Makan-makan di Rumah Luna


Adiknya Luna telah lahir ke muka bumi beberapa waktu yang lalu. Luna itu putrinya teman kami di Subdirektorat Banding dan Gugatan II (BG2), Direktorat Keberatan dan Banding (DKB). Maka Jum’at lalu (26/4) kami berbondong-bondong menjarah datang ke rumahnya untuk menghabiskan segala yang ada di sana.

Gule kambing lengkap dengan kepalanya, tempe penyet, ayam goreng, tahu, tempe, bakso dan masih banyak lagi yang lainnya lenyap segera. Tinggal sedikitlah tersisa. Memang ganas-ganas mereka ini. Kata @melsharfey kita itu ibarat piranha. Ikan yang cuma ada dan hidup di Amazon. 🙂

Sebelum makan siang berdoa terlebih dahulu. Dipimpin oleh saya sendiri. Namun usainya, saya diprotes oleh Mpok Farah karena saya mendoakannya begini: “Ya Allah berikanlah keberkahan kepada kami, kepada istri-istri kami, dan anak-anak kami.” Katanya: “Seharusnya istri kami, bukan istri-istri kami.” Karepmu lah Mpok. He-he-he…

Di bawah ini gambar-gambar yang bisa abadi dalam kenangan kami suatu saat kelak.

image

Si cantik Luna dengan topi dan gitarnya.

IMG-20130426-WA0010

Luna dan Opa Psy 007 (baca: Rifun)

image

Anggota girlband: Fatin Fatih Chibi.

image

Main congklak atau dakon oleh para perempuan kami yang masa kecilnya kurang bahagia. Mpok Farah dan @melsharfey sing laka-laka (wong Tegal aselih)

image

Pak Yon Suryayuda, bapak kami.

image

Pak Widi, Mas Sapto, Uda Marzaini, dan Mas Adi  Prasetya. Sepertinya sedang kelaparan tak tertahankan.

image

Ini lagi ikut-ikutan main congklak tanpa aturan. Masak mereka tak giliran mainnya. Maklum mereka pembesar DKB.

image

Nah kalau yang ini adiknya Lunaaaa…. I love you beib.  Semoga jadi anak sholih.

image

Eyang Subur, Eyang Tandus Sesepuh di DKB. Mas Unesa. Ia seorang figuran cameo di film Sang Murabbi walau cuma sekelebatan doang. Eh enggak ding…

image

Fatih Chibi, Kang Aher alias Mas Benny, dan Mas Sehat (dari kiri.ke kanan)

image

Maaf gambar ini tak ada kaitannya dengan acara kami.

image

Us

image

BiG 2. Mas Pulung dan TP.

Sudah ah, sudah malam. Jadi saya selesaikan saja sampai di sini. Mohon dimaafkan jika ada yang tak berkenan. Salam.
***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di Ranting Cemara
1 Mei 2013

PARADOKS KEBERHASILAN DJP


Paradoks Keberhasilan DJP


Sudah banyak yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk berbenah, berubah, dan menjadi institusi baru, institusi modern yang dipercaya masyarakat. Antara lain dengan meninggalkan budaya korup dan meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak. Tetapi apa lacur, sepertinya semua yang telah diusahakan DJP dengan kerja keras itu sia-sia. DJP tetap menjadi bulan-bulanan dalam stigmatisasi.

Itu kerap muncul saat oknum pegawai DJP ketahuan telah berkolaborasi dengan Wajib Pajak mengecilkan jumlah pajak yang harus dibayar atau pada saat tertangkap tangan menerima uang suap. Opini yang terbangun seakan-akan meruntuhkan bangunan kokoh kepercayaan dalam sekejap. Yang mengemuka, itu semua bukan sebagai sebuah niat baik DJP atau hasil dari bersih-bersih diri, tetapi adanya cap bahwa perangai buruk itu akut untuk bisa disembuhkan.

Semula persepsi masyarakat begitu pekatnya tentang DJP jika terlintas dalam pikiran. Padahal ada banyak titik kulminasi keberhasilan yang telah dicapai. Sebagaimana budaya sogok menyogok yang telah mendarah daging tetapi mampu untuk ditinggalkan walau tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ini patut diapresiasi semua pihak.

