Smiling is the Way the Soul Says Hello


image

Melina, saya, Cimot, Rachmat Riyadi

Lagu Bryanna dari telepon genggam memecahkan keheningan dini hari. Itu berarti sebentar lagi teman sekamar saya ini bangun dan pergi mandi. Ia tak memedulikan dinginnya air Mega Mendung, Puncak. Tak lama kemudian dia sudah berpakaian rapih. Baju koko putih dan sarung menjadi aksesorisnya untuk pergi ke masjid. Padahal waktu Shubuh masih 30 menit menjelang.

Pantaslah kalau Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Banten ini didaulat di malam keakraban  Siswa Peleton 1 Gelombang 2 Pendidikan Pelatihan (Diklat) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) DJP di Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) sebagai Terkonsisten paling duluan mandi dari keseluruhan anggota peleton yang berjumlah 30 orang itu. Ada tiga orang lain lagi yang mendapat “anugrah” TER di malam pelepasan ini.

Ada yang mendapatkan gelar “Tergokil”. Karena selama diklat yang diselenggarakan selama satu bulan itu kerjaannya “ngelucu”. Dan memang betul dia itu lucu banget dan bikin anggota peleton lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Salah satu kegokilannya ditunjukkan dengan cara bernyanyi tiba-tiba saat sedang proses belajar mengajar. Kebetulan dosennya adalah seorang Polwan sekaligus Psikolog Kriminal di Mabes Polri. Salah satu dosen dengan penampilan necis ala sosialita. Lirik lagu dangdut yang ditujukan kepada Ibu Dosen cantik yang hanya bisa tersipu-sipu itu. Dialah yang bernama Cimot–pemilik nama asli Yulianto, Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan di Kantor Wilayah DJP Kalimantan Timur.

Gelar TER lainnya jatuh pada seorang perempuan. Dia satu dari dua perempuan di peleton kami. Prestasi TER-nya di bidang yang biasa didominasi laki-laki. Dan dia mampu mengalahkan kami. Dialah pemegang nilai tertinggi dalam menembak: Melina Harveyanti, pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Kantor Pusat DJP. Selain punya kemampuan ‘menembak’ dengan kamera dia pun ternyata mampu menembakkan, memuntahkan, serta mengarahkan proyektil peluru ke sasarannya. Patut jadi anggota Perbakin.

Nah, terakhir ternyata TER dengan kategori paling ‘aneh’. Terkonsisten tak makan nasi selama sebulan di Pusdik Reskrim. Itulah saya sendiri. Hehehe…saya tak menduga terpilih sedemikian ini. Teman-teman saya memang tahu persis kebiasaan saya. Mereka langsung menyodorkan lauk pauk tersisa kepada saya untuk dihabiskan. Biasanya lauknya itu adalah daging sapi,daging ayam, dan ikan goreng sebagai sumber protein tinggi pengganti karbohidrat. Saya memang mengganti nasi dengan karbohidrat yang lain.

Sebulan pun berlalu. Saatnya kami kembali bertugas ke tempat masing-masing. Membawa ilmu penyidikan yang diharapkan bisa langsung diaplikasikan. Sebagai bekal, kami disiapkan surat pengantar untuk disampaikan ke Korwas (Koordinasi dan Pengawasan PPNS) masing-masing daerah. Entah di Polres, Polda, ataupun di Mabes Polri-nya.

Sebulan kebersamaan pun berakhir. Tapi sepertinya berasa ada yang janggal. Seperti belum ada yang “move on”. Kebiasaan selama sebulan harus diganti dengan rutinitas seperti biasanya. Tidak ada lagi suara sirine buatan Cimot, tak ada lagi suara teriakan “ayo ayo ayo ayo” di lorong barak sebagai pengingat waktu “moving” telah tiba, tak ada lagi kumpul ramai-ramai di depan tv, dan banyak lagi tak ada tak ada lainnya.

Memang sudah semestinya demikian. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Perjumpaan selalu diakhiri dengan perpisahan. Dan tetap dengan senyum kita berpisah. Karena senyum adalah cara jiwa ucapkan halo. Begitulah ingatan saya menuntun pada apa yang dikatakan Jarod Kintz.

