RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH


RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH

Sultan Iskandar Muda ini menghukum mati adiknya—Meurah Pupok—yang berzina dengan istri seorang perwira. Ada kalimat yang difatwakannya ketika ia dihalangi oleh para penasehatnya untuk tidak menghukum sang adik, “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.”

**

Jam 6 pagi Banda Aceh masih gelap dan saya masih terbaring di atas kasur. Ke depannya lagi saya tidak akan berurusan dengan hal yang bernama Commuter Line di waktu yang sama, dengan manusia yang berjejalan di dalamnya, dengan aroma parfum yang menusuk hidung, dan ketergesaan ala orang-orang metropolitan.

Ini hari kedua kami di ibu kota propinsi paling barat Indonesia ini. Kami sepakat untuk jalan-jalan pagi sebelum sarapan. Kemana? Ke mana saja kaki ini akan membawa kami. Itu jawabannya.

image

Ini para mantan Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding di sebuah sudut Banda Aceh.(foto pribadi)

“Lokasinya dekat,” jawab saya atas sebuah pertanyaan teman tentang keberadaan masjid yang menjadi landmark kota Banda Aceh. Itu juga karena saya selalu ingat-ingat betul rute yang ditempuh mobil jemputan kami sepanjang perjalanan kemarin dari bandara menuju hotel. Letaknya lebih dari satu km dari tempat kami menginap.

image

Suasana Masjid Baiturrahman pagi itu (18/10). Foto pribadi.

Masjid Baiturrahman ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, seorang sultan yang membawa kesultanan Aceh pada kejayaan dan kemakmurannya. Masjid yang mulanya hanya satu kubah ini pernah terbakar pada saat agresi penjajah Belanda di 1873 dan dibangun kembali pada 1881. Pada 1935 masjid dipugar dengan menambah dua kubah. Di masa orde baru, tepatnya di tahun 1979 masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini dipugar kembali dengan menambah dua kubah dan dua menara di utara dan selatannya.

Dari segi arsitekturnya masjid ini indah banget. Dengan kolam yang berada di halaman depannya mengingatkan kita dengan Tajmahal di Agra. Sebuah bangunan indah peninggalan raja Mughal, Sultan Shah Jahan, yang kebetulan pula sebagian tahun pembangunannya bersamaan dengan masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda di Kesultanan Aceh.

image

(foto pribadi)

Karena keterbatasan waktu saya tak sempat untuk memasuki masjid itu. Saya hanya memandangnya dari luar saja. Insya Allah suatu saat saya akan shalat di dalamnya.

Dari masjid kami berjalan ke arah timur. Melewati sebuah lokomotif dan satu gerbong yang ditaruh di atas sebuah bangunan. Kami melihatnya dari jauh. Ada plang berkarat yang menginformasikan tentang sejarah perkeretaapian di Aceh.

Jalan kereta api di Aceh dibangun oleh Belanda dengan tujuan utamanya adalah untuk kepentingan politik dan ekonomi. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474; kayu untuk bantalan rel dari Malaka tahun 1875 dan meterial untuk rel dari Inggris (1875). Jalan kereta api Ulee Lhee-Kuta Radja sepanjang 5 KM dibuka untuk lalulintas umum pada tanggal 12 Agustus 1876. Lintas Ulee Lhee-Kuta Radja terkenal sebagai lintas kereta api negara yang ada di Nusantara.

image

Lokomotif dan gerbong di Komplek Kereta Api Banda Aceh (foto pribadi)

Ada yang salah dari informasi di plang itu. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474? Apakah benar? Yang benar mungkin 1874. Karena Belanda baru menduduki Banda Aceh di tahun 1873 setelah mengorbankan 80 serdadu mati dan tewasnya Jenderal Kohler dalam agresinya. Tahun 1474 saja Kesultanan Aceh belum berdiri. Sultan Ali Mughayat Syah mendirikannya di tahun 1514.

Dari sebuah buku yang ditulis oleh sejawaran Ahmad Mansur Suryanegara yang berjudul Api Sejarah maka kita akan mengetahui maksud adanya pembangunan rel kereta api di masa penjajahan Belanda.