Perubahan struktur organisasi dan implementasi teknologi informasi yang berusaha menyentuh kepada kebutuhan dasar Wajib Pajak sebagai customer DJP juga menjadi keberhasilan lainnya yang diraih. Semata-mata agar tak ada lagi kredo: membayar pajak saja susah.

Cobalah tengok pada pelayanan birokrasi lainnya sebagai patok duga (benchmark). Maka selayaknya apa yang telah ditunjukkan DJP menjadi luar biasa bedanya. Semua menjadi mudah buat Wajib Pajak, cukup datang kepada Account Representative untuk tempat bertanya segala. Tidak perlu datang ke banyak meja buat meminta solusi.

Pun, bila ingatan publik disegarkan pada sebuah capaian kuantifikasi penerimaan pajak yang selalu meningkat dari tahun ke tahun, maka kinerja ini seharusnya tak ada yang dinafikan. Tapi fakta berkata lain.

Perilaku Dasar

Inilah yang disebut sebagai Paradoks Keberhasilan. David Mosby dan Michael Weissman dalam bukunya The Paradox of Excellence (2005), menggagaskan bahwa semakin baik Anda melakukan pekerjaan, semakin tidak terlihat performa Anda—pada segala hal kecuali pada sesuatu yang buruk. Performa yang luar biasa justru akan membunuh Anda.

DJP telah memberikan performa terbaiknya dari tahun ke tahun. Masyarakat tahu ada yang berubah dan diraih DJP. Tetapi seiring berjalannya waktu, masyarakat pun mulai mengharapkan tingkat performa yang tiada terbatas. Kesuksesan yang dicapai sebelumnya menjadi tak terlihat dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Apalagi ketika sesuatu yang buruk terjadi, semua pencapaian itu ditaksir nihil.

Getaran dari pusat gempa Paradoks Keberhasilan ini terdeteksi menggejala dalam bentuk publik hanya melihat lebih pada kekurangan daripada keunggulan atau hal-hal yang utama. Publik mulai sensitif pada semua apa yang dimunculkan DJP, antara lain dalam kebijakan, layanan, dan peningkatan remunerasi.

Satu penyebab utamanya menurut Mosby dan Weissman jika gagasannya diinstalasikan di DJP adalah karena DJP lalai memperkuat nilai yang membedakan, sehingga membuat publik mengevaluasi performa DJP dalam situasi yang memuncak.

Ini terperilakudasarkan pada kebiasaan DJP yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan prospektus daripada dengan publik. Prospektus itu bisa saja dalam bentuk laporan keuangan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan atau laporan tahunan kinerja DJP atau grafik diagonal yang menaik dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara. Seringkali itu membius.

Atau DJP menganggap bahwa publik secara otomatis akan memerhatikan peningkatan peforma dan menilainya. Padahal tidak. Anggapan ini pada dasarnya memaksa publik untuk membuat alat ukur sendiri dalam menilai kembali performa DJP, membiarkan mereka menggunakan kriteria penilaian mereka sendiri, dan bisa jadi kriteria itu malah tidak sesuai dengan keinginan DJP. Bila hal ini dibiarkan, kepercayaan dan loyalitas publik akan sirna. Oleh karenanya DJP-lah yang seharusnya memberi mereka konteks.

DJP seharusnya memberikan pemahaman kepada publik bahwa apa yang terjadi sekarang ini—badai penangkapan pegawainya yang terlibat suap—adalah sesuatu yang anomali dan bukan kejadian biasa.

Penguatan Nilai

DJP kiranya harus mempunyai nilai yang unik dan membedakan dengan birokrasi lainnya. Untuk mengatasi Paradoks Keberhasilan, nilai-nilai itu terus-menerus harus dikuatkan.

Sebagai bagian dari Kementerian Keuangan, DJP sudah mempunyai nilai-nilai itu:
integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, kesempurnaan. Tapi sudahkah nilai itu unik dan berbeda? Sudahkah tertanam lekat dalam benak publik?

Sebagaimana orang berpikir tentang mesin pencari, maka orang akan langsung terpikirkan tentang Google, karena ia mempunyai nilai yang unik dan membedakan daripada yang lain yaitu kecepatan dalam pencarian.