“Smiling is the way the soul says hello. Obviously a frown means goodbye. Is there a word halfway between hello and goodbye? Because that’s what my soul is saying right now.

image
Loncat semua. (Foto dokumentasi teman)

image

“Siap Komandan…!” Pose para Jenderal eselon dua DJP. Kika: Pak Cucu, Pak Samon Jaya, Pak Mekar, dan Pak Rudi Gunawan Bastari

image
“Mau nembak apa Ndan?” Kumendan Alex Diantara dan Danton Agung Karmanta

image
Di sebuah sudut Pusdik

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan dinranting cemara
25 Mei 2015
Foto-foto di atas adalah foto dokumentasi bukan milik saya melainkan milik teman-teman satu peleton.

Catatan Hati Seorang Ayah


Untuk Ayyasy

Dari Abi.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

19 September 2014

Di 12 tahunmu.

Inilah Caranya Mengurus Ganti Faskes (Fasilitas Kesehatan) di BPJS


Sekarang saatnya membahas cara mengganti atau mengubah Fasilitas Kesehatan (Faskes) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Terutama buat para peserta BPJS yang berdomisili di Kabupaten Bogor. Atau tepatnya yang mau mengubah data kepesertaan BPJS dan mau mengurusnya di Kantor BPJS yang terletak di Kompleks Pemda Cibinong.

Sebenarnya untuk mengubah data kepesertaan BPJS bisa datang ke kantor BPJS manapun karena sistemnya sudah online sekarang. Biasanya saya mengurusnya di Kantor BPJS Jalan Ahmad Yani No. 62 E Kota Bogor. Namun karena alasan kejauhan dan ternyata ada yang lebih dekat dari rumah saya, maka saya berusaha mengurus di Kantor BPJS Kompleks Pemda Cibinong ini.

Jadi Faskes ini merupakan tempat kita berobat dan meminta rujukan sebelum si sakit masuk rumah sakit. Faskes ini bisa berupa Puskesmas atau klinik swasta atau dokter keluarga atau balai pengobatan yang telah bekerja sama dengan BPJS.

Baca Lebih Lanjut.

Untuk Para Ayah: 5 Fakta Sosial Bikin Anak Keblangsak


 


Ayah yang mengajarkan anaknya wudhu. (Ilustrasi diambil dari islamicblog.co.in)

Pemuda-pemuda akan tumbuh

sesuai dengan apa yang telah dibiasakan oleh bapaknya.

Pemuda itu tidak hidup dengan akalnya, tetapi dengan agamanya.

Maka dekatkan ia kepada agama.

Pohon yang tumbuh di taman tidak akan sama

dengan pohon yang tumbuh di tanah tandus.


(Syair dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam)

 

Mereka para orang tua yang ditugaskan jauh dari keluarganya akan tahu betapa nikmat terbesar yang mereka miliki adalah kebersamaan dengan keluarga. Maka buat para orang tua yang demikian, janganlah menyia-nyiakan waktu kebersamaan itu.

Walau teknologi sudah mampu mendekatkan orang dalam hal berkomunikasi. Namun tetap saja tak mampu menggantikan hangatnya sebuah pelukan dan tatapan mata secara langsung. Sehebat-hebatnya mendiang Steve Jobs yang memiliki visi menjadi pelopor digitalisasi semua pekerjaan manusia, ia tetap percaya bahwa rapat itu harus bertatap muka. Menurutnya, kolaborasi dan kreativitas tak akan pernah muncul tanpa ada tatap muka. Apatah lagi dalam hal mendidik anak.

Baca lebih lanjut.

Sekrup-Sekrup Kecil: Empat Modus Perkaya Diri Jadi Masa Lalu


 


Pagi itu telepon berdering. Nomornya tidak dikenal. Kemudian terdengar suara seorang perempuan di ujung sana. Tak lama saya baru ngeh. Ternyata suara itu berasal dari seorang perempuan yang pernah saya kenal sewaktu saya menjadi Account Representative di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat. Perempuan ini dulu pernah menjadi tax manager sebuah perusahaan di Sidoarjo. Perusahaan pembalut buat ibu setelah melahirkan ini termasuk ke dalam kategori Wajib Pajak yang taat pajak.