Menurut teori geopolitik McKinder, kereta api sebagai alat transportasi dalam upaya penguasaan wilayah. Pada masa perang, kereta api berfungsi sebagai Benteng Stelsel dalam penguasaan teritorial. Serdadu Belanda dalam Perang Aceh menggunakan jasa kereta api sebagai sarana ruthless operation—operasi tanpa belas kasih, menumpas perlawanan ulama dan santri—santri insurrection. Malam harinya dihancurkanlah rel kereta api oleh gerilyawan Aceh. Di Pulau Jawa, dibangun jalan kereta api sebagai gurita yang menyempitkan ruang gerak ulama dan santri.

Dari komplek milik perusahaan kereta api kami terus menuju ke selatan. Melewati komplek perumahan militer. Di sana kami menjumpai Komplek Makam Kandang XII. Terdapat 12 makam sultan Aceh beserta keluarganya. Antara lain: Sultan Syamsu Syah, Sultan Ali Mughayyat Syah, Sultan Shalahuddin, Sultan Ali Riayat Syah AlQahar, Sultan Husain Syah—empat sultan terakhir secara berurutan ini merupakan para sultan di awal-awal Kesultanan Aceh, dan Malikul Adil.

image

Komplek Makam Para Sultan Aceh (foto pribadi)

Ada pagar tembok yang mengelilingi komplek ini. Kalau Anda mau menziarahinya silakan lewati pintu besi yang tak terkunci. Ingat adab-adab ziarah kuburan. Ucapkan salam dan doakan mereka. Assalaamu’alaikum ya ahlal qubur. Saya sekadar lewat dan tidak memasukinya karena teman-teman sudah jauh meninggalkan saya.

Kemudian ada area terakhir yang kami kunjungi—sebenarnya cuma lewat doang—untuk pagi itu, yakni Meuligoe Gubernur Aceh atau pendopo atau rumah dinas Gubernur Aceh. Dulu pendopo ini merupakan kediaman dari gubernur Belanda dan didirikan di tahun 1880 saat penjajah Belanda mulai menguasai Banda Aceh.

image

(foto pribadi)

Setelah itu kami kembali bergegas ke tempat kami menginap, karena kami harus bersiap-siap. Bakda sholat jumat nanti kami akan segera dilantik. Pak Andy Purnomo akan menjemput kami pukul 12.00 siang dan mengantarkannya ke Kanwil DJP Aceh.

Pagi itu ada jejak-jejak masa lalu yang saya dapatkan. Jejak dari sebuah kejayaan bangsa. Masa keemasan Sultan Iskandar Muda telah dicatat dalam sejarah sebagai masa yang paling gemilang bagi masyarakat Aceh. Dan kegemilangan serta kejayaan itu simetris dengan penegakan hukum tanpa pandang bulu yang dicontohkannya. Keteladanan yang patut ditiru oleh para penguasa saat ini di republik ini. Siapa pun orangnya, apa pun jabatannya.

Ia tak akan melindungi anaknya, adiknya, istrinya, kerabatnya, saat mereka melanggar hukum. Biarlah menjadi gema apa yang dikatakan Sultan Iskandar Muda ke dalam sanubari setiap anak bangsa saat ini: “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.” Ini seperti de javu episode Muhammad saw dan Fathimah 14 abad yang silam.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

18:45 21 Oktober 2013

TUJUH BUKU SESUAI KANTONG


7 BUKU SESUAI KANTONG

Hari rabu kemarin (10/3) saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke pameran buku 9th Islamic Book Fair 2010 yang bertempat di Istora Senayan Jakarta. Bersama kawan saya sengaja datang untuk berburu buku-buku murah dan bermutu dengan target harga berkisar Rp5.000,00 sampai Rp10.000,00.

Ya, betul. Saya memang berniat sekali untuk mencari buku-buku dengan harga seperti itu. Karena biasanya dalam pameran itu para penerbit yang ikut menjadi peserta pameran akan mengobral buku-buku mereka yang masih banyak stoknya dengan harga yang teramat miring. Bahkan ada yang sampai 3 buku dihargai dengan Rp10.000,00.

