MENERBITKAN ITU MUDAH, KONSISTENSINYA BUTUH PERJUANGAN


MENERBITKAN ITU MUDAH, KONSISTENSINYA BUTUH PERJUANGAN

Terinspirasi adanya selebaran pengumuman tarhib yang habis pada Jum’at lalu (28/6) saya akhirnya tekadkan diri untuk membuat buletin Jum’at Masjid Al-Ikhwan. Insya Allah buletin ini akan mulai diluncurkan Jum’at pekan ini (5/7). Sebenarnya sebelumnya saya ditawarkan untuk mengisi dan mengasuh buletin di Masjid lain tapi belum diiyakan karena kesibukan dan tentunya komitmen untuk menulis dengan tema serius setiap minggu .

Sudah sedari awal pendirian masjid Al-Ikhwan belum ada buletin Jum’atnya. Padahal buletin itu penting buat menginformasikan agenda masjid dan penyebaran pemikiran kepada umat. Maka saya berharap penerbitan buletin ini untuk memenuhi kekosongan itu. Sembari menunggu Khatib Jum’at naik mimbar dan adzan berkumandang buletin ini menjadi bacaan para jama’ah, selain Al-Qur’an yang tentunya lebih utama, dan bisa dibawa pulang.

‘Alaa kulli hal, menerbitkan buletin itu mudah tapi mewujudkan konsistensinya yang luar biasa butuh perjuangan ekstra keras. Tak tahu sampai kapan buletin yang saya namakan Al-Ikhwan ini akan terbit. Harapannya tentu untuk selama-lamanya. Oleh karenanya, kudu bentuk tim dan sistemnya agar konsisten terbit setiap pekan. Jangan hanya bertumpu kepada satu orang saja. Karena tidak setiap saat waktu luang itu mendekati dan menyapa saya.

Kalau di tempat lain pakai aplikasi keren dan canggih, saya cukup sederhana saja: Word dengan template yang sudah bertebaran dan disediakan oleh orang yang mau berbagi ilmu dan pengalamannya. Dan ini isi edisi pertamanya:

Tarhib Ramadhan Masjid Al-Ikhwan

“Salah satu dampak dari keberhasilan Ramadhan adalah ketika ia mampu untuk beraktivitas sosial dengan masyarakat,” kata Bapak Uche Ismail, dalam sambutannya pada Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan di Masjid Al-Ikhwan, Ahad, 30 Juni 2013 lalu.

Sambutannya adalah hanya salah satu rangkaian acara yang ada pada tarhib tersebut. Sebelumnya Ananda Muthia dan Ananda Dini mengawali acara dengan memperdengarkan hafalan surat di juz-29 yaitu Surat Al-Qiyamah. Setelah sambutan Ketua DKM yang berbicara tentang pentingnya ukhuwah di antara umat Islam, Tasmi’ul Qur’an selanjutnya memperdengarkan surat Al-Mulk yang dilantunkan oleh Ananda Maulvi.

Acara tasmi’ ini semata diselipkan agar memacu semangat kepada umat agar senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Setelah membaca, menghafal, memahami, maka mengaplikasikan AlQur’an dalam keseharian adalah sebuah kewajiban.

Puncak acara yang diselenggarakan oleh DKM Al-Ikhwan bekerjasama dengan PKK RW.17 ini adalah taushiyah yang disampaikan Ustadz H. Fathurrahman, S.sos. yang mengetengahkan tema tentang 5 Penghalang Keshalihan dan bagaimana mempersiapkan diri dalam menyambut bulan mulia Ramadhan 1434H.

IMG-20130630-WA0002

*Ustadz Fathurrahman sebelah kiri bersama siapa yah? (foto ini tidak dimasukkan ke dalam buletinnya.)

Sebagai apresiasi terhadap para peserta tarhib yang datang terlebih dahulu dan para penanya aktif, PKK RW.17 memberikan doorprize menarik kepada mereka. (Rz)

Ta’jil dan Sahur

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw.

Tak terasa Ramadhan 1434 H sebentar lagi akan tiba. Sebuah bulan penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah swt. Bulan yang dinanti-nanti oleh orang-orang yang beriman dan memang hanya untuk orang yang beriman perintah itu diberikan. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Al-Qur’anul Karim:

image

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2:183)

Menjadi agenda al-Ikhwan membuat Ramadhan ini lebih bermakna buat umat pada umumnya dan masyarakat Puri Bojong Lestari Tahap II pada khususnya. Oleh karenanya Masjid Al-Ikhwan telah menyusun program Ramadhan yang pada tahun ini mengambil tema: “Ramadhan, Saatnya Kembali KepadaNya, Saatnya Berbagi Kepada Sesama.”

