Kia Tak Selalu Berakhir Dengan Mat


I. semuanya pasti akan begitu

kuketuk pintu
tok…tok…tok…
sekali, dua, tiga
pelan dan meritmis
sepi
tak terjawab
dari sebuah pintu
bertulis:
kamar mayat

II. Kia tak…

Bila Tuhan menyuruhmu, Israfil
pastikan sangkakalamu telah mengkilap
dan nyaring bunyinya
karena ia cuma dua kali meraung
saat manusia selalu berkata:
kia tak selalu berakhir dengan mat
saat manusia akan selalu berkata:
dimana aku berada sekarang ini

Aku Cinta Pelangimu


….adalah pelangi yang membuat dunia semakin indah
….adalah matahari yang membuat dunia semakin nyata
….adalah malam yang membuat dunia semakin sunyi
….adalah manusia yang membuat dunia menjadi realita
:dan
….adalah kata yang membuat manusia menjadi bernas

dan masih kutemukan sejumput keindahan di balik panasnya gurun kata,
menyejukkan bagai oase
bagai wadi al-Ghuraib di barat.

masih, masih, dan masih kutemukan di sini…

: dedaunan di ranting cemara
di puncak tertinggi

Tadi Malam


tadi malam
senandung hujan sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tertidur
tuk memilih mimpinya sendiri
anggap saja ia adalah calon bidadari surgamu
(itupun kalau kau tak rasakan pedihnya neraka)

tadi malam
ritmis gerimis sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tersungkur dalam sujud panjangnya
tuk memilin untaian do’anya sendiri menjadi selendang pembuka pintu langit
anggap saja ia adalah satu paragraf dalam satu bab di buku kehidupanmu

tadi malam
harum tanah sempat berbisik padaku
: persiapkan saja bekalmu
tuk menuju terminal terakhir itu
raih cita-cita tertinggimu
rengkuh syahid tanpa cintanya
biarkan mewangi misik menjadi tanda persaksian itu

tadi malam
guruh guntur menggemparkan mega mendung
dengan kilat putihnya pula
sadarkan aku bahwa aku masih menjejakkan kaki
di tanah ini
jauh dari detik-detik pertaruhan nyawa
sempatkah aku ke sana?
sedang aku masih di sini
aku berteriak
aku tak mau jadi Ka’ab bin Malik (sang tertinggal)

tadi malam
semua yang berbisik serempak berteriak
: pergi sana…!!!!!
lupakan saja ia……..!!!!!!

………….aku terbangun.

Tanggal 12 Desember 2003
kepada kawan yang memesan untaian kata ‘tuk dibacakan pada sang-nya

Kau adalah Ia


1. suatu saat aku sempat menggombal padamu:

kau adalah ia
yang menggores putihnya kertas
menjadi bait-bait terindah di ujung lidah

kau adalah ia
yang memahat kerasnya karang
menjadi relief-relief magis di setiap rabaan

kau adalah ia
yang melukis birunya langit
menjadi mozaik awan di setiap pandangan

kau adalah ia
yang mengukir liatnya jati
menjadi kepingan-kepingan terhalus di ujung jari

lalu…
di setiap goresan
di setiap pahatan
di setiap lukisan
di setiap ukiran itu,
aku siapanya ia

2. tapi dua tahun enam bulan tujuh hari sudah, baru sempat kau jawab gombalku itu:

kau adalah ia
yang padanya kucoba labuhkan cinta

kau adalah ia
yang dengannya lahir dua pasang mata

tapi kau memang bukan IA
yang memiliki labuhan cinta sejati
yang tak pernah melukai

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kelindan para putera Jayengrana: Subrangti dan Menak Subrangta
5:51 30 Juli 2005

Buat yang mau Selingkuh: Jangan Pernah


jangan pernah

jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu…
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun
jangan pernah
jangan

bahkan sebelumnya

jangan
jangan pernah
jangan pernah sekalipun
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun engkau berbuat
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan…

karena
suatu saat
semuanya akan
mencium kebusukan itu

dedaunan di ranting cemara
di saat kebusukan itu tercium sudah
sesaat setelah membaca puisi penulis novel IMPERIA: Akmal N Basral
20:10 29 Juli 2005