Jika kemalaman, tidak tahu jalan, dan butuh taksi maka orang akan memilih taksi berwarna biru ini: Blue Bird. Nilai yang tertanam dalam benak masyarakat tentang perusahaan angkutan itu adalah kepercayaan. Tak ada suatu keraguan pada argo, keamanan, dan kejujuran supirnya.

Siapa yang tak kenal dengan Harvard Business School, sekolah bisnis paling berpengaruh dan sukses di dunia. Nilai yang teradopsi dalam pikiran tentang sekolah ini adalah jaminan mutu. Maka sering kali terdengar para alumnusnya berkata, “Saya bukan lulusan Amerika, tetapi lulusan Harvard.”

Lalu apa yang melekat di benak masyarakat tentang DJP? Inilah yang perlu dikuatkan. Sehingga ketika publik bertemu dengan seorang petugas pajak ia akan langsung teringat pada entah keteguhan integritasnya, semangat profesionalismenya, kualitas pelayanannya, dan lainnya. Bukan lagi teringat pada sosok pegawai negeri sipil muda golongan IIIa tetapi punya rekening puluhan milyar rupiah.

Komunikasikan Nilai

    Langkah selanjutnya ketika DJP sudah fokus pada nilai yang dikuatkan adalah secara maksimal DJP mampu mengomunikasikan nilai-nilai itu. Yang perlu diingat adalah penginformasian ini bukanlah dalam sebuah bentuk promosi diri sendiri.

Karena, mengutip Mosby dan Weissman, Paradoks Keberhasilan bukanlah mengenai kebanggaan diri sendiri; tapi mengenai komunikasi yang jujur dari performa nyata dan penerimaan nilai yang pantas untuk performa itu. Promosi diri sendiri tidak akan menyelesaikan Paradoks Keberhasilan; justru akan semakin membesarkan.

Mengomunikasikan nilai ini adalah dalam rangka membuat DJP terlihat. Sebagaimana Google mampu menginformasikan kecepatan pencariannya pada penggunanya seketika proses pencarian selesai. Ketika kata pajak dicari, Google memberikan data: Sekitar 52.900.000 hasil (0,12 detik).

Kasir toko retail ternama di negeri ini ketika memulai dan mengakhiri menghitung barang belanjaan ia akan memencet tombol jam digital untuk mengetahui seberapa cepat ia melayani satu pelanggan dalam waktu yang telah ditetapkan manajemen serta diharapkan oleh customer. Hasilnya selalu diluar ekspektasi.

Potensi penyebaran informasi performa DJP ini bisa pada setiap lembar penerimaan surat yang diberikan kepada Wajib Pajak, atau lembar produk hukum seperti surat tagihan pajak, surat ketetapan pajak, surat keputusan keberatan atau lainnya. Atau dengan senyuman dan keramahan tulus pada setiap ujung tombak pelayanan. Inilah yang disebut DJP memberi konteks.

    Akhirnya, saat semua itu terlihat, publik tidak mudah hanyut pada arus utama pemberitaan dan stigmatisasi. Walau disadari itulah harga yang harus dibayar untuk setiap perubahan dan keberhasilan.

***

 

Riza Almanfaluthi

Pegawai di Direktorat Keberatan dan Banding, DJP

Naskah Lomba Dimuat di e-magazine DJP edisi April 2013

One Team: Tour of Duty


image

Siap-siap berangkat ke Pengadilan Pajak. Yang pake batik merah: Toni Siswanto.

30 April 2013.

Teh dan Cutter di Suatu Hari dengan Matahari Cuma Jadi Pajangan


2013-04-29 08.39.43

Setumpuk pekat teh dan gula pasir terajang cairan panas, menggeliat kesakitan. Uap nanahnya menguar kemana-mana terbang melayang, menyelinap, dan memberontak hingga masuk ke hidung berdebu dan minggat tanpa pamit ke langit-langit yang dengan duka-cita menyambut. Kurang ajar. Ia tak tahu kalau aku kedinginan semalam dan butuh kehangatannya. Sedetik yang baru saja lewat, kita tak tahu untuk apa kita minum teh? Merayakan senin atau membuang gulana yang sudah jadi daki di leher? Sampan di ujung dermaga kayu ini telah siap melayarkanmu, dan terjun bebas di Niagara. Selamat pagi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

29 April 2013

 

 

THINK BEFORE RECORD, TOLITOLI


THINK BEFORE RECORD, TOLITOLI

 

Islamedia –Lima orang siswi pelaku penistaan agama telah dikeluarkan dari SMA Negeri 2 Tolitoli dan tidak diperkenankan untuk mengikuti ujian nasional untuk tahun pelajaran 2012-2013. Ini merupakan hukuman berat buat para pelaku walaupun mereka masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian paket C tahap kedua bulan Juni 2013 mendatang.