Walaupun saya sudah bertahun lampau meninggalkan kantor itu dan sekarang berada di ujung negeri, ia masih menyimpan nomor telepon saya. Seperti waktu dulu, ia pun bertanya-tanya kepada saya mengenai kasus perpajakan yang ditanganinya. Bedanya, sekarang ia telah menjadi seorang konsultan manajemen. Penanganan kasus perpajakan hanyalah bonus yang diberikan kepada klien yang menyewa jasa konsultasi manajemennya.

Baca Lebih Lanjut

Kisah Nyata Pegawai DJP: Dituduh Sebagai Calon Tersangka Korupsi dan Cukuplah Allah Sebagai Saksi


KISAH NYATA PEGAWAI DJP:

DITUDUH SEBAGAI CALON TERSANGKA KORUPSI

DAN CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI SAKSI

 

Ini kisah yang dituturkan dari teman satu direktorat Gayus Tambunan pada tahun 2010. Saat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diterpa badai kecaman serta pemberitaan yang begitu telanjang dan tidak seimbang karena salah satu pegawainya melanggar kode etik.

Bagaimana rasanya ketika keluarga besarnya mengejek sinis setelah menyaksikan tayangan televisi yang menyebut-nyebut namanya sebagai atasan Gayus? Bagaimana rasanya diberitakan oleh salah satu televisi nasional sebagai “calon tersangka koruptor”? Bagaimana rasanya saat turun dari pesawat ia disapa oleh penumpang yang lain dengan pertanyaan: “Ibu atasannya Gayus?”

Kisah yang diceritakan dan ditulis sendiri oleh Ibu Dwi Astuti ini bisa dibaca dalam Buku Berbagi Kisah & Harapan 2: Bertahan di Tengah Badai yang diterbitkan oleh DJP di tahun 2011 lalu. Selamat membaca.

berkah2

Buku Berbagi Kisah & Harapan: Berjuang di Tengah Badai

Baca Lebih Lanjut

INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA


DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA

Subhanallah, waktu berjalan tiada berhenti. Tiada melambatkan waktunya sedikit pun. Meninggalkan segalanya. Dan sekarang sudah tanggal 3 Agustus 2014 saja. Meninggalkan tanggal 24 Juli 2014–sebagai saat terakhir saya menulis di Tapaktuan–di belakang. Sekarang saya berada di Semarang. Di sebuah masjid yang teduh, Masjid Agung Jawa Tengah. Tahun ini saya kembali mudik ke kota kelahiran istri. Untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan berziarah ke makam mertua.

Setelah menempuh ribuan kilometer dari Tapaktuan dan hanya beristirahat sehari semalam, maka dengan tekad dan niat yang diupayakan selurus mungkin saya berangkat mudik pada hari Ahad. Satu hari menjelang lebaran. Syukurnya Allah memudahkan segalanya. Perjalanan relatif dilancarkan. Hanya menemui sedikit kemacetan di Cijelag dan Jembatan Comal. Ya, untuk tahun ini kembali kami arungi medan laga jalur permudikan melalui jalur tengah. Via Cipularang keluar Gerbang Tol Purwakarta lalu tembus ke Situ Buleud, Wanayasa, Sumedang, Cijelag, Palimanan, Kanci, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal sampai ke Semarang.