Tema ini bukan berarti bahwa hanya pada Ramadhan sajalah kita menjadi muslim sejati yang bertaubat kepada Allah swt dan kita menjadi orang dermawan sedermawan-dermawannya, melainkan Ramadhan adalah saat tepat untuk kembali menghitung diri apakah taubat kita adalah taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka jika tidak, Ramadhan adalah waktu paling baik untuk kembali jujur bahwa kita selayaknya kembali kepadaNya karena Ia membukakan pintu ampunanNya selebar-lebarnya. Sungguh merugi orang yang berpuasa ketika Ramadhan berakhir ia tidak mendapatkan ampunanNya.

Ramadhan pun–dengan tema ini—bukan pula berarti bahwa berbagi kepada sesama itu hanya di bulan Ramadhan melainkan bahwa Ramadhan menjadi saat yang tepat untuk melatih jiwa sosial kita menjadi lebih peka lagi. Yang semula di luar Ramadhan sedekahnya kurang maka di Ramadhan dilatih untuk berinfak lebih besar. Dan bagi yang sudah terbiasa untuk berinfak besar di luar Ramadhan maka di dalam Ramadhan dilatih semangat berbaginya agar tetap isiqamah.

Al-Ikhwan membuka kesempatan kepada para warga Puri Bojong Lestari II untuk berbagi dengan menyediakan program ta’jil/berbuka puasa bersama. Di sanalah masyarakat dipersilakan untuk menyediakan penganan/makanan berbukanya. Sungguh, orang yang memberikan makanan untuk berbuka puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tersebut.

Selain ta’jil, program lainnya adalah makanan sahur buat para peserta iktikaf. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para donatur berbondong-bondong untuk memberikan sebagian hartanya berupa uang ataupun makanan sahur buat para peserta iktikaf. Pengurus DKM Al-Ikhwan hanya bisa memberikan do’a agar Allah membalas kebaikan para donatur tersebut dengan kebaikan yang berlipat ganda. (Rz)

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:26 02 Juli 2013

BIAR AIR MINUMNYA AKU AMBIL SENDIRI


Biar Air Minumnya Aku Ambil Sendiri

I.
Karena kau mencumbu beribu kertas yang berserakan di otakmu, aku tergugah dari tidur, membuyarkan jenak, dan membuatnya menjadi kepingan kecil serupa serutan es campur. Satunya tercabik di sudut ruangan ini, digigit semut, dan dibawa ke sarang, buat Sang ratu dan anak cucunya. Satunya lagi terjun dari lantai 19 bersama jutaan ekor gerimis yang tak sempat kau hitung. Satunya lagi menyamar bersama debu-debu di layar komputer bertanduk hingga membentuk mural akrilik. Dari sebuah pintu gerbang negeri dongeng kau hanya satu-satunya yang menyambut jenak itu. Lalu pikiranku terkilir. Perutku terpelintir bersama kecoa-kecoa busuk. Aku ingat waktu itu kau tersenyum mengejek bersama si Tua Ernest Hemingway. “Aku tak jadi pergi,” katamu. Sejak Saat yang mula menggencetku mampu bicara, aku seperti terjun di oase Gurun Gobi. Hausku hilang. Tak berbilang. Hingga ke pulau seberang. Istirahatlah.

II.
Aku bisa tabah. Hanya dengan sepiring senyummu sehari. Biar air minumnya aku ambil sendiri.
***

Riza Almanfaluthi
18:19 Lantai 19 Gedung Utama
dedaunan di ranting cemara
Didedikasikan buat Teman-teman Penelaah Keberatan
di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi yang tadi pagi
bergembira mendengar kabar itu.

SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR


SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR

Baka sira deleng blog e kita sekien, sira pasti mikir baka kita wis suwe belih nulis. Ya wis belih papa baka kedelenge mengkonon mah. Tapi baka sira weruh, kita sebenere nulis bae. Nulis kontinyu mengkonon. Nulis apa bae. Tapi kadang belih ke pablis ning wong-wong. Soale tergantung proyek e. Sekien ana proyek sing kudu mari dina senen mbuh selasa. Tapi sekien kih proyek nulise durung dadi-dadi. Ning pikirane kita lagi pengen nulis kanggo kita dewek dingin. Pengen nulis kanggo blog e kita dewek. Pengen nulis sing ana ning ati dingin.