Dua Hari Tanpa Listrik


Dua Hari Tanpa Listrik (Kasus KPP PMA Tiga)

Terbukti sudah betapa manusia di zaman moderen ini sangat menggantungkan roda kehidupannya pada teknologi agar tetap bisa berputar. Maka apa yang terjadi ketika listrik “byar pet” dan benar-benar padam selama dua hari di KPP PMA Tiga?
Ruangan gelap dan tidak ada kegiatan yang dapat dilakukan, sampai-sampai Wajib Pajak terheran-heran dan langsung bertanya kepada saya, “Pak, KPP PMA Tiga pindah yah?”
Bagaimana mau mengerjakan sesuatu sedangkan semuanya ada di dalam komputer yang tidak bisa dihidupkan itu, merekam, menjawab konfirmasi, memasukkan kasus ke dalam case management, melayani Wajib Pajak melalui email dan lain sebagainya. Semua itu tidak dapat dilakukan tanpa ada benda yang di tahun 1967 bentuknya seperti dua lemari besar.
Coba hitung sendiri betapa banyak kerugian yang diderita negara atau kita sendiri, selain membayar gaji pegawai yang tidak produktif, peralatan elektronik yang rusak karena aliran listrik yang tidak stabil, hilangnya kesempatan untuk berkreativitas, hingga berdebarnya jantung karena pekerjaan yang nyaris jatuh tempo.
Maka dapat dikatakan ketergantungan manusia pada teknologi—dalam hal ini komputer—adalah sebesar 98%. Sisanya untuk pekerjaan klerikal yang benar-benar membutuhkan perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain.
Tapi terus terang saya tidak menikmati hal ini, karena bagi saya listrik mati atau hidup, pekerjaan sudah jelas menumpuk di depan mata. Alhamdulillah, sebelum pulang saya sempatkan diri untuk melihat-lihat kembali semua pekerjaan itu. Saya susun ulang. Saya beri post-it warna kuning. Saya beri catatan penting. Dan saya rapihkan dengan harapan Senin esok, saya dapat mengerjakan semua itu. Itu pun kalau Senin nanti aliran listrik sudah seperti sedia kala.
By the way, semua orang di sini kok pada tahu kalau pekerjaan perbaikan aliran listrik bawah tanah belum selesai sampai hari Senin nanti. Wah…wah…wah… siap-siap saja kembali tiada pekerjaan, tiada postingan ke Cicadas Blog, dan satu terakhir dan yang paling penting, gajian akan tertundakah? Semoga saja tidak. 

dedaunan di ranting cemara
di antara Jum’at yang meluruh kata-kata kerinduan
20:02 29 Juli 2005

Menulis itu Gampang


29.07.2005 – menulis itu gampang*)

Menulis bagi sebagian orang adalah hal yang paling menyulitkan, buktinya banyak mahasiswa yang ingin segera menyelesaikan kuliahnya terbentur dalam tugas akhir berupa penelitian yang dituangkan ke dalam bentuk sebuah skripsi.

Menulis pun bagi sebagian yang lainnya adalah hal yang mudah, kita tinggal menuangkan apa yang ada dalam pikirannya ke dalam sebuah kertas (layar putih kosong, sekarang….) dan untuk memulainya kita tak peduli dengan bagus atau enak tidaknya tulisan itu dibaca. Menurut saya, itu yang penting bagi seorang penulis pemula termasuk saya ini.

Sebagai bentuk pelatihan, kita tidak harus memulai dengan sebuah cerita pendek, essay, apalagi sebuah novel. Tidak, tidak dengan itu, tapi kita menuangkan apa yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari—walaupun sekecil apapun objek tulisan—mungkin sebuah perasaan yang timbul ketika kita sedang mencuci pakaian atau motornya, ketika kita sedang jalan-jalan di mal, atau ketika kita sedang merenung di sebuah halte di waktu hujan mengguyur dengan derasnya. Bahkan kebanyakan penulis besar memulainya dengan menulis sebuah diary. Jangan malu-malu untuk mengungkapkannya. Hhm…Oh ya tradisi menulis diary di barat menjadi gerbang penulisan populer dan biografi.