Saya yang biasanya ‘ngantukkan’ ternyata mampu kuat mengendarai mobil sendiri tanpa istirahat tidur sampai Batang. Setelah di kota sebelah Pekalongan itu saya merasa capek dan harus berhenti. Sampai di rumah Semarang jam setengah empat pagi. Kalau ditotal maka kami telah menempuh jarak 558 KM dalam waktu 18,5 jam. Alhamdulillah kami  bisa salat Id di tempat. Padahal kami sudah tidak berharap dan tidak diupayakan dengan keras untuk segera tiba di Semarang. Mengingat kondisi jalan, situasi lebaran, dan hanya saya sendiri yang jadi supir.
Baca lebih lanjut

Beginilah ‘Framing’ Media Sekuler Beritakan Syariat Islam di Brunei


Beginilah ‘Framing’ Media Sekuler Beritakan Syariat Islam di Brunei

Suatu sore dalam perjalanan pulang dari Meulaboh sehabis menghadiri pesta “turun tanah” anak dari teman pelaksana di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan, masuk notifikasi dari teman facebook saya yang bernama Mbak Intan Nugraha. Katanya nama saya muncul di fimadani. Saya cek link yang diberikan Mbak Intan. Oh ternyata, Fimadani mengulas status facebook saya. Ya, pada waktu itu status saya berisikan kegalauan membaca berita dari Tribunnnews yang membagi berita dari OkeZOne. Isi beritanya itu lagi-lagi framing (pembingkaian) atas penerapan syariat Islam di Brunei Darussalam. Negeri kecil tetangga kita di pulau Kalimantan.

Dan fakta yang disodorkan oleh taman facebook saya Abu Saif Kuncoro Jati, mengejutkan saya. Ternyata yang menulis itu adalah seorang perempuan jurnalis berjilbab yang seharusnya tak perlu marah-marah dan bisa menerapkan kode etik jurnalisme yang benar. Apalagi di era fitnah seperti sekarang ini. Sudahlah, tak perlu keterusan membahas tampilannya lagi, nanti jadi ad hominem. Tapi yang selalu saya harapkan dari diri saya pribadi dan teman-teman muslim yang lainnya, semoga kita dilindungi dari bentuk tampilan yang berbeda dengan isi. Selayaknya tampilan sama dengan isi. Semoga.

http://news.fimadani.com/read/2014/05/09/beginilah-framing-media-sekuler-beritakan-syariat-islam-di-brunei/

Beritanya Fimadani berikut ini:

Media sekuler memang tidak menyukai berbagai kemajuan yang dicapai Islam dan ummatnya. Oleh karena itu, mereka senantiasa mengkampanyekan hal-hal negatif tentang Islam. Jika tidak ada hal yang negative maka hal-hal yang positif atau netral pun ditunjuk menjadi seolah-olah negatif.

Adalah Okezone.com yang menurunkan berita berjudul Berlakukan Hukum Pidana Syariat, Sultan Brunei Kena Batunya pada Kamis, 08 Mei 2014 15:41. Berita yang ditulis oleh Andyta Fajarini ini berisi tentang kemungkinan tidak berlakunya hokum itu bagi anggota keluarga kerajaan.

Okezone menulis, “Namun, peraturan baru yang diterapkan di Brunei ini sepertinya tidak berlaku bagi keluarga Sultan Hasannal Bolkiah. Pasalnya, banyak sekali Hukum Islam Syariat yang dilanggar oleh keluarga sang Sultan, seperti gaya hidup yang bermewah-mewahan dan juga pesta seks.”

Andyta Fajarini, reporter Okezone yang mengenakan jilbab itu melanjutkan tulisannya, “Putra Sultan Hassanal Bolkiah lainnya yang sering membuat kontroversi adalah Pangeran Haji Abdul Azim. Dia memang dikenal sering mengundang dan membayar selebriti Hollywood untuk hadir di pestanya. Banyak rumor yang mengatakan bahwa Pangeran 25 tahun ini adalah seorang gay.”

Berita itu ditutup dengan kesimpulan, “Terbukti banyak sekali Hukum Islam Syariat yang dilanggar oleh keluarga Sultan. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk berpesta dan berfoya-foya. Tetapi, apakah Hukum Islam Syariat ini akan berlaku bagi keluarga sang Sultan?”

Riza Al Manfaluthi, menjelaskan bahwa framing berita tersebut terlalu dibuat-buat, “Judul tak menyambung dengan isinya. Siapa yang kena batunya? Tak dijelaskan.”