Kalaupun ada buku baru yang berniat saya beli saya sudah membawa catatannya. Cuma tiga saja yaitu 25 Prinsip Islam Moderat yang ditulis oleh Persatuan Ulama Islam Sedunia, Api Sejarah yang ditulis oleh sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara. dan novel Negeri 5 Menara.

Yang saya sebutkan terakhir, tidak saya dapatkan karena di stan resminya buku itu sudah habis laris manis terjual. Tetapi keesokan hari buku itu sudah ada di meja saya karena teman mau berbaik hati untuk meminjamkannya kepada saya. Sedangkan untuk buku yang pertama tidak saya dapatkan juga karena waktu yang tidak memungkinkan lagi untuk saya dapat memburunya.

Akhirnya ada tujuh buku yang saya dapatkan. Saya akan sebutkan harganya masing-masing.

  1. Api Sejarah, Rp87.500,00 sudah diskon 30% dari harga semula Rp125.000,00;
  2. Haji Backpaker, Rp26.400, sudah diskon 20% dari harga semula Rp33.000,00;
  3. Kepala Daerah Pilihan Hakim, bercerita tentang kisruh pilkada Depok tahun 2005 yang lalu, buku lawas memang tapi cukup menarik untuk bisa dijadikan kajian perpolitikan lokal. Harga Cuma ceban, cuma Rp10.000,00;
  4. Dasar-dasar Aqidah Islam, dari WAMY, cuma ceban juga.
  5. Risalah Shalat Malam & Mabit, karangan Ustadz Saiful Islam Mubarak, Rp10.000,00;
  6. Return From Guantanamo, yang ditulis oleh mantan penghuni penjara Guantanamo. Cuma 9000 perak.
  7. Terakhir buku kecil, Al-Ma’tsurat Shugra, Dzikir & Doa rasulullah SAW Pagi & Petang, Hasan Al Banna, seceng saja, Rp1.000,00.

Maunya sekalian Api Sejarah 2 yang didiskon sampai 35%. Tapi nanti sajalah, rampungkan yang pertama saja dulu. Banyak juga buku yang didiskon sampai 50%-70%. Tapi karena banyakan kitab hadits yang saya khawatir cuma jadi pajangan belaka, saya putuskan membatalkan untuk membelinya. Saya sekarang benar-benar selektif hanya membeli buku yang benar-benar akan saya baca sampai tuntas…tas..tas…

Ada juga stan Sygma Publishing-Syamil Alqur’an yang memberikan pelayanan foto digital gratis langsung cetak bila kita membeli buku mereka dan mengisi kuisioner yang sudah disiapkan oleh mereka. Saya beli buku nomor 3 dan 5 di stan itu.

Ohiya, sekarang tempat sholatnya sudah nyaman. Bertenda luas dan berkipas angin. Ya iyalah masak pameran buku sebesar itu minim fasilitas sholatnya. Tapi masih ada kekurangannya. Kran untuk wudhu tersedia cukup banyak—tempat wudhu laki-laki dan perempuan juga terpisah—tapi air yang mengalir sedikit. Otomatis hanya kran-kran tertentu saja yang ada airnya sehingga membuat antrian yang cukup panjang. Saran saya untuk yang mau kesana agar jangan mendapatkan antrian cukup panjang, 10 menit sebelum adzan berkumandang Anda harus sudah mengambil air wudhu.

Di sana saya juga ketemu dengan Ustadz Dr. H.M. Idris Abdus Shomad, MA, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Da’I Indonesia (IKADI) dan Ustadz Herry Nurdi, pemimpin redaksi majalah Sabili. Kepada yang terakhir saya sekalian bertanya mengapa ia tak datang memenuhi jadwal khotib jum’at di Masjid Shalahuddin Kalibata pada tiga pekan sebelumnya. Ternyata ia di pecan-pekan itu masih jaulah ke banyak negara. Ooo bulat… J

Yah…itulah sedikit pengalaman berburu buku di pameran itu. Mumpung masih sekitar 4 hari lagi sila untuk segera membeli jendela dunia itu. Ahad besok (14/3) adalah hari terakhir dan biasanya ramai sekali. Sesuaikan dengan kantong, tak perlu bernafsu, sesuaikan pula dengan kebutuhan.

Pula, ingin saya kembali ke sana.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:15 11 Maret 2010