Ketika kita telah mempunyai gagasan, kita pun segera menuliskannya, dan kita tak peduli juga berapa paragraf yang telah kita susun. Yang penting kita bersegera untuk menuliskannya seperti bersegeranya saya ke masjid karena adzan maghrib telah berkumandang memanggil. Dan itupun sudah menghasilkan empat paragraf .

Lanjut lagi, tapi ternyata semua itu tidak mencukupi. Karena kita mempunyai sedikit gagasan. Berkali-kali kita membulatkan tekad untuk menulis apa yang ada di kepalanya. Tapi apa daya kita tak mampu menulis sebuah huruf pun (karena kita sering tekan tombol delete dan back space). Kalau orang timur bilang: nafsu besar tenaga kurang.

Kurangnya gagasan itu bisa ditimbulkan karena kurangnya kita membaca. Jadi dengan membaca kita sebenarnya sedang menyusun sebuah perpustakaan besar di otak sebagai sebuah sumber berjuta-juta referensi (ingat bukan, bahwa otak kita bermemori satu juta gygabyte), tinggal kita men-defrag-nya supaya bisa tersusun rapih, maklum semakin tua kita semakin mudah lupa di sebelah mana sebagian memori itu kita simpan di otak.

Selain itu, ternyata kita butuh suatu sistematika gagasan, karena terkadang ketika kita sudah mempunyai semuanya dan lalu kita mencoba menuangkannya, sepertinya ada yang kurang. Oh ternyata si Kodok yang main nih, ya karena ternyata tulisan kita melompat-lompat, kadang lompatannya ke kiri dan ke kanan tak beraturan (seperti tulisan saya ini) tapi tak mengapa. Kita butuh suatu sistematika gagasan. Caranya bagaimana? mudah saja: ambil secarik kertas dan tulis poin-poin kecilnya, atau kalau malas melakukannya tulis saja semua lalu baca dan baca lagi, pasti kelihatan mana lompatan yang benar dan mana yang kesandung-sandung.

Dan bersyukurlah bagi anda yang sudah mempunyai komputer di rumahnya, walaupun kata sebagkitan pakar IT, komputer kita hanya sebatas mesin tik belaka, tapi tak mengapa. Mengapa demikkitan, karena kita tak perlu menyobek-nyobek kertas lagi karena saking kesalnya betapa tulisannya jelek banget. Di mesin tik modern ini kita cuma tinggal pencet dua tombol tadi. Tapi ya mbok di ingat, tarif listriknya bang…:-).

Terakhir, tulis sekarang juga.

Oh ya terakhir sekali, publikasikan tulisan anda, itu penting juga lho untuk mendapatkan masukan berharga.

dedaunan di ranting cemara
di antara optimisme hidup
8:47 29 Juli 2005 dengan sedikit revisi
*) judul di atas mengutip judul sebuah buku yang ditulis Arswendo Atmowiloto

Terpukul Telak


28.07.2005 – HARI INI AKU TERPUKUL TELAK (doakan saya….)