“Hukum syariat mulai diberlakukan 1 Mei 2014. Media ini sudah mengarahkan: “SEPERTINYA” hokum tidak akan berlaku buat keluarga Sultan,” lanjutnya.

“Orang yang cerdas baca berita akan bertanya: Kok berita tidak menyajikan fakta, namun menyajikan ‘seperti-sepertinya’. Dugaan yang belum terjadi, langsung disimpulkan sebagai sebuah fakta,” pungkasnya.

Redaktur: Shabra Syatila

**

Pengantar: Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11 Mei 2014

KOMPASIANA HANYA KOLAM KECIL


Kompasiana Hanya Kolam Kecil

 


Ini mah bukan kolam tapi telaga. 😀 (Gambar diambil dari sini)

 

Saya mau bercerita sedikit. Mau memberikan pilihan kepada Ayah dan Bunda yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Saya mengilustrasikannya seperti ini. Ada anak cerdas di Amerika Serikat. Ia mencintai pelajaran matematika, kimia, fisika, biologi, dan ilmu pasti lainnya. Cita-citanya menjadi seorang ahli sains. Selepas SMA ia memilih kuliah di kampus yang ternama dan bonafide untuk menggapai cita-citanya. Di sebuah universitas tempat anak-anak cerdas berkumpul.

Untuk dapat belajar di kampus itu ia harus melalui ujian SAT. Ujian yang digunakan di banyak sekolah tinggi Amerika Serikat sebagai tes masuknya. Mungkin kalau di Indonesia adalah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)-nya. Di universitas terkenal itu ia memilih jurusan sains tentunya. Ia lulus dan dapat belajar di sana.

Tapi apa yang terjadi? Di tengah perkuliahan ia gagal dan memilih keluar serta berpindah jurusan ke ilmu sosial. Padahal ia sudah menyadari kenyataan untuk tidak menjadi nomor satu di antara orang-orang cerdas itu. Bahkan ia sangat sadar ketika menjadi mahasiswa biasa-biasa saja bahkan paling bawah sekali pun. Ia tak berharap untuk menyaingi mereka. Targetnya adalah mampu bertahan kuliah.

Namun ia tetap bekerja keras untuk dapat menyamai kecerdasan dan mengikuti irama kepandaian dari mahasiswa cerdas di kelasnya itu. Tapi ia selalu mendapatkan nilai B minus seberapa pun kerasnya usaha belajarnya itu. Nilai-nilai yang tak pernah ia dapatkan di SMA-nya dulu. Katanya, teman-temannya itu sampai pada suatu titik egoisme untuk tidak mau berbagi ilmu karena ketat nya kompetensi. Dosennya sampai bilang juga kepadanya untuk tak perlu ikut mata kuliah ini. Ia menyerah. Ia gagal.

Kalau saja ia memilih universitas yang pertengahan, maka ia akan bisa mengikuti irama kuliah dan menjadi terbaik di kelasnya. Ia pun akan tetap pada jalurnya untuk menjadi ahli sains. Ia tidak bodoh. Ia cerdas. Tapi ia salah dalam memilih. Ia tidak membandingkan dirinya dengan mahasiswa di luar kampusnya. Ia hanya menjadikan teman-teman kampusnya sebagai benchmark. Itu membuatnya merasa bodoh dan tak berguna.

Universitas ternama itu adalah kolam besar dan anak cerdas itu ikan kecilnya. Sedangkan jika ia memilih universitas biasa saja atau universitas pertengahan ia sesungguhnya adalah ikan besar dan universitas biasa itu adalah kolam kecilnya. Ayah dan Bunda ingin menjadikan anak Ayah dan Bunda ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar?