Penistaan agama yang dilakukan mereka adalah dengan melakukan praktik gerakan shalat diselingi lagu one more night, memplesetkan surat Al-Fatihah, mengombinasikannya dengan tarian hiphop, ditambah dengan gerakan-gerakan seronok dan tak senonoh. Pelaku mendokumentasikannya dalam kamera telepon genggam lalu mengunggahnya dalam situs jejaring sosial facebook.

Apa yang dilakukan mereka tidak lepas dari gejolak jiwa muda yang tidak memikirkan dampak negatif dan jangka panjang dari apa yang diperbuatnya. Keisengan yang berbuntut pada tuduhan pelecehan agama. Tingkah laku mereka pun menambah daftar panjang perempuan muda sebagai objek di depan kamera. Dengan maksud yang sama, cuma iseng-iseng, rela telanjang dan direkam lalu gambarnya disebarkan oleh orang yang tak bertanggung jawab di berbagai forum diskusi jagat maya. Maka selain jargon think before click layak pula diperhatikan: think before record.

Tidak bisa tidak ini juga merupakan ekses pembangunan dunia informasi dan komunikasi di negeri ini. Kecanggihan telepon genggam, perkembangan internet hingga pelosok, maraknya media sosial, kecepatan unduh dan unggah file, fenomena Gangnam Style dan Harlem Shake, telah mengubah perilaku sebagian generasi mudanya untuk tak malu-malu dan semutakhir mungkin memberitahukan kepada dunia apa yang telah, sedang, dan akan mereka lakukan dalam bentuk teks, gambar, ataupun format video. What’s happening?
What’s on your mind?

Kerja Bareng

Yang paling jelas dari semua itu adalah ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Lalu siapa yang harus disalahkan?

Dalam surat elektronik yang dikirimkan oleh pihak SMA Negeri 2 Tolitoli kepada pihak media untuk menjelaskan kronologis peristiwa tersebut, ada dua saran yang mengemuka yakni perlunya pengawasan dari para orang tua dan pendidik kepada peserta didik dalam interaksinya di dunia maya, serta perlunya pembekalan dan bimbingan iman dan akhlak agar ruang gerak mereka terkontrol dengan nilai-nilai ajaran agama.

Ajakan kepada para orang tua dan pendidik untuk ikut serta mengantisipasi agar kejadian tersebut tidak berulang adalah hal yang bagus. Tak ada saling tuduh siapa yang harus bertanggung jawab atas perbuatan para siswi. Daripada sekadar menyalahkan sekolah yang tak mampu mengawasi ataupun para orang tua yang menyerahkan seluruhnya pendidikan dan penanaman nilai-nilai kepada pihak sekolah, ajakan itu meluruhkan ego dan mengafirmasi bahwa sekarang saatnya kerja bareng meluruskan apa-apa yang telah bengkok dan membetulkan apa-apa yang telah salah.

Orang tua dan para pendidik sebagai orang-orang terdekat para siswa perlu menanamkan pemahaman kepada mereka untuk bisa berinternet secara sehat. Jangan pula bosan untuk menanamkan nilai-nilai agama setiap saat kepada para murid. Ditengarai, semakin sibuknya para orang tua dalam mencari nafkah dan semangat kebebasan yang kebablasan pascareformasi menjadi sebab sungkannya para orang tua dalam penanaman nilai-nilai itu. Alasan: “mereka sudah gede” seakan menjadi pembenar bahwa selesailah tugas orang tua dalam mendidik. Padahal tidak.

Bagi penulis, kata ‘sering-seringlah’ menjadi salah satu kiat dalam mendidik anak. Sering-seringlah mengajarkan kepada anak tentang iman dan amal shalih. Sering-seringlah menegur ketika kesalahan terjadi—tentu dengan cara yang baik. Sebuah pendiaman hanya akan menjadi pembenaran akan kesalahan. Jangan bosan untuk mengingatkan mereka tentang kenikmatan surga dan kengerian neraka. Yang paling penting adalah menunjukkan sebuah keteladanan, karena keteladanan lebih berharga daripada 1000 nasehat.