Hari ini adalah hari terberat yang pernah saya alami dalam tahun ini. Entah, bisakah saya menempuhi itu semua dengan elegan, kepala masih terdongak ke atas, dan dada membusung? Atau saya akan jatuh, limbung, hancur, dan pecah berantakan tiada berbentuk lagi? Dan semua ini belum selesai setelah beberapa hari ini berdiskusi panjang. Saya kira Ahad kemarin telah berbentuk solusi ternyata tidak. Puncaknya adalah hari ini.
Sebuah telunjuk mengarah dengan penuh kebencian kepada saya yang telah terkulai tiada berkata apa-apa lagi. Karena saya anggap semua itu adalah masa lalu yang tak boleh terungkit oleh siapapun. Bahkan saya telah melupakan semua itu. Lama, dulu sekali. Tapi Allah berkehendak lain. Dia membukanya. Ya, hari ini adalah hari terberat.
Sesungguhnya saya yakin semua ada solusi dan penyelesaian. Saya yakin pula Allah tiada memberikan suatu beban yang tak sanggup dipikul oleh hambanya, karena itu adalah doa yang selalu saya panjatkan dalam setiap pertemuan dengan-Nya. Tinggal bola itu ada di tangan saya, apakah ikhlas, sabar menerimanya dengan lapang dada atau sebaliknya emosi dan kemarahan yang membuat rahmat-Nya bahkan menjauh dari saya.
Maka sore atau malam ini harus ada penyelesaian. Entah–saya tak tahu–apakah penyelesaian yang baik atau buruk. Saya tidak berharap yang terakhir. Hanya kepada Allah-lah saya menaruh nasib ini. Hasbunallahu wani’malwakil. Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara
dengan dada yang berdebar
dengan masalah yang–maaf–tak bisa diutarakan di sini

Hanya Sebuah Buku Tamu


27.07. 2005 – hanya sebuah: BUKU TAMU

Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ba’da tahmid dan salam
Setelah mengutak-atik dengan frontpage dan memahami filosofi pembuatan web, akhirnya ada dua hasil yang saya dapat pada hari ini. Pertama saya dapat membuat menu kategori, yang selama ini dengan “memanage”nya, tidak muncul-muncul juga di right side.
Dan yang kedua, pada akhirnya saya dapat pula membuat sebuah buku tamu walaupun masih ala kadarnya.
Sungguh suatu kehormatan yang sangat besar dapat berkenalan dengan semua penghuni ciblog ini, juga sebagai ajang untuk mengembangkan kegiatan tulis menulis. Menulis apapun. Menulis diari, paper, essay, cerita pendek, novel, renungan, atau yang hanya sekadar gerutuan, dan gundah gulana.
Walaupun Decrates pernah mengatakan “kita berpikir karena kita ada” maka mengutip seorang bloger: “kita menulis karena kita ada”. Maka ayo kita menulis. Tiada hari tanpa menulis. Satu atau dua kalimatkah. Satu atau dua paragrafkah. Tidak masalah.
Jadi Selamat buat Anda yang masih bisa menulis hari ini.
wassalaamu’alaikum wr.wb.
dedaunan di ranting cemara
di dhuhur yang menggelayut pundak
12:27 27 Juli 2005
ps.
terimakasih kepada tosers dan goengs yang telah menggugah saya untuk membuat kategori, pula dengan kang asep dengan both sides perspective

Both Sides Perspective


both sides perspective
(kasus lupa absen)