Makane kita sore kien buka laptop langsung nulis. Eh kelingan karo basa dermayu kah, makane kita nulis nganggo basa wong tua, basa ibu, sing senget cilik kita omong karo wong tua, karo sedulur. Mbuh pada ngerti belih karo sira sing dudu wong Cerbon apa Dermayu. Sing keturunane Nok Ratminah atawa Kang Baridin mah pasti weruh. Tapi kedelenge wong Brebes karo wong Tegal rada-rada ngerti. ya wis syukur baka ngerti sih. Terus pengen nulis apa maning kien? Mbuh. Terjemahe ning esor yaa…

    Seperti sudah saya bilang, kalau saya itu selalu belajar dari orang lain. Kalau baik, saya ingat amal kebaikannya itu dan ingin menjadikan target dari amal kebaikan yang akan saya lakukan. Jika jelek, tentunya sudah cukup itu menjadi pemikiran saya dan tidak menjadi aksi.

    Saya punya teman. Teman ini selalu punya keyakinan, kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tentu Allah Sang Maha Pemberi Rezeki yang mengaturnya. Bukan atasan dan bukan pula negara. Jadi sejak dulu dia selalu punya azzam kalau ada pekerjaan yang mengganggu ibadahnya maka pekerjaan itu akan ditinggalkan senyaman apapun hasil yang diperoleh. Kalau waktunya sholat—apalagi kalau sudah shalat Jum’at—ia selalu meninggalkan pekerjaannya walau sedang sibuk atau sedang rapat ataupun sedang mengantar Direktur dan tamu asingnya. Tapi ia tak peduli.

    Ia selalu punya keyakinan rezeki akan datang menghampirinya saat ia sedang butuh walau ia tak tahu dari mana datangnya rezeki itu. Tentu ia pun bukan seorang nihilisme—orang yang pasrahnya keterlaluan. Ia tetap berikhtiar dan kerja sekuat tenaga mencari rezeki itu. Dan faktanya memang demikian, rezeki itu selalu ada saat ia membutuhkannya, misal saat anaknya harus mendaftar ulang sekolah yang tentunya membutuhkan biaya banyak. Ada saja tiba-tiba orang menyerahkan uang kepadanya. Entah karena bisnisnya atau ada yang membayar utangnya.

    Satu saja untuk semua itu: ia punya keyakinan mendalam bahwa Allah itu tergantung dari kita sendiri sebagai hambaNya. Dan ia memberikan pelajaran kepada saya bahwa mengarungi hidup itu harus dengan pandangan positif kepada Allah. Kalau kita yakin Allah akan menolong kita, maka Allah pasti akan menolong kita. Kalau kita yakin Allah akan memberikan rezekinya maka Allah pasti akan memberikan perbendaharaan kekayaannya kepada kita. Begitu pula sebaliknya. Maka ia selalu berpikir positif, bukankah Allah tergantung prasangka hambaNya? Malam itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Seorang trainer dari sebuah perusahaan finance kendaraan bermotor. Pekerjaannya memberikan pelatihan kepada semua cabangnya di seluruh Indonesia. Dan pekerjaan sampingannya adalah menuntaskan kredit yang tak kunjung dibayar atau kredit macet. Selalu saja pekerjaannya itu—entah yang pokok atau sampingannya—berbuah kesuksesan.

    Dewan direksi melihat pekerjaannya, apalagi kalau menyangkut bagaimana mengurai kredit macet, selalu ada sisi positif yang didapat: omzet naik, grafik kredit macet turun, target tercapai dalam setiap bulan, urusan dengan pihak eksternal selalu terselesaikan dengan mulus. Satu kemampuan tambahannya adalah dia pelobi dan negosiator handal. Oleh karenanya CEO setuju untuk menaikkan jabatannya menjadi seorang manajer kredit—semula dia hanya bekerja di bagian HRD—dengan mendapatkan fasilitas tambahan berupa kenaikan gaji lumayan gede, tunjangan tambahan, dan mobil dinas.

    Untuk merayakan dan mensyukuri keberhasilannya itu ia mengajak istri dan anak-anaknya makan-makan di sebuah restoran. Saat makan-makan itu salah satu dari tiga anaknya bertanya kepada Sang Ayah detil apa dan bagaimana pekerjaannya. Sang Ayah menjelaskan dengan lantang dan bersemangat. Tapi satu pernyataan dari anak keduanya yang bersekolah di SMPIT itu membuatnya tersedak: “Berarti Ayah bergaul dan makan uang riba secara langsung dong. Ngeri Yah.”

