Review Buku: Pajak dan Komunikasi, Cerita dari Lapangan


Bagaimana cara pegawai pajak menghadapi mantan atasan yang menjadi konsultan pajak? Bagaimana pula menghadapi wajib pajak yang tidak kooperatif? Bagaimana cara mengirim warta melalui Whatsapp agar tidak terjadi salah pengertian? Buku Pajak dan Komunikasi, Cerita dari Lapangan adalah jawabannya.

Menyadari betapa komunikasi dengan para pemangku kepentingan—utamanya wajib pajak—teramat penting dan dapat membangun citra positif Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di mata masyarakat, Kepala Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus Irawan meluncurkan secara resmi buku itu di sela-sela rapat koordinasi kantor pelayanan pajak se-kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus di Sentul, Bogor pada Selasa, 10 Desember 2024.

Continue reading Review Buku: Pajak dan Komunikasi, Cerita dari Lapangan

Bang Arie: Orang Betawi Memang Banyak Gayanya


Namanya Arie Irawan. Bang Arie adalah panggilannya. Lelaki Betawi berpeci dan berambut panjang ini meneruskan usaha menjual kerak telor dari mendiang engkong dan babehnya. Sejak tahun 2000 ia menekuni usaha itu. “Setiap tahun saya juga jualan di PRJ (Pekan Raya Jakarta),” katanya. Kerak telor memang sudah menjadi ikon PRJ sejak dulu. Ada sekitar 60-an pedagang kerak telor di area dalam PRJ. Mereka tergabung dalam paguyuban penjual kerak telor.

Usai perhelatan itu, ia langsung membayar uang muka kepada paguyuban PRJ untuk memastikan tahun depan lapaknya tidak tergantikan. Nilainya besar sekitar puluhan juta rupiah. Biasanya ia mangkal di Kranji, di depan Kantor Kecamatan Bekasi Barat. Selain itu, ia mengikuti kegiatan UMKM di kantor-kantor. Contohnya di Kompleks Pajak Kalibata selama dua hari ini. Dari rumahnya di Bekasi, ia menyewa taksi daring untuk membawa pikulan dan peralatan masaknya ke Kalibata.

Continue reading Bang Arie: Orang Betawi Memang Banyak Gayanya

Peanut Butter Manifesto


Majalah internal baru sebatas terbit, belum menjadi media yang dinanti-nanti oleh pembacanya.

Kecanggihan teknologi membuat semakin banyak kantor pelayanan pajak (KPP) memproduksi majalah internal. Kecanggihan itu tecermin pada mudahnya penyebaran majalah kepada 45 ribu pegawai DJP melalui aplikasi surat Nadine. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan pada lima tahun sebelumnya.

Dulu, majalah harus dicetak dan dipublikasikan secara fisik yang memunculkan biaya tinggi. Pencetakan bisa memakan biaya 20—30% dari keseluruhan ongkos produksi. Menurut Will Lubaroff dari walsworth.com, biaya pendistribusian bisa menghabiskan setengah dari total biaya produksi majalah.

Baca Lebih Lanjut

Seberkas Cahaya Melintas di Wajahnya


Gambar sekadar ilustrasi pemanis.

Langit gelap di atas Kalibata. Saat itu hujan hampir reda. Ikamah Asar berkumandang dari pelantang Masjid Salahuddin. Saya bergegas ke masjid dan mengambil air wudu.

Ada satu orang yang tidak salat. Anak belasan tahun dengan baju basah sedang memegang payung lebar. Sepertinya ia ojek payung yang sedang menunggu para jemaah menyelesaikan salat. Anak itu menunggu di luar halaman masjid. Hujan menyisakan gerimis.
Baca Lebih Banyak

Kembali ke Bandung dan Sajak-Sajak Kecil kepada M


Saya kembali ke Bandung. Kota yang banyak meninggalkan kenangan sedari dulu. Goenawan Mohamad pernah menulis catatan pinggir dengan judul satu kata itu. Lead-nya demikian:

Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”

Baca Lebih Lanjut

Cara Paling Brutal Menjadi yang Paling Menyedihkan


 

Sajak-sajak ini dipublikasikan pertama kali di akun media sosial Instagram saya di @riza_almanfaluthi.

Untuk pembaca yang ingin membaca dan memesan buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang bisa mengeklik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

Tersedia buku Sindrom Kursi Belakang yang sekarang hanya menyisakan puluhan eksemplar saja.  Untuk sinopsisnya bisa dibaca di sini.

Buku Kita Bisa Menulis, Belajar kepada Mereka yang Tak Menyerah juga tersedia di tautan di atas. Buku ini sudah cetakan ketiga karena banyak yang mendapatkan manfaat dari panduan menulis yang ada dalam buku tersebut.

 

Lomba Baca Puisi Hori ke-78: Keragaman Interpretasi dan Gaya Membaca yang Sangat “Mereka


Kinan Fathiya Almanfaluthi pernah meminta kepada saya untuk menciptakan satu puisi. Niatnya, puisi itu akan dimusikalisasi dan dibacakan dalam lomba pencarian bakat di sekolahnya.

Puisi itu saya beri judul Kau Bukan Pecundang yang Bisa Ditemui di Setiap Lampu Merah. Singkat cerita, mereka menang lomba. Dari berbagai testimoni yang Kinan dengar dari guru dan teman-temannya dan diceritakan kembali kepada saya, puisi itu sangat menggugah. Oke, terima kasih.

Baca Lebih Lanjut

Menemukan Fotomu yang Tertinggal di Saku Celana Panjangku


 

 

Obituari untuk Mohammad Novaldi


Kabar itu mengentak saya di Rabu petang. Mohammad Novaldi meninggal dunia. Sesungguhnya kami hanya milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali.

Esoknya itu saya cuti setengah hari. Mendatangi rumah duka dan menyalatinya. Kami pernah berkantor yang sama di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan sejak 2013 sampai dengan 2017. Saya pun pernah satu kantor dengan istrinya di Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat setelah saya mutasi dari Tapaktuan.

Baca Lebih Lanjut

Jika Sempat, Singgah Dulu ke Rotterdam, Yas


Waktu mengantar Ayyasy ke Bandara Soekarno Hatta pada 27 April 2024.

Waktu itu Pasar Minggu sedang hujan deras. Apalagi pas jam pulang kantor. Terowongan Pasar Minggu menuju Tanjung Barat hanya bisa dilalui satu jalur karena banyak pemotor yang berteduh di sana.

Saya menelepon Ayyasy. Dering itu tidak lama. Ayyasy langsung mengangkatnya. Ia sedang tidak bekerja. Ayyasy memang sedang libur kuliah, libur semesteran. Ia sudah hampir empat tahun di Jerman. Hampir tiga tahun ia berada di Berlin saat ini. Menuntut ilmu di Technische Universität Berlin.

Continue reading Jika Sempat, Singgah Dulu ke Rotterdam, Yas