Bagaimana tidak jengkel ketika menyadari bahwa saya yang seharusnya tidak pernah terlambat dan tidak pernah pulang cepat di bulan Juli dinyatakan satu kali tb dan satu kali pc. Dan ini hanya gara-gara saya benar-benar lupa menaruh jari saya di atas scanner absen. What the…
Apalagi belum ada solusi tuntas yang diberikan oleh teman penanggung jawab absen untuk mengatasi permasalahan ini. Berarti siap-siap saja ada pengurangan nilai dari take home pay yang di dapat. Masalahnya bukan pula nilai yang akan kita dapat—tapi sesungguhnya dalam setiap nilai itu berharga karena tidak ada nilai yang besar kalau tidak diawali oleh nilai yang kecil—tapi adalah hak saya yang dirampas oleh sebuah sistem yang tidak mengakomodir sekecil apapun kekhilafan dan kealpaan manusia dan secara sewenang-wenang merebut hak-hak saya sebagai manusia. Ingat saya juga manusia (mengutip lirik seurieus).
Maka apa yang terjadi, perasaan tertindas dan ego saya muncul—alhamdulillah tidak ada makian dan umpatan yang keluar dari mulut ini, karena saya sadari semua itu tidak baik, menyakiti diri sendiri, juga tetap tidak solutif. Dan puluhan rencana segera siap dijadikan meriam untuk ditembakkan dalam perang, seperti protes kepada pemimpin Subbagian juga kepada pimpinan tertinggi, sampai jika saja rencana itu tetap gagal, maka saya pasrah dan akan saya tuntut saja hak tersebut di akhirat, karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pengadilan-Nya adalah pengadilan yang seadil-adilnya. Sekali lagi ini karena masalah hak yang tidak semestinya diberikan kepada saya, sedangkan saya telah melaksanakan semua kewajiban yang dibebankan dan Insya Allah telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Sampai suatu ketika, ada sekelebat titik kesadaran bahwa ini perlu didiskusikan dengan teman, sehingga awalnya diharapkan ada sokongan moral untuk mendukung upaya yang akan saya lakukan.
Akhirnya bukan hanya dukungan namun ada sebuah ide yang membuat saya harus merubah paradigma berpikir saya selama ini. Apa yang teman saya bilang, “cobalah kita berpikir dengan both sides perspective.” Wah, makhluk macam apa pula ini?
Ternyata hal inilah yang dari dulu saya berusaha lakukan, namun jarang sekali saya pakai untuk setiap permasalahan yang melibatkan dua pemikiran manusia. Kadang saya pakai dan kadang tidak. Dan untuk kasus kali ini saya tidak terpikir sekejap pun untuk memakai cara pandang dengan dua sisi itu. Sisi kita dan sisi mereka. Sisi pelaku dan objek penderita.
Saya dan teman, satu persatu mengurai kasus ini dengan menggunakan cara berpikir pada sisi mereka—yakni teman-teman di Bagian Umum. Artinya kita berusaha memahami mengapa hal ini terjadi dengan kita berperan sebagai mereka. Hasilnya sungguh mengejutkan bahwa ternyata ada sisi empati yang harus saya timbulkan dan berikan untuk mereka karena mereka telah banyak melakukan yang terbaik untuk saya, mengurus kepegawaian saya, berusaha membayar gaji saya dengan tepat waktu—walaupun terkadang ada saja kendala yang mengakibatkan keterlambatan tersebut, melayani saya dan seksi dalam masalah penyediaan alat-alat tulis kantor sehingga pekerjaan kantor bisa terselesaikan dengan cepat, dan masih banyak lagi lainnya. Jadi mengapa saya harus merusak kebaikan mereka dan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini dengan ego dan marah saya yang tiada berujung dan sekali lagi tiada solutif.
Pada suatu titik pula, dengan berpikir dua sisi itu, sedikit demi sedikit kerelaan mulai tumbuh di hati, pemikiran saya mulai jernih, dan tidak emosional untuk mengambil langkah yang dapat memuaskan dua pihak. Sehingga muncul pemikiran cemerlang yakni untuk mendiskusikannya dengan pimpinan Subbagian. Kiranya itu yang belum saya lakukan, yakni upaya tabayyun, memperoleh informasi yang benar dan langsung dari pihak yang mempunyai otoritas penuh.
“Fleksibel saja,” kata terakhir yang terucap darinya. Ya, akhirnya ada solusi yang didapat. Dan pembicaraan itu berakhir tidak seseram yang saya bayangkan. Dua pihak terpuaskan.
Kita tak pernah rugi untuk berpikir both sides perspective. Terutama untuk menghindari dzan-dzan atau prasangka-prasangka buruk yang akan mematikan kejernihan akal kita.
Kepada teman-teman di Subbagian Umum, saya seribu kali menjura dengan kata maaf selalu terlontar dari mulut yang masih belum serasi dengan hati. Insya Allah, saya akan belajar untuk memakai both sides perspective itu dalam setiap pemikiran saya.
Sekali lagi, pakailah ia, karena ia akan menjernihkan.

dedaunan di ranting cemara
di shubuh yang menjelang
dengan kantuk yang tiada terkira
04:44 27 Juli 2005