    Sejak saat itu kebimbangan menyertainya. Ini membuat gulana. Karena di bagian kredit itu ia memang secara langsung tahu bagaimana detil dari aktifitas riba yang berlangsung dan dijalankan dalam sistem pembiayaan di perusahaan tersebut. Ia shalat istikharah. Dan pada akhirnya ia berkeyakinan untuk resign walau perusahaannya berkutat menahan sekuat tenaga agar aset berharga dan utamanya ini tidak keluar. Tapi ia bergeming. Ia tetap keluar walau ia tidak tahu akan kemana lagi ia bekerja. Ia cuma punya satu keyakinan kalau Allah tidak akan meninggalkannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih halal.

    Di saat menjalani hari-hari terakhirnya di kantor itu ia mendapat telepon kalau perusahaan temannya membutuhkan seorang trainer. Sang teman itu memintanya kalau ada kenalan yang mau ikut bergabung di sebuah perusahaan kesehatan. Ia langsung menangkap peluang itu, walau sang teman terkejut kalau sebenarnya jabatan itu bukan untuk dirinya karena tidak level. Tapi ia tetap meyakinkan temannya kalau ia mau masuk dan tidak mempermasalahkan tentang grade jabatan dan take home pay-nya yang pasti berkurang.

    Ia tak perlu lagi mengikuti tes tertulis yang biasa dilakukan buat pendatang baru karena sang Direktur sudah tahu tentang kredibilitas dirinya dari wawancara yang dilakukan. Aura keyakinan dirinya sudah tertangkap Sang Direktur, juga pada keyakinannya pada rezeki dan takdir. Kalau yang halal itu sudah jelas kehalalannya dan yang haram itu sudah jelas keharamannya. Shubuh itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Yang tertangkap dari dua teman saya itu adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan pada sesuatu yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran dan syariat. Dan saya yakin bahwa itu semua adalah refleksi dari keimanan yang tinggi kepada takdir dan janji-janji Allah. Sebuah keyakinan yang saya perlu belajar banyak dari mereka berdua. Dan saya bukan apa-apanya dari mereka. Saya serupa Musa di hadapan Khidir.

    Wallaahua’lam Bishshowab.

**

Terjemah:

    Kalau Anda melihat blog saya sekarang, Anda pasti berpikir kalau saya sudah lama tidak menulis. Ya Sudah tidak apa-apa kalau terlihatnya demikian. Tapi kalau Anda tahu, saya sebenarnya menulis selalu. Menulis kontinyu seperti itu. Menulis apa saja. Tapi terkadang tidak terpublikasikan kepada siapa-siapa. Soalnya tergantung proyek menulisnya. Sekarang ada proyek menulis yang harus jadi hari Senin atau Selasa besok. Tapi sekarang proyek menulis itu belum selesai-selesai. Yang jadi pikiran, saya ingin menulis untuk saya dulu. Ingin menulis buat blog saya sendiri. Ingin menulis yang dari hati saya dulu.

Makanya saya sore ini buka laptor langsung menulis. Eh, teringat dengan Bahasa Indramayu begitu, makanya saya menulis pakai bahasa ibu ini, yang dari kecil saya pakai ketika berbicara dengan orang tua dan saudara-saudara. Tak tahu apakah Anda yang bukan orang Cirebon atau Indramayu mengerti tulisan ini? Yang keturunannya Nok Ratminah dan Kang Baridin pasti tahu. Tapi kelihatannya orang Brebes dan Tegal mengerti juga. Ya sudah, syukur kalau mengerti. Terus ingin menulis apa lagi sekarang? Tak tahu. Terjemahan di bawah yaa…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Jelang Nisyfu Sya’ban

17:41 23 Juni 2013

Gambar dari sini.

KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA


KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA

Waktu saya masih SMP apa yang selalu dinanti di setiap hari menjelang sore? Berenang di Sungai Cimanuk. Mulai jam 2 siang sampai mau maghrib. Makanya kulit saya jadi item begini. Kalau musim kemarau, sungai terbesar di Jawa Barat ini kering menyisakan hamparan dasarnya yang berpasir. Di sanalah saya dan teman-teman membuat bola-bola pasir yang dikeraskan lalu diadu sama lain dengan cara menjatuhkan bola pasir itu ke bola pasir lawan. Bola yang masih utuh dan tidak pecah itulah pemenangnya.

    Biasanya kami berenang berempat: saya, adik saya, teman saya dan kakaknya. Kami punya tempat khusus berenang di sana. Dekat batu cadas yang sering jadi tempat penyeberangan bagi warga desa sebelah—Desa Bangkaloa—menuju Jatibarang. Awalnya tidak banyak yang berenang di sana, karena kami memulainya di kemudian hari banyak juga yang pada ikutan berenang di tempat itu. Dan lama kelamaan tempat itu jadi semakin dalam. Waktu saya sekolah SMA di Palimanan, kabar terakhir tempat itu telah memakan korban satu orang tenggelam. Kata orang ia dimakan buaya.

