kepasrahan itu biasanya Allah turunkan pertolongan yang tidaklah terduga. Menguatkan dan membahagiakan. Itu saja. Sembari saya juga berdoa agar Allah memberikan kemudahan dan jalan keluar atas setiap permasalahan perempuan ini. Yakinlah Allah akan ganti dengan kebaikan lain yang berlipat ganda.

Karenanya saya memberikan respek tidak terhingga kepada para suami yang mampu memberikan sikap dan cinta terbaiknya buat sang istri. Ketika ia sadar istrinya tidak mampu memberikan keturunan ia tetaplah sabar. Walaupun ia juga berhak mendapatkan anak sebagai penerusnya dari perempuan lain. Tapi ia tepis kesempatan itu agar tidak menyakiti perasaan istrinya. Bahkan ia mampu menjaga lisan dan amarahnya. Ia tahu sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini bisa jadi memiliki kesabaran setingkat para tabi’in (generasi setelah sahabat Rasulullah saw) ketika ia mampu sabar dengan tidak mengeluhkan kepada siapa pun tentang keadaan dirinya yang belum memiliki anak atau istrinya yang belum atau tidak hamil-hamil juga.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini juga bisa memiliki kesabaran setingkat orang-orang yang zuhud ketika ia menyadari bahwa ketidakmampuan istrinya mempunyai anak ini adalah ketetapan Allah. Dalam benaknya anak sekadar amanah dan urusan duniawi. Orang zuhud tidak mempedulikan masalah duniawi. Balasan buat orang-orang yang zuhud adalah cintanya Allah dan Allah akan ringankan dirinya atas segala musibah.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini bisa memiliki kesabaran setingkat para shiddiqin (orang-orang yang benar imannya) ketika ia menerima keadaannya dengan senang hati karena menganggap semua itu dari Allah belaka. Tempat bagi para shiddiqin iniadalah bersama para nabi, syuhada, dan shalihin.

Kalaulah saya menemukan orang itu, saat ini izinkan saya mencium tangannya sebagai tanda hormat. Saya harus belajar banyak kepadanya. Kepada perempuan yang bertanya,

***

Riza Almanfaluthi

02 Mei 2014

 

Sumber dari:

http://www.islamedia.co/2014/05/istri-belum-hamil-hamil-suami-mau-nikah.html#.U2McdGDafWg.facebook