Karena berdasarkan penelitian, tak ada signifikansi pengaruh almamater terhadap perolehan pendapatan setelah lulus kuliah. Berdasarkan penelitian pula ada perbandingan seperti ini dengan contoh sederhana. Ada 100 anak tercerdas yang nilai SAT-nya tinggi kuliah di jurusan sains Harvard . Seratus anak yang SAT-nya rendah di bawah daripada mereka yang kuliah di Harvard, kuliah di jurusan sains universitas biasa saja. Dua universitas ini mempunyai metode dan sistem pengajaran yang sama. Ternyata masing-masing dari universitas itu hanya bisa meluluskan 50% saja mahasiswa mereka.

Ini aneh. Seharusnya mereka yang nilai SAT-nya tinggi dan bisa kuliah di Harvard tentu lulus semua. Atau dengan kata lain mahasiswa yang SAT-nya rendah daripada mahasiswa Harvard dan hanya bisa kuliah di universitas biasa saja itu yang tak akan mampu lulus kuliah jurusan sains. Tapi kok malah ada mahasiswa Harvard yang tidak lulus kuliah.

Ini artinya adalah banyak sekali yang mau jadi ikan kecil di kolam besar dengan risiko ia tidak bisa menjadi apa yang diidamkannya, dan tidak memilih menjadi ikan besar di kolam kecil hanya karena gengsi dan kehormatan.

Anak yang saya ceritakan di atas sampai bilang: “Kalau saja saya kuliah di universitas biasa saja itu, saya bakal masih di bidang yang saya cintai dan menjadi ahli sains.” Yang lain bilang: “Lucu sekali banyak mahasiswa matematika dan fisika yang pada akhirnya drop out dan masuk kuliah hukum, setelah lulus menjadi pengacara atau konsultan pajak.”

Saya paham, perusahaan di di Amerika Serikat memilih orang-orang yang terbaik berdasarkan apa yang dihasilkannya bukan semata dari almamater mana ia lulus. Tapi untuk diterapkan di Indonesia mungkin masih cukup sulit karena masih memandang dari mana Anda kuliah. Ini untuk urusan dunia pendidikan. Tapi untuk dunia lainnya bisa jadi bisa.

 

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah penceritaan kembali secara sederhana dalam bahasa dan sedikit imajinasi saya dari apa yang ada dalam salah satu bab buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath. Sebuah buku yang memberikan cara pandang baru dalam memahami fenomena sosial. Bagaimana memandang kelemahan sebagai sebuah keunggulan. Semua orang—dalam medan pertempuran itu—memandang remeh kepada David karena ia melawan raksasa kuat bernama Goliath. Tapi sejarah mencatatnya bahwa apa yang dianggap sebagai kekuatan itu rontok tak berdaya di hadapan sosok “penuh” kelemahan. Dari empat buku yang ditulis sebelumnya saya lebih menikmati buku terbarunya ini. Buku ini anti mainstream.

 

Dalam dunia tulis menulis Anda bisa menjadi ikan besar di kolam kecil untuk menjadi orang yang dikenal sebagai penulis hebat. Misalnya dengan konsisten menulis dan mengirimkan tulisan ke media di bawah Kompas. Atau membuat sebuah media sendiri tempat buat para penulis berkreasi tanpa ada seleksi, juri, dan keterbatasan lainnya. Tanpa mengesampingkan kualitas tentunya. Tak perlu berkecil hati. Kompasiana, saat ini, bisa menjadi kolam kecilnya. Dan banyak kompasianer yang telah menjadi ikan besarnya di sana.

Seperti Monet, Degas, Cezanne, Renoir, dan Pisarro yang tidak akan pernah dikenal dunia jika mereka hanya menjadi ikan kecil di kolam besar dengan hanya bertahan bagaimana bisa memasukkan karya mereka di galeri “Salon” yang benar-benar ketat dalam seleksi dan tempatnya sangat terbatas.

Tapi akhirnya mereka membentuk komunitas tersendiri untuk mengenalkan lukisan impresionisme dan mereka menjadi ikan besar di kolam kecil. Pada akhirnya mereka dikenal dunia. Lukisan mereka banyak dicari orang. Saya memilih menjadi ikan besar di kolam kecil. Anda?

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana: http://media.kompasiana.com/buku/2014/05/09/kompasiana-hanya-kolam-kecil-652009.html