    Ada yang khas di Sungai Cimanuk yang melintasi Jatibarang ini. Di bagian sisinya ada bangunan beton panjang yang menjorok ke sungai. Tingginya bisa sampai lima meter dari permukaan air Sungai Cimanuk di saat kering. Kami sering menyebutnya “baro” atau “paku alam”. Jarak baro yang satu dengan yang lain kurang lebih 50 Meter.

Fungsi baro ini untuk menahan derasnya air agar tidak menggerus tepian sungai. Nah, biasanya baro ini jadi papan loncat tempat kami terjun bebas ke sungai. Tidak semua baro bisa jadi tempat kami terjun karena kami harus melihat-lihat lokasinya. Yang jelas-jelas dalam dan tak seorang pun mandi di sana tentu bukan jadi pilihan. Ingat, Sungai Cimanuk yang mengalir mulai dari Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu ini memang sering kali makan korban.

060913_1621_KATAORANGIA1.png

Beginilah saya dulu kalau loncat terjun ke sungai. Biasanya gaya batu. Sumber gambar: Sini

Selain berenang saya sering main layangan di sana, adu layangan juga. Pernah suatu saat saya terbangkan layangan tinggi-tinggi. Seng ada lawan. Makanya benang saya ulur terus. Tinggi dan semakin tinggi. Tidak terasa kalau benangnya sudah habis mentok ke kalengnya. Pas ngelamun benang lepas dari tangan, ya sudah akhirnya layang-layang itu terbang membawa kalengnya juga. Saya cuma melongo. Saya kejar tak bisa ketangkep itu benang. Yang paling bahagia adalah anak kampung sebelah yang membawa galah panjang. Dengan penuh suka cita dan kemenangan ia menangkap benang itu dengan gampangnya. Sepertinya ia ikhlas menerima rezeki nomplok itu. Saya meringis.

Kalau banjir Sungai Cimanuk ini mengerikan. Airnya deras. Tingginya sampai benar-benar mencapai permukaan tanggul paling tinggi. Ladang-ladang di pinggirannya sampai tenggelam. Baronya juga. Tak ada orang yang berani menyeberangnya. Bahkan dengan jukung (sampan) sekalipun. Tapi ini jarang terjadi.

060913_1630_KATAORANGIA3.png

Di pertigaan jalan–berwarna kuning di peta–itu rumah saya dulu. Nyebrang jalan langsung dah bisa main ke Sungai Cimanuk

Sampai sekarang saya masih merasakan bau sampah terbakar di pinggir sungai pemasok irigasi bagi kawasan Cirebon dan Indramayu ini. Bau ubi terbakar yang kami cabut dari pinggir-pinggirnya. Dan tentunya teringat dengan cemberutan ibu yang jengkel karena anak-anaknya baru pulang mefet-mefet mepet-mepet maghrib.

Saya tak tahu lagi kondisi Sungai Cimanuk tempat berenang saya dulu sekarang. Sudah lama tidak melihatnya lagi. Cuma lewat doang kalau mudik lebaran. Tapi Cimanuk sudah membuat banyak kenangan buat saya. Tak bisa terlupakan.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tanpa edit sebab ngantuk

23:18 9 Juni 2018.

BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH


BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH

Setiap kali sidang dicukupkan maka berkas sidang seharusnya segera dirapihkan, dibuat checklist-nya, dan dikirim ke subdirektorat tetangga, Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi (PKE). Tapi ini kebanyakan tidak segera dikerjakan oleh Petugas Banding karena tersita waktunya untuk menangani berkas persidangan yang sedang berjalan.

Lama kelamaan berkas itu menggunung dan terabaikan. Terus terang ini membuat saya tidak nyaman. Seperti ada yang selalu membebani. Ini tak bisa dibiarkan. Saya harus segera membereskannya karena mau tidak mau saya akan meninggalkan Subdirektorat Banding dan Gugatan II ini. Saya tak mau menyelesaikannya sampai lembur segala di akhir nanti.

Saya berusaha mengerjakannya sedikit demi sedikit walau untuk memulainya terasa berat. Saya ambil berkas yang isinya tipis atau ringan-ringan dulu. Yang tebal dan berat itu dikerjakan nanti. Beberapa modal “mindset” penting untuk menyelesaikan sesuatu yang membebani adalah:

  1. Man Jadda wa jadaa, orang yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasilnya;
  2. Semua bisa dikerjakan asal dengan ketekunan;
  3. Memulainya dengan yang mudah atau sederhana terlebih dahulu.