Jangan Dibuli

    Dua hukuman di dunia yang diterima oleh para siswi tersebut adalah hukuman yang berat. Tidak akan ada cerita kelulusan sebagaimana teman-teman mereka yang lain. Keceriaan terampas dengan kesedihan yang menimpa pula kepada orang tua mereka. Sebagai mukallaf
yaitu pribadi muslim yang sudah dikenai hukuman dan bertanggung jawab terhadap dosa-dosanya sendiri, meminta ampunan kepada Allah adalah cara terbaik. Untuk selanjutnya menatap masa depan dengan lebih optimis lagi. Dunia tidak berakhir karena tidak mengikuti ujian nasional.

    Ketika permohonan ampun telah dipanjatkan, penyesalan sudah ditunjukkan, hukuman sudah dijalankan, maka mental para siswi pun perlu dipertimbangkan. Tidak membulinya dalam kehidupan sehari-hari adalah langkah yang elok. Semata mereka adalah bagian dari generasi masa depan Indonesia, bagian dari generasi yang akan mengalami bonus demografi di tahun 2020-2030.

Yaitu bagian dari penduduk Indonesia berusia produktif (15 tahun-64 tahun) dengan beban tanggungan berkurang dalam menanggung penduduk yang tidak produktif. Yang pada akhirnya mampu menjadi penggerak utama ekonomi bangsa, dengan iman dan masa lalu sebagai pondasi dan pelajaran paling berharga. Kita selalu punya harapan.

***

 

Riza Almanfaluthi on Twitter: @rizaalmanfaluth

    18:53 20 April 2013    

    dimuat pertama kali di: http://www.islamedia.web.id/2013/04/think-before-record-tolitoli.html

Once Upon a Time in Jeddah


image

‘Rasyid Sidek’–pebulutangkis Malaysia era 80-an–bersama istri di Jeddah. Di sebuah senja yang hangat.

Togetherness is Golden


image

Foto Lama Para Penggawa Subdirektorat Banding dan Gugatan II

Sanadnya begini, Kang Asep–teman sesama Penelaah Keberatan–pernah mendengar dari gurunya kalau: togetherness is golden. Riwayatnya sahih. Tidak dhaif bahkan munkar. Kalau dilihat dari matannya sahih pula. Memang betul sih kalau kebersamaan itu emas. Berharga. Tak ternilai.

Foto di atas adalah bentuk mengabadikan kebersamaan itu. Ada yang sudah pindah kantor ataupun resign dari DJP. Tapi itu tak membuat tali ikatan batin terputus sebagai sesama Penelaah Keberatan yang pernah bertugas di Pengadilan Pajak. Pahit getir menghadapi Pak Hakim dan Pak Jaksa, menunggu persidangan sampai malam menjelang, buka puasa di stasiun Gambir ataupun di lobi Gedung Sutikno Slamet, dan masih banyak momen-momen lainnya yang memupuk kebersamaan. So, melihat foto di atas adalah upaya mengenang saat-saat kebersamaan itu.

Dari foto di atas coba lihat dengan teliti, penampakan mana yang mirip dengan saya. Kalau Anda familiar dengan wajah saya tentu Anda dengan mudah mencarinya.

Kalau Anda ingin merasakan apa yang sedang saya rasakan sekarang ini. Coba abadikan setiap momen yang ada dengan kamera. Lalu lihat hasilnya beberapa waktu berselang dalam hitungan tahun. Akan Anda rasakan betapa teman-teman kita itu baik-baik semua pada kita. Rasakan saja.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di Ranting Cemara
Lantai 9 Gedung Sutikno Slamet Pengadilan Pajak
Di sela-sela penantian
10.41 1 Mei 2013 15 April 2013.

Hitler dan Akhwat


Ini video lucu abis. Bikin ane ngakak di kereta sepulang dari ikutan workshop di Aston Bogor yang punya view menarik. Wajib ditonton. 🙂

SAAT TEPAT BACA ULANG: M E L


MEL

(Oleh: Riza Almanfaluthi)

 

Rambu dilarang stop terlihat tampak mencolok. Tetapi betapa banyak, pagi itu, metromini yang masih bertahan untuk menaikkan calon penumpang. Padahal tidak jauh dari sana terdapat beberapa petugas polisi yang membiarkan begitu saja praktik itu.

