
Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”
Saya tak mau membahas tulisan itu dan penulisnya. Saya hanya ingin menggumamkan perjalanan tiga hari di kota itu. Untuk apa ke sana lagi? Masih seperti biasa, ada penugasan rapat di sana.
Saya naik mobil travel di Senin pagi. Menggunakan transportasi itu semata kepraktisan belaka. Dekat dengan rumah dan tidak berletih-letih mengemudi sendiri. Karena jadwal rapat itu siang hari, saya memesan tiket perjalanan di waktu yang jembar. Tidak juga pagi buta.
Sebelum sampai di Dipati Ukur, pul terakhir travel, saya sudah meminta untuk diturunkan di Pasteur. Dekat dengan pul taksi berjenama terkenal itu. Dari sana saya melanjutkan perjalanan menggunakan taksi menuju hotel dekat Lapangan Gasibu dan Gedung Sate. Strategis nian memang lokasi penginapannya.
Di siang itu, kami rapat sampai sore. Malam harinya saya makan malam dengan kepala kantor kami, Ibu Rina Lisnawati, dan teman-teman lainnya. Sudah itu saja. Tidak lanjut dengan ngopi-ngopi malam. Singkat cerita saya bangun esok paginya.
Saya bersiap-siap lari pagi. Karena memakai kopor, saya leluasa membawa sepatu lari. Saya berniat lari memang, setidaknya selama di Bandung ini saya harus bisa lari pagi sekali. Keluar dari hotel, saya menuju Lapangan Gasibu yang sudah penuh dengan mereka yang berolahraga. Saya berlari dua kali putaran dan kemudian keluar mencari rute baru untuk menggenapi jarak 5 km.
Jalanan di sekitaran Gedung Sate rindang dengan pepohonan. Hawanya sejuk dibandingkan daerah Bintaro dan Tangerang Selatan. Sudah pastilah. Sebuah kenikmatan bisa lari pagi di setiap daerah yang saya kunjungi. Suatu saat saya ingin kembali mengikuti ajang Bandung Pocari Sweat Run. Di ajang itu dulu, saya pernah menyelesaikan maraton dengan waktu terbaik.
Pagi itu, saya kemudian rapat sampai sore. Nah, acara bebas di petangnya. Saya tak tahu akan ke mana. Cuma memang saya ingin sekali untuk mendatangi Makmur Jaya Coffee Roaster. Yang saya tahu kiosnya ada di Lengkong. Kalau dari Lapangan Gasibu tentunya jauh sekali. Namun, ada kios yang lebih dekat dengan Lapangan Gasibu. Jaraknya 1,3 km. Jarak itu biasanya saya tempuh dengan berjalan kaki sekalian olahraga sore juga. Kali ini tidak. Saya ingin cepat saja. Saya menggunakan ojek daring ke sana.
Lihat Daftar isi buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
Baca Sinopsis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
Sesampainya di tempat, saya tidak langsung memasuki kios kopi. Saya cari makan dulu di sekitaran Jalan Sawunggaling itu. Tidak ada yang istimewa. Pilihan saya jatuh pada warung di pojokan jalan. Azan Magrib berkumandang saat saya menyelesaikan makan malam.
Seusai makan, saya segera menuju ke tujuan utama saya: Makmur Jaya Coffee Roaster. Ini kopi dabes banget dah. Setelah dikenalkan oleh anggota tim saya dulu waktu di Direktorat P2Humas DJP, saya berulang kali mampir ke sana kalau ada penugasan di Bandung. Beramai-ramai atau sendiri saja. Pernah saya jalan kaki dari Jalan Braga ke Jalan Lengkong Besar. Sekadar untuk satu gelas plastik kopi susu ukuran reguler.
Kios di Jalan Sawunggaling ini berada di bangunan lawas. Interiornya pun demikian. Halaman parkir penuh. Suasana kafe ramai dipenuhi pengunjung. Saya memesan kopi susu gandumnya. Kasirnya bilang kalau susu oat itu sedang habis. Akhirnya saya memesan menu paling larisnya, yaitu kopi susu. Saya pesan tanpa gula. Kasirnya menolak pemesanan itu. Kopi susu tetap harus ada gulanya, walaupun sedikit. Sang kasir mengatakan, supaya gulanya itu berkurang manisnya, kopi susu bisa ditambah dengan satu shot espreso lagi dan itu gratis. Oke saya menyetujuinya.
Saya berniat sejenak minum kopi di sana, namun melihat keramaian yang ada, saya bungkus saja kopi itu. Salah satu kutipan terkenal dalam buku Walden yang ditulis oleh Henry David Thoreau adalah seperti ini: “I never found the companion that was so companionable as solitude.” Saya tidaklah semahir Thoreau berkawan dengan sepi, tetapi kali ini keramaiannya sungguh menyesakkan. Satu gelas itu saya bawa pulang kembali ke penginapan dengan menggunakan ojek daring.
Malam kedua saya lalui di kamar belaka, sambil menyeruput sisa kopi susu di gelas plastik. Buku Eric Weiner berjudul The Geography of Genius yang sengaja saya bawa dari Jakarta masih tergeletak di meja. Posisinya tak berubah sedari pagi.
Hari ketiga rapat masih lanjut. Ada acara seremonial di sana berupa pemberian anugerah Kantor Pelayanan Terbaik Tahun 2024 Tingkat Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus. Syukurnya kantor saya mendapatkan peringkat pertama. Sebuah penghargaan yang dinanti-nanti selama bertahun-tahun. Tiga tahun pertama, sejak 2020 sampai dengan 2022, kantor kami mendapatkan juara ketiga dan tahun lalu menjadi juara favorit. Dengan penghargaan terbaru ini, kantor kami mewakili Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus dalam lomba KPT Tahun 2024 tingkat nasional. Semoga Allah ridai.
Siangnya saya kembali ke Jakarta. Saya masih menggunakan moda transportasi yang sama, mobil travel. Tiada yang istimewa dalam perjalanan pulang. Saya duduk di tempat favorit saya, di samping sopir. Sekadar lubang AC yang menyorot langsung membuat saya yang tak berjaket ini kedinginan. Sampai di sana satu bait puisi Agus Noor yang berjudul Sajak-sajak Kecil kepada M terlintas di kepala:
Entah kenapa aku ingin membelikanmu jaket
yang setiap kali kaupakai, akan juga menghangatkan
kerinduanku.
Baca satu bab gratis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
Baca Kata Pengantar buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.
***
Riza Almanfaluthi
9 November 2024
Pemesanan buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

nostalgia yg akan slalu diingat …☕
LikeLiked by 1 person
Terima kasih.
LikeLike