Alhamdulillah dengan modal itu berkas yang tadinya bersembunyi di kolong meja dan di atas lemari samping saya bisa terselesaikan semuanya. Kadang dengan kerja lembur. Dan hasilnya meuaskan, lebih dari 250 berkas sidang berhasil saya rapihkan dan kirim. Yang paling membahagiakan adalah teman-teman pun yang tadinya cuek beybeh jadi tergerak ikut membereskan berkasnya masing-masing.

Mulai 3 Juni 2013 lalu, saya tidak lagi ikut persidangan di Pengadilan Pajak. Saya telah dipindahkan ke Subdirektorat PKE karena adanya mutasi internal di Direktorat Keberatan dan Banding. Saya jadi Penelaah Keberatan yang mengurusi pembuatan Memori Peninjauan Kembali dan Kontra Memori Peninjauan Kembali.

Sederhananya begini. Kalau ada putusan Pengadilan Pajak yang mengalahkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan setelah dievaluasi layak untuk dilakukan Peninjauan Kembali maka saya membuatkan Memori Peninjauan Kembali untuk disampaikan ke Mahkamah Agung. Dan kalau ada Wajib Pajak dikalahkan di Pengadilan Pajak lalu tidak terima dengan putusan tersebut kemudian mengajukan Peninjauan Kembali dengan membuat Memori Peninjauan Kembali maka saya membuat Kontra Memori Pengajuan Kembali-nya.

Dan kepindahan saya ini syukurnya tidak dibarengi dengan beban penyelesaian pekerjaan lama seperti pemberkasan di atas. Semua sudah saya selesaikan. Laporan sidang juga semuanya telah dibuat. Tinggal beberapa berkas sidang saja yang belum dibuatkan laporan sidang cukupnya. Insya Allah sambil jalan dan sekarang saya bisa langsung move on di tempat baru tersebut.

Pekerjaan di Subdirektorat PKE ini semuanya adalah hal baru bagi saya. Jatuh temponya juga harian. Saya yakin dengan izin Allah saya bisa menyelesaikan semuanya. Learning by doing-lah jarene wong Inggris. Tiga hari ini pun saya sudah belajar banyak. Jadi pembelajar cepat. Walau memang butuh waktu untuk mengikuti ritme teman-teman di sana.

Salah seorang teman bilang kepada saya, “Di sini nanti Mas Riza tak bisa menulis di Kompasiana lagi saking sibuknya.” Insya Allah kalau menulis mah tetap jalan yah. Kapan pun dan di mana pun. Dan selama di subdirektorat yang lama juga saya selalu menulis di rumah. So, tinggal memenej waktunya saja. Tapi bisa jadi pernyataan itu tantangan buat saya untuk tetap produktif menulis.

Akhirul kalam, siapa bersungguh-sungguh ia dapat tetap jadi pegangan saya dalam bekerja. Saya juga ingat yang ini: ” ada sebuah dosa yang tidak bisa terhapus dengan pahala shalat, sedekah, atau haji, kecuali dengan bersusah payah dalam mencari nafkah.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:32 05 Juni 2013

ngantuk…

gambar diambil dari sini

Dodolan Dawet Sik Yoo


image

image

Karena dawetnya belum mateng ya mikul pikulannya dulu sama Kinan keliling kampung.

TAHUN INI PELUNCURAN TKB VERSI DESKTOP


TAHUN INI PELUNCURAN TKB VERSI DESKTOP

“Dalam rapat koordinasi terbatas Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) beberapa waktu yang lalu telah direncanakan adanya knowledge base buat para Penelaah Keberatan. Salah satunya yang akan dihimpun di sana adalah putusan pengadilan pajak,” demikian diungkap oleh pemateri pertama, Moh. Tolcha, dalam Workshop Pengembangan Tax Knowledge Base yang diselenggarakan oleh Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), di Aerowisata Grand Hotel Preanger, Bandung, kemarin (29/5).