Setelah penuh terisi, metromini segera melaju dan sang supir berteriak ke arah kenek untuk menyiapkan mel. Besarnya lima ribu rupiah yang diserahkan kepada timer yang berada di ujung jalan. Sudah tahu sama tahu kalau mel itu akan mengalir kepada para petugas.

Teriakan kata mel itu mengingatkan pada peristiwa 22 tahun lampau, cerita tentang para pedagang asongan di Stasiun Jatibarang, Indramayu, yang menjajakan jualan mereka di kereta api jarak jauh dari stasiun ke stasiun.

Mereka tidak dapat naik kereta api sembarangan, karena tidak semuanya berhenti di Stasiun Jatibarang. Kereta api jarak jauh ini hanya berhenti di stasiun tertentu. Jarang ada pedagangnya. Ini berarti tidak ada pesaing. Peluang dagangan laris begitu besar.

Para pedagang asongan punya cara tersendiri untuk dapat naik kereta api tersebut. Jelas, mereka tidak bisa naik dari tempat biasa. Mereka harus menghentikan kereta api itu jauh dari stasiun. Tepatnya di persinyalan yang jaraknya lebih dari 500 meter.

Kereta api tidak selalu berhenti di persinyalan. Maka untuk memastikan kereta api itu berhenti, mereka patungan uang untuk membeli beberapa bungkus rokok. Lalu lima sampai enam bungkus rokok itu diikatkan di patahan ranting pohon. Ketika sebatas pandangan bentuk kereta itu mulai muncul dari kejauhan, mereka segera melambai-lambaikan rantingnya. Galibnya masinis sudah tahu apa maksud mereka.

Kereta itu berhenti, lalu koordinator menyerahkan ranting berbalut beberapa bungkus rokok kepada masinis. Dan sang masinis memberikan kesempatan mereka untuk naik. Dahsyat, kereta baja itu bisa berhenti hanya dengan sebuah ranting. Benar, pada akhirnya mereka pun bisa mendapatkan omzet berlipat-lipat. Itulah mel.

Satu Substansi

Mel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring berarti memberitahukan; menyebutkan (nama, alamat); melaporkan diri. Secara bebas mel dapat diartikan pemberian uang atau natura kepada pihak yang berwenang sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya atau agar tidak dikenakan harga/tarif atau denda semestinya. Tidak ditentukan besar kecil atau banyak sedikitnya pemberian.

Sampai sekarang, mel masih saja terjadi seperti telah diceritakan di awal. Namun ada perubahan istilah. Kalau pemberian itu sedikit, hanya berkisar ribuan hingga ratusan ribu rupiah dan rutin, masih tetap disebut sebagai mel. Tetapi kalau sudah jutaan hingga milyaran rupiah itu bukan mel lagi, ada istilah lainnya seperti uang dengar, uang rokok, uang damai dan lain sebagainya. Beda nama tapi tetap satu substansi yaitu suap.

Walau zaman telah berubah mel senantiasa ada pada setiap lembaga atau badan usaha. Hanya yang mau berubah saja yang dapat mengikisnya. Perubahan status dan manajemen di badan usaha perkeretapian menjadi contoh kalau ranting pada saat ini tidak akan pernah bisa lagi menghentikan laju kereta api. Sulit ditemui para pedagang mengasong di kereta api yang punya strata kelas ini. Lalu bagaimana dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP)?

Sebagai pengumpul uang pajak, lembaga ini begitu disorot oleh masyarakat. Apalagi saat mel masih menjadi budaya yang mendarah daging dan begitu berpola untuk setiap level pelayanan yang diberikan. Mulai dari pelayanan di hulu seperti pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak, pencairan restitusi pajak, sampai penyelesaian keberatan. Semuanya tidak lepas dari perlunya uang terima kasih untuk memperlancar segala urusan perpajakan Wajib Pajak. Saat itu tidak pernah terpikirkan sistem yang membudaya tersebut bisa hilang dari DJP. Memangnya mampu?