Adanya rencana itu tentunya disambut hangat oleh 38 peserta workshop yang terdiri dari para Penelaah Keberatan dan Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan dari beberapa wilayah yang tersebar di Indonesia. Keterbukaan akses terhadap putusan Pengadilan Pajak sangat dinanti buat bahan evaluasi para pegawai di unit-unit terdepan DJP. Harapan lainnya adalah adanya sinergi antara DKB dengan P2 Humas agar tidak terjadi dobel aplikasi dan dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Yang lebih menggembirakan lagi adanya janji yang diungkap oleh pemateri kedua, Eka Darmayanti, Kepala Subdirektorat Analisis dan Evaluasi Sistem Informasi dari Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi (TTKI). “Tahun ini diharapkan aplikasi Tax Knowledge Base (TKB) versi desktop akan selesai,” katanya. “Aplikasi TKB versi desktop—selama ini yang baru jalan adalah versi web—sangat berguna sekali buat para pegawai di kantor-kantor DJP seluruh Indonesia yang akses intranetnya terbatas,” tambahnya.

Seperti telah diketahui, DJP mempunyai lebih dari 14600 peraturan perpajakan yang bisa diakses dalam situs intranet oleh seluruh pegawainya. Situs ini mulai diperkenalkan sejak Desember 2012. Tidak hanya itu, situs ini niatnya akan dikembangkan menjadi tempat berbagi ilmu, pengetahuan, pengalaman dari dan untuk pegawai DJP sendiri. Oleh karenanya pengembangan dilakukan secara terus menerus dan bertahap, salah satunya dengan workshop yang dilaksanakan oleh para penggawa Subdirektorat Pelayanan Perpajakan, Direktorat P2 Humas ini.

Workshop di hari pertama akan dilanjutkan pada hari Kamis ini dengan sesi acara tips dan trik memaksimalkan TKB versi web, penyampaian materi ketiga, diskusi panel, motivasi, serta presentasi masing-masing kelompok. Workshop direncanakan berakhir pada Jum’at besok (31/5) dan akan ditutup oleh Direktur P2 Humas Kismantoro Petrus.

***

Riza Almanfaluthi

Asia Afrika Bandung

30 Mei 2013

 

Kangen Tak Berkesudahan


image

Kinan dan Ayyasy kangen sama Abinya yang lagi kondangan di Magelang. Malam ini lagi cari makan malam di Jogja. Insya Allah senin malam kita ketemu. Soalnya senin dinihari diperkirakan baru sampai kantor jadi langsung sidang dulu. Sidang-sidang terakhir di Pengadilan Pajak sebelum pindah ke Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan Dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak. Robbi ‘anzilni munzalan mubarokan wa anta khoirun munzilin.

KISAHKU DENGAN PARA MANTAN


KISAHKU DENGAN PARA MANTAN


*Suasana Jelang Persidangan, yang lagi mikir: Bro Toni Siswanto

Ia sekarang telah menjadi kuasa hukum Pemohon Banding. Posisinya berada di sebelah kanan depan Hakim Tunggal. Sedangkan di samping Pemohon Banding, di meja lain, Terbanding diwakili oleh satu tim yang terdiri dari dua orang Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding yang pengalaman dan umurnya jauh di bawah kuasa hukum.

    Walaupun demikian tidak ada hambatan psikologis yang menghalangi Terbanding untuk bersikap profesional melawan mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini. Bahkan naluri paling dasar petugas banding, naluri untuk menang, terasa mendominasi. Ini persidangan acara cepat, persidangan pemeriksaan atas banding yang ditengarai tidak memenuhi ketentuan formal.

Untuk kali itu, permasalahannya adalah Pemohon Banding telat beberapa hari dalam menyampaikan permohonan bandingnya ke Pengadilan Pajak. Perlu pembuktian kalau Kantor Wilayah DJP tidak terlambat dalam mengirimkan surat keputusan keberatan. Jelas sudah pemeriksaan dicukupkan segera setelah beberapa kali persidangan. Tiga pekan kemudian, pembacaan putusan dilaksanakan. Hakim Tunggal memenangkan Terbanding.

Para Mantan

Tidak aneh jika Terbanding berhadapan dengan orang-orang yang paling dikenalnya sewaktu di kampus atau saat masih menjadi bagian dari DJP. Ada teman kampusnya, adik kelasnya, mantan dosennya, mantan teman satu direktorat, mantan kepala seksi, mantan pejabat fungsional, mantan kepala kantor pelayanan pajak, mantan kepala kantor wilayah, mantan pejabat eselon II DJP, mantan Sekretaris DJP, bahkan mantan Direktur Jenderal Pajak.

Tidak ada yang salah saat para mantan tersebut memilih menjadi kuasa hukum di Pengadilan Pajak. Undang-undang memperbolehkan siapapun orangnya untuk menggeluti profesi itu asal memenuhi syarat yang telah ditentukan. Dan setelahnya memenuhi kewajiban sebagai kuasa hukum yakni mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan Undang-Undang Pengadilan Pajak.

Bagi orang awam, ini seakan membuka peluang untuk terciptanya kongkalikong baru karena ada pengaruh yang dijual dari para kuasa hukum mantan pejabat itu kepada para mantan anak buahnya yang menjadi Terbanding atau bahkan yang sudah menjadi hakim. Tetapi pendapat ini terlalu prematur karena seakan meragukan integritas dan profesionalisme para petugas banding dan hakim. Juga ada benarnya agar kesempatan sekecil apapun untuk terjadinya persekongkolan tidak akan terjadi lagi.

Lihat Daftar isi buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

Baca Sinopsis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

Kalau dengan semangat ini, maka institusi DJP tertinggal satu langkah dari Pengadilan Pajak dalam menciptakan sistemnya. Pengadilan Pajak telah mengatur bagaimana seorang mantan hakim di Pengadilan Pajak tidak diperbolehkan menjadi kuasa hukum selama dua tahun sejak ia berhenti sebagai hakim di Pengadilan Pajak. Apakah perlu seorang mantan pegawai atau pejabat DJP juga diberlakukan yang sama agar tidak ada pengaruh yang dijual. Entah kepada institusi lamanya atau para hakim.

Bicara soal trading influence, maka kantor akuntan publik yang termasuk dalam the big four paling agresif merekrut para mantan pejabat tersebut. Mereka mengincar mantan pejabat DJP yang sekaligus mantan hakim pula apalagi kalau sudah pernah menjadi Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Pajak. Perkawanan masa lalu, senioritas, serta pengalaman tahunan menjadi pejabat dan hakim adalah modal utama dan bernilai tinggi, minimal ‘tidak diabaikan’ saat berkunjung ke kantor pelayanan pajak atau kantor wilayah, juga saat berbicara di hadapan Majelis Hakim.

Salah satu keuntungan merekrut para mantan ini adalah dalam persidangan mereka tahu apa yang wajib dipermasalahkan dari Terbanding yang luput dari pandangan kuasa hukum biasa. Para mantan itu juga mampu menembus birokrasi karena mereka tahu dapur DJP. Tidak segan-segan dan sungkan-sungkan memangkas alur untuk mendapatkan pelayanan excellent. Mantan kepala kantor wilayah yang baru saja pensiun tentu tidak ‘selevel’ jika dilayani hanya sekelas pelaksana, account representative, atau para penelaah keberatan. Maka minimal eselon III yang akan turun tangan.

Pertanyaannya adalah bisakah pejabat aktif DJP juga bersikap adil memperlakukan mereka seperti para pejabat aktif DJP itu memperlakukan kuasa hukum atau konsultan pajak atau Wajib Pajak lain yang bukan mantan pejabat DJP? Akankah terjadi sambutan ramah, pertemuan, atau pelayanan langsung yang diberikan oleh pejabat aktif DJP? Di sinilah profesionalisme diuji.

Kisah Lain

Jelang persidangan, seorang mantan hakim Pengadilan Pajak sekaligus mantan pejabat DJP menghampiri saya. Kami dari Terbanding pernah satu kali berhadapan dengannya di sengketa banding sebelumnya. Kali ini ia menjadi kuasa hukum untuk sebuah perusahaan elektronik milik pengusaha terkenal di Indonesia ini.

Sambil berbisik ia berkata: “Soal transfer pricing itu sebenarnya bangsa kita yang dirampok melulu.” Ia menghela nafas. Dari gesture-nya terlihat seperti tidak rela. “Dik, kalau ada tingkah laku saya yang kurang berkenan, tegur saya yah. Jangan sungkan,” lanjutnya. Kalimat terakhir ini mengingatkan saya saat bertarik urat leher dengan timnya sewaktu melakukan uji bukti. “Jiwa saya tetap DJP,” pungkasnya.

Sembari bangkit dari kursi karena sudah dipanggil masuk oleh Panitera Pengganti, saya pamit, bersalaman, dan membalas acungan jempolnya dengan dengan acungan jempol yang sama. Untuk penegasannya tersebut hanya Allah dan dirinya yang tahu. Waktu yang akan membuktikannya.

Baca satu bab gratis buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

Baca Kata Pengantar buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang.

***

Riza Almanfaluthi

Pegawai Direktorat Keberatan dan Banding

04 Mei 2013

Ini adalah opini yang dimuat di Situs Intranet DJP: Kepegawaian pada tanggal 13 Mei 2013

Pemesanan buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Akhwat Ngambekan


image

Kinan lagi ngambek. Diminta makan tak mau. Maunya main scooter-an.