Tetapi arah angin berubah. Reformasi bergulir. Rezim berganti. Dari sana Indonesia baru lahir. Sebuah pemahaman sama tercipta dengan elok di masyarakat kalau korupsi adalah sebuah virus yang menjadi musuh bersama dan telah membangkrutkan negeri ini. Virus ini begitu akut merusak aparatur pemerintah sebagai kru kapal besar bernama Indonesia. Maka reformasi birokrasi menjadi salah satu gagasan utama penghancurannya. Bahkan menjadi praktik. Tak layu melulu sekadar ide.

Kementerian Keuangan dalam hal ini DJP menjadi pilot project. Sejak tahun 2002 sebagai awal modernisasi hingga akhir 2008 yang mengikat seluruh kantor pelayanan DJP untuk ikut dalam gerbong perubahan itu, maka banyak perubahan yang terus menerus dilakukan. Kaizen! Hingga kini.

Aib Menerima Mel

Perubahan itu melalui banyak cara. Salah satunya dengan membangun kultur organisasi terutama budaya aib untuk menerima mel. Ternyata ini bisa dilakukan. Karena seiring itu pula struktur dan sistem organisasi diubah, kode etik dan nilai-nilai organisasi mulai dikenalkan dan diterapkan, keteladanan melalui para pimpinan disuguhkan, internalisasi terus menerus dilakukan, utama lagi adalah sistem imbalan kerja mulai diperbaiki dan ditingkatkan.

Nurani tak bisa dikelabui, mendapatkan sesuatu yang halal plus ketenangan esoteris lebih dipilih daripada segala ketakjelasan pendapatan ditambah kegelisahan raga dan jiwa. Maka banyak cerita terketengahkan dari budaya aib menerima mel ini. Mulai dari menampik suguhan natura sekecil apapun sampai menolak uang sebegitu besarnya yang “ikhlas” diberikan Wajib Pajak.

Tidak bisa dibayangkan, ketika mel di DJP masyhur diketahui sebagai gerak mekanik masif sebuah mesin organisasi lalu kemudian tiba-tiba lumpuh. Mel menjadi lian. Asing. Memalukan. Sangat individual. Tak lagi menjadi sistem, budaya, bahkan ideologi.

Betapa tidak, andaikan pada saat ini mel masih diterima oleh oknum—pelaku yang muncul sebagai konsekuensi perubahan, ada yang tidak mau menerima nilai-nilai organisasi—maka laku itu dilakukan sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi. Organisasi tidak tutup mata dan tidak lagi menjadi bungker yang merawat para penghuninya dengan alasan semangat korps yang terbentuk karena ikatan semu berupa pembagian prosentase dari besaran mel yang diterima.

Organisasi yang diam inilah ditengarai oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam bukunya yang berjudul Strategi Pemberantasan Korupsi, sebagai penyebab korupsi. Ialah manajemen yang cenderung menutupi terjadinya korupsi yang dilakukan segelintir oknum dalam organisasi. Pada akhirnya karena sifat tertutup tersebut pelanggaran etika ini justru membelah dirinya menjadi mel dalam berbagai wujud.

DJP tidak tinggal diam, mekanisme pengawasan internal diciptakan. Pengawasan eksternal disusun sedemikian rupa sistemnya bersama pihak ketiga, dengan Komisi Pemberantasan Korupsi misalnya. Pula, capaian yang laik diindahkan adalah kreasi whistleblowing system. Bukankah ini semua realitas faktual yang harus diterima seiring dengan remunerasi yang diperoleh?

Yakinlah, tak akan pernah ada lagi ranting yang bisa menghentikan laju kereta api perubahan di DJP selama budaya aib menerima mel terus menerus dipertahankan dan para pimpinan senantiasa mempertontonkan keteladanannya.

Ini berarti ada marwah diri yang hendak diunggah oleh para pegawai DJP sebagai bagian dari anak negeri kalau mereka tidak mau kalah sama sekali dengan mel.

***

Artikel Juara Pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak 2012

Bisa diunduh di e-magazine Pajak http://www.pajak.go.id/mts_emagazine

Sumber gambar: dari sini

Video Detik-detik Asy-Syahid Al-Bouty.


Sedih, semoga Allah memberi kesyahidan kepada beliau. Ya Allah terimalah ia sesuai dengan amal baiknya. Berikanlah surgaMu kepada pejuang agamaMu. Dan hukumlah yang menzaliminya. Amin.